"Selamat datang di kelas 12-3. Mari kita berjuang bersama-sama untuk satu tahun ke depan dan tetap kompak hingga akhir."

Hiyama Kiyoteru—Wali kelas 12-3

.

School War: Island—

Disclaimer:

Vocaloid © Yamaha, Crypton FM, etc

Story © Ical de Muffin

Inspired by:

Battle Royale © Takami Koushun

Afterschool War Activities © Ha il-kwon

.

One: "What?! Am I Deaf?"

.

Orang-orang selalu saja membuat keputusan tanpa memikirkannya lagi maupun mencoba mencari tahu fakta yang sebenarnya. Dan salah satu korban dari kekejaman itu adalah seorang gadis berambut merah jambu yang bernama Megurine Luka, blasteran Jepang-Inggris.

Dia telah terkucilkan dari lingkaran pergaulan karena dianggap tidak memiliki kemampuan berbahasa Jepang yang lancar. Dan pembawaannya yang tenang dan cenderung tidak memperlihatkan emosi juga menambah daftar alasan kenapa dia tidak memiliki teman. Padahal dia tidak setenang yang diperlihatkan. Dia gadis yang kikuk dan mudah gugup. Dan karena kegugupannya, wajahnya selalu berubah menjadi kaku sehingga yang memandangnya membeku. Dan karena itulah, tiap tahun dia harus menghabiskan jam istirahatnya berdua dengan kotak bekalnya saja.

Tapi, tahun ini dia tidak ingin seperti itu lagi. Ia sudah bosan dan letih memasang topeng kalem untuk menyembunyikan fakta dia tidak suka sendirian. Sudah saatnya topeng itu pensiun dan meringkuk di ujung gudang yang gelap.

"Aku harus bisa melakukan ini. Senyum lalu sapa. Senyum lalu sapa. Ganbatte, Luka!"

Gadis itu mencoba membuat lengkungan indah di bibirnya. Tekadnya sudah bulat. Tidak ada lagi yang bisa menghalanginya untuk mendapatkan seorang teman. Tentu saja jika takdir tidak lagi mencoba mengajaknya bermain.

-school war-

"Ah… A-aku sekelas dengan Ka-kagamine Len lagi. Ya, tentu saja aku senang. Dan… ng, tahun ini aku akan mengutarakan perasaanku padanya. Kyaa! Jangan sampai Kagamine-kun melihat ini."

Akita Neru—Absen 03

"Eh, aku? Kau menanyakan pendapatku tentang teman sekelas lain? Well, tentu aja aku masih yang terganteng di kelas ini. Menurutmu juga begitu, kan?"

Hatsune Mikuo—Absen 20

-school war-

Luka selalu merasa mual saat harus membuka pintu kelas. Fantasinya selalu mengajak ia berkeliling menerka-nerka bagaimana rupa dan karakteristik orang-orang yang akan menemaninya untuk satu tahun ke depan.

Apakah mereka seperti teman sekelasnya setahun lalu?

Ingatan tidak menyenangkan itu memenuhi pikirannya. Ia ingat salah seorang gadis di kelasnya pada tahun lalu selalu saja mengatainya jalang di belakang punggungnya karena laki-laki yang gadis itu taksir malah kelihatan tertarik padanya. Sungguh, pengalaman yang buruk.

Tapi, tahun ini akan berbeda. Dia tidak sekelas dengan gadis itu dan antek-anteknya tahun ini. Dia hanya sekelas dengan Nakajima Gumi yang berlidah tajam dan Hatsune Mikuo yang kelewat narsis. Bukan gadis itu. Bukan teman-teman gadis itu. Semua akan baik-baik saja.

"Oke, geser pintu ini, tersenyum, lalu sapa."

SRET

"O-oha-hayou…," katanya gugup. Tapi, tidak ada yang membalasnya. Tentu saja tidak ada. Salamnya tak lebih dari sekadar cicitan tikus di antara gonggongan anjing. Ugh, teman-teman sekelasnya berisik sekali.

Tidak ambil pusing, dia menuju kursi yang belum terisi siapa pun. Dia lalu duduk dan mengeluarkan buku bersampul kuning yang berukuran kecil.

"Tidak apa-apa. Aku bisa mencobanya lain kali," hiburnya pada diri sendiri. Lalu dibukanya sampul buku kuning itu.

Ketika gadis itu telah membaca dua paragraf, pintu kelas kembali tergeser oleh seorang murid laki-laki berambut jingga. Itu Hibiki Lui, semi-otaku yang selalu ceria dan tersenyum lebar. Jenis orang yang dapat dianalogikan sebagai magnet karena kemampuannya menarik perhatian orang.

"OHAYOU!"serunya riang.

"Ohayou, Lui! Wah, kita sekelas lagi."

"Ohayou, Hibiki-san."

Semua orang di kelas membalas salamnya. Hal itu membuat Luka sedikit iri. Ah, bagaimana caranya menjadi orang yang ceria dan ramah seperti Hibiki Lui?

"Aku punya proyek baru!" kata laki-laki jingga itu bangga. Ia merogoh ke dalam tasnya. Teman-temannya mengerubuti dengan penuh minat. Sedangkan Luka hanya melirik sekenanya. "Ta-daa!"

"Handy-cam? Untuk apa kamu membawanya?" tanya laki-laki yang berambut toska, Hatsune Mikuo. "Mengabadikan ketampananku? Itu enggak perlu. Semua orang akan mengingatnya."

Semua orang memandang Mikuo dengan tatapan hina.

Lui menggeleng. "Ckckck. Aku enggak akan melakukan hal yang enggak perlu begitu, Mikuo. Aku ingin merekam kita dari awal sampai kelulusan. Seperti yang ada di film-film itu."

Para gadis berdecak kagum. "Ide yang bagus, Hibiki-san."

Di kursinya, Luka juga memuji Lui atas idenya yang cemerlang. Mungkin dengan begini dia juga dapat ambil bagian dan kesempatan untuk berbaur dengan teman-teman barunya makin besar.

"Dan merepotkan. Kamu pasti akan berhenti paling lama di hari ke lima puluh atau enam puluh," kata Nakajima Gumi dari tempat duduknya. Seperti biasa dia memasang raut cuek yang makin membuat wajahnya menjadi jutek.

Luka memperhatikan laki-laki berambut jingga itu terdiam, memikirkan jawaban yang tepat untuk membalas sang Ratu Berlidah Tajam. "Enggak akan. Aku pasti akan menyelesaikan proyek ini! Dan aku akan membuatmu menelan kata-katamu sendiri."

"Oh ya? Semoga proyek ini berhasil enggak kayak proyekmu di kelas sembilan."

-school war-

"Nakajima-san memang memiliki lidah yang tajam."

Utatane Piko—Absen 05

"Dia seperti penyihir. Aku sekelas dengannya saat kelas sepuluh. Dia luar biasa 'beracun'. Oh, kamu tahu maksudku, kan?"

Maeda Lily—Absen 22

"... Kenapa kalian menatapku hina?"

Hatsune Mikuo—Absen 20

-school war-

Hiyama Kiyoteru adalah satu dari sekian guru yang memiliki reputasi tak tercela di kalangan staf pengajar maupun siswa. Dia serius, tidak pernah telat masuk kelas, dan juga tidak mengenal kata gugup. Kata-katanya meluncur bebas dan tidak pernah salah. Bahkan bisa dibilang sangat meyakinkan hingga orang-orang mengira dia adalah salesman saat mudanya.

Maka dari itu, ketika Luka melihat sosok Hiyama Kiyoteru yang sedang berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri sebagai wali kelas 12.3 dengan bibir yang setengah pucat, dia terkejut. Tidak ada dalam sejarah Hiyama-sensei gemetaran atau bermuka tanpa rona. Sekali lagi, tidak ada!

"Sensei, ada apa?" tanya Maeda Lily, yang sepertinya juga sadar akan perubahan sikap Kiyoteru. Guru itu menggeleng. Dia menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan.

"Tidak ada, Maeda-kun. Saya hanya merasa senang menjadi wali kelas kalian. Dan sekarang kita harus memilih siswa yang akan menjadi ketua kelas," kata Hiyama Kiyoteru dengan penekanan di frase ketua kelas. "Ada yang ingin mencalonkan diri?"

Beberapa siswa berbisik-bisik. Yang lain menyenggol teman-temannya. Luka sendiri tidak peduli siapa yang akan menjadi ketua kelasnya. Yang ia pedulikan hanya bagaimana dia bisa berbaur dengan teman-teman barunya ini.

"Tidak ada?" Hiyama Kiyoteru memastikan. "Baiklah, saya saja yang memilihnya. Saya mendengar Yuzuki-kun adalah ketua kelas ketika kelas 10 dan 11. Karena itu, saya ingin dia menjadi ketua kelas juga tahun ini. Setuju?"

Gumaman setuju setengah hati meluncur keluar dari mulut-mulut siswa yang malas menentukan lagi. Sebagian lagi mengangguk-angguk. Namun, ada juga yang terang-terangan menolak.

Yuzuki mengacungkan jarinya. "Saya menolak, Sensei!"

"Kenapa Yuzuki-kun?"

"Sederhana saja. Saya bosan menjadi ketua kelas, Sensei. Bukankah ada juga mantan ketua kelas di kelas ini?"

Hiyama-Sensei menatap Yuzuki dengan ekspresi yang tidak bisa digambarkan. Campuran antara tegang, khawatir, dan juga ketakutan. "Benar. Tapi, teman-temanmu membutuhkan seorang ketua yang bertanggung jawab dan memiliki jiwa leadership yang kuat. Jangan menolak, Yuzuki-kun. Ini untuk kebaikan teman-temanmu dan dirimu sendiri."

"Tapi, Sensei—"

"Tidak ada tapi-tapian. Dan kalian semua tidak ada yang boleh menolak. Ini untuk kebaikan kelas 12.3. Patuhlah pada ketua kelas kalian—Yuzuki-kun. Kalian mengerti?" Suara Hiyama-sensei bergetar untuk sesaat.

Luka memandang tak percaya pada Hiyama-sensei. Apa yang terjadi pada guru ini? Apa yang dia sembunyikan? Kenapa dia bertindak aneh dengan menekankan kata-katanya pada kalimat kepatuhan-kepatuhan itu? Dan apa maksudnya dengan kebaikan kelas?

"Yuzuki-kun, sekarang majulah. Sampaikan kata-katamu pada mereka."

Yukari berjalan menuju muka kelas dengan sangat bingung. Kenapa hal ini menjadi begitu formal? Bukankah ini hanya soal pengangkatan ketua kelas biasa?

"Selamat pagi, teman-teman. Jadi, aku terpilih menjadi ketua kelas lagi—sial. Semoga kita bisa bekerja sama untuk satu tahun ke depan," Yukari berpidato sedikit. Ia mengibaskan rambut violetnya yang cukup tebal, membuat Nakajima Gumi nyaris muntah di tempat. Oh yeah, sudah menjadi rahasia umum jika Nakajima Gumi membenci Yuzuki Yukari sampai tulang sumsum.

Hiyama-sensei memberi Yukari selembar kertas. "Tolong gambar ini." Wajahnya yang sempat tegang, berubah rileks kembali. Dia berdehem. "Baiklah, sekarang kalian maju ke depan semua. Kita akan menentukan tempat duduk kalian."

Semua orang segera maju. Hiyama-sensei menyuruh satu persatu murid untuk mengambil gulungan kertas di dalam kaleng yang ia bawa sedari tadi. Sedangkan Yuzuki menggambar denah tempat duduk lengkap dengan angka-angkanya.

"Kalian sudah ambil semua? Sekarang duduk di kursi yang sesuai. Tidak ada yang boleh menukar nomor undian."

Sesuai instruksi, satu per satu mencari kursi yang bernomor sama lalu mendudukinya. Beberapa orang mengeluh karena mendapat tempat paling depan ataupun paling belakang. Luka sendiri masih terpaku mencari kursinya.

"Ah, di sana," ucapnya tanpa suara. Dia segera menuju kursinya yang terletak di dekat jendela—tempat favoritnya. Ia duduk tanpa menimbulkan suara lalu melirik ke samping kanannya. Oh, dia duduk di samping Mikuo yang narsis. Dan di depannya ada Maeda Lily yang manis namun memiliki banyak gosip buruk.

"Baiklah. Karena kalian telah duduk dengan rapi, kita mulai saja pengumumannya."

-school war-

"Aku enggak mau terlibat dengan proyek konyolmu ini! Tanya saja si brengsek itu! Aku sudah cukup heran dengan sikap Hiyama-sensei."

Nakajima Gumi—Absen 12

"Oke, aku muak. Ini sudah ketiga kalinya dan aku muak. Bisa enggak sih Hiyama-sensei menunjuk orang lain? Dan kenapa dia sekarang bersikap aneh?"

Yuzuki Yukari—Absen 29

"Terima kasih kepada Hiyama Kiyoteru-sensei karena menyuruhku mengambil kertas paling terakhir. Sial, harusnya aku duduk di belakang."

Takegawa Oliver—Absen 10

-school war-

"Pengumuman?"

Berpasang-pasang mata mengunci pandangannya pada sosok guru teladan yang sedang berkeringat deras—sesuatu yang mustahil terjadi. Saling bergumam dan melemparkan analisis tentang apa yang guru itu katakan. Dan apa pun yang Hiyama-sensei ucapkan, pastilah adalah hal besar karena wajah pria itu kini pucat tanpa rona. Bibirnya pun nyaris membentuk garis lurus yang sempurna. Guru itu kembali memasang aura tegang yang tidak menyenangkan.

"Pengumuman apa, Sensei?"

"Kenapa wajah Sensei pucat sekali? Apakah itu berita buruk?"

Hiyama Kiyoteru mengelap keringatnya dengan sapu tangan. "Oh, pe-pengumuman itu… maksudku… ka-kalian ter—"

SRET

Pintu kelas terbuka. Seorang pria kekar berambut cokelat dengan aksen putih di pelipisnya masuk. Pria itu mengenakan seragam khas tentara dan sepatu boot yang mempertegas suara langkahnya.

"Kenapa Anda harus bertele-tele dalam menyampaikan kabar gembira itu, Hiyama-san?" pria kekar itu tersenyum penuh makna. Dia lalu memfokuskan matanya pada ketiga puluh penghuni kelas 12.3. Luka merasa ngeri dipandangi oleh sepasang mata elang yang menakutkan itu. Perutnya terasa terlilit. Dan sepertinya bukan hanya dia yang merasakan semua itu. Neru, Yukari, Oliver, bahkan Gumi yang selalu cuek pada semua hal.

"Selamat! Kalian terpilih sebagai siswa angkatan ketiga CRYPTON WAR SCHOOL," seru pria itu melanjutkan ucapan Hiyama-sensei yang tadi sempat terputus. "Panggil aku Big-Al. Dan aku akan menjadi wali kelas kalian yang sebenarnya."

Luka nyaris tersedak.

.

.

.

"Apa? Aku enggak budek, kan?"

Yoshizawa Aria—Absen 30

.

.

.

~to be continued~

a/n

Sial, aku enggak ahli membuat kata-kata yang impresif. Harus belajar dari author lain, nih. Btw, makasih yang udah baca prolognya. Terutama Kuro Rei-chan dan Nekuro Yamikawa. Danke!