Darkness and Love

Chara(s) : [Date Masamune and Fem!Sanada Yukimura] Sarutobi Sasuke

Rate : Teen

Genre(s) : Romance and Angst

Warning(s) : AU, AT, OOC, adaptasi dari komik 'Flower Banquet' oleh Tami Takada, typo berserakan, gaje, dll.

Disclaimer : Sengoku BASARA by CAPCOM

:chacha:

Note : Mata Masamune ada dua :D

Second (Chapter Kedua)

.

.

.

"Ukh..." Yuki pun meringis karena menabrak seseorang yang mempunyai aroma yang sama persis dengan pemuda yang muncul di mimpinya.

Dan gadis berambut coklat panjang itu pun melepaskan tangan yang sedang meremas pakaian seseorang itu.

"Anda tidak apa-apa?" terdengar suara lembut yang menanyakan kondisi gadis itu.

Jantung Yuki pun berdegup, suara pemuda itu juga suara yang berada dalam mimpinya dua hari yang lalu.

"A-aku tidak apa-apa..." jawab Yuki, "Apakah anda pemuda yang muncul di mimpiku?" tanyanya langsung ke inti.

"Saya tidak mengerti maksud anda, hime." jawab lawan bicaranya dengan dahi yang mengkerut.

"Ma-maksudku..." Yuki menggumam, "Kamu datang ditengah kabut lalu datang untuk menyelamatkanku untuk menemukan jalan keluar." lanjut gadis bangsawan itu menjelaskan mimpinya panjang lebar.

"Ah, itu ya?" tanya pemuda itu mengerti akan apa yang Yuki maksud. Sedangkan gadis yang berada di hadapannya itu tengah memasang wajah penasaran.

"Justru kamu lah yang muncul di mimpiku, hime..." jawabnya dengan lembut.

"A-apa?" sekarang Yuki yang menjadi kebingungan, "Apa maksud anda?"

"Mmm..." pemuda itu memangkukan dagunya, "Mungkin saja Kami-sama sedang menakdirkan kita untuk bertemu." jawabnya sembarangan, namun jawaban itu sukses membuat wajah Yuki menjadi bersemu merah.

"A-aku harus bertemu ayahanda dan ibundaku, permisi." ujar Yuki yang tak tahu harus berkata apa lagi kepada pemuda tampan itu.

"Biar aku antarkan ke ruang tatami, hime." tawar laki-laki itu untuk mengantar gadis manis itu.

"Baiklah..."


.

.

.

Mereka berdua pun telah memasuki ruang tatami. Terdapat sepasang orang yang tengah menunggu kedatangan putri tercinta mereka. Yuki dan pemuda itu dipersilahkan duduk.

"Ternyata kalian berdua sudah saling bertemu, ya?" tanya sang ayah, Sanada Masayuki kepada putrinya.

'Aku tak percaya, pemuda yang muncul di mimpiku sekarang berada...di sampingku?' batin Yuki dengan terus menahan degup jantungnya. Kemudian ia menjawab pertanyaan dari ayahnya, "Iya, ayahanda. Tetapi aku belum mengenalnya dengan jelas." jawab Yuki dengan jujur.

"Ah, pemuda yang duduk di sampingmu adalah seorang tabib sekaligus onmyouji. Namanya Date Masamune." jawab ibunya dengan lembut.

'Date...Masamune?' batin gadis itu setelah mengetahui nama pemuda yang muncul secara tiba-tiba di mimpinya itu. Yuki pun hanya bisa meremas kimono merahnya itu. Gadis Sanada itu tidak merasa wajahnya memanas dan memerah karena ia menyukai pemuda itu secara sepihak.

Sedangkan Masamune hanya bisa memandang gadis yang duduk dengan kikuk di sebelahnya itu, "Putri, anda tidak apa-apa?" tanyanya.

"-!" Yuki pun kaget, kemudian ia menjawab, "Aku tidak apa-apa, Masamune-sama."

"..." Masamune pun terdiam mendengar jawaban itu. Kemudian, tanpa basa-basi lagi, ia bertanya kepada orang tua gadis itu, "Tuan, nyonya. Jika boleh saya tahu, apa yang menyebabkan putri menjadi buta seperti sekarang?"

Kedua orang tua Yuki pun terdiam. Mereka sendiri tidak tahu apa menyebabkan putri mereka menjadi seperti itu.

"Dua tahun yang lalu..." Yuki pun menceritakan semua kronologi yang menimpanya, "Aku merasa lelah dan pusing setelah merayakan tahun baru di malam purnama."

"Lalu?" tanya Masamune masih kebingungan.

"Setelah pulang ke istana, tiba-tiba aku merasakan kepalaku pusing dan mataku berkunang-kunang, dan akhirnya aku jatuh pingsan karena mengalami demam tinggi..."

"Dan waktu aku terbangun di pagi hari, tiba-tiba penglihatanku menjadi kabur dan kemudian menggelap. Ayahanda kemudian membawaku ke tabib untuk diperiksa. Namun hasilnya adalah bahwa aku akan mengalami buta permanen..." dan tanpa disadari, air mata Yuki pun telah menetes ke kimononya. Ia merasa tak sanggup untuk penyakit kutukan ini.

"A-apa salahku sehingga Kami-sama tega untuk mengutukku?" tangisnya. Sementara Masamune terus berdiam untuk mencari solusi akan derita yang dialami oleh putri yang sekarang berada di sebelahnya ini.

"Sayang, sudahlah. Jangan menangis..." hibur sang ibunda kemudian memeluk putri yang berada di hadapannya itu.

"Bagaimana, Tuan Date? Apakah anda bisa menyembuhkan kutukan putriku?" tanya Masayuki dengan perasaan harap-harap cemas.

"Anda jangan khawatir, tuan. Penyakit Putri Yuki akan sembuh dalam jangka satu bulan nanti." jawab Masamune dengan tenang. Matanya tak menunjukkan kebohongan sedikitpun.

"!?" sedangkan Yuki hanya bisa terkejut akan jawaban yang dinyatakan oleh pemuda tampan itu.

"Benarkah, Tuan Date?" tanya ayah Yuki yang hanya dijawab oleh satu kali anggukan.

"Saya berjanji akan menyembuhkan kutukan putri anda."

"Yuki? Kau dengar itu? Kau nanti sembuh!" ujar ibunya dengan senang. Sedangkan Yuki hanya memasang senyum lembut.

Karena ia nanti akan bisa menatap wajah pemuda yang merupakan cinta pertamanya itu.

'Yokatta..."

:chacha:

Yuki pun tengah termenung di halaman belakang. Gadis bersurai coklat panjang itu pun terus tersenyum-senyum sendiri. Ia merasa tidak sabar karena sebentar lagi penglihatannya akan kembali. Tangan kanannya yang lentik itu pun terus meraba-raba udara dingin di bulan ini.

Salju?

Ini hari pertama musim dingin?

Bahkan ia sendiri lupa akan bagaimana bentuk salju. Yuki hanya bisa merasakan dingin dan lembutnya salju yang telah melebur.

"Andai saja aku bisa melihat lebih cepat..." gumam Yuki dengan mata yang sendu.

"-!?" namun tangan kanannya terasa ada yang menyentuh. Terasa hangat.

"Kalau anda terus begini, anda bisa terkena flu, hime." terdengar suara berat dari seseorang yang sangat dikenalnya.

"Ma-Masamune-sama?" tanya Yuki yang agak terkejut, "Kenapa anda kemari?" sambungnya.

"Aku hanya ingin menjengukmu dan ingin mengetahui kabarmu..." jawabnya lembut. Suara Masamune yang sangat mendayu pendengaran gadis manis itu.

Sedangkan gadis bermata coklat itu hanya bisa tersenyum sipu, "Arigatou telah mengkhawatirkanku, Masamune-sama." ujarnya.

"Apakah anda tahu bagaimana bentuk bunga peony di musim dingin?" tanya Masamune mengganti topik pembicaraan.

Yuki pun menggeleng, "Aku tidak tahu."

"Ah, bunga itu sangat cantik. Sama seperti anda, hime. Anda akan menyukainya jika menjumpai bunga itu. jawabnya sehingga membuat Yuki menjadi salah tingkah sendiri.

"Aku ingin sekali melihat bunga itu, sekali saja..." gumamnya yang terkesan seperti sebuah permintaan.

"Aku akan menunjukkan kepadamu nanti kalau anda sudah bisa melihat, hime."

Yuki sangat senang akan suasana hangat seperti ini.

Dalam hati ia bertanya, apakah seperti ini rasanya jatuh cinta?

Mereka berdua sekilas tampak seperti sepasang kekasih.

Drap! Drap! Drap! Terdengar langkah kaki berlari kearah mereka berdua yang tengah dalam nuansa romantis.

"Yuki-sama! Yuki-sama!" terdengar panggilan dari pelayan pribadinya, Matsu.

"-!" sedangkan Yuki dan Masamune merasa sedikit terkejut karena mendengar panggilan mendadak itu.

"Ada apa, Matsu?" tanya Yuki dengan lembut. Ia heran mengapa Matsu sampai berlari-lari seperti itu.

"Ada berita mengejutkan!" seru wanita berambut coklat sebahu itu.

"A-apa itu?" tanya Yuki semakin penasaran.

"Tanggal pernikahan anda dan Sasuke-osshisama telah ditetapkan!" jawab Matsu

"Pernikahan!?" tanya gadis manis itu sekali lagi. Kedua matanya membelalak tak percaya mendengar dari Matsu.

"Benar. Sesuai perjanjian, jika anda bisa melihat pernikahan anda dan Pangeran Sarutobi akan segera dilaksanakan." jawab Matsu dengan lengkap.

Gadis itu terdiam. Perjanjian itu memang benar. Akan tetapi apakah harus dilaksanakan secepat itu? Baginya itu terlalu cepat.

"Masamune-sama?" panggil gadis itu dengan nada getir.

"Ya, hime?" tanyanya. Bisa dilihat bahwa ekspresi Masamune sedikit menunjukkan rasa kecewa dan sedih.

"I-itu..." mata Yuki menjadi berkaca-kaca. Ia sama sekali tidak menyukai pangeran yang bernama Sarutobi Sasuke itu. Ia sendiri telah menemukan tambatan hatinya.

Orang yang ia cintai adalah pemuda yang saat ini berdiri di hadapannya.

"Selamat atas pernikahan anda, hime..." ujar Masamune membungkukkan tubuh tegapnya di hadapan gadis kurus itu, "Aku permisi untuk menemui orang tua anda dulu. Sampai jumpa..."lanjutnya kemudian ia membalikkan tubuh untuk meninggalkan Yuki dan Matsu yang mematung di tempat.

"Masamune-sama...?" gumam gadis itu merasa sedih ditinggal oleh cintanya itu. Yuki pun menundukkan kepalanya. Dengan lemas, ia pun berkata pada Matsu, "Matsu, tolong antarkan aku ke kamar."

"Baik, hime..." kemudian wanita berusia 25 tahun itu mengantarkan Yuki untuk beristirahat.

'Aku...sama sekali tidak bahagia.' batin gadis itu terus meremas kimononya. Merasa sedih karena cinta pertamanya yang kandas begitu cepat.

To Be Continued


A/N : Aloha~ saya kembali setelah sebulan lebih hiatus :3 disibukkan oleh tugas dan UAS, hehehe *plak* /dilempar tomat/

Maaf juga kalau lanjutan fic ini gaje parah, wkwkwkw XD semoga cepet kelar agar readers nggak kejang-kejang akan gak jelasnya fic ini :v

Review, kritik, dan saran akan menambah semangat untuk merevisi ke depannya :D

See you,

Chacha Rokugatsu


Balasan Review

Chosokabe-Cariens : Yup bener! Dari komik yang udah Chae-san sebut XD aku dulu punya komiknya namun udah hilang waktu pindahan rumah, hiks :'v dan masalah typo itu karena auto spelling yang sangat menjengkelkan hati DX *bow* pemuda berkimono biru itu udah terjawab di chap ini. Makasih review, fav, and foll Chae-san XD

LoliMon-san : Yuki jadi buta dikarenakan kutukan yang nggak jelas dari mana datangnya XD /plaks/. Ini udah lanjut. Makasih review, fav, and foll nya teteh Nur :D

Shadow0Reader : *bayangin Masmun punya dua mata* Dedegh nggak kuat maz~ *nosebleed* makasih udah review Shadow-san ^^

triple A : Ini udah lanjut. Makasih ya :)