Copyright Mayonice08
2013
Lies
Haehyuk
Romance, Bit!Humor and Family
AU, Yaoi, OOC, typo
Inspired by
'A little white Lie' by Titish A. K.
Sederhana saja.
Hyukjae benci Donghae.
Titik.
Special
Untuk
Eon R-I-A-N-A
a/n: rewriting ff lagi hahaha. Gaya bahasa agak slengekan. Setting tempat nggak jelas antara Semarang dan Korea Selatan. Ya begitulah. Dibawa seneng aja pas baca. Gaya bahasa nggak baku, konflik ringan, dan nggak bikin nangis. Bayangin lagi baca teenlit aja yah xD
.
LEMBAR KEDUA
Masih Tentang Dia
.
.
Hyukjae membiarkan dirinya ditarik kesana kemari oleh Sungmin yang sedang dalam kondisi sangat giras sekali. Ia manut saja, meski pergelangan tangannya terasa agak sakit karena genggaman Sungmin terlalu erat. Ah, biarlah. Yang terpenting nanti dia bisa melihat malaikat penolongnya.
Sungmin berhenti melangkah, menarik Hyukjae untuk ikut duduk di sampingnya. Keduanya mendudukan diri dengan nyaman di atas paving di pinggir lapangan. Sungmin memilih salah satu tempat yang pas, dari sini lapangan basket terlihat sangat jelas. Terlihat jarak antara garis lapangan basket dengan tempat mereka duduk tak sampai dua meter. Juga, pohon yang rindang yang ada di belakang tempat mereka duduk. Teduh, membuat keduanya terhindar dari terik matahari.
Hyukjae mengipasi tubuhnya dengan kipas berbentuk kelinci yang ia pinjam dari Sungmin. Menciptakan angin kecil menghembus ke lehernya yang penuh keringat. Ugh~ kulitnya agak sensitif, apalagi harus duduk di pinggir lapangan di sore yang terik, meski tubuhnya cukup tertutupi pepohonan rindang di belakangnya. Tetap saja, kipas-kipas adalah hal yang tepat untuk mengusir peluhnya yang semakin deras menetes.
Hyukjae juga tidak lupa mengambil selembar tissue wajah dari kantong tas selempangnya. Tissue tipis itu, ia gunakan untuk mengusap wajahnya yang berkeringat. Memberikan sentuhan ekstra lembut plus pelan di hidungnya yang tengah ditumbuhi jerawat merah yang begitu indah, yang ingin sekali Hyukjae capit dengan sumpit. Maybe, bisa ikut kesumpit gitu. Terus hilang deh, dari wajah putihnya.
Sungmin menyeruput es teh anget yang dibungkus plastik. Sambil sesekali meraup kripik kentangnya. Masih dengan senyum lebar, mengamati sekitar. Teman-temannya yang lain, teman gosipnya Sungmin maksudnya sedang duduk membentuk formasi tak beraturan sambil membawa pom-pom warna warni dari tali rafiah tak jauh dari mereka duduk.
Hyukjae bersyukur, Sungmin tak memilih untuk duduk bersama mereka. Karena dipastikan, Hyukjae bisa eneg sesorean mendengar celotehan tanpa helaan nafas dari mereka. Berisik, bising, dan cerewet sekali.
Tak berapa lama, dari arah selatan. Beberapa pemuda yang rata-rata berperawakan tinggi menjulang, dengan postur tubuh kurus dan atletis mulai datang. Disambut sorakan meriah dari kerumunan di sebelah Hyukjae. Yang kini sedang mengangkat pom-pom tinggi-tinggi sambil meneriakan nama-nama yang tak begitu Hyukjae tahu siapa.
Sungmin yang tak kalah berisik, menyerukan nama Lee Donghae. Sambil menjerit sok histeris, ingin sekali Hyukjae bekap mulutnya. Agar tidak membuat telinga Hyukjae berdengung sakit. Tapi, ah biarlah. Kalau kelompok pemain sudah mulai datang. Berarti Kak Yunho segera muncul kan ya? Yunho kan yang akan jadi wasitnya. Lebih baik, Hyukjae mencari sosok malaikat penolongnya saja. Peduli apa dengan yang lainnya ah.
"Hyuk itu lho, itu~ Lee Donghae~ " seru Sungmin sambil menarik Hyukjae mendekat padanya. Mengarahkan pandangan Hyukjae pada kumpulan anak-anak basket yang kini tengah duduk di kursi pemain sambil bersiap-siap menunggu pertandingan dimulai.
"Yang mana sih?" Tanyanya bingung. Please deh. Di gerombolan itu, yang cakep itu banyak. Bukan ia bermaksud memuji sih, cuman pada kenyataannya. Anak-anak basket kebanyakan memang berwajah bening-bening alias kece. Jadi, yang mana yang dimaksud Sungmin itu nggak jelas.
"Yang pake handband putih di tangan kirinya Hyuk, yang itu~ cakep kan?" tunjuk Sungmin tanpa malu sambil cekikikan.
Hyukjae mengikuti arah jari telunjuk Sungmin. Mengamati dengan seksama pada segerombolan manusia cakep yang tengah bercengkerama dengan satu sama lain. Apa yang itu? bola matanya berhenti sesaat, mengamati seorang cowok yang berambut hitam legam. Dengan lesung pipi di pipinya, senyumnya manis. Tapi, membuat Hyukjae bergidik melihatnya. Saat Hyukjae turun memandang lengannya, tidak ada handbad putih disana. Berarti, bukan orang itu.
Ia beralih ke pemuda di sampingnya. Yang hanya tersenyum dengan menarik satu sudut bibirnya sesekali saat diajak bicara. Ih, sok misterius. Padahal wajahnya pas-pasan. Err- Hyukjae bohong kalau wajahnya pas-pasan. Dia ganteng sih, tapi melihat cara dia tersenyum seperti itu. Hyukjae jadi tak suka, gantengan cowok yang punya lesung pipi. Tapi, cowok ini punya bola mata yang indah. Terlihat teduh. Ah, tetap saja, lebih ganteng Kak Yunho
Kini Hyukjae beralih memandang pergelangan tangannya. Memastikan apa itu sosok Lee Donghae apa tidak. Dan saat menemukan handband putih melekat di pergelangan tangannya. Tidak salah jika itu makhluk bernama Donghae. Cara senyumnya saja sok arogan seperti itu. Duh, sok cool. Sok dingin, sok cool banget. Sok kegantengan banget tuh orang.
"Gimana? Cakep kan?" Tanya Sungmin antusias sambil melingkarkan lengannya di bahu Hyukjae.
Hyukjae menoleh kearah sahabatnya itu. Lalu melengos.
"Lumayan, tapi sok cool banget. Sengak banget gayanya," sahut Hyukjae yang disambut dengan bibir Sungmin yang mengerucut mendengar ucapannya. Sebenarnya lebih dari lumayan, cuma Hyukjae tengsin mengakui itu pada Sungmin.
"Dia emang cool kok, nggak sok cool, Lee Donghae itu cool, Hyuk, ih susah ah ngomong sama kamu," tukas Sungmin sambil menurunkan lengannya dari bahu Hyukjae dan ganti melipatnya di depan dada.
Hyukjae hanya acuh melihat reaksi temannya itu.
"Eh, tapi kamu jago siapa Hyuk? Anak kelas dua apa angkatan kita? Kayaknya yang bakal menang anak kelas dua deh, kan angkatan kita juga baru masuk beberapa bulan kan ya. Beda sama anak kelas dua, udah sering ikut pertandingan. Tapi, semoga aja Donghae bisa bikin keajaiban terus, angkatan kita menang~" celotehnya lagi.
Hyukjae berfikir sejenak. Kalau dipikir-pikir sih, angkatan kelas dua yang akan menang. kan mereka sudah terbiasa tanding basket, jadi kekompakan antar pemainnya sudah terbentuk. Sedang dengan anak angkatannya kelas satu, kan mereka bentukan pemain dadakan, bener sih kata Sungmin kalau ada keajaiban, maybe mereka bisa menang.
"Aku jago Kak Yunho aja," kata Hyukjae singkat.
"Kak Yunho lagi, Kak Yunho lagi. Error kamu lama-lama." Sungmin menoyor kepalanya pelan. Membuat kedua sahabat aneh ini tertawa cekikikan bersama. Yang entah kenapa terdengar aneh, karena Hyukjae tiba-tiba OOC sekali .
"Eh eh, mereka mulai pemanasan tuh," seru Sungmin memandangi beberapa lelaki yang tadinya duduk, kini berkerumun di pinggir lapangan. Hyukjae ikut menatapnya lekat. Satu hal membuat bola matanya yang bulat unik membesar memandang gerombolan pemain basket itu tertarik.
"Ming, si Donghae paling kate ya diantara pemain yang lain. Paling pendek hahaha," sindirnya diiringi tawa.
Sungmin memelototinya sebentar, tapi setelahnya mengangguk mengiyakan juga. Haduuuh~ bocah aneh.
"Paling pendek gitu, tetep aja yang paling cool~ " belanya. Tersenyum ceria melihat pemain basket itu mulai melakukan peregangan kepala yang dilanjutkan dengan peregangan tangan. Hyukjae mendengus mendengarnya.
"Tapi, Kak Yunho mana ya? Kok nggak muncul-muncul ya, Ming?" Hyukjae celingak-celinguk. Toleh kanan toleh kiri. Menyapu setiap penjuru lapangan dengan iris matanya. Ia hanya melihat pemain basket dari kelas satu dan kelas dua di pojok lapangan tengah melakukan pemanasan. Dan beberapa anak kelas tiga yang baru muncul. Bola mata Hyukjae membulat maksimal saat menangkap satu sosok mengenakan kaus tanpa lengan dan celana training pendek dengan peluit menggantung di lehernya.
Tampan sih, tapi sayang sosok itu bukan Kak Yunho. Tapi, kok bawa peluit? Jangan-jangan dia wasitnya? Jangan bilang … Kak Yunho nggak jadi wasit T^T
Hiks Hiks. Hati Hyukjae berderai air mata nih. Kan udah dibela-belain nungguin dari pulang sekolah sampai tadi buat bisa lihat Kak Yunho. Hiks. Patah deh kesempatannya. Ah, Hyukjae pilu rasanya, sudah kebelet memandangi Kak Yunho. Tapi, apa mau dikata. Takdir berkehendak lain.
"Lho Hyuk, kok Kak Kangin ya yang bawa peluit. Eh eh, keknya bukan Yunho deh Hyuk yang jadi wasit, maaf ya Hyuk. Beritanya salah, maaf yaaa~ tapi jangan pulang, udah kepalang tanggung. Temenin aku nonton yaa, puuuuhlease?" rengek Sungmin menarik lengan Hyukjae sambil meremas-remasnya.
Mau tak mau, menatap pandangan yang dilemparkan Sungmin padanya yang seperti anak anjing hilang itu, Hyukjae manut saja. Meski dia kecewa tidak bisa melihat Kak Yunho.
"Iya Ming, ah~ padahal tadi aku udah semangat denger nama Kak Yunho yang jadi wasitnya," cicit Hyukjae lemas. Ia menyenderkan kepalanya di bahu Sungmin yang menepuk-nepuk bahunya.
"Mungkin, entar pas pertandingan dimulai, Kak Yunho nonton Hyuk, positif thinking aja ya?" ujar Sungmin menghiburnya. Hyukjae hanya mangut-mangut pelan.
"Eh, btw Hyuk. Masih suka sms an sama Kak Yunho?" Tanya temannya itu. Hyukjae yang tadinya asik menyenderkan kepalanya, mulai mengangkat kepalanya untuk memandang Sungmin lebih jelas.
"He'eh, masih sih," Ia bersemangat lagi saat mengingat hal itu.
Selama beberapa hari belakangan ini, Yunho Kak itu jadi teman sms-annya Hyukjae. Semuanya berkat bantuan Sungmin. Sejak insiden Hyukjae dibantuin nyetarter motornya kala itu, Hyukjae langsung cerita ke Sungmin. Dan karena Sungmin itu tipikal orang yang supel dan banyak koneksi, dia lalu membantu Hyukjae mencari tahu nama malaikat penolongnya Hyukjae.
Setelah tahu, orang itu bernama Jung Yunho. Sungmin nggak tanggung-tanggung, mencarikan nomer ponselnya juga. Alhasil, saat Hyukjae sudah mebulatkan tekadnya untuk kenalan dengan Kak Yunho. Keduanya sering sms-an.
"Kamu ngenalin diri jadi kamu sendiri, Hyuk?" Selidik Sungmin.
Hyukjae mengernyit sesaat. Lalu, mendengus. "Nggak, aku pura-pura jadi Hyuksoo. Anak SMA Teratai, Ming. Abisnya, aku malu sih kalau mau kenalan sama Yunho Kak. Kemarin pas nggak sengaja ketemu di kantin, dia bahkan nggak nyapa aku, kayaknya udah lupa deh, pernah nolong aku," tutur Hyukjae sedih. Sungmin menepuk bahunya pelan, lalu menyunggingkan senyum simpatik pada sahabatnya itu.
"Terus, Kak Yunho ngenalin diri jadi siapa Hyuk?"
"Tetep aja, Jung Yunho, pake nama asli. Anak SMA Keluarga."
"Eh, beneran? Berarti dia polos kan ya? Jujur banget gitu. Mana sms-mu ditanggepin pula. Emang awalnya kamu ngomong apa sama dia? Nggak curiga gitu, kok tiba-tiba sms Kak Yunho?" Sungmin masih semangat melemparkan pertanyaan pada sahabatnya.
Hyukjae mengangkat bahunya, bingung sendiri. "Aku cuman bilang, lagi iseng. Terus ngacak-ngacak nomer aja, mencet-mencet nomor nggak jelas, iseng aja aku sms dia," jawab Hyukjae. Yang sekarang kembali menegakkan punggungnya. Masih celingak-celinguk. Berharap di kerumunan penonton muncul sosok Kak Yunho.
"Semangat ya, Hyuk. Maybe kalo emang jodoh, kalian bisa deket," hibur Sungmin yang dibalas anggukan Hyukjae.
"Tapi, Ming. Kamu sendiri, serius gitu naksir sama si Donghae?"
Sungmin agak terkaget mendengarnya. Ia cekikikan lagi. Saat tersadar suara tawanya yang melengking aneh, lumayan berisik. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan. Setelah, mampu menguasai dirinya. Ia menyenggol bahu Hyukjae dengan bahunya.
"Ya nggaklah, kan cuman iseng juga. Cuman buat rame-ramean Hyuk. Anak-anak itu lagi pada suka sama dia, terus akunya ikut-ikut aja. Donghae jadinya ya kecengan rame-rame, buat seru-seruan kok hahaha," jelasnya.
Hyukjae hanya mengedikkan bahu. "Ah, kek nggak ada yang lebih penting lagi. Bisa-bisanya bikin kecengan rame-rame, emang siapa aja Ming?"
"Kebanyakan anak-anak sekelas kita kok, tapi ada sih dari kelas lain. Si Victoria, Krystal, Sulli, Ren, Key, sama siapa lagi ya? Banyak deh, soalnya lucu kalo ngobrolin tentang Donghae sama mereka hahaha. Kali aja, ada yang beneran bisa naklukin Donghae haha. Kamu mau ikut juga Hyuk? Tambah seru tuh kalau kamu ikut, kita kan bisa ngerusuh bareng sambil ngomongin Donghae, terus juga kalau masih berharap sama Yunho Kak, takutnya endingnya bikin sakit hati tuh kalau seumpama nanti nggak bisa dapetin Kak Yunho," ujar Sungmin.
"Gimana Hyuk, mau ikut?" tawar Sungmin.
Hyukjae meringis. Bola matanya menatap Sungmin dengan pandangan horror.
"Nggak deh. Kalian aja Ming, aku nggak ikutan. Males ah, lagian masih berharap sama Kak Yunho. Eh, tapi aku doain aja, entar ada yang kepancing sama Donghae. Well, maybe kalian jodoh, terus ada yang bisa deket gitu sama Donghae," ucap Hyukjae sedikit mengcopy paste ucapan Sungmin yang tadi sempat dilontarkannya kepadanya.
Meski dia agak sulit membayangkan, jika Sungmin dan kronco-kronconya―duh Hyukjae agak bingung menyebut mereka apa―bisa naklukin Donghae. Cowok itu terlalu kaku dan sok dingin. Memang tipikal cowok yang digemari di manga-manga yang banyak penggemarnya. Hanya saja… ah, Hyukjae agak nggak suka. Entah untuk alasan apa. Hyukjae nggak mau ah, terlibat dengan Donghae. Semoga saja sih.
Sungmin menyikutnya sebal. "Dih, nyebelin emang kamu Hyuk. Untung aku udah kebal sama kamu."
"Lagian kalian konyol banget kok. Kalau ada orangnya aja pada bisik-bisik aja. Paling juga teriakin nama tapi bareng-bareng. Nggak langsung disamperin ngasih minum atau handuk kek biar kek di sinetron haha," celetuk Hyukjae.
"Kan malu juga sih Hyuk kalau nyamperin sendiri, nggak asik lagi kalau gitu. Asik kalau ngecenginnya bareng-bareng. Padahal ya Hyuk, aku ada firasat kalau kamu ikut bisa jadi kamu jodohnya Donghae haha. Lucu nggak? Kali aja kalian jodoh."
"Kamu nggak demam Ming? Lagian ya Ming. Cakep sih cakep, tapi perasaan Donghae itu orangnya sok gitu deh."
"Hayooo, tadi bilangnya lumayan. Sekarang ngaku kalau dia cakep."
"Dih, cakepan Kak Yunho pokoknya." Jawab Hyukjae mutlak.
"Hyuk, udah dimulai tuh," seru Sungmin. Mengaburkan lamunan Hyukjae. Hyukjae dapat mendengarkan dengan jelas, suara peluit yang ditiup oleh wasit meramaikan penjuru lapangan tersebut. Pertandingan tersebut akan segera dimulai. Well, kita lihat saja, sehebat apasih Lee Donghae itu.
.
.
Tebece
.
.
Es teh anget itu beneran ada. Itu minuman favorit saya pas masih sma. Di kantin suka pesen itu, bentuknya teh anget yang dikasih es batu. Rasanya dingin-dingin anget gitu deh.
Thank yang udah mau mampir. Ketemu secepatnyaa yaaaa
Berniat review?
