ROOM 176

a Meanie fanfiction

friendship, little bit romance, shounen ai

T

Happy Reading

Wonwoo mengubah posisi tidurnya menghadap dinding yang dingin. Sekarang pukul dua pagi dan ia masih belum bisa memejamkan matanya barang semenit pun. Bayangan Jeonghan memeluk Mingyu dengan erat terus terbayang di kepalanya. Jeonghan adalah senior yang kini berada di kelas tiga. Satu satunya siswa dengan rambut panjang di sekolah ini. Dan jelas jelas ini adalah bangunan asrama pria. Asrama wanita berada di gedung seberang. Tidak mungkin ada siswi yang masuk ke gedung ini tanpa lolos dari penjagaan yang ketat.

Jeonghan cantik, meskipun ia seorang namja. Tidak ada yang meragukan hal itu. Menurut gosip yang beredar Jeonghan itu gay. Wonwoo jarang mempercayai gosip yang tak terbukti kebenarannya. Tetapi setelah melihat dengan kepalanya sendiri bahwa Jeonghan memeluk teman sekamarnya dengan erat membuat ia berpikir dua kali untuk mempercayai gosip itu.

"Apakah teman sekamarku gay?-" Wonwoo bergumam. "-dan pembunuh?" Lanjutnya lagi. "Tidak. Tidak! Jika dia pembunuh pasti dia sudah di tahan bukan?" Wonwoo menendang selimutnya gusar. "Ah! Aku tak peduli!" Ia berguling guling kembali hingga fajar menyingsing.

.
.

Paginya Wonwoo tengah bersiap. Ia menyisir helaian rambut hitamnya. Sesekali membenarkan posisi dasi hitam bergaris hijau miliknya. Saat ia sedang memasukan kacamata baca ke dalam tasnya, seseorang mendobrak pintu kamarnya hingga ia terlonjak kaget.

Mingyu masuk dengan wajah datar. Langkah kakinya terdengar jelas di ruangan yang tak bisa dikatakan luas itu. Langkahnya terhenti tepat di depan Wonwoo yang masih terdiam. Ia mengulurkan tangan menatap tajam Wonwoo.

"Kunci. Aku minta kunciku." Wonwoo masih terdiam tak paham. "Kau bodoh atau tuli!? Aku minta kunci kamar ini!" Bentak Mingyu keras. Wonwoo mengambil kunci kamar yang tergeletak di samping tasnya dan menyerahkannya pada Mingyu. Ia akan meminta kunci cadangan pada petugas kebersihan nanti pulang sekolah.

"Lambat." Ejek Mingyu. Wonwoo membulatkan matanya. "Apa kau bilang?" Ucapnya. Mingyu terkekeh "dan tuli juga." Lanjutnya. Wonwoo hampir mengucap sumpah serapah saat namja berkulit tan itu memasuki kamar mandi. Wonwoo mengepalkan tangannya kesal dan memilih meninggalkan kamarnya segera.

.

"Ada apa denganmu? Matamu seperti panda saja~" Soonyoung berkata saat Wonwoo memasuki kelas. Teman - teman sekelasnya tak berubah dari saat kelas satu, dan ia mensyukuri hal itu.

"Diamlah Soonyoung. Aku sedang tak mood bercanda." Ucap Wonwoo. Soonyoung cemberut, Wonwoo yang bad mood sungguh tak bagus.

"Kau tahu? Murid baru itu masuk kelas sebelah lho! Untung saja dia tidak masuk kesini." Terdengar beberapa siswi perempuan bergosip. Wonwoo yang tak sengaja mendengar menghela napas panjang "dan aku harus rela setiap hari bertemu dengannya." Gumamnya sebal.

.

Seperti saat ini, Wonwoo lupa meminta kunci cadangan karena keasyikan berada di perpustakaan saat pulang sekolah. Ia baru menyadarinya saat penjaga mengatakan perpustakaan akan tutup beberapa menit lalu. Sialnya kamarnya dalam keadaan terkunci rapat. Ia ingin menghubungi Mingyu namun tak punya nomor ponselnya. Meminta kunci cadangan pada petugas kebersihan pun rasanya percuma, karena pak Lee hanya bertugas sampai sore hari. Malam hari seperti sekarang ini tugasnya digantikan oleh petugas yang lain.

Wonwoo mondar-mandir di depan kamarnya. Setelah sepuluh menit berpikir akhirnya ia melangkahkan kaki menuju ujung lorong, arah kamar Jeonghan.

Tok Tok Tok
Pintu kamar terbuka. Jeonghan dengan rambut panjang yang terurai menatap Wonwoo datar. Ditatap seperti itu Wonwoo hanya menelan ludah.

"Sunbae, apa Mingyu ada disini?" Tanya Wonwoo. Jeonghan menatap Wonwoo tajam dan menoleh kearah kamarnya sejenak. Beberapa detik kemudian Mingyu keluar dari kamar Jeonghan dan menutup pintunya keras.

"Mau apa kau?"

"Er.. a-aku maksudku aku belum mengambil kunci cadangan dan yah kau lihat pintu kamar kita terkunci. Jadi a-aku."

"Bodoh." Mingyu mendengus. Ia mengeluarkan kunci dari sakunya dan menyerahkannya pada Wonwoo.

"Pergilah dan jangan datang ke sini lagi." Ucapnya kemudian membanting pintu kamar Jeonghan tepat di depan hidung Wonwoo.

"Wah daebak! Aku benar benar seperti istri yang dicampakan saja." Wonwoo tertawa geli dengan pemikirannya sendiri. Persetan dengan Mingyu, ia lebih menginginkan mandi air hangat saat ini.

.

Wonwoo menguap saat Pak Jung menceritakan mengenai sejarah Korea. Sudah berkali kali ia membaca bagian ini sampai hapal di luar kepala. Menahan kantuk ia membuka sebungkus permen mint.

"Wonwoo ada yang mencarimu." Pak Jung berkata setelah berbicara dengan seseorang di luar pintu. Wonwoo mendongak dan menjawab 'ya' pelan. Ia tak terkejut saat mendapati Mingyu yang memanggilnya disaat jam pelajaran seperti ini.

"Kenapa?" Tanya Wonwoo malas.

"Kunci." Wonwoo menyerahkan kunci yang selalu ia bawa kemana mana.

"Sudah ya!." Wonwoo tertegun saat merasakan tarikan pada ujung lengan bajunya.

"Kau tahu apotik disekitar sini?" dengan pertama kalinya Wonwoo mendengar Mingyu yang seakan putus asa.

.

Saat ini Wonwoo dan Mingyu berada di apotik yang berada tak jauh dari sekolah. Wonwoo melihat Mingyu membeli beberapa antibiotik dan pereda sakit kepala. Ia juga membeli beberapa kassa dan perban, tak lupa beberapa obat luka.

Wonwoo tak berniat bertanya lebih jauh. Ia yakin Mingyu hanya akan menjawab dengan ketus pertanyaannya. Yang ia lakukan hanya duduk sembari memperhatikan gerak gerik Mingyu dari kejauhan. Wonwoo beranjak dari duduknya saat Mingyu mengisyaratkan untuk pergi.

Mereka berjalan dengan keheningan. Wonwoo tak ingin membuka pembicaraan dengan Mingyu. Namja bertubuh jangkung itu hanya akan ketus dan membentaknya saja. Seperti yang dilakukannya setiap mereka bertemu. Dulu Wonwoo akan mengepalkan tangannya kesal dan beralih menonjok boneka eddy miliknya hingga puas. Namun sekarang, ia lebih memilih mengabaikan bersikap tak peduli. Sesekali ia hanya akan mengorek telinganya malas. Wonwoo sudah kebal dengan sikapmu itu Mingyu!

"Jeonghan sakit." Ucapan Mingyu membuyarkan pikiran aneh Wonwoo.

'Aku tidak tanya!' Ingin rasanya Wonwoo berkata seperti itu, namun diurungkan saat dilihatnya ekspresi wajah Mingyu yang menunjukan kesedihan.

"Sunbae sakit apa?" Wonwoo tak sejahat itu untuk menyuarakan yang ada dipikirannya.

"Aku memang tak bisa menjaganya." Wonwoo mengernyitkan dahi bingung. Mingyu tak menjawab pertanyaannya dan sepertinya teman sekamarnyaitu sedang bermonolog ria. Wonwoo terdiam dan membiarkan Mingyu mengutarakan isi hatinya.

"Seharusnya 'dia' tak menyerahkannya padaku. Aku sungguh tidak berguna." Kali ini Mingyu menendang tiang listrik yang mereka lewati membuat Wonwoo terlonjak kaget.

"Aish. Kau ini membuatku kaget saja! Tiang tak bersalah kenapa kau tendang begitu!" Wonwoo mengusap dadanya berkali kali. Bisa copot jantungnya berdekatan dengan namja ini. Benar benar namja yang berbahaya.

Mingyu menghentikan langkahnya, ia tertegun menatap kedepan. Tak menghiraukan ucapan Wonwoo, Mingyu berlari ke arah asrama yang berada sepuluh meter di depannya. Sekilas terlihat kepulan asap di salah satu jendela lantai dua.

"Lantai dua, paling ujung? Bukannya itu kamar Jeonghan sunbae?" Tanpa pikir panjang Wonwoo pun berlari mengikuti langkah Mingyu.

Wonwoo melihat Mingyu membuka paksa pintu kamar Jeonghan yang terkunci. Dengan satu tendangan ia berhasil membuka kamar yang dipenuhi asap itu. Wonwoo menutup hidungnya saat kepulan asap menyambutnya di ambang pintu.

"SUNBAE!" Wonwoo berteriak saat melihat tubuh Jeonghan tergeletak disamping tempat tidur. Mingyu menyiram sesuatu diatas meja belajar, dimana kepulan asap itu berasal hingga kobaran api itu padam. Dengan tangan bergetar Wonwoo meraih tubuh Jeonghan dan memeriksa nafas dan denyut nadinya.

"Sunbae kesulitan bernafas dan denyut nadinya lemah. Kita harus membawanya ke rumah sakit." Ucapnya gemetar.

Terdengar sirine pemadam kebakaran di luar sana. Sepertinya pengurus asrama yang memanggilnya.

.
.

"Kau kacau." Soonyoung mengendus tubuh Wonwoo berkali kali. "-dan bau asap." Wonwoo mendelik kesal. "Bukan saatnya bercanda Soon!" Ucapnya kesal.

"Baiklah. Baiklah. Bagaimana keadaan Jeonghan?"

"Sedang ditangani dokter. Kuharap baik-baik saja."

"Tapi apa yang kau lakukan bersama Mingyu? dan kau tak kembali saat Sejarah." Soonyoung menyipitkan matanya menyelidik.

"Kami hanya ke apotik, Mingyu bilang Jeonghan sunbae sakit. Memang apa yang kau pikirkan, hamster?" Wonwoo menyikut lengan Soonyoung. Soonyoung balas menyikut Wonwoo.

"Sebaiknya kalian berdua pulang. Aku yang akan menunggunya disini." Mingyu menghampiri keduanya. "Bagaimana keadaannya?" Tanya Soonyoung.

"Belum sadarkan diri. Dokter bilang hanya shock."

"Baiklah. Sebaiknya kami pulang." Wonwoo memakai jas seragam yang sedari tadi tersampir di lengannya.

"Ah- kuncinya." Mingyu teringat.

"Berhati-hatilah dan jangan menungguku."

.
.

"Berhati-hatilah dan jangan menungguku."

Wonwoo mengulangi ucapan Mingyu berkali-kali.

"Daebak! dia sungguh mengucapkan itu ya?" Wonwoo kembali mengucapkan kalimat itu berkali-kali hingga bergulingan di ranjangnya.

"Mwoya! Apa yang kulakukan? Kenapa aku seperti ini!" Wonwoo memukul dahinya pelan. "Bodoh! Bodoh!"

.

TBC