Chanbaek Genderswitch
.
.
.
*
Sudah lama sekali rasanya Baekhyun bisa tertawa lepas seperti ini. Rasanya menyenangkan, tanpa beban. Bukan hanya tersenyum, bahkan tertawa yang sudah sejak lama tidak lagi Baekhyun alami selama 2 tahun belakangan ini karena urusan rumah tangganya begitu rumit. Jauh dari kebahagiaan pula.
Baekhyun kadang berfikir, kutukan apa yang Tuhan berikan untuknya sekarang? Atau apakah Baekhyun dulu pernah melukai seseorang begitu dalam?
Ia nyaris saja lupa bahwa apa yang belakangan ini ia alami adalah karena pilihan dirinya sendiri. Andai saja dulu ia menolak dijodohkan mungkin akan lain cerita.
Ia masih bisa merasakan kebebasan, masih bisa mendapatkan study kejenjang yang lebih, bahkan cita-cita nya bisa terwujud saat ini.
Penyesalan? Pantaskan Baekhyun menghakiminya..
Untuk apa lagi meratapi takdir..
"hujan masih deras, kita harus menunggunya sedikit lebih lama lagi" salah satu teman Baekhyun berucap. Ia yanh sedari tadi larut dalam tawa refleks melirik jam tangan yang bertengger dilengannya. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 9 malam. Ia bergegas bangkit.
"aku harus pulang"
Bukan, itu bukan suara Baekhyun, itu adalah sahutan salah satu teman berkumpulnya. Baekhyun bernafas lega tidak harus banyak memberikan alasan.
"tapi diluar masih hujan" teman Baekhyun yang laki-laki menyahut. "tak apa, suamiku menjemputku, sekarang dia sedang dijalan"
Baekhyun tersenyum kecut. Kapan Chanyeol akan menghubunginya untuk menjemput. Bahkan saat ia membuka handphone nya saja tak ada notifikasi sama sekali. Itu telah terjadi sejak awal pernikahan, Baekhyun saja yang tak sadar.
Satu persatu teman-temannya pulang, dijemput suami bahkan ada yang menaiki taksi dan meninggalkan mobil mereka diresto untuk alasan keamanan karena hujan sedang turun dengan derasnya. Sampai sampai kabut menutupi penglihatan Baekhyun.
"menunggu siapa Baekhyuniee?"
Baekhyun berjengit kaget ketika seseorang menepuk bahunya. "menunggu supir, katanya dia tidak bisa menjemput" karena yg menjemput suamiku, lanjut Baekhyun dalam hati.
"mau aku antarkan? Malam ini hujan sedang deras sekali, aku pun membawa supir, kau tenang saja" tawaran yang menggiurkan.
Baekhyun menggeleng pelan. "tidak perlu, aku bisa mengabari suamiku untuk menjemput" tolak Baekhyun halus.
"woah, kau benar-benar sudah menikah? Gosip pernikahan itu benar rupanya, ku pikir itu hanya akal-akalanmu untuk menjauhiku"
Baekhyun tersenyum kikuk. "jangan terlalu sungkan denganku Baekhyunie, dulu kita pernah lebih dari sekedar teman, andai saja aku yang menikahimu dulu mungkin sekarang kita bisa pulang bersama"
"Kris, jangan terlalu sering mengungkit masa lalu, ku lihat kau sangat bahagia sekarang" Baekhyun pura-pura menatap Kris dengan penilaian. Yang ditatap tersenyum kikuk. "kau pun?" Baekhyun tersenyum.
"rasanya sudah lama sekali kita bisa berkumpul seperti ini, kalau bukan karena hujan, mungkin sekarang aku ada dirumah dan menikmati kenangan-kenangan indah kita" Kris menatap lurus tanpa arah. Baekhyun yang mendengarnya hanya tersenyum tipis.
"kita tidak berjodoh Kris, jangan terlalu meratapi seperti itu, kau kan lulusan S2, masa depanmu pasti cerah" Baekhyun berusaha menghibur pria yang duduk disampingnya.
"sebenarnya, kebahagiaanku ada disampingku sekarang, tapi apa boleh buat, aku terlambat untuk menjemputnya" ucapnya lalu pandangan mereka bertemu sekian detik. Baekhyun memalingkan wajahnya, gugup.
"seandainya kau menjadi istriku, kau akan lebih banyak tinggal diluar korea" Kris menyahut lagi. Dia adalah pria yang tak pernah kehabisan bahan untuk membuat suasana hidup, itulah alasan mengapa Baekhyun dulu tertarik kepadanya.
Ia adalah wanita yang kaku, tak akan berbicara jika lawan bicaranya diam saja. Dulu sewaktu perkenalan pertama dengan suaminya, Baekhyun hanya diam sampai pertemuan berkahir, menjawab beberapa pertanyaan yang Chanyeol tanyakan, itupun tak banyak hanya seputar nama dan pendidikan, lalu hampir 30menit kami dilanda keheningan. Baekhyun sadar saat itu Chanyeol sangat bosan, ia memainkan handphone nya terang-terangan dihadapan Baekhyun untuk mengusir kebosanan. Apa boleh buat, sekali lagi Baekhyun adalah orang yang kaku, dan sedikit jarang bergaul dengan lingkungan baru. Temannya hanya orang yang sama sampai detik ini seperti mereka-mereka yang tadi berkumpul tidak lebih hanya 5 orang.
Tapi setelah menikah, ditahun pertama, ia mencoba menjadi wanita yang menyenangkan, berusaha ceria dihadapan suaminya yang tampan. Baekhyun tidak bisa menampik bahwa Park Chanyeol adalah definisi pria tampan yang sesungguhnya. Tinggi, badan atletis dengan 8 kotak diperut, dahi yang bagus, pintar dan seorang CEO.
Baekhyun memalingkan wajah untuk mengenyahkan pikirannya tentang Chanyeol. "itu bukan ide yang bagus" ucapnya kepada Kris, "aku mati-matian menahan diri untuk tidak pulang setiap minggu saat di kuliah dulu, kau pasti tau itu"
Kris mengangguk menahan senyum. "itulah alasannya Tuhan membuatku terlambat untuk mendapatkanmu Baekhyunie"
Baekhyun tak pernah keberatan dengan panggilan itu, ia senang-senang saja karena Kris mengucapkannya dengan tulus.
Tak berselang lama. Handphone didalam tas nya bergetar. Satu pesan masuk darj Chanyeol.
Tumben sekali pria itu mengabarinya. Padahal baru saja Baekhyun mengeluh karena dia tidak menaruh perhatian kepadanya.
'aku berada dihadapanmu sekarang, kau cepat lah sedikit!'
Baekhyun membelalak. buru-buru ia mencari-cari keberadaan suaminya yang entah berada dimana Baekhyun tak sekalipun melihat. Sedetik, suara klakson mobil dihadapannya berbunyi.
Ah didalan mobil rupanya.
"Kris, aku harus segera pulang, suamiku menungguku disana"
Kris pun bangkit. Tanpa ada ragu, keduanya berpelukan.
"sampai berjumpa lagi"
Sayup-sayup Baekhyun mendengar teriakan Kris yang samar karena terhalang air hujan. Ia tersenyum sebentar.
"waah, senang sekali bertemu dengan kawan lama dan berpelukan"
Sapaan pertama yang Baekhyun dengar ketika masuk kedalam mobil adalah nada ketus Park Chanyeol. Baekhyun memutar bola mata jengah. "bisa diam tidak?" lalu pandangannya ia palingkan kearah jendela, menatap jalan basah dan hujan yang masih belum ingin berhenti.
"Baekhyun, kau tidak boleh melakukan hal seperti itu lagi ditempat umum" Chanyeol bercuap-cuap kembali.
Baekhyun memutar bola matanya sebal.
"Lalu, aku harus bagaimana? Sedangkan kau seenaknya saja melakukan segala hal bebas dimanapun tanpa merasa terkekang. Kau bisa menghitung waktu luang ku diluar rumah" Baekhyun merasa pantas untuk membela diri sendiri.
Chanyeol mencengkram kemudi menahan emosi. "yang aku lakukan tidak pernah ditempat umum"
Baekhyun menghela nafas "kalau begitu aku bisa juga melakukan segala hal dengan bebas ditempat yang privasi, sudahlah Chanyeol, hari ini sejak aku membuka mata kita selalu beradu argumen yang tidak jelas, tidakkah kau lelah" Baekhyun menarik seatbelt dan menyamankan tubuhnya. "bangunkan aku jika sudah sampai, aku lelah" dan Baekhyun jatuh tertidur.
•••
Baekhyun merasakan bahunya diguncang pelan. Ia membuka mata perlahan lalu menggeliat sedikit kemudian keluar dari dalam mobil. Chanyeol sengaja membangunkannya. ck. Menyebalkan.
Baekhyun bersungut-sungut memasuki pekarangan rumah. Tiba-tiba ia ingin mandi dan merilekskan otot-otot tubuhnya.
Sedikit menggigil, ia memasuki baththub dan menenggelamkan seluruh tubuh. Sedetik, suara pintu kamar mandi terbuka. Park Chanyeol masuk dengan handuk dilehernya.
"apa yang kau lakukan?" Baekhyun berteriak marah. Urat-urat dilehernya kembali tegang.
"apa yang akan seseorang lakukan dikamar mandi?" Chanyeol kembali bertanya. Ia tak menggubris percikan air bathtub yang mengenai betisnya masuk kedalam bilik shower. Byun Baekhyun menggeram. "dasar tukang perintah!"
"aku mendengarnya Baekhyun" sahut Chanyeol santai.
Baekhyun malas untuk bangkit dari bathtub, karena ia baru saja bersentuhan dengan air hangat setelah seharian melakukan kegiatan yang melelahkan, alhasil ia bertahan mengabaikan Chanyeol disebelahnya.
"Pria itu selalu membuat tensi darahku naik, aku tidak bisa terus seperti ini sepanjang sisa hidupku" gumamnya pada diri sendiri. Tanpa sadar, Chanyeol yang mendengarnya pun tersenyum licik.
"kau ingin sekali bercerai dariku rupanya?" tanya Chanyeol sambil menggosok-gosok rambut basahnya.
Baekhyun yang tengah memejamkan matanya membelalak kemudian berpaling kelain arah.
"sejujurnya aku juga ingin, tapi tidak untuk sekarang, bukankah menyenangkan menikmati hidup sedikit lebih lama lagi denganku?" tawa liciknya terdengar membuat Baekhyun muak.
"seandainya, kau menghargaiku sedikit, mungkin aku akan bertahan, tapi sejak lama kau terlalu menampakkan ketidaksukaan terhadapku kan? Lebih baik kau kembali kepada kekasihmu dan tinggalkan aku saat ini juga!" suara Baekhyun terdengar putus asa. Ia sangat lelah, benar-benar lelah.
"kalaupun kau berani mengajukan gugatan cerai kepadaku, hidupmu akan benar-benar terancam, bukan aku yang akan dirugikan, tapi kau!" Chanyeol kemudian keluar dengan smirk andalannya sambil membanting pintu kamar mandi.
Baekhyun menggeram marah. Ia buru-buru bangkit dan membilas tubuhnya.
Ia berniat akan pergi lagi untuk menenangkan pikiran kalutnya, tetapi ketika melihat Chanyeol masih betah berada dikamarnya -kamar kami berdua- membuat Baekhyun mendengus sebal. Ia mencoba tidak perduli dengan kehadiran pria iblis itu sambil memilah pakaian hangat yang akan ia kenakan.
"kau mau kemana hujan-hujan begini?" Chanyeol bangkit menghampiri istrinya yang mengeluarkan coat tebal.
"bukan urusanmu" ketus Baekhyun.
Chanyeol menarik lengan Baekhyun untuk menghadapnya. "itu menjadi urusanku, semua yang kau lakukan menjadi urusanku"
Baekhyun berontak berusaha melepaskan cengkaraman tangan suaminya dilengannya. "lepaskan aku!"
"tidak, kau tidak boleh pergi kemana-mana malam ini"
Nada perintah itu lagi. Baekhyun muak mendengarnya.
"kau mau pergi dengan pria itu lagi? Siapa namanya? Kau jangan membuat malu wajahku didepan banyak orang Baekhyun!" Chanyeol semakin mencengkram lengan Baekhyun.
"bukan urusanmu, lepaskan aku" istrinya masih memberontak.
"Baekhyun!"
"aku ingin menenangkan pikiranku Chanyeol. Puas?!" Chanyeol seketika melepaskan cengkramannya. "berhenti ingin tahu tentangku sekarang. Aku ingin kita secepatnya bercerai"
Belum sempat Baekhyun menyentuh knop pintu. Park Chanyeol menarik tubuhnya dan mendorong tepat keatas ranjang. "tidak boleh ada yang pergi dari kamar ini"
"apa maksudmu sial! Lepaskan aku"
"kau melukai harga diriku sebagai suamimu." Suaminya mencengkram dagu Baekhyun, sedetik lumatan kasar yang ia dapat. "tugasmu disini, bukan diluar rumah!" Nada perintah itu lagi.
"kau memerintah hidupku terlalu jelas Park Chanyeol, bukankah selama ini yang aku lakukan hanya melayani mu terus menerus dan bermain aman?" Baekhyun menatap tajam tepat manik mata suaminya. "kau tidak pernah menghargaiku sebagai seorang wanita, melakukan kesenangan sesukamu dan mengurungku disini"
tangan Chanyeol mengepal mencengkram sprei tepat disamping kepala Baekhyun. Harga dirinya kembali dilukai.
"sebenarnya apa yang kau harapkan dari pernikahan ini? Harta? Silahkan ambil sesukamu dan ceraikan aku sekarang juga!" Baekhyun sebenarnya ingin menangis, tetapi Park Chanyeol akan menertawakan kesedihannya. "jelaskan padaku, kesalahan apa yang telah aku perbuat? Tidakkah kau lelah?"
Chanyeol tersenyum masam. "kau tidak akan mengerti Baekhyun" nada bicaranya tiba-tiba berubah. Membuat bulu kuduk Baekhyun merinding seketika. "aku akan mengerti.." ucapannya berhenti ketika jari-jari Chanyeol menyibak poni tipisnya.
"tidak, kau tidak akan pernah mengerti" kecupan lembut disudut bibirnya membuat Baekhyun terbuai.
"kau tidak pernah jujur padaku, mana mungkin aku bisa mengerti." Baekhyun berusaha menahan desahannya. "kau tak perlu berusahan untuk mengerti Baekhyun"
Lagi-lagi Baekhyun harus menelan kekecewaan ketika suaminya sendiri meragukan dirinya. "tapi kau selalu menutut diriku untuk mengerti, maka aku akan diam, sekarang aku tidak bisa.."
Hubungan ini tidak saling menguntungkan untuk kita Park Chanyeol.
•••
Tbc
Next diusahakan update setiap malam.
RnR juseyooo
