"Kurasa kau butuh bantuan, Sayang."
.
.
Tenten yakin hari telah berganti ketika ia membuka mata kali ini.
Sebab, ada kicau burung yang mencoba menyelip deru mesin bis, juga seberkas cahaya matahari yang masuk dari celah jendela, mengetuk kelopaknya yang terpejam dan memberikan kehangatan pada bahunya yang terbuka. Saat kesadaran perlahan meraihnya, barulah ia tersadar bahwa tidak cuma bahunya yang polos, melainkan sekujur tubuhnya. Hanya selimut tipis yang menutupi, sementara pakaiannya tercecer liar di permukaan lantai.
Apakah dia sungguh semabuk itu semalam?
Ia berguling ke samping untuk menemukan kehampaan. Ada ceruk di bantal sebagai pertanda eksistensi seseorang yang singgah semalam, meski akhirnya dia memutuskan pergi tanpa pamit. Tidak ada catatan di atas nakas, dan Tenten yakin tak akan ada pesan di ponsel sebab dia cukup ingat kalau tidak ada nomor telepon yang saling ditukar. Hal seperti ini sesungguhnya sudah sanggup ia prediksi, tetapi tetap saja ada pilu yang tak terhindarkan—pilu di lubuk hati terdalam, yang tumbuh dari setitik harapan yang menginginkan pemuda itu untuk tinggal sejenak untuk mengobrol agar apa yang terjadi di antara mereka bukan hanya pelampiasan hasrat semata.
Tapi,
(Bodoh. Untuk apa pula pemuda itu memutuskan untuk menetap?
Pada akhirnya, semua juga akan pergi meninggalkannya, kan, seperti yang sudah-sudah?)
Menatap langit-langit kamar yang sehampa kedua bola matanya sendiri, Tenten mengembuskan napas dengan berat sambil menarik selimutnya lebih rapat.
.
.
Musim semi tahun ini terasa begitu dingin….
Fabula Ex Mancunia
02
[res nullius]
.
.
"Aku sengaja menyelesaikan tugasku sesegera mungkin supaya bisa pulang lebih cepat hanya untuk menemukan teman seflatku bergurau dengan seorang lelaki tak dikenal." Mendecak. "Aku terharu."
Sambutan Temari tidak semenyenangkan aroma kopi dan alunan musik alternatif yang memenuhi seisi ruangan; dua hal yang menjadi teman wajibnya mengawali hari. Percayalah gadis itu jauh lebih tidak menyenangkan apabila luput dari kebiasaan paginya—dia bak orang sakau kafein yang melempar tantrum ke mana-mana. Toh, terlepas nadanya yang sinis, Temari tetap sanggup menjadi peri baik hati yang kemudian mengoper secangkir kopi siap minum.
Tenten menyeret dirinya sendiri ke meja makan, meraih mug dan membiarkan jemarinya merasakan hangat permukaan keramik. Ada harum bakon yang mulai menggelitik ujung hidungnya.
"Aku tidak tahu seleramu kutu buku."
"Tidak semua lelaki berkacamata kutu buku." Dan sebagai pembelaan, kekasihnya yang kini sudah jadi mantan juga merupakan orang yang cukup serius. Hanya saja, Temari tak pernah benar-benar mengenal sang mantan sebab pertemuan mereka hanya berlangsung sekali dan singkat. Itu pun di bandara, ketika yang bersangkutan mengantar Tenten pada keberangkatan pertamanya ke Manchester bersama para penerima beasiswa musim gugur lalu.
"Mmm. Harus kuakui dia memang cukup tampan apabila ia tak merokok."
"Dia merokok?"
"Ada sedikit abu dekat kulkas, dan percayalah aku bisa mencium bau tembakau sesamar apapun. Hidungku seperti rubah."
Itu juga menjelaskan kenapa ada celah yang membiarkan matahari masuk secara langsung. Ia tak pernah tidur dengan jendela yang terbuka.
"Yah," Tenten membawa gelasnya lebih dekat ke mulut, menyesap kopinya perlahan. "Untuk ukuran kutu buku dan perokok, dia cukup impresif di tempat tidur, jadi aku tidak akan komplain."
"TMI, Ten. TMI."
Tenten terkekeh. Dia tidak sepenuhnya berbohong. Selama ini ia hanya pernah bersama satu orang—selalu satu orang yang sama. Jika ia mengabaikan perasaan hampa yang tadi lewat dan memandangnya dari perspektif yang lebih positif, ia bisa mengeklaim kejadian semalam sebagai pengalaman baru yang berbeda.
Sarapan mereka pagi ini sederhana sebagaimana yang sudah-sudah; roti bakar, kacang panggang, telur goreng, dan dua lembar bakon untuk masing-masing piring. Temari berceletuk soal kerinduannya makan nasi dan berniat mampir swalayan Asia untuk membeli satu pak, lalu Tenten minta maaf karena dia ingat Temari minta dibawakan furikake merek favoritnya dari Jepang tapi karena kepulangannya yang terburu-buru, Tenten tidak sempat bawa apa-apa selain sakura mochi yang berada di etalase terdepan Blue Sky—dengan harga yang membuatnya setengah hati mengeluarkan uang tetapi tetap dibeli karena merasa berdosa jika kembali cuma membawa diri.
"Aku ingin sekali membawamu girl's day out hari ini dan membantu melupakan pria-pria idiot yang mencampakkanmu itu," Temari mengunyah rotinya, "tetapi bolehkah kita melakukannya di sore hari? Aku mau menonton pertandingan."
"Haaai," Tenten menjawab malas-malasan. Sungguh mulanya dia terlalu sibuk mencabik bakonnya untuk mendengar omongan Temari, tetapi ketika ia menyadarinya, Tenten menengadah dan mengernyit. "Tunggu. Apa katamu?"
"Girl's day out?"
"Bukan, bukan. Pertandingan?"
"Ya. Pertandingan," Temari mengulang dengan santai. "Sepak bola. Gaara bermain hari ini."
Wajahnya pasti terlihat konyol. Bukan sekali dua kali Temari pergi ke pertandingan sepak bola, sehingga Tenten semestinya tidak merasa keheranan.
"Boleh aku ikut denganmu?"
"...kau yakin?"
"Kenapa tidak? Aku bisa memanfaatkannya sebagai distraksi."
"Bukannya kau masih lelah karena jet lag? Tidak mau tidur dulu sebelum nanti sore?"
"Please. Banyak hal yang lebih membuatku lelah di Jepang."
Temari menatap Tenten dengan tidak yakin meskipun akhirnya menyerah. "Baiklah," ucapnya, menghabiskan rotinya yang terakhir. "Tapi jangan merengek minta pulang, ya, di tengah-tengah pertandingan."
.
.
Berbicara soal pertandingan sepak bola, Tenten mengira Temari akan membawanya ke Old Trafford yang berjarak dua puluh menit dari flat mereka, tetapi perjalanan mereka ternyata memakan waktu satu jam menggunakan bis umum.
Tenten tidak mengetahui apa-apa soal sepak bola. Sungguh ironis mengingat kini ia tinggal di negara yang memuja olahraga tersebut layaknya Sri Ratu. Meski teman-teman lelakinya di Jepang selalu berkata betapa irinya mereka dengan Tenten, meski kolega-koleganya di kampus tak henti-henti membicarakan liga yang berjalan tiap akhir pekan ketika menunggu kelas dimulai, Tenten sama sekali tidak berminat untuk ikut terjun. Adalah hal konyol menurutnya ketika dua puluh dua orang harus berlari kesana kemari hanya demi memperebutkan sebuah bola. Apakah sebegitu miskinnya mereka sampai mereka tidak mampu memiliki bola sendiri-sendiri? Belum lagi melihat bagaimana orang rela mengeluarkan uang demi tiket musiman yang hanya menempatkan mereka di bangku yang sungguh jauh hingga para pemain hanya terlihat seperti butiran wijen yang bergumul. Atau perlukah juga ia mengisahkan teman-teman kuliahnya yang buang-buang harta untuk berjudi menebak pemenang pertandingan?
Namun, Tenten tahu ia tidak bisa lama-lama berdiam diri di atas tempat tidur, menangis membasahi bantalnya sampai lumut melapisi badannya dan membuatnya melapuk dengan mengenaskan. Mungkin tak ada salahnya juga mencoba hal baru mumpung ia masih di sini.
Untuk Tenten yang luar biasa awam, dia hanya tahu kota ini terbelah menjadi dua kubu. Manchester merah dan Manchester biru. Old Trafford dan Etihad Stadium. Dia tidak tahu tentang stadion kecil bernama Leigh Sport Village yang kini berdiri di hadapannya. Temari kemudian menjelaskan bahwa Manchester United—Manchester merah—tidak hanya memiliki tim inti, tetapi juga tim untuk mereka yang berusia di bawah dua puluh tiga tahun. Di tim itulah adik Temari, Gaara Sabaku, bermain. Alih-alih menggunakan Old Trafford yang maha besar, tim U-23 lebih sering menggunakan Leigh sebagai tempat bermain.
Apa yang Tenten ketahui soal Gaara? Tidak banyak. Ia hanya pernah bertemu sekali atau dua kali ketika Temari memboyongnya ke flat—membuat Tenten sadar kalau ia memang menjadi sedikit antisosial selama hidup sekian bulan di Manchester. Gaara bermain sepak bola sejak kecil sampai dia kuliah, dan menurut Temari, Gaara cukup tersohor di liga universitas sampai mendapat banyak fans perempuan yang membuat Temari sakit kepala. Tiga tahun lalu, pihak Manchester United membuka sesi pencarian bakat di Jepang dan Gaara berhasil lolos untuk kemudian pindah ke Inggris. Karena itulah ketika Temari mendapat kesempatan melanjutkan studinya keluar negeri, ia memilih Manchester agar lebih dekat dengan adiknya yang paling muda tersebut.
Berbeda dengan apa yang Tenten kira, tidak ada biaya yang dipungut sama sekali ketika mereka masuk stadion. Mungkin karena pertandingan kelas dua, pikirnya. Temari menariknya ke bangku penonton terdepan, kentara sekali tak ingin melewatkan setiap gerak-gerik saudaranya nanti. Lapangan hijau nan luas terhampar di hadapan mereka, dan ingin rasanya Tenten melompat menginjak rumput untuk kemudian berlari ke tengah dan berteriak demi melepas penat yang mengekangnya beberapa hari belakangan. Di sekitarnya, bangku mulai terisi tetapi tak seramai seperti yang sering dipertontonkan televisi. Barangkali yang datang hanya teman dan keluarga pemain seperti Temari, atau bisa jadi penggemar berat maupun orang kurang kerjaan yang tidak tahu bagaimana harus menghabiskan waktu tanpa menghabiskan uang.
Tenten tidak benar-benar menghitung, tetapi untuk keterkejutannya, cukup banyak kaum Hawa yang menempati kursi. Lantas ia paham. Ini pertandingan sepak bola—permainan lelaki—yang penuh akan pemain-pemain muda.
Mencari gebetan, hm?
...tidak, ia belum siap.
.
.
"Cepat, cepat, hei wanita!" seorang pria berseru di ruang ganti. Dia tidak buta, tapi rasanya pantas sekali untuk memanggil segerombolan pemuda di hadapannya sebagai kumpulan nona-nona pesolek, mengingat butuh waktu yang lama bagi mereka untuk bersedia memasuki lapangan. Demi Tuhan, apa yang membuat mereka begitu lelet—mengenakan maskara dan lipstik? Ini juga bukan pesta yang menekankan penampilan fisik.
Kecuali kalau mereka dapat menaklukan apa yang akan mereka hadapi—mungkin mereka dapat sungguh-sungguh berpesta malam ini.
"Keluar!" Bukan maksud mengusir, tetapi mereka sudah mengulur waktu sejak tadi. Maka sesuai instruksi, beberapa orang mulai bangkit sebelum sang pelatih membunuh mereka semua dengan sekali tebas.
Pria itu—sang pelatih—berjalan mendekati orang terakhir yang masih duduk: pemuda yang dengan santainya masih bergelut dengan tali sepatu. Caranya melirik sudah cukup menjelaskan kalau ia tidak senang.
"Apa kau perlu bantuan, Dogs? Aku bisa mengikat tali itu di lehermu." Murka yang membuncah tak ayal membuat si pemuda menengadah. "Cepat sana keluar."
"Ah, maaf, Coach," titah sang pemuda. Tak ada ekspresi yang berarti pada wajahnya, dan itu membuat si pelatih sedikit tergelitik. Dia tahu alasannya.
Namun demikian, pria itu juta bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang. Jadi yang ia lakukan hanya menepuk bahu anak didiknya dan bersahut, "Santai. Semuanya akan baik-baik saja."
Semuanya akan baik-baik saja.
Dia tidak paham mengapa orang mudah sekali mengucapkan hal seperti itu.
.
.
"Oh, itu dia!" Lamunan Tenten buyar ketika Temari berpekik riang. Tenten menoleh ke sayap barat, dan menemukan barisan pemuda berseragam melangkah keluar dari terowongan. Para gadis di sekitarnya mulai berbisik-bisik mencari-cari pemilik wajah paling rupawan, sementara Temari di sebelahnya tampak begitu bersemangat ketika melihat seorang pemuda berambut kemerahan keluar dari sana. Sabaku, nomor punggung tiga belas.
Pertandingan dimulai. Para pemuda berkaus merah—termasuk Gaara—yang merupakan tuan rumah tampak mendominasi permainan. Mereka terus menggempur pertahanan lawan, membuat tim berbaju biru kewalahan. Sebuah gol dicetak dan skor bertahan 1-0 untuk keunggulan United sampai akhir babak pertama. Temari tampak kegirangan, percaya kalau Gaara punya kontribusi besar terhadap keunggulan timnya walau tidak mencetak gol.
Sementara itu, Tenten hanya dapat bertopang dagu dan mendesah sebagaimana yang ia dan Temari khawatirkan sebelum berangkat. Baginya, pertandingan itu membosankan. Hanya satu gol? Tak bisakah mereka membuat gol lebih banyak lagi? Awal babak kedua juga terasa membosankan baginya, meski tercipta satu gol lagi—kali ini dari pihak lawan, sehingga Temari di sebelahnya menggerutu sebal.
Pertandingan mencapai menit keenam puluh. Kiper muda Manchester United melempar bola kepada salah satu bek, yang kemudian mengopernya kepada seorang gelandang sebelum berakhir di kaki pemain depan. Pemain itu berlari, kencang sekali seperti anjing yang lincah. Dilewatinya satu demi satu pemain lawan yang berusaha menghadangnya. Ia hampir mencapai kotak penalti, tetapi bek yang tersisa mengepung ketat. Kali ini, ia menyerah. Ia tidak bisa menembus benteng pertahanan ini.
Untungnya, ekor matanya menangkap Gaara yang luang di pojok lapangan. Ia mengoper bola kepada Gaara, dan tepat ketika bola mencapai tumit Gaara, para bek lawan panik dan segera mengepung Gaara. Gaara tampak kesulitan mempertahankan bolanya agar tidak keluar dari garis batas.
Namun, Gaara tak hilang akal. Melalui sela-sela bahu pemain yang mengepungnya, ia dapat melihat rekannya yang bebas. Segera ia berikan umpan lambung ke tengah kotak penalti, di mana sang kawan berdiri.
Seketika, seluruh penonton terkesiap. Tenten bahkan tak terkecuali.
Pemain itu, si striker yang kecepatan larinya luar biasa kencang, melompat dan membalikkan tubuhnya. Tatkala bola menyentuh ujung kakinya, refleks kaki kanannya yang melayang di angkasa menendang bola tepat menuju gawang. Bola melesat dan sang kiper pun melompat, mencoba menepis.
Yang kemudian terjadi adalah para pemain berbaju merah bersorak bahagia. Ya, kiper itu gagal. Sebuah gol tercipta, membawa Manchester United mengambil alih pertandingan lagi.
Pemain yang mencetak salto gemilang tersebut jatuh ke tanah, tapi tak butuh waktu yang lama baginya untuk bangkit dan berlari melakukan selebrasi. Gaara merangkul pemuda berambut coklat itu, disusul teman sejawat mereka yang lain. Sambil menepuk dada dengan kepalan tangan, ia berteriak membakar gelora para suporter yang ikut bersorai.
Ada satu suporter yang ternyata tak ikut bersorak, bahkan tak memberikan aplaus. Ia—Tenten—berdiri tercengang di bangkunya. Kagum bukan main; itulah yang sekarang dirasakannya terhadap pemuda tersebut.
Mungkin, sepak bola bukan sesuatu yang sepenuhnya membosankan.
.
.
Pertandingan selesai. Skor bertahan sampai akhir pertandingan. Temari sangat senang sampai tak sabaran saat menarik-narik tangan Tenten untuk mendekati pintu masuk pemain di luar stadion. Temari ingin menjadi yang pertama memberikan pelukan selamat kepada Gaara sebelum gadis lain merengkuh adik kesayangannya itu.
Tidak lama mereka menunggu, para pemain telah selesai berkemas dan mulai keluar satu per satu. Temari berusaha untuk tidak terlihat terlalu antusias, tetapi ketika yang dinanti keluar, ia tidak bisa untuk tidak menghambur memeluk adik laki-lakinya sambil mengucapkan selamat berkali-kali.
"Gaara! Kau benar-benar hebat! Operanmu tadi benar-benar keren!" —dan blablabla. Tenten cukup salut dengan Gaara yang tetap dapat mengontrol diri dengan luar biasa tenang ketika kakaknya luar biasa riuh. Tenten berbalik ke belakang, dan dapat dilihatnya dua orang gadis yang tengah menatap iri akan sahabatnya yang sedang bercengkrama akrab dengan Gaara. Terhadap pemandangan itu, Tenten hanya bisa tersenyum geli.
Sampai akhirnya, sebuah benturan pelan menghantam pinggangnya, membuat Tenten berpekik mengaduh. Ia baru saja akan berbalik untuk protes, tapi rupanya tanpa perlu sepenuhnya berbalik, si pelaku sudah berdiri di sampingnya.
Hanya saja, melihat sosok si pelaku langsung membuat Tenten bungkam mulut.
"Whoops, I'm sorry—" Sang oknum turut menghentikan sejenak niatnya untuk meminta maaf. Mata cokelatnya memerhatikan muka Tenten dengan saksama, membuat Tenten memasang wajah skeptis di tengah bunyi detak jantungnya yang tak karuan. Dia juga tidak paham mengapa ia mendadak gugup. Tidak mungkin, kan, hanya karena mendapati orang yang berdiri di hadapannya adalah sosok yang sempat dikaguminya tadi di lapangan? Si pencetak gol salto itu.
"Are you an Asian? Chinese or...?" Pemuda itu sengaja menggantungkan pertanyaannya, membiarkan Tenten melanjutkan sendiri.
"Japanese," ucap Tenten ragu. "I'm a Japanese."
Seketika itu juga, wajah sang pemuda menjadi cerah. "Really?" tanyanya antusias. "It's so nice to meet a Japanese around!"
"Uh… are you?" Retoris. Ia sudah tahu jawabannya.
Pemuda itu menyeringai lebar, terang sekali merasa senang menemui orang yang satu rumpun dengannya. "Yeah, senang bertemu denganmu, Nona." Ia pun akhirnya berujar dengan bahasa asal mereka. Satu tangannya terulur, berharap dapat mengawali perkenalan mereka dengan sebuah jabat tangan hangat.
"Inuzuka Kiba. Salam kenal."
.
.
glosarium: res nullius – sesuatu bukan milik siapa-siapa. TMI merupakan singkatan dari too much information, dan Blue Sky adalah salah satu toko oleh-oleh di Jepang yang berbasis di beberapa bandara. Manchester merah merujuk ke Manchester United, dengan stadionnya yakni Old Trafford, sementara musuh bebuyutan mereka adalah Manchester biru atau Manchester City, yang berkandang di Etihad Stadium.
Terima kasih untuk review yang masuk!
