Jam dinding menunjukan pukul 9 malam. Sebenarnya bagi Chanyeol jam 9 belum terbilang malam, karena biasanya ia bisa pulang lebih malam daripada itu.

Bila dia pulang jam segini pasti dikarenakan tugas yang menjadi beban Chanyeol telah selesai pada minggu ini.

Bila di dalam Fanfiction ataupun novel sampai film action yang kalian tonton menunjukan bahwa biasanya orang - orang yang jenis pekerjaanya seperti Chanyeol, bila sudah menyelesaikan pekerjaanya adalah berkeliaran dan mentekuni kegiatan dunia malam.

Tapi Itu tidak dilakukan oleh Chanyeol.

Menurutnya ia mending pulang dan beristirahat daripada harus membuang waktunya untuk mendengar musik EDM yang keras ataupun wanita jalang penggoda yang hanya bisa mengesek dan meliukan badannya di pole.

Dan alasan utama Chanyeol selalu ingin pulang tentu saja karena ingin bertemu dengan byun kecilnya.

Seperti sekarang.

Tubuh berototnya yang dihiasi oleh beberapa tatto ditubuhnya serta bekas luka sayatan dimana - mana itu terlihat rilex saat kulitnya bertemu dengan hangatnya air yang terisi di bathtub.

Beberapa lilin yang dinyalakan Baekhyun menguarkan aroma Jasmine. Matanya tertutup berusaha menikmati dan menyamankan diri di dalam bathtub, suara pintu kamar mandi yang terbuka terdengar.

Manik Chanyeol setengah terbuka dan melihat si kecil kesayangannya berjalan ke arahnya sambil membawa handuk. Matanya menyipit melihat penampilan Baekhyun.

Sepertinya Chanyeol tidak sadar sedari tadi Baekhyun hanya mengenakan kemeja putih punyanya yang terlihat amat kebesaran sehingga menenggelamkan tangannya. Dan celana pendek hitam yang juga ikut tenggelam di balik kemeja.

"Damn"

Dan yang membuatnya berbisik mengumpat, dikarenakan kemejanya itu membuat bahu sebelah kirinya terekspos dengan jelas dan demi apapun collarbone Baekhyun sungguh indah.

Baekhyun tidak menyadari tatapan tajam yang seperti akan menyerangnya kapan saja.

Baekhyun tetap berjalan dan duduk di tepian bathtub dimana kepala Chanyeol berada.Handuk yang ia bawa diletakan di pangkuannya.

"Ayo sinikan kepalamu Channie" ucap Baekhyun sambil tersenyum lembut.

Langsung dilaksanakan. Kepalanya yang bersurai abu - abu itu ia letakan di pangkuan baekhyun yang beralaskan handuk. Saait itu terjadi jemari lentik Baekhyun langsung berkerja.

Memijat dan menekan saraf - saraf yang tegang dengan lembut. Membuat Chanyeol nyaman dan menutup matanya.

"Lihat ini. Sarafmu banyak sekali tegang, apa yang aku bilang untuk tidak memaksakan diri?"

Dari nada yang dilontarkan Baekhyun, Chanyeol sudah bisa menebak Baekhyun sedang merajuk. Yakin sekali kalau kedua matanya terbuka sekarang, pasti Chanyeol melihat bibirnya yang mengerucut lucu.

"Aku hanya melakukan kewajiban Baek" sahut Chanyeol dengan mata yang masi terpejam. Menikmati jari lentik yang seperti perempuan itu berkerja di daerah bahunya. Meremas otot -otot yang tegang.

"Tapi tidak sampai harus mengorbankan kesehatanmu Chan. Setelah ini selesai akan kuobati lenganmu"

Chanyeol sampai terlupa dengan luka sayatan di lengannya yang ia dapat beberapa jam yang lalu. Dan belum terobati.

"Bagaimana kau tahu sayang?"

"Karena aku yang selalu mengobatimu" ujar Baekhyun. Dan itu membuat Chanyeol tersenyum dan membuka matanya.

"Baekhyun-ku pasti selalu saja peka. Membuatku makin sayang"

Dan lihat. Bagaimana panas merambat ke wajah kekasihnya. Membuatnya terlihat imut berkali - kali lipat sekaligus menggoda mengingat pakaian yang dikenakan Baekhyun. Dan yang paling mencolok bibirnya yang ranum kontras sekali dengan warna kulitnya yang putih.

Ingin Chanyeol mencecap bibir itu.

Chanyeol tidak menepis keinginannya. Dengan lembut tangan beruratnya membawa tengkuk Baekhyun kebawah, mempertemukan bibir mereka.

Dimulai dengan sesapan lembut dibawah bibir Baekhyun yang terasa manis sekali mengingatkan Chanyeol pada vanilla yang manis.

Awal cumbuan yang manis lambat laun berubah panas, tangan chanyeol yang tadinya berada di tengkuk merambat naik ke arah surai hitam Baekhyun dan menekan kepalanya lebih dalam.

Baekhyun kaget tanpa sengaja membuka mulutnya, sebelum memekik lidah Chanyeol sudah masuk mendominasi mulutnya, dan Baekhyun tidak bisa melawan.

"Hnggg.."

Suara desahan tertahan itu keluar tanpa Baekhyun sadari. Membuat Chanyeol gencar menikmati bibir manis itu. Saat lidah Chanyeol bersentuhan dengan lidahnya Baekhyun tampak malu - malu mengikuti alur cumbuan basah ini.

Lidah Chanyeol terus - terusan bermain di dalam rongga mulut Baekhyun membuat saliva mereka bercampur hingga sampai - sampai saliva itu lolos dari sudut bibir Baekhyun yang masih dicumbu.

Ciuman itu berlangsung sampai Baekhyun berusaha memundurkan kepalanya, dan Chanyeol cukup waras untuk mengetahui Baekhyun membutuhkan nafas. Dengan berat hati chanyeol memutuskan ciuman itu.

Ciuman yang benar - benar basah. Saat memutuskannya saja benang saliva mereka menjuntai panjang dari lidah Baekhyun.

Chanyeol menyeringai betapa kacaunya Baekhyun, mulutny terbuka mengais oksigen dan sudut bibirnya mengalirkan saliva, pipinya merona, matanya sayu menatap kosong dan kemeja Chanyeol yang dikenakannya semakin melorot.

Oh astaga. Bahkan tanpa Baekhyun sadari bagian selatan Chanyeol yang terendam air hangat sudah mengeras tanpa sedikit pun di sentuh.

Membuktikan betapa besarnya pengaruh Baekhyun terhadap Chanyeol.

"Channie, berhenti menatapku seperti itu" suara itu terdengar seperti bisikan.

"Kenapa memangnya?" Bibir tebal itu menyeringai kejam yang sialnya terlihat tampan. Sampai - sampai mata Baekhyun bergerak ke arah sendiri, Tidak ingin melihat wajah kekasihnya. Jemari mungilnya bertautan satu sama lain memainkan lengan kemejanya.

"Kan aku maluu~" tangannya yang tadinya saling bertautan, langsung menutupi seluruh wajahnya.

Chanyeol terkekeh geli melihat tingkahnya. Ingin mengoda Baekhyun lebih lama lagi, tapi niatnya ia urung karena merasakan bagian selatannya yang berdenyut denyut. Membuatnya ingat dia masi tegang. Chanyeol mengangkat kepalanya dari pangkuan Baekhyun.

"Baek" mendengar namanya dipanggil perlahan - lahan dia menurunkan kedua tangannya yang tadinya masi bertengger di wajahnya.

"Yaa?" Perasaan khawatir menyeruak sewaktu maniknya memperhatikan buliran - buliran yang ia yakini keringat, dan chanyeol yang menggeram rendah seperti menahan sakit.

"Yeollie kenapa? Ada yang sakit?" Jemari lentik itu menjulur berusaha menggapai kepala Chanyeol. Tetapi sudah dicegat oleh tangan yang lebih besar.

Chanyeol merasakan tekstur kulit Baekhyun yang lembut bersentuhan dengan teksturnya yang kasar. Merasakan kontak fisik sekecil itu saja dapat memberikan sengatan listrik bagi tubuhnya.

"Bisakah kau keluar?"

"Uhh?, kenapa memangnya?" Mata sipitnya berkedip sekali dua kali. Merasa bingung kenapa secara tiba - tiba ia disuruh keluar.

Wajah sang mafia condong ke arah anjing kecilnya. Dan berhenti saat bibirnya dapat meraup cuping telinganya. Melumatnya lembut dan sengaja membuat suara kecapan basah yang erotis memenuhi ruangan.

Suara itu membuat Baekhyun malu setengah mati, matanya ia pejam dan bibir ranumnya sengaja digigit. Menahan desahan yang ingin keluar dari bibir tipis itu.

Suara lumatan terhenti, digantikan dengan suara bariton Chanyeol yang membuat Baekhyun makin memerah.

"Karena aku sekarang tegang sayang. Sebaiknya kau keluar hyun. Tahu kan kalau aku dalam kondisi seperti ini sangat berbahaya bagimu?" Bisiknya seraya jemari besarnya mengelus pipi gembil Baekhyun dengan pelan.

Baekhyun refleks menurunkan tatapannya ke arah selangkangan Chanyeol yang masi terendam air. Tetapi dapat ia lihat sedikit bayangan di bawah genangan air yang tertutupi busa.

"B-baiklah" Chanyeol tersenyum lembut. Lalu melepaskan Baekhyun yang dengan kaku menggerakan anggota tubuhnya untuk turun dari pinggiran bathtub.

Sebelum benar - benar beranjak. Baekhyun berbalik kembali menatap Chanyeol

"Maafkan aku channie"

"Hey tidak apa - apa baby, aku bisa mengatasinya. Sekarang keluar ya?" balasnya langsung kurang dari 5 detik. Meyakinkan Baekhyun.

Dibalas dengan anggukan. Chanyeol dapat bernafas lega saat pintu kamar mandi tertutup dan tidak lagi menampakan punggung Baekhyun.

Selesai mengosongkan Bathtub. Tungkainya berjalan untuk membasuh badannya. Dan tentu saja.

Menggunakan air dingin.

Baekhyun menunggu di ranjang king size berlapis seprai putih. Di pangkuannya sudah ada kotak obat yang selalu ia simpan di laci nakas samping tempat tidur mereka.

Kakinya yang menggantung di samping ranjang digerakan sambil bergumam pelan. Saat bunyi percikan shower berhenti, Chanyeol keluar dengan handuk terikat di pinggang.

"Chanyeolie, sini"

Chanyeol menurut dan duduk dihadapan Baekhyun yang sedang mengambil kapas dan alkohol. Sudah sangat hafal dan menjadi kebiasaan mereka seperti ini.

Kapas yang lembab oleh alkohol itu Baekhyun tekan di lengannya yang terluka, Membuat mata Chanyeol terpejam.

"Apakah sakit?"

"Tidak baby, sudah terlalu biasa untukku" tak mau berlama - lama dan menambah rasa sakit pada Chanyeol. Tangannya bergerak cepat untuk mengolesi obat merah dan membalut lukanya dengan perban.

Sebenarnya Chanyeol jarang sekali mendapatkan luka. Terlalu jarang, bila mendapatkannya artinya Phoenix baru saja bergelut dengan kelompok mafia lain yang tak kalah kuat. Walaupun tetap Phoenix yang memegang kuasa paling besar.

"Kali ini apa yang Channie perebutkan? Sampai terluka seperti ini" Baekhyun mengelus lengan yang dia obati dengan lembut. Chanyeol mengangkat sedikit dagunya dan memberikan bibir tipis itu kecupan singkat.

"karena saham mereka turun karenaku, mereka menyerang gudang pasokan marijuana dan-" Baekhyun menyatukan kedua alisnya terlihat bingung

"Dan?"

"Dan pemimpin mereka ingin memilikimu" Suara bariton itu makin memberat. Sang Phoenix akan berubah menjadi sangat berbahaya bila sudah berhubungan dengan Baekhyun- anjing kecilnya.

"Daehyun si bajingan itu bahkan tahu dimana kau kuliah dan dengan brengseknya mengatakan-" tangan Chanyeol mulai meraba lekukan punggung dan lamat - lamat berambat ke bawah.

"Bahwa tubuhmu indah sekali terutama disini" Baekhyun rasakan bokongnya diremas dengan pelan.

"C-Chanyeol"

"Karena itu, kaki kanan dan bahu sebelah kirinya kutembak. Sepertinya sekarang dia sekarat" intonasinya tidak menyiratkan rasa bersalah sama sekali. Membuat si kecil menghela nafas.

"Seharusnya kau tidak menembaknya karena aku yeol"

"Kau bisa menganggap aku menembaknya karena mencoba bermain - main dengan teritoriku Baek" dan end of discussion, Baekhyun sudah terlalu lelah menanggapi.

Kejadian itu sudah membuktikan sesuatu bukan?

Park Chanyeol adalah pria yang sangat posesif.

"Besok ada kelas pagi kan? Tidurlah" sang Phoenix merengkuh badan yang lebih mungil mendekapnya di dada bidangnya. Menjatuhkan tubuh mereka berdua diatas seprai.

Chanyeol menarik selimut sampai setengah badan. Baekhyun mengelus - elus kepalanya di depan dada Chanyeol mencari kenyamanan. Seperti anak anjing.

Chanyeol yang peka segera membelai surai yang kelewat halus itu. Tabiat Baekhyun dari dulu, kalau sudah mengelus - eluskan kepalanya artinya itu tanda rambutnya minta dibelai.

Lihat bagaimana kepalanya berhenti bergerak dan menikmati elusan Chanyeol di rambutnya. Mata Baekhyun memberat sebelum terlelap bibirnya masi ingat untuk berucap.

"Selamat bobo Channie" merapatkan tubuhnya, agar merasakan hangat. Lalu terlelap.

"Selamat tidur puppy"

Tbc

Suka kobam dah klo Chanyeol bucin ke Baekhyun :"

See u di next chap , kalo masi ada yg mau :'

-Iuta-