Berhenti, berhenti! Semuanya berhenti."

Jiyong menghela nafas kesal. Dia mengusap pelipisnya, berharap itu bisa mengurangi rasa sakit yang menyerang kepalanya. Di dalam ruang rekaman, maknae Big Bang, Seungri, menatap Jiyong dengan bingung. Dia sudah melakukan semua yang Jiyong minta, mencapai nada yang tepat dengan penekanan yang tepat. Tapi bahkan setelah berkali-kali mengulang rekaman bagiannya, leadernya ini tidak juga puas. Dia sudah rekaman sejak sore dan tenggorokannya sudah mulai sakit, dia tidak tahu lagi apa yang membuat Jiyong tidak puas kali ini.

"Apa kau tidak mengerti apa yang aku mau? Kenapa kau terus mengulang kesalahan yang sama? Maknae? Kenapa?"

"A.. aku," Seungri menjawab dengan gugup. "Aku sudah memperbaiki poin-poin yang kau koreksi tadi, Hyung."

Jiyong kembali menghela nafasnya, sambil melirik ke arah jam dinding di ruang latihan itu. Sedikit kaget Jiyong mendapati kalau jam sudah menunjukkan pukul setengah 10 malam. Dirinya sudah berada di studio selama hampir 36 jam. Apakah dia harus berhenti hari ini? Tunggu, ini bahkan sudah bukan hari yang sama dengan hari dia memulai rekaman mereka. Seungri sudah berada di dalam ruang rekaman selama hampir 5 jam. Mata Jiyong beralih ke para member yang tampak lelah di dalam studionya. Youngbae duduk di salah satu sofa dengan mata terpejam, sementara Daesung terangguk-angguk mengantuk di bahu Youngbae. Mereka lelah dan bosan karena sudah sejak siang berada di studio itu, menunggu Seungri menyelesaikan part-nya agar mereka bisa mendengar gabungan bagian lagu yang sudah mereka rekam. Mata Jiyong lalu menangkap sosok yang sedang terbaring di sofa lain yang ada di ruangan itu. Seunghyun. Anggota tertua mereka itu sedang sakit, dan meminta giliran rekaman terakhir untuk beristirahat agar sakit kepalanya berkurang. Dia hanya akan merekam bagian rap-nya, jadi dia mengalah dan membiarkan para vokal di bandnya untuk rekaman duluan agar bisa segera mereview hasilnya. Meskipun Jiyong sedikit keberatan, tapi Jiyong tidak bisa menolak permintaan Seunghyun. Bagaimanapun Seunghyun adalah Hyungnya. Kalau Seunghyun harus menunggu sampai pagi karena yang lain tidak selesai-selesai, itu masalahnya sendiri. Jiyong tidak mau peduli.

"Cepat kau keluar dari sana, kita lanjutkan saja besok," Jiyong akhirnya berkata. Sia-sia saja. Meskipun mereka rekaman sampai esok hari, tetap saja Seungri tidak akan bisa memberinya hasil yang sempurna, karena anak itu sudah terlalu lelah. Youngbae dan Daesung yang belum benar-benar terlelap langsung membuka matanya mendengar ini. Semuanya tampak lega dengan keputusan Jiyong.

"Kita benar-benar selesai, Hyung? Kami sudah bagus kan?"

"Betul-betul menyakiti telinga," tanpa mempermanis kalimatnya, Jiyong menjawab Daesung. Wajah pemuda bersuara emas itu langsung cemberut. Dia tahu Jiyong orang yang lugas, dan Daesung adalah orang yang berusaha untuk tidak menunjukkan kekesallannya pada leader yang sangat dia hormati ini, tapi tetap saja dia kesal karena tidak menghargai mereka yang sudah mati-matian berusaha memberikan hasil yang sempurna bagi lagu baru mereka. "Kita lanjutkan rekaman..," Jiyong melirik layar ponselnya untuk melihat jam dan tanggal, "..besok malam."

Perkataan Jiyong itu membuat para membernya, terutama Seungri yang baru saja keluar dari booth rekaman, protes.

"Jiyong!"

"Hyung~!"

"Jangan mengeluh. Kalian harus datang besok malam, aku tidak mau dengar alasan apapun. Kita punya deadline yang harus kita kejar," sambil mengusap matanya yang lelah, Jiyong mengambil mug di hadapannya dan menenggak kopinya. Dia mengerti membernya kewalahan dengan jam rekamannya yang 'tidak wajar'. Dirinya memang seorang perfeksionis yang tidak akan berhenti menyempurnakan pekerjaannya sampai dirinya merasa puas. Dan dalam proses penyempurnaan itu, seringkali Jiyong lupa kalau member Big Bang, juga staff mereka, hanyalah manusia. Seperti sekarang ini, semua sudah berpamitan untuk pulang, tapi dia masih tinggal di situ untuk memoles lagu-lagu mereka yang akan datang dan melihat apa yang harus mereka perbaiki lagi.

Seungri, yang masih beres-beres dan menyuruh Youngbae dan Daesung untuk pulang duluan, akhirnya beranjak ke pintu sambil menguap. "Baiklah, Jiyong Hyung. Aku pam—eh, Seunghyun Hyung masih di sini?" Seungri melihat Seunghyun masih meringkuk di atas sofa dengan tas Seungri sebagai bantalnya. "Jiyong Hyung~, Seunghyun Hyung tidur di atas tasku~"

Tanpa menoleh mendengar rengekan Seungri, Jiyong berkata, "Bangunkan sajalah. Kenapa kau harus mengadu sih untuk hal sepele begini?"

"Tsk," Seungri berdecak, menatap Jiyong dengan tidak percaya. "Kenapa kau sangat kejam, Hyung? Seunghyun Hyung sedang sakit, mana mungkin aku membangunkannya begitu saj—" perkataannya terhenti ketika sosok Jiyong berdiri dari kursinya dan berjalan melewati Seungri, ke arah Seunghyun.

"Hyung, bangun. Kau tidur di atas tasnya maknae.."

Seunghyun terduduk dengan kaget ketika bahunya diguncang dengan keras. Seungri merasa bersalah ketika melihat wajah bingung Seunghyun, matanya merah dan rambutnya acak-acakan.

"Huh? Huh? Ada apa? Kenapa?" suara Seunghyun masih berat dengan kantuk, otaknya belum sepenuhnya bangun. Kepalanya terasa seperti dipukul oleh palu besar karena dibangunkan dengan tiba-tiba.

"Seungri mau pulang, dan kau tidur di atas tasnya," dengan santai Jiyong meninggalkan Seunghyun yang masih linglung dan kembali ke tempatnya di belakang meja mixing.

Seungri menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan apa yang barusan dilakukan Jiyong pada Seunghyun. Bisa-bisanya Jiyong setega itu?

"Huh?" Seunghyun dengan bingung melihat ke benda yang tadi menjadi alas kepalanya, dan segera mengambilnya untuk menyerahkannya pada Seungri. "Oh, sorry, Maknae."

"Tidak apa-apa, Hyung," Seungri tersenyum pada Hyungnya itu, menerima tas ranselnya yang disodorkan kepadanya. "Kau mau pulang bersamaku, Keun Hyung?"

"Uuuh," Seunghyun melirik Jiyong sekilas. "Aku.. sudah janji dengan Jiyong sebenarnya . Kami akan—"

Mendengar perkataan Seunghyun, Jiyong berhenti menari, membalik badannya menghadap Seunghyun dan Seungri. "Ah, aku lupa bilang, Seunghyun, Kiko.. datang dari Jepang tadi jam 2 dan dia.. memintaku untuk mampir ke hotelnya nanti. Kau pulang saja dengan maknae."

Sesaat ruangan itu hening. Seungri melongo mendengar perkataan Jiyong barusan. Apa dirinya tidak salah dengar? Tanpa meminta maaf Jiyong menyuruh Seunghyun pulang begitu saja? Matanya beralih pada Seunghyun yang tampak tidak tahu harus merespon apa.

"Um.. Aku.."

"Kau pulang denganku Hyung," melihat Seunghyun sudah akan protes, Seungri berdecak. Dengan wajah kesal Seungri menggamit lengan Seunghyun beranjak menyeret Seunghyun yang masih terduduk di lantai ke pintu. "Jiyong Hyung bisa naik taksi, atau jalan kaki ke tempat perempuan menyebalkan itu—"

"Hey!" Jiyong protes mendengar Seungri menyebut pacarnya begitu.

"—tapi kau pulang denganku. Ayo," Seungri kesal. Dia kesal pada tingkah Jiyong, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia lebih muda dari Jiyong dan pantang baginya untuk berperilaku tidak sopan pada orang yang lebih tua darinya. Dia tidak suka melihat Jiyong memperlakukan Seunghyun seperti itu, dan Hyung tertuanya itu benar-benar membuatnya gemas karena terlalu lembek dan terlalu cinta pada Jiyong untuk membalas perlakuan buruk Jiyong padanya.

"Tapi.. rekaman?"

"Kau boleh datang kapan saja. Kau tahu kau selalu berhasil dalam sekali rekaman, tapi aku menyuruh para member datang jam 7 malam besok," Jiyong menjawab Seunghyun, tanpa sekalipun mengalihkan matanya dari layar komputer. Memang benar, Seunghyun termasuk salah satu member – satu-satunya member – yang bisa memuaskan Jiyong dalam sekali rekaman dan tidak mendapat banyak teguran dari Jiyong. Mungkin karena mereka sudah sering sekali menggarap lagu band mereka berdua sejak sebelum debut dan sudah sangat terbiasa dengan style dan cara bekerja satu sama lain.

Dengan berat hati, Seunghyun akhirnya setuju untuk pulang bersama maknae. Dia membereskan barang-barangnya, dengan dibantu maknae dia berdiri, sedikit limbung pada awalnya. Seunghyun mendekati Jiyong, melakukan ritual wajibnya sebelum berpisah dengan Jiyong. Dia mengusap pucuk kepala Jiyong dan mengacak rambutnya sedikit sambil mengingatkan Jiyong agar tidak lupa istirahat – yang dijawab Jiyong dengan sebuah dengusan menghina dari hidungnya.

"Berkaca. Hyung. Siapa menurutmu yang butuh istirahat, aku atau kau," bisik Jiyong. Tapi Seunghyun mendengarnya dan itu cukup untuk membuatnya tersenyum sebelum mengikuti maknaenya keluar dari ruangan itu.

"Jiyong Hyung itu! Kelakuannya itu! Setiap hari semakin parah! Aku tidak tahan! Kok kau (informal) tahan sih?"

Seungri berteriak frustasi dengan ludahnya menghujani wajah Seunghyun. Seunghyun mengusap wajahnya dengan lengan sweaternya, dan terkekeh melihat kemarahan dongsaengnya. ""Kau ngaca tidak sih, Seungri-ah? Kau (informal)?"

Seungri terdiam. Bibirnya mengerucut cemberut, tubuhnya bersandar di kursinya seraya memberikan Seunghyun wajah merengut yang lucu. "Hyung aku benci padamu (formal)."

Seunghyun tertawa, tapi mengangguk pada Seungri. "Nah, itu lebih baik, maknae," tawanya mereda, tapi sebuah senyum kecil masih mengiasi wajahnya. "Dia hanya lelah."

"Apa dia selalu lelah, Hyung? Setiap menit setiap detik? Dia selalu kasar dan tidak sopan, baik kata-katanya, perilakunya! Kalau dia tidak lebih tua dariku pasti sudah ku.. sudah aku.. uuurrrrgh!"

"Shish, tenang, maknae," Seunghyun kembali terkekeh. "Kau ini maknae di band ini, terima nasibmu sajalah."

"HYUNG!" Seungri menoleh pada Seunghyun dengan mata terbelalak. Dia tidak percaya Seunghyun masih saja membela Jiyong meskipun dia memperlakukan Hyungnya tanpa rasa hormat begitu. "Kau ini.. Ah kau benar-benar jatuh cinta pada orang yang.. kenapa sih kau harus jatuh cinta pada dia, Hyung?"

Seunghyun tersenyum mendengar pertanyaan ini. Meskipun fans menganggap dirinya dekat dengan Daesun, sebenarnya dia paling dekat dengan Seungri. Selain dengan Jiyong, tentu saja. Seungri adalah satu-satunya orang yang tahu perasaannya pada Jiyong. Ya, Seunghyun menyukai Jiyong. Dia jatuh cinta pada Jiyong. Dia sudah menyukai Jiyong sejak.. mungkin pada pandangan pertama. Dia tidak yakin Youngbae atau Daesung akan menerima kenyataan bahwa member tertua ini mereka menyukai Jiyong yang.. adalah seorang laki-laki juga, karena mereka adalah orang yang sangat religious. Dengan Seungri, semuanya selalu mudah. Tidak banyak yang tahu kalau di antara mereka berdua, Seungri lebih sering bersikap seperti seorang Hyung dibandingkan dirinya.

"Aku hanya.. berusaha menjaga perasaan semuanya, maknae-yah. Aku tahu, keadaan tidak akan menjadi lebih baik kalau aku berkata-kata buruk tentang Kiko. Dia akan membelanya, aku tahu itu."

Entah kenapa, ada nada perih di suara Seunghyun yang membuat hari Seungri sakit. Andai saja Jiyong tahu perasaan Seunghyun. Kenapa Jiyong tidak sadar kalau Kiko hanya memanfaatkan dirinya untuk mendekati teman mereka, Soohyuk. Semua bisa lihat itu, bahkan Soohyuk sendiri juga sadar dan berusaha menjauhkan Jiyong dari Kiko. Tapi itu semua sia-sia. Jiyong seringkali meremehkan keberadaan orang-orang yang peduli padanya, yang benar-benar menyayanginya seperti dirinya, Youngbae, Dongwook, Hyunsuk, Seunghyun dan anggota YG Family lainnya. . Terutama Seunghyun, yang selalu ada untuknya sejak mereka masih sangat muda. Semua memang tahunya Youngbae-lah teman Jiyong berjuang sejak masa trainee. Tapi tidak ada yang tahu kalau Jiyong selalu lari pada Seunghyun di saat keadaan memojokkannya. Seunghyun menurunkan 20kg berat badannya dalam 40 hari agar bisa masuk ke perusahaan manajemen yang sama dengan Jiyong, hanya supaya dirinya lebih mudah menangkap Jiyong saat pujaan hatinya itu jatuh dalam depresi dan keterpurukan.

Jiyong adalah seseorang yang berbakat, juga dikaruniai wajah yang tampan sehingga dia tidak tahu betapa sakitnya Seunghyun ketika dia mengkritik gerakan Seunghyun yang sering tidak sesuai dengan yang lain, atau bagaimana perasaan Seungri ketika Jiyong meledek suaranya yang terkadang off-beat dan sedikit meleset nadanya. Jiyong tidak tahu perasaan Daesung ketika dia tertawa setuju mendengar komentar orang yang mengatakan kalau Daesung beruntung YG memilih orang berdasarkan bakat dan bukan wajah, atau meledek tubuh Youngbae yang tidak setinggi member lain. Seungri seringkali berdoa dan sangat berharap doanya dikabulkan. Doa agar Jiyong mengerti perasaan mereka, agar sekali-sekali Jiyong bisa berada di posisi mereka, sehingga dia bisa lebih menghargai mereka. Lebih menghargai keberadaan mereka untuk dirinya.

Sambil memejamkan matanya, Seungri memperbaiki posisinya. Menyandarkan kepalanya di bahu Seunghyun, Dia tersenyum ketika Seunghyun juga menaruh dagunya di atas kepala maknaenya. Pemuda yang lebih tua itu tidak terlalu suka skinship, tapi dia mau melakukannya untuk Seungri. Tidak lama kemudian, keduanya sudah lelap di dalam tidur mereka, tanpa tahu kalau di suatu tempat di atas sana, malaikat mendengar doa Seungri. Dia menyampaikan doa itu pada Tuhan, dan tidak ada yang menyangka, doa Seungri hari itu dikabulkan.

A/n

Terimakasih sebesar-besarnya pada Unknown Banget atas reviewnya. Tanpa dia aku tersesat dan membawa kalian tersesat bersamaku hahaha. Jadi sejarah fanfic ini begini... Aku pertama bikin fic ini beberapa tahun lalu dalam versi bahasa Inggris dengan pairing GTOP, yang aku post di Asianfanfics. Lalu ketika mulai suka sama pairing KrisHan dari EXO, dan kenal beberapa shipper yang merequest cerita ini dibuat versi KrisHan, aku ubah namanya dan aku translate ke bahasa Indonesia. Nah ketika aku bikin versi GTOP bahasa, aku hanya kopi dari versi KrisHan dengan menyesuaikan kembali nama dan beberapa situasinya. Dokumen ini udah aku cek berulang-ulang tapi ternyata masih ada yang luput. So terimakasih atas peringatannya. Aku harap ke depannya kalian terus bisa mengingatkan aku walaupun aku ga berharap akan ada kesalahan fatal kayak gini lagi haha*

Okaaaay. Selamat Menikmati!