Tittle : With

Author : Elwing Wu

Length : Chapter or? Tergantung~

Genre : Engg, entahlah baca aja .—.

Pair : Sabaku no Gaara x Yamanaka Ino

Rated : ._.


TOK TOK TOK

"Masuk"

.

.

.

.

.

Dari sinilah awal yang tidak terduga dimulai

CLEK

"Permisi Kazekage-sama," Shikamaru masuk ke ruang Kazekage dengan Ino di belakangnya.

"Kau terlalu formal, Shikamaru," balas Gaara.

"Formalitas hanya kutunjukkan saat di depan banyak orang dan saat membuka ruanganmu. Sudahlah itu tidak penting, ini, aku sudah membawanya dengan selamat. Tolong kau jaga dia. Jangan sampai dia lupa makan dan mandi. Kuserahkan sepenuhnya dia padamu," ujar Shikamaru sambil menepuk bahu Ino di sebelahnya.

"Kenapa kau terdengar seperti seorang ayah yang mengantarkan putrinya pada calon suaminya, hah?," bisik Ino pada Shikamaru. "Oh-Ohayou gozaimasu, Yamanaka Ino desu. Yoroshiku onegai shimasu," ujar Ino sambil membungkuk sembilan puluh derajat pada Gaara.

"Ah, putriku ini sangat manja, kuharap kau bisa memakluminya. Dia suka sekali merajuk, jangan menganggap terlalu serius dengan apa yang dia inginkan. Kalau keinginannya sudah diluar batas kewajaran, abaikan saja,"

"Shikamaru," desis Ino.

"Kukira cukup itu dariku, aku undur diri dulu," ujar Shikamaru sambil berbalik kemudian menepuk bahu Ino –lagi– "Sisanya kuserahkan padamu Ino. Jangan membuatnya repot. Hah, kau cepat sekali dewasa," Shikamaru meremas sedikit bahu Ino ditambah dengan muka yang dibuat seperti seorang ayah yang tidak rela melepaskan sang putri pada calon menantunya.

"Berhenti bersikap seperti itu. Aku ingin muntah," ujar Ino dengan menutup mulutnya. Shikamaru hanya memberikan cengirannya pada Ino kemudian berlalu sambil melambaikan tangannya.

"Ne, Yamanaka-san," panggilan Gaara membuyarkan death glare yang diarahkan Ino untuk Shikamaru.

"Hai'," Ino segera memfokuskan dirinya pada Gaara.

"Kuharap kau bisa bertahan di sini,"

"Ha—Ne?,"

"Maksudku, dari yang dikatakan Shikamaru, aku mungkin tidak bisa mengabulkan semua keinginanmu. Kuharap kau bisa mengerti,"

"I—iie, jangan dengarkan apa yang Shikamaru katakan. Saya tidak mungkin meminta yang macam-macam," ujar Ino sambil memalingkan wajah dan mengepalkan satu tangannya, "Awas saja kau Nara Shikamaru. Akan kubuat jus nanas dari kepalamu!," tanpa sadar Ino menyuarakan isi hatinya dengan keras dan tentu saja Gaara bisa mendengarnya dengan jelas.

"Hump," Gaara berusaha menyembunyikan senyum di balik punggung tangannya, "Wakattaso, kalau kau butuh sesuatu katakan saja padaku,"

"A-a—Hai'," gagap Ino 'Apa dia tadi tersenyum? Tersenyum? Iie-iie, mungkin hanya imajinasimu Ino. Iya, imajinasi, hanya imajinasi' Ino tidak mau terlalu lama tenggelam dalam innernya, "Kalau begitu saya undur diri, Kazekage-sama," pamit Ino sambil menundukkan kepala.

"Gaara,"

"Ne?," Ino mengangkat kepalanya dan matanya langsung berhadapan dengan tatapan Gaara.

"Kau bisa memanggilku 'Gaara' dan jangan terlalu formal padaku, rasanya terlalu kaku,"

"Dammedesu, anda adalah seorang Kage. Karena itu, bicara non-formal dan memanggil dengan nama kecil anda, saya rasa tidak sopan. Sumimasen deshita, saya permisi,"


Ino sides

"Woah, aku selamat. Rasanya seperti baru keluar dari sauna. Hanya perasaanku saja atau memang di ruang Kazekage tekanannya seberat itu? Sugee, benar, begitulah seharusnya tekanan yang dirasakan saat memasuki ruangan seorang pemimpin desa. Hah, benar-benar berbeda dengan di Konoha. Tapi, tatapanya tadi seperti— Iie, jangan memikirkannya Ino, kau harus menyelesaikan misimu ini dengan segera. Benar-benar, soo ka, lalu selanjutnya— Are? ARERE?!,"


Author sides

"Tunggu, bukankah aku belum memberinya –Ino– tugas?,"

TOK TOK TOK

CLEK

"Sumimasen, Kazekage-sama, anda belum memberi saya tugas," Ino benar-benar merasa kikuk sekarang 'Kenapa kau bisa sebodoh ini Ino? Memalukan' maki inner Ino dalam hati.

"Kau bisa menemui Chiyo-baasan untuk mengetahui tugas lengkapmu. Anri!,"

"Hai', Kazekage-sama," tiba-tiba muncul seorang wanita di sebelah Ino.

"Tolong antarkan dia menemui Chiyo-baasan dan antarkan juga ke tempatnya tinggal selama di sini,"

"Hai', wakarimashita,"

"Kau bisa pergi dengannya"

"Hai',"


"Ah, aku Ino, Yamanaka Ino. Kau?," Ino mengulurkan tangannya.

"Anri, Mizukani Anri," balas Anri sambil menjabat tangan Ino.

"Soo, boleh kupanggil Anri-chan?,"

"Hai',"

Bukan tanpa alasan Ino memanggil Anri dengan nama kecil ditambah dengan menambah suffix '–chan' dibelakangnya, itu karena sepertinya umur Anri masih dibawah Ino. Ya di bawah, tidak terlalu bawah, hanya beberapa tahun, ya-ya, beberapa tahun. Lagi pula Ino masih muda, dia baru 24 tahun, iie, 25, akan 25 tahun beberapa bulan lagi dan sepertinya Anri berumur sekitar 17 atau 18 tahun. Hanya berbeda 7 atau 8 tahun dari Ino. 'Ada apa denganmu Ino? Jangan memikirkannya! Jangan! Ganti topik pembicaraannya! Ganti!'.

"Ne, Mizukani Anri,"

"Hai',"

"Namamu sangat cantik. Sama seperti pemiliknya,"

"Iie, Yamanaka-san lebih cantik,"

"Kau bisa mengatakan yang sebenarnya Anri-chan. Tidak perlu membalas pujianku,"

"Iie, aku mengatakan yang sebenarnya. Yamanaka-san sangat cantik, pasti banyak yang menyukai dan memperebutkan Yamanaka-san,"

Tiba-tiba Ino menghentikan langkahnya, "Ne, Anri-chan, wajah yang kau bilang cantik ini adalah wajah dari seorang wanita yang sampai sekarang masih melajang," ujar Ino dengan aura suram disekitar tubuhnya.

"Uso! Yamanaka-san sangat cantik, apa semua laki-laki di desa Yamanaka-san buta? Bagaimana mereka tidak bisa melihat kecantikan Yamanaka-san ini?," Ino langsung memeluk Anri dengan erat.

"Ne-ne, Anri-chan, mereka semua buta. Hardik mereka semua. Hardik!," dan perjalanan mereka diisi dengan sindiran halus bernada kasar dari Anri.

"Oh, kita sudah sampai,"

"Eh, di sini?,"

"Hai',"

Anri menghentikan langkahnya di depan pintu besar yang terbuat dari kaca. Dari balik pintu bisa terlihat banyak tanaman hijau dan bunga yang memenuhi tempat itu. Ino dibuat terkagum olehnya 'Apa benar sekarang aku ada di Suna? Iie, mungkin saja sekarang aku bukan ada di Suna, tapi di surga'

"Di, tempat ini?,"

"Hai',"

"Di sini aku akan melakukan tugasku?,"

"Hai',"

"Uso,"

"Hai',"

"Are?,"

"Iie, maksudku iie. Hehehe," Anri menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Karena terlalu terbuai dengan pertanyaan Ino yang membutuhkan jawaban 'iya', secara reflek mulutnya mengatakan 'iya' untuk pertanyaan Ino tadi.

"Kau di sini, Anri-chan?," dari balik pintu muncul seorang wanita –nenek-nenek lebih tepatnya– yang tidak lebih tinggi dari Ino, kulitnya sudah berkeriput, tetapi Ino merasakan aura yang penuh dengan wibawa di sekitarnya.

"Ah, Chiyo-baasan, kebetulan obaasan ada di sini. Ini, dia adalah utusan dari Konoha,"

"Ohayou gozaimasu, Yamanaka Ino desu. Yoroshiku onegai shimasu,"

"Ne, yoroshiku. Kalau begitu ayo masuk Ino-chan, aku akan menjelaskan tugasmu di dalam,"

"Hai',"

SKIP

"Kau bisa mulai tugasmu besok, kau pasti lelah setelah perjalananmu dari Konoha,"

"Hai'," Ino tersenyum canggung 'Sebenarnya tidak selelah itu karena setengah perjalanan kuhabiskan dengan bergelayut di kaki Shikamaru dan setengahnya lagi aku meminta Shikamaru menggendongku' inner Ino.


"Di sini tempat Yamanaka-san akan tinggal selama di Suna. Kuharap Yamanaka-san akan betah di sini,"

"Hai', arigatou Anri-chan. Ne, kau boleh memanggilku 'Ino' kalau kau mau,"

"Eh, hontou?,"

"Um,"

"Kalau begitu, 'Ino-san'?,"

"Um,"

"Etto, oyasuminasai, Ino-san,"

"Hai', oyasumi, Anri-chan. Mata ne,"

"Hai', mata ashita,"


Ino sides

Aku langsung merebahkan tubuhku di ranjang setelah Anri pergi. Aku bersyukur tempat kerjaku benar-benar seperti yang di katakan Shikamaru, bahkan lebih menakjubkan dari perkiraanku sendiri. Rumah kaca tempat penelitianku menjadi satu dengan menara Kage, tempatnya sangat luas, banyak tumbuhan di dalamnya, di sana terasa seperti dunia lain yang berkebalikan dengan Suna, hutan buatan yang dibuat di tengah gurun gersang dibatasi oleh kaca tembus pandang khusus yang membiarkan cahaya matahari masuk, tetapi menjaga tempat di dalamnya agar tidak panas, seperti kabut mistis yang membatasi dua dunia. Aku masih tidak mengerti bagaimana cara kerja kaca itu, tapi aku ingin memiliki kaca yang seperti itu di rumahku.

"Ah, aku bisa membayangkan tidur di dalamnya,"

Penginapanku juga tidak jauh, bahkan ada di sebelah menara Kage. Aku sangat bersyukur untuk itu karena itu berarti aku tidak perlu berjalan jauh di tengah panas terik Suna saat akan berangkat ataupun saat pulang dari tempat kerjaku. Sebelumnya aku sempat berpikir untuk berangkat pagi buta dan pulang saat tengah malam untuk menghindari sengatan matahari di sini. Konyol. Tempat ini nyaman, tetapi tidak ada tumbuhan di sini, tidak satupun, bahkan lumut pun tidak ada. Rasanya seperti dibangunkan dari mimpi indahku. Tunggu, apa aku sekarang bermimpi? Apa aku sekarang masih tertidur di gendongan Shikamaru?

PLAK

Aku menampar kedua pipiku sendiri, "Benar, kau tidak sedang bermimpi Yamanaka Ino. Jangan khawatir, besok kau akan ke sana lagi, ke tempat indah itu lagi. Bersabarlah, sekarang kau harus mandi lalu tidur, yosh,"


Author sides

Keesokan harinya

"Oh, Ino-chan, kau sudah di sini?," tanya nenek Chiyo yang melihat Ino sudah datang lebih dulu darinya.

"Hai'. Ohayou, Chiyo-baasan," jawab Ino 'Sebenarnya aku tidak bisa tidur tadi malam'

"Kau tidak perlu memaksakan dirimu, Ino-chan,"

"Iie, aku baik-baik saja. Aku sudah siap melakukan tugasku,"

"Soo ka," bibir nenek Chiyo terangkat membentuk senyum.

"Hai'," Ino membalasnya dengan senyum yang sangat manis.


Sore hari

"Setelah ini, apa jadwalku?," tanya Gaara pada Baki.

"Anda hanya akan menemui para tetua untuk membicarakan kerja sama yang akan dilakukan dengan desa lain, setelah itu ada beberapa laporan yang harus anda tandatangani,"

"Hnn," gumam Gaara. Gaara tahu, pertemuan dengan para tetua nantinya akan menghabiskan waktu lama dan 'beberapa' laporan yang harus dia tandatangani pasti jumlahnya bukan beberapa lembar, tetapi beberapa tumpuk. Yang Gaara tidak pahami adalah bagaimana hidup seorang Kage bisa semonoton ini. Kehidupannya hanya berputar pada pertemuan dan laporan. "Hah," Gaara menghela napasnya.

"Daijoobu desuka, Gaara-sama?,"

"Hn, daijoobu," saat itulah Gaara melihat Ino yang sepertinya sedang membawa beberapa tumpukan kertas dan buku di kedua tangannya.

"Yamanaka,"

"Hai'? Oh, Kazekage-sama, ohayou gozaimasu,"

"Kau butuh bantuan?,"

"Iie, daijoobu desu. Saya bisa sendiri," Gaara langsung merebut sebagian besar kertas yang dibawa Ino.

"Eh, Kazekage-sama?,"

"Iku zo, kau mau ke rumah kaca, 'kan,"

"Hai'. Tapi anda tidak perlu—" Ino tidak sempat menyelesaikan kata-katanya karena Gaara sudah berjalan duluan. Terpaksa dia mengikuti langkah kaki Gaara.

"Kau tidak mau berjalan di sebelahku?," tanya Gaara dengan melihat Ino di belakangnya.

"Iie," Ino buru-buru mensejajarkan langkahnya dengan Gaara.

"Kau sudah makan?,"

"Hai',"

"Tidak lupa mandi, 'kan?,"

"Hai'. Eh? Ne?" otak Ino baru mencerna sebagian informasi yang diterima telinganya, setelah tercerna seutuhnya, wajah Ino menghangat, "Sumimasen, Kazekage-sama, maksud anda?,"

"Pesan dari Shikamaru. Bukankah aku harus menjaga dan mengingatkanmu untuk tidak lupa makan dan mandi?,"

"Ne, etto, anda tidak perlu melakukannya. Shikamaru terlalu berlebihan, jangan dengarkan dia,"

"Soo ka? Tapi aku akan tetap melakukannya,"

"Ne?,"

"Kau suka tempat kerjamu?," Gaara merubah topik pembicaraan.

"Ah, hai'. Tempatnya indah, iie, sangat indah," Ino tersenyum saat mengatakannya dan Gaara juga ikut tersenyum saat melihat Ino, walaupun senyumnya samar.

"Hnn, kau belum membutuhkan sesuatu?,"

"Ne?," kemudian Ino sadar akan pertanyaan Gaara, "Kazekage-sama, jangan dengarkan apa yang Shikamaru katakan. Walaupun tidak semuanya bohong, tapi saya berjanji saya tidak akan merepotkan siapa pun selama ada di sini, saya akan melakukan pekerjaan saya dengan sepenuh hati. Anda boleh menghukum saya, jika saya merajuk atau merengek,"

"Padahal aku ingin mendengar rengekan dan rajukanmu," gumam Gaara.

"Ne, apa anda mengatakan sesuatu, Kazekage-sama?,"

"Kita sudah sampai," Gaara langsung mengalihkan pembicaraan.

"Ah, ne. Terima kasih sudah membantu saya, Kazekage-sama,"

"Hn,"

"Ino-san! Ah, Kazekage-sama, ohayou gozaimasu. Gome ne Ino-san, tolong bantu kami di sana. Kami tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan akar-akar itu,"

"Hai', aku akan ke sana. Saya permisi, Kazekage-sama,"

"Hn," hanya itu jawaban Gaara. Tapi setelah Ino pergi, Gaara terus memperhatikannya dan tanpa sadar tersenyum melihat Ino yang sedang bekerja. Bagaimana cara menjelaskannya, ya? Entahlah, Ino terlihat, 'cantik'? Tanpa Gaara sadari nenek Chiyo dan Baki melihatnya tersenyum. Mereka melihat Gaara dan Ino secara bergantian dan ikut tersenyum.

"Bukankah Ino-chan sangat cantik, Kazekage-sama?,"

"Hn," tanpa sadar Gaara menjawab pertanyaan nenek Chiyo yang baru dia sadari ada di sebelahnya.

"Ino-chan ga, suki?,"

.

.

.

.

.

TBC

Hah, gomen-gomen, author baru kembali dari tempat pengasingan (bow) (Alesan lu, thor (/`O')/) Oke, sepertinya ada yang menunggu fic author ini (Banyak, thor -,,-) So, mungkin banyak terjadi typos di sana-sini, author minta maaf (bow) Mohon kritik dan saran dari readers sekalian (bow) Yoroshiku onegaishimasu (bow)