YOZORA AGEHA:
Ka-chow! Cepat sekali aku menyelesaikan bab kedua ini! Sama sekali tidak disangka-sangka dariku yang superpemalas ini.
Tapi ada masalah. Setelah selesai bab satu, aku membaca lagi Naruto volume 16 dan sadar ternyata pertemuan Sasuke dan Itachi terjadi DUA HARI setelah invasi Konoha! Padahal setting waktu Sasuke ketemu Itachi di fic ini bisa sebulan lebih setelahnya! AAARGH! TT.TT Tolong harap maklumi perubahan ini, ya? Namanya di sini dunia buatanku :3 Plus, ada yang mau kuralat. Pembantaian klan Uchiha terjadi enam tahun lalu, bukan lima tahun lalu. Karena yang masih berumur 12 itu Naruto yang ulang tahun ke-13-nya bfaru bulan Oktober nantinya, sementara yang lain yang lahir di bulan sebelum bulan Agustus sudah berumur 13. Jadi semua tulisan 'lima tahun lalu' di fic ini bakal kuganti menjadi 'enam tahun lalu'. Dasar aku ini—bikin fic tapi tidak cek dulu dari sumber aslinya X3
Kalau begitu, selamat membaca ;3
PS: Memang kadang-kadang Kishimoto-sensei suka lupa menggambarkan luka berbentuk kanji 'cinta' di keningnya Gaara (namanya juga jarang ada karakter dengan bekas luka berbentuk kanji rumit nangkring di jidatnya). Tapi, ADAKAH yang sadar kalau di manga Naruto: Chuunin arc suka ada tiga tindikan iseng-iseng mejeng di telinganya GAARA?? :O
PSS: Aku sudah membuat account blog (jadi ikut-ikutan Sora Aburame, nih ;3). Cek homepage di profilku, ya?
A STORY BEFORE BEDTIME
"Ceritakanlah padaku kesedihanmu"
A Naruto fanfiction
--
A Story Before Bedtime © Yozora Ageha
Naruto © Kishimoto Masashi
--
Chaptaa 2: Identitas
"No I don't cry
On the outside anymore."
Behind These Hazel Eyes, Kelly Clarkson
"Oi, brengsek! Keluar kamu!"
Meski seruan itu berasal dari kejauhan, kedengarannya seperti diserukan oleh orang yang berada dekat. Sasuke tidak tahan mendengarnya. Teriakan kencang itu membuat sakit kepalanya lebih parah dari yang semalam. Seisi kepalanya seakan-akan siap meledak kapan saja.
Menelungkupkan badan, dia menindih kepalanya dengan bantal. Selimutnya ditarik sampai dia kelihatan seperti gundukan mencurigakan di kasur.
Ironis sekali; kata-kata anak perempuan aneh kemarin menjadi kenyataan. Walaupun anak itu berkata bukan maksudnya dia berharap agar ucapannya menjadi kenyataan, Sasuke menganggap ucapannya sebagai kutukan tak disengaja. Atau setiap lontaran kata anak perempuan itu ternyata menjadi kutukan terampuh.
Semalam dia terbangun karena merasa kedinginan luar biasa. Di atas semua itu, dia juga merasa luar biasa panas dan kepalanya terasa seolah habis dihantam batu raksasa. Dia merasa seperti logam; menderita keretakan (rasa sakit) akibat diberi panas dan dingin sekaligus.
Satu penyakit dia dapat. Dia kena demam.
Yang kedua, berkali-kali bersinnya menyita waktu untuknya berpikir. Dan ketiga, pernapasannya tidak bekerja dengan benar, alias hidungnya mampat. Dia tidak yakin bila masuk angin dan influenza masuk ke daftar penyakitnya.
Tapi dia harus bangun dan berlatih, lalu menjadi kuat dan mengakhiri penderitaannya dengan membunuh kakaknya, dan mungkin kemudian membekap dan mengikat Naruto di mana pun di tempat tersembunyi agar tidak ada lagi teriakan mengganggu, pengundang tekanan darah. Tidak ada yang bisa menghalanginya, bukan, seperti katanya pada si anak perempuan?
Mungkin ada. Penyakitnya membuat badannya lemas, menghalanginya untuk berjalan tidak seperti orang lumpuh ketika dia mengambil obat flu-dan-demam-dengan-perangsang-kantuk yang seingatnya disimpan di kotak P3K di ruang duduk.
Dan surga tidurnya yang susah-susah dia dapatkan berakhir ketika seruan panggilan itu—yang suaranya berusaha dia anggap tidak familier—menerjang kesadarannya. Dia harap suara itu cuma bagian dari mimpi buruk terbarunya.
Seruan menyebutkan "hoi" semakin mendekati rumahnya. Ada suara lain yang bergabung dengan suara Naruto. Suara perempuan. Paling-paling juga Sakura.
Sasuke mengintip dari balik selimutnya, melirik jam beker di atas meja sebelah kasur, menyipitkan mata karena garis sinar menyulitkannya melihat angka-angka di balik kaca muka jamnya. Sudah jam sepuluh lewat; dia terlambat datang berkumpul di jembatan untuk bersama-sama menerima misi baru. Keterlambatannya lebih parah dari Kakashi, yang paling banter terlambat nyaris tiga jam dari waktu janjian.
Sasuke duduk dan mengambil jamnya, memastikan kalau dia tidak salah melihat waktu yang ditunjukkan. Dan dia benar. Dia kemudian melihat tombol alarmnya tidak ditekan masuk. Pantas saja dia tidak terbangun: alarmnya mati. Mau bagaimana lagi, dia tidak pernah menyalakannya karena biasanya dia selalu bangun sebelum jam 6 pagi, dan malam tadi dia yakin tidak bakal terlambat bangun.
Melempar jam ke sebelahnya, dia beranjak dari kasur ke depan jendela. Cahaya pagi menimpa tampang kusutnya. Matanya memandang lemas dan mengantuk. Corak warna merah di wajahnya bertambah jelas. Di luar, dia bisa melihat teman sekelompoknya berjalan ke arah rumahnya. Naruto dan Sakura bersemangat memutar pandang ke mana saja sambil memanggil-manggilnya, sementara itu Kakashi (pastinya) sibuk terkekeh membaca novel Icha Icha Paradise favoritnya.
"Hoi, Brengsek! Keluar kamu! Apa kamu ternyata sudah jadi pengecut, hah?! Takut dikalahkan sama aku?!"
"Berisik kau, Naruto! Berhenti memanggil Sasuke-kun 'brengsek'! Kakashi-sensei juga bantu dong! Panggil Pakkun atau apa, kek! Sasuke-kun!"
Kakashi tidak menanggapi Sakura.
Sebelumnya pernah kubilang, bukan, kalau tak ada seorang pun yang berani menginjakkan kaki di kediaman klan Uchiha? Itu bukan kebohongan. Tapi berbeda lagi kasusnya jika mereka masuk ketika cuaca sedang terang-terangnya. Tidak ada suram-suramnya; bahkan bekas cipratan darah yang warnanya menggelap dilewati begitu saja seperti tumpahan tinta hitam yang malas dibersihkan.
Mendesah sekaligus mengerang, Sasuke segera mengganti piyama dengan pakaian hitamnya. Dia harus segera mendiamkan mereka, atau tidak—dia berani bersumpah—sakit kepalanya akan menuntutnya menerobos sejajaran rumah dengan sekali chidori.
Setelah mengikat ikat kepala ninja di keningnya, dia berusaha berlari ke pintu depan, tapi hasilnya malah berjalan gontai. Naruto dan Sakura berhenti berteriak ketika dia menggeser buka pintu, dan bersama Kakashi berpaling ke arahnya.
"Apa?" tanya Sasuke lemah. Dia berdiri agak membungkuk, napas terengah-engahnya ditekan hingga kedengaran biasa.
"Sasuke-kun! Rupanya kau tinggal di situ," kata Sakura girang. Naruto memandang masam Sasuke, kemudian pandangannya melayang ke sekelilingnya, mencari sesuatu yang bisa dikritik. Kakashi menyimpan novelnya di tas kantong belakang. Mereka bertiga menghampiri Sasuke.
"Jarang-jarang kamu datang terlambat, Sasuke. Apa kamu bangun kesiangan?" Nada suara Kakashi tidak mengandung ketertarikan.
"Semacamnya…," kata Sasuke berat.
Naruto, yang menyadari sesuatu, merubah pandangan masamnya menjadi heran. Dia menatap terus Sasuke sehingga Sasuke merasa risih. "Apa, Pecundang?"
"Kamu kelihatan seperti habis dikalahkan telak. Memangnya dari tadi kamu ngapain, Sasuke?"
"Ah, benar. Mukamu merah panas begitu, Sasuke-kun. Kamu demam?"
"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir." Sasuke menolak tangan Sakura yang mau menyentuh bawah keningnya. Sakura dan Naruto malah makin khawatir mendengar jawabannya. Dengan tertatih dia berjalan melewati mereka sebelum semuanya tertelan hitam…
"Sasuke-kun!" jerit Sakura, melihat badan Sasuke dengan mengerikannya terayun ke lantai, muka lebih dulu. Baru saja dia mau menangkapnya ketika Kakashi dengan mudahnya menahan Sasuke dengan tangannya.
"Yare, yare. Anak satu ini sama saja keras kepalanya," keluh Kakashi, menghela napas dan memejamkan mata setelahnya. Dia berpaling ke kedua muridnya. "Naruto, Sakura, kalian cari sesuatu untuk mengompres. Aku membaringkan Sasuke di kamarnya."
"Baik!"
Naruto dan Sakura segera mencari-cari dalam rumah; kekhawatiran mereka mengalahkan keinginan menjelajahi seisi rumah Sasuke yang terlalu luas untuk dihuni seorang diri. Mereka mengecek dapur dan kamar mandi, mengambil baskom, air, es batu, dan potongan kain bersih yang dijadikan waslap kompres. Setelah selesai, mereka menuju ruangan yang dituju Kakashi dan menemukannya berdiri di sebelah kasur dalam kamar tidur terbersih di rumah itu.
"Ini, Kakashi-sensei," Sakura berkata seraya menaruh baskom berisi air dan es batu di meja sebelah kasur. Dia membasahi waslap dan menaruhnya di kening Sasuke (ikat kepala Sasuke sudah dilepas). Dengan punggung tangannya, dia mengecek sepanas apa badan Sasuke. "Panas sekali. Kakashi-sensei bawa termometer?"
Kakashi menggeleng. "Tidak."
Naruto menyilangkan tangan di belakang kepalanya. "Hng. Ternyata Sasuke juga bisa kena demam, ya?" tanyanya polos.
"Naruto, jangan berkata seperti itu. Bagaimanapun juga dia itu manusia seperti kita," tegur Kakashi.
"'Bagaimanapun juga'?" kutip Sakura curiga. "Memangnya Sensei menganggap Sasuke-kun apa?"
"Yah… Yang lebih penting," kata Kakashi, mengalihkan pandang ke pintu sambil menggaruki kepala. Pertanyaan Sakura tidak dihiraukannya. "Kita tinggalkan Sasuke dan ambil misi untuk kelompok kita." Perintahnya seperti pengumuman vonis mati bagi Naruto dan—terutama—Sakura.
"Kakashi-sensei ini bagaimana?! Sasuke-kun sedang sakit begini; kita tidak bisa meninggalkannya sendirian!" bantah Sakura segera.
"Benar, benar! Lagi pula, satu kelompok kan harus ada tiga anggota dan satu pembimbing! Tiga!" tambah Naruto. Tiga jarinya teracung ke wajah Kakashi yang (sayangnya) belum bisa dicapainya. "Ditambah lagi, di sini tidak ada yang merawat Sasuke selain kita bertiga—kecuali kalau Kakashi-sensei tidak mau! Bagaimana nanti kalau tiba-tiba demamnya jadi lebih parah—"
"Jangan berkata seperti itu, Naruto!"
Naruto terdiam dibentak Sakura. Dia bisa melihat Sakura ketakutan mendengar lanjutan ucapannya. Merasa menyesal, dia menundu dan berbisik, "Maaf, Sakura-chan."
Keheningan yang menguasai mereka bertiga akhirnya dipecahkan oleh Kakashi, yang menempatkan tangannya masing-masing di pundak kedua muridnya. "Sakura, Naruto."
Naruto dan Sakura mengangkat kepala, memandang senyumnya yang menjanjikan.
"Kalian tak perlu khawatir. Sasuke bisa menjaga diri sendiri—kalian pasti tahu itu."
"Apa benar, tuh?" tanya Naruto agak ragu.
"Hm," Kakashi mengangguk yakin.
"T-tapi…" Sakura berhenti dan melirik Sasuke, yang terengah-engah gelisah dalam tidurnya. Sakura ingin menangis mengetahui dia harus menuruti kata-kata pembimbingnya sehingga tidak bisa berada di samping Sasuke dan merawatnya sampai sembuh. Wajahnya berubah pahit, matanya mulai berkaca-kaca.
"Jangan menangis, Sakura. Kalau kau sebegitunya mengkhawatirkan Sasuke, aku akan mencarikan seseorang yang bersukarela merawatnya selama kita menjalankan misi."
Sakura memandangi kakinya. Tangannya terkepal, berusaha menahan air matanya jatuh. "Baiklah," katanya, akhirnya setuju. Air matanya dihapuskan. Dia segera menambahkan, "Asalkan bukan Ino atau salah satu dari penggemarnya."
"Tentu saja." Mata Kakashi tersenyum lagi. Nama-nama yang melintasi benaknya digumamkan selama mencari orang yang kelihatannya bersabar merawat orang lain. Kepalanya manggut-manggut, dagu dielus seakan serumpun jenggot tersembunyi di balik maskernya. "Hm… Siapa sebaiknya, ya?"
"Biar aku saja."
Tiga pasang mata dalam kamar refleks berputar ke pintu yang berderit membuka. Seorang anak perempuan berambut kepang longgar muncul dari baliknya, balas menatap mereka dengan bola mata cokelat besar. "Biar aku saja yang merawatnya," katanya mengulangi.
"Siapa kamu?" tanya Naruto.
"Orang yang sudah memperingatkan Uchiha-san kemarin kalau dia akan sakit kalau tidak mengganti bajunya yang basah kuyup." Suara anak itu tidak berubah datarnya, mengingatkan Naruto kepada Gaara.
"Kamu bukannya murid akademi tahun keenam?"
"Benar," anak itu menjawab Kakashi. "Bagaimana Anda bisa tahu?"
Kakashi mengangkat bahu. "Tahu saja. Bukankah sekarang jam pelajaran sedang berlangsung? Atau kau membolos?"
"Sekarang kan hari Minggu—akademi diliburkan." Anak itu menatapnya heran. Lalu ditemukannya Sakura, yang memandanginya tak bersahabat. Wajah kunoichi itu tegang, dia mundur beberapa langkah menghalangi Sasuke dari pandangan siapa saja.
Anak itu tersenyum kecil kepada Sakura.
"Tenang saja. Aku bukan salah satu penggemar fanatik Uchiha-san." Pernyataannya berhasil memanasi pipi Sakura. Dia berjalan tenang mendekati Sasuke, mengeluarkan termometer dari saku bajunya dan memasukkan ujungnya ke mulut Sasuke setelah mengkeprek termometernya. Air raksa merah naik hampir sampai angka 39.
"38,7 derajat; tinggi juga suhunya," bisiknya, menatap meteran ukur sebelum menyimpannya lagi. "Sebaiknya kalian segera pergi mengambil misi. Sebentar lagi mau tengah siang."
"Kalau begitu, kami titip Sasuke kepadamu," kata Kakashi sambil membimbing muridnya ke pintu.
"Tolong urus Sasuke dengan benar, ya? Kalau tidak, mungkin dia akan menggigitmu begitu dia bangun; hati-hati saja," canda Naruto kemudian. Anak perempuan itu mendengus menahan tawa.
Beda dengan yang lain, Sakura sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Setelah sejenak memandang muram Sasuke melewati celah pintu, dia menutupnya pelan, nyaris tak mengeluarkan suara pintu menutup. Anak perempuan itu duduk di tepi kasur, memerhatikan Sasuke berbalik-balik gelisah dalam selimut. Alis pemuda itu berjengit; dia mengerang, mengertakkan gigi, terengah-engah dalam. Seakan bernapas melewati hidung tidak mencukupi kapasitas paru-parunya.
Ternyata terjadi juga. Anak itu sendiri tidak mau percaya beberapa terkaannya menjadi nyata. Matanya berjengit, tulus menyesal. Dengan hati-hati dia menyeka keringat di muka dan leher Sasuke dengan lap kompres. Kemudian dia menyelupkannya ke air baskom dan meletakkannya di kening Sasuke, lalu diulang-ulanginya kegiatan yang sama sampai Sasuke tenang dan tersadar.
Sasuke tak tahu apa yang terjadi, tak tahu dia berada di mana, kecuali fakta bahwa tempat itu sangat gelap dan hanya dia yang diliputi cahaya remang-remang. Dia tak mengerti, kenapa kakinya terus berlari meski nuraninya memerintahkannya berhenti. Namun dia memiliki perasaan yang muncul dalam hatinya tanpa alasan.
Dia ketakutan akan sesuatu yang tak nyata di hadapannya, di belakangnya, di mana-mana, padahal dia tak menemukan siapa-siapa dalam jarak pandangnya (yang tak diyakininya berapa jauh karena kegelapannya, tentu saja, gelap dan tidak bisa diberi rasa percaya). Punggungnya serasa dipeluk sesuatu yang tak padat, tapi juga bukan cair maupun gas; berat, terutama menambah sesak perasaan tak enaknya. Dia merasakan seseorang mengejarnya, sebentar lagi menyusulnya. Walau demikian, kepalanya menolak menengok ke belakang barang sebentar saja untuk memastikan.
"Kenapa… kenapa aku berlari?!" teriaknya frustasi. Kakinya sudah pegal serta perih. Giginya berkeretak, matanya terbelalak ngeri sekaligus putus asa. Bisa dilihat di bawah pelupuk matanya terdapat kerutan lelah.
Tiba-tiba saja setitik warna putih bersinar di kejauhan. Terus terang-benderang, tidak seperti bintang yang berkerlap-kerlip. Sinarnya tak menyebar seperti sinar yang terpancar dari kulitnya. Itu harapannya, pikirnya. Jalan keluar dari segala beban hidupnya. Satu-satunya yang tak bisa didapatnya dalam raihan kedua tangan. Dia menatap penuh harap ke sinar itu sampai cicit meringkih kelelawar menyerbunya.
"Gah! Apa-apaan ini?!" Sekeras apa pun usaha Sasuke mengibaskan lengannya, sekerubung kelelawar bersikeras mengganggunya, mencakarnya, menamparnya menggunakan sayap berselaput mereka. Cicitan mereka seolah menertawakan kepengecutannya berniat keluar dari beban hidupnya begitu saja. "Pergi kalian! Biarkan aku keluar!"
"Sungguh lemah. Kebencianmu benar-benar kurang."
Sasuke terkejut mendengarnya. Dia kenal suara itu. Sangat kenal. Mendongak ke kanan atas, belum melepaskan lengan dari kepala, dia melihat sepasang mata merah di antara kepakan sayap-sayap kelelawar, menatapnya tajam. Dia berdiri tepat di sebelahnya.
"Itachi…," bisik Sasuke parau. Semua harapannya hilang bersamaan ketika dia merasa jantungnya berdegup kuat, mau lepas dari kerangkeng rusuk. Sorot matanya kembali ngeri dan putus asa. Gemetar di lututnya menghilang; darah dalam pembuluh berhenti mengalir semua. Itachi menatapnya tanpa kasihani. Tatapan yang sama seperti malam enam tahun lalu, hanya saja dengan tambahan sorot kecewa yang tak lepas dari penghinaan.
"Adikku yang bodoh."
Sekujur tubuh Sasuke menegang begitu tiga tetes hitam pada mata Itachi mulai berputar. Tsukuyomi Itachi diaktifkan. Dalam sekejap sekelilingnya berganti ke pemandangan di kediaman klan Uchiha di malam pembantaian, tepat ketika Itachi membunuh orangtuanya dengan keji. Yang pernah Itachi perlihatkan kepada Sasuke ketika Sasuke terlambat tiba setelah ayahnya menghembuskan napas terakhir.
Kunai.
Pedang.
Luka.
Cabikan.
Tusukan.
Darah
Kematian.
Sasuke menemukan dirinya menjerit tak henti-hentinya selama 24 jam dalam satu detik. Dia menjambak rambutnya, menderita. Kepalanya menengadah, mata terbelalaknya tertuju ke atas, namun dia tak memandangi apa-apa. Permukaan di bawahnya hilang dan dia jatuh ke kedalaman tanpa batas—
Dia langsung duduk begitu kesadarannya ditarik kembali. Tangan memegangi keningnya; gerakannya terlalu tiba-tiba sehingga kepalanya pusing. Tak lama kemudian, pandangannya yang berputar-putar kembali normal.
Saat itu dia sadar dia tadi bermimpi. Dia berada di kamarnya, sedang duduk di kasur. Dinding putih berkilau jingga terkena sorotan cahaya senja. Di pangkuannya yang berselimut, tergeletak waslap basah yang jatuh dari keningnya. Barulah ia merasakan panas badannya lebih rendah dibandingkan sebelumnya…
Sasuke mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Pagi tadi (hampir siang) dia bangun, mengganti piyama dengan pakaian hitam yang sedang dipakainya sekarang, menghampiri kelompoknya yang datang mencarinya, kemudian dia tidak ingat kelanjutannya. Hitam. Sudah selama apa dia tidur? dia bertanya gusar.
"Kau sudah sadar rupanya."
Suara kemarin datang lagi. Anak perempuan itu menatapnya, duduk di tepi kasur tepat di sampingnya. Matanya, yang sebelumnya dikira Sasuke berwarna hitam, berwarna cokelat keemasan karena juga terkena cahaya. Dia meraih waslap dan mencelupkannya ke baskom di meja sebelah kasur.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Sasuke sebal. Dia terkejut mendengar suaranya parau, terlebih lagi lemah.
"Kalau kau berbaring tenang, dengan senang hati aku akan menjelaskannya," kata anak itu sembari menguras waslap. Sasuke mendengar kelotakan dalam baskom berisi air. Diduganya kelotakan itu es batu dari kulkasnya.
Apakah anak itu yang tekun merawatnya sampai dia merasa mendingan sekarang? Sasuke bertanya-tanya. Dari lubuk hatinya dia berterima kasih kepada anak itu, tapi dia masih kesal juga karena orang tak dikenal seenaknya menginjakkan kaki di kediaman klannya. Setelah lama diam, dia baru menuruti kata-kata anak itu, berbaring tenang. Dia sedang tak ada tenaga melawan, apalagi untuk marah-marah.
Anak perempuan itu menaruh waslap dingin di keningnya.
"Sewaktu kamu pingsan, jounin pembimbingmu membaringkanmu di sini. Teman sekelompokmu khawatir sekali melihat kondisimu; mereka berkeras mau merawatmu sementara menelantarkan tugas mereka," anak itu menjelaskan lambat-lambat. Sasuke dengan sabar mendengarkan. "Karenanya pembimbingmu menjanjikan mereka seseorang yang bersukarela merawatmu selama mereka pergi misi. Kebetulan aku bersukarela. Begitulah ceritanya."
Sasuke melirik ke arahnya. "Kenapa kau menawarkan diri?"
"Kau mau penggemarmu yang justru merawatmu?" goda anak itu, tersenyum sinis.
"Tidak," Sasuke cepat-cepat menjawab. Seandainya Sakura yang merawatnya, dia pikir itulah yang terbaik karena belakangan ini gadis berambut merah muda itu paling sabar menghadapinya. Kalau Kakashi, dia yakin pasti akan terasa janggal. Naruto… entahlah. Mood bocah berisik itu terkadang suka tak disangka-sangka terbalik 180 derajat. Tapi kalau penggemarnya, seperti Yamanaka Ino yang fanatik, mungkin saja demamnya justru malah lebih parah.
"Apa kamu… terus di sini?"
"Mana mungkin," tawa anak itu. "Aku sekali ke luar sebentar, beberapa kali mengganti air, dan—yah—toilet."
"Kau masuk ke toiletku?" desis Sasuke, masih lemah.
"Aku terpaksa, kau tahu. Aku sendiri tidak mau. Tapi, untunglah toiletmu bersih—bahkan lebih bersih dari toilet di rumahku. Jarang-jarang ada laki-laki yang hidup sendirian yang rajin membersihkan toiletnya."
Dia mendengus. "Apa itu penghinaan?"
"Terserah kau menganggapnya apa." Anak itu tertawa lagi mendengar gerutuan Sasuke.
Sasuke berpikir kosong, menatap langit-langit tanpa ada makna. Sementara itu, anak perempuan itu bergantian memandang dari jam ke jendela. Mereka berdua terdiam sampai suara mengeruk datang dari perut Sasuke. Sasuke langsung membuang muka, malu. Seandainya di dinding sebelah kasurnya terpasang cermin, dia bisa melihat warna merah tipis di pipi yang tak ada hubungannya dengan demam.
"Kau lapar." Itu bukan pertanyaan. "Wajar saja, sebentar lagi mau jam 7. Kau punya persediaan bahan makanan, setidaknya nasi atau beras?"
"Hn. Memangnya mau apa kamu?"
"Membuatkanmu bubur," jawab anak itu gamblang.
Mendengar itu, Sasuke bangkit, tapi tertahan dalam duduk saat kepalanya berdenyut sakit lagi. Dia meringis menahan sakit, tetapi tetap berkata di sela-selanya, "T-tidak perlu."
"Bukan masalah mau atau tidak mau, Uchiha-san. Kau harus makan sebelum minum obat. Kamu mau sembuh, kan?" desak anak itu. Kemudian dia berdiri. "Lagi pula," lanjutnya, "aku tidak mau kamu gigit."
Alis Sasuke bertaut. "Maksudmu?"
"Bukan apa-apa." Anak itu menggeleng, sebelumnya bibirnya bergetar seperti menahan tawa. Tatapannya dibuang ke lantai kayu. "Kau punya panci?"
"… Hn," desah Sasuke. Dia kembali membaringkan badan, lengan kanan menutupi matanya. Begitu mendengar kenop pintu diputar, dia bergumam, "Nama."
"Hm?" tanya anak itu, tidak jelas menangkap maksudnya.
"Namamu."
Dari balik lengan, Sasuke mengintipi senyuman di wajah anak itu. "Karen," kata anak itu, "Sachirio Karen." Dan pintu tertutup. Dia tidak mendengar langkah-langkah anak itu menyisakan suara. Kamarnya hening lagi.
"Sachirio Karen… ya?" Nama yang tak umum, pikirnya, dan seperti nama lain, nama itu baru pertama kali didengarnya.
X x . TO BE CONTINUED…
Kamus:
1. Sensei: guru. Bisa ditujukan kepada pelatih atau dokter.
2. Chidori: seribu burung.
3. Kunoichi: ninja wanita.
4. Jounin: ninja tingkat atas.
Kolom curhat: Bagaimana menurut kalian tentang chaptaa ini? Sepertinya aku tidak pandai membuat humor, ya? ;3 Tapi, aku sangat senang ketika mengetik bagian setelah Sasuke tersadar dari mimpi. Semalaman aku membayangkan percakapan antara Sasuke dan Karen, dan aku mendadak mendengus tertawa sendiri. Dasar sinting -.-;
Nay nay nay… tentang tindikan di telinga Gaara yang kubicarakan sebelumnya, sebenarnya aku sudah lama sadar. Tapi kupikir-pikir, itu mungkin cuma hasil iseng-iseng asistennya Kishimoto-sensei, dan Gaara terlihat lumayan dengan tiga tindikan itu (dasar -.-;). Tapi akhirnya aku menemukan fic karya firefly (lagi!) berjudul Just a Piercing yang nyaris membuatku mati ketawa! XD Ceritanya tentang alasan kenapa bisa ada tiga tindikan di telinga Gaara.
Karena chaptaa ini sudah selesai, saatnya beralih membuat parte kedua Last Sand in the Hourglass ;3
Please don't forget to review!
Responses:
Azumi Uchiha: Tentu saja aku lanjutkan. Ini chaptaa kedua seperti permohonanmu :D
raichan as rhodes: Wow wow wow! Aku pun tidak mau kalau OC-ku sampai jadi Mary-sue ;3 Aku jadi ingat, pernah membaca salah satu fanfic Prince of Tennis dan menemukan salah satu fic yang mem-bashing OC Mary-sue… Maksudku, dengan sengaja membuat karakter yang sangaaat Mary-sue. Penulisnya berhasil membuatku merinding demam -.-;
Sora Aburame: Masa sih kerasa angst? Padahal saat aku membacanya… MANA EKSPRESINYA?! TTOTT Tak apa kalau kau tak mengerti, Jej. Penulisanku ini memang rada—um—melebih-lebihkan. Hiperbolis gitu. Yang pasti, kalau OC-ku anak Hyuuga, matanya pasti putih juga ;3 Aku sudah komentarin blog kamu yang ngebahas soal kehilangan gambar Gaara. Syukurlah akhirnya gambar kamu kembali :D Bicara tentang Ost. Naruto berjudul Sunao Na Niji, nasib kita tuh sama. Sama-sama mimisan melihat Gaara pakai tuxedo putih! XD Habisnya di antara empat orang berbaju hitam, cuma dia yang pakai jas putih. Putih suci… Cocok sama hati Gaara… Muji-muji nih jadinya ;3
miyu201: Apa sekarang kamu masih penasaran sama ceweknya? ;3 Tapi dimohon-mohon sampai kapan pun juga, pairing yang ada cuma orangtuanya Sasuke ((seringai licik)). Aku bakal usahain membuat catatan hidupnya Sakura, tapi kalau kedua fic-ku sudah kelar rada jauh. Harap bersabar menunggu ;3
--—So, meet ya at the next chaptaa. See ya!
