Vocaloid milik Yamaha Corp.
Todokanai Sekai punya Panda :v
Genre : Friendship/Family
Rated : T
Don't Like Don't Read!
Aku menatap takjub dengan yang ada di hadapanku kini. Sebuah rumah mewah dengan pekarangan yang luas. Bagaimana aku menjelaskannya ya? Kalian tahu istana kerajaan di film-film fiksi? Mungkin ini hanya versi 'mini' tapi sudah cukup 'wah' untukku. Aku bertanya dalam hati, apa aku salah tempat atau apa, tapi nyatanya Rinto menarik tanganku dan membangunkanku dari lamunanku.
WTH? Ini rumah Rinto?
Aku 150% tidak ingin mempercayainya.
"Douzo, Olivia-san!"
Todokanai Sekai
( The world I can't reach)
"Permisi.."
Aku melangkahkan kakiku masuk. Rumahnya mewah sekali! Benar-benar kelas tinggi. Ke-kenapa aku terkagum-kagum seperti ini?! Sadarlah, Olivia!
"Duduk dulu, Olivia-san. Aku akan membuatkan minum untukmu." Rinto berjalan ke arah lain. Aku duduk di sofa dekatku. Aku mengamati isi rumah Rinto. Aku tidak bisa mengungkapkan detilnya, tapi rumahnya memang bagus. Taruhan, ia pasti anak orang kaya.
Rinto datang dengan segelas air dan meletakkannya di meja. Ia juga menaruh beberapa jajanan ringan. Uh, jajannya terlihat enak.
"Silahkan. Akan kubuatkan pancake dulu." Rinto berlalu. Aku meminum air sedikit. Kemudian mencomot satu jajannya.
Enak!
Aku tidak tau ini jajan merk apa, tapi rasa gurihnya benar-benar membuatku ketagihan. Aku terus memakannya hingga habis. Aku pun meminum air di gelas.
"Fuuaaahh!"
Aku merasa tenggorokanku sangat lega. Tak sengaja aku melihat arloji. Sudah setengah jam berlalu rupanya. Namun Rinto belum keluar dengan pancake yang dijanjikannya. Selai nanasnya benar-benar berkualitas. Berbeda dengan yang kubeli sebelumnya. Ada sesuatu yang membuat rasanya berbeda. Aku hanya bisa menunggu. Aku mencium sesuatu. Bau ini..
"Maaf menunggu lama, Olivia-san!"
Rinto membawa sesuatu di tangannya. Sebuah..kardus kecil? Dengan mika?
"Aku taruh pancake-nya disini. Biar tidak kotor." Ia menjelaskan. Rinto benar-benar seperti alien! Ia seolah tau isi fikiranku.
"Te-Terima kasih..Kagamine-san.."
"Panggil Rinto saja juga tidak apa." Ia tersenyum. Ini imajinasiku atau apa? Aku bisa melihat sinar yang amat terang darinya.
Ia menyerahkan pancake itu padaku. Aromanya benar-benar enak.
"Ka-kalau..Olivia-san mau..aku bisa membuatkannya untuk bekal di sekolah. Selama ini, Olivia-san kan selalu membantuku. Aku harus melakukan sesuatu untuk membalasnya.."
Apa?
Aku terdiam sejenak. Rinto menganggapku teman hingga sejauh itu. Bahkan ia memikirkan bagaimana cara membalas budi padaku. Sedangkan aku?
Meski ia selalu membantuku dalam pelajaran Bahasa Jepang, tak pernah sekalipun aku melakukan sesuatu untuk berterima kasih kepadanya. Aku memang rendah. Aku merasa aku tidak pantas menjadi temannya. Aku tidak lebih dari sekedar memanfaatkan dirinya. Ya ampun. Aku baru sadar jika diriku begitu rendah dari manusia manapun.
"O-Olivia-san? K-Kenapa kau menangis? A-apa aku melakukan atau mengatakan sesuatu yang buruk? A-apa gara-gara di Akiba tadi? Ma-maaf!" Rinto tampak panik sendiri.
Aku menggeleng.
"La-lalu?" Tanyanya.
Aku mengucapkan sesuatu pada Rinto.
"K-kalau mau, kau bisa ke rumahku..kedua orang tuaku..sama sepertimu."
Rinto terdiam. Aku mulai menghapus air mataku.
"Maksudmu, mereka Otaku?"
Aku mengangguk lagi.
"Itu hebat, Olivia-san! Ayo kuantar kau pulang!" Ia tampak berbinar. Rinto melesat sebentar dan kembali dengan sebuah tas besar.
"Ma-mau apa kau?" Tanyaku heran. Rinto hanya nyengir.
"Aku ingin menginap di rumahmu! Besok juga libur! Aku juga sudah membawa semua buku pelajaran!"
"K-Kagamine..lalu, bagaimana dengan orang tuamu? Kau tak ijin mereka dulu?"
Rinto menunduk. Eh? Aku gak salah bertanya, kan? Aku yakin pertanyaanku sudah memakai diksi yang tepat.
"Ah, aku bisa sms mereka nanti!" Rinto tersenyum. Aku tahu senyumnya itu palsu. Apa yang disembunyikannya?
.
.
.
.
"Tadaima." Aku membuka pintu perlahan. Rinto berdiri di sampingku. Ada yang aneh, aku tahu itu. Tapi, mungkin aku tidak perlu menanyakannya saat ini.
"Okaeri." Ayahku muncul.
".."
".."
"Olivia, siapa itu?"
".."
"Aku Kagamine Rinto! Teman sekelasnya! Yoroshiku onegaishimasu!" Rinto membungkuk.
"Lalu, kenapa temanmu kemari, Olivia?" Ayahku menatapku.
"Ia..akan menginap disini.." Kataku pelan. Namun, ayahku mendengarnya.
"APA?! MENGINAP?! LAKI-LAKI INI?! DIA PACARMU?!"
"Tousan! Mana mungkin dia pacarku! Dia itu sama sepertimu!" Elakku.
"Sama?" Ayahku memiringkan kepalanya. "Dia itu Otaku! OTAKU!" Jelasku lebih rinci. Ayahku diam. Ia memandangi Rinto dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kalau kau bisa menjawab pertanyaanku, kau boleh menginap. Ditambah kau boleh menjadi menantuku sebagai bonus."
"Tousan! Jangan gunakan aku untuk taruhanmu!" Seruku.
Ayahku membetulkan letak kacamatanya dan ada sinar di ujung prime-nya. Diantara mereka terjadi semacam kilatan listrik. Nande? Sepertinya aku kebanyakan berimajinasi akhir-akhir ini.
"Baiklah." Jawab Rinto.
Aku gak ngerti jalan pikiran laki-laki. Terserah deh.
"Revolusi Prancis! Ada seorang wanita bersuami bangsawan yang dihukum dengan pisau guillotine. Siapakah dia? Hm?"
"Marie Antoinette."
"Benar! Lalu pertanyaan selanjutnya! Di dalam edisi terbatas Game Niitendo, Minor Paradise ada di urutan pertama. Lalu, apa urutan ke 20?! Hm?!"
Shimatta. Ayahku kumat. Rinto bisa menjawabnya tidak, ya?
"Dobu-dobu ningen."
"Shimatta! Kau benar! Baiklah! Satu terakhir! Jika kau bisa menjawabnya aku akan memenuhi janjiku tadi."
"Baiklah!" Mata Rinto tampak berkobar. Seseorang, tolong selamatkan aku dari taruhan bodoh ini.
"Desember 20XX , Manga Chuu-Daisuki, Sensei! diluncurkan. Jam berapakah, lengkap dengan stan, menit dan detik, manga tersebut dijual di komiket!"
"Kagamine! Kau tidak perlu menjawabnya!" Seruku.
Rinto diam sejenak. Apa ia sedang berpikir, ya?
"Stan ke 210 di lantai 5 gedung XXX jam 10 menit ke 53 dan detik ke 12." Jawab Rinto.
"Be..benar.."
Hening sesaat. Apaan atmosfer sialan ini?!
"Kau diterima jadi menantuku! Oya! Kau boleh menginap!"
"Te-Terima kasih, tuan!"
"Panggil aku tousan!"
"Baik, Tousan!"
Mereka mengadu tangan mereka.
Firasatku mulai buruk.
"Wah, Olivia sudah punya pacar!" Canda ibuku saat kami berada di meja makan. Rinto juga ikut.
"Benar, sayang! Ia juga seorang Otaku! Olivia akan bahagia!" Ayahku menangis. "Sudahlah." Ibuku menenangkannya.
"Kaasan! Tousan!"
"Olivia, kau malu-malu!"
"Tousan!"
"Olivia! Baru kali ini kau membawa seseorang kemari, cowok lagi. Pantas saja Tousan berfikir begitu." Ujar Kaasan.
"Kaasan!" Aku berdiri dari kursi dan menggebrak meja.
"Tenanglah, Olivia-san." Rinto menyentuh bahuku. Ia kemudian menarik pelan tanganku agar aku duduk kembali. Aku kembali ke posisi semula. Eh? Nande? Kenapa aku..?!
"Rinto-kun, hebat sekali kau bisa menenangkannya. Biasanya kalau sudah begitu, Olivia akan menghancurkan meja makan." Ujar ibuku. "Ajaib..inikah kekuatan cinta?!" Ayahku mulai lagi.
"Kaasan! Tousan!"
"Olivia-san! Kenapa kita tidak makan pancake saja? Masih ada, kan?" Usul Rinto. Aku berdiri dan berjalan mengambil pancake buatan Rinto tadi.
Aku kembali ke meja makan dan meletakkan pancake buatan Rinto di atas meja.
"Buatanmu?" Kaasan menatap Rinto. Rinto hanya memberi senyuman sebagai jawaban. "Mari kita coba!"
Dan malam hari itu berakhir dengan Pancake Rinto.
Hari minggu
Aku membuka mataku saat kurasakan kehangatan cahaya matahari menyinariku. Aku membuka mata, lemah. Jarum jam beker berada di angka sembilan . Siang. Memang jika minggu bangunku siang. Lumayan lah, istirahat.
Kusibakkan selimutku dan berdiri dari ranjang. Mataku lengket sekali rasanya. Aku jadi ingin cuci muka. Aku turun ke bawah menuju kamar mandi. Saat melewati ruang keluarga, aku melihat Rinto. Ia mengutak-atik ponsel miliknya. Kudengar, Otaku tak pernah jauh dari yang namanya gadget. Sepertinya itu benar. Aku hendak melangkah, namun, suara Rinto membuatku terhenti.
"Tousan ... Kemarin aku menginap di rumah teman..maaf tak mengabarimu kemarin.."
Ternyata dia anak baik. Hm, mungkin akan kuubah sedikit pemikiranku. Ingat loh, ya.. sedikit.
"Rinto? Oh? Temanmu? Baguslah! Maaf ya, Tousan sibuk! Sampaikan salamku untuk temanmu!"
Klik.
Rinto mengakhiri panggilan. Aku melihat raut sedih dari wajahnya. Tidak seperti Rinto yang biasanya. Rinto menoleh seolah menyadari keberadaanku. Ia tersenyum.
Aku tahu itu palsu.
"Ah, Olivia-san..maaf mengganggumu..suaraku pasti membangunkanmu ya.."
Senyum itu lagi.
Aku tidak suka melihat senyum palsunya. Bukankah kalian juga berfikir demikian? Apa kau tahan dengan orang yang memasang senyum palsu di depanmu?
"Kagamine-san.. kau, tidak perlu tersenyum seperti itu.."
Rinto tampak terkejut. Ia memandangku dengan tatapan yang aneh.
"Olivia, ayo sarapan! Ah, Rinto-kun juga, ya!"
Kaasan tiba-tiba saja muncul. Aku langsung pergi dari sana. Aku muak dengan sikap Rinto. Atau jangan-jangan, selama ini dia hanya berakting? Dia selalu terlihat bahagia padahal sebenarnya tidak.
"Olivia.."
Aku melewatkan sarapanku setelah cuci muka. Aku memilih berjalan-jalan di luar. Aku tidak mau melihat Rinto seperti itu. Aku menuju taman dekat rumahku. Suasananya sangat sejuk dan nyaman. Ada ayunan, jungkat-jungkit, juga beberapa bangku taman. Aku memutuskan duduk di ayunan. Aku mengayunkan kakiku dan menggerakkan ayunan perlahan. Suara deritan dari besi terdengar cukup keras. Aku melihat bayangan diriku dibawah. Aku jadi memikirkan sesuatu. Ayah dan Ibuku. Waktu pertama kali ke Oita, taman kecil inilah yang ditunjukkannya padaku. Katanya ini tempat penuh kenangan bagi merekaーbercerita bahwa pertemuan mereka berawal dari sini. Mengenang masa muda. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku menyukai tempat ini. Tak ada alasan khusus.
"Nee, Olivia? Kau tahu? Kami bertemu disini lalu menikah!"
Satu pembicaraan kecil sebulan lalu. Tousan mengatakan hal seperti itu. Aku masih ingat, Kaasan membalasnya.
"Olivia, ini tempat bersejarah bagi kami."
Yah, kedua orang tuaku memang saling melengkapi.
"Olivia-san?"
Aku mendongak. Melihat sepasang mata azure miliknya. Ia hanya menggaruk kepalanya dan berkata..
"Gomen."
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Rinto duduk di ayunan sebelahku.
"Kau takkan mau memaafkanku?"
"Kau menyebalkan."
"Maaf, ya..yah, sebenarnya ini tidak begitu penting, tapi..aku akan menceritakannya padamu, karena kita teman.."
Rinto mulai bercerita. Kedua orang tuanya sudah tiada karena kecelakaan. Orang yang dipanggilnya Tousan di percakapan telepon bukanlah ayah kandungnya. Dia adalah teman dari kedua orang tua Rinto. Saat kedua orang tuanya sudah tiada, teman mereka mengasuhnya. Tentu saja, Rinto mengikuti marga teman kedua orang tuanya itu-Kagamine.
Aku tercengang. Aku sudah salah paham tentang dirinya. Aku salah tentang dirinya.
"Maaf, Rinto."
"Itu tidak penting lagi. Aku tahu, dia bekerja keras untuk memberikan semuanya untukku..tapi..itu tetap tidak sama rasanya ..." Rinto menunduk. Mengayunkan besi tua itu lebih kencang dari sebelumnya.
"Lalu..kenapa kau jadi Otaku?" Tanyaku spontan. Rinto berhenti.
"Kenapa? Untuk menghabiskan waktuku. Aku selalu sendirian di rumah besar itu. Aku selalu dijauhi karena hobiku. Aku bersyukur bertemu denganmu, Olivia-san."
Tanganku terasa bergetar. Kugigit pelan bibir bawahku.
"Kau beruntung masih punya orang tua..mereka baik sekali.."
Pipiku terasa basah.
"Gomen, Rinto.."
.
.
.
.
Tsuzuku
Panda Channel. .
Ah, apa ini? Kenapa Panda ikut menangis saat mengetiknya? Kaasan, Tousan, maafkan anakmu yang selalu berlaku buruk ini u_u
