Err.. Gomen karena Updatenya lama sekali. Soalnya, pas bagian Lemonnya, otak saya tiba-tiba Blank.. #alibi

Gomen kalo Lemon nya itu ga asem.. *bow*

Ga usah banyak cingcong! Kita mulai saja :D #dor

Disclaimer : Hidekaz Himaruya

Warning : Lemon! Anak kecil jauh-jauh *Nggak nyadar diri* . Dosa ditanggung yang baca! #dilelepin , Typo, abal, dkk

Pair : SpaMano, (slight) EspUK, PruCan, USUK, yang mungkin akan bertambah sesuai bertambahnya chapter...

.

Sejak Antonio melihat Lovino dan Gilbert yang berciuman mesra ditaman, ia jadi seperti kembali ke masa kejayaan nya. Ketika ia menjadi bajak laut yang kejam.

Aura gelap menyelubungi dirinya. Sampai-sampai para murid di Hetalia Gakuen menjadi takut karenanya. Bahkan aura gelap Ivan terkalahkan oleh aura gelap personifikasi negara Spanyol yang biasanya ceria ini!

Tidak ada yang berani mendekatinya. Kecuali satu orang. Bukan, yang mendekatinya bukanlah Arthur-pacarnya. Karena Arthur sedang ada panggilan dari Boss nya-. Melainkan mantan koloni nya, Lovino

"Oii. Tomato Bastard. Apa yang membuatmu Badmood? Sampai-sampai kau mengeluarkan aura yang gelap seperti ini, hah?" Lovino Vargas memukul kepala Antonio dengan pelan. Takut? Owh, meskipun ia belum pernah melihat Antonio sekesal ini, ia tetap sudah terbiasa.

Karena kepalanya di pukul, Antonio menengokan kepalanya ke arah ia merasakan kepalanya yang sempat dipukul. "Ah. Lovi. Tidak apa-apa kok. Aku hanya kesal karena tadi ada kucing yang membuang kotoran di sepatu baru milikku." Antonio hanya berusaha untuk tersenyum. Aura gelap yang tadi menyelubungi diri nya tadi sudah hilang entah kemana.

"Owh. Baguslah jika seperti itu" Lovino yang tadinya duduk di sebelah meja Antonio langsung bangun.

"Kau mau pergi?" Tanya Antonio

"Iya," jawab Lovino singkat, padat, jelas.

"Kemana?"

"Emm... Kencan dengan Gilbert," ucap Lovino disertai muka merah. "Sudah ya. Aku tidak mau membuat Potato Bastard itu menunggu." Lovino pun melenggang pergi.

BRUUAKK

Suara meja yang dipukul itu sangat nyaring terdengar. Tapi untung saja tidak ada orang lain di kelas kecuali Antonio sendiri. Sedangkan Lovino tampaknya sudah jauh dari kelas sehingga tidak menyadari suara tersebut.

"Kurang ajar!" Mata Antonio memancarkan kekesalan yang amat sangat. Bahkan ketika ia berpapasan dengan France-setelah ia keluar kelas tentunya-, France langsung pucat pasi melihat mata sahabatnya itu tidak lagi hangat…

Melainkan tajam bagai pedang yang siap mengoyak siapapun yang berani melawannya.

"A-antonio?" Panggil France.

Antonio yang tidak mengindahkan panggilan France langsung pergi entah kemana.

.

.

.

Antonio sedang menuju Rumah Gilbert untuk mengembalikan buku yang waktu itu di pinjamnya.

'Semoga tidak ada Lovi..' harapnya di tengah derasnya hujan.

Sekitar 10 menit kemudian, ia akhirnya sampai juga di Rumah Gilbert. Memang para personifikasi negara mempunyai rumah masing-masing yang berada tak terlalu jauh dari Gakuen Hetalia. Rumah itu didapat dari para Bos masing-masing.

Ia mengetok pintu dengan pelan. Tapi tak ada jawaban. Ia akhirnya masuk ke dalam. Karena kebetulan pintunya tidak dikunci, ia melenggang ke kamar Gilbert. Owh, tentu saja setelah menaruh payungnya di tempat payung didepan.

Ia naik tangga-karena kamar Gilbert berada di lantai 2- lalu melihat kamar Gilbert yang tidak dikunci.

Karena khawatir, ia mengintip dari balik daun pintu. Ia membelakan mata. Sungguh, pemandangan yang ia liat sekarang sungguh menyesakan hatinya

-Nah, mulai dari sini, lemon nya bakal dimulai. Kita bakal melihat apa yang Oyabun tercinta kita lihat-

Gilbert duduk di tepi ranjang. Terlihat Lovino sedang melakukan Blowjob kepada Gilbert.

"Hah... Hah... Sudah kulakukan, Potato Bastard." Lovino tampak terengah-engah setelah melakukan Blowjob nya. Di bibir dan mulutnya tampak cairan berwarna putih. Itu adalah cairan milik Gilbert.

Gilbert menyeringai. "Danke, Mein Liebe." Ucap Gilbert sembari mengelus kepala Lovi.

Dengan cepat, Gilbert langsung menarik Lovino yang masih terengah-engah dan langsung menciumnya dengan panas. Lovino yang masih belum siap memberikan kesempatan pada lidah Gilbert untuk mengabsen gigi Lovino.

Posisi mereka sekarang adalah Gilbert yang memangku Lovino. Gilbert mulai membuka baju Lovino satu per-satu-karena tadi Lovi masih berpakaian lengkap- hingga ia tidak memakai sehelai benang pun ditubuhnya. Memperlihatkan badan Lovino yang putih serta 'milik' Lovino yang menggoda.

Tangan kanan Gilbert mulai membelai puting Lovino yang berwarna kemerahan serta sudah mulai mengeras. Mulut, serta tangan kanan nya bekerja sama agar pasangannya puas. Tapi, kemana tangan kiri Gilbert?

Owh, rupanya, tangan kiri Gilbert mulai membelai lubang kecil milik Lovino. Dan tiba-tiba saja Lovino melepaskan ciuman maut Gilbert karena kekurangan oksigen.

"Hah... Hah... Jangan bermain-main lagi, Potato Bastard. Ukhh," omelan Lovino berhenti karena Gilbert mulai memainkan lidahnya di Nipple Lovino.

"Enghh..." Erang Lovino yang merasa nikmat akan perlakuan Gilbert.

Tak ingin berlama-lama, ia langsung memberikan 2 jari miliknya di depan wajah Lovino. Lovino yang mengerti gelagat Gilbert langsung memasukan kedua jari Gilbert kedalam mulutnya.

Tidak hanya memasukan jari Gilbert kedalam mulutnya, ia juga menjilat jari milik Gilbert dengan begitu intens. Setelah cukup basah, Gilbert menarik jari-jari lentik miliknya dari mulut Lovi.

"Here we go. Jangan tahan desahanmu ya, Lovi? Kesesese ~"

"Jangan bercand... Eengghhh... Ahh~ Ennghhhhhh~~" desahan Lovi memenuhi ruangan. Bahkan suara hujan tak terdengar lagi karena desahan Lovino saat Gilbert memasukan jari tengahnya kedalam lubang Lovi.

"Masih belum cukup," ia langsung memasukan jari kedua. Ia mencari-cari lagi letak sweetpoot Lovi serta untuk melebarkan jalan untuk 'adik' nya masuk. Ia mulai memasukan jari ketiga. Erangan Lovi makin menjadi ketika Gilbert mulai menyentuh suatu tempat.

"Enghh... Hahh... Engghhhhhh ~ ahhh~" desah Lovino makin menjadi ketika Gilbert iseng menyentuh titik itu lagi.

"Hahh... Jangan... Bermain-main lagi... Potato bastard," bentak Lovino kesal sembari menjambak rambut Gilbert karena Gilbert bermain-main terus.

"Nahh... Aku siap sekarang." Gilbert menarik jari-jarinya dari lubang Lovino. "Bilanglah kalau sakit," tampaknya Gilbert pun sudah tidak tahan untuk segera memasuki Lovino.

Gilbert tampak sudah memposisikan miliknya di depan lubang sempit milik Lovino. Ia memasukannya perlahan.

"AKHH!" Teriak Lovino kesakitan. Padahal, belum sampai setengah milik Gilbert berada di dalamnya.

Gilbert diam sejenak sampai ada suara protes dari Lovino, "Khh... Berger.. ak.. lah.. perlahan..."

Gilbert menyeringai. "As You Wish," dengan itu, Gilbert melakukan in-out secara teratur dan pelan.

Namun tampaknya Lovino kurang puas dengan semua itu. "Potato Bastard, Harder!" perintah Lovino.

Gilbert kembali menyeringai. Ia lalu mengeluarkan miliknya hingga ujungnya lalu kembali menghentakannya dengan keras.

"Akhh! Faster, Harder!"

Gilbet kembali melakukan in-out dengan liar. Sekarang posisi Lovino bukan lagi dipangkuan Gilbert. Melaikan sudah tiduran dengan kedua kakinya berada di punggung Gilbert.

Mereka berdua terus melakukan hal itu sampai akhirnya, "G-Gil.. A.. Aku mau.. Keluar..."

"Khh... Together..."

Tak lama kemudian, Lovino pun akhirnya cum disusul dengan Gilbert. Lovino menumpahkan cairan miliknya di perut dirinya dan Gilbert sementara Gilbert didalam rektum Lovino.

"Hah.. Hah.. Danke, Lovi," Gilbert mencium kening Lovino yang bermandikan peluh.

"Hahh... Allo stesso modo(1)," Lovino pun tertidur dan disusul Gilbert yang tertidur juga.

-Lemon udah selesai. Bubar sana!-

Mereka berdua tidur dengan damai tanpa tahu jika ada seorang lelaki bernama Antonio Fernandez Carriedo sedang berlari ditengah derasnya hujan yang mengguyur dengan hati remuk redam.

"Kenapa, Lovi? Apa salah dan dosaku hingga kau melakukan hal ini kepadaku..?" lirih Antonio ditengah derasnya hujan.

".. Bukan.. Itu pasti bukan Lovi. Dia pasti dipengaruhi Gilbert.. Ya, dia pasti dipengaruhi Gilbert.." Racau Antonio.

"Ini salahku.. Seharusnya aku tak pernah mempertemukan mereka berdua.. Bodoh kau, Antonio! Pasti Lovi meminta lepas darimu karena Gilbert! Ya, ini pasti karena dia!"

Sekarang ingatannya melayang pada saat itu.. Saat pertama kali ia mempertemukan Lovino dengan Gilbert..

.

TBC

.

Fuh.. Akhirnya lemonnya selesei juga.. *ngelap keringet*

Ini sungguh-sungguh dibuat dengan penuh keringat..

Oh, iya. Penjelasan nih.

Allo stesso modo : Sama-sama dalam bahasa Italy. Tapi kalo salah, hountou ni gomenasai. Soalnya saya translate pake mbah goo*le m(_ _)m

Oke. Sekarang bales Review yang non-login dulu xD

Aiko-chan Lummierra : Yah. Saya mau mencoba sesuatu yang berbeda saja xD /jawaban apaan nih/ Pair lain? Ohoho.. Itu akan menyusul ~

RaquelCarriedo malesloginda : Apa? *sfx : jeng jeng jeng jeng* Kamu anaknya Aura? Ck, padahal dia udah saya targetin buat jadi uke saya #ngaco Jika senang, saya bersyukur :D. Jika kesel, tabok saja orang terdekat anda :D #sesat Ah, daripada sama si Arthur, meningan dia sama saya aja xD #disepak Tenang, ini lemon PruMano kok. Maaf jika tidak memuaskan *bow* Wallaikum salam :D #eh

Fujoshi Anonim : Ohoho.. Lovi pilih Gilbo gara-gara saya yang nyuruh :p /dibantai SpaMano Lover/ Tenang, karena saya SpaMano Shipper, saya pastiin kalo ini ujung-ujungnya itu SpaMano . Tenang saja, Oyabun sama saya udah diskusi semaleman tentang rencana dia buat ngerebut Lovinya. Anda suka fic ini? *sembah sujud* Terima kasih banyak! Ngomong-ngomong, Au revoir itu artinya apa, ya? #duesh

Nah, yang chap kemaren minta lemon wajib review! #dikeroyok

So.. Mind to RnR?