Angel or Demond?
Author : Dragneel Sedeeng
Disclaimer : Saya cuman Author baru yang berani-beraninya minjem karakter milik Masashi Kishimoto-Sensei
OOC, banyak typo tapi jangan di judge :'(
Genre : Family, Mistery (maybe)
Rate aman dibaca kok ( T K K+ ) yang penting gak nyampe M
Pair : [NaruHina] Neji Hyuuga
Chapter 2
"Hoaaahhhmmmmm," dengan tidak elitnya Hinata menguap lebar, menopang dagu dengan tangan kanannya. Tangan kirinya sibuk mengorek telinga kirinya yang gatal. Dia sengaja menghabiskan waktu istirahat di dalam kelas, mengingat kejadian tadi pagi yang membuat seluruh murid Konoha-High School gempar. Sungguh dia benar-benar tidak mau menjadi pusat perhatian saat Ia menghabiskan waktu istirahat di luar, karena...
" Semuanya membicarakanmu,Hinata. Aku yakin sebentar lagi Neji akan datang dan_"
" Ck. Aku tahu, Ten ten. Itu sebabnya aku disini." potong Hinata pada Ten ten yang daritadi menemaninya.
" Menunggu omelan Neji?" Ten ten menginterupsi, membuat gadis bersurai indigo itu mengerutkan keningnya.
"Eh.. bukan, maksudku...Oh ayolah Ten ten! Aku hanya tidak ingin semua orang memandangiku! " kilah Hinata, menciptakan nada tinggi di akhir kalimat.
Melihat Hinata yang sudah terlihat frustasi, gadis bercepol dua itu segera merogoh isi ranselnya dan menyodorkan sesuatu dengan santai, "Terimalah."
Mata Hinata melotot lebar meneliti benda di genggaman Ten ten. Benda keparat yang pernah membuat Hinata tidak sadarkan diri 24 jam beberapa bulan lalu.. benda kecil yang...
JDUUUAAKK
Tanpa ragu Hinata memukul kepala Ten ten yang dirasanya memang kurang waras itu, " Baka! Kenapa kau malah memberiku obat tidur!"
Kepala Ten ten berdenyut keras, merasakan pukulan maut Hinata yang memang sudah terlalu sering diterima gadis bercepol dua itu. Meski begitu, Ten ten tidak pernah protes dengan tindakan Hinata kepadanya. Aneh memang, bahkan wajah Ten ten biasa saja dan terkesan datar ; tanpa ekspresi. Oh tidak.. memang dari awal Ten ten berwajah seperti itu kan?
Brakkk
Pintu kelas terbuka kasar menampilkan sosok pemuda dengan seragam yang entah kenapa terlihat sedikit kucel. Hinata terjingkat sesaat, kemudian mendengus ; mengetahui sang pelaku yang baru saja membuatnya kaget, " Pirang.." gumam Hinata tanpa sadar. Lagi.
Jujur saja Hinata sedikit lega mengetahui bahwa yang menggebrak pintu bukan Kakaknya, melainkan seorang laki-laki pirang yang baru dijumpainya pagi tadi. Ah tunggu! Hinata mengerjapkan matanya, menyadari bahwa tidak hanya Naruto yang berjalan mendekatinya tetapi juga ada Shion dan Sakura serta seorang lagi yang belum diketahui namanya oleh Hinata. Hei! Bahkan semua murid terlihat bergerombol dan ikut masuk!
" Aku akan memanggil Neji." ucap Ten ten sigap, melangkah meninggalkan Hinata ; tentu saja dengan ekspresi datar. Namun dengan cepat Hyuuga bungsu itu menarik kerah baju Ten ten dari belakang yang reflek membuatnya berhenti dan menatap Hinata yang malah melototinya.
" Tetap disini dan diam." Hinata membisik, penuh penekanan. Sesuatu terlintas di benak Hinata jika saja Ia tidak berhasil menarik Ten ten. Tentu saja, Hinata tidak mau jika Kakaknya ikut campur disini.
Shion yang melihat adegan itu menyeringai bangga, berfikir bahwa Hinata sedang ketakutan. Satu lagi imajinasi Shion : membayangkan enemy-nya itu menjilat sepatunya dan disaksikan banyak Siswa. Menyadari akan hal itu Hinata balas menyeringai, " Kelihatannya ' pecundang' membawa pasukan." sindirnya, cukup membuat emosi Shion tersulut.
" Dan salah satu pasukannya akan memakanmu." bisik Naruto di telinga Hinata, membuatnya merinding karena daun telinganya bersentuhan langsung dengan bibir pemuda jabrik itu.
"Si..sialan!" cerca Hinata sekenanya. Lidahnya terasa kelu menatap manik shapire yang sudah begitu dekat dengannya. Jantungnya berdesir, merasakan kulit tan itu menggenggam erat pergelangan tangannya. Hei Hinata, kenapa hanya mulutmu yang mencercanya sedangkan tubuhmu tidak?
Sratt
Naruto menarik kasar dasi Hinata hingga kancing seragamnya ikut terlepas memperlihatkan sebagian dari 'tubuhnya' yang terekspos. Hinata mengerjap cepat, berusaha memproses apa yang baru saja terjadi. Manik lavendernya terbuka lebar, menyadari apa yang sedang dilakukan pemuda di hadapannya. Tangan kirinya saat ini sibuk menutupi bagian atas dadanya, sedangkan sebelah kanan sibuk melepaskan cengkraman dari tangan Naruto.
Melihat keadaan Hinata yang sedikit bugil itu membuat wajah para Siswa Laki-laki yang menontonnya memanas.
"Bagus Naruto!" teriak Sakura yang saat ini sudah merekam kejadian itu dengan kamera ponselnya.
"Heh. Buat video yang bagus, jidat lebar." kali ini Shion mengoceh dengan bangganya. Ia berdiri tepat di depan Hinata sembari bersidekap, berlagak layaknya seorang putri yang menghakimi rakyat pengkhianat.
Sattss
Naruto mendorong tubuh Hinata ke lantai, membuat tubuh molek itu bersentuhan dengannya. Kedua tangan Hinata di kunci pergerakannya, " Lepas, Brengsek!" Hinata meronta hebat. Air matanya menggenang di pelupuk mata. Namun itu tidak membuat Naruto berhenti.
"Ada apa Hyuuga?" bisik Naruto, membuat Hinata merinding. Lagi. Wajah Naruto sudah sangat dekat, hampir mengeliminasi jarak antara keduanya.
" Ten ten.." satu kata yang bisa di ucapkan Hinata, satu-satunya yang bisa menyelamatkannya dari Pria mesum yang menindihnya saat ini. Ditatapnya Ten ten yang hanya berdiam diri melihatnya dengan wajah datar itu.
Mengerti akan maksud Hinata, Ten ten akhirnya membuka suara, " Lakukanlah. Bukankah kau ingin sekali merasakan rasanya berciuman?"
Bingo
Satu kalimat polos Ten ten membuat semua orang terdiam : menahan tawa. Naruto semakin menyeringai.
Wajah Hinata semakin memerah, " Sialan kau, Ten ten!" lagi, Hinata hanya bisa mengumpat. Degup jantungnya semakin tak beraturan disaat deru dafas Naruto menerpa wajahnya. Hinata ingin sekali menerjang orang yang menindihnya itu lalu mengikatnya dengan tali dan menyumpal mulutnya dengan kotoran burung. Namun di lain sisi, ada sesuatu yang bergejolak ; melawan pikirannya itu. Oh tidak! Setelah ini kau harus meminta Neji untuk membawamu ke Psikiater, Hinata.
Srett
Seseorang menarik kasar kerah seragam Naruto dari belakang, menyeretnya menjauh dari Hinata.
" Apa yang kau lakukan," ucapnya, memandang dingin pemuda yang diketahui sebagai 'pacar ' dari Shion itu. Tangan kanannya mengepal erat hingga jemari kukunya memutih; pucat.
" Terhadap adikku?" lanjutnya seiring tangannya memukul pipi kanan Naruto hingga terpelanting ke belakang.
Pandangan para Siswa kini terpusat pada dua orang itu, memberi kesempatan Hinata membenarkan kancing bajunya dan berdiri, " Kak Neji!" seru Hinata mengahampiri Hyuuga sulung.
" Keh. Ternyata kau bisa bicara juga, Neji." Naruto mengusap pipi kanannya, mendengus geli namun terkesan mengejek.
" Kau tidak apa-apa, Naruto?" kali ini Shion menghampiri Naruto, membantunya berdiri.
Bola mata Hinata memutar bosan melihat pertunjukan drama si 'Dua Orang Pirang'. Oke, begitu kira-kira judul yang terputar di kepala Hinata begitu melihat Naruto dan Shion. Ia mendengus sesaat, hingga suatu ide terbesit di kepalanya. Tanpa sadar bibirnya menyeringai kecil.
" Hinata?" ucap Neji yang menyadari sikap aneh sang adik. Tangannya mengusap lembut kepala Hinata, mengisyaratkan kekhawatiran. Matanya berusaha menelusuri manik violet sang Adik yang saat ini menunduk dalam.
Tes
Hinata memperlihatkan air matanya kepada Neji, membuatnya mendelik kaget. Menangis! Adik tersayangnya menangis di depannya, membuat syaraf otak Neji berhenti sesaat. Ia lupa bagaimana cara bernafas.
" Hei.. ja.. jangan me..nangis." suara Neji terdengar terisak. Oh tidak, sebenarnya siapa sebenarnya yang menangis disini?
" Kak Neji," Hinata membuka suara, masih dengan air mata yang keluar. Ia menggigit bibir bawahnya, menggenggam erat lengan Neji.
" Dia sudah menodaiku ~ !" menunjuk Naruto, Hinata menangis semakin keras.
" Eh..?" satu kata yang bisa di ucapkan si pemilik rambut jabrik itu hingga mengernyitkan alisnya. Sungguh Ia belum melakukan apapun kepada Hinata. Ia hanya melepas kancing seragam Hinata saja, tidak lebih. Itu bukan termasuk 'menodai' ,pikirnya.
" Dia membuka kancing bajuku dengan kasar! "
Jleb
" Menindihku di lantai,"
Jleb Jleb
" Dan.." kali ini kalimat Hinata tertahan, terlihat ragu akan kalimat selanjutnya. Mendengar perkataan Hinata, Neji terus menatap lurus Hinata ; menunggu kalimat yang akan di lontarkan Adik tersayangnya itu.
" Dan menciumku dengan paksa~!"
Jduuaarrr
Kalimat terakhir Hinata menghantam jantung Neji, membuatnya mematung seketika. Wajah putihnya semakin terlihat putih: pucat.
" Hei! Akun belum sempat melakukan itu!" protes Naruto. Tentu saja. Meskipun Ia mesum, Ia tidak rela jika dirinya di tuduh melakukan perbuatan yang memang tidak Ia lakukan.
" Gadis gila." decak Shion pelan. Matanya menangkap bibir Hinata yang memandangnya dengan seringai kecil ; mengisyaratkan bahwa perbuatan Shion bukan apa-apa bagi Hinata.
" Bohong! Kak Neji~~ Aku sudah tidak bisa menikah lagi~~ Huuuuuwwwweeeeee~ " teriak Hinata dan berlari keluar kelas; menerobos para siswa yang menyaksikannya.
" Hei Shion! Kenapa kau tidak membelaku! Aku belum melakukan apa-apa!" teriak Naruto Histeris, membutuhkan pembelaan.
Shion berdecak. Diikuti Sakura dan Ino, gadis pirang itu meninggalkan Naruto.
" Hei kalian! Aku belum melakukan apa-apa kepada_"
" Tutup mulut busukmu itu, bajingan." Neji Hyuuga memotong kalimat Naruto yang dirasanya belum selesai. Tangannya mengepal erat,
Bukkk
Lagi. Naruto terkena bogeman maut si Hyuuga hingga mengeluarkan darah. Menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya Naruto menyeringai, " Menarik." ucapnya, berdiri menatap Neji.
.
.
.
Semilir angin menerpa lembut paras cantik Hinata, membuat gadis bermata lavender itu mengerjap pelan. Ia duduk bersandar seorang diri di pohon rindang belakang Sekolah.
" Cara murahan." gumamnya.
Ia terkekeh pelan, merasa menang dari Shion sekali lagi. 'Skor Dua-Kosong' tengah berputar di kepalanya, membuat kepuasan tersendiri di batin Hinata. Sudut bibirnya tertarik ke atas mengingat ekspresi kekalahan sang musuh. 'bodoh', batinnya mencela Shion.
Selang beberapa detik ekspresinya berubah. Panas. Wajahnya memanas mengingat tindakan pemuda jabrik yang menurutnya ekstrim itu. Detak jantungnya berubah tak beraturan; semakin cepat. Gambaran pemuda pirang tersebut terus berputar di kepala Hinata: mata birunya yang indah, hidungnya yang mancung, rambut yang secerah Mentari, kulit tan'nya, tangan kekarnya, aromanya, dan terutama wajahnya yang...
" Tampan..." gumam Hinata. Jemari lentik itu memegang pelan dadanya, merasakan detak jantung yang dianggapnya sudah tak normal itu.
Terasa ada yang salah dengan hati dan fikirannya Hinata menggelengkan kepala cepat, menyisihkan fikiran-fikiran aneh yang entah datang darimana. Hinata sadar bahwa pemuda jabrik itu adalah kekasih enemy'nya: Shion.
"Sialan..." umpatnya pelan. Ia merasa bahwa dirinya saat ini kalah secara tidak langsung dari Shion. Dahinya mengernyit. Mengambil nafas sesaat, kemudian mendengus lagi. Hei! Ada apa dengan isi kepalamu saat ini, Hinata?
"Ekspresimu menjijikkan."
Hinata menoleh ke sumber suara yang memang sudah dikenalnya. Ia terkejut mendapati Shion tengah bersandar di balik pohon yang sama dengannya. Gadis lavender itu mengusap kasar wajahnya sendiri; menghilangkan ekspresi terkejutnya seolah bersikap biasa-biasa saja.
" Ck. Mau apa lagi kau, pecundang." Hinata menghampiri Shion.
Kalimat itu berhasil membuat Shion bertambah marah. Matanya melotot tajam pada Hinata. tak mau kalah, Hinata juga ikut melotot.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Mereka masih bertahan pada posisi dan kondisi masing-masing. Hingga suara lonceng Sekolah berbunyi; menandakan istirahat telah berakhir. Tetap saja tidak ada yang mau mengalah untuk menyudahi pertengkaran kekanak-kanakan tersebut.
Plok
Sesuatu terjatuh dari atas pohon, membuat keduanya menoleh secara reflek.
" Anak burung.." gumam Shion. Kakinya melangkah menghampiri burung malang itu dan..
Terlambat.
Hinata sudah mendahuluinya. Tatapannya sendu. Diraihnya anak burung itu perlahan," Aku akan menolongmu." ucapnya.
Shion hanya terdiam mengamati. Selang beberapa saat matanya terbuka lebar mengetahui bahwa apa yang dipikirkannya itu salah.
"Apa yang kau lakukan, jalang!" melihat Hinata memukul anak burung dengan batu yang lumayan besar itu membuat Shion histeris. Anak burung itu mencicit dengan keras lalu berhenti seketika. Mati. Anak burung itu mati. Setidaknya hanya itu yang ada di pikiran Shion saat ini.
"Akan lebih baik jika anak burung itu mati kan." jawab Hinata santai, berlalu meninggalkan Shion.
"Kau benar-benar gila!" Shion masih tak terima.
Hinata mendengus kesal dan berbalik menghadap Shion, "Setidaknya anak burung itu tidak sekarat terlalu lama. Hanya akan menyakitkan saja." ucapnya kemudian benar-benar meninggalkan Shion yang hanya terdiam, menelaah kalimat Hinata.
.
.
.
Nafas Hyuuga sulung tersengal, membiarkan tubuhnya terlentang di atas rumput hijau yang berderet rapi. Tangannya berulang kali menyeka keringat yang bercucuran di pelipisnya. Sesak. Nafasnya sesak setelah Ia berlari dua puluh kali putaran di lapangan. Seragamnya basah dipenuhi keringatnya sendiri, membuatnya sedikit tidak nyaman.
Benar saja, Neji mendapatkan hukuman akibat perkelahiannya dengan Naruto sewaktu jam istirahat tadi. Membuatnya berakhir disini: Lapangan Sekolah; seorang diri. Jangan tanya dimana Naruto. Tentu saja Ia terhindar dari hukuman karena bantuan Shion yang memang mendapat kedudukan spesial di Sekolahnya.
" Minumlah."
Neji membuka matanya mendengar suara lembut yang sangat dikenalnya. Maniknya menangkap sebuah botol berisi air mineral yang disodorkan Gadis itu kepadanya.
"Seharusnya kau ada di kelas, Hinata." beranjak duduk, Neji mengomel dan membiarkan tangan Hinata memegang botol minuman lebih lama.
Menunggu Neji yang tak kunjung menerima minumannya membuat Hinata membuka tutup botol tersebut, " Aku malas berada di kelas." jawabnya.
" Dasar anak nakal, kau tidak boleh mem_hmmppp,"
Hinata menyumpal mulut Neji dengan ujung botol, memaksa Neji meminum habis air mineral itu. Neji hanya bisa gelagapan dibuatnya.
Sats
Neji berhasil mengambil alih botol minuman dari genggaman Hinata. Dilanjutkan dengan tangannya yang kini sibuk mengusap sekitar bibirnya yang basah: terkena air yang keluar dari mulutnya. Detik selanjutnya ia menepuk kasar dadanya sendiri; tersedak. Hinata hanya bisa tersenyum geli melihat ekspresi langka yang ditunjukkan saudaranya. Menurutnya ekspresi Neji cukup lucu untuk seorang Pria yang biasa bersikap tenang.
" Kesini kau, anak nakal." Neji merasa kesal dengan sikap Hinata yang dianggapnya kekanakan.
Hyuuga sulung itu mengepalkan tangannya ke arah si Bungsu. Membuat Hinata semakin tersenyum lebar dan menjulurkan lidahnya: mengejek. Detik selanjutnya Neji mengambil nafas panjang dan ikut tersenyum. Ia mengingat Hinata kecil yang dulu selalu menangis kini menjadi seorang Gadis tangguh. Hinata kecil yang manis...
"Mereka mungkin masih mencari kalian."
Deg
Sekilas ingatan terlintas di kepala Neji, membuatnya terjingkat sesaat.
"..."
" Mulai besok kita akan pindah. " ucap Neji secara tiba-tiba. Ekspresinya terlihat serius kali ini.
"Pindah..lagi? " Hinata menautkan kedua alisnya, pertanda tak terima dengan alasan sang Kakak.
" Hm."
Jawaban singkat Neji sukses membuat Hinata meremas erat rok seragamnya hingga kusut, " Kenapa?" tuntutnya. Nafasnya terasa tercekat, seolah ada sebuah tali yang mengikat paru-parunya dari dalam.
" Padahal Paman bilang.. 'orang itu' ada disini." lanjut Hinata. Nada bicaranya menyiratkan sebuah kebencian.
" Sudahlah Hinata, lupakan tujuan_"
" Tidak." Potong Hinata.
"Hinata, dengarlah. Aku tidak akan selalu bisa menjagamu.." lagi, Neji tak mau kalah dengan perdebatan yang dianggap serius bagi keduanya. Matanya menatap tegas manik Hinata, berharap Hinata menuruti perkatannya. Hanya kali ini saja. Sungguh, hanya kali ini saja.
"Aku bisa melindungi diriku sendiri!" nada bicara gadis lavender itu meninggi. Tangannya mencengkeram erat kerah seragam sang Kakak. Sorot matanya memperlihatkan kesungguhan; berkilat penuh ambisi.
"Hinata.." gumam Neji. Kali ini lidahnya terasa kaku untuk digerakkan. Hatinya tersayat melihat kebencian yang tertanam di mata Hinata. Kebencian yang menurutnya sudah tidak bisa dihapus dengan cahaya sekalipun.
"Aku.. aku hanya ingin bertanya padanya.. hanya itu.." lagi, Hinata tetap bersikukuh dengan pendapatnya sendiri. Genggamannya semakin melemah, bersamaan dengan air mata yang sudah mengalir di pipi mulusnya. Membuat batin Neji mencelos, menuruti kemauan sang adik.
"Pasti... Kita akan bertemu dengannya.. memastikannya.. dan setelah itu_"
" Membunuhnya. Jika memang Dia, Aku akan membunuhnya." sahut Hinata di sela isakannya.
.
.
.
To Be Continued
Hidden Chapter
Part 1
Di atap gedung Sekolah, terlihat Sakura yang sibuk mengotak-atik ponselnya dengan antusias.
"Seharusnya video tadi tersimpan disini." ujarnya fokus mengamati layar ponsel. Diliriknya Ino yang sedari tadi hanya tiduran disebelahnya. Benar juga. Sakura baru menyadari ada yang salah dengan Ino hari ini.
"Hei Pig ! sepertinya tadi aku lupa memencet tombol 'rekam' di ponselku!" teriak Sakura histeris. Ia tidak bisa membayangkan jika Shion memarahinya karena video untuk 'mempermalukan Hinata' tidak terekam alias gagal.
"Ghhhzzzz..." Ino hanya berdesis menjawabnya. Ekspresinya terlihat kesal.
Merasa diremehkan, Sakura mendelik hebat ke arah ino.
"Hei Pig ! bantu aku! Kau tuli ya?! " suara Sakura melengking hebat.
"Ghhhzzzz... Kau..berisik sekali..Ghhhzzzz..jidat lebar!"
Sakura semakin mendelik mendengar kalimat pedas Ino.
"Tentu saja! Kau hanya diam daritadi! Dan lagi, kenapa dengan gaya bicaramu kali ini, heh!" ujar Sakura tak terima.
" Ghhzzzzz... Aku..Ghhhzzz... sedang sakit gigi, Bodoh!"
.
.
Hidden Chapter Part 1 * END *
Thanks atas review, follow dan faforite'nya
Maaf gak bisa bales review,karena jadwal padet (sok sibuk) :D
BTW ini cerita di lanjut apa kagak ya...kok... ah sudahlah ..
mohon dukungannya T.T
Dragneel Sedeeng
