Chapter 2 : The Sly, The Dumb and The Ugly

Kurasa tak akan begitu buruk untuk menuruti permintaannya?

Sebodoh-bodohnya permintaan dia, bisa saja penting kan?

Kalian tak lama bertemu.

Kukira kalian teman baik.

Aku perlu bantuanmu.

Aku terbangun dari tidurku lagi. Aku tak tahu jam berapa sekarang, dan jam dindingku menunjukkan pukul ... 11 malam. Baiklah ... jam itu benar-benar sudah kehabisan baterai.

Namun tampaknya sudah kelihatan pagi dan sudah waktunya untuk pergi ke kantor ZPD, atau bahkan aku sudah telat sekarang.

Aku beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi, mengusap wajahku dengan air kemudian melihati wajahku di kaca.

Aku terus terpikir akan permintaan Finnick, dan kenapa aku terlalu membawa masalah ini terlalu serius?

Aku hanya tinggal jawab "Hey, Finn, Ayo kita lakukan ini untuk sekali lagi," atau "Hey, Finn, persetan dengan permintaanmu dan temukan perkejaan lain sepertiku."

Ok ... mungkin itu terlalu kasar. Intinya adalah aku hanya perlu menjawab iya ataupun tidak atas permintaan tersebut. Dan aku memang ingin melakukan semua kegilaan dan merasakan kepuasan yang kau dapatkan dari tiap penipuan yang berhasil kau lakukan, aku masih ingat ekspresi Judy yang tertipu dengan mudahnya dengan akting kami di toko gajah gendut tersebut.

Namun alasan aku melakukan hal tersebut, karena tak ada yang percaya padaku, atau rubah pada umumnya. Sejujur apapun aku mencoba, mereka tak akan mempercayaiku sama sekali, karena aku hanya seekor rubah, maka dari itu aku putuskan untuk menerima fakta tersebut dengan menjadi con artist dan bertemu Finnick.

Hingga pada akhirnya aku menemukan seseorang yang benar-benar tahu siapa diriku sebenarnya dan ... mempercayaiku, Polisi – atau lebih tepatnya tukang parkir kelinci pada saat itu yang kutipu $15.

Aku berjalan menuju lemariku untuk mengambil baju kepolisianku, dan tanpa sengaja, aku melihati baju kemeja hijau berserta dasi itu lagi, mengingatkanku kembali masa laluku sebelum ada seseorang yang mempercayaiku. Aku langsung menutup lemari sebelum aku berpikir yang tidak-tidak.


Aku berjalan keluar menuju kantor sambil memakan blueberry selama perjananan, jalanan masih sepi, tampaknya aku akan hadir terlalu cepat, akumulai berpikir untuk berputar aluhan menuju kedai makanan untuk mendapatkan sarapan sebelum ke kantor, lagipula aku bukan tipe orang yang ingin datang lebih awal.

Dan tentu saja, aku mengikuti perintah instingku dan berpaling mencari kedai makan, aku dengar soal kedai yang menyediakan pancake di sini, walau aku tak yakin jika tempatnya sudah dibuka sekarang, tak salahnya mencoba. Selagi di perjalanan, aku melihat sesuatu dari kejauhan yang terlihat sangat familiar bagiku, sebuah mobil van berwarna oranye parkir di pojokan jalan, semakin aku mendekati mobil tersebut semakin aku menyadari itu adalah mobil van Finnick. 3 tahun lebih dan mobil itu tak ada perkembangan sama sekali, yang ada malah tambah lebih buruk dengan lecet dan goresan sana-sini di sisi-sisi mobil.

"Apa yang kau lakukan di sini, Polisi rubah pertama yang terhormat?" suara amat berat keluar dari dalam mobil van tersebut, tentu saja itu suara dari si rubah kecil bertelinga besar, Finnick.

"Bagaimana kau tahu aku berada di luar sini?" aku bertanya kepadanya dari luar.

"Hanya ada satu orang dengan suara langkah kaki seperti itu, dan itu adalah orang yang biasanya menumpang di dalam mobil ini selama bertahun-tahun," nada ucapannya makin lama makin terlihat serius tiap kata.

"Ah ... kenapa? Apa ada sesuatu di kakiku yang membuat suara langkah kakiku unik?" aku mencoba untuk bercanda sedikit di bawah kondisi yang terkesan serius ini.

"Lucu sekali nick," jawab Finnick dengan nada yang sama.

Aku terdiam untuk sejenak, mencari kalimat konyol yang mungkin saja bisa menurunkan ketegangan saat ini. Dalam hati aku terus berkata, "Ayo, Nick. Cari sesuatu yang lucu."

Namun kurasa akan percuma saja, dia bukan tipe orang yang suka lelucon dan tidak terlihat dalam keadaan yang mendukung untuk hal itu.

"Kenapa kau masih disini? Sekarang masih jam 5 pagi, kurasa kantormu masih belum buka dan jika kau mencari kedai makan, mereka juga belum buka." ucap rubah fennec tersebut yang nadanya mulai terdengan menyindir. "Jika kau kesini hanya untuk memamerkan dirimu, kau lebih baik pergi sekarang karena aku banyak perkerjaan untuk dilakukan," lanjut Finnick mengusir dari sana.

"Finn ... mungkin kita bisa ... ahh ... mencari tempat yang sudah buka dan makan serta berbicara sebentar?" tanyaku.

"Kenapa seorang polisi harus mentraktir seorang kriminal? Khususnya polisi rubah pertama kali di Zootopia," jawab Finnick dengan nada bicara lebih aggresif dan sarkastik

"Ayolah ... apa kau marah karena aku menolak permintaanmu kemarin?"

"Nick, kau tidak pernah menemuiku lagi setelah kau jadi polisi dengan si Hopps itu. Baiklah ... kita membuat pawpsickle satu kali setelah kau jadi polisi, namun itu juga karena kau ingin memakannya. Kau tahu ... terkadang aku berharap aku yang diancam oleh kelinci tersebut dan disuruh untuk membantunya dalam kasusnya biar aku bisa lihat aku yang berada di luar berdiri diluar mobil ini dan kau yang didalam sedang tiduran dengan orang Bill ini mencarimu," Finnick menjelaskan perasaannya dengan detil.

"Finn, jika kau juga ingin menjadi polisi, lakukan saja, kau punya aku untuk mengurus pendaftaran dan lain-lain," aku mencoba menasehatinya.

Finnick membuka pintu belakang dengan keras kemudia keluar sambil membawa kotak besar yang ukuran hampir lebih besar dari ukuran badannya.

"Apa itu akan membantu masalah utangku? Dan aku ingat sekali filosofimu soal 'kau hanya bisa jadi siapa kau sekarang', oh ya ... kau bukan Nick si con artist lagi," ucapnya sambil membawa kotak besar itu entah kemana.

Aku berjalan mengikutinya dari belakang, "Finn, aku tak berubah sama sekali walau aku sekarang petugas ZPD, bisakah kita bicara untuk satu detik?"

"Ya, ya terserah kau saja. Menjauhlah dariku sebelum aku menggigit wajahmu, kau tak membantu disini."

Aku berhenti mengikutinya, dan melihati rubah kecil tersebut makin menjauh dariku, pikiranku mulai kacau dan dipenuhi dengan pertanyaan "Haruskah atau biarkan saja dia urus sendiri?", detik berlalu, dia juga makin menjauh dan aku masih memikirkan keputusan apa yang harus kulakukan.

Kalian tak lama bertemu.

Kukira kalian teman baik.

Aku mulai tersenyum sendiri dengan tampak muka khasku kemudian berlari menuju Nick, kemudian mengembat tasnya. Otomatis, si Finn langsung marah dan mengejarku secepat mungkin, namun karena tubuhnya yang kecil, aku selalu berada di depan dan dia tak dapat mencapaiku.

"NICK! AKAN KUBUNUH KAU JIKA AKU MENANGKAPMU!" dia berteriak sekencang mungkin hingga beberapa yang masih di dalam rumah mereka pada berteriak "Hey ! Diamlah! Ini masih jam 5 pagi"

Aku terus saja berlari hingga menuju apartemenku, Finnick terus mengikuti dari belakang, aku masuk ke kamarku dan langsung menguncinya. Finnick sampai kedepan pintu kamar dengan napas terengah-engah setelah berlari mengejarku, dia mengetok sangat keras berkali-kali.

"NICK, BUKA PINTUNYA!" gertak Finnick.

TOK TOK TOK TOK TOK

TOK TOK TOK TOK

"BERHENTI MEMBUAT MASALAHKU LEBIH SULIT LAGI!"

TOK TOK TOK

TOK TOK

TOK

"Ayolah, Nick!" dia mulai berhenti mengetuk pintu, dia menyenderkan dirinya di depan pintuku karena kelelahan.

"Nick ... untuk satu kali ini saja bantu aku dan buka pintu ini..." nadanya seperti sudah kehabisan nafas. Kelelahannya membuat dia tiba-tiba tertidur didepan pintu.

Aku langsung membuka pintu tersebut yang membuat tubuh Finnick jatuh membentur lantai, yang tentu saja langsung membangunkannya dan membuatnya ... ya ... marah lagi.

"NICK ... KAU HARUS KEMBA ..." omongannya langsung berhenti di saat dia melihatiku.

Aku memakai kemeja hijau, dasi biru bergaris-garis pink serta celana coklat yang sudah lama tak kupakai lagi.

"Aku harus apa? Memberikannya ke Nick si polisi ... atau membiarkan Nick yang satu ini berkerja?" tanyaku dengan tersenyum bodoh.

Reaksi Finnick mulai dari awalnya marah kemudian menjadi terkejut lalu akhirnya ikut tersenyum melihatiku dengan kata-kataku tadi.

"Ayo, pria besar, Waktu adalah uang." Ucapku sambil mengulurkan tangan ke arahnya.

Finnick masih tersenyum melihatiku dan kemudian tertawa, namun kini dia bukan tertawa karena mengejekku, namun karena dia telah menemui sosok teman lamanya lagi. Terdengar melodramatis mungkin, namun aku bisa merasakannya, dan jika kau bertanya kenapa aku merasakan demikian? Entahlah ... mungkin karena kami berdua pernah menjadi partner penipu selama bertahun-tahun.


"Ok ... sebelum aku melakukan ini, aku perlu memberitahu Judy," aku mencari teleponku dibaju polisi yang sebelumnya kupakai tadi.

"Memberitahu Judy? Kenapa? Kau tahu dia tidak akan menyetujuinya."

"Tidak selama kita berbohong," jawabku sambil mencari kontak Judy.

Setelah beberapa detik menunggu panggilannya sampai, Judy mengangkat panggilan tersebut.

"Hey, Nick, kenapa kau menelpon pagi-pagi begini?" sahut Judy dengan suara shower terdengar di belakang.

Aku menarik nafas dalam-dalam dan bersiap untuk berakting , "Judy ... aku tak bisa hadir hari ini, Finnick perlu bantuanku sekarang juga," aku berpura-pura sedang terburu-buru.

"Finnick? Kau bilang permintaannya konyol dan kau menolaknya, kenapa sekarang kau terlihat terburu-buru soal itu."

"Dia bilang dia sakit waktu itu, namun aku tahu dia berbohong karena dia terlihat sehat-sehat saja, sekarang dia tiba-tiba jadi parah dan aku harus membawanya kerumah sakit."

"Sakit apa memangnya?"

"Ahh ..." aku kebingungan untuk mengatakan penyakit apa, aku lupa untuk memikirkan hal tersebut. Aku langsung menatap Finnick dan Finnick juga ikut kebingungan dan melihat kanan kiri.

"Nick? Kau masih di sana?" tanya Judy setelah aku tak menjawab selama beberapa detik.

Aku yang tak tahu harus menjawab apa terus-terusan menggaruk punggungku, Finnick tiba-tiba berteriak kesakitan dengan sangat kencang.

"AHHHHH! KAKIKU! NICK!"

"Woah .. woah ... kau kenapa, Finn?" tanyaku yang menganggapnya benar-benar kesakitan.

Finnick menepak jidatnya lalu menunjuk kearah telepon, menandakan kalau dia hanya berakting untuk membuat Judy berpikir dia benar-benar sakit.

"Apa dia tak apa-apa?" tanya Judy yang penasaran apa yang terjadi karena teriakan tersebut.

"Ah ... Judy! Aku harus segera mengantarkannya, maaf aku tak bisa menemanimu hari ini."

"Apa perlu aku ke sana?"

"TIDAK! Maksudku ... Zootopia masih membutuhkan pertolongan polisi hebat sepertimu, Judy. Jangan sampai ketidakhadiranku jadi beban bagi seluruh kota."

"Baiklah jika kau bilang begitu, semoga dia cepat sehat saja."

"Ya, aku juga berharap begitu. Terima kasih, Wortel," aku kemudian menutup telpon.

Aku dan Finnick tertawa bersamaan dengan suksesnya tipuan tadi.

"3 tahun lebih dan dia masih tertipu olehmu," ucap Finnick sambil mengelus air mata yang keluar karena tertawa. Setelah 1 menit lebih tertawa, kami mulai bertingkah serius dan saling menghadap muka masing-masing.

"Baiklah ... apa rencanamu?"

"Oke ... aku mencoba menjual barang yang ada didalam kotak ini."

"Memangnya apa isi kotak ini?"

Finnick membuka kotak tersebut dan cahaya kuning silau langsung menyinari wajahku.

"Ya Tuhan ..."


Okay ... lebih panjang dari yang saya kira, dan buat yang udah bersedia baca Pilot nya kemarin saya ucapkan terima kasih banyak, apalagi yang udah merelakan waktunya buat ngasih review.

Dan untuk chapter kali ini, yang dimana belum benar-benar nyampe ke plot utamanya, tolong reviewnya mas dan mbak.

Untuk chapter selanjutnya, bakal kurang tahu kapan karena kemungkinan bakal padat kegiatan minggu depan, tapi kalau sempat bakal cepet lagi updatenya.