Harry Potter © JK Rowling

The Standard You Walk Past © bafflinghaze

Alih bahasa oleh neko chuudoku

.

CHAPTER 2

.

Rupanya, Granger dan Weasley telah mendirikan sebuah rutinitas untuk menaruh Potter ke kasur setiap malam. Kadang-kadang, mereka cepat-cepat pergi; kadang-kadang, mereka tinggal dan berbicara. Jika bukan karena paranoia Draco yang sangat-beralasan, dia akan menaruh mantra peredam. Tapi akhirnya dia menggertakan giginya dan mendengarkan saat Trio Emas berbincang-bincang soal hari-hari mereka yang membosankan, dipenuhi oleh tugas sekolah, Quidditch, dan acara amal perang.

Akan tetapi, tampaknya menemani Potter ke kasurnya menghentikan Potter dari kebiasaaanya berkeliaran sekeliling Hogwarts tengah malam. Dan dalam setiap malam-malam itu, alam bawah sadar Potter memutuskan untuk berjalan ke kasur Draco sebagai gantinya.

Draco menyeret dirinya untuk terjaga lagi saat Potter tidur-merangkak ke kasurnya. Samar-samar, dia menyadari bahwa Potter makin ahli dalam hal ini—dia berhasil menaikkan seluruh badannya kali ini, dan jika Draco membiarkannya, kemungkinan Potter akan berhasil untuk tidur-merapat ke bawah selimut. Membereskan kembali selimut Potter, mengapungkan Potter kembali kekasur yang benar, dan membenahinya sudah terasa seperti rutinitas. Draco pun membiarkan tangannya menjalari rambut Potter selama waktu yang dibutuhkan hingga Potter berhenti berteriak.

Draco gatal ingin memberi Potter ramuan Tidur Tanpa Mimpi Modifikasi yang Draco buat untuk Mother, tapi saat dia mencari ke meja di samping kasur Potter dan menemukan sebuah botol tua kosong bekas ramuan Tegukan Tidur, Draco tahu dia tidak bisa. Resiko Potter menjadi kecanduan, memberinya sesuatu yang lebih lemah tak akan membantu. Akan tetapi, hal ini menjelaskan kenapa Potter tidak tidur-berjalan ke kasur Draco kali ini.

Dan Draco tak bisa memberikan moonstone miliknya, atau mengajarinya cara menggunakan Occlumency untuk menangkal jauh mimpi-mimpi.

Dengan muram, Draco jatuh ke tempat tidurnya sendiri.

xxx

"Malfoy!"

Draco tidak berpaling dan menolak untuk mempercepat langkahnya. Akan tetapi, dia melingkarkan jari-jarinya di sekitar tongkat sihirnya yang berada di dalam sakunya. Dia bisa mendengar suara langkah kaki milik mungkin satu lusin murid-murid di belakangnya. Para Hufflepuff dan Ravenclaw kelas atas.

"Kau pikir kau terlalu bagus untuk kami? Kau harusnya berada di Azkaban!" Salah satu anak yang lebih tua meneriakkan. Suaranya memantul di dinding, meninggalkan sebuah gema aaazkaban-ban-ban.

Benak Draco mendingin. Ya, dan Potter kalian-lah yang menjagaku tetap bebas. Menghadiri Hogwarts sebagai murid Tahun Kedelapan adalah salah satu hukuman dalam masa percobaannya. Dia rasa itu adalah ide Wizengamot soal agresi-mikro saat mereka telah diblokir dari melemparkan Draco ke sebuah sel batu di tengah laut, menyerahkan pelaksanaan undang-undang untuk anak sekolah yang, berdasarkan sosok kebajikan dari sisi 'Cahaya', tidak bersalah—

Sebuah mantra berdesing melewati telinganya, menggunting tepi perisainya.

Amarah menggelembung, Draco berputar berbalik, mencabut tongkat sihirnya keluar pada saat yang sama seluruh sisa grup memutuskan untuk merapal. Dia memicingkan matanya, dan dengan sayatan tajam, mengirimkan kutukan-kutukan mereka menabrak dinding kastil.

Anak-anak sialan berpikir mereka bisa menggangguku. Mereka tak pernah mengalami Pangeran Kegelapan sialan tinggal di rumah mereka—

Draco hampir tak bisa menahan diri, sebuah kutukan sudah berada di ujung benaknya. Satu saja luka gores sialan pada salah satu dari mereka dan dia akan langsung dikirim ke Azkaban, dan dia bertaruh anak-anak ini tahu hal itu. Dengan sebuah geraman di dalam, dia mengepit amarahnya turun.

Hal terbaik yang bisa dia lakukan adalah merapal mantra perisai terkuat yang dia bisa dan berjalan menjauh seolah mantra-mantra kutukan tidak diarahkan pada punggungnya. Dia tidak memberi mereka kepuasaan akan ringisan saat sebuah kutukan menembus dan mengenainya dalam sebuah ledakan rasa sakit, menghancurkan perisainya. Dia berkonsentrasi untuk membentuk perisai lainnya. Dengan segera, mereka berhenti, saat Draco melewati tikungan.

Dia kemudian mengizinkan dirinya untuk mengeryit dan menyelinap ke kelas kosong terdekat. Membuka jubahnya, dia memeriksa area punggung bawahnya—untungnya itu tempat yang bisa dia jangkau. Setelah menyembuhkan dirinya sendiri, dia tak bisa menemukan energi untuk memakai kembali jubahnya dan keluar dari ruangan kelas. Tapi dia harus, dan dia bangkit dari ruangan kelas saat dia yakin koridornya kosong.

Draco menyelip masuk asrama Tahun Kedelapan di belakang Lovegood. Ruang rekreasi dipenuhi murid-murid di waktu sebelum makan malam; kebanyakan, mereka mengabaikan Draco, seperti dia mengabaikan mereka. Potter berada di salah satu kursi di dekat api, rupa-rupanya sedang menggelar rapat dengan para penggemarnya. Dia tampak seperti si idiot kebajikan, tidak seperti orang asing polos dalam tidurnya. Yang mana mengingatkan Draco akan dirinya sendiri yang kurang tidur.

Kelelahan memutuskan Draco untuk melewatkan makan malam, dan dia pergi langsung ke tempat tidur.

xxx

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidur Draco tidak terganggu. Dia terbangun dari mimpi langit-biru-rumput tanpa suara alarm di telinganya. Ruangannya sepi.

Dia mengecek penangkal pendeteksinya. Granger dan Weasley tidak berkunjung; Potter sendiri hanya berada sebentar di dalam ruangan saat telah larut malam. Potter terbukti telah kembali ke kebiasaannya berkelana di malam hari.

Akhirnya.

Draco meregangkan tubuhnya dan bangun, merasakan sihirnya menjadi lebih beres dan tenang.

xxx

Burung hantu Mother menemukan dirinya di dapur lebih awal di Minggu pagi. Draco telah lama berhenti memikirkan tentang bagaimana burung hantu itu berhasil masuk atau bagaimana mereka menemukan dia di sana. Quibbler dan Daily Prophet edisi Minggu telah terlipat rapi di samping buku-bukunya yang terbuka.

Dia mengambil surat dan bungkusan dari si burung hantu elang, Teithiwr. Si burung hantu mengizinkan Draco untuk mengelusnya sebelum terbang ke makanan burung yang disediakan para peri rumah di meja.

Bungkusannya dibuka pertama; sebuah kotak kecil berisi coklat, dalam aroma coklat dan kotaknya tertanam sihir Mother. Tapi dia tidak memakannya, menutup kotaknya dan berbalik ke surat.

Untuk sesaat, Draco meraba tulisan Draco Sayang yang ada di atas perkamen. Hanya tinggal sebulan lebih sebelum akhir pekan kunjungan Hogsmeade yang pertama, saat Draco bisa mengunjungi Mother. Dan Father, dia rasa.

Draco Sayang,

Bagaimana kabarmu, sayang? Akan sangat membuatku bahagia bila kau bisa menemukan waktu untuk menulis padaku lebih sering, kalau tidak aku hanya bisa berasumsi bahwa kelas-kelasmu berjalan dengan baik. Aku takut untuk berkata bahwa aku tak bisa membayangkan sikap murid-murid lain dan para profesor; aku hanya bisa berharap bahwa kau memperlakukan mereka dengan kesopanan, dan mereka pun sopan sebaliknya.

Oh, betapa aku khawatir tentang bagaimana kehidupanmu! Apakah kau dapat tertidur dengan lelap? Apakah moonstone-nya berfungsi?

Berkenaan dengan penugasan ruanganmu dengan Mister Potter, aku merasakan dorongan untuk mengingatkanmu untuk menjaga interaksimu padanya tetap baik dan sopan. Aku tahu kau mungkin merasakan amarah, tidak suka, atau ketidaknyamanan berkenaan dengan Mister Potter, tapi kau harus melihat ini sebagai sebuah kesempatan. Tanpa menghiraukan entah Mister Potter mengerti konsep hutang atau tidak, kita mengerti. Akan lebih baik bila kau bisa memenuhi hutang tersebut sekarang, jaga-jaga di masa depan, Mister Potter bisa memaksa untuk menagihnya.

Sediakan bantuan bagi Mister Potter, bila dibutuhkan. Mungkin akan lebih menguntungkan bila kau bisa lebih dekat dari sekedar kenalan, jika bukan teman. Sayang, janganlah menyangkal bahwa kau pernah, setidaknya sekali, mengharapkan untuk menjadi temannya. Aku tidak bisa berkata bahwa aku mengetahui apa harapanmu sekarang, tapi bila keinginan itu masih ada, aku berharap untukmu bisa memenuhi keinginan itu dan mendapatkan kadar kepuasan darinya.

Sudah cukup tentang itu. Ayahmu dan aku telah menyelesaikan renovasi Sayap Barat dan memulai renovasi Sayap Timur. Kurungan rumah ayahmu, tidak mengejutkannya, tidak menjadi sebuah halangan. Kami mengirim Peri Rumah untuk mengambil benda-benda penting. Berhati-hatilah bila kau memutuskan untuk mengunjungi Hogsmeade atau area dunia sihir lainnya, Draco. Masih ada banyak orang yang tidak lupa bahwa kita telah mencoba dan terlibat.

Aku telah mengulurkan tanganku pada saudariku, bibimu Andromeda. Pertemuan kami hangat; Teddy Lupin adalah seorang bayi yang amat lucu, dan kau sudah pasti akan bertemu dengannya saat libur Natal, jika tidak pada kunjunganmu bulan depan. Teddy adalah seorang Metamorphagus, sebuah kemampuan turunan dari ibunya, almarhum sepupumu Nymphadora Lupin née Tonks. Saat ini, dia belum menunjukkan tanda-tanda mewarisi lycanthropy.

Keadaan ayahmu makin membaik, dan aku yakin dia akan segera mengirimkan surat padamu. Dia dengan tulus mengharapkan untuk menyembuhkan jarak antara kau dan dirinya. Jika tidak demi hal lain, lakukanlah demi diriku, Draco.

Jaga dirimu, Draco. Tetap angkat kepalamu.

Love,

Mother.

Pelan-pelan Draco melipat suratnya dan menyimpannya. Kotak coklat diam mengundang di depannya, tapi Pansy dan Blaise dan Greg (dan Vince) tidak ada disana untuk berbagi atau menolak coklatnya.

Berhentilah bermuram, Draco, dia mencaci dirinya sendiri. Teithiwr tampak ber-uhu setuju. Draco memberi si burung pandangan masam dan mencoba untuk tidak merasa kesepian dalam balutan aroma coklat dan parfum ibunya.

xxx

Sudah terhitung ketujuh kalinya sejak Draco tidur tanpa gangguan. Dia terbangun dari mimpi pantai laut-hangat tenang tanpa suara alarm di telinganya. Ruangannya sunyi.

Draco merasa gelisah.

Dia mengecek penangkal pendeteksinya. Potter hanya berada dalam ruangan sebentar saja saat malam.

Dengan tidak ada seorangpun yang mendengar, Draco mengeluarkan desah frustasi. Potter harus mengacaukan segalanya. Si Anak-Yang-Bertahan-Hidup mengacaukan tidur Draco dengan tidur-berjalan bodohnya dan jeritannya dan sekarang membuat Draco khawatir untuk si bodoh itu. Draco menyangka alam bawah sadar Potter pasti punya semacam rencana jahat untuk menyiksanya pelan-pelan.

Potter memulai kebiasaannya mengembara di malam hari lagi, dan dia bahkan tampak lebih parah lagi kali ini. Dari kejauhan, Draco bisa melihat tatapan linglung Potter, gaya duduknya yang malas, pakaian acak-acakan, dan rambutnya yang lebih-berantakan-dari-biasanya. Tampaknya seolah Potter mencuri tidur di tempat-tempat yang tak nyaman. Dia tak tampak separah saat perang, Draco harus mengakui, tapi lebih buruk dari seorang penyihir 'Cahaya' yang seharusnya.

xxx

Malam berikutnya, saat Potter tidur-berjalan ke kasur Draco, Draco merasa lega. Saat Draco menatap pada Potter yang meringkuk di sisi kasur Draco, tampak rapuh—Merlin, kalau saja Potter tahu bahwa dia berada di bawah kuasa seorang Pelahap Maut—Draco kehilangan ketetapan hati untuk mengirimkan Potter kembali ke kasur miliknya. Mungkin bawah sadar Potter menyadari keunggulan kasur Draco, yang mana terbuat dari sutra dan cotton Mesir dan menawarkan pemandangan langit malam yang menenangkan.

Mungkin dunia menawarkan Draco sebuah cara untuk membayar hutang nyawanya.

Keputusan bulat, Draco mengambil selimut Potter dan menyelimutinya. Dia lalu bergeser ke sisi lain kasur supaya dia tidak menyentuh Potter secara tidak sengaja. Dia mengubah penangkalnya, membuat Potter sebuah pengecualian, supaya penangkalnya berhenti memperingatkan Draco. Sebuah perasaan puas menenangkan Draco, dan dia kembali tidur.

xxx

Draco merasa bingung. Pemandangan alam—gelap, dingin, biru pucat—bukanlah gambaran yang ada dalam benaknya saat dia jatuh tertidur. Dia berbalik perlahan. Udaranya sangat dingin, meski melalui jubah—jubah?—yang dia kenakan. Tanahnya sedikit lebih dari sekedar tanah basah yang kotor, dan tulang belulang pepohonan membelah horizon.

Ini tampak seperti Perang.

Mimpinya bergeser tiba-tiba menjadi gelap pekat, ruang tertutup. Draco tahu bahwa ini bukan mimpinya dan menyadari bahwa dia cukup lucid. Suara sengau, isakan dan tangisan gemetar membuat perutnya bergelung, dan dia melihat—meskipun di sana begitu gelap—seorang anak kecil meringkuk di atas matras. Draco berlutut, dan kemudian dia bisa melihat bekas luka di dahi si anak.

Anak kecil itu adalah Potter, dan dia sedang menangis. Ini adalah mimpi Potter.

Untuk sesaat, kepanikan menggenggam Draco saat dia tak bisa memikirkan apapun.

Mother—apa yang akan beliau lakukan? Sudut kecil dalam benaknya melewati memori-memorinya, dan kepanikannya memudar—saat dia enam tahun, setelah mimpi buruk, Mother menyanyi.

Draco menutup matanya. Itu tidak berpengaruh banyak—kegelapan dan kegelapan—tapi itu membantunya mengingat musik, alunan kata-kata. Dia memulai dengan lembut, mencoba menghubungkan ibunya, dan bagian dirinya yang jauh untuk mulai merasakan dan mengingat. Itu adalah sebuah lulabi yang dibuat ibunya hanya untuk Draco, dan oleh tradisi keluarga Black, itu adalah lagu tentang bintang-bintang.

Di dalam mimpi, suara Draco bekerja dengan sempurna.

Itu adalah sebuah lagu yang panjang, tapi butuh pengulangan dua kali sebelum Potter kecil berhenti menangis, dan di verse ketiga, saat Draco bersandar ke dinding sedikit lebih nyaman, Potter kecil mendaki ke atas pangkuannya, menenggelamkan wajahnya ke dada Draco.

Saat chorus yang terakhir memudar dalam ulangan yang ketiga, begitu pula mimpinya.

xxx

Draco bangun dan matanya mengerjap malas. Entah bagaimana, selama malam, Potter telah bergeser lebih dekat dan menangkap tangan Draco. Mimpi tadi adalah mimpi Potter, dan Draco cukup tahu soal perasaan dalam mimpi untuk tahu bahwa mimpi itu setidaknya setengah nyata. Potter telah memimpikan sebuah ruangan yang sangat kecil hingga Draco tak bisa berdiri lurus di dalamnya, sebuah matras di sebelah kiri lantai, dan Potter-kecil dalam kegelapan.

Draco menempatkan Potter kembali ke kasurnya sendiri sebelum dia bangun dan menuduh Draco akan sesuatu yang menggelikan; Draco merapal sebuah mantra penghangat dan membenahinya.

Wajah Potter berbalik mengadapnya, rileks dalam tidurnya.

Normal. Bahkan ramah. Bukan anak yang menolak uluran tangan Draco di Tahun Pertama. Bukan anak yang pada siapa Draco berhutang nyawa. Bukan anak yang sekarang bahkan jarang menatap Draco.

Perut Draco melilit, dan dia merengut dan berpaling pergi.

TBC