Disc : Masashi Kishimoto

Freedom and Love

Genre : Drama, Family, romance, action.

Pair : ...femNaru

Warning : FemNaru, OOC, typo, Miss typo, masih amatir

Chapter 2

-Ivera present-

Sudah 3 bulan Naruto hidup di Apartemen pemberian Konan. Pagi sampai siang biasanya Dia mengajar disebuah TK. Siang sampai malam Dia bekerja disebuah Cafe. Untung saja sang pemilik mengerti akan pekerjaan pagi harinya jadi Dia selalu diberi sift siang.

"Naru tolong antar pesanan ini ke meja 2." Pria tambun berteriak dari arah dapur.

"Siap Chef Chouji. Awas, jangan terlalu banyak icip-icip." Ujar Naruto dengan nada bercanda.

"Silahkan Tuan pesanan Anda." Naruto menyimpan pesanan sang pelanggan di meja, tak lupa memberikan senyum ramahnya.

"Naru, bisa Kau ke meja 11. Mereka pelanggan yang baru datang." Ujar rekan kerjanya Karin.

"Ah Baik Senpai." Naruto mengambil daftar menu dan berjalan menuju meja yang dituju,

"Silahkan Nona." Naruto memberikan daftar menu.

Kebiasaan Naruto. Dia selalu mengobservasi setiap pelanggan yang datang. Maklum Dia lulusan psikolog jadi sudah jadi rutinitasnya mengamati orang-orang.

'Huahh... Dia orang yang arogan, salah langkah mati sudah.' Batin Naruto melihat wanita didepannya.

"Aku pesan strawberry softcake, Black Coffee, Ah dan ice cream green tea. Itu saja." Naruto menulis pesanan pelanggannya.

"Sudah itu saja. Baiklah, Silahkan tunggu beberapa saat." Naruto membungkuk hormat dan langsung pergi.

"Ahh lelah..." Naruto mendudukan diri dikursi tempat para pegawai beristirahat.

"Tentu Kau lelah Naru. Pagi sampai siang Kau mengajar di TK. Siang sampai malam Kau disini. Libur Kau malah berlatih Karate, bahkan Kau ikuut berlatih Kendo di dojou Kakekku. Stamina apa yang Kau punya?" tanya Karin tak habis fikir.

"Hehehe.. Ah sudah jam 8, Bukankah Kita harus pulang, bukan begitu Senpai." Naruto bergegas masuk kedalam ruang ganti Dia ingin pulang, beristirahat dengan tenang.

Ya. 3 bulan ini memang Dia sering berlatih Karate dan juga Kendo. Alasannya hanya satu, mempersiapkan diri menuju medan perang. Dia belum dapat petunjuk harus menyelidiki darimana, karenanya Dia harus mempersiapkan diri terlebih dahulu.

Sampai di apartemennya, Naruto langsung menuju kamar, membuka laptopnya. Melihat dokumen-dokumen yang Dia ambil dari internet, mata hijaunya menatap nanar saat melihat sebuah foto, Ayah, Ibu, dan Naruto palsu yang tengah tertawa bersama. Oh ya, ngomong-ngomong Kakak pertamanya sepertinya tak terlihat di foto-foto yang diambil oleh paparazi, apa mungkin Kakaknya Kurama masih di Inggris.

Dokumen kedua memperhatikan kasus-kasus yang dulu dipecahkan Konan bersama dengan rekannya. Salah satunya adalah kasus penculikan puteri bungsu Namikaze, berterima kasihlah pada flshdisk yang diberikan Konan padanya bersamaan dengan indentitas barunya.

Flashdisk itu berisi rincian kasus yang melibatkan keluarga Namikaze, bahkan kasus kecelakaan Kakaknya. Entah bagaimana sepertinya Konan seperti spesialis penanganan kasus yang melibatkan keluarga.

"Konan-nee, lalu apa yang harus Aku lakukan?" Bisiknya.

Pagi hari yang cerah, Naruto sudah siap dengan aktifitasnya. Dia melihat dirinya didepan cermin, "Hmm, yang ini cocok." Ujarnya setelah puas akan penampilannya. Dia harus berpenampilan sopan dan makeup tak berlebihan. Dia adalah Sensei, Dia harus memberi contoh pada muridnya.

"Ya Tuhan sudah jam segini." Ujarnya panik. Terlalu lama memilih baju hingga lupa akan waktu. Langsung bergegas menuju halte yang tak jauh dari apartemennya.

"Ohayou Naru-Sensei..." sapa seorang anak saat melihat Naruto memasuki kawasan TK.

"Ohayou Rika-chan. Wahh hari ini Kau terlihat cantik dengan bando itu," puji Naruto, Ya Naruto memuji karena melihat gerak-gerik Rika yang terus memainkan rambutnya, meminta perhatian.

"Benarkah. Hehe... Ini hadiah dari Ayah," ujar gadis kecil itu.

Naruto mengagguk mengerti dan berjalan menuju ruang Guru.

"Ohayou Naru..." sapa rekan kerjanya bernama Shion.

"Ohayou Shion-senpai," Naruto tersenyum ramah, namun terlihat jelas wajahnya menyiratkan rasa sakit.

'Shion-nee,' batinnya.

2 bulan lalu tanpa sengaja saat dirinya mencari pekerjaan Dia bertemu dengan Kakak sepupunya, Namikaze Shion. Awalnya Dia sangat sulit mencari pekerjaan namun kala itu Dia melihat seorang anak yang tengah menangis disebuah taman tanpa ditemani oleh siapapun. Dia menghampiri anak itu, menanyakan nama dan apa yang dilakukannya di taman sendirian, jiwa psikolognya bangkit, melihat gerak-gerik anak itu, sampai akhirnya Dia tahu, gadis itu kabur dari sekolahnya karena Sang Sensei tak memperhatikannya. Narutopun membujuk gadis kecil itu agar kembali kesekolahnya dan mengantarkan gadis kecil itu.

Disanalah Dia bertemu Kakak sepupunya, saat pertama bertemu, ingin rasanya Dia berlari memeluk Shion, namun Dia sekarang bukan Naruto Dia Naru. Akazawa Naru.

"Terima kasih telah mengantarkan anak didikku.. etto..."

"Akazawa Naru desu." Naruto memperkenalkan diri

"Ah Akazawa-san. Namaku... Shion, Kau bisa panggil Aku Shion."

"Ya sama-sama Shion-san. Kalau boleh bertanya, didepan gerbang tadi, Aku melihat ada lowongan pekerjaan disini. Bolehkah Aku mencoba bekerja disini?" Tanya Naruto.

"Tentu. Namun Kau harus melewati beberapa tes. Akan Aku antar ke ruang Kepala sekolah." Jawab Shion.

Dan dari sanalah Dia menjadi Guru TK sampai sekarang. Dia menikmati pekerjaan ini, melihat tawa polos anak-anak memberikan rasa hangat tersendiri.

'Dunia memang begitu kecil ya. Konan-nee.' Batin Naruto.

"Naru, Bisa tolong Kau nanti temui orangtua salah satu murid," lamunan Naruto buyar.

"A-ah Iya tentu." Jawab Naruto, disimpannya tas dimeja kerjanya. Perasaan tak boleh membuatnya lemah, Dia harus kuat, demin Nee-sannya yang rela berkorban.

Drrt. Drrt.

Handphonenya bergetar, 1 pesan MMS masuk. Tak biasanya Dia menerima pesan dipagi hari terlebih MMS. Mungkinkah Karin?

'Ko-konan-nee.' Naruto terbelalak disana foto Konan yang terikat di kirsi dengan banyak luka ditubuhnya.

"Siapa yang mengirim ini?" Gumam Naruto.

'Hiduplah, jangan mencari kebenarannya. Jangan sia-siakan pengorbanan wanita itu.' Isi pesan MMS itu.

Naruto langsung mengeluarkan laptopnya, mencoba melacak pengirim MMS, itu. Khem, jangan salah Dia juga seorang hacker yang kebetulan Dia diajari sang Kakak tertuanya.

"Ck. Dia pasti menghancurkan kartunya." Ujar Naruto melihat hasil pencariannya yang nihil.

"Hey, Kenapa Kau menangis?"

"Ah Naru tahu, Kau tak punya teman."

"Jangan menangis lagi, Naru akan menjadi temanmu. Namaku Naruto, Namikaze Naruto. Siapa namamu?" Gadis kecil itu tersenyum, senyum polos yang sangat menawan.

"Uchiha Sasuke."

'Tuan muda.. Tuan muda..' suara pria sayup-sayup terdengar,

Terlihat kala itu wajah Sasuke yang tengah menangis berubah menjadi kesal,

"Apa Kita akan bertemu lagi?"

"Untuk apa Aku bertemu gadis dobe sepertimu?"

"Tentu saja karena Naru temanmu teme." Wajah gadis kecil itu mengembung kesal.

"Hn."

"Kalau begitu Kita bisa bertemu disini lagi," gadis itu kembali tersenyum, melambaikan tangannya saat Sasuke berlari menjauh.

Sasuke membuka matanya. Kenangan saat umurnya 10 tahun, gadis kecil dengan senyuman yang menawan, Namikaze Naruto. Namun saat Dia bertemu dengannya kembali setelah 13 tahun lamanya. Sasuke langsung mengenali gadis itu, dengan rambut dan matanya yang mencolok, tentu tak banyak orang yang memiliki rambut pirang dan mata birunya. Pertemuan kembali dengan gadis itu saat acara ulangtahun perusahaan Ayahnya. Dia melihat gadis itu bersama pasangan Namikaze, senyum dan tawanya berbeda. Bahkan sinar matanya. Mungkin Sasuke akan dianggap gila, Dia seperti melihat orang lain. Lagipula Dia memperkenalkan diri dengan nama berbeda, kalau tak salah namanya itu Namikaze Naruko. Menurut Itachi-nee yang sangat suka dengan gosip-gosip panas Dia mengganti nama untuk membuang sial, Apapun itu Dia tak peduli. Karena Dia saat itu tengah kesal, Dia baru saja datang dan langsung harus menghadiri pesta tak taukah Mereka Dia kelelahan karena perjalanan jauh Washington-Tokyo?

"Ya Tuhan Sasuke. Jangan tidur, Kau lupa ini hari peringatan kematian Ibu? Bangun."

Lamunan Sasuke buyar melihat Kakaknya dengan tatapan tak suka, "Aku tidak tidur, hanya menutup mata lelah."

Uchiha Itachi, Kakak perempuan Sasuke, wanita berumur 24 tahun ituvmengangkat bahunya tak peduli, melemparkan jas pada Sasuke.

"Terserah. Aku tunggu di mobil, dan jangan lama. Ayah tak suka menunggu." Ujar Itachi melengang pergi dari perpustakaan milik keluarganya.

"Karena sifatmu itu mungkin Kau belum menikah." Gumam Sasuke.

"Aku masih bisa mendengarmu baka-ototou." Teriak Itachi.

Terpaksa Sasuke bangun dari kursi santainya. Menyimpan bulu yang tadi sempat dibacanya ke rak buku.

"Apa yang membuatmu begitu lama Sasuke?" Tanya Fugaku saat melihat sang putera yang duduk dikursi depan mobil.

"Hn."

"Jawab dengan benar baka." Itachi menjewer telinga Sasuke dari belakang.

"Ck, Sakit Nee-san. Jalankan mobil." Perintah Sasuke, Ayahnya hanya menghela nafas dan kembali fokus pada Itachi yang berceloteh disampingnya tentang kurangnya kesopanan Sasuke.

Mereka berdo'a dengan khidmat didepan makam Uchiha Mikoto, Isteri, Ibu Mereka.

"Kau datang..."

"Hn."

"Ayo bermain," gadis yang dikenalnya bernama Naruto menarik tangannya, Sasuke tak menolak. Tarikan tangan yang lembut namun bersemangat. "Sasuke dorong ayunannya." Naruto duduk diatas ayunan yang diikatkan pada batang pohon.

Sasuke dengan terpaksa mendorong ayunan itu, "Lebih kencang Sasuke," pinta Naruto.

Ide jail terlintas dibenak Sasuke, Sasukepun mendorong ayunan Naruto dengan sekuat tenaga.

"Cu-cukup, Naru takut, cukup Sukeee..."

Merasa kasihan Sasuke perlahan menghentikan ayunanya, menatap Naruto dengan senyum jailnya, "Enak sekali Kau dobe, Aku juga mau. Kita naik berdua saja," Sasuke menggeser Naruto agar Dia juga bisa duduk untung saja papan ayunan itu cukup panjang, jadi cukup untuk keduanya.

Dia kemudian mendorongnya dengan kedua kakinya, Karena kedua kaki Naruto tak sampai, maklum Naruto memang terbilang pendek.

Naruto tertawa, Sasuke tersenyum kecil,

Krek

Krak

"Huaaa..."

Bugh.

Keduanya terjatuh, batang pohon yang menyanggah tali ayunan patah.

"Sasuke, ayo pulang." Ajak Itachi.

"Ayah dan Nee-san pulang duluan saja." ujar Sasuke yang kembali dari acara flashback singkatnya.

"Memang Kau mau kemana?" Tanya Itachi.

"Menemui Shikamaru, Aku belum mengucapkan Selamat apas pernikahannya." Jawab Sasuke.

"Ayo Ayah..." Itachi merangkul lengan Ayahnya manja, Sasuke hanya menggeleng. Kakaknya memang lebih tua darinya namun sifat kekanakannya itu masih melekat.

Kltring. Klnting.

Bel pintu Cafe berbunyi menandakan seseorang masuk.

"Shikamaru ada?" Tanya Sasuke pada kasir.

Bukannya menjawab wanita didepannya malah diam, bahkan wajahnya memerah. Oh Tuhan.

"Shikamaru ada?" Tanya Sasuke dengan suara yang ditinggikan.

"A-ah maaf. Sebentar Tuan."

"Naru... tolong panggilkan Boss, ada yang mencari."

Deg.

"Ya, Senpai."

Sasuke menatap wanita yang melewatinya mata Mereka bertatapan sekejap dan berlalu, ada sedikit rasa kecewa, sayangnya wanita itu bukan gadis itu. Ahh telinganya terlalu sensitif jika ada kata 'Naru' gadis kecil yang selalu memanggil diri sendiriya Naru. Sepertinya melekat sekali dalam otaknya. 'Apa yang Kau fikirkan Sasuke. Jelas-jelas Naruto itu ada di kediaman Namikaze,' batinnya. Dia mungkin benar-benar sudah gila.

Tok. Tok. Tok.

Tak ada jawaban, Naruto menghela nafas.

Brak

"Bos pemalas. Ada yang mencarimu," Naruto membuka paksa kantor pemilik Cafe itu.

Terlihat seorang pria yang tengah bobo cantik dikursi kerjanya.

"Ck. Aku mendengarmu baka-Naru," Shikamaru menatap Naruto.

"Siapa tamunya?" Tanya Shikamaru.

"Entah," jawab Naruto, melenggang pergi tak peduli.

Shikamaru menggeleng-gelengkan melihat kelakuan pegawainya, dan bergegas menemui tamunya entah siapa.

"Sasuke." Shikamaru terkejut melihat siapa tamu itu. Uchiha Sasuke yang hilang dari peradaban Jepang. Setelah lulus SMP Sasuke dikirim ke Amerika, entah apa yang difikirkan Kepala keluarga Uchiha mengirim putera bungsunya ke negara orang diumur yang sangat muda.

"Hn. Shika, Maaf Aku tak bisa datang saat pernikahanmu. Dan Selamat," Mereka berpelukan. Ya, saat SMP dulu Mereka bersahabat, ada 3 orang lainnya yang merupakan sahabat Mereka. Mereka saat SMP saat itu bisa dibilang biang onar meski begitu nilai akademik Mereka tak bisa dianggap remeh.

"Kapan Kau pulang? Neji, Kiba dan Sai. Apa Mereka tahu kepulanganmu?" Tanya Shikamaru, mengajak Sang sahabat ke dalam ruangannya.

"Naru, bawakan dua black coffee dan cemilan apa saja asal jangan manis." Teriak Shikamaru.

"Mereka belum tahu, Ahh namun Sai tahu Aku pulang, sepupuku yang gila itu tiba-tiba datang dan memelukku girang." Jawab Sasuke.

Shikamaru terkekeh pelan, Dia tahu tabiat Sai, membuat Sasuke kesal adalah hal yang disukainya.

"Bagaimana nanti Kita keluar bersama? Kita ajak ketiganya. Mungkin akan seru." Usul Shikamaru.

"Permisi," Naruto masuk membawa nampan berisi 2 kopi dan 2 cemilan dan menyimpannya di meja yang ada disana.

"Oh ya Naru, Kaukan kekasih Sai jadi Kau juga harus mengenal pria ini. Dia Uchiha Sasuke, sepupu Sai." Naruto memukulkan nampannya ke kepala Shikamaru,

"Ittai..."

"Enak saja Aku harus pacaran dengan penjahat wanita itu. Siapa yang bilang Kami pacaran." Naruto melenggang pergi.

"Jadi bagaimana Kita nanti keluar?" Tanya Shikamaru setelah kepergian Naruto.

"Kau Bos yang tak berwibawa." Komentar Sasuke.

"Boleh saja. Kau yang menghubungi Mereka,"

Keduanya akhirnya larut dalam pembicaraan masa lalu, bercerita mengenai kehidupan Mereka selama ini.

Naruto medudukan dirinya dikursi istirahat, pertemuan dengan masa lalunya cukup membuatnya terkejut.

Saat mata Mereka bertemu, Naruto tahu Dia Sasuke, dikuatkan dengan perkataan Bosnya tadi.

Bugghh.

Ayunan itu roboh, batang pohonnya patah.

"Ittai..." Sasuke mengelus pinggulnya Sakit, tentu saja Sakit ayunan itu jatuh saat Mereka berada di ketinggian, lihat bahkan kaki dan tangannya lecet.

"Hiks... Hiks... Huaa... Sakiitt..."

Sasuke menatap bingung Naruto, ternyata lengan atas gadis itu tertusuk ranting, mungkin saat jatuh tadi.

"Na-naru," Sasuke menarik ranting yang menusuk Naruto, tak dalam namun tetap saja sakit. Dia kemudian mengambil sapu tangannya mengikatkannya pada lengan Naruto.

"Aku antar pulang. Naiklah ke punggungku."

"Hiks.. Hiks... Sakit Suke."

"Iya. Kau harus diobati jika tidak Kau bisa infeksi."

Naruto perlahan naik kepunggung Sasuke, melingkarkan tangannya ke leher Sasuke

"Punggungmu hangat, dan Kau wangi," ujar Naruto polos semakin mengeratkan tangannya,

"Cukup sampai disini saja. Aku tak bilang pada Ibu dan Ayah kalau Aku main dengan seseorang. Mereka pasti akan marah jika Aku bermain, Terima kasih." Naruto perlahan turun.

"Besok Kita main lagi." Teriak Naruto melambaikan tangannya semangat.

"Oii dobe. Tanganmu terluka baka, obati sana." Teriak Sasuke kesal.

Naruto tertawa kecil, melihat tangan kirinya, masih ada bekas luka jaitan. Yang memang tak bisa hilang. Karenanya Naruto tak pernah memakai tanktop atau baju yang terlalu mengekspos lengannya. Bukan karena Dia malu, namun Dia hanya ingin menyembunyikan kenangan bersama dengan orang itu biar hanya Dia yang mengingatnya.

"Ya Tuhan, Naru lenganmu berdarah sayang. Kau kenapa?" Tanya Kushina sang Ibu panik.

"Naru jatuh saat main sendiri tadi," jawab Naruto, Kushina mengangguk dan langsung membawa puterinya ke rumah sakit.

Mengingat itu wajahnya sendu, Kedua orangtuanya terlalu protektif padanya, membatasi lingkungan. Dia bahkan tak sekolah, setiap hari seorang Guru, Ahh tidak bisa dikatakan Guru, karena yang mengajarinya berbagai hal itu adalah seorang Profesor, entah apa yang difikirkan kedua orangtuanya. Dia bisa bersekolah biasa itu saat SMA dan itupun hanya 1,5 setengah karena Dia mengikuti kelas akselerasi, Diapun memutuskan untuk melanjutkan Kuliahnya ke Inggris, tinggal bersama Kakaknya, yang anehnya langsung diizinkan.

"Kau seperti orang gila Naru, tertawa sendiri, lalu berwajah sendu."

"Karin-senpai. Jangan mengagetkan Aku seperti itu." Grutu Naruto.

"Aku disini dari tadi Naru-chan." Karin mencubit kedua pipi Naruto gemas.

"Ah iya. Tadi ada pria tampan bukan Naru. Ugghh.. Auranya itu lohh..." teriak Karin.

Naruto menutup kupingnya, "Senpai tidak lupa dengan Sai bukan?"

"Sai itu mepet terus padamu Naru." Ujar Karin dengan nada jengkel.

"Kau tau Senpai. Sai dekat denganku karena Dia ingin tahu tentang Senpai,"

"Hah?"

"Ya percaya atau tidak terserah." Naruto masuk kedalam ruang ganti bermaksud pulang.

"Naru... Oii... Baka-Naru..." panggil Karin yang sudah pasti tak ditanggapi oleh orang yang bersangkutan.

-Ditempat lain, jauh dari kehidupan Naruto.-

"Konan katakan dimana Narutoku. Aku buat penawaran, Kau akan bebas dari sini," Ketua menatap Konan yang terkulai lemas di kursi.

"Lebih baik Aku mati. Kau iblis, Naruto tak pantas bersamamu." Jawab Konan dengan suara serak.

"Siksa Dia kembali, Kita lihat sekuat apa Dia." Ketua keluar dengan murka.

"Fikirkanlah Konan. Jangan melindungi gadis itu. Bagaimanapun caranya Ketua pasti menemukan gadis itu," Sasori keluar, mengikuti Ketua.

'Naru...'

"Ini data tentang Konan. Dia bukan polisi biasa. Dia agen khusus, bahkan data pribadinya telah diubah, nama keluarga, keluarga tak ada satupun, Dia seperti sebuah bayangan dan sepertinya Dia memiliki Misi menyusup pada organisasi, namun Dia gagal karena melarikan diri." Sasori meyerahkan beberapa lembar kertas pada Ketua.

"Padahal lebih baik Dia menyelesaikan Misi. Dasar wanita bodoh," Ketua melemparkan kertasnya kesembarang arah.

"Lalu, apa ada petunjuk dimana Naruto?" Tanya Ketua.

"Masih belum. Kami selalu mengawasi kediaman Namikaze, dan secara berkala menghubungi 'Dia'. Maaf Ketua."

"Jika Maaf sudah bisa mengembalikan Naruto, Aku sudah pasti memaafkanmu. Tambah personil pencarian." Perintah Ketua.

"Ha'i,"

Drrt. Drrt. Drrt.

Naruto menatap layar handphonenya, melihat siapa yang meneleponnya.

"Lambat. Apa yang Kau temukan?" Tanya Naruto menjawab panggilan.

"Ahaha. Gomen, permintaanmu terlalu sulit Naru." Jawab orang yang diseberang sana.

"Jadi Kau gagal?"

"Jangan panggil Aku Ghost jika Aku tak bisa mengabulkan permintaanmu." Tawa orang yang menamai dirinya Ghost.

"Lalu?"

"Gambar yang Kau kirim menunjukan sebuah lambang salah satu Organisasi yang berkuasa di Dunia bawah. Mereka berbahaya. Aku beri Kau peringatan, jangan mendekati Mereka jika Kau sayang nyawa." Peringat Ghost.

"Aku akan menentang bahaya itu. Rinciannya tolong kirimkan lewat email saja," ujar Naruto.

"Naru, Aku tak tahu apa yang sedang Kau lakukan, tapi Kumohon, jangan melewati batas."

"Aku akan kirim uangnya segera." Naruto memutuskan panggilannya. Menghela nafas lega.

1 bulan lalu Dia mengingat 1 hal yang terlupakan saat lari dari Mansion sebuah lambang, bunga teratai hitam, awalnya Dia mengira hal itu pajangan, namun entah mengapa rasanya Teratai itu mengganjal dihatinya, seperti ada ketertarikan sendiri. Karenanya Dia menggambar Teratai itu dan mengirimkannya pada kenalannya dengan nama Ghost, Sang Ahli menggali hal tentang dunia bawah. Ghost dulu tetangganya di apartemen, namun sepertinya persembunyiannya diketahui jadi Dia pindah. Menjadi informan memang sulit dan berbahaya.

Ting.

Email masuk. Naruto melihat laptopnya membaca Dokumen yang baru dikirim Ghost.

'Organisasi yang Kau selidiki bernama Kokuren = Teratai hitam. Mereka salah satu organisasi yang ditakuti di dunia bawah karena kekejamanya dan dikenal anggotanya yang loyal. Tak ada yang tahu wajah maupun nama pemimpinnya, karena selalu menggunakan topeng saat ada pertemuan, Mereka biasa memanggilnya Ketua.

Hanya Itu yang kudapat, Naru Aku benar-benar tak ingin Kau terlibat dengan Mereka, Kau temanku.'

Naruto membaca isi email. Kepalanya terasa sakit, masalah siapa yang mengirim foto Konan saja belum terselesaikan. Ya itu jadi misteri, siapa yang mengirim itu dan yang lebih penting. Ada yang mengetahui identitasnya.

"Su-suke... hiks.. hiks... Ka-kata Dokter bekas lukaku tak akan hilang. Na-naru tidak bisa hueee... Kata Ibu kalau tidak cantik tidak bisa menikah, Kau harus menikah dengan Naru, semua salahmu,"

Sasuke bingung, datang-datang gadis itu menangis, dan apa katanya tidak bisa menikah jika tidak cantik. Apa yang diajarkan orangtua Naruto padanya, "Berisik dobe. Hanya bekas luka tidak akan membuatmu jelek."

Naruto menghentikan tangis, "Ja-jadi Naru cantik?"

"Hn."

"Kalau begitu Naru akan tetap menikah dengan Sasuke." Putus Naruto sepihak.

"Hah? Memangnya Kau tahu apa itu menikah?"

"Tahu. Tinggal bersama bukan? Naru ingin terus bermain dengan Sasuke, soalnya hanya Suke teman Naru."

Ingin rasanya Sasuke membenturkan kepalanya ke dinding. Umurnya berapa sih nih anak polosnya keterlaluan.

"Kau benat-benar dobe."

"Naru bilang berhenti memanggil Naru begitu dasar teme."

"Sasuke, apa yang Kau fikirkan?" Tanya Sai yang berkunjung ke rumahnya.

"Kau ingat gadis yang dulu kuceritakan? Aku bertemu denganya namun Aku merasa Dia bukan orang yang kucari." Ujar Sasuke.

"Ah Aku ingat. Dan Kau tahu, jika didefinisikan lagi, entah kenapa sifat gadis yang sering Kau ceritakan itu mirip dengan Naru, salah satu pegawai Shika. Meski baru 2 bulan Aku mengenalnya, namun jika difikir lagi sifatnya mirip dengan gadis kecilmu, yaa meski itu kebetulan semata. Gadis kecilmu kalo tak salah Puteri Namikaze bukan? Penggila Shopping yang arogan, hilang ingatan sih hilang ingatan tapi masa Ia IQnya juga hilang, yang kutahu bukankah Dia seorang Jenius Namikaze. Aneh bukan? Sebagai seorang Detektif instingku mengatakan ada yang tidak beres."

Sasuke melempar buku tebal yang ada dipangkuannya, "Instingmu itu meragukan."

"Kau mungkin tak tahu Suke. Namun Aku merasa keluarga Namikaze itu terlalu menutup diri dan Misterius."

"Terserah, Aku mau tidur, pulang sana." Usir Sasuke.

"Ehh.. Tidak mau, Aku mau menginap disini, tidur bersama Sasu-chan." Sai mencoba memeluk Sasuke dan dihindarinya dengan mudah.

"Menjijikan.".

Naruto menatap layar laptopnya, data seseorang. Mantan patner Konan yang mengundurkan diri setelah kasus kediaman Namikaze. "Akasuna Sasori." Gumam Naruto, melihat foto Sasori

TBC

A/N : Awalnya Saya bingung jika Naru dan Naruto bertemu Saya menyebut Mereka apa, jadi Saya putuskan untuk mengubah nama Naruto palsu. Disini Saya mengungkapkan awal mula pertemuan Mereka. Naruto yang anak rumahan polos bertemu Sasuke anak yang baru kehilangan Sang Bunda. Mungkin fanfic ini sedikit tak masuk akal, Haha namanya juga Fantasy Saya memang suka berlebihan. HEHE...