Disclaimer. Masashi Kishimoto punya


A/N.

Baca baik-baik. Pahami, resapi. Banyak hints-nya. Wkwk. Dengerin lagu Unravel-Tokyo Ghoul biar gereget.

Selamat membaca ….


[2]

—"Kebetulan yang tak terduga?"—


Angin sepoi-sepoi menerbangkan helaian-helaian hitam pekat milik Sasuke. Matanya terpejam merasakan desisan udara itu menggesek seluruh permukaan kulit kering pucatnya. Mulutnya membisu tanpa kata, tanpa teriakan. Ia menikmati dalam diam setiap sensasi tubuhnya tertarik gaya gravitasi, tak mengindahkan sedikitpun hal apa yang terjadi kelak atas kelakuannya yang terjun dari lantai kelima gedung tempatnya bekerja.

Bunyi debuman terdengar keras ketika tubuh atletisnya menghantam kerasnya aspal. Kepulan debu menyeruak efek hantaman benda yang menghempas partikel kecil itu.

Sakit. Satu kata yang ia rasakan ketika tubuhnya jatuh dari gedung yang setinggi belasan meter itu. Namun tak perlu berbasa-basi sambil mengeluh kesakitan, Sasuke sudah berdiri berdiri tegap dengan tubuh yang setengah hancur dan darah mengucur di sisi belakang tubuhnya.

Sasuke menggerakkan tubuhnya walau terasa kaku. Terdengar bunyi gemeretak persendiannya tanda sebagian anggota rangkanya sudah remuk terlebih patah. Bajunya bersimbah darah. Kucuran hemoglobin itu mengalir dari luka yang menganga lebar di kepalanya—akibat jatuh kepala dahulu. Bahunya hancur, cairan kental merah segar itu merembesi kemejanya. Kain penutup badan itu sobek, terkoyak karena kasarnya aspal. Teramat sobeknya sampai mampu memperlihatkan jaringan-jaringan tubuhnya yang hancur lebur.

Seberkas asap menguap dari tubuh Sasuke. Asap tipis yang perlahan menyerbak namun mengelilingi seluruh tubuhnya. Asap yang seakan menguapkan semua luka konyolnya.

Sasuke mengusap dahinya, menyibak poni yang menutupi kening lalu menatap polos tangan bekas sibakan rambutnya, tangan yang sudah tercairi oleh darahnya sendiri. Bergerak mengikuti insting, ia dengan lahapnya menjilati, mendecapi, lalu menelan cairan itu bak coklat yang lumer sampai habis tak tersisa sedikitpun.

Rasa besi yang amis memenuhi indra pengecapnya. Sekalipun rasa itu terasa getir bagi sebagian orang, baginya ini rasa yang paling enak dibanding meminum darah seekor ternak.

Ya, satu-satunya rasa yang mampu memuaskan nafsu terlarang-nya.

Ia mengeram tertahan. Merasakan gejolak yang mengocok bagian bawah perutnya. Seluruh darah yang mengalir di sepanjang nadinya berdesir, mengalir deras karena merasakan hasrat yang telah lama ia tidurkan dengan paksa telah bangun dari peraduannya.

Angin bergulir pelan. Meniup pelan bulir keringat yang masih tertinggal di tubuhnya. Sedangkan luka dan darahnya sudah menguap karena teregenerasi sempurna tanpa meninggalkan bekas sedikitpun hanya dalam hitungan menit.

Monster. Satu kata yang mendeskripsikan Sasuke.

Sasuke menutup kelopaknya. Percaya pada penciumannya yang tajam, ia meresapi wangi lain yang memacu nafsu liarnya. Wangi manis kesukaannya. Wangi darah makhluk sebangsanya; vampir.

Relung dadanya tertohok. Terasa berat karena detuman jantung yang menggila. Ia menyeringai, merasakan gairah yang makin membuncah di tubuhnya. Gairah untuk menghancurkan keparat itu lalu menandaskan cairan kental yang pasti ia miliki.

Sensasi ini … sangat ia rindukan. Sudah lama Sasuke tidak merasakan sensasi ini, teramat lama sampai ia lupa bagaimana sensasi menjadi seorang kanibal.

Sasuke membuka matanya, memperlihatkan sepasang biji merah dengan pola hitam di sekitar pupil yang menatap jauh ke daerah perempatan sana seakan mencari-cari keberadaan seseorang yang berdiam diri di sana. Ia meringis, merasakan sebuah benda tajam tumbuh memanjang di dalam mulutnya.

Taring. Taring yang tajam itu tumbuh dan memanjang di giginya.

Ia mengambil satu tarikan napas panjang sambil menyesapi aroma yang masih menguar di udara. Aroma yang membuatnya semakin tidak sabar untuk ia nikmati dalam nafsu yang menggebu-gebu.

Setelah tarikan napas itu terlepas, ia melesat cepat secepat kejapan mata. Teramat cepat sampai tak sempat mengontrol kekuatan yang sebesar itu walaupun sebenarnya ia bisa. Ia menabrak gedung sampai hancur pinggirannya, menabrak tiang jalanan sampai bengkok pinggangnya, bahkan sampai menabrak sesosok gelap yang masih menikmati perburuan kecilnya.

Menabraknya sampai sosok itu menghantam beton yang tinggi menjulang tepat di seberang jalan.

Beton itu retak. Retak karena gaya dorong yang besar dan tak sebanding dengan gaya penyusun bangunan itu. Saking kuat gaya dorong itu, membuat mangsa yang ada dalam cengkraman Sasuke memuntahkan cairan kental yang menyususun organ dalamnya.

Sosok itu tercekik. Seluruh pasokan udaranya tertahan di pangkal. Tak mampu masuk ke rongga dadanya. Jemari panjang yang disertai kuku tajam milik Sasuke mencengkram lehernya. Mencengkramnya sampai tak memperbolehkan satu aliran pun yang lewat. Alhasil satu—dua urat venanya menonjol seakan mau pecah karena tak mampu menampung aliran darah yang terhambat.

Sasuke menyeringai bahagia ketika mengetahui buruannya begitu spesial hari ini. Seseorang yang berasal dari klan yang sangat ia kenali. Salah satu klan yang ikut membuangnya ke dunia ini. Klan yang sama-sama berengsek seperti keluarganya—mantan keluarganya.

"Hyuuga? Apa menjaga menjaga gerbang uzur itu begitu membosankan sampai membuatmu memilih menjadi vampir?" Sasuke menggerakkan paksa leher sosok itu sampai patah semua tulang penyusunnya.

Ia, sosok itu, dengan beraninya meludahi muka aristokrat Sasuke "U—Uchiha—heh?" ia mendesis balas menatap nyalang mata sehitam jelaga itu "Apa dunia bawah masih kurang untuk kalian kuasai?"

"Uchiha? Maaf itu bukan namaku, Nona," Sasuke menyeringai tipis. Menekan lagi jemarinya, menghambat semua jalur yang lewat di leher jenjang sosok itu sampai rupanya memutih. Tanpa menunggu sampai mangsanya mati, ia melempar tubuh kecil itu ke sisi lain dengan kuatnya sampai menabrak ujung gang jalan yang terletak beberapa belas meter dari tempat mereka berdiri.

Beton yang membangun gang buntu itu hancur. Sama hancurnya dengan tubuh kecilnya. Bajunya sobek, terkoyak oleh serpihan-serpihan beton yang tajam. Sobeknya baju itu, membuat setengah tubuhnya terekspos memperlihatkan gumpalan jaringan-jaringan penyusun organ tubuhnya yang ikut hancur lebur tumpah ruah dari tubuhnya. Tumpah ruah bak jelly kenyal nan lumer.

Darah milik sosok itu tercurah dari tubuhnya. Namun, curahan-curahan itu mampu menguarkan wangi sedap yang semakin merayu Sasuke untuk mengicipi rasa manis yang terkandung di hemoglobin itu. Semakin besar rayuan itu, sampai membuatnya memutuskan untuk sekedar mengicipi beberapa yang tertinggal di telapaknya.

Rasa manis yang bercampur besi yang ia rasakan. Manis yang cukup lumayan, namun tak semanis darahnya sendiri ataupun darah milik teman sebangsanya. Darah yang nikmat untuk golongan cairan yang dicampur dengan sepahnya darah manusia.

"Darah campuran? Tidak buruk," komentar Sasuke puas setelah menghabiskan santap kilatnya.

Ketukan pantofel yang Sasuke kenakan bergema oleh sisi-sisi dinding. Dengan langkah pelannya ia berjalan menghampiri sosok yang teronggok tak berdaya setelah menghantam beton keras. Menarik kasar rambut gelap panjangnya yang terurai, lalu mengarahkan rupa yang setengah hancur itu tepat mengarah ke mata Sasuke. Sontak, mata hitam jelaga itu bertumbuk dengan sorot mata kelabu yang tengah menyipit karena luka yang menganga di dahinya.

Sasuke menatapnya penuh sorot tajam yang kental akan nafsu membunuh. Sayang sekali, sorotan itu sama sekali tidak membuatnya gentar sedikitpun. Ia malah menantang Sasuke dengan melayangkan tatapan merendahkan.

Sasuke hanya menyunggingkan senyuman miring khasnya. Ia kerkekeh singkat, "Namaku, Sasuke. Camkan itu, kucing licik," setelah mendeklarasikan namanya, Sasuke kembali menghantamkan tubuh hancur lebur itu ke beton lagi. Tak peduli kalau pun si pemilik akan mati. Yang penting ia bisa memuaskan nafsu psikopatnya.

"Apa setelah mendepakku dari dunia bawah, kalian juga akan menjarah tempat makanku, Hyuuga? Benar-benar egois," Sasuke mendengus "Seharusnya kalian berterima kasih padaku karena aku hanya menghisap darah vampir kriminal, bukan manusia," mata jelaga Sasuke melirik pria bekas mangsa kucing licik itu yang tergeletak sekitar belasan meter dari tempat mereka sekarang.

Sasuke terkekeh merendahkan, "Tidak seperti kau, yang menghisap darah pria perjaka. Benar-benar jalang." Ironis.

Tawa sosok itu melengking. Begitu lepas seakan tak peduli dengan kondisinya yang diambang kematian. "Jalang?" sosok itu bangkit perlahan dari posisinya. Asap yang sama seperti milik Ssasuke tadi mulai mengepul mengelilinginya. Pertanda luka hancurnya teregenerasi kembali.

Ia menegakkan badannya, menyibak helaian panjang gelapnya kebelakang, memperlihatkan mata perak yang melotot dengan urat menonjol di sekitarnya. Ia tersenyum sadis, lalu menggerakkan tubuhnya walaupun gemeretak keras tulangnya terdengar keras.

"Dengan senang hati aku menerimanya, Tuan."

Setelah kata itu terlontar, tangan bergerak cepat melempar beton yang hacur itu ke arah Sasuke. Dengan sigap Sasuke menghindar serangan benda tajam yang hampir sebesar kepalanya itu. Namun, ia tak bisa menyeringai puas karena masih kalah cepat dengan tinjuan Si Hyuuga itu yang sudah menonjok ke pipi kirinya.

Tubuh Sasuke terhempas sedikit. Ia menelan kembali darah yang keluar dari rongganya akibat pukulan itu. Belum sempat ia mempersiapkan serangannya, Hyuuga itu sudah kembali menyerangnya lewat tendangan yang diarahkan ke ulu hatinya. Tendangan dari kaki kecilnya yang terlampau kuat dan sanggup mengenyakkan tubuh atletis Sasuke sampai menghantam beton yang sudah setengah hancur itu.

Sasuke terbatuk darah. Darah segar dari mulutnya menyembur mewarnai kemeja sobeknya. Ia terkekeh gila menyadari dirinya kalah hanya karena tendangan kecil yang seharusnya mampu ia tangkis dengan mudah.

"Tak kusangka Hyuuga menyimpan manusia setengah vampir."

Tawa sosok itu kembali tergelak. Ia memegangi perutnya yang sakit karena tawa yang terlampau heboh itu, "Manusia setengah vampir? Kau salah Tuan" ia berdecak tak suka, menyilangkan tangan di depan dada sedangkan sebelah tangannya memegangi dagunya seolah berpikir.

"Aaa … maaf saja Tuan," ia menjedah, menengadahkan kepala "Aku ini vampir setengah iblis berengsek!"

Ia pun melayangkan kembali tinjunya ke arah Sasuke. Tinjuan dari kepalan kecil yang mampu menghancurkan sebuah gedung berbahandasarkan beton kuat. Sayang, maaf untuk dirinya, Sasuke sudah mampu menangkis serangan itu lalu balas menendang tubuh kecil yang mengurungnya.

Tubuh itu terpelanting jauh. Jauh sampai kembali menghantam dinding yang berada di seberang sana. Walaupun tertatih ia mencoba berdiri lagi, untuk kembali melawan pria keparat yang menganggap dirinya kucing licik.

Asap mengepul mengelilingi punggungnya yang kembali terluka. Regenerasi. Punggungnya mulai beregenerasi dan Sasuke hanya mengangkat sebelah alisnya menyadari fakta lain akan identitas musuhnya itu. "Pantas saja kau sembuh dengan cepat," Sasuke hanya mengedikkan bahu, cuek seakan tak peduli.

Sasuke meraih pipa besi yang menggantung di atas kepalanya. Dalam sekali sentakan keras, benda itu patah dengan kedua sisi yang kasar. Sasuke mengulas senyum bangganya sambil memanggul senjata barunya itu.

"Sepertinya besi sangat cocok untuk membungkam tawa anehmu, Nona."

Dengan tubuh sempoyongan, nona yang dimaksud itu menengadahkan diri, menatap arogan Sasuke "Kau bercanda? Melawan seorang gadis dengan senjata?" ia menggeleng-gelengkan kepala merasa heran, "Benar-benar tidak jantan sekali."

"Seakan aku peduli." Sasuke mengayunkan bilah besinya mencoba seberapa gesit senjatanya itu. "Kita lihat saja," upcapnya sambil mengulas senyum percaya diri.

Kaki panjang Sasuke melesat dengan gesitnya. Melesat menuju tempat sosok—gadis itu berdiam. Ia mengayunkan bilah panjangnya, menyerang sisi kanan gadis itu. Namun, gerak tangannya kalah cepat dengan kelincahan tubuh gadis itu. Gadis itu melompat ke belakang menghindari ayunan besi yang akan membelah tubuhnya menjadi dua bagian itu.

Posisinya kini semakin terpojok—nyaris menatap dinding. Tapi, tidak sama sekali membuatnya hilang akal untuk memanfaatkan dinding itu sebagai batu loncatan untuk melancarkan balas serangan ke pria itu. Dengan dua langkah kuatnya, ia memanjat dinding lalu bermanuver cepat untuk melemparkan tendangan yang kuat ke dada pria itu.

Akalannya ini terbaca dengan mudah oleh Sasuke. Semudah membaca novel picisan yang paling ia benci. Sasuke menggerakkan bilah besinya. Menjadikan tongkat tajam itu sebagai tameng untuk menangkis tendangan gadis itu.

Tubuh Sasuke mundur sedikit karena gaya dorong yang dikirimkannya. Gadis itu menarik kembali tendangannya. Kemudian berpijak pada reruntuhan beton akibat pertarungan mereka.

"Sepertinya… kita pernah bertemu sebelumnya?" alisnya tertaut, matanya menyipit menatap Sasuke heran. Ia merasakan déjà vu yang cukup jelas ketika melihat paras tirus Sasuke.

Sasuke tersenyum miring. Ia mereposisikan senjatanya, bersiap melancarkan serangan untuk mengalahkan musuh di depannya. Pipa yang panjang itu teracung dengan mata di ujung, selayaknya orang yang sedang memegang sebilah pedang.

"Seharusnya begitu, Jalang." Dalam sekejap Sasuke kembali mengayunkan bilahnya, menyerang lagi gadis itu.

Gadis itu mengelak. Ia membelokkan serangan bilah Sasuke sampai menancap ke dinding yang masih setengah utuh berdiri di belakangnya. Atas hasil perbuatannya, Sasuke hilang keseimbangan. Nyaris limbung menyentuh tanah, namun terhenti karena tendangan lutut dari gadis itu yang menyodok keras ulu hatinya.

Darah kembali tersembur dari mulut Sasuke. Tenggorokannya mulai terasa sakit karena berkali-kali organ pernapasannya itu mengeluarkan darah. Tapi itu belum seberapa, gadis itu berteleportasi ke belakang tubuh Sasuke lalu mengirim tendangan telak tepat di tengkuknya. Sasuke pun jatuh menghantam kerasnya aspal.

Kedua gaya yang saling bertolak belakang itu beradu. Tak ingin mengalah satu sama lain, akhirnya karena kekeraskepalaan kedua belah pihak, masing-masing dari mereka mendapatkan ganjaran yang sama. Hancur.

Tubuh Sasuke hancur setengahnya, bahkan rupa yang banyak digandrungi kaum hawa itu sudah tak berbentuk karena bergesekan dengan aspal yang terjal. Sama halnya dengan aspal yang ikut retak karena tak mampu menahan serangan keras itu.

Darah termuntahkan dari mulut Sasuke. Likuid merah itu menggenang membasahi aspal dan rupa Sasuke yang tertelungkup mencium aspal. Masih belum puas dengan serangan telaknya, gadis itu mencabut bilah besi yang tadi menancap di dinding dengan satu tarikan. Lalu menusukkan bilah besi itu ke tubuh Sasuke, tepat di belakang jantungnya. Sampai bilah itu tenggelam setengahnya.

"Lihat? Kau lah yang kalah disini.. tuan—ah aku ingat… siapa kau sebenarnya," gadis itu menjedah mengambil sejumput rambut Sasuke menariknya ke atas agar dapat melihat paras tirus yang mencium aspal itu.

Jemari lentiknya menggarisi tiap lekukan di wajah Sasuke yang sudah tak berbentuk itu. Ia memasang senyuman datarnya menatap pria raven itu dengan penuh penghinaan.

"Uchiha Sasuke si kanibal, tersangka pembantaian Bangsawan Vampir Uchiha. Anak yang dibuang dari rumahnya, dunia bawah. Benar begitu?" kuaknya datar.

Namun Sasuke hanya diam tak membalas fakta yang telah terbeberkan itu.

"Tidak kusangka kita bertemu disini Sasuke san. Aku ikut dalam ritual pembuangan dirimu, aku yang membukakan gerbang, kau ingat?"

Gadis itu tersenyum menatap Sasuke. Sedangkan Sasuke masih tetap di posisinya; hanya diam tak membalas. Ia kehilangan setengah kesadarannya karena luka yang menghancurkan jantungnya.

"Seharusnya kau mati saja … bahkan keluargamu mendukung eksekusimu, lho." Ia mengusap pelan pipi tirus Sasuke yang regenerasinya berjalan lambat.

Mungkin dia sudah kehabisan darah, pikir gadis itu polos.

Jermari lentiknya mengusap kulit yang sobek disana. Berbekal kuku jari yang panjang, ia menyayat-nyayat kulit rapuh itu. Menyayat sekali, dua kali, tiga kali, berkali-kali seiring banyaknya ia mengusap pipi Sasuke. Menyayat kulit itu sampai terbuka semua lapisannya, lalu mengucurkan darah merah yang kehitaman.

"Apa yang dipikirkan pak tua itu, sampai rela membelamu habis-habisan agar tidak di eksekusi? Orang yang bodoh," kikik gadis itu.

Gadis itu berdiri kembali, menatap miris Sasuke dari posisinya, "Kau pasti tersiksa di dunia atas … kanibal sepertimu pasti tidak memiliki makanan yang cukup disini bukan?" ia menjedah "Disini hanya dipenuhi manusia, dan pastinya tidak sesuai seleramu, bukan?"

"… dan lagi …" Gadis itu mencabut bilah besi bekas senjata Sasuke, ia memanggul benda itu selayaknya sebuah cangkul—cangkul yang panjang.

"Disini hanya dipenuhi vampir-vampir bajingan yang—jelas rasanya tidak enak bukan?"

Jemari lentik itu menyisir pelan poni Sasuke, menyisir pelan helaian lembab itu dengan sensual lalu ditambah dengan sedikit aksen tarikan yang kuat ia menjambak rambut itu ke belakang tubuh Sasuke sampai dadanya membusung—melengkung sempurna.

Berbekal beda tajam yang ia panggul itu, ia menusuk dada Sasuke sampai tembus ke belakang, lalu dengan asal ia mengoyak rangka kokoh itu hanya dengan sebelah tangannya. Sedangkan sebelah tangan yang lain masih menetap untuk menarik keras rambut Sasuke, menahan tubuhnya agar tidak kembali ke posisi awal.

Gadis itu memulai permainannya dalam tempo lambat, memaju-mundurkan bilah itu mengoyak rongga dada Sasuke sampai menciptakan sebuah lubang yang menganga dan disertai kucuran darah. Namun, semakin lama ia menggerakkan bilah itu, semakin cepat tempo yang ia mainkan pada lubang itu. Semakin cepat—semakin cepat, secepat napasnya yang tersenggal-senggal, ia tertawa menikmati sensasi menjadi masokis sejati.

Melengkingkan tawa gilanya bak orang kesurupan.

Sampai ketika ia merasakan klimaks pada permainan gilanya, Ia pun berhenti mencabut bilah itu dalam satu tarikan cepat. Napasnya terengah-engah karena aktivitasnya yang sedari tadi menggebu-gebu itu. Sambil menelan ludah keringnya, ia mendesah lega.

Netra kelabunya beralih menatap wajah Sasuke, merekam tiap lekukan yang terlihat samar di wajahnya. Mencermati hasil karya seni dadakannya ini. Lalu, segaris senyuman terbentuk di bibir gadis itu.

Segaris senyuman lembut tanpa bumbu maniak seperti sebelumnya.

Ia mendekatkan kepalanya ke telinga Sasuke, mengepulkan sedikit napas hangat ke daun telinganya yang dingin memberikan sedikit rangsangan hangat ke indera sensitif itu. Bibir lembabnya terbuka, melantunkan sebuah bisikan. Bisikan yang teramat lirih untuk didengar Sasuke. Sebuah bisikan kecil yang terucap dari bibir-nya yang manis.

"Aku akan mengakhiri penderitaanmu, Sasuke-san."

Setelah kata itu terucap dari bibirnya, ia bergeser perlahan, menggeserkan tubuhnya untuk memberikan ruang agar Sasuke dapat berbaring. Berbaring, benar-benar berbaring. Berbaring selayaknya sedang tertidur pulas. Berbaring menghadap gelapnya langit malam, bukan tertelungkup sambil mencium kasarnya aspal jalanan.

Gadis itu terdiam, kembali memandangi sekujur tubuh Sasuke dengan tatapan datar yang khas. Kedua batu bulan peraknya bergulir pelan, mematut setiap lekuk tubuh Sasuke yang sudah setengah hancur. Jemari dinginnya terangkat, menyentuh gumpalan-gumpalan merah gelap jaringan tubuh Sasuke yang telah melebur tak berfungsi.

Ia terkekeh singkat, menyunggingkan segaris senyuman miring penuh penghinaan yang tipis. Teramat tipis untuk dilihat di rupanya yang datar tidak menunjukkan segaris pun ekspresi. Tangan yang telah ternoda itu bergerak keatas, menangkup sebelah pipi Sasuke, ibu jarinya mengusap pelan penuh kasih sayang kulit yang masih membungkus otot pipinya.

Sisi lain tangannya terangkat ke belakang, meraih kembali gagang tajam—alat yang ia gunakan untuk mengeksekusi predatornya itu. Gagang itu, ia arahkan ujung bilahnya tepat atas jantung Sasuke, nyaris menusuk kembali organ yang masih memperlihatkan denyutannya. Bibir yang tak kering itu kembali terbuka, berbisik lirih.

"Selamat tinggal."

Setelah kata itu terucap dengan sekejap mata bilah itu bergerak untuk kembali mengoyak dada Sasuke dan dengan sekejap pula geraknya terhenti. Terhenti tepat sebelum bilah itu menyayat lapisan permukaannya.

"Hentikan, Hanabi!"

Gadis itu terhenyak, menoleh menuju asal suara yang memanggilnya. Suara lembut yang familiar di telinganya, suara lama tak ia dengar, suara yang telah berkali-kali menenangkan gejolak hatinya.

K—kenapa … dia bisa ada di sini? Kau pasti bercanda. Ini pasti halusinasi gila yang disebabkan oleh insting iblisnya yang tadi menggila. Tidak mungkin dia ada disini. Tidak mungkin …. Tidak mungkin …. Karena dia seharusnya ada di rumah, dijaga ketat oleh orang-orang klan, bukan berada disini mencarinya—Hanabi, dan dengan tatapannya menghentikan nafsu Hanabi yang telah lepas kendali.

Namun, selama apapun ia melamati sosok yang menghentikannya ini, ia tidak bisa berbohong dengan mengatakan kau pasti bercanda. Sosok yang menggenggam pergelangannya ini, sosok yang menatap lembut dirinya ini, nyata … benar-benar nyata dan dia benar-benar dia—

"N—Nee-chan …"

Hinata, Hyuuga Hinata.

"Ayo Hanabi, kita pulang," ajaknya sambil mengulas segaris senyuman manis.


...


.

.

.

Dunia ini dibagi menjadi dua: dunia atas dan dunia bawah.

Dunia atas dihuni oleh manusia. Makhluk dengan sejuta perasaan—sejuta tabiat. Dibekali oleh kecerdasan dan perasaan luhur, mereka mampu membangun berbagai peradaban yang jauh lebih maju dibanding dunia bawah dan didukung tubuhnya yang kebal membuat mereka lebih leluasa untuk menjelajahi dunia atas. Memang fisik mereka bukan apa-apa dibanding makhluk yang mengubur diri di bawah sana, tapi, mereka mampu membuktikan merekalah raja dunia atas—raja siang di dunia atas.

Sedangkan dunia bawah dipenuhi oleh iblis dan vampir. Para makhluk pendosa, makhluk hina yang penuh kelicikan nan busuk. Mereka diciptakan superior, lebih pintar daripada manusia, lebih kuat dibanding manusia, lebih lama waktu hidupnya dibanding manusia. Sayang, diciptakan dengan nafsu berlebih, membuat peradaban mereka tak pernah maju, cenderung jalan di tempat. Perang antar bangsa—klan selalu terjadi tiap harinya, membuang satu demi satu spesies mereka. Terlebih ketidakkebalan mereka terhadap cahaya membuat mereka mau tidak mau berdekam diri di dunia bawah yang gelap.

Masing-masing makhluk memiliki kelebihan dan kelemahan. Manusia dengan fisik kebal sayang lemah, dan makhluk dunia bawah dengan fisik superior tapi tidak kebal.

Perbedaan yang kontras bukan berarti mereka cuek dengan keberadaan satu sama lain. Tidak memungkiri jika masing-masing penghuni dunia merasa penasaran dengan dunia yang lain. Memungkinkan sekali masing-masing dunia saling mencari keberadaan, mencari tahu, menyusuri benang-benang kusut yang saling terhubung ini.

Namun, ketika mereka mengetahui satu sama lain, yang ada hanyalah nafsu ingin menguasailah yang berkobar.

Saling menguasai, saling mengintimidasi, saling meneror satu sama lain.

Manusia sebagai raja siang.

dan …

Vampir dan iblis sebagai raja malam.

Mereka saling membunuh, menyakiti, menipu, mengelabui satu sama lain. Demi kejayaan bangsa mereka. Demi perluasan wilayah mereka. Karena masing-masing dari mereka tahu, daerah sana, memiliki harta karun yang banyak.

Dunia atas dengan kemajuan peradabannya.

Dunia bawah dengan seluruh kekuatan magisnya.

Kondisi itu terus-menerus terjadi. Berkali-kali. Terus terulang tiap tahun, tiap dekade, tiap abad. Bahkan sampai zaman kegelapan melingkupi dunia atas, kedua belah pihak masih terus berseteru bersaing siapa yang paling kuat. Mengobarkan perang untuk memperebutkan masing-masing wilayah.

Namun itu semua berhenti ketika sebuah gerbang yang menghubungkan kedua dunia dibuat untuk membatasi gerak invasi masing-masing pihak.

Sebuah gerbang yang dibangun dengan kokohnya. Menjulang tinggi ditengah-tengah hutan bambu yang lebat. Berdiri tegak didampingi oleh ketiga pilar-pilar refleksi dari kedua pihak—satu saksi yang terlibat dalam pembangunan gerbang tersebut

… dan tentunya …

tentunya …

Tentunya?

Dijaga oleh sebuah klan yang bernama Hyuuga.


.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED


A/N.

Hmm … jujur saja …. Daku agak badmood garap ini. Lagi UKK, kebebani banyak hal, tempramen tinggi, baperan, kangen mantan—lupakan nggak sebenernya. Maaf karena udah ngaret banget. Chapter depan kemungkinan setelah puasa/akhir puasa (cari aman)

Actually I'm not exited today. Ini sebenernya ada dua part, tapi … sepertinya bakal panjang karena aku mau bahas Hanabi habis-habisan setelah ini (dia tokoh kunci) terlalu terburu-buru kalau cuma setengah part.

Jujur kedua kali … ini action scene pertamaku, maaf kalo ini bener-bener nggak rapih, wagu dan opo iki ra ceta. Tapi, aku tetep berharap ada—minimal satu orang yang nangkep maksudku apa disini TT, kalo nggak silahkan misuh-misuh di review ya.

Oya, Hinata udah nongol lho, dia dateng terakhir, jadi yang gelut sama Sasuke tadi bukan Hinata tapi Hanabi. Mwah. Anw, ini konfliknya mulai kuperjelas di awal, biar nggak pada misunderstanding-lah.

Okedeh, makasih yang sudah mau review di chapter satu. Udah buatku senenglah, dan makasih yang udah memilih favorite dan follow buat fanfik ini. Aku terharu lah :') maaf kalau A/N ini penuh curhatan TT

Sekian

KanaLK

Sabtu, 28 Mei 2016