Standard discalimer applied.
Love Scenario / 2
Sakura Haruno (21) melotot horor ke arah pemuda bersurai merah tua di hadapannya. Ini bukan hal yang mudah dicerna. Menghabiskan seratus hari tinggal satu atap bersama sang bos super diktator di kota terpencil semacam Takigakure bukanlah hal yang ingin ia lakukan.
Sakura tahu dengan betul pekerjaan ini memang sangat berat, apalagi di usianya yang cukup muda sudah harus mendampingi CEO Sabaku Corp., Sabaku no Gaara (24), yang saat ini sedang dalam masa transisinya. Tapi tetap saja ini adalah hal yang sulit untuk diterima, dan mungkin tidak akan berjalan baik. Setidaknya Sakura merasa begitu, atau mungkin tidak.
Saat ini Sabaku Corp., tengah melakukan proyek pembangunan pembangkit listrik ramah lingkungan untuk Takigakure, dan tentunya tolak ukur kesuksesan proyek ini akan menjadi pengendali beberapa aspek kedepannya.
Dan di saat inilah para tetinggi memutuskan untuk mengirim Gaara terjun langsung ke medan, untuk membuktikan apakah prodigy Sabaku tersebut berhak atas kedudukannya sekarang. Padahal menurut Sakura jawabannya sudah mutlak dengan saham yang naik dengan sangat signifikan.
Tapi siapa yang mau membantah para orang tua kolot? Tidak ada, kecuali orang itu punya nyali tak terbatas untuk ditendang dari perusahaan. Bantuan berupa dua saudara Gaara akan dikirimkan saat mereka sudah menjalankan setidaknya lima puluh hari dalam proyek tersebut.
"Kau tidak bisa menolak, Sakura." Gaara membuka suaranya, dan nadanya tetap sedingin dan sedatar yang biasa Sakura dengar.
Sakura membuka mulutnya bersiap melontarkan beberapa argumen yang sudah tersusun dalam pikirannya. Tapi bibirnya hanya terbuka sebelum kemudian mengatup kembali. Sepertinya gadis kembang gula itu sadar kemana pembicaraan ini akan berakhir. Ia yang menurut atau ia yang keluar. Sungguh simalakama, setidaknya itu yang Sakura pikirkan.
Menghela nafas cukup kasar, Sakura kembali berujar, "Terserah Anda saja."
Tak ada pembicaraan yang berlanjut. Gadis musim semi itu memilih kembali ke bangkunya. Menghela nafas beberapa saat lalu membuka kolom pencarian pada komputernya, mencari beberapa info tentang Takigakure.
Dan ia menemukannya sebagai desa dengan lahan pertanian juga perkebunan yang sangat luas, akan tetapi masih kurang sumber pembangkit energi listrik. Alasan yang masuk akal dibalik pembangunan proyek Sabaku Corp.
"Sakura, aku mau kopi," ucap Gaara dari tempatnya.
"Teleponnya ada di atas meja Anda sendiri," jawab Sakura dengan senyum yang berusaha ia ulas di bibir manisnya.
Gaara hanya menggeleng sebagai jawaban. Dan Sakura tahu bahwa ini bukan saat yang tepat untuk mendebat hal tidak penting seperti itu. Maka diangkatnya gagang telepon di mejanya, bersiap menekan tombol panggilan cepat untuk dapur.
"Kau sedang apa?" tanya Gaara menyela tindakan Sakura untuk melakukan panggilan.
"Memesankan Anda kopi?"
"Aku tidak menyuruh kau memesan."
"Tapi tadi An-"
"Aku mau kau yang membuatnya, sekarang."
Sakura melotot ngeri ke arah bosnya, sial, tiada hari tanpa perintah menyebalkan dari sang bos. Memilih pasrah sekaligus mencari udara segar, gadis kembang gula itu beranjak dari tempatnya untuk menuju dapur.
"Kopi apa yang Anda inginkan?"
"Kau tahu jawabannya."
"Anda memesan berbagai jenis kopi biasanya."
"Kamis."
"Espresso macchiato."
"Bagus, cepatlah."
Sakura mengangguk singkat lalu berlalu keluar ruangan dengan memutar bola matanya jengah, tidak heran mengapa tiga sekertaris Gaara sebelumnya memutuskan untuk resign saja. Bahkan rekor terlama dari tiga sekertaris itu hanya satu minggu. Sepertinya Sakura pantas mendapat penghargaan karena bertahan mendampingi pemuda tersebut selama hampir dua bulan ia menduduki posisinya memimpin Sabaku Corp.
Semoga seratus hari kedepan di Takigakure akan baik-baik saja.
TBC
Thank you for reading. I've warned ya all about this fict. Let me know if you have any suggestion. See you.
