Title: The Spirit ofThe Beloved

Genre: Romance/ Drama/Mystery

Author: Micky_Milky

Rate: T

Disclaimer: DBSK milik tuhan, orangtua, dan Cassiopeia

Pairing: YunJae, YooSu, …xMinx…

Length: Chaptered

Warning : Typo, eyd, Yaoi, Ooc, Yunho Pov, dll

.

.

Inspiration from the novel EVERMORE ( Alyson Noel), comic I HAVE MET YOU ALL ALONG (Saitou Chiho), I WON'T LET YOU BE A STAR (Yuu Watase)

.

.

Chap 1

DON'T LIKE DON'T READ

DON'T COPAS

Enjoy

.

Tubuhku bergerak gelisa di atas ranjang. Rasanya terasa sangat gerah saat ini. Kusibak selimut yang menutup tubuh bawahku membiarkan selimut itu terjatuh dari atas ranjang. Tubuhku berbalik ke arah kiri, melihat jam dinding yang membingkai 10:16 sudah sangat siang. Dan percaya atau tidak, tadi malam aku tidur jam 4 subuh karena terlalu sibuk membayangkan banyak hal yang kemarin kulihat.

Kutelentangkan tubuhku sehingga sekarang tubuhku menghadap langit-langit kamar, tangan kananku bergerak menutupi kedua mataku dan tangan kiri kubiarkan tergeletak begitu saja di samping tubuhku. Ada sedikit aura hangat yang menyerang lengan kiriku, dengan malas tubuhku berguling kekiri dan mendapatan sosok cantik yang tertidur di sampingku.

Mataku melotot kaget menemukan objek yang membuatku tak bisa tidur tadi malam sedang asik bergelung di atas tempat tidurku. Kuangkat tangan kiriku dari tubuhnya, memandang setiap jengkal wajah cantik yang sedang tertidur itu. rambut, kening, mata, pipi, hidung, dan uh~ bibir merah itu.

"Selamat pagi."

Sapanya pelan, aku langsung mendorong tubuhku beberapa jengkal dari tubuhnya, wajah cantik itu memandangku dengan mata sayup khas orang bangun tidur, dia duduk di atas ranjangku dengan aku yang juga duduk berhadapan dengannya.

"Ke-kenapa kau ada disini?"

Setelah keluh beberapa lama akhirnya lidahku ini bisa juga di gerakan. Dia tersenyum kearahku, lalu mengucek kedua matanya yang kulihat setitik air mata di ujung mata besar itu.

"Aku tak tahu harus kemana, makanya aku kemari."

Jawabnya santai. Pemilik wajah cantik itu turun dari ranjangku, lalu berdiri tepat di samping ranjang itu. dengan cepat disambarnya selimutku yang teronggok di kaki ranjang, tapi wajah cantik itu terlihat muram dan memandang nanar kearah selimut yang terlihat tak dapat dijangkaunya.

"Aku bisa membersihkannya."

Ujarku, dia berbalik melihatku, lalu duduk dia atas tempat tidurku, dimana aku masih terduduk disana, kulirik sesaat jam di kamarku, masih 10:30, dan mata kulia pertama akan masuk jam 1 siang nanti.

"Maaf ya, aku pasti merepotkanmu."

Dia menunduk dalam, membuat aku tak tegah melihat wajah itu bersedih.

"Mmmp, Kim JaeJoong, ya JaeJoong… siapa kau sebenarnya?"

Dia terdiam, diangkatnya kepala yang tertunduk tadi, tubuhnya berbalik menghadapku.

"Aku tak tahu. Yang aku tahu namaku Kim JaeJoong."

Tidak tahu? Maksudnya apa? Sungguh aku tak mengerti. Kulirik wajah cantik kepunyaan pria didepanku itu, diketuk-ketukkannya jari tengahnya di dagu lalu kembali berbicara padaku.

"Saat dikereta, aku merasa bermimpi kau membalas senyumanku, kulihat kau selalu memperhatikanku. Aku kira itu hanya perasaanku saja."

Ujarnya girang. Dia berdiri dari ranjangku dan berusaha menyibak gorden kamarku, tapi nihil, tetap saja kejadiannya sama saat dia ingin mengambil selimutku, dia tak bisa menyentuh gorden itu.

"Aku tak tahu aku apa? Tapi yang jelas aku tak bisa dilihat oleh orang lain."

Wajah sedih itu kembali kulihat di wajah yang telah kukagumi semenjak memandang wajahku pertama kali.

"Aku mengikutimu, dan ingin mengetahui siapa kau? Sampai aku tahu kau bisa melihat bahkan berbicara padaku, dan orang-orang yang sama denganku."

Wajah itu tertunduk dalam, sinar matahari yang memancar dari sela-sela ventilasi menembus tubuhnya, sungguh… dia seperti malaikat saat ini.

"Makanya aku kemari dan berusaha mencarimu, aku rasa kau bisa menolongku."

Hening…

Dia terdiam sesaat sama sepertiku, mata kami saling beradu, hanya detak jam yang dapat aku dengar di ruangan itu, sampai…

"JUNG YUNHO, INI SUDAH SANGAT PAGI… MAU SAMPAI KAPAN KAU TIDUR."

Aku kaget bukan main saat mendengar suara ibuku memanggil dari lantai satu rumahku, dengan segera aku beranjak dari kamar dan meninggalkannya sendiri di sana. Menuruni anak tangga satu-persatu dan melihat ibuku asik dengan alat-alat masaknya lengkap dengan baju seragam kantornya.

"Eomma, sudah pulang?"

Ibuku berbalik memandangku dengan muka masam.

"Eomma Cuma pulang sebentar untuk membuat sarapan dan makan siang untukmu dan Jihye, mungkin nanti eomma akan pulang terlambat karena akan ada rapat penting."

Begitulah eommaku, sesibuk apapun dia, dia pasti menyempatkan diri membuat makanan, melihat tumbuh kembang anak-anaknnya dan menyayangi kami.

"Cepatlah mandi, nanti kalau kau mau pergi kuliah, jangan lupa titipkan kunci rumah pada Ajhumma."

"Ne…"

Dengan malas kembali kulangkahkan kakiku kedalam kamar mendapatkan JaeJoong masih berusaha untuk mengambil bantal-bantal yang berserakan di bawah ranjang.

"Biar aku saja yang selesaikan semuanya, kau tak usah khawatir."

"A-aku hanya ingin membantumu."

"Percuma, kau tak akan bisa melakukannya."

Kulihat dia kembali tertunduk, ada guratan kesedihan yang terpancar wajah cantik itu.

"Jung Yunho, gomawo… apa aku sangat merepotkanmu?"
mataku bergerak gelisah saat melihat wajah cantik itu semakin menunduk dalam.

"Jika iya, aku akan pergi."
tubuh kecil dariku itu berdiri dan hendak menujuh pintu yang tertutup. Sampai dengan cepat kugenggam pergelangan tangannya yang aku tahu tak mungkin dapat aku sentuh itu.

"Tunggu…! Bu-bukan itu, jangan pergi, ka-kau tak merepotkanku."

Wajah yang ternyata sudah sembab dengan air mata itu menatapku dalam, iba sekali rasanya melihat wajah cantik itu seperti itu.

"Benarkah?"
"Ne…"

Bibir itu kembali melengkungkan sebuah senyuman, indah sekali wajah itu kalau tersenyum seperti itu terus.

"JaeJoong-shi, ayo duduk… banyak yang ingin aku tanyakan padamu."

"apa? Dan jangan panggil aku dengan embel-embel '-shi' lagi."
kembali, tubuh itu duduk di atas kursi belajarku. Dan mata bulat itu menatapku intens.

"Mian ne, sebelumnya… kenapa kau bisa meninggal?"

"Me-meninggal?"
raut wajahnya langsung berubah terkejut, keningnya mengkerut seolah dia berfikir sesuatu.

"Si-siapa? A-aku?"
aku mengangguk. Benarkah dia tak tahu kalau dia sudah meninggal? Kenapa bisa, sepengetahuanku semua roh/ arwah/ hantu/ dan semacamnya yang selama ini aku temui selalu tahu kalau mereka sudah meninggal, terkecuali kalau dia menampik kebenaranya kalau dia memang sudah meninggal.

"Kau tak tahu?"
"Tidak, yang aku tahu aku berdiri di lorong rumah sakit, dan berjalan begitu saja."

Dia menggeleng kasar, wajahnya terlihat shock dengan perkataanku.

"Kau tahu dimana rumahmu? Atau mungkin orangtuamu? Temanmu? Adik atau kakakmu? Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu dari mereka."
dia kembali menggeleng keras, lalu menatapku tepat di kedua bola mata musangku.

"Aku tidak tahu, aku tidak tahu siapa aku, rumahku, orang tuaku, temanku, adik atau kakakku, yang aku tahu namaku Kim JaeJoong, hanya itu."

Ujarnya lemah, dapat kudengar isak dari pria cantik itu. sampai tiba-tiba dia menangis keras.

"Aku ini siapa, Jung Yunho? Kenapa aku tak bisa dilihat orang lain."

Dia bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan kearahku dan berusaha menyentuh pundakku, sampai tangan berkulit putih itu menembus begitu saja tubuhku. Tangannya ditarik kembali dan tergeletak pasrah di samping tubuhnya yang terlihat lemas tak berdaya.

"Dan…"

Ada jedah sejenak, kucoba untuk menungguh perkataanya kembali.

"Kenapa aku tak bisa menyentuhmu? Menyentuh yang lainnya."

Dia berteriak di hadapanku, kembali tangis itu pecah. Dia tak tahu kalau dia sudah menjadi roh, tak tahu apa-apa tentang dirinya, dan hanya tahu namanya saja? Oh god, ini aneh, bahkan nenekku yang sudah lama meninggal saja masih mengenaliku sebagai cucunya.

"Jae, kau tak apa-apa?"

Aku berusaha menenangkannya yang terlihat masih menangis sesunggukan.

"Ne, aku tak apa-apa. Yun, bisahkah kau ceritakan apa saja yang kau ketahui tentang kematian."

Aku terdiam, dia ingin aku menceritakan tentang kematian? Hei~ aku bukan tuhan…

"Hmmm, baiklah, tapi aku akan siap-siap dulu untuk kuliah, ne… sebentar lagi aku akan masuk kuliah."

Dia mengangguk, ku ambil baju dan handuk yang akan aku pakai nanti. Setelah beberapa saat, aku sudah siap dengan gayaku, baju kaos oblong berwarna hitam, jaket kulit hitam dan celan jeans abu-abu muda serta tak lupa sepatu bot hitam yang baru satu minggu lalu dibelikan eommaku.

Sentuhan terakhir tinggal menata rambutku yang aku beri gel, dan sedikit parfum. Kulirik keadaan kamarku yang berantakan sekarang tinggal membersihkan kamar ini, dengan cekatan kubersihkan satu-persatu isi kamar ini. Dan menaruhnya tepat di tempat seharusnya. JaeJoong telihat memperhatikan kerjaku dari kursi belajarku. Dia tersenyum saat aku melihatnya dan juga ikut tersenyum.

Kutarik ransel hitamku di sudut kamar dan menyampirnya dipundakku.

"Ikut?"

Dia mengangguk menyetujui usulanku, kami berjalan menuruni anak tangga melihat sekita rumah yang terlihat sangat sepi.

"Sepi sekali?"

"Eomma-ku pasti sudah pergi."

Jawabku, dia hanya mengedikkan bahunya. Aku berjalan kearah meja makan, membuka lemari makan dan mulai menikmati sarapan siang-ku.

"Tak ikut makan?"

Tawarku, dia menggeleng.

"Percaya atau tidak, aku tak pernah merasa lapar."

Cengirnya. Wajar kan, dia roh, mana mungkin dia dapat merasakan lapar seperti manusia. Dengan setia dia menatapku yang menyendokkan nasi kemulutku sendiri.

"Tunggu, ada nasi di pinggir bibirmu."

Tangan kanannya terjulur untuk mengambilkan nasi di samping bibir kananku, detak jantungku benar-benar terasa 5x lebih cepat berdetak dari sebelumnya saat merasakan jarak wajahnya sangat dekat dengaku, dilihat dari jarak sedekat ini wajah itu sungguh menakjubkan.

Dia merengut kesal saat lagi-lagi tangan itu tak dapat berkerja semestinya. Dia kembali tak bisa menggapai apa yang ingin di gapainya. Dengan muka ditekuk dia kembali duduk ditempat duduknya.

"Aku bisa sendiri."

Dengan gerakan cepat ku ambil sisa nasi yang dikatakkan dengan lidah panjangku. Hanya perasaanku saja apa aku tadi melihat jakunnya terlihat naik turun atas perlakuanku.

"Selesai, ayo ikut aku."

Dia kembali menguntil dibelakangku. Ku ambil kunci rumah yang tergeletak di atas meja tamu. Sebenarnya sebentar lagi Jihye pulang, tapi tetap saja aku harus segera berangkat kalau tak mau terlambat

"Kita naik kereta ya."

Dia mengangguk, setelah kukunci pintu rumahku aku berjalan menuju kediaman Ajhumma 'Jung' ya, dia bibi-ku, dan rumahnya bersebelahan dengan rumahku.

^Y-J^

"Oppa…"

Saat aku baru saja menutup pintu pagar, Sosok perempuan berlari mengejarku, dia berdiri di depanku sambil tersenyum centil.

"Lihat disana Oppa."

Perempuan itu menunjuk kearah sosok laki-laki tampan yang juga tersenyum padaku. Itu kan Siwon, dia juga teman kuliah-ku, pria berbadan tegap itu temanku satu kampus dan semester, hanya saja kami berlainan falkultas. Kulihat dia melambai padaku.

"Siwon?"

"Yups… dan dia baru saja menembakku."

Pikiranku benar-benar bingung, kemarin Tiffany teman sekelasku yang mengatakan kalau yang baru saja di tembak Siwon, dan sekarang Jessica, sepupu-ku, anak dari Ajhumma 'Jung'.

"Oh…"

Cuma itu responku, sekarang baru aku tahu, kalau mereka berdua sebenarnya mengincar Siwon. Pria yang memang lumayan jadi idola di kampus.

"Oh? Apa yang salah pada otakmu oppa, kau Cuma merespon dengan kata-kata 'oh'?"

Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal.

"Maaf, tapi aku tak tahu harus berkata apa. Ah… apa Ajhumma ada di rumah."

"Itu karena kau terlalu lama menjomlo, carilah pacar yang cantik lalu kenalkan padaku. Iya, eomma ada dirumah, huh~ ."

Aku tersenyum canggung saat mendapatkan wajah Jessica berbalik dariku lalu berlari kearah Siwon yang terlihat menunggu di depan rumahnya. Pria tampan itu terlihat risih saat sepupuku itu mengandengnya.

"Siapa?"
aku terlonjak kaget saat mendengar suara yang berasal dari belakangku, ah.. aku lupa kalau JaeJoong masih ada di belakangku.

"Sepupu perempuan-ku."

Jawabku. JaeJoong kembali mengangkat bahunya, dan berjalan di belakangku, saat aku berdiri di depan Jessica dan Siwon. Aku tersenyum ramah kearah pemuda seumuran denganku itu.

"Hei~ Siwon… mau kekampus?"
"Ya, mau bareng…"

Aku menggeleng, dan menatap Jessica yang berdiri di samping Siwon.

"Bisa panggilkan Ajhumma, Jessica-ah."

Wajah gadis itu cemberut, dihentak-hentakannya kaki jenjang itu ke tanah, lalu berlalu meninggalkanku dan Siwon plus JaeJoong yang tentu saja tak terlihat oleh Siwon.

"Kau pacaran dengan sepupuku?"

"Eh?"

Siwon menggaruk bagian belakang kepalanya, dia terlihat menyengir dengan tampang yang bodoh.

"Ani, aku kemari hanya untuk menemani Jessica mengambil buku yang dia pinjam."

"Tapi dia bilang kau pacaran dengannya."

Siwon memandangku kaget. Dia tertawa pelan…

"Hei, aku tak pernah berpacaran dengan sepupumu."

"Tiffany?"

Kali ini aku dapat melihat dahi Siwon mengkerut.

"Siapa Tiffany? Aku bahkan tak mengenalnya."

Jadi mereka berdua membohongiku. Aku buru-buru menarik napas dalam saat kulihat Jessica berlari kecil kearahku dan Siwon.

"Jangan katakan tentang pembicaraan kita tadi padanya."

Siwon menepuk bahu-ku lalu beranjak menaikki mobil sedan berwarna hitam miliknya.

"Ok, kau bisa mempercayaiku."

"Oppa… aku pergi dulu, dan itu Eomma."

Jessica melambai girang kearahku, lalu masuk kedalam mobil Siwon dan duduk tepat di samping pria berlesung pipi itu.

"Benar tak ingin pergi bersama?"

Kulirik wajah Jessica yang cemberut, lalu menatap Wajah JaeJoong yang memandang bergantian.

"Ani, lain waktu saja."

Sebuah senyum terukir di wajah Jessica, aku dapat melihat dari senyum itu Jessica berkata 'gomawo-oppa-'

Aku melambai kearah Siwon, saat mobil itu melesat menjauh dari ku.

Jessica Jung, dia adalah sepupu perempuanku dan anak satu-satunya dari bibi-ku dia seumur denganku, kami hanya berbeda bulan dan aku lebih tua beberapa bulan darinya, sebenarnya dulu dia adalah seorang kakak dari seorang gadis cantik seumuran dengan adikku bernama Krystal Jung. Krystal dan Jihye sangat dekat, bagi Jihye Krystal adalah sosok sepupu, teman, sekaligus sahabat. Mereka selalu pulang-pergi bersama saat bersekolah. Mereka sudah akrab dari kecil.

Sampai 2 tahun yang lalu Krystal di vonis menderita kangker hati setadium akhir, dan membuatnya harus kehilangan nyawa setelah setengah bulang koma di rumah sakit.

Jihye sangat terpukul atas kematian Krystal membuat adik semata wayangku itu mengurung dirinya di kamar selama 2 minggu lebih, tak makan dan tak bersekolah, begitu juga Jessica.

Aku masih ingat saat Jessica membantu-ku dan eomma membujuk Jihye, dia mengatakan kalau Krystal akan sangat sedih jika Jihye salalu menelantarkan kehidupannya.

Dan adikku akhirnya kembali ceria setelah kami biarkan dia berkonsultasi dengan Jessica seharian penuh saat itu. semenjak itu Jihye tak pernah lagi larut akan kesedihannya.

Tapi aku masih mendengar kabar dari Ajhumma, kalau terkadang Jessica menangis saat dia merasa sangat merindukan adik perempuannya itu. Aku tahu Jessica menutupi kesedihannya dengan terus tersenyum, sama seperti adikku, Jung Jihye. Mereka berdua sama, sama-sama ditinggal oleh orang yang mereka sayangi.

Seorang perempuan paruh baya melambai padaku, perempuan itu tersenyum saat aku menghampirinya.

Wajahnya masih terlihat cantik, dia istri dari pamanku, adik ayahku dan dia adalah bibik-ku

"Ajhumma aku titip kunci, ne… hari ini mungkin aku akan pulang sore."

Ajhumma mengangguk, setelah memberikan kuci rumahku pada perempuan itu dan berpamitan dengannya. Aku langsung berjalan meninggalkan Ajhumma menuju stasiun kereta.

Dijalan kulirik wajah cantik di sampingku yang tertunduk lesu. Ada guratan-gurata kesedihan disana.

"Wae?"

Dia mendongan menatapku. Aku tersenyum kearahnya.

"Laki-laki tadi pacar sepupumu, tapi kenapa dia tak mengatakan sebenarnya padamu?"

Aku tertawa mendengar penuturannya, untung jalanan yang kami lewati sangat sepi sehingga aku tak perlu di sangkah orang gila karena tertawa sendiri.

"Sepupuku itu berbohong…"

Masih, wajah itu masih terlihat sedih, jadi bukan karena masalah sepupuku itu penyebabnya. Ku duga karena masalah itu, ternyata aku salah.

"Ada apa? Kau telihat sedih."

Ditatapnya jalan stapak yang kami lewat, dia berjalan memandang kosong kearah jalan itu.

"Tidak ada apa-apa." Elaknya

.

.

Kami sudah sampai di depan gerbang kereta api, menunggu antrian untuk masuk, saat sudah masuk kedalam kereta api aku duduk di pojok, dengan JaeJoong yang juga duduk di sampingku. Lalu dia berdiri saat seorang bapak-bapak tua hendak duduk di sampingku, yang mungkin dikiranya bangku itu kosong padahal di sana ada JaeJoong. sama seperti yang aku lihat saat pertama melihatnya, dia memberika tempat duduknya untuk seorang wanita hamil.

Ku tepuk-tepuk pahaku menyuruhnya untuk duduk di pangkuanku. Wajahnya tertunduk malu, guratan merah ke pink-pink-an tergambar di pipi putih pucatnya. Dengan malu dia duduk di pangkuanku. Benar dugaanku, tubuhnya sama sekali tak terasa olehku. Aku tersenyum senang saat merasa detak jantungku yang berdetak benar-benar wow~, meresapi kebersamaanku dengan pemuda cantik yang dari pertama aku melihatnya sudah sangat jatuh hati pada pria yang aku pangku itu.

.

.

JaeJoong berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah besarku, kulihat dia asik memandangi sekeliling jalan yang akan mengatarkanku ke kampus beberapa meter lagi.

"Kau berjanji akan menceritakan tentang kematian padaku?"
Aku terdiam, tapi tak sedikitpun aku menghentikan langkahku. Dia merengut lucu berjalan dengan menghentakan kakinya kesal. Aku berusaha untuk tidak tertawa saat melihat kelakuannya. Saat ini kami sedang berada di pusat pertokoan yang dekat dengan kampusku. Makanya aku tak menggubris semua perkataanya tadi.

"Jung Yunho….!"

Dia membentakku, tapi tetap tak ku gubris, sampai saat aku melihat dia ingin berjalan menjauh dariku.

"Disini banyak orang, nanti aku disangkah gila jika berbicara denganmu."

Dia terdiam, lalu tertawa kecil. Kulihat sepasang kekasih yang melewati kami berbisik mengataikan 'anak muda itu bicara sendiri' saat aku bicara tadi. Sungguh aku sangat malu saat ini.

"Maaf Yunho, aku benar-benar lupa."

Dia mengetuk keningnya pelan dengan telapak tangannya. Diperjalanan menuju kampus kami kembali terdiam hanya terkadang aku mencuri pandang kearah wajah cantik yang terlihat antusias melihat pernak-pernik yang dipajang didalam toko-toko yang kami lewati.

"Yunho, itu kampusmu?"

Dia menujuk sebuah pagar yang menjulang tinggi. Dengan bacaan 'UNIVERSITY CASSIOPEIA' di atasnya. Aku mengangguk, kemudian dahinya kembali mengkerut.

"Baju itu sama dengan baju-ku."

JaeJoong menunjuk kearah mahasiswa yang memakai almamater berwarna merah terang dengan lambang huruf 'W' di kantung kirinya.

"Itu yang jadi pertanyaanku, kenapa kau memiliki almamater Universitas ku?"
tanyaku sedikit berbisik, takut-taku nanti aku kembali di kira orang gila.

"Ah… baju itu? aku juga tak tahu mendapatkannya dari mana."

Dia memiringkan kepalanya, menggosok dagunya dengan jari telunjuknya.

"Kau tak mungkin mendapatkannya dengan Cuma-Cuma kan? Kecuali kau mencurinya, atau kau juga salah satu dari mahasiswa di sini."

Sebenarnya pertanyaan terakhirku sedikit janggal, tentang dia yang mahasiswa di kampus ini, selama aku berada di kampus ini, belum pernah aku melihat wajah cantiknya berlalu lalang.
kembali aku berbisik, kami sudah berada di halaman kampus, kaki-kakiku membawa kami menaiki tangga menuju kelas pertamaku dimulai.

"Sungguh, aku benar-benar lupa."

Dia memasang wajah bersungguh-sungguh, saat kami berbelok di tikungan, seseorang tiba-tiba memelukku erat.

"Oppa…..!"

Sosok wanita yang aku tahu siapa dia dari caranya berbicara. Go Ara ha satu-satunya wanita yang entah kenapa sangat menggilaiku.

"Aku merindukanmu oppa."

Ujarnya, dan membuat bulu kudukku meremang mendengar perkataanya. Merindukanku? Aku bahkan berharap tak bertemunya di kampus hari ini, dan kalau bisa selamanya. Mungkin terdengar kasar dan mengerikan, tapi aku benar-benar tak suka dengan wanita ini.

"Ara ha… apa mata kuliahmu sudah selesai?"

Wanita itu mengangguk, lalu tersenyum padaku dan memeluk lengaku erat sambil wajahnya digesek-gesekan di lenganku. JaeJoong hanya menatapku dan wanita itu bergantian. Sebentar lagi dia pasti akan bertanya…

"Dia pacarmu Yun? Lumayan juga tipemu."

Kan benar apa yang ada dipikiranku. Dia terkikih geli, aku merengut sebal, apanya yang lumanya, dia seperti jelangkung (?) yang tiba-tiba datang dan tiba-tiba pergi dari hadapanku. Lagi pula tipeku itu seperti kau, Kim JaeJoong. batinku benar-benar nelangsa saat melihat JaeJoong orang yang aku sukai malah menertawakanku yang masih di peluk erat oleh Ara ha.

Eh..? tadi ku bilang apa? Tipeku? Dan orang yang aku sukai adalah JaeJoong. demi pemuda yang sekarang masih menertawakanku, aku benar-benar merasa perasaanku hangat saat tak sengaja memikirkan hal seperti itu tadi.

"YooChun oppa, Changmin oppa dan Junsu Oppa sudah masuk kelas dari setengah jam yang lalu, kau tak masuk oppa?"

Dia bilang apa tadi? Dengan sekali sentak kulepaskan lengannya dari lengaku, dan berlari menuju kelas pertama mata kuliahku.

"Aku terlambat…."

.

.

TBC

A/N+Balas Repyu…

Maaf kalau lama updet. Ada beberapa isi ff ini yang ternyata sudah dapat ditebak. Dan milky minta maaf atas kesalah ff milky yang satunya. Yang benar-benar tak sesuai dengan yang diharapkan.

Milky balas repyu dulu.

-Jae

Ini sudah lanjut… repyu lagi^^

-Dongdonghae

Masalah jaema yang bisa merokok, aku dapat inspirasi dari novel EVERMORE, disana aku mengambil tokoh ever dan Riley. Di dalam novel itu, kejadiannya hampir sama dg ff ini, hanya saja Riley yg sudah meninggal bahkan bisa menggunakan baju" bahkan memakai barang" ever kakaknya yang masih hidup. Milky juga agak ragu saat membuat adgan itu, padahal di chap dua terlihat Jaema gak bisa nyentuh barang" disekitarnya. Mian ne, mungkin ff ini akan sedikit membingungkan..^^

Untuk Donghae, maksudnya di sini, Tiffany menyuruh Yunho menebak siapa pacar Jessica. Dan Yunho mengatakan 'Donghae'. Hehehe… semoga sudah terjawab… repyu lagi^^

-Zira

Bukan, jaema bukan hatu kereta, dia hanya roh kok… (lah bedahnya apa)… repyu lagi^^

- Marcia Rena

Ini sudah lanjut… repyu lagi^^

-Nara-chan

Lihat entar, gimana nasib cinta YunJae^^… repyu lagi^^

-Yuri Choi

Sudah lanjut, walau agak lama…repyu lagi^^

- leenahanwoo

Eomma mertua? Sudah lanjut, dan gak bakal end dalam waktu dekat, karena chap-nya masih panjang… repyu lagi^^

-Guest

Hahaha… entar saya diskusi ama Jeama dulu, dia mau gak dihidupin lagi…sudah lanjut walau gak kilat… repyu lagi^^

-Jaecha

Bukan, Yunpa di sini bukan paranormal, dia manusia biasa yang bisa melihat arwah, seperti indra keenam gitu…hehehe… lihat aja entar… repyu lagi^^

Kalau di bilang jangan didelet ama teman-teman semua, saya gak bakal delet… repyu lagi^^

-chidorasen

Hehehe… entar pasti ketahuan deh. Kalau di kasih tahu kan gak seruh…sudah lanjut… repyu lagi^^

-NR

Iya, disini Jaema roh… sudah lanjut… repyu lagi^^

-riska 0122

Iya. Lihat aja entar… sudah updet walau gak kilat…repyu lagi^^

-LuCassiopeia

Itu rahasia… sudah lanjut… repyu lagi^^

- Geuchan

Sudah lanjut… repyu lagi^^

-Princess yunjae

Yupz ff ini bakal happy ending… kalau itu rahasia… lihat aja nanti…sudah updet walau gak asap… repyu lagi^^

-blue minra

Sudah lanjut… repyu lagi^^