Love Accident, Underneath The Tree © Kirigaku Ai
Chapter 2 : With The Sabaku
Ai ngapdet chap 2, nih. Makasih buat Lollytha-chan, Uchiha Flynn, Cerullean Reed, uchihyuu nagisa, OraRi HinaRa, Merai Alixya Kudo, Nene Zura' no Uchikaze, Hana Arny yang udah baca dan review di chapter sebelumnya.
Maaf kalo ternyata di chapter 2 ini ceritanya semakin abality.
Maaf juga karena ngapdetnya kelamaan, soalnya ngerror mulu..
Let's just go with the story. Here I go..
.
.
.
Hari Senin.
Hinata memandang jari telunjuk dan tengahnya yang terbalut plester dengan rapih. Hinata membolak-balikkan tangannya sendiri. Walaupun saat ini dia tak ada lawan bicara, tetap saja dia merasa speechless. Apalagi kalau melihat plester itu. dia teringat kejadian kemarin, saat dia benar-benar datang di kediaman keluarga Sabaku untuk makan malam. Author baik hati yang kebaikannya tidak diakui siapapun ini akan memulai flashbacknya. Oke, start.
Hari Jum'at. Sepulang sekolah.
"Hyuuga! Hyuuga Neji!" panggil Temari.
"Ah, Temari-san. Ada apa?" Neji menoleh.
"Aku mau tanya sesuatu soal adikmu, Hinata."
"Ya."
"Keluarga kami mengundangnya makan malam. Hanya Hinata."
"Wow, hebat sekali. Tapi bagaimana bisa?"
"Entahlah, ibuku yang mengajaknya." Temari memutar-mutar matanya. "Boleh tidak?"
"Hmm." Neji menjepit dagunya pelan dengan jari jempol dan telunjuknya. "Baiklah."
"Benarkah? Yatta!"Temari melonjak senang. Neji tertawa kecil.
"Titip adikku, ya."
"iya. eh, jangan tanya apapun pada Hinata, ya. dia pasti tidak akan bisa jawab."
"Hmph."Neji menahan tawanya. "Iya. aku tau itu. Jaa, Temari-san. Aku duluan."
"Iyaa!"Temari melambaikan tangannya. Lalu menoleh ke arah Gaara yang berdiri tak jauh dari mereka sambil mengacungkan jempolnya. Gaara tersenyum puas.
Hari Sabtu. Jam enam kurang limabelas menit.
"Neechan cantik banget."mata Hanabi berbinar melihat Neechannya yang sudah berdandan itu. Hinata memang jarang berdandan, tapi pada dasarnya dia memang cantik dan cocok memakai apa saja.
Hinata menggunakan dress biru muda selutut dengan motif bunga putih dan tanpa lengan, yang ditutupi blazer hitam sepinggang lengan panjang. Scarf biru mudanya tampak senada dengan dressnya. Lalu stocking putih dan sepatu flat biru muda. Juga sebuah bando hitam polos yang nyaris tidak kentara dengan rambut indigo Hinata. Hanabi yang lebih peka dalam memilih fashion menyarankan kakaknya memakai semua itu. dan yak, memang tampak cocok dengan Hinata.
"Kau seperti mau kencan saja."ujar Neji. Hinata tersentak. Kencan? Mungkin iya kalau hanya berdua dengan Gaara, tapi ini kan..
"A-aku kan diundang makan keluarga Sabaku, b-bukan kencan.."
"Hn." Neji menatapnya. "Aku titip salam untuk Temari-san ya."
"I-iya."
TOK TOK
"Ya, ya.. sebentar.."Hanabi berlari kecil menuju pintu. dan ketika dibuka..
Sabaku no Gaara. Dengan kemeja berwarna putih polos berlengan panjang yang digulung. Lalu celana hitam panjang dan sepatu pantovel. Ukh, kerennya..
"Aku ke sini untuk menjemput putri sulung keluarga Hyuuga."ucap Gaara. Dia berkata begitu karena memang belum kenal dengan Hinata.
Hanabi sedikit bingung, tapi otaknya yang cerdas tak butuh waktu lama untuk memprosesnya. "Neechan!"panggil Hanabi. 'Ini adiknya? Mirip sekali.' Batin Gaara. Yah, akan sangat mirip jika rambut Hanabi diubah sedemikian rupa seperti Hinata.
"I-iya.."Hinata mendekati pintu. Gaara sedikit membelalak melihat penampilan Hinata yang tidak biasa.
"Ayo, berangkat." Ajak Gaara.
"I-iya.. Hanabi-chan, Neji-niisan, aku berangkat dulu."
"Ya, bersenang-senanglah!"Hanabi melambaikan tangannya.
"Gaara-san!"panggil Neji. Gaara menoleh. "Tolong jaga dia."Gaara mengangguk sedikit. "Hinata-sama, hati-hati ya."
"Iya.."
Hinata berjalan beriringan dengan Gaara. Dengan. Gaara. Ahh, jangan tanya deh. author yang nulis aja cemburu.
"Ma-makan malamnya dimulai jam berapa?"tanya Hinata–memulai pembicaraan. Gaara mengangkat tangan kirinya, melihat jam tangan hitam yang dipakai di pergelangan tangannya.
"Jam delapan."
"S-sekarang jam berapa?"
"Jam enam kurang sepuluh."
"Ru-rumah Sabaku-san jauh?"
"Tidak juga."
"K-kalau begitu, k-kenapa secepat ini?" Gaara diam saja dan menghela napas.
"Kita jalan-jalan dulu."
"K-kita?"
"Ya. Kau. Dan aku." Hinata serasa membatu. Jalan-jalan? Berdua? Dengan Gaara? Yaampuuuun..
"Tapi.. kenapa?"
"Ya, menghabiskan waktu saja."Gaara tak mungkin menjawab karena dia diancam ibunya, kan?
Lagi-lagi mereka diam. Hinata berusaha mencari topik, Gaara sebaliknya. Sesekali Hinata menoleh ke arah Gaara yang berada di sebelahnya. Dekat tapi terasa jauh.
"A-ano, Sabaku-san.."
"Hn?"
"A-apa menurutmu.."Hinata menelan ludah. "A-aku terlihat cantik?" Hinata menunduk. Wajahnya memerah, tak menyangka dia berani menanyakan hal seperti itu. dia paham Gaara selalu jujur, karena itu dia juga siap dengan jawaban Gaara.
"Sangat cantik."jawab Gaara datar. Uuuh, Hinata ingin meledak rasanya. "Habis, aku selalu melihatmu pakai seragam saja."
Hinata terdiam. "A-apa itu berarti.. aku terlihat.. c-cantik kalau.. m-memakai baju.. s-seperti ini?"
"Hn." Gaara melirik Hinata. "Tidak juga." Gaara menatap ke depan lagi. "Kau cocok memakai apa saja. dan selalu terlihat cantik."
Hinata membelalak. 'Sabaku-san memang selalu jujur! Jangan berpikir yang tidak-tidak!' Hinata merutuki dirinya sendiri.
"Te-terimakasih.."
"Ya."
".."Hinata menunduk lagi. wajahnya terlalu merah dan tak mampu menatap Gaara atau bahkan apa yang ada di depannya. Tiba-tiba Gaara memegang pundaknya dan menariknya ke belakang.
"Bukannya sudah kubilang? Jangan suka menunduk." Hinata makin memanas. Badannya condong ke depan. "Kau tidak akan tau melangkah ke mana kalau menunduk."
"Ma-maaf."
"Kita ke sini dulu."Gaara menarik tangan Hinata masuk ke dalam café.
Mereka duduk di dekat jendela. Berhadapan. Gaara membiarkan Hinata memilih pesanan sementara dia juga memesan untuk dirinya sendiri. Tak lama, waiter membawakan pesanan mereka. Kopi untuk Gaara, dan teh untuk Hinata. Gaara langsung meminta bill dan membayar pesanan mereka. Untuk kesekian kalinya mereka terdiam.
"S-Sabaku-san." Gaara melirik Hinata. "T-terimakasih atas.."
BRAAAK
Gaara membanting gelasnya di meja dengan keras. Beberapa tetes kopinya terciprat keluar. Hinata bergeming. Dia tidak mengerti kenapa Gaara tiba-tiba begitu. Dan Gaara, langsung memberikan deathglare nya ke arah Hinata. Hinata jelas bingung.
"Maaf." Ucapnya sambil mengangkat gelasnya. "Biasanya aku tidak keberatan dipanggil apapun, tapi.." Gaara meneguk kopinya pelan. "..jangan panggil aku Sabaku. Panggil aku Gaara."
"Ga-Gaara-san.."ucap Hinata pelan.
"Oh, ayolah!" Gaara menekan sikunya di atas meja dan melabuhkan wajahnya di permukaan telapak tangannya yang terbuka. "Nggak pakai embel-embel." Gaara meletakkan gelasnya pelan di atas meja. "Bisa nggak? Kalo perlu kubayar, aku akan membayarnya!"
"Ta-tapi.." Hinata mencengkeram gelasnya. "A-aku terbiasa memanggil orang lain.. d-dengan embel-embel.."
"Ah, sudahlah."Gaara berdiri. "Ayo, kita segera ke rumahku."
"I-i-iya.."
Hinata terus saja diam walaupun sudah sampai di rumah Gaara. Walaupun dengan semangat Temari menariknya ke meja makan. Walaupun Gaara makan di sebelahnya. Walaupun dia makan satu meja dengan Karura.
Dan, ukh..
Mungkin itu tak bisa dibilang satnite dinner.
Terlalu..
Sepi.
Yah, kalau keluarga Sabaku, sih, wajar saja.
"A-aku akan cuci piring."
Hinata mengangkat piring-piring yang ada di meja menuju tempat cuci piring. Gaara mungkin hanya akan terus memandangnya kalau saja Karura tidak melempar sebuah kacang ke kepalanya sambil memerintahnya. "Bantu sana," dan dengan pasrah tentunya, Gaara menuju tempat cuci piring, membantu Hinata.
Saat itulah insiden dimulai.
"Ayo, Kankuro, cepat lakukan." Desak Temari. Karura juga terlihat tak sabar.
"Iya, cerewet." Kankuro mulai menggerakkan jarinya.
"Tunggu, aku yang kasih aba-aba." Tatapan Karura terus menuju satu titik. "Sekarang!" Kankuro menarik jarinya.
PRAAAANG
Piring yang dipegang Hinata terjatuh. Gaara dan Hinata pasti sama kagetnya. Sedangkan Temari, Kankuro dan Karura hanya bisa menahan tawa gembira mereka. Sepertinya keahlian Kankuro untuk mengendalikan kugutsu dengan cakra berupa tali di jarinya sudah disalahgunakan.
Hinata buru-buru jongkok dan memunguti pecahan piring itu. Hinata merasa sangat bersalah, dan.. ingin menangis. Memecahkan piring di rumah orang? Oh, tidak. di rumahnya sendiri saja sudah dimarahi. Apalagi di rumah orang? Di rumah keluarga Sabaku? Di rumah.. Gaara?
"Kau ini!" Gaara langsung berjongkok dan membantu Hinata memunguti pecahan piring yang kecil-kecil. "Ceroboh."
Hinata mengusap matanya yang mulai basah. "M-maaf, Gaara-san."
"Haah." Gaara menghela napasnya. "Aku ambil sapu dan pengki dulu." Gaara pergi dan meninggalkan Hinata di situ. Dalam hal ini Gaara benar-benar tidak tahu kalau semuanya direncanakan oleh kedua kakak dan ibunya yang jahil.
SRET!
Ujung salah satu pecahan piring itu menggores jari telunjuk Hinata. Tapi dia memilih mengacuhkannya.
SRET!
Ujung lainnya membuat goresan di jari tengah Hinata. Lagi-lagi Hinata tak ambil pusing dengan semua itu. dia memilih cepat-cepat membereskan semua ini, minta maaf, pulang dan menangis di kamar sambil menyalahkan dirinya sendiri.
"Hei. Ini sapu–" Gaara hanya bisa bergeming melihat Hinata yang sudah menangis sambil menggigit bibir bawahnya, memunguti pecahan piring yang berserakan, dan.. darah yang menetes dari jarinya. Gaara akhirnya kehilangan kesabaran. "Bodoh!" bentaknya. Hinata kaget. Gaara dengan kasar menyapu pecahan piring yang dikumpulkan Hinata ke dalam pengki. Lalu dengan cepat, lantai sudah bersih dari pecahan piring. Hanya ada darah dari jari Hinata. Gaara pergi dari tempat itu lagi.
Hinata hanya bisa memandang jarinya pasrah. Ternyata lukanya tidak kecil. Bisa disebut cukup dalam untuk sebuah goresan di jarinya. Gaara melangkah dengan tidak sabar sambil membawa kotak P3K, dan lap basah. Dengan cepat dan kasar dilapnya lantai yang berceceran darah. Lalu dia menarik tangan Hinata dan membersihkannya dengan sapu tangannya yang waktu itu dicuci Hinata. Lagi-lagi noda darah.
Hinata terus saja diam ketika Gaara menutup lukanya dengan plester. Dia juga masih diam, ketika rasa perih di jarinya berkurang dan sudah terbalut plester dengan rapi, tapi Gaara masih memegangnya dan menatapnya terus menerus.
Kok, jadi Gaara yang kelihatan merasa bersalah?
"G-Gaara-san.." Hinata mengelap matanya yang masih basah. "Maafkan aku. Aku tak senga–."
"Bodoh."ucap Gaara datar. "Ceroboh." Lanjutnya. "Cengeng." Kali ini air mata Hinata benar-benar lolos. Gaara makin terlihat tak sabar. Dia menepuk pundak Hinata dengan keras. Gaara memaksa Hinata untuk bertatapan dengannya.
"Kau menangis karena apa kali ini?"pertanyaan Gaara malah terasa ancaman. Hinata perlahan mengarahkan wajahnya ke bawah–menunduk. Tapi tangan Gaara sudah keburu mengangkat dagunya ke atas. "Jangan menunduk."
Hinata malah merasa terintimidasi. "Kau menangis karena apa?"Gaara mengulang pertanyaannya. Entah kenapa air mata Hinata malah makin tak bisa ditahan.
Ini yang Gaara benci dari perempuan. Sulit dimengerti.
"Cengeng." Ucap Gaara. Tangannya mengulur pelan ke arah wajah Hinata. Menyeka air mata yang mengalir di pipinya.
"M-maaf, G-Gaara-san." Gaara menatapnya dalam. "A-aku harus pulang."
Gaara langsung menarik Hinata keluar. Setelah meminta maaf dan menyampaikan salam Neji untuk Temari, Gaara mengantar Hinata pulang.
..dan kembali ke masa sekarang.
Hinata makin takut pada Gaara.
'Mungkin aku menghindar saja.' batinnya.
.
.
.
"Hyuuga Hinata-san, nanti kalau sudah selesai, letakkan saja di mejaku di ruang guru."
"Ba-baik, Anko-sensei." Anko mengangguk pelan dan keluar kelas. Hinata menatap selembar kertas di mejanya. Mungkin isi kepalanya hanya Gaara, Gaara dan Gaara. Dia jadi tak konsentrasi belajar dan Anko memberikan tugas tambahan padanya.
Hinata yang bisa dibilang pintar di bidang akademis dengan cepat menyelesaikan tugas itu. Dia segera membereskan barang-barangnya. Dia ingin segera menyerahkannya kepada Anko dan cepat-cepat pulang. Dia sudah lega karena harinya berakhir di sini.
Tapi semuanya luntur melihat sosok yang sedang bersandar di ambang pintu kelas Hinata.
Siapa lagi sih kalau bukan Sabaku no Gaara?
TAP TAP TAP
Gaara berjalan perlahan menuju Hinata. Hinata jadi ketakutan.
"Kau mau pulang?"tanya Gaara datar. Hinata terlalu takut untuk menjawabnya, akhirnya dia hanya mengangguk.
"Jangan."Gaara duduk di atas meja Hinata. "Di sini saja dulu."
"Ti-tidak bisa." Hinata mengepalkan tangannya. "A-aku harus menyerahkan ini ke Anko-sensei." Hinata mengangkat lembaran tugas tambahannya.
"Biarkan saja."
"T-tidak mau."
"Ternyata kau bisa membantahku juga, hah?"
Oke, kali ini suara Gaara benar-benar terasa ancaman.
Harusnya Gaara sudah tahu kalau Hinata orang yang benar-benar-sen-si-tif.
Tapi sepertinya Gaara tak mampu mengubah auranya yang selalu terasa mengintimidasi.
TES
Dan benar saja. Hinata nangis, kan?
Kali ini Hinata tidak menyeka air mata yang turun melalui pipinya. Hinata hanya menatap Gaara dengan pandangan ketakutan, rasanya seluruh tubuhnya lemas dan bergetar. Wajahnya memucat. Air matanya makin deras.
Tidak seperti Gaara yang biasanya akan menyeka air mata yang jatuh dari mata Hinata, kali ini Gaara membiarkannya saja. dia justru memalingkan muka ke arah lain. Lagi-lagi tak mengerti kenapa Hinata tiba-tiba menangis.
"Maaf." Gaara turun dari meja Hinata. "Pulanglah."
"P-permisi." Hinata buru-buru menyeka air matanya dan keluar kelas. Meninggalkan Gaara yang masih tidak mengerti.
.
.
.
Semakin hari, yang ada justru Hinata yang makin menjauh dari Gaara. Tiap ada Gaara, Hinata akan menghindar, mengalihkan pandangannya, dan pergi. Gaara hanya bisa mengernyit, menbuat dugaan sementara, dan justru seperti mendekati Hinata. Ya, mendekati Hinata. Itu juga kalau tidak diancam Karura.
"Hah? menjauhimu?"Temari membelalak tidak percaya ketika Gaara menceritakan si gadis Hyuuga yang menghindar. Gaara hanya bisa menghela napas sambil berbaring di atas kasur.
"Ya. aneh, kan."
"Kau kurang baik, Gaara."
"Apanya?"
"Ya kamunya."
"Maksud Neesan apa, sih?"
"Gaara. Dengar, deh. yang namanya cewek itu, butuh kebaikan. Dengan siapapun, kalau baik, cewek tak akan keberatan. Tapi kamu juga ngaca, dong. Kau itu dingin, kalem, tenang. Mukamu aja selalu datar. Gimana orang mau tau kamu baik atau nggak?"
"Hn." Gaara menggaruk lehernya yang entah kenapa terasa gatal. "Mungkin itu benar."
"Menurut Neesan, Gaara sudah baik." Temari tersenyum. "Kau cuma tidak bisa mengerti perasaan cewek."
"Haah." Gaara menepuk keningnya. "Cewek emang susah dimengerti."
"Makanya, berusaha mengerti, dong."
"Jangankan si Hyuuga itu, kau saja belum aku mengerti."
"Benarkah? Aneh."
"Bukan aneh." Gaara mengangkat tubuhnya dan duduk dengan tangan sebagai penyangga. "Kayaknya, cewek bukan lagi susah dimengerti. Tapi, nggak bisa dimengerti."
"Tapi, rasanya aku cukup mengerti perasaan si Hyuuga itu, kok."
"Kau cewek." Gaara menyibak poninya. "Kau lebih tau tentang cewek."
"Pokoknya, Gaara." Temari menepuk pelan pundak adiknya. "Dekati dia lagi. apapun yang terjadi. Jangan pikirkan kau mendekatinya karena diancam Kaasan." Temari mencengkeram pundak Gaara yang dipegangnya. "Pikirkan kau mendekatinya, karena kau menyukainya."
"Apa?" Gaara menoleh ke arah Temari. "Namanya saja aku belum tahu."
"Yaampun, Kami-sama.. kok kau tidak bertanya, sih?"
"Tak tertarik. Aku kan mendekatinya karena diancam Kaasan."
"Ah, dasar." Temari turun dari kasur. "Pokoknya, dekati dia lagi." Temari menuju pintu dan memutar kenop, lalu membukanya.
"Tapi, Neesan.."
"Eit, tidak ada tapi-tapi. Dekati. DIA."
BLAM
Temari menutup pintu kamarnya. Meninggalkan Gaara yang masih diam di atas kasur. Gaara merebahkan tubuhnya di atas kasur. Yang ada di pikirannya adalah, bagaimana dia bisa segera keluar dari teror ibunya ini.
.
.
.
Hinata diam saja melihat Gaara yang entah kenapa berada di kantin. Tidak biasanya. Padahal, terlihat sekali kalau Gaara tidak suka keramaian. Gaara melirik Hinata dan mendekatinya. Hinata yang kaget, otomatis menghindar. Sayangnya, dia tak melihat ibu kantin yang membawa sepanci air panas untuk dibuat teh.
GUBRAK!
"Kyaaaa!"
Jeritan gadis malang itu menggema ke seluruh kantin. Nyaris seluruh tubuhnya tersiram air panas. Dia hanya bergelung di lantai, menutup wajanya dengan tubuh gemetaran.
"Aah, ma-maaf.. kau tak apa-apa?"ibu kantin berusaha menenangkan Hinata. Gaara mengambil tindakan pertama. Membawa Hinata dari situ. Hanya dengan sekali hentakan, tubuh gadis itu sudah berada dalam gendongan Gaara, dan Gaara menjauh dari sana sesegera mungkin, sebelum tubuh Hinata melepuh.
"Haaah.. haaah.. haaah.." Gaara hanya bisa menatap Hinata yang sekarang pingsan dan seluruh tubuhnya basah kuyup itu. tadi Gaara langsung saja menyirami Hinata dengan air mengalir, karena itu satu-satunya cara menyembuhkan luka bakar. Agak konyol memang, tapi mau bagaimana lagi?
Gaara merangkul punggung Hinata dan menyelipkan tangannya yang lain di bawah lutut Hinata. Dia mengangkatnya dan membawanya ke UKS. Gaara tak peduli walaupun seluruh tubuhnya basah karena air atau darah. Yang penting bawa Hinata dulu ke UKS.
"Gaara.."Temari memanggil Gaara yang sedang duduk di dekat ruang UKS.
"Neesan."sahut Gaara. Temari mendekat dan duduk di sebelahnya.
"Tindakanmu boleh juga."
"Cuma itu yang bisa kulakukan."
"Ya, kau benar. Aku bangga padamu."
"Bangga karena apa?"
"Karena perbuatanmu. Mana pernah kau berbuat begitu demi seorang cewek, hah? memangnya kalau yang tersiram air panas tadi itu aku, apa kau akan melakukan hal yang sama?"
"Tentu saja."
"Yang benar?"
"Iya, kalau aku ada di sana."
"Aaah! Dasar!"Temari menempeleng kepala otouto nya itu. "Bagaimana keadaannya?"tanya-nya kemudian.
"Sudah lebih baik." Gaara mengelus kepalanya. "Paling tidak, begitu kata Shizune."
"Hnn.."
Gaara dan Temari terdiam. Pandangan keduanya tertuju pada jam dinding yang terus bergerak.
.
.
.
Next Chapter : Gaara's Fight, Gaara's Accident
Summary:
PLAK!
"Kyaaaa!"
Gaara terdiam saat mendengar teriakan itu. suara yang sangat ia kenal. Dia tak sadar siapa yang ditamparnya tadi. Dia pun segera menoleh dan mendapati.. Hinata?
.
"Gaara, kau.." Temari menggelengkan kepalanya. "..kenapa tak bisa mengontrol diri?"
"Pikir, Neesan!" Gaara mengetuk kepalanya dengan telunjuk. "Memang aku akan membiarkan orang lain menjelek-jelekkan Suna?"
"Dan kalau kau marah, kau tak pernah bisa mengontrol diri! Bahkan aku atau Kankuro saja bisa kau bunuh! Kau paham itu? Emosimu buruk, Gaara!"
.
"Tapi, kumohon Gaara. Dekati Hinata lagi. dapatkan hatinya. Dapatkan cintanya! Miliki dirinya! Aku sudah tau kalian cocok, kalian selalu tampak serasi!"
.
"Sudah kubilang.. jangan menunduk..kau.. takkan tau.. akan melangkah.. ke mana.."
"Iya.. maafkan aku, Gaara-san..aku melupakannya.."air mata mulai keluar dari mata Hinata dan mengalir melewati pipinya. Kali ini Gaara tak ada cukup tenaga untuk menyeka air mata itu.
"GAARA-SAAAAN!"
.
.
.
oiya ini balesan reviewnyah :3
Lollytha-chan : salam kenal juga XD makasih XD ah, repot-repot nge-fave, Ai gak keberatan.. *plak
Uchiha Flynn : okedeh, makasih usulannya XD
Cerullean Reed : haha saya juga seneng (?)
uchihyuu nagisa : Gaara-kun memang cool, cocok lah sama Ai kan cool juga *plak* maaf ya di sini pairingnya GaaHina jadi gak ada hubungannya sama Neji ^^v
OraRi HinaRa : ngeek, 2 jempol buat Karura? Karura titip kiss tuh (?) waduh, padahal di cerita ini gak ada humor-humornya dah ._.
Merai Alixya Kudo : okee :D
Nene Zura' no Uchikaze : sip XD
Hana Arny : wahah, seenaknya menyamakan dengan Gaara-kun KU (?) okeeh pasti Ai akan apdet terus.. *pegang gergaji mesin*
