Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto
Title: Bandage
Chapter 2: Coincidental Meeting
Story by: Miyuki Izumi and Ninja-edit
Setting: Alternate Universe
Warning: OOC-ness
Starring: Sakura Haruno, Naruto Uzumaki, Hinata Hyuuga, Ino Yamanaka, Sasuke Uchiha, dll.
.
Sakura merapatkan mantelnya ketika angin dingin berhembus merayap di setiap jengkal kulitnya. Musim gugur yang menurut orang-orang adalah musim yang romantis, rupanya tak berpengaruh banyak pada Sakura. Bahkan dapat dikatakan, kehidupan asmaranya jauh dari kata romantis. Yang ia telan dalam satu bulan belakangan hanyalah kepahitan. Hatinya terasa dingin melebihi cuaca musim gugur sekalipun.
Untuk yang kesekian kalinya Sakura menghela napas panjang. Ia tak seharusnya menuntut lebih dari apa yang diberikan pacarnya—Naruto. Mungkin orang kolot yang mengeluarkan pepatah 'Kita harus menerima pacar kita apa adanya' itu sebenarnya menjomblo seumur hidupnya. Toh pada kenyataannya, bukankah kata-kata itu bagaikan pedang bermata dua? Bisa kau katakan pada dirimu sendiri, sekaligus pada pacarmu sendiri. Itulah, itulah masalahnya. Kalau Sakura sudah banyak mengerti keadaan Naruto, sesekali iapun ingin dimengerti.
Bila ditanya apa yang paling diinginkan Sakura sat ini, itu adalah melempar jauh-jauh Samsung Corby QWERTY berwarna kuning milik Naruto setelah menginjak-injaknya sampai hancur.
Kenapa demikian? Bukan, bukan karena ia tak suka Nicholas Saputra yang jadi bintang iklannya. Ia sebal karena benda yang bersangkutan selalu, selalu, dan selalu, membawa Naruto pergi dari sisinya. Sekali saja benda kuning sialan itu bergetar dan berdering, jangan harap Naruto bakal ada disisimu dalam waktu lebih dari tiga menit saja. Pengalaman membuktikan demikian. Sungguhan.
"Wew, jadi sekarang selingkuhannya adalah si 'corby kuning' itu?"—begitu canda Ino suatu kali ketika Sakura untuk yang—menurut Ino—keduapuluh dua kalinya mengeluh soal benda mungil itu.
Candaan yang sama sekali tak membuat Sakura ingin tertawa. Masalahnya, bukan benda itu sendiri. Melainkan, siapa gerangan yang ada di ujung saluran telepon itu.
Pernah sekali-duakali Sakura bertanya langsung pada Naruto, yang lalu ditimpali dengan bermacam alasan yang kadang masuk akal dan kadang tidak. Sepertinya sekalipun Sakura mencecarnya dengan seribu pertanyaan, Naruto bakal punya seribu satu alasan untuk menghindar. Mulai dari urusan klub, hingga ikannya melahirkan. Well, yang terakhir memang tak masuk akal. Tapi Naruto memang pernah menggunakannya sebagai alasan pada Sakura, percaya atau tidak.
Seperti yang terjadi sekarang ini. Naruto menghilang entah kemana di kencan makan siang mereka. Saat ini Sakura tengah duduk termangu sendirian di cavalier café, distrik Shibuya. Berkali- kali waitress menawari ia minuman, dan sebanyak itu pula ia tolak. Ia sedang menunggu Naruto yang tadi minta ijin ke kamar mandi, sesaat setelah ia me-reject telepon masuk.
"Dia pasti ada urusan penting," Sakura berusaha meyakinkan dirinya dalam hati, "Tapi kenapa ia selalu ada urusan saat bersamaku? Kebetulan yang sangat tidak menyenangkan," gadis dengan tinggi 163 cm itu mulai tak yakin. Menghela napas lagi.
"Ia mungkin memang ada urusan, sehingga telepon selama hampir setengah jam," Sakura berusaha santai, namun tak berhasil. Ia mengatakan hal di atas dengan keras, membuat beberapa orang di sebelahnya menoleh dan geleng- geleng. Sebagian bersungut 'Dasar anak muda jaman sekarang' ke arahnya.
"Ah, permisi," Sakura memanggil salah seorang waitress seraya melambaikan tangannya.
Seorang waitress berambut merah dan berkacamata menghampirinya, "Sudah menentukan pesanan, Nona?"
Sakura mengetuk buku menu di hadapannya, "Lemon tea satu, McFlurry coffee crunch satu, French fries large dua, dengan salad satu porsi. Mayonnaise-nya yang banyak."
Sang waitress yang memakai name tag 'Karin' mendelik sebentar kemudian mengangguk, lalu menutul-nutul layar PDA yang tadinya menggantung di leher jenjangnya.
"Saladnya buah apa sayur?" tanya sang pelayan lagi dengan ramah sambil memasang senyum yang terlihat manis di wajah cantiknya.
"Campur saja," jawab Sakura yang kembali menatap Louis Vuitton coklat muda yang melingkar manis di pergelangan tangannya dan menghela napas.
Karin menutul beberapa kali, lalu meyibakkan rambut merah halusnya. "Silahkan ditunggu, kami usahakan pesanan anda datang secepatnya," Karin memposisikan tanda meja yang ditempati Sakura sekarang agar bisa terlihat dari pintu keluar dapur. Lalu ia beranjak ke meja lain yang memanggilnya.
Kurang lebih lima belas menit kemudian, Karin kembali membawa pesanan Sakura. Tubuh mungilnya tak terlihat keberatan membawa nampan besar berisi pesanan. Dengan senyum yang senantiasa terkembang, ia menata pesanan Sakura di atas meja bundar di hadapannya dengan tangkas. "Selamat menikmati, Nona," Karin masih tersenyum. Sakura mengangguk dan memberinya sedikit tips.
"Terima kasih," ucapnya sambil berojigi, lalu pergi.
Sakura kembali menatap arloji kesayangannya, ketika sadar bahwa Naruto sudah pergi selama hampir satu jam. "Ya Tuhan, sudah satu jam dan ia belum kembali?"
Lima menit berlalu dan Sakura mulai menyantap makannannya—yang entah kenapa terasa begitu hambar hari itu.
.
Satu jam berlalu…
.
Sakura sudah hampir menyelesiakan makan siangnya dan hanya menyisakan segelas iced lemon tea yang bahkan sudah tak lagi dingin. Tapi Naruto belum juga kembali.
Sakura beranjak berdiri, melangkahkan kakinya menuju toilet laki-laki di ujung ruangan café. Dengan enggan ia mencolek pundak seorang laki-laki sebayanya yang kebetulan hendak masuk ke dalam toilet, "Maaf, ada waktu sebentar?"Sakura berujar sesopan mungkin.
Pemuda di hadapannya mengangkat sebelah alisnya, menatap Sakura dari ujung rambut sampai ujung kaki. Seketika Sakura menjadi mual, "Maaf tidak jadi, deh. Lupakan saja," Sakura menahan diri untuk tidak menampar pemuda yang menatapnya dengan tidak sopan itu. Seolah ia ditelanjangi lewat kedua bola mata hitamnya yang berkilau sepeti pecahan kaca hitam itu.
"Oh, tidak, tidak. Aku hanya heran melihat seorang wanita berdiri di depan toilet laki-laki dan menawarkan diri begitu," pemuda itu mengangkat bahunya tak acuh.
"M-Menawarkan diri apa maksudmu?" muka Sakura memerah.
"Well, apa lagi? Seks untuk uang?" Pemuda itu balik bertanya.
Detik berikutnya Sakura melangakahkan kakinya melenggang meninggalkan pemuda yang kena tamparan keras di pipinya itu.
Mengeluarkan Samsung corby putih touch screen miliknya, Sakura menggigit bibir bagian bawahnya dan ragu sebentar. 'Apa aku harus meneleponnya?' tanyanya pada dirinya sendiri. "Hm, tapi nanti kalau misal saat kutelepon dia sedang dalam urusan penting, tidak enak juga…." Sakura kembali menimbang-nimbang.
"Tapi aku takut kalau sampai terjadi apa-apa padanya. Kutelepon sajalah," setelah tiga menit berkutat dengan kebimbangannya, Sakura akhirnya memutuskan untuk menghubungi Naruto saja. Tadinya ia hendak meminta tolong pada siapapun yang hendak masuk toilet tadi, supaya memanggilkan Naruto—yang mungkin saja masih berada di dalam sana. Nasib apesnya malah bertemu orang mesum.
Nada tunggu terdengar sayup…
"Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service area. Silahkan coba kembali atau tinggalkan pesan," suara mesin penjawab otomatis menyahut dari seberang saluran sana.
Sakura mengerutkan keningnya, mencoba lagi, lagi dan lagi. Namun tak ada satupun yang diangkat. Sakura kembali mengerutkan keningnya, ponsel Naruto tidak sedang dipergunakan, lalu sedang apa dia? Kemana dia? Setelah mengetik sms dengan cepat, ia putuskan untuk meninggalkan café dan kembali ke asramanya yang hangat. Ia sudah siap menerima ejekan Ino lagi tentang kencan payahnya nanti. Kembali ia menghela napas.
"Ah, maaf," Sakura melambaikan tangannya pada pelayan yang kebetulan sedang berjalan melewatinya, "Aku minta bill-nya. Meja nomor tujuh."
Pelayan itu mengangguk dan sekian detik kemudian kembali dengan nampan kecil dari kayu cokelat mengkilap dengan secarik kertas di atasnya, "Silahkan, Nona."
Sakura mengangguk, mengeluarkan sejumlah uang yang sesuai dengan yang tertera di sana dan meletakkannya di atas nampan itu seraya mengangguk pada sang pelayan. Pelayan itu pergi setelah mengucapkan terima kasih dan membungkukan badannya.
.
Pada waktu yang sama…
.
"Naruto-kun kenapa? Kok sepertinya gelisah?" sebuah suara lembut membuat Naruto tersentak. Menolehkan kepalanya pada sumber suara, didapatinya seorang gadis berparas lembut tengah menatapnya dengan cemas.
"Tidak. Tidak kenapa-napa, Hinata," ucap Naruto sambil menggenggam jemari lentik gadis berambut indigo itu dengan lembut. Senyum tipis tergaris di bibirnya.
"Apa kau yakin? Kau tampak seperti kebingungan… Ada yang mengganjal pikiranmu?" Hinata memiringkan kepalanya sedikit, mencari sesuatu yang tersembunyi dari balik ekspresi wajah Naruto yang tampak gugup—kalau tidak mau dikatakan gelagapan.
"Misalnya?" Naruto terkekeh, berusaha mengalihkan pembicaraan dengan canda.
"Sebenarnya Naruto-kun keberatan menemaniku jalan-jalan, misalnya?" Hinata balas bertanya.
Naruto tersentak, "Ah, tidak. Bukan begitu, hanya saja aku…" ia kebingungan dengan apa yang hendak dikatakannya.
"Kenapa? A-aku minta maaf kalau aku membuat Naruto-kun kehilangan waktu untuk bersantai begini. Kalau aku memang menggangu, aku bisa pulang sendiri…"
Naruto cepat-cepat menggelengkan kepalanya, "Bukan apa- apa. Maafkan aku."
"Oh, begitu," Hinata tak bertanya apa-apa lagi. "Ah, Naruto-kun, aku ke kamar mandi dulu, ya?" Hinata melangkahkan kakinya ke toilet wanita yang letaknya agak jauh dari tempatnya dan Naruto sekarang, taman di dekat toko buku.
Naruto dengan sigap mengeluarkan ponselnya dari kantung celananya. Sebenarnya dari tadi ia tahu kalau ponselnya itu bergetar terus, namun ia enggan mengangkatnya di depan Hinata. Ia pun membuka flip-nya.
15 missed calls
13 voice messages
tanpa dilihatpun bisa ia tebak kalau semua itu dari Sakura. Tanpa mendengarkan terlebih dahulu, ia sudah menghapus semua pesan itu.
"Paling isinya sama semua," pikir Naruto dan mulai memainkan jarinya di atas keypad, mengetik sms pada Sakura.
Sakura melangkah lemas, menyusuri jalanan yang sebenarnya ia sendiri tak begitu perhatikan arahnya melangkah. Pikirannya tertuju pada satu hal. Naruto.
"Sebenarnya apa yang dia lakukan…" tanya Sakura lirih seolah bertanya pada dirinya sendiri.
Suara gong menandakan sebuah pesan masuk ke ponsel Sakura berdering, menyeruak kesenyapan. Gadis manis itupun segera membukanya dengan tak sabar.
.
From: Uzumaki Naruto
at Monday, XX October 20XX, 16:49
Maaf aku pergi tanpa memberitahumu, tapi aku ada urusan yang sangat penting. Aku harus mengantarkan teman lamaku berkeliling. Dia sudah lupa jalan di kota ini.
Maaf yah Saku-chan? Janji deh, lain kali aku akan memberitahumu sebelum pergi. Jangan marah, ya?
.
Sakura menghembuskan napasnya, "Orang ini…" dan dalam sekejap mengetik balasan untuk Naruto.
.
To: Uzumaki Naruto
Iya, tak apa. Tapi lain kali kalau mau pergi bilang dulu. Kau membuatku menunggu lama sekali. Temani saja teman lamamu, aku baik-baik saja.
.
Sakura kembali menghela napas. Apanya yang baik-baik saja—hati kecilnya mengumpat pada ketidakberdayaan dirinya sendiri dalam menghadapi Naruto dengan tegas.
Angin musim gugur yang dingin sama sekali tak membantunya rileks sedikitpun. Pikirannya campur aduk dan tak karuan. 'Sampai kapan aku sanggup bertahan…'
Suasana kelas tampak riuh. Pelajaran akan dimulai dalam sekian menit lagi.
"Sakura! Pinjami aku tugas Matematikamu!" Sakura merasakan pundaknya dicengkeram dengan kasar.
"Ino?" Sakura menoleh, sedikit terkejut, "kelas akan dimulai dalam sepuluh menit lagi, tidak, delapan menit lagi, dan kau baru datang dan baru berniat menyalin tugas?" Sakura melotot tak percaya.
Ino menggelengkan kepalanya sambil terngeah, "Aku tidak butuh ceramahmu sekarang, pinjami cepat!"
"Ok, ok, " Sakura bersungut. Tak habis pikir kenapa kawan karibnya itu bisa datang terlambat, terlebih gedung asrama berada jarak yang tak terlalu jauh dari gedung sekolah. Pasti dia bangun kesiangan lagi—Sakura tersenyum simpul.
Ino segera menyambar buku tugas bersampul hijau metalik yang disodorkan Sakura, "Trims!" serunya dan mulai tergopoh mengeluarkan kotak pensil dan buku tugas dari dalam tasnya. Sekejap kemudian ia tenggelam dalam pekerjaannya sendiri.
Sakura menopang dagunya, menatap pemandangan di luar jendela—yang tak dapat disebut pemandangan indah. Tembok pembatas tinggi yang menjulang di seberang lapangan sepak bola, dengan beberapa pohon berdaun kering yang berguguran.
"Hei, tahu tidak," tiba-tiba Ino membuka suara.
Sakura melirik sedikit ke arah Ino yang duduk tepat di sampingnya. Menaikkan sebelah alisnya, menunggu Ino melanjutkan.
"Alasan aku telat," Ino mengangkat kepalanya dan menatap Sakura, "karena tadi aku berpapasan dengan cowok tampan," lanjut Ino sambil nyengir lebar.
Sakura menegrutkan keningnya, "Kau telat masuk sekolah dan mengabaikan tugasmu hanya karena cowok tampan? Yang benar saja."
Ino mengerling jengkel, "Heh dengar ya, yang jelas pemuda ini memperlakukan wanita dengan baik. Yah paling tidak, jauh lebih baik daripada cowokmu si Naruto itu," Ino terkekeh. Sakura melempar penghapusnya dengan jengkel. Ino tertawa semakin kencang.
"Terus? Siapa yang kau maksud itu? Jangan bilang si Sai dari kelas sebelah itu lagi? Kau sudah ditolaknya sebanyak tiga kali, ingat tidak? Aku malu deh kalau kau masih tetap ngotot mengejarnya," Sakura berujar sedikit tak acuh, memainkan helaian rambut merah mudanya.
Ino kembali berkutat dengan tugasnya dan menajwab tanpa menoleh, "Bukan, bukan Yang ini masih baru. Fresh. Fresh from the oven!"
Sakura memutuskan untuk tidak berkomentar soal selera Ino pada kue dan bolu.
"Murid baru," bisik Ino lagi, mengedipkan matanya sepintas pada Sakura sambil tersenyum nakal.
"Memangnya ada?" Sakura mengerutkan keningnya. Heran juga ada murid baru yang masuk di musim ujian pertengahan semester seperti sekarang ini.
Ino mengangguk cepat, kedua tangannya masih sibuk menulis dengan cepat, "Tadi aku lihat Kepala Sekolah sedang berbincang dengannya di depan ruangannya. Langsung saja aku sembunyi dan menunggu Tsunade-taichou masuk kembali ke ruangannya dan cowok itu ditinggal sendirian."
Sakura mengangkat alisnya, "Stalker!" desisnya.
Ino melemparnya dnegan penghapus yang tadi dilemparkan Sakura padanya. Sakura tertawa.
"Kau tahu," Ino memutar bolpen di tangannya, "Aku pasti mendapatkan cowok ini," Ino menyeringai lebar, "Pasti," ulangnya yakin.
Jam makan siang selalu riuh. Kantin penuh dengan murid-murid yang kelaparan, membuat mereka beremosi tinggi.
"Sialan bocah kelas satu itu!" Ino bersungut, menaruh nampan makan siangnya di atas meja kantin dengan kasar.
Sakura tak melepaskan pandangannya dari sup kental di hadapannya, mengaduk sup itu perlahan. "Kenapa?"
Ino berkacak pinggang, "Nih, ya. Dia menyerobot antrian! Aku sedang mengambil puding cokelat ketika dia menyerobot, dan membuat puding di tanganku jatuh! Dua kesalahan! Pertama, menyerobot antrian. Kedua, menjatuhkan puding-ku, ketiga—"
"Katamu cuma dua kesalahan?" Sakura menggoda. Ino tak menghiraukan.
"Ketiga," lanjut Ino, "dia berani macam-macam dengan Yamanaka Ino!"
Sakura memutar bola matanya. "Duduk dan nikmati makan siangmu, Ino. Nanti kita bahas setelah selesai makan saja."
"Oh tentu, membicarkan anak itu hanya membuat selera makanku hilang," Ino merengut, ditariknya kursi plastik berwarna putih di seberang Sakura, dan menjatuhkan dirinya dengan sedikit berdebum. Rupanya ia masih berang dengan anak kelas satu yang ia sebutkan tadi.
"Aku belum ambil puding bagianku, kalau kau mau, biar kuambil. Nanti kuberikan untukmu," Sakura menyuap udang gorengnya, berusaha menenangkan Ino.
Ino menatapnya dengan girang, "Sungguh? Aku mau!"
"Oke," sahut Sakura sambil tersenyum dan meletakkan garpunya dia atas piring. Sekejap kemudian ia beranjak meninggalkan meja mereka, melangahkan kakinya menuju meja pengurus kantin.
Meja pengambilan puding cukup penuh antriannya, itulah sebabnya Sakura enggan mengambil jatahnya. Tapi ia lebih suka mengantri sebentar daripada menghadapi omelan dan gerutuan Ino sepanjang hari.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring, isyarat bahwa sebuah sms masuk. Sakura segera mengecek ponselnya, dan membuka sms yang baru saja masuk itu.
.
From: Uzumaki Naruto
at Tuesday, XX October 20XX, 09:45
Saku-chan, yang kemarin itu maaf ya. Sepulang sekolah nanti aku datang ke kelasmu, kita makan siang sama-sama sebagai permintaan maafku, oke?Bisa tidak?
.
Sakura tersenyum, segera ia mengetik balasan untuk Naurto, bahwa 'Ya, tentu' ia bersedia makan siang dengan kekasihnya itu. Hal yang sudah lama ia idamkan semenjak sebulan belakangan.
Sekonyong-konyong sesosok pemuda menubruknya dari samping dan Sakura kehilangan pegangan pada ponselnya, yang alhasil mengakibatkan ponsel malangnya itu terlempar di udara dan mendarat dengan sangat keras di lantai keramik, menimbulkan bunyi keras.
"A—!" Sakura terkejut bukan main, otaknya masih mengolah situasi.
"Eh? Ah, sori."
Sakura berpaling secepat kilat pada pemilik suara, "Hei, Bego. Kalau jalan pake mata!" umpat Sakura pada orang yang menubruknya tadi.
"Dimana-mana jalan itu pakai kaki," balasnya, yang langsung membuat Sakura ingin menghajar orang yang bersangkutan.
"Kau ini…!" Sakura menyingsingkan lengan bajunya hendak merangsak maju. Seketika ia tercekat, "Kau! Si mesum yang kemarin Sabtu?"
Pemuda berambut hitam dengan bola mata hitam itu terbelalak menatap Sakura dan mengerjapkan matanya.
"Jaga mulutmu, Nona," Pemuda itu menatap Sakura dengan pandangan tak suka. "Lagipula yang menawarkan dirimu sendiri kan kamu duluan."
Sakura menarik lengan baju si pemuda dan menyeretnya keluar antrian, menjauh dari orang-orang yang mulai memperhatikan mereka. "Dengar ya, kemarin itu tidak seperti yang kau pikirkan, Tuan Sombong," Sakura menggemeletukkan giginya.
"Oh, ya?" pemuda itu mengangkat sebelah aisnya, "terus?"
"Bukan urusanmu," desis Sakura.
"Oh, berarti memang seperti dugaanku. Tidak usah mungkir, toh aku juga tidak peduli denganmu," pemuda itu mengangkat bahu, siap beranjak.
"Tsk!" Sakura menggamit lengan pemuda itu dengan kasar, "Oke, kalau kau memang mau tahu, dan sebegitu senangnya ikut campur urusan orang lain, kuberitahu! Kemarin itu aku sedang menunggu pacarku yang ada di toilet. Dia terlalu lama sehingga aku butuh bantuan seseorang untuk memanggilnya keluar. Aku tidak mungkin masuk ke dalam toilet laki-laki kan?" desisnya gusar.
Pemuda itu menarik sudut bibirnya, "Wow, pacar macam apa yang buang air besar ketika kencan?" tampak ia menahan tawa.
Sakura mengernyitkan dahinya, tak senang dengan perlakuan pemuda itu yang menyepelekan Naruto, "Jangan kurang ajar ya! Dia sedang menerima telepon penting saat itu!" Sakura meninggikan suaranya.
"Oh?" pemuda itu masih tetap menyeringai, "pacar macam apa yang menerima telepon berlama-lama dan membuat gadisnya menunggu?"
Sakura menggigit bibir bawahnya, "Dengar ya, aku tidak suka cari gara-gara. Aku tidak pernah melihatmu tapi kuharap jaga mulutmu itu kalau tidak mau kuhajar. Tutup mulutmu dan selesaikan urusan kita."
"Satu lagi yang mengherankan, cewek sekasar kamu, yang bermulut kotor begini, bisa punya pacar? Pacar macam apa?" pemdua itu mengangkat dagunya, tak mengindahkan ancaman Sakura.
Sakura mencengkeram kerah seragam pemuda itu, "Ganti ponselku dan aku akan melupakan kita pernah bertemu."
"Kenapa? Aku senang bertemu denganmu," pemuda itu mengangkat bahunya.
"Jangan main-main denganku!" Sakura meinggikan suaranya lagi.
Tiba-tiba seseorang merengkuh pundak Sakura, "Ok, stop, stop!"
Sakura menoleh, tak senang dengan kemunculan pihak ketiga itu.
"Di hari pertamamu masuk sekolah kau sudah buat keributan, murid menyusahkan," pemilik suara itu mengehela napas.
Sakura menatap Kepala Sekolahnya itu dan mengerutkan kening, "Tsunade-taichou, kenapa Anda ada di sini?"
Wanita berambut emas yang dipanggil Tsunade itu menunjuk pemuda di hadapan Sakura yang semenit sebelumnya hampir jadi sasaran tinjunya. "Tuh, mengantar keponakanku keliling sekolah. Anak manja ini senang bikin ulah, jadi aku harus mengawasinya."
Sakura membatin, 'Oh, tentu. Keponakan Kepala Sekolah. Pantas saja dia bersikap angkuh dan sok kuasa.'—dengan dongkol.
"Ah, kalian sudah saling kenal ya? Kebetulan kalau begitu. Sakura, kau temani Sasuke keliling gedung sekolah setelah bubaran sekolah nanti ya, aku ada keperluan lain," Tsunade menepuk-nepuk pundak Sakura.
"Hah? Tidak! Ah, maksudku, tidak, tidak bisa! Aku ada janji," Sakura kalang kabut.
Tsunade berbungkuk sedikit, mendekatkan bibirnya di cuping telinga Sakura, "Kau tidak akan menolak permintaan Kepala Sekolah kan?" Tsunade menyeringai. Nanti aku ganti ponselmu itu," tambahnya, yang tetap saja tak membuat Sakura senang sama sekali.
"…Baiklah," sahut Sakura pada akhirnya. Tsunade tersenyum puas dan menepuk pundak Sakura sebelum melenggang meninggalkan kantin sambil melambaikan tangannya dan bersiul.
Sakura bersungut sambil memungut ponsel putihnya yang tergeletak malang di tanah. Dirasakannya ada yang aneh dengan ponselnya itu. Tak ada sedikitpun goresan yang tercipta di sana. Keadaannya sama seperti sebelum jatuh. Walaupun begitu, ada satu hal lagi yang mengganjal di hati Sakura. Gantungan kunci berbentuk hati pemberian Naruto pada White Day kemarin yang retak. Tepat pada bagian tengahnya.
Sakura terkesiap, perasaan tak enak merasuki hatinya tanpa dinyana.
"Lagi-lagi begitu."
Sakura menoleh pada sumber suara yang mengaburkan pikirannya, "Apa?" sungutnya kesal pada pemuda berambut hitam yang dipanggil Sasuke oleh Tsunade itu.
"Setiap kali melihatmu, kau pasti merenung. Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Bukan urusanmu," Sakura memasukkan ponselnya ke dalam saku rok seragamnya. "Pukul dua belas tepat, di ruang loker, barisan D. Jangan telat atau aku tidak akan mengantarmu keliling sekolah," tegas Sakura.
Sasuke merapikan kerah seragamnya yang tampak sedikit kusut karena cengkeraman Sakura sebelumnya, "Tentu," dipandangnya Sakura sebentar, dan seringai tersungging di bibirnya, "aku tidak akan membuat seorang wanita menunggu, seperti pacarmu yang payah itu."
Butuh tekad sekuat baja bagi Sakura untuk tidak menampar orang tak tahu diri itu saat itu juga. Dikepalkannya telapak tangannya, "Peraturan pertama, jangan ikut campur dengan urusan pribadiku."
"Sejak kapan aku mematuhi orang lain? Terlebih…" Sasuke mengamati Sakura dari ujung rambut hingga ujung kaki, "seorang gadis tanpa daya tarik sepertimu. Mukamu lumayan, tapi sikapmu kasar."
Sakura mendecak, "Aku menangis dianggap tak punya darik oleh orang sok penting macam kau. Mukamu lumayan tapi mulutmu kotor," sindirnya enteng.
Sasuke mengerutkan keningnya, kesal, "Mungkin sebaiknya kutabrak mati saja kau kemarin itu."
"Ha?" Sakura tak menyembunyikan rasa bingungnya.
"Kau ingat mobil Audi yang hampir menabrakmu kemarin siang? Itu aku yang kemudikan," Sasuke menjawab tak acuh.
Kedua bola mata Sakura membelalak lebar, "Kau?"
"Kemarin itu tidak sengaja, aku terburu-buru karena telat menghadap Bibiku, Bibi Tsunade. Tapi berikutnya kutabrak betulan kau."
Sakura memutar bola matanya. Oke, masalahnya dengan Naruto belum tuntas dan kini ia harus berurusan dengan anak sombong yang punya tampang minta dihajar. Bagus, dunia memang senang mengoloknya—pikirnya dengan tawa hambar.
.
.
( TBC )
% Miyuki Izumi's note:
Jujur, ini fict serius dan kolab saia yang pertama. Jadi kalau ada kata- kata yang bagus itu datangnya dari teteh Ayame, Bukan saia. Chapter kedua ini Sakura berurusan sama si Samsung corby. Naruto itu…serakah dia. Masa Sakura dan Hinata diembat sama- sama? Wah- wah- wah. *geleng- geleng*
Udah deh, saia ga mau cerewet dulu… silahkan teh Ayame…
.
% Ninja-edit's note:
Kali ini Ully yang bikin cerita mentahannya, saya cuman nambah sana-sini.
Yang penasaran sama arah ceritanya, tanya Ully aja ya :) *kabur*
Saatnya menjawab komentar para reviewer baik hati di chapter sebelumnya.
.
.
Review-replies...
(Kali ini by: Ninja-edit)
.
Ruki_ya: Perasaan wanita memang tajam ya *manggut-manggut* tapi Sakura-nya lagi mabuk cinta, ga sadar atau mungkin ga mau sadar :|
Ryu_kun: Tebakan bagus ;) Tapi nanti bakal ada twist. Dinantikan ya..
lost: Iya dan di chapter ini bahkan Sakura ketiban lebih banyak kesialan ^^;; Yah, pepatah bilang "Sleeping boy gets no fish" kan ;)
Angga Uchiha Haruno: Dan tampaknya sekarang Sakura ada di urutan nomor satu dalam daftar orang yang ingin dimusnahkan oleh Sasuke. XD
Tunggu perkembangannya ya :)
Naru-mania: Tuh Sasu udah muncul. Sebenernya dia dari chapter 1 udah muncul sekilas sebagai pelaku (hampir) tabrak lari :p
Princess mikaia: Iya, gaya saya yang chicklit dengan gaya Ully yang teenlit, jadinya beginilah. Di chapter 1 saya yang buat cerita dan Ully yang nambahin, di chapter 2 ini Ully yang bikin cerita dan saya yang nambahin. Feel-nya kerasa beda kan? Ala Ully kerasa lebih ceria suasananya ^^;;
Asako Ninomiya: Udah apdet nih, baca terus ya :)
Mugiwara Piratez: Seleramu yang seneng sama pergulatan batin tak juga berubah, friend. *tepok-tepok* *sksd*
Di sini hubungan Naruto & Hinata nya belum dijelasin secara gamblang, tunggu chapter-chapter berikutnya ya :)
Hikari 'Sakura' Sakuragi: Udah apdet nih, jangan bosen-bosen ya :)
.
Terima kasih sudah menyempatkan diri buat baca & berkomentar.
.
NB: Chapter 3 tampaknya bakal muncul agak lama, mengingat Ully yang sibuk persiapan UN. Mohon pengertiannya...
