Chapter 2
Bagaimana kami akan...?
Mamori tengah duduk di ruang tamu apartemen-NYA dengan berbagai macam emosi di wajahnya, kesal paling terlihat. Duduk berseberangan dengannya adalah Yoichi Hiruma. Wajahnya datar dan kalem, terlepas dari matanya yang menatap Mamori penuh rencana. Rahangnya yang tegas terus mengunyah permen karet bebas gula untuk membantunya berpikir jernih.
Memang sejak 10 menit yang lalu keduanya hanya duduk saling tatap tanpa bicara, sibuk dengan rencana rencana di otak masing masing. Contohnya, Yoichi saat ini sedang berpikir mendapatkan Menejer Jeleknya ini untuk mengurus rumah dan juga dirinya. Atau Mamori yang sebuk memikirkan cara mereka tidur nanti malam dengan satu kamar yang ada. Salah satu dari mereka tidur di sofa atau... Mamori tak ingin membayangkan opsi ke dua.
Iya, mereka memang menerima usulan paman tua itu mengenai tinggal bersama sementara waktu. Tentu saja kalau bukan karena tidak ada jalan lain keduanya tidak mungkin setuju tinggal bersama.
Seperti yang dikatakan Mamori, dirinya tidak mungkin pulang kerumah karena hal seperti ini. Kalau tidak, mustahil dia diijinkan keluar lagi. Dia juga tidak mungkin mencari apartemen baru dengan uang yang hanya tersisa beberapa lembar saja di dompetnya. Selain itu, waktunya tidak memungkinkan untuk mencari apartemen yang baru. Lagipula, Mamori sudah terlanjur menyukai tempat ini.
Lalu Yoichi, dia tidak akan mau menyerahkan apartemen ini kepada Mamori. Hanya apartemen ini saja yang menurutnya paling nyaman di tinggali. Tidak berisik, tidak jauh dari pusat kota, dan dekat dengan Saikyoudai. Apartemennya yang lain tidak seperti yang disini. Dan tambahan, dia kan memiliki apartemen ini lebih dulu jauh sebelum Mamori.
"Mengurus rumah dan memasak adalah tugasmu, Menejer Jelek," gumam Yoichi memutuskan untuk tembak langsung saja.
"Apa? Lalu kau?"
"Kalau kau mau makan masakan gosong tiap saat, aku bisa melakukannya," bohong Yoichi santai. Padahal, selama ini semua makanan yang dia makan adalah masakannya sendiri.
Mamori menampakkan wajah ngeri. "Biar aku saja," putusnya kemudian.
Dalam hati Yoichi sudah nyengir lebar dengan puasnya. Tapi yang terlihat di luar ya wajah datarnya seperti biasa.
"Kau tidur--"
"Aku tidak mau tidur di sofa," potong Yoichi cepat sebelum Mamori menyelesaikan kalimatnya.
"Lalu bagaimana? Aku juga tidak mau tidur disofa! Masa kita harus tidur sekamar? Seranjang?"
"Tumpuk saja bantal di tengah, selesai. Dan aku pakai kamar mandi duluan."
"Kenapa kau duluan?!"
"Karena aku berani bertaruh, kau akan menghabiskan sepanjang pagi di tempat itu!"
Mamori memberengut. Tak membantah maupun mengiyakan. Seingatnya acara mandinya hanya memakan waktu sekitar 15 sampai 20 menit saja. Apa itu termasuk menghabiskan sepanjang pagi?
"Kalau begitu, Senin, Rabu, dan Jumat kau yang belanja dan mencuci piring," ucap Mamori kemudian.
"Apa kau tuli, Monster Cream Puff? Sudah kubilang mengurus rumah dan memasak adalah tugasmu. Termasuk belanja dan cuci piring."
"Ugh!" Mamori menggembungkan pipinya dengan kesal. Sadar sepenuhnya bahwa Yoichi akan menjadikannya seperti pembantu disini.
~ioioioioio~
Siang sudah berlalu. Bulan dan bintang kini sudah menampakkan cahanyanya menyambut malam. Selesai dengan aktifitas petang mereka, orang orang mulai bersiap untuk tidur. Begitupun Mamori. Meskipun diluar lampu kota masih berkelap kelip, dia memutuskan untuk tidur lebih cepat.
Tidur lebih cepat bukannya tanpa alasan. Sejak tadi memang otaknya tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana dirinya akan tidur nanti. Karena sejujurnya, tidur seranjang dengan Yoichi Hiruma benar benar tidak ada dalam daftarnya sekarang sekarang ini. Walau dipisahkan lipatan selimut dan bantal yang sedang dia tumpuk sekarang, tetap saja namanya tidur seranjang. Lagipula, tumpukan ini mudah ambruk.
Aduh! keluh Mamori dalam hati. Dia menggeleng kuat-kuat guna mengenyahkan pikiran itu dari otaknya.
Mamori merasa Yoichi bukan orang yang bisa berbuat seperti itu padanya. Laki laki itu memang kasar, suka memerintah dan hal buruk lainnya. Tapi di sudut hatinya, Mamori yakin Yoichi tidak akan berbuat macam-macam.
Mamori mendongak terkejut saat pintu kamar di buka oleh Yoichi. Dia segera menunduk berusaha menyembunyikan rona wajahnya dari mata laki laki itu. Pasalnya, Yoichi baru keluar dari kamar mandi, dia ke kamar untuk mencari handuk yang tak ada di kamar mandi. Jadi ya, bulir air masih memenuhi wajahnya. Sesekali menetes menuruni ujung ujung rambut depannya atau mengikuti garis rahangnya yang sempurna.
Sebelum ini, Mamori sudah sering melihat Yoichi setelah cuci muka. Tapi tidak dalam situasi ini. Situasi dimana mereka sedang tinggal dalam satu rumah dan akan berbagi kamar. Dengan dirinya yang menata bantal di tengah tempat tidur diselimuti rasa gugup. Dan penampilan Yoichi yang benar benar santai dengan hanya memakai t-shirt longgar dan celana tidurnya.
Oh, betapa semua itu terlalu tiba tiba!
"Dimana kau menaruh handuknya, Menejer Jelek?" Yoichi bertanya, pura pura tidak menyadari tingkah Mamori. Kalau tidak begitu, akan terjadi kecanggungan di antara mereka. Dan Yoichi tidak ingin salah tingkah di depan Monster Cream Puff itu. Meski tak terlihat, dirinya sudah cukup gugup menghadapi situasi ini.
"Eh, apa?" Mamori tergagap.
"Handuk, dimana handuknya?" ulang Yoichi dengan tak sabar.
Tanpa buang waktu Mamori melompat turun dari ranjang kearah lemari pakaian. Lemarinya cukup besar hingga bisa dipakai berdua. Entah mengapa beberapa furnitur di rumah ini bisa di pakai berdua seperti ranjang dan lemari ini.
Mamori membuka lemari itu, pintu kanan lemari itu. Setelah mengambil handuk yang dimaksud Yoichi, dia menutupnya kembali dan menyerahkan handuk itu pada Yoichi.
"Pakaianmu ada di sebelah kanan. Yang kiri punyaku," gumam Mamori sedikit menundukkan wajahnya dari lawan bicaranya.
"Kalau begitu kau juga di kiri." Yoichi menyerahkan handuk yang telah dipakainya itu kembali pada Mamori. Kemudian ngeloyor begitu saja kearah ranjang. Dia menghampaskan dirinya si sisi kanan ranjang, meninggalkan Mamori yang masih berdiri di posisi yang sama.
Ugh! keluh Mamori dalam hati. Kenapa jadi dia yang tidur belakangan? Sekarang dia yang harus merangkak naik ke tempat tidur dengan hati hati. Sungguh menyebalkan!
~ioioioioio~
Kelopak mata Yoicho menggelepar sebelum benar benar terbuka. Satu tangannya mengusap pelan wajah tampan yang masih tampak kusut itu. Matanya yang mulai fokus melirik jam sialannya diatas meja. Dia bangun 10 menit lebuh awal dari alarm yang dia pasang semalam.
Mau bagaimana lagi? Bisa dibilang semalam dirinya tidur dibawah tekanan. Tidurnya tidak terlalu nyenyak. Entah setan sialan mana yang menaunginya semalaman. Dia bahkan belum bisa tidur juga sampai jam 1 dini hari tadi.
Mamori memang tidak melakukan apapun tapi insomnia mendadak yang dialami Yoichi semalam adalah salah Menejer Jelek itu. Sampai Yoichi sempat mempertimbangkan untuk tidur disofa saja. Namun membayangkan rasa pegal keesokan harinya dia urung. Walau resikonya hampir sama setidaknya dengan tetap berbaring di tempat tidurnya badannya tidak akan pegal.
Asal tahu saja, saat Yoichi merasakan perpindahan bobot di ranjangnya saat Mamori merangkak naik, dia menahan nafasnya. Dan baru menghembuskannya saat telinganya mendengar selimut yang di tarik.
Untuk apa dia melakukan itu? Meyakinkan Menejer Bodohnya bahwa dirinya sudah tidur? Demi Tuhan, itu tidak berguna. Sungguh!
Yoichi pun meraih jam sialannya untuk mematikan alarmnya. Hati hati dia duduk di atas ranjang, menjejakkan kakinya di lantai parquet kamarnya. Begitupun saat dia berdiri, pelan dan hati hati.
Tunggu dulu. Apa yang sedang dia lakukan? Apa pedulinya kalau aktifitasnya mengganggu tidur Menejer Jelek itu?
Bodoh! maki Yoichi dalam hati.
Meski begitu dia tetap melirik tempat menejernya tidur. Tidak ada, Monster Cream Puffnya sudah bangun duluan. Diapun menghela nafas dengan tujuan untuk tak tahu apa sebelum berjalan ke lemari untuk mengambil handuk.
Yoichi berjalan kearah dapur, ingin minum dulu sebelum mandi. Tidak menduga apa yang akan dia temukan di sana, jadi dia berdiri diambang dapur tanpa bergerak.
Kenapa Menejer Jeleknya terlihat tidak begitu jelek saat ini?
Padahal dia hanya memakai t-shirt tanpa lengan warna putih dan celana kulot warna rosepink, wajah tanpa riasan yang hanya baru di bersihkan dengan cuci muka, dan rambut panjang yang di sanggul sekenanya. Di tambah lagi dengan spatula di tangan yang baru saja digunakan untuk membalik panekuk yang dia buat.
Yoichi mengusapkan handuk keseluruh wajahnya dengan asal. Kemudian berbalik ke kamar mandi, mengurungkan niat awalnya pergi ke dapur.
~ioioioioio~
Mamori baru saja selesai meletakkan dua piring berisi tumpukan panekuk di tempat yang berlawanan. Sarapan kali ini adalah panekuk dan madu. Dia menemukan bahan bahan itu di dapur. Tidak hanya itu, dikulkas juga ada jus, buah, dan lainnya. Beberapa bahan makanan mentah pun ada di dapur itu lengkap dengan bumbu bumbu yang tersimpan rapi di rak di atas konter dapur.
Eh, tapi aneh sekali. Terakhir Yoichi bilang kalau dia tidak bisa memasak tapi di dapurnya banyak bahan masakan begini. Apa dia bohong? Mungkin dia memang bohong. Bohong dan tidak, dia selalu mengatakan sesuatu yang seperti itu kan?
Saat Mamori sibuk dengan pikirannya sendiri Yoichi memasuki dapur.
"Jangan bengong saja, Menejer Jelek. Tampangmu makin mirip idiot," Yoichi berkata. Dia langsung duduk.
"Eh? Kau ini! Sudah untung kubuatkan sarapan!" Mamori ikut duduk dan menyantap sarapannya.
"Sudah untung kuijinkan tinggal dirumahku."
Mamori bungkam seketika. Sekarang dia yakin Yoichi akan memakai kalimat itu untuk melawannya berdebat. Ah, Mamori yang malang. Walaupun begitu dia tetap menuangkan jus kedalam gelas Yoichi.
Namun perhatiannya segera teralih oleh situasi saat ini. Dia, Mamori Anezaki yang punya julukan Malaikat itu, saat ini tengah menyantap sarapan berdua dengan Yoichi Hiruma yang dikenal sebagai Setan Neraka itu. Terlebih dirumah Setan itu! Dan perlu dicatat, Mamori bahkan belum mandi
Padahal biasanya dia akan menghabiskan banyak waktu untuk merias diri jika akan pergi kencan. Ini memang bukan kencan--siapa juga yang mau kencan pagi pagi buta--tapi mereka tetap makan berdua.
Oh, tinggal sehari saja dengannya aku sudah berpikir aneh aneh, pikir Mamori.
"Taruh saja piringnya di bak cuci, nanti aku yang bereskan. Aku mau mandi," Mamori berkata. Dia sudah beranjak meninggalkan panekuknya yang separuh di makan.
~oioioioioioio~
Saat ini Mamori sedang duduk bersama teman temannya di taman dekat lapangan tenis di Saikyoudai. Mereka ngobrol ngobrol khas wanita. Kalian tahu, rumpi. Sinar matahari yang hampir sampai di atas ubun ubun terhalangi panasnya oleh rimbunnya daun dan ranting dari pohon tempat cewek cewek itu bernaung.
Tawa mereka kembali terdengar saat Risu menceritakan salah satu koleksi leluconnya.
"Ehm!" Risu berdehem kemudian bicara pada Mamori, "Kau pudah pindah ke apartemen barumu kan?"
Sebatang coklat stick yang hendak di lahap Mamori terhenti sejenak. Mamori hanya mengguman saat memasukkan biskuit panjang itu kemulutnya. Tidak mengiyakan maupun mengingkari pertanyaan Risu.
"Yang mana? Yang ramai itu atau yang sepi?" Sara bertanya. Dia ingat Mamori pernah bilang soal apartemen sepi dan ramai.
"Kalau begitu kita boleh main kesana dong! Kita bisa buat pesta perayaan kecil kecilan."
"Ide bagus! Akan kubawakan cemilannya. Bagaimana, Mamori?"
"Hmm.. Bagaimana ya? Mungkin.." Mamori hendak mengiyakan tapi sebelum itu terjadi ponselnya berdering. Nama Yoichi tertera di layarnya.
"Ah, ya ampun! Aku heran bagainama kau betah menghadapi orang itu," Risu berkata sambil menatap tajam nama di layar ponsel Mamori.
"Cinta membutakan segalanya, tahu!" Sara menambahkan disertai nada jahil dalam suaranya.
"Diamlah," protes Mamori sebelum menempelkan ponselnya ke telinga. "Ada apa?" tanya Mamori tanpa basa basi.
"Dilarang mengundang siapapun kerumah," sahut yang disana juga tanpa basa basi.
Mamori mengerutkan keningnya. "Bagaimana kau bisa tahu?" Gadis itu bertanya sambil celingukan kesegala arah. Yoichi pasti sedang mengawasinya disuatu tempat.
"Tentu aku tahu, Menejer Bodoh. Aku tahu apapun yang kau lakukan. Aku tahu dimanapun kau berada."
"Tidak sopan! Mamata matai orang itu melanggar hukum. Tunggu saja sampai polisi datang kerumahmu. Kita akan--"
"Rumah kita, Menejer Jelek. Apa kau lupa?"
Wajah Mamori merona karena kalimat itu. Entah bagaimana satu kata ganti milik sederhana itu mampu membuat wajah ayu Mamori bersemu. Selain itu degup jantungnya juga ikut ikutan berubah lebih cepat.
"Mamo? Oh, lihat wajahnya memerah," Risu berkata.
"Mungkin Hiruma sedang mengatakan hal romantia untuknya." Sara lagi lagi tersenyum jahil.
Risu tertawa meragukan kalimat Sara sementara tawa girang Yoichi menggema di ponsel Mamori.
"Kau! Hentikan itu!" perintah Mamori hampir berteriak. "Sudah. Jangan meneleponku kalau bukan hal yang penting! Aku tutup."
Mamori memutuskan sambungan tanpa menunggu jawaban dari Yoichi. Bisa bisa dia hanya akan bartambah kesal nantinya. Dia lalu meletakkan ponselnya di bangku taman dengan agak kasar.
"Jadi kapan kami bisa melihat apartemen barumu?" Risu bertanya sekali lagi saat tawanya mereda.
"Maafkan aku. Aku belum bisa mengundang kalian datang dalam waktu dekat. Ada satu dan lain hal yang belum beres. Mungkin lain kali," Mamori berkata, mulai mengarang bebas.
"Apa yang belum beres?"
"Ehh.. Renovasi! Aku sedang merenovasi beberapa bagian apartemen."
"Renovasi? Hmm... Kupikir kau menyembunyikan laki laki di apartemenmu," celetuk Risu yang di sambut tawa oleh Sara.
Mamori sendiri tertawa setengah hati.
To be continue
halo saya kembali update. walau sangat sangat telat dari tanggal update pertama, akhirnya saya update. karena itu saya meminta maaf kepada reader yang sudah menunggu kelanjutan cerita saya.. juga semoga tidak kecewa dengan chapter ini.
omong omong, ada yang sadar nggak judul yang di tumnail (salah nggak nulisnya?) sama yang di dalam chapter 1 beda.. yang depan Back to You yang dalam chapter Kesempatan Kedua. keteledoran saya.. (ketawa)
lalu untuk Qurratul Ain, terima kasih atas dukungannya, membuat saya jadi salah satu author favoritnya saya terharu.. (mewek) semoga author yang lain juga ikut comeback biar hirumamonya tambah banyak hehe
wah, jadi formal banget rasanya. (ketawa lagi)
terakhir, review pembaca sangat saya harapkan.
