BROTHER
By : Han Kang Woo
Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Do Kyungsoo, Kim Jongin, Exo Member, etc
Main Cast : ChanBaek ft Kaisoo
Genre : Romance, Friendship
Warning : BL (Boys Love), Adult NC, 18+
Banyak Typo, FF ini hanya pinjam nama saja
Rated : M
DLDR
= Happy Reading =
O…O…O…O…O…O…O…O…O
Baekhyun tidak sadar telah tertidur selama beberapa jam di dalam kamarnya, dengan posisi duduk, meringkuk dan telanjang dada. Namja itu terbangun menjelang sore hari.
Baekhyun mengucek matanya pelan, mengerjap, dan melemaskan ototnya. Dia berdiri, sisa air mata yang mengering masih ada dipipinya, namja itu menghapusnya cepat. Dia beranjak menuju lemari pakaiannya, lalu memakai baju kaos oblong.
Baekhyun menatap sekilas penampilannya didepan cermin,
'kau tidak boleh terlihat rapuh Baekhyun, tidak boleh… jangan sesali perasaan yang muncul itu.' Baekhyun membatin, seraya merapikan penampilannya.
Namja bersuara kuat tersebut lalu keluar kamar, ingin memastikan apakah yeoja yang bernama Dara sudah pulang atau tidak.
Baekhyun tiba beberapa meter dari kamar depan Chanyeol. Dia mengawasi dari jauh, dan berdoa semoga yeoja itu sudah betul-betul pulang.
Baekhyun berdiri mematung, dia menerawang, teringat lagi saat-saat dimana dia bertemu untuk pertama kalinya dengan Chanyeol.
.
.
FlashBack on :
Kurang lebih sebulan yang lalu. Baekhyun diajak oleh ibunya kesebuah restorant Italia. Jarang-jarang ibunya mengajak makan malam disebuah restorant, biasanya ibunya itu memasak sendiri makanan untuknya dirumah. Namun kali ini terasa berbeda. Mau tidak mau, Baekhyun ikut ke restorant itu, dia juga sangat penasaran, karena ibunya begitu sangat gembira.
Baekhyun dan ibunya tiba di restorant tersebut beberapa menit kemudian, mereka berdua sudah ditunggu oleh seseorang disebuah meja yang sudah dipesan.
"maaf, kami agak sedikit terlambat." kata ibu Baekhyun, tersenyum kepada pria yang sudah menunggunya.
"tidak apa-apa." balas si pria, ikut tersenyum.
Baekhyun memandang pria itu ingin tahu, tidak biasanya ibunya akrab dengan seorang pria, terlebih usia mereka sepertinya hampir sama. Baekhyun duduk dengan pelan dikursi yang sudah disiapkan.
"ah, pasti pemuda ini yang bernama Baekhyun, anakmu kan?" kata si pria, memandang bergantian antara Baekhyun dan ibunya.
"iya, ini Baekhyun. Anakku satu-satunya." Jawab ibu Baekhyun, terus menampilkan wajah ceria dan bahagia.
"aku juga akan memperkenalkan anakku satu-satunya. Ah, dia sekarang sepertinya sedang di toilet." Lanjut si pria.
Mendengar kata toilet, Baekhyun dengan cepat berdiri, dia ingin buang air kecil. Namja imut itu meminta izin pada ibunya, dan kemudian berjalan cepat menuju arah toilet di restorant mahal tersebut.
Baekhyun tergesa-gesa masuk kedalam toilet, kebetulan toilet lagi sepi, hanya ada dua orang saja yang sedang mencuci muka di westafel. Baekhyun terus berjalan, namja itu tidak melihat orang yang juga berjalan tergesa-gesa dari arah berlawanan,
Dan
'bugh…'
Baekhyun menabrak seseorang, namja itu terhuyung dengan bokong seksinya yang lebih dulu mencium lantai, dia meringis tertahan.
"ah, maaf… kau tidak apa-apa?" tanya orang yang ditabrak oleh Baekhyun, seorang namja.
"ti.. tidak, aku tidak apa-apa." jawab Baekhyun, pelan. Walau dalam hatinya merasa sakit, tentu saja. bokongnya belum diasuransikan.
Baekhyun yang tadi jatuh dengan posisi duduk, perlahan mendongakkan wajahnya, dan memandang namja yang bertabrakan dengannya.
Wuishhh…
Seperti ada angin sepoi-sepoi yang meniup disekelilingnya, itulah yang dirasakan oleh seorang Byun Baekhyun. Dia menatap wajah namja tersebut, tanpa berkedip. Terkesima dan Terpesona.
Baekhyun seakan melihat pangeran impian dari negeri seberang, namja itu terpaku.
"hei, kau tidak apa-apakan?" si namja lagi-lagi bertanya, karena melihat tingkah Baekhyun yang seperti salah minum obat cacing.
"ak.. aku tidak apa-apa." Baekhyun tersadar, dia menggeleng cepat, dan kemudian berdiri. Mengikuti namja didepannya yang sejak tadi sudah berdiri.
"maafkan aku… aku tidak lihat-lihat tadi." Kata si namja, membungkuk beberapa kali.
"aku yang salah, tidak apa-apa." timpal Baekhyun, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia salah tingkah.
Namja itu tersenyum, senyuman yang membuat Baekhyun seperti coklat yang meleleh. Dan beberapa saat kemudian namja itu bergegas keluar dari toilet, meninggalkan Baekhyun.
Baekhyun menatap siluet namja tersebut yang menghilang dibalik pintu.
'tampannya, ya tuhan…' batin Baekhyun, air liurnya seperti ingin menetes saja.
Entah mengapa, perasaan itu muncul. Baekhyun tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, ya… dia jatuh cinta pada pandangan pertama pada si namja yang menabraknya tadi.
Baekhyun batal buang air kecil, urinnya seperti menghilang seketika. Dia tidak 'kebelet' lagi seperti tadi. Namja itu mendekati cermin didepan westafel, memandang pantulan wajahnya disana.
'wajahku memerah… aku jatuh cinta padanya.' Baekhyun membatin. Kemudian mencuci wajahnya dengan cepat. Terdiam sejenak, lalu teringat sesuatu,
"ah, aku belum menanyakan siapa nama namja itu, dimana dia tinggal…" gumam Baekhyun, lalu dengan depat dia keluar dari toilet, tanpa mengeringkan wajahnya pasca cuci muka.
Namja tersebut sedikit berlari, mengarahkan pandangannya kesana kemari, mencari penampakan sosok namja tinggi yang meluluhkan hatinya yang telah lama beku (?)
"dimana dia? cepat sekali menghilangnya…"
Baekhyun terus mencari-cari. Hingga akhirnya dia melihat lambaian tangan ibunya dari arah meja disudut, dan mau tidak mau, dia harus menghentikan pencarian. Namja itu mendesah.
Baekhyun kembali ke meja tempat ibunya dan si pria tadi berada.
"ah, karena Baekhyun sudah ada. Mari kita mulai saja..." kata si pria, bersemangat.
Baekhyun ingin duduk, namun namja itu mendadak mematung, dia baru sadar bahwa namja yang dicarinya sedang duduk manis disamping pria paruh baya kenalan ibunya tersebut.
Baekhyun tidak mampu berkata apa-apa, wajahnya mendadak merah lagi, dia terduduk dengan tidak elit dikursinya, dengan pandangan tidak lepas dari wajah si namja.
"kami ingin memberikan pengumuman penting, kepada kalian berdua…" lanjut si pria, masih bersemangat dan berapi-api.
Hening sesaat,
"aku dan nyonya Byun akan segera menikah. Dan ingin meminta restu dari kalian berdua, bagaimana?"
Baekhyun tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh pria tersebut, fokusnya sekarang hanya pada namja tampan didepannya.
"nah, Chanyeol anakku. Bagaimana? Kau setuju jika appamu ini menikah lagi?" tanya si pria, yang ternyata adalah ayah dari namja tersebut. Namja yang bernama Chanyeol
Jdeerrr…
Seperti dilempar batu bata sekarung penuh, Baekhyun tersentak, hampir merosot dari kursinya. Pria dan namja didepannya dalah ayah dan anak. Calon ayah dan calon kakaknya.
"kalian berdua akan menjadi saudara… saudara yang sangat akrab." kali ini ibu Baekhyun yang berujar, dia mengelus pelan bahu anaknya.
Air mata Baekhyun seperti ingin menetes saja, dia ingin berteriak sekeras-kerasnya, meraungkan pada dunia mengenai isi hatinya :
'aku tidak ingin dia menjadi saudaraku, aku menginginkannya menjadi kekasihku…'
FlashBack off
.
.
Baekhyun masih mematung dengan jarak beberapa meter dari depan kamar Chanyeol. Air matanya jatuh lagi, namun dia menghapusnya dengan cepat. Dia masih mengingat dengan betul sikap Chanyeol yang mendadak berubah malam itu, berubah menjadi namja yang dingin dan ketus. Padahal beberapa menit sebelumnya, saat bertabrakan di toilet, namja tersebut begitu ramah padanya.
Apa mungkin karena ibunya yang menikah dengan ayah Chanyeol? Atau ada alasan lain yang tidak diketahuinya? Entahlah.
Baekhyun masih larut dalam lamunannya, dan tiba-tiba pintu kamar Chanyeol terbuka. Si namja pemilik kamar keluar dari kamarnya, dengan menyampirkan baju kaos dibahunya, dia tidak memakai baju itu.
Baekhyun dengan cepat menghampiri Chanyeol, memasang senyum terbaiknya.
"ap… apa yeoja temanmu sudah pulang?" tanya Baekhyun, pelan. Dia memang tidak menggunakan kata 'hyung' dalam kalimatnya, karena Chanyeol sudah membentak dan melarangnya memakai kata itu.
"bukan urusanmu…" tukas Chanyeol, ketus. Malah tidak memandang wajah Baekhyun saat mengucapkan kalimat bentakan itu.
Baekhyun tidak berkata atau bertanya lagi, namja itu hanya melihat penampakan Chanyeol yang menghilang kearah dapur.
Chanyeol tidak mengunci pintu kamarnya. Ini kesempatan bagus untuk Baekhyun.
Dengan cepat Baekhyun beranjak dan mendekati pintu kamar Chanyeol, membuka dengan pelan pintu kamar itu dan melongok ke dalam. Dia lega, ternyata yeoja yang bernama Dara tidak ada di kamar kakaknya itu. Tapi untuk memastikan dia akan mengecek di toilet kamar.
Baekhyun masuk dengan cepat, menutup kembali kamar Chanyeol dan bergegas menuju toilet kamar. Memeriksa dengan tergesa-gesa.
"syukurlah, yeoja itu sudah pulang…" gumam Baekhyun. Dalam hati terdalamnya dia 'tidak rela' jika Chanyeol berlama-lama dengan yeoja itu.
Baekhyun ingin keluar dari kamar tersebut, namun langkahnya terhenti karena melihat kondisi ranjang Chanyeol yang acak-acakan, kacau. Sprei sudah tidak terbentuk lagi, seperti bekas digunakan 'bertempur' seharian.
Perasaan Baekhyun jadi tidak enak,
'mungkinkan mereka melakukan itu dikamar ini?' batin Baekhyun, resah dan gelisah.
Dia mengusap wajahnya kasar, dan penampakan selanjutnya membuatnya semakin takut dan gelisah, dia melihat beberapa tissue bekas pakai berserakan dilantai dekat ranjang Chanyeol. Dan juga bungkusan obat strip yang mirip bungkusan kondom.
Deg…
'tidak, tidak… tidak mungkin mereka melakukan itu. Tidak…' Baekhyun terus membatin, dia menunduk pelan, ingin memeriksa tissue bekas dan strip obat tersebut,
Namun mendadak pintu terbuka dengan cepat, menampilkan sosok tinggi Chanyeol dibaliknya.
"sedang apa kau dikamarku? Lancang sekali kau memasuki kamar orang tanpa izin…" seru Chanyeol, itu adalah kalimat terpanjangnya selama sebulan ini.
Baekhyun tersentak kaget, dia tidak jadi memeriksa tissue bekas tersebut, sebagai gantinya dia dengan sigap mengambil dan mengantongi strip obat dilantai tersebut, tanpa ketahuan. dengan tubuh gemeter dia berdiri dan mencoba menatap Chanyeol.
"ah, maaf… aku.. aku hanya ingin memastikan bahwa yeoja temanmu itu sudah pulang. Hanya itu." Kata Baekhyun, kalimat itu keluar begitu saja.
"apa urusanmu. Kau tidak berhak mencampuri urusanku." timpal Chanyeol, memasukkan tangan kesakunya. Dengan pandangan datar pada Baekhyun.
Baekhyun dengan jelas bisa menatap wajah tampan Chanyeol dari dekat, ada yang beda dengan wajah itu, wajahnya pucat, ada bulir-bulir keringat didahinya.
"memang bukan urusanku. Tapi omma sudah berpesan, untuk tidak memasukkan yeoja sembarangan kedalam…"
"persetan dengan pesan itu. Sekarang keluar…" bentak Chanyeol, mengusir Baekhyun dengan kasar.
Baekhyun menunduk, hatinya sakit dan perih. Ada sesuatu dalam dirinya yang seperti tersayat-sayat. Namja tersebut melangkah gontai, mendekati pintu, melewati Chanyeol.
Baekhyun sejenak menghentikan langkahnya, saat beberapa langkah lagi dia keluar kamar.
"maaf, tapi bisakah kita bicara baik-baik… kau tidak pernah lembut dan selalu…"
"KELUAR." potong Chanyeol, menghentikan kalimat halus namja yang sudah menjadi adiknya itu.
Baekhyun mendesah pelan, matanya mendadak berkaca-kaca, dia bergegas keluar, tanpa berkata apa-apa lagi.
Baekhyun seperti adik yang tertolak.
.
.
.
.
O…O…O…O
Baekhyun membaringkan diri dikamarnya. Namja tersebut terus saja mengusap wajahnya kasar. Perasaan resah dan gelisah terus menghantuinya. Terutama sejak kedatangan yeoja yang bernama Dara itu. Yeoja yang tidak pernah dilihatnya di sekolah.
'apa mungkin Chanyeol sering membawa yeoja itu kesini? atau karena omma dan appa sekarang tidak ada?' batin Baekhyun. Dalam hatinya dia jelas merasa cemburu. Cemburu yang tidak berdasar, karena Chanyeol bukanlah pacarnya, tapi saudaranya… saudara.
Baekhyun tentu saja resah. Bagaimana jika memang benar Chanyeol melakukan 'itu' bersama Dara. Lalu beberapa minggu kemudian, Dara hamil. Kemudian meminta pertanggungjawaban Chanyeol. Dan akhirnya Chanyeol menikah dengan Dara. Pupuslah sudah harapannya selama ini jika benar hal itu terjadi.
"TIDAK." Baekhyun berteriak keras.
Namja itu membuka lemarinya lagi, mengeluarkan boneka beruang besar andalannya, dan menghantam boneka tidak bersalah itu.
'bugh… bugh… bugh…'
Baekhyun meninju boneka itu dan melampiaskan kekesalan dan kemarahannya. Setelah puas, dia bisa sedikit merasa tenang.
Namja itu terduduk dengan ditopang lututnya, dadanya naik turun. Kemarahannya sudah sedikit berkurang. dia memang memilih melampiaskan kemarahan dan kekesalannya dengan meninju atau menghantam boneka beruang besarnya. dia bukanlah namja labil yang jika marah langsung memotong urat nadi, melempar gelas, memecahkan bingkai foto atau gantung diri dibawah pohon tomat.
Baekhyun mungkin bisa dikatakan adalah namja yang rapuh, air matanya kembali mengalir. Perasaannya kepada Chanyeol tidak bisa diubah. Saat ini dia hanya bisa memendamnya saja, tanpa berani mengatakannya langsung. Dia terlalu pengecut untuk jujur, atau mungkin takut.
Dia menghapus pelan air matanya itu, lalu berdiri.
'seandainya perasaan ini bisa dialihkan pada orang lain saja, mungkin tidak sesulit ini…' batin Baekhyun, memegang dadanya.
Tiba-tiba ponselnya berdering, menampilkan nama 'Kyungsoo pendek' dilayarnya.
Baekhyun dengan cepat mengangkat telefon dari sahabatnya itu,
"halo."
"halo Baek, aku didepan rumahmu… tolong buka pintu." Kata Kyungsoo diseberang sana.
"oh, baiklah. Tunggu sebentar."
Baekhyun menutup telefon, merapikan penampilannya singkat didepan cermin, menghapus sisa-sisa air mata yang ada disana. Dia tidak ingin terlihat kacau.
Dan beberapa detik kemudian, namja itu keluar kamar. membuka pintu depan untuk Kyungsoo.
.
.
Pintu terbuka lebar,
Kyungsoo langsung menghamburkan dirinya dipelukan Baekhyun. Namja tersebut seperti teler dan dicecoki minuman keras oplosan.
"kau kenapa Kyung?" tanya Baekhyun, mencoba menormalkan posisi Kyungsoo dipelukannya.
"tidak Baek, aku hanya lelah saja." kata Kyungsoo, lalu cegukan.
"kau minum?"
"hahaha, tidak. Aku hanya minum Big Cola campur Sprite. Benar-benar nikmat." Jawab Kyungsoo, asal. Namja itu memang minum, tapi hanya sedikit saja.
Baekhyun tidak berujar lagi, dia memapah sahabatnya tersebut. Menutup lagi pintu depan. Dan membawa Kyungsoo masuk kedalam kamarnya.
Baekhyun membaringkan Kyungsoo diatas ranjang, posisi namja kecil itu menelungkup, dengan masih sesekali cegukan.
"sebenarnya apa yang terjadi denganmu Kyung? Berceritalah…" tanya Baekhyun lagi, mendudukkan dirinya didepan meja komputer pribadinya.
Kyungsoo cegukan lagi,
"pelanggan pertamaku payah Baek." Jawab Kyungsoo, masih dengan posisi menelungkup.
"payah kenapa? Dia membayarmu kan?" tanya Baekhyun lagi,
"membayar apanya. Aku rugi. Aku yang membayar check in hotel. Namja labil itu tidak membayarku, karena aku kabur dari sana." Jawab Kyungsoo, menghela nafas kasar.
Baekhyun memegang dahinya, sudah bisa menduga bahwa sahabatnya itu tidak cocok dengan profesi sampingan 'menjajakan diri'.
"kenapa kau kabur?"
"jelas saja aku kabur. Namja itu jorok. Penisnya bau. Aku tidak bisa mengisapnya. Dia ingin melakukan hubungan seks diatas meja kamar hotel yang sempit, dengan terlebih dahulu mengoral penisnya yang bau seperti comberan itu…" kata Kyungsoo, merinding disko. Ingin muntah.
Baekhyun menghela nafas,
"itu memang resikonya Kyung. Kau tidak bisa pilih-pilih pelanggan. Karena dia yang membayarmu." Kata Baekhyun, mengungkapkan pendapatnya.
"tapi, aku tidak bisa dengan pelanggan seperti itu. Kau tahu sendiri kalau aku itu pembersih. Menyukai kebersihan. Kata jorok tidak ada dalam daftar kamusku." timpal Kyungsoo, lalu membalikkan tubuhnya, kini namja itu telentang, memandang langit-langit kamar.
Baekhyun beranjak dan duduk disisi ranjangnya, dekat Kyungsoo.
"lebih baik kau menghentikan pekerjaan sampinganmu ini. lebih baik kau mencari pekerjaan yang lain selama liburan. Misalnya menjadi penyanyi café, honornya juga lumayan." Kata Baekhyun, memberikan saran. Dia tahu bahwa Kyungsoo mempunyai suara yang bagus, sama dengan dirinya.
Kyungsoo mendadak mendudukkan dirinya,
"penyanyi café? Itu sulit Baek. Café-café diluar sana sudah mempunyai penyanyi mereka sendiri. Aku tidak mempunyai peluang. Asal kau tahu, aku sudah pernah dua kali mendaftarkan diri, tapi aku selalu ditolak dengan alasan mereka sudah mempunyai penyanyi sendiri." Sahut Kyungsoo.
"yah, kau benar."
"jadi sekarang, aku menunggu pelanggan keduaku… mudah-mudahan saja dia namja yang bersih dan baik, tidak aneh-aneh." Kata Kyungsoo, masih tetap dengan keinginannya menjalani profesi sampingan itu.
"dengan menyewa jasamu, dia bukanlah orang baik-baik Kyung. Orang-orang seperti itu hanya ingin mencari pelampiasan nafsu sesaat saja." timpal Baekhyun, kembali mengingatkan sahabatnya.
"aku tidak peduli Baek. Aku harus maju terus." Kyungsoo mengepalkan tangannya, semangat 45.
Baekhyun mengendikkan bahunya singkat, tidak bisa melarang keinginan Kyungsoo yang sudah menggebu-gebu itu.
Setelah beristirahat singkat, Kyungsoo beranjak dari ranjang Baekhyun.
"Baek, aku pinjam celana dalammu…" kata Kyungsoo, langsung mengarah menuju lemari besar Baekhyun,
"me.. memangnya celana dalammu kemana?" tanya Baekhyun, risih.
"ketinggalan di hotel tadi. Aku kabur dan tidak sempat memakai celana dalamku. Padahal itu adalah celana dalam mahal." Jawab Kyungsoo, lalu membuka lemari pakaian Baekhyun.
"tapi, punyaku semua bekas pakai, tidak ada yang baru." kata Baekhyun, berdiri dari duduknya.
"tidak mengapa. Kau lumayan pembersih. Walau tidak terlalu." Kyungsoo tertawa cetar, mengobrak-abrik isi lemari Baekhyun.
Namja itu mencari celana dalam Baekhyun yang berwarna hitam, warna kesukaannya. Mata bulatnya menangkap penampakan boneka beruang besar didalam lemari Baekhyun, boneka itu sangat mencolok, karena mengambil banyak ruang disana.
"wah Baek, kau suka boneka juga ya…" kata Kyungsoo, lalu mengeluarkan boneka tersebut.
"oh, itu… eh, pemberian teman." Sahut Baekhyun cepat.
"kau jangan malu begitu. Aku juga punya boneka pinguin besar dikamar. Katanya matanya mirip mataku." kata Kyungsoo, tertawa lagi. Meneliti boneka beruang besar yang sudah banyak bolongnya itu.
Baekhyun menggaruk kepalanya. Boneka yang ada dilemarinya itu adalah boneka khusus tempat pelampiasan kekesalan dan kemarahannya, berbeda dengan boneka Kyungsoo yang mungkin saja tiap malam digunakan untuk menemani namja bermata bulat itu tidur.
Kyungsoo sudah menemukan celana dalam yang dirasanya cocok, kemudian memakainya didalam kamar mandi diruangan Baekhyun itu.
"nah, lega sekarang. celana dalammu pas juga." Kata Kyungsoo, setelah keluar dari dalam kamar mandi, dia berputar-putar seperti penari balet yang tidak lulus kelas menari.
"jangan membicarakan celana dalam terus." timpal Baekhyun, tetap saja risih. Terlebih salah satu celana dalamnya sudah dipakai oleh Kyungsoo sekarang.
Kyungsoo tertawa cetar badai,
"baiklah Baek, aku kesini cuma untuk istirahat sebentar saja. aku sudah tidak mabuk lagi. Lagi pula aku menunggu appa dan ommaku tidur. Aku tidak bisa pulang jika mereka masih terjaga." Tukas Kyungsoo, memperbaiki penampilannya didepan cermin besar.
"memangnya kenapa? Kalau omma dan appamu sudah tidur, otomatis pintu rumahmu terkunci."
"aku panjat pagar Baek. Aku juga memanjat untuk bisa masuk kedalam kamarku. Dan besoknya ommaku akan mengetuk kamar, dan aku terbangun dengan ceria… seperti tidak terjadi apa-apa." Kyungsoo merentangkan tangannya.
Baekhyun menggeleng pelan, memegang pelipisnya. Tidak menyangka bahwa Kyungsoo bisa panjat pagar juga.
"aku masih heran Kyung… siapa yang mengajarimu hingga jadi namja 'cabe-cabean' seperti ini…" tanya Baekhyun, masih terus menggeleng.
"kau Baek… kau yang mengajariku secara tidak langsung." Jawab Kyungsoo, otomatis.
"what? Me? Are you kidding me?" Baekhyun kaget, dan menggunakan bahasa asing yang belepotan.
"tentu saja Baek… kita sudah lama berteman dan besahabat. Kau tentu saja 'mencipratiku' gayamu dimasa lalu." Kata Kyungsoo,
"gaya apa? aku tidak mengerti."
Kyungsoo duduk disamping Baekhyun, akan menjelaskan.
"apa kau mendadak amnesia Baek? Aku masih mengingat gayamu beberapa waktu yang lalu. Menggoda banyak namja di sekolah yang lama. Hingga menjadi simpanan tante-tante yang tidak berduit. Walau akhirnya kau memutuskan hubunganmu dengan tante 'ganjen' itu. Kau sering memperlihatkanku video seks baru. Malah diantaranya video seks teman sekolah sendiri, yang berhasil kau rekam secara sembunyi-sembunyi. Kau juga sering mempraktekkan bagaimana mengocok dengan menggunakan pisang Baek. Waktu itu aku hanya sebagai penonton saja. jiwaku masih suci, polos dan unyu. Tapi karena terus terusan kau memberikan visual seperti itu, mau tidak mau aku mengikutinya dan tersimpan di alam bawah sadarku." Jelas Kyungsoo, panjang lebar dan juga lebay.
Baekhyun ternganga mendengar penuturan Kyungsoo. Dia betul-betul lupa, atau pura-pura lupa dengan 'gaya lamanya' tersebut.
"jadi bagaimana Baek? Apa kau sudah ingat. Hm… aku yakin kau berubah karena kehadiran 'saudara' yang tidak menganggapmu itu. Entahlah, itu hanya tebakanku saja. tapi terima kasih, gayamu dimasa lalu itu sudah membuatku terinspirasi Baek." ucap Kyungsoo, tersenyum love lips.
Baekhyun terdiam. Memikirkan dan mencerna kalimat Kyungsoo barusan. Apa dia mendadak berubah menjadi 'namja baik-baik' karena kehadiran Chanyeol dalam kehidupannya? Karena hanya ingin menjadikan Chanyeol satu-satunya didalam hatinya? Entahlah.
Kyungsoo menatap wajah Baekhyun, dia menggoyangkan tangan kecilnya didepan wajah sahabatnya tersebut.
"woi, jangan melamun. Nanti kau kerasukan suster gepeng…" Kyungsoo mengagetkan Baekhyun.
"aku tidak melamun." timpal Baekhyun cepat, setelah sadar dari lamunan singkatnya.
Kyungsoo berdiri lagi,
"baiklah Baek. Aku pulang. Terima kasih karena kau selalu ada untukku." ujar Kyungsoo, ingin pamit, dia menatap jam didinding kamar Baekhyun, sudah pukul 21.00 malam. Jam biologis kedua orangtuanya untuk tidur.
"tunggu Kyung… aku ingin minta tolong padamu."
"minta tolong apa?"
Baekhyun berdiri dan mengeluarkan strip obat yang dipungutnya di kamar Chanyeol tadi. Lalu menyodorkannya pada Kyungsoo.
"aku ingin kau mengecek di apotek, obat apa ini. kau bisa kan?"
Kyungsoo menerima strip obat yang sudah dipakai isinya itu, menelitinya dengan seksama.
"ini apa Baek? Seperti obat anti kehamilan dini, atau mungkin pil agar tidak datang bulan selama 10 tahun…" Kyungsoo berkata asal.
"aku tidak tahu. aku ingin kau mengeceknya."
"baiklah, ini masalah mudah." Kyungsoo setuju, lalu memasukkan strip obat itu kedalam sakunya.
Baekhyun tersenyum. Dia sangat penasaran dengan obat tersebut. Namja tersebut kemudian mengantarkan Kyungsoo ke pintu depan. Untuk pulang.
"Baek, kenapa setiap aku datang kesini, rumahmu seperti kuburan China? sunyi dan sepi." tanya Kyungsoo, saat namja itu sudah didepan pintu utama.
"appa dan omma belum pulang dari Thailand." Jawab Baekhyun.
"kakakmu yang tampan itu kemana?" Kyungsoo celingak-celinguk tidak jelas.
"mungkin di kamarnya." Jawab Baekhyun, jawaban yang lagi-lagi terdengar hampa.
"oh, jadi kakakmu itu jadi anak kamar-kamar sekarang?"
"begitulah." desah Baekhyun.
"baiklah, sampaikan salamku padanya. Bye…Baek" tutup Kyungsoo, kalimat andalannya ketika meninggalkan rumah Baekhyun.
Baekhyun tersenyum, menatap penampakan kecil Kyungsoo yang sudah menjauh. Dan kemudian menutup lagi pintu rumahnya.
Baekhyun mendesah, sambil melirik jam dinding, sudah pukul 21.00 lewat.
"ah, sepertinya Chanyeol belum makan…" gumam Baekhyun, lalu dengan cepat menuju dapur, ingin membuatkan makanan untuk kakaknya itu.
Namja tersebut tiba didapur beberapa saat kemudian, lalu mencari bahan makanan untuk dimasak. Namun setelah mencari, dia hanya menemukan Ramyun saja.
"apa-apaan ini. bahan makanan tidak ada." gumam Baekhyun, sedikit kesal. Sepertinya ibunya lupa membeli bahan makanan sebelum pergi.
Baekhyun menatap bungkusan ramyun yang jumlahnya banyak itu, dan dengan terpaksa memasak makanan itu saja, makanan instan yang kurang sehat. Besok dia berencana akan pergi ke supermarket untuk belanja bahan makanan.
Ramyun-pun dimasak. Makanan yang mirip mie instan itu disajikan Baekhyun dalam sebuah mangkuk, setelah matang.
"ah, mudah-mudahan Chanyeol tidak menolak ramyun ini." sahut Baekhyun, penuh harap.
Namja itu pun akhirnya membawa semangkuk ramyun menuju kamar Chanyeol.
Setibanya didepan kamar Chanyeol, Baekhyun menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan, entah mengapa dia merasa seperti ingin masuk kedalam ruang untuk wawancara kerja, dia sangat gugup. Padahal didepannya 'hanyalah' kamar kakaknya, Chanyeol.
"semoga berhasil…" gumam Baekhyun, menyemangati dirinya sendiri.
Tok… tok… tok…
Baekhyun mengetuk kamar Chanyeol pelan. Namja itu menunggu respon Chanyeol.
Tidak ada jawaban,
Tok… tok…
Baekhyun mencoba lagi, namun tetap saja nihil. Tidak ada tanda-tanda si pemilik kamar beranjak dari dalam.
Lalu dengan tangan gemetar, Baekhyun memberanikan diri memegang gagang pintu kamar Chanyeol, berharap pintu itu tidak dikunci. Dan benar saja, pintu tersebut tidak terkunci dari dalam.
Baekhyun membuka pintu kamar Chanyeol dengan pelan, mirip gaya pencuri laptop di kos-kosan mahasiswa.
Hening.
Baekhyun melangkah pelan masuk lebih kedalam, sudah siap jika Chanyeol menyemburnya dengan kata-kata kasar, namun setelah beberapa lama, sosok maupun suara Chanyeol tidak tampak dan terdengar.
"maaf, Chanyeol-ah, aku… aku membawakan makanan untukmu." Kata Baekhyun, masih gugup tingkat akut.
Tidak ada jawaban.
"Chanyeol-ah."
Mata Baekhyun tertuju pada ranjang didalam kamar tersebut. Diatas ranjang itu terbaring sosok Chanyeol dengan mata terpejam. Rupanya si pemilik kamar ada disana.
Baekhyun dengan langkah pelan mendekati ranjang Chanyeol.
"Chan... Chanyeol-ah, aku… ah, apa kau sakit?" Baekhyun berseru, saat dirinya melihat penampakan Chanyeol yang sangat pucat.
Baekhyun dengan cepat meletakkan mangkuk ramyun diatas meja nakas, lalu dengan cepat memeriksa suhu tubuh Chanyeol.
"ya tuhan, badanmu panas, sekaligus berkeringat." Baekhyun langsung panik dan khawatir, setelah memegang dahi namja yang sudah menjadi kakaknya itu.
Chanyeol tidak berkata apa-apa, namja itu hanya memejamkan matanya. bajunya basah oleh keringat.
"bagaimana ini? apa aku harus menelfon omma…" gumam Baekhyun, dia berjalan mondar mandir disamping ranjang Chanyeol. Berencana menelfon ibunya, namun setelah menimbang-nimbang, dia akhirnya membatalkan niatnya itu, dia tidak ingin mengganggu acara bulan madu berkedok urusan bisnis ayah dan ibunya.
Baekhyun berpikir cepat, dan memutuskan akan mengompres dahi Chanyeol saja, dia sebenarnya ingin menelfon dokter, tapi sama sekali tidak tahu nomor telefon dokter kepercayaan ibunya.
Baekhyun dengan cepat keluar kamar, mengambil wadah untuk diisi air dingin, tidak lupa handuk kecil, dan membawa semua benda itu kembali kedalam kamar Chanyeol.
"kenapa bisa sampai begini? Pantas saja tadi sore wajahmu sangat pucat." gumam Baekhyun, merendam handuk kecil, memerasnya dan meletakkannya di dahi Chanyeol.
Chanyeol lagi-lagi tidak berkata apa-apa, namun dia membiarkan Baekhyun mengompres dahinya. Dia merasa sangat lemas sekarang.
Baekhyun tersenyum kecil, hatinya sedikit berbunga-bunga, Chanyeol tidak membentak atau mengusirnya keluar dari kamar. Sakit Chanyeol itu ada hikmahnya juga.
Baekhyun mengambil kursi dan meletakkannya disamping ranjang Chanyeol, kemudian duduk manis. Masih tampak raut wajah khawatir diwajah imutnya. Dia kemudian menatap Chanyeol intens.
"hm, bajumu basah Chanyeol-ah, lebih baik aku membukanya saja." kata Baekhyun, nadanya suaranya sangat pelan.
Lalu dengan tangan gemetar (seperti biasa), dia mengambil handuk kompres di dahi Chanyeol, meletakkan kembali benda itu kedalam wadah. Kemudian memegang kedua ujung baju kaos Chanyeol, dan menariknya keatas. Diluar dugaan, Chanyeol pasrah dan tidak melarang atau berontak.
Dengan susah payah, Baekhyun akhirnya berhasil membuka kaos polo Chanyeol yang basah karena keringat. Namja tersebut menutup tubuh setengah telanjang Chanyeol dengan selimut tebal setelahnya.
Wajah Baekhyun kini memerah, tidak pernah menyangka akan membuka sendiri baju seseorang yang sangat disukainya. Dia seperti yeoja pemalu yang ingin mandi bugil di tempat permandian umum.
Baekhyun kembali mengompres dahi Chanyeol. Berharap suhu tubuh orang yang dicintainya itu perlahan normal. Dia kembali duduk dikursi.
'apa ini ada hubungannya dengan obat yang tadi?' batin Baekhyun, berpikir keras. Dia sangat curiga dengan strip obat yang kini berada ditangan Kyungsoo. Karena selama beberapa hari belakangan ini Chanyeol tidak pernah keluar rumah, tidak mungkin terpapar sinar matahari.
Baekhyun mendesah pelan,
"hm, Chanyeol-ah. Apa kau bisa bangun? Sebaiknya kau makan dulu. Setelah itu tidurlah…" kata Baekhyun, berbicara dengan lembut dan takut-takut.
Tidak ada jawaban dari Chanyeol, namja tinggi itu tetap memejamkan matanya, seperti tertidur. Suhu tubuhnya masih panas.
Hening.
Baekhyun mendesah lagi, memperhatikan wajah tampan Chanyeol tanpa berkedip. Lalu mendadak muncul dorongan didalam dirinya untuk 'lebih dekat dan intim' dengan Chanyeol.
Baekhyun fokus pada bibir Chanyeol. Namja itu menelan ludahnya kasar. Muncul kenekatan mendadak yang entah dari mana. Dia ingin mencium Chanyeol. Ingin mencium dan merasakan bibir namja tinggi itu, menikmati bagaimana jika bibir itu menempel dengan bibir tipisnya.
'aku harus merasakannya.'
Baekhyun menarik nafas dalam dan menghembuskannya cepat, dengan gerakan perlahan alias slow motion, namja itu mendekatkan bibirnya ke bibir milik Chanyeol.
Dekat dan semakin dekat. beberapa centi lagi bibir Baekhyun akan berlabuh ke bibir Chanyeol. Namun, mendadak Chanyeol membuka matanya, mata mereka berdua saling beradu.
Deg.
Waktu terasa terhenti.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
.
.
.
.
.
.
.
TBC
O…O…O…O…O…O…O
Chapter 2 update. Aku tidak tahu apakah FF ini akan selalu update sesuai jadwal (2 hari sekali), karena sekarang lagi sibuk-sibuknya sih, hehehee… aku sekali lagi minta maaf kepada pembaca yang menunggu squel FF Hunhan sex and love. FF itu sudah berakhir di chapter 17, mian. Juga pembaca yang mungkin mem-follow akun ini (follow author) yang berharap FF Hunhan yang update, tapi ternyata FF ChanBaek, maaf… aku memang selama ini buat FF dengan 3 main cast (Kaisoo, Chanbaek dan Hunhan), dan sekarang waktunya FF Chanbaek sebagai main cast, habis ini baru Kaisoo main cast, setelah itu Hunhan lagi sebagai main cast, begitu seterusnya.
Terima kasih kepada pembaca yang menerima FF ini dengan baik, membaca dan memberikan komentar atau Reviewnya di chapter lalu, sampai saat ini review itulah yang membuat semangat melanjutkan FF ini. kalau masih berkenan, FF ini akan terus lanjut, hingga akhir. Gomawo…
Cast lain akan bermunculan seiring perkembangan cerita di FF ini, misalnya Jongin atau Sehun. NC? hm…heheheee…
Baiklah, Review lagi ya chingu…
Salam Love.
Han Kang Woo
Thanks to Reviews:
chanbaek0605, SooBabyBee, lestari. tari. 37819, VijnaPutri, Re. Tao, realbaekhyunne, ica638, Krasivyybaek, BabyWolf Jonginnie Kim, AphroditeFaust, LoveHyunFamily, Little iLaa, My jeje, 6104, owen. lusiano. 90, libra. pw5, adeokta677, bluebble, viiyoung, sanyakie, 48BemyLight, amandabofi, kori xiluhan, cntyathalia, CussonsBaekby, Vita Williona Venus, Park Trihyun, parklili, luphbepz, chika love baby baekhyun, winter park chanchan, manlylittledeer, guest, rekmooi, PxnkAutumnxx, Etc.
