Chapter 1 - ending a relationship
East City, sebuah kota besar dengan cabang kantor pusat military, yang terkenal dengan kehebatannya dari negara Amestris. East city terkenal akan banyaknya gadis cantik yang tinggal di sana, makanannya yang lezat, tempat perakitan mobil terbesar di Amestris… dan yang paling penting, East City terkenal karena adanya Colonel Roy mustang, si playboy kelas kakap yang namanya terkenal di seluruh Amestris.
Sebenarnya bukan hanya karena keplayboy-annya itu, tapi juga prestasinya dalam bidang militer, dan wajahnya yang charming itu membuatnya terkenal. Bayangkan, 13 tahun telah menjadi state alchemist dengan gelar FLAME ALCHEMIST (walau telah diserobot Edward Elric yang menjadi state alchemist pada umur 12 tahun), lalu pada umur 18 tahun, ia ikut dalam perang Ishbar dan menjadi pahlawan perang. Bagaimana tidak tenar ?
Ya… karena itulah, sang bintang kita saat ini pula di kantornya sedang asyiknya bertelponan dengan salah satu gadis yang ia ajak berkencan dengan.
"apa !" teriaknya kencang, kertas di mejanya berhamburan dan pen nya terjatuh. "…. Ya sudah. Kutemui kau nanti malam…oke ? ya..iya..iya… oke. Tenang saja. Bye"
Cklik
Bunyinya sama.
Telepon ditutup dan suara senjata yang dilepaskan safety-nya.
Roy, yang menyadari bahaya binatang buas, atau tepatnya kali ini, Riza buas, mengancam melalui senapannya, cepat-cepat mengambil paperwork yang berhamburan di lantai itu, lalu menggesek-gesekan tanda tangannya di atas setiap lembarannya, tanpa berani menatap mata Riza.
"Sir !" sesosok fuery kecil terlihat dari luar. "anda dipanggil oleh fuhrer, sir"
"ada apa sih ?"
"tidak tahu… sepertinya penting, karena dia hanya ingin berbicara dengan anda-sendirian"
"ya.. katakan aku akan segera ke sana" usirnya pada fuerry sambil bangkit berdiri. "lieutenant, kalau mau kau bisa bantu selesaikan sisa pekerjaanku…"
Roy berjalan dengan lemas ke kantor fuhrer. Percakapan barusan di telepon amat mengganggunya dan sekarang apa lagi yang ingin dikatakan oleh fuhrer ? lelaki itu mengetuk pintu besar yang terletak di sayap timur East Headquarter itu lalu membukanya perlahan.
"saya sudah di sini, sir"
"ooh… mustang. Silahkan masuk."
"ada apa anda memanggil saya, sir ?"
"duduk" perintahnya tanpa menjawab langsung pertanyaannya. Roy duduk di sofa dengan perasaan sedikit curiga akan percakapan mereka. King Bradley beridri dari kursi kerjanya dan duduk di seberangnya.
"kau seorang tentara yang baik, mustang ?"
Apa maksud pertanyaannya ?
"oh..oke. kuganti… bagaimana kalau apakah kau selalu mentaati peraturan military ?"
"tentu sir. Saya sebagai alchemist, setia mengabdi pada negara dan military." Jawabnya tegas, dengan mata yang penuh kepastian. Ditatapnya lekat wajah fuhrer yang licik bagikan ular itu.
"bagus.. aku suka matamu… tapi ingatkah kalau aku bertanya apakah kau selalu mentaati peraturan military."
"maksud anda, sir ?"
"mustang…mustang… kau memang baru untuk masalah ini… kukatakan langsung saja" ia menghentikan pembicaraanya membalas tatapan dingin yang dapat memotong besi itu. "hati-hati dengan anti-fraternization law. Bisa-bisa kau atau lieutenantmu, malah mungkin juga kalian berdua, celaka. Aku mengingatkanmu akan hal ini karena ada beberapa laporan yang masuk akan kedekatan hubungan kalian yang melebihi batas antara superior officer dan subordinate yang normal. Aku tidak ingin kau jatuh hanya karena sebatas hubungan percintaan saja. Bukankah diluar masih ada banyak gadis-gadis lain yang cukup bernilai yang jatuh cinta padamu ? kalau kau masih mau mencapai mimpimu, lebih baik kau pilih yang mana yang lebih berarti bagimu…dan… kalau kau meninggalkannya… aku akan mempromosikanmu menjadi mayor general sebagai tanda terima kasihku karena kau betul-betul setia pada negara dan military seperti katamu…itu saja."
Roy kehilangan kata-katanya. Ia menatap fuhrernya tak percaya. Kerongkongannya tercekat sehingga tak satu kata pun yang dapat keluar. Sambil membisu, ia mengangkat tangannya, memberi hormat dan pergi keluar dari ruangan itu.
Pilihlah mana yang lebih berarti bagimu…
Di luar masih banyak gadis-gadis lain yang cukup bernilai…
Aku akan mempromosikanmu menjadi mayor general…
Apakah ini artinya ia harus memilih pekerjaan dari cinta sejatinya ? apakah ia harus mengorbankan Riza untuk menggapai targetnya ? tapi rizalah yang selalu setia menemaninya dan mendorongnya ke atas. Hughes sudah tidak ada. Wanita itu yang selalu menguatkannya. Haruskah… ia membuangnya setelah semua kebaikan yang ia lakukan untuknya ?
"sir ?" panggil suara lembut di telinganya. "apa kata fuhrer tadi ?"
"ah..ya. Riza." Ia tersentak. "ti..tidak…aku belum bisa memberitahukannya sekarang…"
"tidak apa-apa…" ia tersenyum padanya, membuat Roy semakin bingung lagi. Ia tidak akan pernah mau merelakan senyuman manis itu pada siapa pun. Ia amat sayang pada lieutenantnya…tapi…
KRIIiiiIIngggg…
telephone kembali berdering. Roy cepat-cepat mengangkatnya kembali. "oh… hm… ya. Oke." Roy menarik nafas panjang. "baiklah… "
"kenapa, sir ?"
"…. Riza…sepertinya kita perlu bicara."
---
Riza menunggu Roy sepulang kerja di taman dekat rumahnya. Ia mengenakan baju biasa, rok panjang selutut dan kemeja putih berlengan pendek. Seperti biasa… setengah jam dari waktu perjanjian baru roy datang. Orang itu terlambat lagi. Riza menunggu dengan sabarnya sambil duduk di bangku taman.
"sori, aku terlambat."
"tidak apa-apa…" ia tersenyum manis padanya.
"riza…maaf." Roy menunruk, tak berani menatap wajahnya. "kita..harus berpisah sekarang…."
"ke…kenapa, roy !"
"fuhrer…ia tidak ingin kita berhubungan lebih jauh lagi….akan membahayakan karirku…dan…katanya aku akan dipromosikan menjadi mayor general jika kita berpisah sebagai tanda terima kasihnya…"
"Jadi ! kau lebih memilih karir di military dari pada aku !" katanya setengah berteriak pada roy. "aku sudah memberikan semuanya padamu. SEMUANYA. Dari dulu aku selalu setia padamu. Aku memberimu kesempatan pergi dengan gadis-gadis lain walaupun kita sudah bersama. Aku selalu melindungimu, selalu akan menemanimu mendaki ke atas. Lalu ! APA ! kau membuangku begitu saja ! padahal aku selalu mempercayaimu ! benarkan ! dari dulu juga aku tahu kalau kau tidak betul-betul mencintaiku ! aku SAMA saja dengan gadis-gadis lainnya yang kau permainkan, lalu kau buang tanpa mengingat mereka lagi ! SAKIT, ROY ! SAKIT ! "
"RIZA !"
BRAAK !
Tanpa tersadar tangannya telah melayang, menampar pipinya dengan keras sehingga wanita itu jatuh tersungkur. "ma…maaf….. aku tidak pernah menganggapmu sama seperti lainnya ! aku betul-betul tulus mencintaimu ! hanya saja…"
"sudah roy… jangan teruskan….jangan…jangan katakan kalau kau mencintaiku, tapi kau dengan mudahnya membuangku…jangan…"bisiknya perlahan sambil menangis, memegangi pipinya yang merah ditampar Roy. Ia tidak menyangka orang itu bisa menjadi sekasar ini. "aku tahu…. Aku sudah dibodohi olehmu… aku…sama seperti mereka."
"TIDAK ! KAU TIDAK SAMA, RIZA !" teriaknya lalu menyudutkannya ke tanah dan memberikan ciuman di bibirnya. Bukannya sesuatu yang lembut dan manis, namun lebih ke sesuatu yang penuh nafsu dan kasar, penuh kemarahan…juga kesedihan. "lihat, riza… aku mencintaimu…"
"tidak, roy…tolong…jangan…jangan, roy…. Cukup sudah aku disakiti…cukup….cukup…jangan, roy…..jangan…"
Satu jam kemudian, riza masih berbaring di atas rumput yang hijau itu. Roy baru saja pergi meninggalkan dirinya, setelah sekali lagi mengambil keuntungan darinya. Matanya basah karena menangis. Ia mengerang kesakitan. Hatinya terluka. Hancur betul-betul. Kenapa Roy lakukan hal itu padanya? Kenapa ia meninggalkan dirinya hanya untuk mengejar sesuatu yang fana ? mengapa ?
Manusia yang serakah…mengejar kekayaan, harta, pangkat, martabat…. Akhirnya mereka dibutakan oleh hal-hal itu…dan ditenggelamkan oleh hal yang mereka kejar…
Riza menggeliat di atas rumput, membiarkan matahari sore mengeringkan air matanya. Sorenya mentari seakan mengerut…. Merenung untuk kemalangan dirinya…
a/n : aku buat chapter ini setelah baca ff dangerous liaisons tapi lupa siapa authornya. Ceritanya lumayan seru… dan aku dapat ide buat chapter ini.. setidaknya aku buat royai…bukan roywin hehe…kalau pengen tahu coba baca aja.. memang rada adult theme sedikit…tapi ceritanya keren sih…
