Sebelumnya saya ucapkan trimakasih banyak untuk teman2 yang udah kasih review, fav, dan follow marks dichap pertama kemarin, vikaKyura, flowerara, tamiino, blonde8, ryuui momochi, dan hana Yamanaka, dan yang gak login dana (maaf) saya lupa nama2nya. Review kalian menjadi motivasi tersendiri untuk saya meneruskan fict ini secepat yang saya bisa.^^
Fict ini saya bersembahkan teruntuk semua Ino centric yang ada difandom Naruto, hanya harapan semoga berkenan dari para reader sekalian.
EMPTY ENVY ©Shiroe_Ino
Naruto ©Masashi kishimoto
Pairing : Ino, Sasuke, Gaara, etc.
Warning : Little OOC maybe, typo, DLDR, fict for fun don't be 'BAPER' ;)
.
.
.
.
.
"Ck...ini akan sangat membosankan" Ino merebahkan kembali diranjang UKS setelah guru jaga yang betugas di UKS bilang akan pulang lebih awal dan memastikan Ino baik-baik saja.
Setelah mengingat kembali kejadian yang terjadi sebelum dia tertidur dan berakhir sampai diruang UKS Ino memikirkan kembali alasan kenapa dia sangat membenci Sasuke, padahal kalau diingat-ingat Sasuke tak seburuk yang dia pikirkan, sejauh ini Sasuke tak pernah melakukan sesuatu yang jahat , hanya kata-katanya yang kadang menusuk tapi itupun karena ulah dirinya sendiri, entahlah untuk apa juga dia memikirkannya kalau yang jelas dia membencinya.
Mungkin Ino tak benar-benar membenci Sasuke, mungkin dia hanya iri pada Sasuke atau kesal pada orang-orang yang memuji-muji Sasuke tapi tak mampu menunjukkan apa yang dirasakannya dengan benar, itulah sebabnya dia tak pernah bisa menjelaskan alasan yang masuk akal bahkan pada dirinya sendiri, jadi yang dia lakukan hanya mencari-cari kesalahan Sasuke atau menganggap apapun yang berhubungan dengan Sasuke adalah hal yang salah. Bahkan pikiran jernih Ino tak mampu lagi memberinya jawaban yang jelas, batinnya frustasi.
Di tengah renungannya tentang alasannya membenci Sasuke tiba-tiba Ino teringat tentang Gaara, si anak baru yang bermata panda dan menyebalkan, mungkin lebih menyebalkan dari Sasuke pikirnya. Entah akan seperti apa hari-harinya disekolah setelah ini, sepertinya dia harus menenggelamkan dirinya lebih dalam lagi dari pergaulan dikelas.
"Haaaahh" Ino mendesah panjang.
"Kenapa?" Suara Shikmaru mengagetkannya hingga membuatnya hampir terjatuh dari ranjang.
"Astaga... Shikamaruuu...bisakah kau tidak mengagetkan orang seperti itu, kau bisa membuatku mati karna serangan jantung kau tahu?" Sungut Ino begitu dia bisa mengatasi kekagetannya.
"Jangan berlebihan, kau sendiri yang melamun sampai tidak melihatku masuk" balas Shikamaru enteng.
"Kenapa kau ke sini?"
"Dasar bodoh, tentu saja menjemputmu pulang, ayo cepat!" Jawab Shikamaru malas seperti biasa. Namun tampaknya Ino masih tak mengerti, dia malah memandangi Shikamaru yang sedang membenarkan letak tasnya asal kepundaknya, heran bagaimana Shikamaru tahu dia disini dan bukankah jam pulang sekolah belum berbunyi?
"Ck...mendokusai cepatlah jangan melamun terus"
"Memangnya bel pulang sudah berbunyi Shika?"
"Hhhh, kau kebanyakan melamun sampai tak mendengar bel pulang"
"Begitu ya...hehe..." Ino hanya bisa menunjukkan cengirannya.
Ino dan Shikamaru lantas bergegas keluar dari ruang UKS setelah sepakat untuk bertemu digerbang sekolah setelah Ino mengambil tasnya yang masih tertinggal di kelas, sedangkan Shikamaru sendiri langsung menuju kearah parkiran sepeda untuk mengambil sepedanya.
Para siswa sudah banyak yang pulang setelah selesai membersihkan kelasnya masing-masing, meski masih banyak siswa siswi yang berkeliaran diarea sekolah untuk mengikuti kegiatan klub namun suasana sudah tak seramai sebelumnya. Ino memasuki kelasnya yang sudah lengang, tanpa berniat menghiraukan teman sekelasnya yang masih ada disana Ino segera mengambil tasnya namun saat hendak berbalik untuk keluar menyusul Shikamaru yang menunggunya digerbang sekolah sebuah suara memaksanya berhenti dan menoleh kearah sumber suara tersebut.
"Wah wah, tuan putri masih marah ya?" Pemuda berambut merah itu bertanya dengan senyum mengejek yang membuat Ino merasa terganggu, apa-apaan sebutan itu batinnya tak suka, oh mungkin dia masih tersinggung dengan sikapnya tadi.
"Cih, dasar pendendam" celetuk Ino reflek namun pelan sebelum dia kembali menghadap ke arah pemuda itu.
"Kau bilang apa?" Tanya Gaara yang merasa terganggu dengan celetukan pelan Ino yg masih bisa didengarnya, masih dengan ekspresi datar yang tercetak diwajahnya dia melangkah menghampiri Ino berniat memberi sedikit pelajaran perkenalan pada gadis yang telah berani mengacuhkan bahkan mempermalukannya didepan kelas dihari pertamanya masuk disekolah barunya ini. Tapi Ino yang pikirannya sedang tidak fokus sama sekali tak mempedulikan sinyal peringatan yang sedang dikirimkan Gaara lewat tatapan tajamnya.
"Tidak ada, hanya saja aku bertanya-tanya siapa yang barusan kau panggil tuan putri karna aku tak melihat siswi perempuan disini selain aku sendiri" Jawab Ino sok polos sambil mengedarkan pandangannya pada pada seisi kelas yang masih menyisakan dua orang selain Gaara yaitu Naruto dan Kiba.
"Oi Ino, kau dari mana saja tadi?" Naruto bertanya sebelum kemudian mendekat ke arah mereka berdua, Ino tersenyum memberi tanggapan pada Naruto.
"Hanya ke UKS, tiba-tiba tadi aku merasa lelah dan ingin tidur itu saja, apakah tadi ada PR?"
"Tidak ada, hanya Iruka sensei tadi menyuruh kita membaca bab 20 sampai 23 dirumah dan menanyakan bagian yang tidak kita pahami itu saja" terang Naruto, Ino hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Lalu kenapa belum pulang, apa kau ada kegiatan klub?" Tanya Ino kemudian, mencoba mengacuhkan Gaara yang masih ada dihadapannya.
"Oh iya, Ino kemarilah aku mau menunjukkan hasil permainan duetku dengan kiba" Naruto lantas menarik Ino ke tempatnya bermain dengan Kiba.
"Kiba Kiba...ayo tunjukkan pada Ino chan hasilnya" Naruto menepuk-nepuk bahu Kiba setelah dia sendiri mengambil ponselnya yang tadi diletakkan dimeja.
"Sebentar aku pause dulu gameku... nah ini dia" Kiba dan Naruto lantas menunjukkan pencapaian game yang berhasil mereka mainkan bersama.
"Wah sugoooii...kalian bisa mendapatkan armor yang langka itu, besok kalian harus ganti berduet denganku, aku juga mau mendapatkan armor itu" pekik Ino girang, dan sukses mengacuhkan Gaara yg masih berdiri ditempatnya seperti orang bodoh.
Tidak bisa dibiarkan, Gaara tidak suka diacuhkan karna dia memang tidak pernah diacuhkan apalagi oleh objek bersenang-senangnya sendiri, gadis Ini benar-benar kurang ajar dia harus merubah situasi ini.
"Naruto, Kiba!" Seru Gaara memanggil dua teman barunya itu yang sukses membuat mereka menoleh kearahnya.
"Eh, kau masih disini ya?" Gaara menggeram tertahan mendengar ucapan itu yang dibalas dengan seringai mengejek oleh Ino, namun belum sempat Gaara membalasnya Ino sudah bediri mendadak sambil berteriak kaget dan menepuk jidatnya.
"Astaga...aku lupa, Shikamaru!"
"Ada apa, kenapa dengan Shikamaru?" Tanya Naruto dan Kiba serempak.
"Dia menungguku digerbang, sudah ya aku pulang dulu jangan lupa nanti kabari aku kalau kalian sudah online, jaa..." Ino segera menyambar tasnya dan berlari melewati Gaara begitu saja, tapi sesaat setelah dia keluar kepalanya tiba-tiba menyembul dari balik pintu untuk mengatakan sesuatu.
"Hei Sabaku, salam kenal" Ino tersenyum manis sebelum kemudian menjulurkan lidahnya pada Gaara.
"Weeekk..."
Naruto dan Kiba yang melihat adegan itu saling berpandangan lalu tertawa terbahak-bahak, Gaara yang awalnya ingin marah pun akhirnya tersenyum kecil.
"Dasar sial, awas kau Yamanaka" gumamnya tak jelas.
.
.
.
"Mendokusai, Kau lama sekali" gerutu Shikamaru.
"Maaf, tadi ada sedikit gangguan tehee..." Ino menunjukkan cengirannya sambil menjitak pelan kepalanya sendiri, dia tidak mengatakan kalau sebenarnya tadi dia hampir lupa dengan Shikamaru yang menunggunya digerbang sekolah karna keasyikan membahas game dengan Naruto dan Kiba.
Sepanjang perjalanan Ino berceloteh tentang Naruto dan Kiba yang berhasil mencapai level tertinggi disalah satu game MMORPG yang mereka mainkan.
Sepertinya dia sudah lupa dengan kejadian tadi dengan Sasuke, syukurlah kalau sampai Ino ingat lalu moodnya memburuk bisa-bisa Shikamaru yang terkena getahnya.
"Aaa...ngomong-ngomong Shika kau tahu dari mana aku ada di UKS tadi?" Tiba-tiba Ino teringat dengan hal yang tadi sempat mengganjal dibenaknya dan menanyakannya pada Shikamaru, apa mungkin Shikamaru tahu kalau Sasuke yang membawanya ke UKS?
"Sasuke yang bilang padaku" jawab Shikamaru cemas, khawatir Ino badmood mendadak mendengar nama Sasuke.
"Memangnya dia bilang apa?" Tanya Ino yang belum menunjukkan reaksi negatif meski dia merasa cengkraman Ino pada sisi-sisi seragamnya menguat, semoga saja ini bukan pertanda buruk, batin Shilamaru benuh harap.
"Dia tidak mengatakan apa-apa"
"Benarkah?" Tanya Ino tak percaya.
"Iya, memangnya ada apa, apa kau bertengkar lagi dengannya?" Shikamaru mencoba mengalihkan pembicaraan sebelum Ino bertanya lebih lanjut, dia malas mendengar keluhan ataupun komentar-komentar Ino tentang Sasuke yang selalu sama.
"Ti-tidak" gagap Ino bohong.
Shikamaru tahu Ino bohong, selain dia sendiri yang sudah mendengarnya dari Sasuke Ino selalu tergagap tiap kali berbohong, karna Ino tak pandai berbohong apalagi dihadapan orang-orang dekatnya.
Sesampainya dirumah Ino langsung masuk ke kamarnya lalu mengunci dirinya, dia kembali memikirkan kata-kata Sasuke siang tadi, dia masih tidak percaya Sasuke mengatakan semua itu padanya, mungkin Sasuke sudah benar-benar membencinya, maksudnya bukan berarti sebelum ini Sasuke tak membencinya tapi Ino sendiri tak yakin dengan sikap Sasuke selama ini yang entah membencinya atau tidak. Seharusnya dia senang jika Sasuke juga membencinya, bukankah ini yang selalu dia inginkan, karna dengan Sasuke membencinya dia bisa membenci Sasuke sebanyak yang dia mau tanpa perlu merasa buruk ataupun merasa bersalah tapi entah kenapa Ino tidak merasa senang sekarang.
Ino merasa heran dengan dirinya sendiri, terkadang kebenciannya seolah menguap saat pikirannya sedang jernih, tapi disaat yang lain jika ada hal yang mengganggu pikirannya hanya dengan mendengar nama Sasuke saja bisa membuatnya uring-uringan tak jelas, itulah sebabnya sekarang dia lebih senang menyendiri, bukan karna Ino anti sosial seperti yang orang-orang katakan dibelakangnya tapi emosinya yang labil membuatnya berpikir bahwa menjauh dari pergaulan adalah pilihan yang tepat untuk meminimalisir korban n resiko kelabilannya.
"Ino...kau sedang apa?" Tiba-tiba terdengar suara ibu Ino yang disertai ketukan dari balik pintu kamar membuyarkan lamunannya.
"Ada apa kaa-san?" Jawab Ino sambil membuka pintu kamarnya.
"Cepat ganti baju dan belikan kaa-san telur dan tomat sebentar, ini uangnya" kata ibu Ino sambil menyerahkan uang belanja pada Ino.
'Memangnya Sasuke belum pulang, tumben sekali ibunya menyuruhnya belanja' batin Ino sambil mengganti pakaian seragamnya dengan celana pendek diatas lutut dan kaos ketat yang dilapisi cardigan ungu kesayangannya.
Ino sempat melirik ke kamar sebelah dimana kamar Sasuke berada saat keluar dari kamarnya, agak heran dengan keadaan kamar Sasuke yang masih sunyi senyap pertanda penghuninya masih belum pulang. Tidak biasanya sampai petang begini dia belum pulang. Biasanya sang ibu lebih suka menyuruh Sasuke daripada menyuruh anaknya sendiri jika ada Sasuke dirumah, bukannya Ino tak mau disuruh ibunya hanya saja sesuatu yang diluar kebiasaan sudah pasti membuat Ino betanya-tanya tapi Ino enggan menyuarakan hal itu pada Ibunya, tidak akan pernah lagi pula pulang tidaknya Sasuke kan bukan urusannya untuk apa juga dia peduli.
Ino membayar belanjaannya tak lupa dengan tambahan beberapa camilan dan es krim favoritnya untuk menemaninya main game malam ini, sebelumnya dia sempat kesal saat mengambil beberapa buat tomat yang bisa dikatakan banyak pasalnya sang ibu pasti membeli tomat sebanyak itu untuk Sasuke karna memang itu adalah makanan kesukaan Sasuke, jangan tanya dari mana Ino tahu makanan favorit Sasuke karna tiap hari Sasuke pasti memakan tomat seolah itu adalah camilan, dan ibunya entah kenapa dengan senang hati menyediakannya secara khusus didalam kulkas padahal Ino yang anaknya saja harus membeli camilan kesukaannya sendiri, bukankah itu tidak adil?
Ino menendang kaleng minuman yang tergeletak sembarangan dipinggir jalan dia melintas, mengarahkan kedekat tempat sampah sebelum kemudian mengambilnya dan memasukkannya ketempat sampah tersebut sambil merutuki siapapun yang masih saja lalai dengan membuang sampah sembarangan. Tapi saat Ino hendak melangkahkan kembali kakinya dia mendengar keributan kecil dibalik semak semak yang dia lewati, terdengar seperti orang yang berkelahi. Didorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi Ino pun nekat mengintip dari balik pohon yang ada didekat semak-semak, ada beberapa orang yang terlihat sedang berkelahi atau lebih tepatnya mengroyok seseorang berambut merah, eh tunggu berambut merah?
Ino menajamkan penglihatannya guna memastikan orang yang dia lihat, bukankah itu Gaara, apa yang dia lakukan disini, dan kenapa dia berkelahi? Beberapa pikiran negatif terlintas secara otomatis dibenak Ino, namun pikiran warasnya meneriakinya untuk membantu seseorang yang sedang dikroyok, tapi bagaimana dia membantunya? Berpikir Ino berpikir, perintah Ino pada otaknya, ponsel. Ino segera merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya.
Pertama-tama Ino harus mengunduh nada sirine polisi, sambil menunggu unduhannya dia akan memotret dan merekam beberapa adegan untuk jaga-jaga siapa tahu nanti berguna, maksudnya untuk memberi keterangan polisi sungguhan kalau sampai dirinya dimintai keterangan sebagai saksi kejadian ini, meski itu tidak mungkin tapi ya siapa tahu saja kan? benak Ino menepis pikiran jahatnya yeng mencoba membujuknya agar menggunakan foto itu untuk mengerjai Gaara nantinya.
Setelah unduhan Ino selesai, dia segera mematikan kameranya dan keluar dari balik pohon sambil berteriak lantang pada gerombolan itu yang kini telah berhasil memojokkan Gaara dengan segala perlawanannya.
"Hei kalian, apa yang sedang kalian lakukan?" Suara Ino terdengar begitu lantang dan berani seolah dia jagoan pembela kebenaran, seorang pejalan kaki yang lewat sempat menoleh kearahnya sambil lalu karna tak tahu apa yang terjadi.
Keadaan sekitar saat itu cukup redup karna lampu jalan terhalangi oleh keberadaan pohon dan semak-semak namun masih cukup untuk gerombolan itu menengok kearah Ino dan mengenalinya sebagai seorang perempuan dengan rambut pirang yang diikat tinggi menyerupai ekor kuda.
"Kheh...mau apa kau gadis kecil?" Ucap salah satu pemuda tanggung dengan seringai yang terlihat menjijikkan dimata Ino.
"Kami sedang berseng-senang, jangan mengganggu!" Tambah seorang yang lain.
"Lepaskan dia, atau aku laporkan kalian kepolisi" Ino mengangkat ponselnya untuk menggertak.
"Bhahahaha...apa gadis kecil itu temanmu?" Salah satu dari mereka menjambak rambut Gaara yang masih dalam posisi terjepit diantara dua orang yang menahannya dari belakang dan menolehkannya kearah Ino.
"Dia bukan temanku..." desis Gaara tajam.
"Kau dengar itu gadis kecil? Jadi sekarang pergilah dan jangan ikut campur" hardik salah satu berandalan itu.
"Cih, empat lawan satu? Yang benar saja, apa kalian tidak malu, dia hanya lalat kecil dan kalian harus mengroyoknya berempat? Dasar tidak berguna"
Entah setan apa yang merasukinya sampai dia berani mengucapkan kalimat ejekan itu pada orang-orang didepannya, Ino juga tidak tapi mendengar ucapan Gaara yang tidak mengakuinya dan tatapan yang seolah mengatakan bahwa keberadaannya disana tidak berguna membuatnya agak tersinggung.
"Wah, mulutmu benar-benar manis ya gadis kecil?" Salah satu dari mereka mulai mendekat kearah Ino, gawat batinnya mulai panik.
"Hei...urusan kita belum selesai, jangan hiraukan gadis bodoh itu sialan!" Teriak Gaara mencoba mengalihkan perhatian lelaki itu.
"Tenang saja, mereka bisa menyelesakannya untukku" orang itu mengangguk pada teman-temannya dan mereka mulai memukuli Gaara lagi.
Ino memundurkan langkahnya masih enggan menunjukkan ketakutannya, lalu saat seseorang lewat Ino menjerit sekeras-kerasnya kearah orang tersebut.
"Tolooooooooong...tolooong...ada penjahat kelamin, tolong cepat telpon polisi..." Sontak semua orang disana kaget mendengar teriakan Ino, lalu sebelum ada yang sempat bereaksi terdengar suara sirine mobil polisi yang membuat orang itu melotot horor dan segera berbalik mengajak teman-temannya yang tadi memukuli Gaara untuk lari.
"Polisi, cepat lari...!"
"Ck, sialan awas kau lain kali kami takkan melepaskanmu" ancam salah satu dari mereka sebelum akhirnya benar-benar lari dari tempat itu.
Begitu para berandalan itu menjauh, Ino pun mengeluarkan seringainya. "Dasar bodoh'' gumamnya pelan.
"Nona, apa kau baik-baik saja?" Tanya seorang ibu-ibu muda yang tadi dibuat terkejut oleh teriakan Ino dengan raut khawatir.
"Saya baik-baik saja" jawab Ino sambil terenyum.
"Benarkah, tapi tadi aku mendengar ada penjahat kelamin apa kau yakin tidak apa-apa nona?" Tanya ibu itu masih khawatir, pasalnya beberapa hari ini dia sering mendengar tindakan pelecehan seksual diberitakan ditv-tv lokal yang ia tonton.
"Saya tidak apa-apa nyonya, terimakasih banyak atas perhatiannya" ucap Ino kembali meyakinkan sambil membungkuk mengucapkan trimakasih.
"Baiklah kalau begitu hati-hati ya nona, sebaiknya kau cepat pulang"
"Iya, sekali lagi trimakasih banyak" Ino kembali membungkukkan badannya sebelum kemudian kembali kearah semak-semak dimana dia meninggalkan belanjaannya tergeletak begitu saja diatas tanah dan menengok keadaan Gaara, semoga saja dia baik-saja agar Ino tak perlu repot-repot menolongnya lagi.
Tapi yang tidapati Ino Gaara masih terkapar dengan posisi terlentang diatas tanah, Ino mendekat memastikan Gaara masih hidup, bisa kacau urusannya kalau sampai Gaara mati disini.
"Hoi...apa kau masih hidup?" Ino menyentuh tubuh gara dengan telunjuknya, memastikan sidik jarinya tak meninggalkan banyak jejak kalau sampai Gaara benar- benar tewas. Ino benar-benar kebanyakan nonton film detektif.
"Oi... Sabaku, bangunlah mereka sudah pergi" Gaara masih bernafas tapi Ino benar-benar tidak tenang saat panggilannya sama sekali tak mendapat jawaban dari Gaara.
"Gawat, apa yang harus kulakukan?" Guman Ino frustasi sambil menggigit jempolnya untuk berpikir, apa kutinggalkan saja dia biar orang lain yang menemukannya, atau aku telpon ambulance dan pura-pura menemukannya pingsan disini? Tapi itu akan membuat Ino makin terlambat pulang dan berakhir dengan introgasi sang ibu, meski dia bisa saja beralasan tapi itu akan sangat merepotkan.
Saat Ino sedang mondar mandir bergulat dengan pikirannya sambil menggigiti kuku-kuku jarinya sendiri, tak sengaja dia melihat seringai kecil Gaara pertanda Sabaku Gaara sebenarnya masih sadar.
"Hei...Sabaku Gaara bangun, kau mengerjaiku ya?" Bentak Ino dengan berkacak pinggang, Ino menggeram marah mendapati Gaara masih bungkam tak memberinya reaksi apapun.
"Sialan, cepat bangun Sabaku jangan diam saja" masih tak ada respon "Heeei... kubilang banguuun!" teriak Ino dongkol disamping Gaara.
Ino sudah akan pergi dari tempat itu setelah segala upayanya membuat Gaara bangun tak berhasil sampai suara Gaara akhirnya terdengar juga oleh indra pendengarnya.
"Berisik..."
"Apa kau bilang?" Ino sontak berbalik dan menunjuk wajah Gaara tepat dihidungnya begitu Gaara bangkit dari posisinya.
"Kau berisik, dan mengganggu" ucap Gaara acuh.
Ino mengambil nafas dalam-dalam untuk meredam amarahnya yang sudah hampir meledak, lalu menghembuskannya perlahan.
Sabar Ino, marah-marah tidak akan menyelesaikan masalah, nasihat inner Ino pada dirinya sendiri.
"kuanggap itu sebagai ucapan trimakasih. Jadi, karna sepertinya kau baik-baik saja sebaiknya aku pergi sekarang" Ino berjalan meninggalkan Gaara sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal.
Namun saat Ino baru saja keluar dari semak-semak dia berteriak dan menunjuk kearah Gaara yang sudah berdiri sambil menatapnya dengan tatapan datarnya yang membuat Ino makin jengkel.
"Aaarrgh...DASAR TIDAK TAHU DIRI! aku menyesal sudah menolongmu..." Akhirnya Ino tak mampu menahannya juga.
"Ino, apa yang kau lakukan disini? Bibi sudah menunggumu dari tadi" sebuah suara mengalihkan kemarahan Ino.
"Tidak ada, ini juga mau pulang" Jawab Ino acuh begitu tahu Sasuke yang menegurnya
"Sabaku...?" Ucap sang pemilik suara heran saat menyadari keberadaan Gaara.
"Hn" Gaara hanya menanggapinya dengan gumaman kecil.
"Kenapa dia babak belur begitu Ino?" Tanya Sasuke, sebenarnya Ino sudah mau pergi saat Sasuke tiba-tiba bertanya padanya.
"Tanya saja sendiri padanya" kata Ino sewot kemudian melangkah pergi.
"Yamanaka, bukankah kau seharusnya bertanggung jawab atas perbuatanmu ini?" Ucapan Gaara lagi-lagi membuat Ino berhenti melangkah.
"Jangan bercanda Sabaku, memangnya apa yang kulakukan padamu, bukankah aku yang menolongmu dari para berandalan tadi?" Ino tak percaya dengan ini, apa-apaan pemuda ini bisa-bisanya dia memutarbalikkan fakta dan berakting sesantai itu.
"Tenang Ino., katakan saja apa yang terjadi!" Ino menatap sengit pada Sasuke saat Sasuke mencoba menenangkannya. Apa lagi ini? Apa dia lebih percaya dengan Gaara daripada dengan dirinya?
"Oh iya aku lupa, kau kan satu spesies dengannya tentu saja kau lebih percaya dia daripada aku" kata Ino nyinyir, namun Sasuke dan Gaara sama-sama tak mengerti dengan apa yang Ino bicarakan.
"Ap-"
"Sudahlah terserah kalian saja, aku mau pulang" untuk apa juga aku peduli pada dua spesies ini, batinnya kesal. Dengan itu Ino benar-benar beranjak untuk pulang.
.
.
.
"Tadaimaa..." Ino sampai dirumah saat hari sudah gelap dan ayahnya sudah dirumah sedangkan kakanya masih belum pulang.
"Tou-san sudah pulang ya?" Ino langsung menyambar air minum dimeja dapur dan memberikan belanjaannya pada ibunya yang sedang menata makan malam didapur.
"Iya, dia sedang mandi. Kau ini darimana saja kenapa lama sekali pulangnya, ibu sampai harus menyuruh Sasuke menyusulmu. Sekarang dimana Sasuke, apa kau tidak bertemu dengannya?"
"Tadi kami bertemu, tapi aku tidak tahu dia kemana"
"Apa maksudnya itu, apa kau meninggalkannya lagi?"
"Kaa-saaaaan, dia itu laki-laki dan aku cuma berjalan lebih dulu bukan berarti aku meninggalkannya" jelas Ino membela diri.
"Itu sama saja, kau tidak menunggunya kan?"
"Kaaa-saaaann..." Rengek Ino setengah frustasi.
"Ino, kaa-san mohon bersikap baiklah pada Sasuke, dia sudah mengalami banyak hal yang berat dan satu-satunya keluarga yang tersisa harus pergi jauh untuk menjamin biaya hidupnya, jadi kaa-san mohon padamu jangan sampai kau membuatnya tidak betah disini, bisa kan?" Ibu Ino memberikan tatapan memohon pada Ino, dia hanya menghembuskan nafas kasar dan mengangguk terpaksa.
"Baiklah" Orang tuanya memang orang yang baik, mereka tulus menyayangi Sasuke dan itu sukses membuatnya iri tapi semarah dan sebenci apapun Ino pada Sasuke dia tidak pernah bisa menyalahkan ketulusan mereka, Ino tahu kebaikan mereka pada Sasuke tidak salah meski dirinya masih belum bisa menerimanya.
Ino tahu bahwa hal-hal berat yang dialami Sasuke, kehilangan sosok ibu dan kakak yang disayangi dibarengi runtuhnya usaha ayahnya hingga harus dikejar-kejar penagih hutang meski rumah dan semua hartanya sudah disita oleh bank, Ino tidak bisa membayangkan bagaimana sulitnya hidup Sasuke dan ayahnya sebelum akhirnya ayahnya memutuskan mengambil pekerjaan diluar negeri dan menitipkannya disini.
Tapi Ino juga penasaran, kenapa saudara-saudara dari orang tua Sasuke tidak ada yang membantu, maksud Ino bukankah ayah Sasuke itu seorang Uchiha dimana beberapa diantaranya adalah pengusaha sukses di Jepang, kenapa tidak ada satupun yang menolong ayahnya atau sekadar menampungnya untuk tinggal misalnya? Bukankah itu cukup aneh untuk ukuran keluarga besar? Apa karna ada masalah atau memang keluarga mereka adalah tipikal orang-orang yang tidak memiliki empati?
Ino pernah menanyakan ini pada orang tuanya tapi mereka bilang tidak tahu, dan saat dia menanyakannya langsung pada Sasuke dia malah mengatakan 'bukan urusanmu dan berhentilah bertanya tentang keluargaku' dengan ucapan yang sangat dingin, sejak itulah dia semakin tidak ingin peduli pada apapun soal Sasuke lagi.
"Tadaima..." Suara Sasuke yang baru pulang terdengar dari arah pintu depan, ibu Ino yang baru selesai menata hidangan makan malam keluar untuk memanggil sang ayah yang sedang duduk diruang keluarga sekaligus melihat Sasuke yang baru datang, namun sebelum ibu memanggil sang ayah ibu dikejutkan dengan sesuatu atau tepatnya seseorang yang dibawa Sasuke pulang.
"Astaga...Sasuke dia siapa, kenapa dia bisa seperti ini?" Semua orang yang mendengar pekikan sang ibu segera keluar melihat apa yang terjadi kecuali Ino yang masih sibuk menaruh cemilannya kedalam lemari es.
"Dia temanku bi, dan dia baru saja diganggu para berandalan, aku terpaksa membawanya pulang karna dia tidak mau kuantar ke rumah sakit ataupun kerumahnya" jawab Sasuke tenang.
"Ya sudah cepat bawa dia masuk dulu, sebentar biar bibi bantu melepas sepatunya" sang bibi lalu berjongkok untuk membantu melepas sepatu Gaara.
"Maaf merepotkan" lirih Gaara. Tak disangka pukulan membabi buta para brandalan tadi benar-benar kuat hingga membuatnya babak belur begini.
"Sabaku...?!" Seru Ino begitu dia keluar untuk melihat apa yang terjadi hingga membuat Ibunya terpekik seperti tadi, tapi saat melihat Gaara malah Ino yang kini berteriak kaget.
"Ino kau mengenalnya?" Tanya sang ibu. Ino mengangguk tak rela, kenapa Sasuke malah membawanya kemari?
"Dia teman sekelasku juga" jawabnya lirih tak bisa bohong.
"Kalau begitu kenapa kau diam saja, cepat bantu Sasuke" hardik sang ibu heran melihat tingkah Ino yang seolah tak ingin peduli.
"Iissshh...merepotkan saja" gerutu Ino yang kemudian membantu Sasuke memapah Gaara ke kamarnya.
"Kau juga, kenapa malah membawanya kesini, kau kan bisa menelpon kakaknya Temari SENSEIMU itu?" Kata Ino sarkas dengan memberi penekanan pada kata 'senseimu'.
Sasuke hanya diam, dia tahu tak ada gunanya berebat dengan Ino yang sedang marah.
"Jangan mengomel terus Ino!" Sang ibu meneriakinya dari bawah. Ino meniup poninya dengan kesal.
"Biar kuambilkan kompres dan obat, kau gantikan saja dulu bajunya, dia kotor dan bau sekali" Ino mengibaskan tangan didepan hidungnya.
"Ini bau para berandalan tadi" elak Gaara tak terima.
"Hoh...lihatlah dia masih bisa membela diri, aku tak percaya ini"
Malam itu menjadi malam terpanjang bagi Ino karna dia terpaksa harus mengurus luka-luka Gaara sebab si jenius Sasuke ternyata tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengatasinya dan berakhir jadi pesuruh Ino.
"Sudah selesai?" Sang Ibu menengok keadaaaan mereka dikamar Sasuke.
"Sebentar lagi selesai" Jawab Ino yang sedang menempelkan plester pada luka dikepala Gaara.
"Baguslah, kalau sudah selesai kalian makanlah kaa-san sudah menyisihkan makan malam untuk kalian didapur" setelahnya sang ibu meninggalkan mereka lagi.
"Sudah, sebaiknya besok kau ke rumah sakit saja untuk memastikan tak ada luka dalam yang serius" ucap Ino sambil membereskan kotak P3Knya dan memberikannya pada Sasuke untuk mengembalikan ketempat asalnya sekaligus memintanya membawakan makanan untuk Gaara.
"Hn" Jawab Gaara dengan gumaman singkat.
"Haiiisshh...Dasar panda tak tahu diri, apa tidak bisa mengucapkan trimakasih atau kalimat lain yang lebih enak didengar? aku sudah menolongmu dua kali hari ini asal kau tahu" omel Ino.
Gaara mendelik tak terima saat Ino mengomelinya dan mengatai dia Panda, namun belum sempat Gaara membalas Ino sudah keburu pergi dari kamar itu sambil membanting pintu.
"Kenapa dia?" Tanya Sasuke begitu dia kembali sambil membawa nampan berisi makanan lalu memberikannya pada Gaara, Gaara sendiri hanya menjawab dengan mengedikkan bahunya lalu mulai memakan makanannya.
"Kau tidak makan?"
"Aku akan makan dibawah nanti setelah kau selesai, lagipula Ino juga mungkin sedang makan sekarang"
"Apa dia selalu marah-marah seperti itu?" Tanya Gaara disela-sela makannya.
"Tergantung"
"Maksudnya?"
"Tergantung kondisi moodnya"
"Sepertinya dia tidak menyukaimu?" Tebak Gaara yang kini sudah menghabiskan setengah lebih makanannya.
"Dia memang tidak pernah menyukaiku, tapi sepertinya aku tidak sendiri lagi sekarang" tukas Sasuke sambil menyeringai kearah Gaara.
"Apa maksud dengan seringaimu itu?" Tanya Gaara sebelum memasukkan suapan terakhirnya kedalam mulutnya.
"Dia juga tidak terlihat menyukaimu... Sabaku Gaara"
"Siapa yang peduli?" ucap Gaara acuh.
"Aku peduli" jawab Sasuke.
"Aku tak butuh pedulimu"
"Kau salah, aku tak peduli padamu tapi aku peduli pada Ino"
"Wow...ada apa ini?" Gaara tersenyum mengejek.
"Jangan buat dia marah, itu saja" Dengan itu Sasuke melangkah keluar lagi untuk membawa kembali bekas makan Gaara ke dapur.
"Yah kita lihat saja nanti, sepertinya ini akan lebih menarik dari pada yang kupikirkan" Gaara bergumam lirih pada dirinya sendiri.
.
.
.
TBC...
______________
___
Yosh...chap two is up trimakasih banyak untuk kawan-kawan yang sudah bersedia mampir entah hanya untuk melirik atau benar-benar membaca cerita ini. #hugtigh :D
Dan seperti biasa masih dinanti kritik saran, cacian dan flame juga tak apa untuk penyemangat author meneruskan fict abalnya ini.
Salam, Shiroe Ino.^^\
