Lohaa~ Arasa-chan disinii~ X3
Perasaan cerita ini per-partnya dikit yah..
Hehehe iya.. sesekali lah~ *duagh! apa maksudnya dengan sesekali?
Hehe.. Per part kayaknya PoV-nya juga beda-beda, kecuali kalo udah akhir-akhir, Arasa-chan rasa bakal jadi Normal PoV. ^^
Okedeh~ lanjutkan aja langsung ^o^~
Miku's PoV
"Hei, si Luka pendiam itu belum datang ya." Kata Meiko, pagi itu.
"..Iya, ya, biasanya dia rajin, kok? Ya 'kan Miku?" Lily menengok ke arahku.
Aku terpaku. Mereka menyeringai, seperti mengisyaratkan sesuatu padaku.
...Ah... Aku mengerti..
U-Ukh... Aku harus.. menuruti mereka...
"...He-Hei... Dia itu cuma pura-pura rajin, tahu! Buktinya hari ini saja telat! Biasa lah, dia 'kan suka cari muka..." Ucapku, berusaha supaya terdengar angkuh.
Meiko, Rin, dan yang lainnya terkikik mendengar ucapanku.
"Hush! Nanti kalau kedengaran, lho, Miku! Hahaha! Tapi kau benar, sih!"
Mereka tertawa terbahak-bahak, terdengar puas sekali. Aku menunduk sambil menggigit bibirku, dan meremas-remas rokku tanpa sepengetahuan mereka.
...Sampai kapan... Sampai kapan aku harus begini.
Aku... tidak suka dipermainkan begini.
Ya,.. Mereka menyuruhku untuk mendekati Luka sebagai sahabat, lalu mencampakkannya dengan kasar. Ya, itu mau mereka. Saat kutanya alasannya, mereka hanya menjawab ; "Masa' begitu saja tidak bisa. Padahal kau 'kan populer, tidak mungkin tak bisa melakukannya 'kan? Biar saja, dia itu sombong, sih. Diaaam, saja, belajar terus. Dasar sok pintar."
Lalu mereka tertawa... tertawa dingin seolah puas dengan kejahatan yang mereka inginkan. Kejam! Kejam sekali, mempermainkan perasaan manusia.
Tapi, aku tak bisa menolak. Mereka pasti akan menuduhku yang tidak-tidak dan menyebar fitnah ke semua orang agar membenciku, bila aku menolak.
...Aku terpaksa melakukannya...
...Maafkan aku, Luka.
Maafkan aku...
Ting Tong!
"Ah, sudah bel, tuh!" Seru Meiko.
Drak! Drak! Mereka berlarian ke bangku masing-masing.
"Selamat pagi, Anak-anak." Sapa Kiyoteru-sensei yang baru masuk ke kelas.
"Pagi, sensei!" Balas anak-anak dengan kompak.
"Hari ini kalian harus membuat poster untuk pameran festival sekolah minggu depan, ya!"
"Yaaah!" Anak-anak mengeluh. "Kenapa menggambar lagi, sih!" "Bosan, aaah! Capek!"
"...Tenang dulu, anak-anak. Yang berbeda dari biasanya, kali ini kalian membuat dengan berkelompok dua orang. Sensei akan pilihkan kelompok kalian."
...Glek! Ini justru lebih parah...
Aku melirik teman-temanku yang sedang tampak kesal. Dari raut wajah mereka, kelihatan kalau mereka was-was kalau dipilih berpasangan dengan anak-anak yang tidak mereka suka... seperti Luka.
Kiyoteru-sensei melihat ke seluruh penjuru kelas, lalu bergumam.
"Hm... Siapa yang tidak masuk hari ini?"
"Luka, Sensei."
"Megurine Luka."
Kiyoteru-sensei manggut-manggut.
"...Nah, sekarang, kalian semua maju berurutan dari yang paling ujung. Ambil salah satu kertas berwarna yang sudah kumasukkan ke kotak ini. Kalian harus menutup mata ketika mengambilnya. Yang mendapat warna sama, berarti berpasangan. Nah, mulai dari kau yang paling ujung."
Yang paling ujung adalah Kagamine Len, teman sekelasku yang paling kekanak-kanakan dan usil. Dia maju sambil senyum-senyum tidak jelas.
"Kiyo-sensei, mana penutup matanya?" Tanyanya begitu sampai di depan.
"Kamu merem saja, tidak usah pakai begituan. Lagipula, jangan panggil aku seperti itu." Jawab Kiyoteru-sensei.
Len mringis, lalu ia melongok ke dalam kotak itu dan mengambil salah satunya tanpa bosa-basi dan tanpa merem, lalu langsung ngacir ke bangkunya.
"Yosh! Kuning!"
"...KAGAMINE!" Bentak Kiyoteru-sensei.
"Apa, Kiyo-sensei?" Balas Len sambil menyipitkan matanya dan masih mringis.
"Tutup matamu! Kembalikan kertasnya, dan ulang!"
"Nggak mau, ah! Malas!"
"KA..."
"...Sudah, Sensei! Daripada makin lama! Ingat durasi, nih, durasi!" Ujar Len lagi, dengan santainya.
Kiyoteru-sensei mengelus-elus dadanya.
"..Baiklah... Selanjutnya!"
Kaito Shion maju ke depan.
"...Pink.." Ujarnya sambil melihat kertas yang ia dapat dengan sweatdrop, diikuti dengan suara tawa teman sekelas yang serempak.
Lalu, berikutnya, berikutnya, dan berikutnya, dan...
"Ya! Berikutnya.. Hatsune Miku."
Aku maju ke depan, menutup mataku dan mengambil salah satu kertas berwarna itu.
"...Hem.. kok polos..?" Gumamku.
"Oh, itu warna putih," papar Kiyoteru-sensei. Aku mengangguk dan kembali ke tempat dudukku.
Setelah beberapa lagi maju, kami disuruh mencari pasangan yang mendapat warna sama.
"...Putih, siapa yang warna putih.." "Ah! Aku, Aku!"
Aku mencari asal suara. ..Uwaa.. Itu Kagamine Rin, salah satu sahabatku.
"..Syukurlah!" Ujarnya, sambil berjalan menghampiriku.
"Hai, Rin! Duduk di sini saja, ya." Ujarku, sambil menunjuk sebuah bangku. Kami menata bangku itu agar berhadapan. Ya, bangku sekolah kami memang mirip bangku di kampus-kampus, hanya saja mejanya lebih besar.
Kami pun menduduki bangku masing-masing.
"...Ayo kita mulai! Buat poster apa, yaa~?" Gumamnya. Ah, Rin memang anak yang ceria dan baik hati. Orang-orang bilang, dia sama populernya denganku meski aku sendiri tak tahu apa aku ini populer.
"...Rin.. buat gambar orang yang sedang menangis, yuk..? Aku sedang ingin membuat sesuatu yang dramatis.." Bisikku. Entah mengapa, ide itu muncul begitu saja di benakku.
"..Menangis?" Tanya Rin. Aku mengangguk.
Kami diam sejenak.
"..Hei, Miku nggak biasanya seperti ini. Ada apa? Cerita saja."
Aku menghembuskan nafas.
"...Sebenarnya..."
Aku menceritakan yang aku dan Luka alami, dan tentang mereka, dan perasaanku akan semua ini. Rin mendengarkan dengan serius.
"...Jadi begitu.," Gumamnya.
"...Baiklah..."
"..Eh?"
"Ayo kita gambar sekarang."
Aku memerhatikan sejenak gerak pensil Rin yang lincah. Rin memang pandai menggambar.
Lalu, setelah beberapa saat, Rin meletakkan pensilnya dan menunjukkan hasilnya.
"Ini.. Luka yang sedang menangis?"
"...Ya... Tolong Miku yang tebalkan, ya!"
"...Iya..."
Aku menebalkan gambar itu dengan pena seadanya. Tapi semakin lama aku memandang gambar itu, aku semakin sedih...
Lama-lama tanpa sadar air mataku menetes, membasahi kertas poster itu.
Aku... Tidak tahan lagi berpura-pura... Aku ingin sungguh-sungguh... Berteman dengannya...
To Be Continued
