Falling For My Husband

Chapter 1

[WARNING]

Typo everywhere

HUNHAN

BOYXBOY, MPREG, AGEGAP

DLDR – Just go away kalau ga suka

Oh Sehun

Sekitar 3 tahun yang lalu

Penerbanganku memakan waktu 8 jam lebih. Entah kenapa aku merasa khawatir dengan apa yang Suho katakan di telepon "Aku butuh bantuanmu, Sehun" . Diriku mengenal Suho, dia jarang meminta bantuan karena dia bisa melakukan apa saja dan segalanya, Suho yang aku kenal lebih baik membantu daripada meminta tolong. Aku sangat mengenal dirinya, Suho adalah pria yang baik. Dan mendengarnya meminta bantuan dengan nada putus asa membuatku bingung sekaligus khawatir.

Apapun itu, aku tahu ini adalah hal buruk. Aku pernah datang kerumahnya, beberapa tahun yang lalu, sebelum kedua orangtuanya meninggal. Diriku menghabiskan liburan natal dengan Suho, dan itu adalah Natal terbaik dan satu-satunya yang pernah aku miliki. Awalanya aku berfikir betapa aneh dan dekatnya keluarga Suho, karena aku bisa melihat orang tuanya sangat menyayangi dan mencintai Suho; seperti tipe orang tua yang ada di dalam cerita-cerita.

Memiliki perasaan iri bukanlah hal normal bagiku karena sejak kecil aku memiliki semuanya, akan tetapi pada saat itu aku berharap semua warisan yang aku miliki bisa aku tukar dengan kebahagian yang Suho miliki. Sangatlah tragis ketika mendapatkan kabar jikalau orang tua Suho tewas dalam kecelakaan pesawat, dan mayatnya tidak pernah ditemukan. Dan walaupun kesedihan terlihat dimata Suho, dia berusaha tegar dan menggantikan posisi ayahnya. Dan diriku tahu betapa berarti orang tuanya, akan tetapi dia terlihat tegar saat itu.

Tidak pernah satu kalipun laki-laki ini meminta pertolongan. Tidak pernah.

Sesaat aku sampai dirumahnya dan menuju ruang kerja Suho, aku mengetuk pintu dengan pelan sebelum masuk, "Suho?"

Ruang tersebut gelap, dan aku butuh beberapa menit untuk menyesuaikan jarak pandangku. Ketika akhirnya aku terbiasa dengan kegelapan tersebut, aku melihat Suho tertidur lelap dikursinya dekat dengan lampu meja kecil.

Melihatnya tertidur diruang kerjanya membuatku terkejut, namun yang paling mengejutkan adalah penampilannya. Suho tampak terlihat kurus, dan banyak kehilangan berat badan. Dan aku makin merasa sedih ketika melihatnya terbatuk-batuk karena aku tahu penyakitnya bukanlah penyakit yang akan sembuh dengan obat seperti parasetamol.

"Suho?"

Suho – sahabatku – mentorku – perlahan membuka matanya, lalu tatapannya yang kelabu bertemu dengan milikku. "Kau datang," bisiknya sambil perlahan berusaha membenarkan duduknya, "Terimakasih."

"Tentu saja aku datang. Kenapa meragukannya?" Aku bergumam ketika berjalan kearahnya sebelum duduk di sofa sebelah kursinya. "Kau terlihat tidak sehat? Kenapa kau tak pernah memberitahuku apa-apa?"

"Aku juga tidak tahu sampai 6 bulan yang lalu." Suho diam tampak sedang berfikir, dan terlihat sedih, "Aku sekarat, tanpa sepengetahuanku, aku terinfeksi hepatitis B dan ineksi tersebut berubah menjadi kanker hati. Dulu saat diriku masih muda dan sehat, aku tidak pernah mengira bahwa rasa sakit dan gejala yang pernah aku rasakan adalah hal yang serius. Seandainya diriku tahu, aku akan segera menyewa dokter terbaik untuk menyembuhkanku." Suho menatapku, dan terdiam beberapa detik sebelum terbatuk, "Hidupku tinggal beberapa minggu atau maksimal beberapa bulan lagi."

Rasanya begitu nyata. Suho tidak mungkin sekarat, bagaimana mungkin dia sekarat ketika aku mengenal Suho sebagai orang yang kuat? Bagiku, Suho adalah keluarga dan saudara laki-lakiku. Dan aku sangat menghormatinya. Dan sekarang dia sekarat.

"Aku akan mencari bantuan, aku akan menyembuhkanmu. Aku yakin ada dokter hebat diluar sana yang bisa membantu – "

Suho mengangkat tangannya untuk menghentikanku berbicara, "Aku baru saja kembali dari Afrika selatan. Menurutmu, kenapa aku pergi beberapa saat? Aku mencari obat." Dirinya menghela nafas, penuh kesedihan, "Waktuku hampir habis, dan aku sudah menerimanya. Tidak ada obat diluar sana yang bisa menyembuhkanku – akan tetapi ini bukan tujuanku memanggilmu, Sehun. aku memiliki sebuah permintaan. Dan ini sangat penting, dan aku akan sangat bersyukur jika kau mau membantuku karena aku ingin pergi dengan tenang. Dan aku harap dirimu bisa membantuku."

Perasaan tidak berdaya begitu terlihat sehingga diriku akan melakukan apapun yang Suho minta dalam sekejap. Aku akan melakukan apa saja untuk membantunya.

"Apa saja, kau tidak perlu meminta."

Suho memberikan senyuman kecil dan lemah yang memecahkan ketenanganku.

Sahabatku sekarat. Namun disinilah dia berusaha memberikanku senyuman karena dirinya tahu aku akan mengabulkan keinginan terakhirnya. Hidup sungguh tidak adil dan aku membencinya.

"Aku tahu kau akan melakukkannya, tetapi aku ingin kau mendengarkan dan memikirkannya." Suho mengulurkan tangannya dan memegang tanganku, "aku tidak akan memaksamu jika kau tidak menyetujuinya." Suho menarik nafas dengan terengah-engah, seolah-olah dia berusaha mati-matian memikirkannya sebelum mengeluarkan apa yang ingin diriny katakan padaku, "Aku ingin kau menikahi Lu Han. Aku tahu dirimu masih mencintai Ga eun, tetapi aku tidak bisa meninggalkan dunia ini ketika tahu adikku tidak memiliki seseorang yang akan melindunginya di dunia ini. Dirimu adalah satu-satunya orang yang aku percaya. Dan aku percaya bahwa Lu han akan merasa aman dan percaya padamu. Aku bisa mati dengan bahagia mengetahui itu, Sehun."

Lu han, pria muda, pemalu dengan rambut coklat dan mata rusa yang bahkan tidak bisa menatapku saat terakhir kali aku bertemu dengannya? Terakhir kali aku bertemu dengannya, adalah saat hari pernikahan ayahku dengan wanita yang aku cintai. Dan aku tidak pernah bisa membayangkan bagaimana aku menghabiskan sisa hidupku ketika ayahku mengambil semua itu. Disamping itu, aku akan menembak diriku sendiri jika aku menolak permintaan Suho.

"Aku akan menikahi Lu Han. Tidak ada yang menghalangiku untuk membantumu. Dan kau akan mendapatkan yang kau inginkan, Suho." Didalam hatiku, aku benar-benar hancur. Meskipun aku mengambil keputusan yang terbaik, aku berusaha untuk tidak menangis ataupun marah. Mungkin aku masih merasakan sakit saat mengingat Gaeun, atau mungkin hidup memang tidak pernah memihakku. Apapun alasannya, aku menahannya. Suho perlu tahu jika dia bisa mempercayaiku, "Aku akan menikahi Lu Han hingga dia cukup umur dan menemukan pasangan hidup yang layak untuknya. Aku akan berjanji padamu dan memastikan dia hidup dengan baik, menjaga semua asetnya dan mengamankan semuanya dari orang-orang yang menginginkan asetmu dan dirinya."

Suho sudah menjabarkan semuanya, dari membuat dan menyusun perjanjian dengan pengacara sebelum aku tiba disana. Aku akan menikah dan menjadi penjaga Lu han hingga dia berumur 26 tahun. Dan aku juga menyusun daftar tentang apa yang harus dilakukan ketika Lu han memilih seseorang untuk menikahinya kelak. Suho sudah mempersiapkan segalanya. Dan sekarang yang perlu dilakukan adalah memberi tahu saudara laki-lakinya tentang hal ini. Suho berjanji akan memberi tahu Lu han saat minum teh dan aku akan menemuinya saat makan malam untuk mendiskusikan tetang apa yang akan terjadi.

Makan malam dengan Lu han akan dilakukan pukul 7 malam nanti. Diriku merasa begitu lelah sesaat setelah aku menjatuhan diriku diatas tempat tidur di kamar tamu yang sudah Suho persiapkan untukku.

Ayahku, Gaeun, pernikahan mereka. Suho yang sekarat. Dan hal yang akan terjadi dengan Lu han...

Pengkhianatan ayahku sangatlah menyedihkan, namun bagaimanapun didalam lubuk hatiku aku akan menduga hal ini akan terjadi karena aku tahu bagaimana ayahku. Dan mengetahui Suho sekarat aku masih bisa menahan kesedihan ini tetapi disisi lain hal ini membunuhku. Namun, pengkhianatan Gaeun melampaui semua apa yang aku pikirkan, aku tidak menduga bahwa dirinya meninggalakanku. Ketidaksetiaannya sungguh menghancurkan diriku.

Sungguh banyak yang harus aku terima, tapi begitulah hidup yang aku alami.

Aku kehilangan orang terpenting dihidupku. Mereka bukanlah hanya orang yang ada dihidupku sepeti ayahku. Gaeun dan Suho adalah orang yang aku anggap sebagai keluarga dan sahabat, seseorang yang akan selalu ada disampingku disaat senang ataupun sedih.

Kehilangan Gaeun ditangan ayahku sendiri sudahlah cukup, tetapi kenapa aku juga harus kehilangan sahabat terbaikku karena kanker? Rasanya aku ingin berteriak, Suho terlalu muda untuk mati.

Pukul 7 aku menuju ruang makan, dan au terkejut saat aku memasuki ruangan dan bertatap mata dengan mata coklat yang seakan-akan bersinar, rambut coklat yang terlihat lembut, wajah yang terlihat halus dan imut dengan bulu mata yang panjang dan bibir yang imut yang pernah aku lihat.

Kim Lu han telah tumbuh menjadi seorang yang sangat indah.

Dengan otomatis aku berjalan kearahnya dan duduk disebelahnya berharap melihat diriya dari dekat dan sangat tidak mengecewakan karena Lu han begitu cantik dilihat dari dekat.

"Selamat malam," gumanku, perlahan menghirup aroma dari tubuh Lu han saat menatapnya. Dan hal tersebut membangkitkan libidoku.

"Sehun, senang bertemu denganmu lagi."

Suaranya lembut...jelas dirinya bukan Luhan yang berusia 16 tahun yang aku ingat. Luhan begitu menawan. Dalam hati aku memaki diriku sendiri. Apa yang aku pikirkan? Suho sedang sekarat dan disini aku berpikir tentang aroma dan betah indah suara Luhan. Demi neptunus, aku harus memeriksa kepalaku.

Ketika makan malah sudah disajikan, aku memulai percakapan dengannya.

"Apa rencanamu untuk masa depan, Luhan? Dalam hal karir."

Luhan dengan hati-hati mengunyah makanannya sebelum meneguk Sauvignon Blanc, lalu dengan lembut membersihkan sisi mulutnya dengan tisu, "Sahabatku, Baekhyun dan aku sedang berfikir untuk mendirikan perusahaan PR kami sendiri. Aku dan Baekhyun sudah terdaftar untuk kursus di London sebelum kami benar-benar mendirikan perusahaan tersebut. Itu adalah bidang yang kompetitif, tentu saja; oleh karena itu kami berdua sudah memahami dan masih perlu belajar untuk menjalankan firma tersebut."

Luhan benar-benar mengesankan. Kebanyakan orang-orang seumurannya selalu memikirkan harta dan strata sosial. Mereka dilahirkan untuk menikahi seseorang yang sesuai dengan stratanya. Akan tetapi, laki-laki didepanku, entah kenapa seperti yang diriku harapkan?

"Jika kau butuh bantuan untuk mencari perusahaan PR yang dapat membantumu dan temanmu, beri tahu aku. Aku akan sangat senang membantu."

Lu han tersenyum tulus menghilangkan kesedihannya sesaat dari wajahnya. Aku diam beberapa saat untuk menghargai kecantikannya sebelum kembali sadar dari lamunanku.

"Salah satu sahabatku, Chanyeol sebenarnya memiliki saudara laki-laki yang memiliki perusahaan dan dia dengan senang hati membantu kami sampai nanti akhirnya kami bisa berdiri sendiri, tetapi terimakasih untuk tawarannya."

Lu han terlihat memiliki banyak sahabat laki-laki, hal tersebut agak sulit walaupun sahabatnya sendiri terkadang menyatakan bahwa mereka sekedar sahabat. Menurutku Chanyeol hanya ingin menginginkan Lu han sendiri. Karena aku mengenal Baekhyun dan aku tahu bagaimana Baekhyun. Tetapi Chanyeol? Entahlah.

Whoa! Hold it there, you fool.

Pikiranku tiba-tiba mengejutkan diriku sendiri. Apakah karena Suho menyuruhku untuk menikahi Luhan? Benar, itu yang membuatku merasa harus melindunginya, tidak lebih. Tentu saja.

Selama makan malam,kami tidak pernah membicarakan tentang penyakit Suho atau membicarakan tentang pernikahan yang akan terjadi, sebaliknya, Luhan menemukan subjek yang lebih ringan untuk dibicarakan. Dia ternyata agak cerewet. Diriku merasa ragu karena baru kali ini aku merasa nyaman mengobrol dengan remaja berusia 18 tahun. Jesus Crisht! 18 tahun, Sehun!

Dia mengatakan bahwa dia mempercayai keputusan Suho. "Jika Suho bepikir itu adalah keputusan yang bijaksana, maka aku akan melakukannya tanpa ragu. Justru yang aku khawatirkan adalah dirimu. Hal ini akan menghentikan kehidupanmu, Sehun. maksudku, apa yang akan terjadi jika beberapa tahun kedepan kau ingin menikah?"

"Tidak, kau tenang saja." Aku meyakinkan Luhan.

Luhan tampak berpikir sejenak, "Bagaimana kau bisa begitu yakin?"

Karena ayahku yang membuatku begini; membuatku merasakan kebencian. Karena dirinyalah yang mengubah hidupku yang dahulu bebas, riang dan optimis menjadi seperti ini.

"Aku akan memberi tahu sesuatu tentangku, Luhan. Aku tidak pernah berbohong ketika menyangkut hal-hal penting. Dan aku ingin kau tahu bahwa aku tidak akan menikahi siapapun dalam waktu beberapa tahun atau dekade sekalipun karena aku tidak ingin. Pernikahan adalah sandiwara yang mana aku tidak menyukainya. Dulu aku pernah memikirkannya akan tetapi semua itu sudah hilang selamanya."

Mata tajam berawarna coklat itu menatapku dan aku tidak mundur dari panasnya tatapan tersebut. "Kau sangat baik, Sehun. aku berjanji tidak akan menghalangi jalanmu. Bahkan kau tidak akan ingat kalau aku ada."

Diriku meragukan hal itu, karena laki-laki mana yang buta untuk tidak melihat kecantikannya. Suatu hari dia akan menemukan jati dirinya, dan ketika dirinya sudah menemukannya, maka dia akan menjadi fatal untuk semua pria atau wanita didunia ini.

5 hari kemudian semenjak aku tiba, Aku dan Luhan mengucapkan janji kami di gereja kecil. Diriku bahkan tidak merasa terganggu saat mengucapkan janji untuk menikahinya, meskipun Luhan berulangkali meminta maaf karena telah mengganggu hidupku.

Dia benar-benar tidak perlu meminta maaf karena aku menyambutnya. Mungkin Luhan tidak tahu, akan tetapi diriku dengan senang hati membantu. Meskipun aku baru bertemu Luhan 1 kali sebelum semua ini terjadi, tetapi aku sudah menghabiskan waktu dengan orang tuanya dengan Suho saat mereka mengunjungi kami dulu waktu kuliah. Dan setelah aku menghabiskan liburan natal dengan orang tuanya, mereka memperlakukanku seperti keluarga dan aku akan selamanya benar-benar bersyukur. Mungkin terdengar aneh, tetapi aku menganggap orang tua Suho dan Luhan benar-benar pasangan terbaik. Dan ketika tahu kalau mereka tewas, aku sangat sedih selama berbulan-bulan bersama Suho.

Ya, mungkin Luhan tidak sadar, tetapi didalam hatiku, keluarganya sudah menjadi keluargaku sejak lama. Pernikahan ini hanya membuat semua perasaan tersebut menjadi nyata.

Kehidupan telah membuat diriku melihat begitu tidak berdayanya kami sebagai manusia. Semua yang kita miliki didunia hanya sementara. Kegembiraan cinta dan rasa sakit adalah pengalaman berharga yang hanya akan kita rasakan secara singkat.

Detak jantungmu, pikiranmu, cintamu, kekuatanmu, imanmu dan perjuanganmu adalah jalan yang menuntunmu menuju medan perang yang sebenarnya. Akan ada waktu di mana kehidupan akan menguji batas, kekuatan, dan ketekunan kita. Sebagian besar dari kita belajar dari pertempuran kecil ini, tetapi itu semua hanyalah langkah-langkah untuk mempersiapkan kita menghadapi pertempuran yang terbesar;

Sungguh menyedihkan, sahabatku tidak selamat dari serangan yang tiba-tiba. Suho meninggal pada Kamis pagi — dua minggu setelah pernikahan — pada usia muda dua puluh lima tahun.

Beberapa stafnya berkomentar bahwa Suho mungkin perlu melihat adiknya menikah sebelum akhirnya menyerah.

Tidak hanya menyakitkan meliihat Sahabatku saat dirinya dikubur, tetapi juga sangat menyedihkan ketika melihat Luhan terisak lembut ketika dirinya menahan air mata saat pemakaman. Kim Luhan, pewaris terakhir keluarga Kim, berusia 18 tahun yang memiliki begitu banyak uang dan warisan. Kematian Suho begitu tertutup, tidak banyak orang yang tau, akan tetapi ketika berita ini menyebar, banyak burung-burung dan mangsa yang datang berbondong-bondong.

Melihat keaadan Luhan sekarang, sungguh sangat jelas bahwa dia dapat dengan mudah ditipu dengan kata-kata manis dan keamanan palsu dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Ya, sekarang aku bisa melihat betapa tidak berdayanya dia tanpaku dibelakangnya.

Suho benar dalam membuat keputusan, aku akan menemaninya hingga dia berumur 26 tahun untuk melepaskannya menjadi pria yang bebas. Sampai saat itu tiba, dia memiliki diriku.

Aku tidak akan membatasinya untuk melakukan apapun ataupun dalam hal berpacaran, karena aku percaya dirinya harus belajar bagaimana kejam dan egoisnya beberapa orang diluar sana. Sehingga, jika suatu hari dia menikah, dia tahu dan akan menemukan pasangan terbaiknya kelak. Seseoarang yang akan melindungnya dari apapun. Seseorang yang akan mencintainya seperti orang tuanya mencintai Suho dan Luhan.

Diam-diam aku meraihnya, melingkarkan lenganku di tubuhnya agar dia tahu bahwa aku ada disisinya meskipun dia menganggapku orang asing. Mata rusanya berkaca-kaca ketika aku mengangkat tenggkuknya agar Luhan menatapku dan kemudian aku mencium keningnya dengan lembut.

"Jangan pernah berpikir kamu sendirian," aku bergumam lembut. "Aku juga keluarga."

Dan yang dia tidak tahu bahwa dia adalah satu-satunya keluarga yang tersisa untukku.

NOTED:

Untuk memperjelas di chapter 1 ini adalah flashback 3 tahun lalu sebelum Sehun sama Luhan nikah. Disini Luhan masih berumur 18 tahun, Sehun 30 Tahun dan Suho 25 tahun.

Walaupun Suho dan Sehun beda umur, tapi mereka memang sahabat semenjak mereka kenal di tim dayung dan kelas yang sama waktu kuliah.

Jadi buat kalian yang ga suka AGEGAP, nagajuseyo~~~

Happy reading and sorry for the typos :D