Sebelumnya gue mau minta maaf, karena Chapter yang satu ini lama bener… Gak sempet soalnya, heu… Bakalan kejadian di chapter-chapter selanjutnya juga,, Jadi gue minta maaf dari sekarang y..

Minta maaf juga, chapter kemaren lupa nulis disclaimer. Maapin Jo, hhe.. (Dih, sok akrab,,)

Jadi sekarang gue mau Disclaimer,,

DISCLAIMER : Sebagian besar punya pengarang favorit gue, Jonathan Stroud. Ada juga original char buatan gue, tapi cuma sebagian kecil. Disclaimer ni sekalian buat Chapter 3 juga, soalnya chapter 2 sengaja gue pendekkin, biar cliffhangernya bagus, hehe…

Terus, gue mau ngucapin makasih buat yang udah ngereview, makasih banyak…! Buat apocrief dan Farah a.k.a. Cun Lai, makasih banget yo,,

Peraturan buat yang mau baca fanfic gue : Kudu mesti wajib ngereview! Ok, Ok!

Makasih banyak…

Bartimaeus

2

Ternyata benar, London sudah banyak berubah.

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, memperhatikan dengan seksama pemandangan London modern di siang hari. Banyak sekali manusia-manusia yang berlalu lalang, baik penyihir maupun commoner. Tidak sedikit yang terburu-buru, membawa koper-koper hitam yang kelihatan serupa. Mereka semua berjalan beriringan seirama, kaki beradu kaki, tangan berayun membentur tangan yang lain. Aku heran belum ada yang tersandung kaki sendiri dan jatuh berguling-guling. Wuih, pasti seru.

Berwujud kucing besar berbulu kelabu, bermata hijau, dan bergigi runcing, aku berusaha mencari celah diantara lalu lintas manusia itu, tetapi lebih sering terlonjak mundur karena tertendang atau hampir terinjak. Sang kucing menggerutu keras, mencakar dan mendesis kepada siapapun yang mengenainya.

Sungguh tidak menguntungkan menjadi seekor kucing di kota metropolitan.

Jika ada jin lain yang melihatku sekarang, sedang berkutat dengan kaki-kaki manusia yang tidak bisa dibedakan satu sama lain, aku yakin ia akan mencemooh sambil bertanya mengapa aku tidak merubah wujud menjadi bentuk lain. Burung, misalnya. Atau mungkin serangga.

Aku sudah berpikir seperti itu, tentu saja. Terlambat, sayangnya. Aku baru menyadari bahwa mengambil bentuk makhluk yang bisa terbang jauh lebih pas daripada memilih tubuh makhluk darat dengan kaki setelah rohku berubah bentuk menjadi seekor kucing. Mengubah bentuk sekarang, sama saja dengan menyerahkan diri kepada sentry atau sphere yang sedang berpatroli.

Ditambah lagi, Wesminster Hall berada tepat di seberang, kira-kira lima ratus meter, menaranya terlihat dengan jelas dari tempat si kucing kelabu berdiri (Di London versi terdahulu, saat kejadian di St. James Park belum terjadi, aku yakin, dari tempatku berdiri, tidak akan ada satu bagianpun dari Westminster Hall yang dapat kulihat. Tapi kini Gedung Parlemen itu sepertinya sudah direnovasi habis-habisan setelah dihancurkan Nouda cs tiga tahun yang lalu. Tidak tanggung-tanggung, bangunan itu sekarang bertransformasi menjadi gedung tinggi dengan lebih dari dua puluh lantai. Firasatku, fungsi Whitehall telah dipindahtempatkan ke Westminster juga.)

Akhirnya aku memutuskan untuk mencari jalan alternatif daripada mendapatkan kesempatan terinjak-injak sepatu hitam mengkilat, mahal dan bermerek, ataupun sepatu berhak lima senti. No way.

Aku berbalik, berjalan santai ke arah gang kecil yang gelap yang terletak di antara dua gedung tak bernama. Sambil berjalan, aku mengedarkan pandangan, berharap menemukan jalan lain untuk menyeberang. Sial, tidak ada. Arus manusia seperti tidak berujung. Pemandangan aneh, cenderung mengerikan.

Aku merebahkan diri sesaat di sebelah tempat sampah yang menguarkan bau keju dan roti busuk. Aku mengawasi sekitar, membuka mata benak, melihat plane kedua, dimana banyak imp dan foliot tak kasatmata yang berkeliaran. Di plane ketiga dan seterusnya, aku tidak menemukan makhluk baru, hanya saja wujud para imp dan foliot-foliot itu berubah, semakin mengerikan di plane yang lebih tinggi.

Tunggu dulu, ini aneh.

Tidak ada sphere pengintai, sentry, ataupun polisi-polisi kepunyaan Farrar seperti dulu (Itupun kalau ia dan pasukannya masih ada. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya.). Aku mengerutkan kening. Keadaan ini tidak seperti yang kuduga. London benar-benar berbeda sekarang. Dan tanpa tahu alasannya, hal ini membuatku khawatir.

Jika keadaannya seperti ini, tidak akan menjadi masalah jika aku mengubah bentuk sekarang. Rasa sakit sudah mulai menusuk-nusuk rohku, seperti yang biasa terjadi jika makhluk gaib sepertiku mengambil suatu bentuk di dunia manusia. Aku bersiap-siap berubah ketika sebuah benda padat menimpa punggungku dengan keras. Ouch.

Aku menoleh. Dan tidak melihat apapun di belakangku.

Mencoba untuk tidak peduli, aku kembali bersiap-siap, berencana untuk berubah menjadi seekor burung merpati yang anggun, ketika benda padat yang lebih besar kembali menimpaku, kali ini dua kali berturut-turut.

"Hei!" Aku berteriak marah (Sangat tidak keren. Karena wujudku masih seekor kucing, yang keluar dari mulutkupun hanya suara kucing yang melengking.). Aku membalikkan tubuh. Tak jauh di hadapanku berdiri sesosok anak lelaki kecil berusia sekitar tujuh tahun. Ia mengenakan sebuah topi kumal berwarna biru dan kaus kebesaran berwarna hitam.

Anak itu tak berbicara ataupun melakukan apapun selain kembali melempariku dengan batu. Apa-apaan sih anak ini?

Bocah itu tak memeberiku kesempatan untuk berubah barang sedetikpun. Aku berlari menjauhinya, berbelok di mulut gang, dan berubah menjadi burung gereja. Benar-benar di luar rencana.

Aku terbang menuju atap, mendarat di ujung cerobong asap, dan melihat gang di bawah, dimana si anak kecil sedang menolehkan kepalanya ke sana kemari, mencariku. Rasa penasaran mengalahkan keinginanku untuk sesegera mungkin menyelesaikan tugas yang diberikan masterku. Aku terbang menukik ke bawah, kemudian mendarat di atas selasar yang cukup tinggi, tetap menjaga jarak dengan penyerangku.

Aku berpikir, mencoba mencari alasan mengapa anak kecil tersebut mengincarku. Aku tidak membawa apa-apa, tidak melakukan apapun terhadapnya. Kemungkinan besar bocah itu dapat melihat sosokku yang sebenarnya, dan pastinya membenci apa yang ia lihat, dan memutuskan untuk menghancurkanku dengan caranya sendiri. Tapi tetap saja aku tak habis pikir. Jangan-jangan London telah berubah menjadi tempat yang berbahaya bagi jin hebat sepertiku.

Aku memanjangkan leher, ingin tahu apa yang akan dilakukan anak itu kemudian. Sepertinya ia sudah menyerah mencariku, berbalik badan ke arah ia datang, dan berlari kecil menjauhi gang.

Dasar anak kecil.

Aku melaksanakan rencana semula, berubah menjadi burung merpati yang anggun. Aku bersolek sebentar di atas selasar, merapikan bulu-buluku yang putih, mengusap-usap paruh, siap untuk melaksanakan tugas. Tepat saat aku hendak mengepakkan sayap, terdengar suara gaduh dari bawah. Tanpa sadar, aku terbang beberapa sentimeter ke udara, mencari sumber suara ribut itu.

Ternyata anak kecil itu lagi. Tapi kali ini ia tidak sendirian. Berjalan beriringan di belakangnya, dua remaja pria dan seorang gadis terseok-seok ke tengah gang, menyingkirkan sampah-sampah yang menghalangi jalan. Aku kembali mendarat di selasar, mencoba mendengarkan percakapan mereka. Siapa tahu aku bisa mendapatkan informasi siapa sebenarnya mereka dan apa yang mereka inginkan dariku.

"Di sini, Matt." Lengking anak lelaki yang menyerangku. Topi birunya sudah menghilang entah kemana, bulir-bulir keringat menetes dari dahi ke pipinya. Ia terlihat habis berlari kencang, napasnya terputus-putus. Salah satu remaja lelaki berambut pirang berjalan menyusuri gang, melihat kesana kemari, terlihat jelas sedang mencari sesuatu. Pastinya sih aku. Apa lagi?

Sementara temannya sibuk mencariku, gadis yang berdiri di barisan paling belakang mencolek punggung si anak kecil. Ia berbisik. Sial, aku tidak dapat menangkap apa yang ia katakan. Apapun yang ia katakan, berefek tidak bagus.

Si anak kecil mendongak, dan berteriak, "Di sana! Di atas selasar!

Bagus, mereka tidak sebodoh yang kukira. Waktunya cabut.

Tetapi, sebelum aku sempat mengangkat sayap, sesuatu dilemparkan dari bawah oleh salah seorang dari mereka.

Begitu aku menyadarinya, aku telah terkurung di dalam Bola Kepedihan.