Annyeong~ (ノ^_^)ノ
Alhamdulillah, akhirnya Hana bisa melanjutkan fanfic ini. Hana gak tau mau bicara apa lagi? So, let's read!
Special thanks to : Guest, Diana, and Silent Reader maybe.
"Aku mohon bantuannya untuk menjaga Miyon. Grup Moozat selalu mencoba untuk menculik Miyon setiap saat," ucap seorang bapak-bapak dengan rambut hijau tosca.
"Tenanglah tuan Mizuki. Kami telah di tugaskan OSST untuk menjaga Miyon," kata pria dengan rambut hitam.
"Kami akan melindungi Miyon dari Grup Moozat dan kami akan menangkap anggota Grup Moozat. Karen tugas Team Z untuk melakukan misi penghancuran Grup Moozat dan perlindungan korban Grup Moozat," terang gadis denan rambut blonde.
Kamichama Karin © Koge-Donbo
Protection by Hana Kazusa Laytis
Warning : GaJe, Aneh, Sulit dipahami, Deskripsi buat pusing, OOC, OC, AU, Typo & Miss Typo berterbaran, De Es Be.
2 : Sniper
"Jadi, kita akan mengikuti segala aktifitas Miyon, terutama yang berada di luar rumah," ucap Jin di acara rapat perencanaan misi mereka.
"Baiklah. Aku mengerti," jawab Kazusa.
"Dan untuk penangkapan Grup Moozat, kita harus menunggu sepertinya. Kita butuh banyak informasi untuk menangkapnya," terang Jin. Kazusa hanya menganggukan kepalanya. Ia segera berdiri dan sedikit merapikan pakaiannya—baju berwarna putih dengan lengan sesiku, celana pendek coklat selutut, serta jaket tanpa lengan yang mirip rompi berwarna coklat.
Pakaian Kazusa terkesan terlalu santai kan? Ya. Dia tak ingin tampil mencolok karena keberadaan agen OSST harus dirahasiakan dan yang boleh tahu hanya beberapa instansi saja. Jin memakai ham berwarna dark blue dengan celana jeans hitam dan jas berwarna hitam.
"Oh... Iya, jangan membawa senjata yang terlalu mencolok saat mengawal Miyon. Kau paham kan Bunny Girl?" tanya Jin memastikan.
"Ish... Kau ini aku tadi sudah menganggukan kepala saat kita tadi membahas senjata! Jadi, aku paham! Dan berhentilah memanggilku Bunny Girl! Aku tak menyukai panggilan anehmu itu!" seru Kazusa.
"Kau cocok di panggil Bunny Girl, kau tau? Kau mirip kelinci," ejek Jin.
"YAA! DIAMLAH!" Kazusa semakin meninggikan suaranya. Ia sudah berpikir kalau satu kelompok dengan Jin adalah hal terburuk yang pernah terjadi.
Segera saja ia bangkit, lalu mendekati tembok berwarna putih yang berada di utara. Di tembok itu ada sebuah kotak berwarna hitam dengan tutup kaca. Di kotak itu ada deretan angka dari 0 hingga 9 dan huruf dari A hingga Z. Kazusa membuka tutup kaca itu, segera ia menekan tombol 190876 Zeo yang merupakan kata sandi.
Setelah kata sandi di terima, tembok itu terbelah menjadi dua dan bergeser otomatis menunjukkan sebuah ruangan. Ruangan yang berwarna putih dengan beberapa meja putih bertutup kaca. Di meja itu ada bermacam senjata lengkap, mulai dari pisau, pedang, panah, dan senapan.
Jin segera mengikuti Kazusa masuk ke ruangan yang biasa di sebut ruang senjata. Kazusa memilih mengambil pisau lipat dan di taruhnya di wadah yang berada di pinggangnya. Tapi, pisau itu tak terlihat karena tertutup rompi coklat Kazusa yang cukup panjang. Ia juga mengambil senjata laras pendek tipe FN FIVE-SEVEN yang dimasukannya di dalam rompinya.
Jin mengambil sebuah senapan laras pendek HECKLER & KOCH di masukan ke dalam jas-nya. Ia juga memilih kotak berwarna hitam yang berisi senapan laras panjang.
"Hei Bunny Girl, tangkap!" Jin melemparkan sesuatu pada Kazusa.
Dengan sigap Kazusa menangkapnya. Ia segera memakai alat yang di lempar Jin—alat komunikasi yang mirip dengan earphone tanpa kabel berwarna hitam. Jin juga memakai alat itu.
"Baiklah, kita siap menjalankan misi."
"Aish... Lama sekali menunggu jam pulang sekolah Miyon," gerutu Jin sambil melirik jam tangannya.
'Ternyata dia tak sabaran,' batin Kazusa melihat tingkah laku Jin yang tak sabaran. Memang sudah cukup lama mereka—Kazusa dan Jin—menunggu Miyon pulang sekolah. Kurang lebih sudah 30 menit. KRIIING—bel pulang sudah berbunyi nyaring. Tak lama beberapa murid segera berhamburan keluar dari sekolah.
Tak lama datanglah seorang gadis dengan rambut hijau tosca mengenakan seragam putih dengan pita hitam di kerahnya dan rok hitam. Ia segera mendekati Kazusa dan Jin.
"Konnichiwa Jin-nii, Kazusa-nee," sapa gadis itu dengan senyum manis.
"Ah! Konnichiwa Miyon," sapa Jin ramah. 'Dia bisa ramah rupanya?' batin Kazusa kaget yang melihat Miyon dan Jin cukup akrab. Awalnya ia mengira Jin akan bersikap dingin dengan Miyon mengingat sudah berapa kali Jin menggerutu karena menunggu jam pulang Miyon lama.
"Acaramu hari ini apa Miyon?" tanya Kazusa pada gadis berumur 10 tahun ini.
"Um... Hari ini aku mau les piano lalu ke toko buku. Mungkin juga jalan-jalan bersama Jin-nii dan Kazusa-nee," ucap Miyon riang. Kazusa tersenyum lembut pada Miyon. Ia segera mengelus rambut hijau tosca milik Miyon. Jin segera berdiri dan sedikit merapikan pakaiannya.
"Baiklah, kita berangkat ke tempat les pianomu Miyon," Jin segera berjalan ke arah mobil Audi S5 metalik miliknya. Miyon duduk di belakang, sedangkan Kazusa duduk di samping Jin. Jin segera melesatkan mobilnya melewati keramaian lalu lintas.
"Um... Kazusa-nee, aku boleh bertanya?" tanya Miyon saat mereka masih di perjalanan.
"Tentu saja boleh," jawab Kazusa ramah.
"Apa Kazusa-nee dan Jin-nii pacaran?" tanya Miyon polos.
Hampir saja Jin akan menabrakan mobilnya ke arah trotoar, namun ia segera konsentrasi mengemudi kembali. Kazusa yang mendengar pertanyaan Miyon juga kaget. 'Apa aku terlihat sangat dekat dengan Jin? Kenapa Miyon bisa mengira aku dan Jin pacaran?' pikir Kazusa. Kazusa melirik Jin tajam 'Mana mungkin aku pacaran dengan cowok aneh seperti dia!' batin Kazusa berapi-api.
"Kazusa-nee~," ucap Miyon sambil menguncangkan tubuh Kazusa.
"Ah! Tidak! Kami tidak pacaran kok Miyon," jawab Kazusa sambil melihat Miyon.
"Oh," Miyon hanya ber'oh'ria "Tapi, kalian serasi lho!" lanjutnya.
Dan kali ini Jin hampir saja membanting stir ke trotoar lagi. Kali ini, Jin harus menjawab atau ia akan syokmendengar banyak pertanyaan Miyon. 'Aish... Miyon mana mungkin aku yang tampan berpacaran dengan kelinci! Aish... Ada-ada saja!' batin Jin.
"Miyon, kami tidak pacaran kok. Oh... Iya, Miyon belum makan siang kan? Nanti mau makan apa?" tanya Jin yang mulai mengganti topik pembicaraan.
"Nanti habis dari toko buku kita makan ke Restoran Korea saja ya!" ucap Miyon riang.
"Baiklah!" jawab Jin sambil kembali berkonsentrasi mengendarai mobil Audi S5-nya.
Jin melirik ke arah jam tangannya 15 menit lagi Miyon akan les piano Miyon akan selesai. Kini mereka berdua tengah berada di cafè yang persis berada di samping tempat les piano Miyon. Jin memperhatikan sekitarnya. Ia melihat gedung pencakar langit yang tinggi di sekelilingnya.
Jin meminum cappucino yang ia pesan. Lalu menarik napas panjang. Tugas menjaga Miyon dari Grup Moozat ternyata melelahkan dan menyusahkan juga. Jin kembali mengamati gendung pencakar langit di sekitarnya.
Di lantai paling atas hotel yang berada di depan tempat les Miyon ada seorang pria dengan rambut hitam mengawasi Kazusa dan Jin. Jin yang merasa ada orang yang mengawasinya menoleh ke lantai atas hotel itu tapi, tak ada apa-apa.
"Bsst... Aku merasa ada yang mengawasi kita," bisik Jin.
"Memang ada yang mengawasi kita. Aku tunjukkan," jawab Kazusa enteng. Sepertinya, Kazusa sudah merasakan keberadaaan orang yang mengawasi mereka dari tadi. Kazusa mengeluarkan ponsel touchscreen miliknya. Di arahkan layar ponselnya itu agak miring. Dan mereka dapat melihat pantulan bayangan seseorang yang sedang mengawasi mereka dengan teropong.
"Menurutmu dia siapa?" tanya Jin.
"Agen Moozat, menurutmu dia sniper atau penembak jitu?" Kazusa berbalik bertanya. Jin mengamati sosok banyangan dari ponsel Kazusa. Ia memperhatikan secara jelas aktifitas pria itu. Jin berpikir sejenak.
"Sniper, aku pikir dia sniper karena sepertinya dia ahli stealth dan kamuflase dan ia tidak berkelompok. Juga kalau diperhatikan ia sedang mencari informasi tentang kita," terang Jin.
"Oh... Great! Satu sniper sekarang! Pengawalan harus di tingkatkan" jawab Kazusa sebal.
Miyon sedang memilih buku bersama Kazusa sedangkan Jin masih mengawasi sekitarnya. Ia mengamati seluruh gerak gerik orang yang menurutnya mencurigakan. Ia mengambil ponselnya dan melihat sekitarnya dengan memiringkan ponselnya. Karena toko buku ini 3 lantai dan kini mereka berada di lantai 3, Jin yakin kalau sang sniper masih mengawasinya.
Jin dapat melihat pantulan pria yang sama dengan yang di hotel mengawasinya dari salah satu ruangan apartemen di depan toko buku ini. Cara menggunakan ponsel sebagai cermin adalah ide yang bagus untuk mengawasi orang. Karena hal ini terlihat seperti Jin tidak sedang mengawasi seseorang, melainkan tengah bermain dengan ponselnya.
"Um... Jin-nii, aku sudah dapat bukunya!" seru Miyon riang sambil mendekati Jin. Jin segera memasukan ponselnya ke dalam saku jas-nya. Ia langsung mengambil buku yang Miyon pilih. Dibacanya buku yang dipilih Miyon sejenak.
"Baiklah, kita bayar buku ini lalu kita makan!" ucap Jin bersemangat.
Jam tangan Kazusa sudah menunjukkan pukul 2 siang. Sekarang mereka sudah berada di sebuah Restoran Korea yang berada di dekat danau. Pemandangan restoran ini sangat indah dan serasa di Korea. Bangunan restoran yang mirip dengan rumah di Korea disertai para pelayanan yang berpakaian yang mirip dengan pakaian Korea menjadikan suasana terasa di Korea padahal mereka berada di Jepang.
"Kau mau makan apa Miyon?" tanya Kazusa sambil menunjukkan daftar menu pada Miyon.
"Um," Miyon berpikir sejenak sambil membaca daftar menu "Aku mau Bulgogi dan Songpyeon. Lalu aku minum orange juice saja," lanjutnya.
"Hm... Aku pesan Ramyeon dan Tteok. Aku minumnya moccacino," ucap Kazusa.
"Aku Gimbap dan Ho-tteok, lalu aku minum moccacino," ucap Jin.
Setelah sang pelayan menulis semua daftar makanan. Jin menatap sekelilingnya dengan waspada. Mengingat mereka berada di ruangan restoran yang terbuka. Di sisi kanan mereka ada taman dan disebelah taman ada apartemen. Jin menatap apartemen itu dengan teliti.
"Hei, Bunny Girl!" seru Jin pelan.
"Apa hah?" jawab Kazusa ketus.
"Nanti kalau ada serangan kau jaga Miyon. Aku yang akan mengejar sniper-nya," jelas Jin.
"Terserah kau. Tapi, apa kau melihatnya?" tanya Kazusa pelan.
"Tidak! Maksudku belum, aku belum melihatnya," jawab Jin ringan.
Kazusa menarik napas panjang. Meladeni Jin ternyata butuh kesabaran ekstra. Kazusa kembali mendengarkan cerita Miyon sedangkan Jin mengamati apartemen dengan seksama. Tapi, Jin sama tak dapat melihat sniper yang mengincar Miyon. Jin mendengus sebal. Lau pandangannya beralih pada Kazusa dan Miyon yang asyik ngobrol.
"Um... Kazusa-nee aku tak suka agen-agen yang sering mengikuti. Mereka menyeramkan," ucap Miyon.
"Sudahlah Miyon. Kau tak perlu khawatir lagi. Kami akan menjagamu," jawab Kazusa.
"Ya, kami akan menjagamu Miyon. Jangan khawatir. Mereka tidak akan melukaimu," tukas Jin.
"Ne~ Miyon percaya dengan Kazusa-nee dan Jin-nii," Miyon menunjukkan senyum manisnya pada Kazusa dan Jin.
Tak lama seorang pelayan datang sambil membawa pesanan mereka. Miyon segera melahap Bulgogi dengan lahap. Sepertinya ia sudah lapar karena harusnya ia makan siang 2 jam yang lalu. Jin dan Kazusa memakan makanan mereka dengan waspada. Entah mengapa feeling mereka berdua mengatakan akan ada yang terjadi.
Belum selesai mereka makan, Kazusa melihat ada sinar yang berwarna merah lurus ke arah Miyon. Segera Kazusa memeluk Miyon dan menjauh dari meja itu. Jin juga demikian ia segera menjauh dari meja itu.
BRAAAK—sebuah peluru melesat mengenai meja mereka. Menjadikan meja itu berlubang dan piring berisi makanan tumpah berserakan. Jin dapat melihat orang yang menembak dengan senjata sniper di atas apartemen.
Langsung saja Jin berlari mengejar sang sniper. Saat sampai di depan apartemen itu, ia melihat sang sniper yang membawa kotak hitam berisi senapan snipernya. Jin segera mendekatinya. Namun sang sniper segera melarikan diri. Jin langsung mengejarnya.
Sniper itu mengambil beberapa barang dan di jatuhkan ke arah Jin agar larinya melambat. Jin tak tinggal diam, ia mengambil HECKLER & KOCH dan berusaha untuk menembak sang sniper.
DOR! DOR! DOR!—Jin sudah berulang kali mencoba menembak sang sniper tapi tidak ada yang kena. Jin mendengus. Ia hanya tinggal memiliki 1 peluru lagi.
"Baiklah! Ini harus mengenainya!" Jin segera menembakan peluru terakhirnya. Sepertinya Dewi Fortuna sedang memihak padanya. Pelurunya yang di tembakannya mengenai tangan kanan sang sniper. Tidak membuat luka dalam, tapi berhasil mengoreskan luka yang cukup panas. Segera saja kotak hitam itu jatuh. Jin segera memasukan senjata ke dalam jas.
"Aish! Sial!" seru sang sniper berusaha untuk mengambil balik kotak hitam milknya. Jin segera berlari lebih cepat dan mengambil kotak itu.
"Kau," sang sniper menunjuk Jin dengan geram. Jin hanya menyeringai tipis. Seger saja tangan kanan Jin digunakan untuk meninju tumbuh sniper yanglangsung tersungkur. Baru saja Jin akan memukulnya lagi ada orang yang melemparkan bom asap padanya.
Sniper itu segera berlari saat bom asap itu mengepulkan asapnya. Jin segera menutup hidungnya dengan tangan kirinya dan tangan kanannya membawa kotak itu. Jin lalu berlari kembali ke restoran.
"Jadi, apa yang kau dapat Jin?" tanya Kazusa pada Jin seusai mereka mengantarkan Miyon pulang. Kini mereka berada di markas tepatnya ruangan Team Z.
"Ini," Jin menunjukan kotak hitam yang berisi senjata sniper. Kazusa langsung mengambil sarung tangan dan ia mengidentifikasi senjata itu. Matanya memperhatikan tiap inci senjata sniper itu. Manik blue ocean-nya membulat seusai memperhatikan semua bagian senjata itu.
"Great! Itu senjata sniper keluaran terbaru. Tapi, darimana mereka mendapatkannya?" tanya Kazusa.
"Aku tak tau. Bisakah kau mengidentifikasi sidik jari sang sniper?" Jin segera berbalik bertanya.
"Aku bisa. Wait a minute," Kazusa segera melakukan indentifikasi pada senjata dan kotak itu.
"Kau meninggalkan senjata itu? Bagaimana mungkin!" seru seorang dengan suara tinggi.
"A—Aku minta maaf. Ternyata agen OSST yang di tugaskan kali ini berbeda dengan agen sebelumnya! Mereka lebih terlatih!" jawab pria dengan rambut hitam.
"Maaf? Kau pikir itu akan mengembalikan senapan sniper itu pada kita? PAYAH!" lagi-lagi boss Grup Moozat marah karena kinerja anak buahnya yang payah.
"Ta—Tapi tenanglah nona. Aku menggunakan sarung tangan, jadi sidik jariku tidak akan terdeteksi," jawab si rambut hitam.
"Baiklah. Kau cukup pintar. Sekarang kembalilah," ucap sang boss.
Sang membalikan tubuhnya. Ia segera berjalan ke arah taman mawar yang berada di belakangnya. Di ambilnya salah satu tangkai mawar merah.
"Agen OSST kali ini terlatih," ucapnya. "Pasti akan sangat menyenangkan," segera saja di patahkan tangkai bunga mawar itu.
"Kabar buruk Jin," ucap Kazusa setelah mengidentifikasi kotak dan senjata itu.
"Kenapa Bunny Girl? Jangan bilang kalau," Jin sedikit mengantungkan kalimatnya.
"Ya, benar. Hanya sidik jarimu yang ada disini. Berarti, sniper itu memakai sarung tangan. Dan bisakah kau berhenti memanggilku Bunny Girl! Aku benci panggilan itu!" ucap Kazusa dengan suara tinggi di bagian akhir.
To Be Continue
Omona~ ㄟ(≧◇≦)ㄏAkhirnya chapter 2 selesai juga!
Omo~ Hana harus cari info tentang senjata di internet. Maklum saja ya, Hana tidak paham masalah senjata. Untuk beberapa informasi Hana mencari di internet karena memang Hana tak paham (˘̩̩̩~˘̩̩̩ƪ)
So, what do you think? It's bad, good, or ugly? Leave me your opinion in review please! ~(˘▽˘~)(~˘▽˘)~
