Sasuke menarik tangan Sakura dengan paksa. Mereka berjalan di halaman sekolah. Tanpa menyadari sepasang mata jade memandangi mereka berdua. Dengan wajah datar namun rupawan, rambut sewarna merah darah, dan mata teduh berwarna jade.

Sabaku Gaara.

.

Arissachin production

Proudly present

Dark Moon© Arissachin

The character belong to Masashi Kishimoto-san

While, The story is pure mine

.

"Aku lahir kembali dalam wujud yang baru,

Bukan sebagai bulan yang lemah. Tapi, menjadi bulan yang kuat."

.

Sasuke menarik Sakura kearah halaman gedung Konoha Gakuen yang lama. Ia berjalan dengan cepat. Berkali – kali gadis yang ia tarik secara paksa itu berkali-kali memukul tangannya, memaksanya untuk melepaskan gadis itu. Tapi, ia bergeming seolah mengabaikannya. Sesampainya dibelakang gedung yang bercat putih itu, ia menghentakan tangan Sakura, dan memutar tubuh Sakura sehingga kini, ia berhadapan langsung dengan Sakura. Haruno dengan Uchiha. Emerald dengan Onxy.

"APA YANG KAU LAKUKAN?" pekik Sakura kesal. Ralat, kesal setengah mati.

Sasuke terkekeh, "Tenang dulu. Aku tak'an mencelakaimu." Kata Sasuke datar. "Aku bersumpah tak akan melakukan hal yang aneh padamu," kata Sasuke sembari mengangkat sebelah tangannya, "Kecuali kau yang meminta tentu saja."

"Dalam mimpimu!" maki Sakura.

Sasuke mengerutkan alisnya, lalu ia menyeringai, "Kau galak."

"Lalu?"

Sasuke mengangkat bahunya, "Hanya aneh saja. Dulu kaukan penurut."

"Itu dulu."

Sasuke mencibir, "Apa bedanya dengan sekarang?"

Sakura menghela nafasnya dan memutar bola matanya, "Kau mau apa sebenarnya?" kata Sakura lelah, ia melirik jam tangan putih yang melingkar ditangannya, "Aku tak punya banyak waktu," kata Sakura.

"Baiklah, sebenanya banyak yang ingin kutanyakan. Tapi, bagaimana kalau kita langsung ke pertanyaan pokok?" kata Sasuke.

"Jangan berbasa – basi." Kata Sakura dingin.

"Jangan galak."

Mata Sakura menipis, "Terserah." Hening sejenak, "Tapi lepas tanganku dulu."

Sasuke melepaskan tangan Sakura, dan ia lalu melingkarkan kedua lengannya di depan dadanya, "Sudah."

Sakura menghela nafasnya, "Apa maumu?"

Wajah nakal Sasuke, sekejap berubah menjadi serius, "Kenapa kau pulang?"

"Kenapa aku harus memberitahumu?" kata Sakura balik bertanya.

Sasuke menghela nafasnya, "Jangan mengalihkan pembicaraan."

Wajah Sakura kembali datar, "Justru itu. Apa untungnya aku memberitahumu?"

"Demi Kami-sama!" kata Sasuke jengkel, "Apa sulitnya menjawab pertanyaanku!" seru Sasuke jengkel.

Sakura mengangkat bahunya, "Tidak sulit. Hanya malas."

"Apa aku harus memakai cara lama?" kata Sasuke sembari melemparkan seringainya. Untuk informasi, cara lama itu : sama saja dengan caramesum. Example: mencium, memeluk, mencolek, dan berbagai cara yang bisa dikategorikan sebagai tindakan yang kurang ajar juga tak masuk akal.

Sakura tak bergeming, ia malah menunjukan wajah dinginnya, "Apa aku harus muntah?"

"Oke, ini mulai berbelit-belit. Cepat saja jawab pertanyaanku," kata Sasuke, yang kali ini tanpa seringai, senyum, dan nada bercanda.

Sakura menyeringai, "Kau betul – betul mau tahu?" kata Sakura.

"Apa?"

Sakura mengulum senyumnya, ia bejingjit dan mendekatkan mulutnya ketelinga Sasuke, "Bagaimana jika aku pulang untuk…" hening beberapa detik, "Membunuhmu." Kata Sakura dengan datar. Suaranya yang rendah dan dingin, itu membuat kata – kata terakhir terasa begitu nyata. Terasa begitu dingin. Terasa begitu… menyeramkan.

Sasuke mendorong Sakura menjauh, "Kau sinting!"

Sakura terkekeh pelan, "Masa kau percaya?" kata Sakura sembari menaikan sebelah alisnya.

"Berbicaralah dengan jujur. Kau membuang waktuku sungguh."

Sakura menyeringai kecil, "Yang membutuhkan itu siapa? Lalu, yang menyeret secara paksa itu siapa? Dan, yang bertanya itu siapa? Aku atau kau?"

"Demi Kami-sama! Kau menjengkelkan! Rasanya seperti bicara dengan anak kecil," seru Sasuke kesal. Ia menggelengkan kepalanya, "Kau berniat membuatku kacau eh? Menghancurkanku? Membuatku gila?" kata Sasuke dengan nada menghina.

"Itu tujuanku." Kata Sakura dingin.

Sasuke bergeming, "Apa?"

"Yang kau katakan itu tujuanku."

Alis Sasuke bertaut, keningnya berkerut, "Apa maksudmu?"

"Aku ingin menghancurkanmu." Kata Sakura singkat, "Membuatmu merana, menyesal, hancur, dan berbagai perasaan yang bisa membuatmu memilih untuk mati saja ketimbang hidup."

Sasuke menyeringai, "Bagaimana caranya?" kata Sasuke datar, ia lalu menyeringai, "Kau yakin, kau tak'an jatuh cinta padaku dulu sebelum melaksanakan rencana tololmu?" kata Sasuke merendahkan.

Sakura mendengus, "Tentu tidak," kata Sakura. Ia lalu tersenyum manis –sekaligus menyebalkan disaat yang sama. "Justru kau yang akan jatuh cinta padaku terlebih dahulu."

"Prove it."

Sakura mengangkat bahunya, "Kita lihat saja. Apa –"

"Sakura!"

Seseorang meneriakan nama Sakura. Seseorang itu memotong pembicaraan keduanya. Kedua orang yang tengah berbicara itu mencari asal suara tersebut. Dengan suara yang terdengar lembut sekaligus juga terdengar tegas, lelaki itu memanggil Sakura. Sepertinya, ia berhasil menghentikan gadis itu untuk berbicara lebih jauh.

Guess who?

Hn, Sabaku Gaara.

Sakura tersenyum tipis, ia lalu membungkuk, "Senpai…"

Sasuke tak bisa melepaskan pandangannya dari kakak kelasnya semenjak SMP itu. Mata onyxnya memandangi kakak kelasnya itu. Seakan-akan menilai penampilannya –yang bagi hampir 95% populasi gadis dan beberapa pria, di Konoha Gakuen terhitung sempurna. Kakak kelas yang merupakan ketua osis, sekaligus rival terberatnya sejak dulu. Rival dalam segala hal. Baik dalam hal pelajaran, olahraga, fansgirl, guru, perusahaan, terutama….

Soal.

Haruno Sakura

"Apa yang kau lakukan disini bersama Uchiha?" Tanya Gaara.

.

.

"Apa yang kaulakukan dengan Uchiha?"

Kini, Sakura dan Gaara tengah berada di atap sekolah. Sakura tidur terlentang di lantai. Sementara Gaara, ia memilih untuk duduk memandangi adik kelasnya itu. Sakura memilih untuk diam sejenak, ia menghela nafasnya dan akhirnya menjawab, "Dia menariku, atau lebih tepatnya menyeretku," kata Sakura sembari menutup matanya, "Katanya ingin berbicara."

"Dan kau bersedia?" kata Gaara dengan nada apa-kau-bercanda.

Sakura lalu buru-buru bangkit dari posisinya, ia mengerutkan alisnya, "Tentu tidak!" bantah Sakura, ia menghela nafasnya, lalu ia mengadahkan kepalanya ke langit, "Dia menyeretku."

"Dan kau menerima perlakuannya begitu saja?" Tanya Gaara tak percaya.

Sakura memutar kedua buah mata emeraldnya, "Aku ini masih seorang gadis. Kukira kau masih cukup waras untuk mengetahui perbandingan kekutan seorang gadis dengan lelaki eh?" cemooh Sakura.

Kali ini, Gaara sama sekali tak menjawab ejekan Sakura. Sebagai respon, Gaara hanya mengangkat bahunya, "Kenapa kau pulang?" selidik Gaara.

Sakura mencibir, "Apa semua orang harus bertanya seperti itu? Aku bosan mendengarnya."

"Itu karena, kau pulang secara tiba-tiba. Baka," kata Gaara sembari mengacak-ngacak rambut pink Sakura. Ia lalu menarik tangannya kembali. Gaara menyilangkan tangannya di atas lututnya, dan ia menyenderkan kepalanya diatas tangan tersebut. Dengan posisi duduk, dan kepala yang dimiringkan kearah kiri menatap Sakura, Gaara kelihatan tampan. Ah, yang benar sangat tampan.

Sakura mendengus, "Entahlah." Sakura lalu mengangkat bahunya, "Sau hal yang pasti. Yaitu, aku benci melihat si brengsek itu."

"Lalu kenapa kau pulang? Sasori tau kau sudah pulang?" kata Gaara heran.

Sakura meringgis pelan, "Nii-chan belum tahu."

"Kalau ia marah, bagaimana baka!" kata Gaara jengkel.

Sakura menggelengkan kepalanya malas-malasan, "Sudahlah, jangan dibahas." Sakura lalu menyenderkan kepalanya dibahu Gaara, "Senpai, sekarang aku harus bagaimana?" Tanya Sakura pelan, "Rasanya, masih saja menakutkan berada di dekat Sasuke." Kata Sakura sembari menggelengkan kepalanya pelan.

"Lalu kenapa kau pulang? Kau tahu bukan, bahwa kau sendiri bahkan belum siap menghadapi Sasuke."

Sakura menghela nafas berat, "Aku tak tahu. Aku hanya ingin pulang. Aku ingin melihat si brengsek dengan si Nona besar manja itu," cemooh Sakura, "Aku ingin melihat apa yang terjadi disini. Aku rindu semuanya. Rindu ibuku, ayah, Naruto, Temari, Tenten, Shikamaru, semuanya. Bahkan aku merindukanmu! Aku tak bisa menahan diriku untuk kembali." Hening sesaat, "Aku merasa ini terlalu mendayu-dayu. Tapi, aku serius berkata bahwa aku merindukan semua orang."

Gaara menepuk kepala Sakura pelan, "Bodoh." Hening sesaat, "Tunggu sebentar. Apa yang kau maksudkan dengan balas dendam?" kata Gaara. Pandangan Gaara kini menyipit, seolah mengindentifikasi gadis di sisinya.

Sakura diam bergeming. Tak menjawab. Bibir bawahnya ia gigit pelan. Mencoba memutar otak. Memutar otak mencoba menjawab pertanyaan lelaki disampingnya.

"Hmm?" Tanya Gaara. Mendesak Sakura untuk menjawab.

Akhirnya Sakura menghela nafasnya, "Aku tak tahu. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Semua ucapanku mengalir begitu saja. Tapi, aku ingin membalas dendam."

"Kau masih seperti dulu. Bodoh, cengeng, naïve, gegabah. Kau terlalu berambisi untuk balas dendam," hening sejenak, "Sekarang kau punya rencana?"

"Tidak," kata Sakura datar.

Gaara menghela nafasnya, "Sudah kuduga." Gaara lalu mengadahkan kepalanya menatap langit biru diatasnya. Rambut merahnya berkibar tertiup angin, sementara keduanya masih tertutup.

Sakura mengangkat kepalanya, ia menoleh pada Gaara, "Senpai tahu?" ia lalu melemparkan senyum angkuhnya, "Bagaimana kalau senpai membantuku? Dan…" ia membiarkan kata terakhirnya tergantung. Mencoba membuat kakak kelasnya ini penasaran, "Membuat Uchiha Sasuke jatuh cinta padaku?"

.

.

Sasuke mengancingkan kemejanya. Semalaman, ia tak bisa bisa berkonsentrasi. Sejak kemarin siang, melihat Sakura dengan Gaara terasa begitu menyebalkan. Bagaimana bisa si kepala merah sialan itu, berhasil mendekati Sakura? Jika diingat 4 tahun belakang, Sakura tidak dekat dengan lelaki sialan itu. Melirikpun tidak! Meskipun, anak bungsu dari keluaga Sabaku itu menyukai Sakura, Sakura tak pernah menghiraukannya. Paling, hanya menyapa biasa, mengingat Gaara dan Sasori –kakak Sakura, berteman dekat. Meskipun Gaara telah mencoba berbagai cara untuk mendekati dan mencoba membuat Sakura jatuh cinta padanya. Semua caranya tak ada yang berhasil. Dan, hanya Sasuke saja yang bisa membuat Sakura tergila-gila.

Mengingat hal itu, mustahil Sakura dekat dengan Gaara.

"Ngghhh…" erang suara gadis.

Terlihat gadis berambut pirang, dengan selimut sutra berwarna merah marun yang menutupi tubuhnya. Saat ia bangun, selimut itu terjatuh dan membuat bagian atas tubuh gadis itu terlihat. Dadanya yang penuh akan kissmark, membuat semua orang tahu apa yang telah terjadi malam lalu.

"Sasuke-kun?"

Sasuke memalingkan tubuhnya, ia menatap gadis diatas ranjangnya itu.

Shinozue Shion.

Salah satu skandal kecilnya.

Oh, terima kasih banyak kepada Nona Haruno Sakura. Karena berkat dirinyalah, Sasuke tak bisa berkonsentrasi untuk 'bermain' semalaman. Bahkan, ia semalaman memikirkan bagaimana hubungan Gaara dan Sakura sebenarnya sembari bermain!

Damn it!

"Sudah mau pulang Saskey?" Tanya Shion manja.

Sasuke menyeringai, "Tentu saja tidak." Hening sejenak, lalu Sasuke berjalan kearah Shion, ia menundukan kepalanya, menatap mata ungu milik Shion, "Hmm, bagaimana kalau kita 'bermain' kembali?" kata Sasuke sembari melemparkan seringainya yang khas.

"Tentu!" kata Shion kelewat antusias. Kepalanya mengadah memandangi wajah Sasuke.

Lalu, Sasuke kembali melumat bibir Shion. Ia lalu menghempaskan tubuh Shion kearah ranjang gadis itu. Ia merasakan tangan Shion sudah mulai begerak membuka kemejanya. Tapi, tiba-tiba otaknya kembali memainkan film itu. Film sialan itu. dimana Gaara menarik Sakura pergi dari dirinya.

Hn, Sasuke tak suka sesuatu miliknya diambil orang.

Apalagi orang itu adalah rivalnya.

As know as Sabaku Gaara

.

.

Hinata tengah mengerjakan tugasnya. Ketika telepon genggamnya berbunyi nyaring, ia menghentikan pekerjaannya. Ia menatap layar, mencari tahu siapakah orang yang menghubunginya.

"Halo, ada apa Sasuke-kun?" Tanya Hinata pelan.

"Turunlah, aku ada didepan rumahmu sekarang."

Hinata tersenyum simpul, "Tunggu sebentar. Aku turun."

"Hn."

Hinata lalu mengambil jaket putihnya. Ia lalu berjalan keluar dari kamarnya, dan menuju kearah tangga. Ia menuruni tangga, dan akhirnya ia sampai kepintu masuk rumahnya. Setelah mengganti sandal rumahnya, ia berjalan keluar halaman rumahnya.

Disana, terliat seorang lelaki bertubuh tegap, berambut biru dongker, dan mengenakan kaos berwarna hitam. Ia berdiri dengan menyenderkan tubuhnya dimobil sport hitam miliknya. Kepalanya mengadah menatap langit diatasnya.

Uchiha Sasuke.

"Sasuke-kun?" Tanya Hinata hati-hati.

Lelaki tersebut berbalik, ia lalu tersenyum, "Hey."

Hinata lalu berjalan kearah Sasuke, ia bersender disamping Sasuke, "Ada apa kau memanggilku kemari Sasuke?" Tanya Hinata.

"Aku hanya ingin bertanya," kata Sasuke.

Kening Hinata berkerut, "Tentang?"

"Sakura, Haruno Sakura." Hening sejenak, "Apa kau akan memberitahuku?"

"Tergantung," kata Hinata kalem.

Sasuke menhela nafasnya, "Jika aku bertanya tentang alasan kembalinya Sakura, apa kau akan memberitahuku?" kata Sasuke tenang.

Hinata meringgis, "Aku merasa, itu ide yang buruk." Hening sesaat, yang entah mengapa bagi Sasuke terasa sangat lama, "Lagipula, kau pasti sudah menebak apa arti kepulangannya kali ini, bukan?"

"Maksudmu?" Tanya Sasuke.

"Ayolah, masa kau tak mengerti."

Kali ini, Sasuke merasa sangat bodoh. Biasanya, seorang Uchiha bisa langsung menebak dalam jangka waktu yang relatif singkat, tapi kali ini ia sungguh tak mengerti, "Apa maksudmu?"

Hinata lalu mengangkat bahunya, "Mengingat apa yang kau lakukan 4 tahun terakhir padanya, kurasa kau pasti sudah tahu bukan maksud Sakura?" Hinata menggelengkan kepalanya, "Selamat, kau sukses membuat ratu setan membencimu. Kini, ia berencana mendorongmu kedalam neraka. " canda Hinata –atau bahkan, mungkin itu bukan candaan.

Mungkin.

.

.

Sakura tengah membereskan bukunya untuk pelajaran esok hari. Rambut pinknya ia ikat tinggi. Membuat leher putihnya terpampang jelas. Dengan piama hijaunya, ia terlihat siap untuk berpergian ke alam mimpi. Tepat saat ia beranjak dari kursinya, i-Phonenya berbunyi. Malas-malasan ia berjalan kearah tempat tidurnya. Ia duduk disisi tempat tidur dan mengambil i-Phonenya yang berada di atas nakas. Hampir, ia memarahi orang yang meneleponnya. Tapi, semua makiannya seolah tertelan masuk kedalam kerongkongannya kembali saat mendengar suara orang yang meleponnya.

"Halo?"

Jantung Sakura rasanya berhenti ketika mendengar suara itu. Tenggorokannya rasanya tercekat. Suara kekanakan, yang terasa begitu manis. Suara orang yang saat itu, terdengar seperti kesal, marah, atau mungkin, jengkel?

Tak mau tenggelam terlalu jauh, Sakura menelan ludahnya, bersiap untuk menjawab, "Ya?" suara Sakura terdengar begitu tegas.

Jujur, ia sudah mengetahui maksud orang tersebut menelepon dirinya. Jika, bukan orang itu pasti ia sudah memarahi siapapun yang meneleponnya pada pukul 11 malam seperti ini.

"Kenapa kau pulang tanpa memberitahuku?"

Sakura menggigit bibir bawahnya. Ia lalu menghela nafasnya. Ia mengadahkan kepalanya ke langit-langit kamarnya, "Maaf."

"Kau berhutang sebuah penjelasan Haruno Sakura."

Bisakah kau menebak siapa itu?

Hn.

Haruno Sasori.

"Hmm, aku tahu aku berhutang penjelasan padamu nii-chan." Hening sejenak, "Sangat banyak penjelasan."

Dan lagi, satu malam panjang dilalui Sakura dengan banyak helaan nafas.

.

.

Author Note's :

Waaah, 35 review? Beneran ini tuh? OMG OMG OMG! SHOOOOOCK!

Kayaknya, saya gabakal ngebales review lewat PM. Paling lewat Tanya jawab di kolom author note's aja kali ya? Maaf yaaa, ehehe.

Saya punya sebuah berita yang entah mengapa bagus menurut saya.

Good news : Aideen bakalan dipublish ulang, tapi dengan perbedaan plot yang sangat besar. [untuk kelanjutannya silahkan baca profil saya]

Eh, Sakuranya terlalu mendayu-dayu ga? Darknya kurang? Saya janji kok bakalan nambah darknya dichapt depan kayaknya. Mau nanya dong, saya itu rencananya pengen nampilin Sakura yang dark, tapi sifat ceria, cengeng, polos, dan begonya #PLAK! Masih nempel gitu. Bakal pada suka ga? Suka ajadeh ya? #maksa. Semoga berhasil ya saya ngehidupin karakter Sakura yang punya dua sisi yang kayak gitu.

Dan, jujur saya seneng dapet tanggapan positif. Dan banyak yang ngomong Sakura itu darknya kerasa banget. Makasih ya.

Semoga chapter ini ga ngecewain ya :)

QUESTION&ANSWER?

Q1 : Kenapa fanfic Aideen dihapus?

A1 : Wah, kayaknya banyak yang protes ya Aideen dihapus? Salahkan para flamer~ loh, saya jadi menyebalkan begini? Haha, engga ko bercanda!

Jadi gini, sebenernya saya juga gada niatan sama sekali buat nge hapus. Tapi, banyak yang bilang itu mirip banget sama dua sisi. Jadi, saya mau narik fic itu dan bakal dibenerin lagi. Tapi tenang! Nanti saya bakalan publish lagi Aideennya. Jadi keep waiting!

Buat sneak peek Aideen, kalian bisa liat profil Arisa-chan :d

Q2 : Ada ga GaaSaku? Bakalan jadi SasuSakuGaa?

A2 : Kabar baiknya, bakalan ada GaaSaku. Gaara juga punya peran penting –banget, dalam hidupnya Sakura. Kayaknya gaseru kalo udah saya kasih tau sekarang ya? Ehehe :p

Q3 : Gimana sih sebenernya hubungan SasuSaku? Kenapa Sakura segitu bencinya sama Sasuke? Kenapa mereka bisa putus?

A3 : Ikutin aja terus fic ini, nanti juga tau kok. Lalala~ #PLAKKKK!

Q4 : Siapa yang bakalan sakit hati di fic ini? Sasuke atau Sakura?

A4 : Siapa ya? Hayoooh siapa? #PLAAAK! Bercanda! Ehehe, liat nanti aja kali ya? LOLOLOLOL.

Q5 : MANA LEMONNYAAA?

A5 : Lemon? Ehehe *malah cengengesan.* lemonnya ada sih, tapi slight paling. yang pasti, lemonnya gabakalan terlalu hot sih. Jadi, errr… yah, jangan terlalu berharap lemon yang hot dari saya. Buahahaha #DILEMPAR PANCI. Maaf sih, abis saya gabisa bikin lemon huahaha #ketawa setan #geplaked

END OF QUESTION&ANSWER

Special thanks for

Yuuki d'gray girl ; Maria Ai ; J-B ; Kella ; Y0uNii D3ViLL ; Asakura ; Uchiha Kousuke ; vvvv ; mayu akira ; ruki chan ; Kouru chan ; d-She ryuusei hakuryuu ; NamiZuka Min-min ; Riku Aida ; 4ntk4-ch4n ; J0e ; seiki no meji ; Mieko luna-chan sasori ; Kurousa Hime ; miss-Ara-chan ; Tabita Pinkybunny ; reader ; Midori Kumiko ; je-jess ; cherrysasusaku ; Sasusaku Hikaru ; Sa-Chan ; Hikari Meiko Eunjo ; rchrt ; Hikari Shinju ; wintter sky blossom ; Sakura Black Chrome ; SaGaara Tomiko ; Hikari Hyun Arisawa ; sakuraOi

Beneran makasih banget buat kalian semua! Gatau lagi harus ngomong apa.

Yang pasti, saya bakal berusaha buat ga ngecewain kalian semua! Love love love!

.

.

Cheers,

.

Arisa-chan