Lima tahun terlewati dalam sekejap baginya yang tak kenal bosan untuk terus jatuh. Layaknya tersesap gravitasi, saban hari jatuhnya semakin dalam, menembus lapis demi lapis cita untuk kemudian menemui kebuntuan dan hanya kebuntuan. Lantas menghindar tidak semudah yang disangkakan. Lagi-lagi, gravitasi menang atasnya. Lucas, pada tahun kelima sejak jatuh pertamanya, mengaku kalah telak.

Untuk apa bohong-bohong lagi? Untuk apa mengelak keinginan sendiri? Untuk dua pertanyaan itu, jawaban Lucas cuma satu: reputasi. Uar sayang yang menumpuk di ujung luar kelima indra ia biarkan tetap begitu. Umpama sang biang keladi tahu, ceritanya bakal lain lagi.

"Cas, tahu Mark Lee?" seorang teman tiba-tiba menanya. Canggung, Lucas mengangguk, "Ya, aku tahu Mark Lee." Cibiran dan cemooh adalah segala yang ia dengar sesudahnya.

"Anak itu homo, Cas. Tahu, kan?" temannya lanjut mendongeng dengan latar belakang kobaran api. "Aku tahu," jawab Lucas setengah sadar, konflik batinnya lebih asyik didengar ketimbang omongan berbisa milik si teman. Aku tahu dan yang ia sukai adalah aku. "Aku pun kurang lebih sama dengan bocah Lee itu," pernyataan itu begitu mudahnya lolos dari mulut Lucas, kali ini dengan kesadaran penuh. Aku lelah pura-pura. Aku sudah kalah, kalah telak.

Sakura mekar menaunginya, persis sama dengan kali pertama ia jatuh. Setiap langkah yang ditempuh Lucas beroleh dorongan cita, menjadikannya ringan tanpa beban. Seberang adalah tujuannya. Sosok Mark melambaikan tangan dengan ceria ke arahnya, memanggil-manggil namanya dengan penuh sayang. Syukur yang meluap di benaknya tak mungkin dapat dibendung. Saat itulah Lucas yakin sepenuhnya bahwa antaranya dan Mark telah lesap.