Bayimu?
Disclaimer by Masasi Kisimoto
Naruto x Hinata
.
.
Naruto memutar bola matanya bosan saat mendengar ceramah sang Ibu yang selalu sama. Dia bahkan belum sempat beristirahat lebih dari sejam setelah perjalanannya dari Jepang, tapi Ibunya langsung menanyainya, mengintrogasi, dan menceramahi hal-hal yang selalu sama. Cukup membuatnya meragukan kabar kesehatan Ibunya yang dia dengar sebelum ini.
"Sudahlah Bu, biarkan aku istirahat dulu. Aku belum sejam sampai disini dan Ibu sudah berbicara panjang lebar." Ucapnya malas dengan wajah menekuk.
"Makanya lakukan apa yang Ibu mau. Cari pacar sana dan segera menikah." Tampaknya sang Ibu tidak mau mengalah, "Atau sekarang juga kau bersiap untuk kencan buta dengan orang pilihan Ibu."
"Ck," dia berdecak kesal karena kekesalan yang semakin menjadi. "Ibu, aku ke sini karena mendengar Ibu sedang sakit. Tapi sepertinya Ibu sangat sehat."
"Oh, jadi kalau Ibu tidak sakit, kau tidak mau bertemu Ibumu. Begitu, hah?"
"Ayolah Bu, aku belum mau menikah. Pekerjaanku di Namikaze Corp masih banyak."
Ting... sendok itu di taruh dengan kasar oleh sang Ibu.
Memang, saat ini mereka sedang makan malam. Tapi bukannya berlangsung nikmat, malah berakhir dengan pertengkaran. Kepala keluarga saja mulai jengah melihat itu. "Naruto, lebih baik kau diam dan makan."
"Aku sudah kenyang." Sreek,, Naruto berdiri dan ingin menuju kamarnya. Tapi sebelum dia sempat melangkah, suara sang Ayah yang menyuruhnya kembali duduk memaksa pria itu untuk menuruti mau tak mau.
"Katakan," Minato menaruh sendoknya dan mulai fokus pada putranya. Disampingnya, Kushina terlihat sudah enggan berbicara. "Kenapa kau belum mau menikah?"
"Sudah aku bilang pekerjaanku di Namikaze Corp masih banyak."
"Kau bisa mengurusnya dari sini."
"Aku ingin mengurusnya langsung, Ayah." Tatapan mereka bertemu, dan Naruto yang lebih dulu mengalihkan pandangannya. "Aku masih ingin di Jepang. Aku masih ingin kumpul dengan teman-temanku, aku masih ingin mengurusi bisnisku secara langsung, aku masih betah tinggal di sana."
Tatapan Minato dan Kushina berubah, sekarang mereka tahu alasan Naruto belum ingin menikah. Naruto tidak ingin meninggalkan Jepang dan hidup di Russia. Memang, Kushina dan Minato meminta Naruto untuk tinggal di Russia jika pria itu sudah menikah. Mempercayakan perusahaan di Jepang kepada orang lain, sementara dia mengurus perusahaan pusat di Russia.
Minato dan Kushina pikir, usia Naruto yang sudah menginjak 26 tahun cukup bagi pria itu untuk hidup bebas. Pemikiran dewasa Naruto pasti tidak akan memberatkannya untuk tinggal di Russia. Tapi mereka salah, pemikiran Naruto yang masih ingin bergabung dengan teman-temannya, mengurus perusahaan sesuai impiannya dan juga tetap ingin hidup bebas di Jepang ternyata belum cukup dewasa.
Tapi bagaimana lagi, Kushina sudah sangat ingin Naruto menikah dan hidup dengan mereka di Russia. Minato juga terlihat kewalahan karena harus memegang tanggung jawab lebih banyak. Sementara putra mereka satu-satunya, masih berpikir untuk hidup bebas.
"Apa kau tidak ingin mencobanya dulu?" Kushina kembali berbicara dengan nada yang lebih pelan, "Usiamu sudah dewasa, hanya karena tidak ingin tinggal di sini, bukan berarti kau tidak menikah."
"Aku akan menikah Bu, tapi tidak sekarang."
"Apa kau sudah punya calon?"
Naruto terdiam akan pertanyaan Ibunya, dia tidak menjawab dan menatap sang Ibu dengan pandangan datar. Dia bingung, satu-satunya wanita yang dia miliki hanya Hinata. Tapi apa hubungan mereka memang seperti itu? sepasang kekasih?
Dia saja tidak pernah ingin membahas tentang hubungan dan perasaan. Dia sadar jika hubungan mereka hanya berjalan tanpa kejelasan. Dia akan pergi ke kantor di pagi hari, bekerja dengan sesekali saling menghubungi dengan Hinata, pulang di malam hari, tidak banyak percakapan hingga mereka tertidur dan dia kembali pergi di pagi hari.
Bahkan mereka tidak pernah pergi berdua yang di sebut kencan. Sikap Hinata yang tidak menuntut apapun juga membuatnya semakin sungkan untuk berbicara lebih dulu. Jadi, apa nama dari hubungan mereka?
"Calon?" tanyanya setengah bingung. Kushina mengangguk sembari masih menunggu jawaban dari sang putra tercinta, berharap jika putranya setidaknya memiliki seseorang di sana. Tapi Naruto yang tidak kunjung menjawab membuat Kushina mulai naik darah lagi.
"Narut—"
Sreek..
Ucapan Kushina terputus saat Naruto berdiri. "Aku ingin istirahat sekarang." dan kali itu, dia benar-benar melangkah menuju kamarnya tanpa cegahan dari kedua orang tuanya.
.
###
.
"Hallo…"
"…"
"Hallo… Naruto-kun?" Pria pirang itu tersenyum mendengar suara lembut Hinata. Dia ingin bersama wanita itu sekarang. "Naruto-kun, kenapa kau diam saja?"
"Apa yang bisa aku katakan disaat aku hanya ingin mendengar suaramu?" senyumnya semakin lebar saat Hinata terdiam, dia yakin sang wanita tengah merona sekarang. "Apa aku mengganggu?" suaranya sedikit serak sembari membaringkan tubuhnya.
"Tidak, aku senang kau menelpon."
"…"
"…"
"Hinata.."
"Hm?"
"Apa keadaan Ayahmu baik-baik saja?"
"Keadaannya masih sama, belum ada perubahan. Kenapa kau tiba-tiba bertanya, Naruto-kun?"
"Tidak ada," jawabnya singkat dan sedikit tegas, dia yakin Hinata tidak akan bertanya lebih jika dia sudah berbicara begitu. Dia sebenarnya tidak keberatan jika Hinata mencampuri beberapa urusannya dan menanyakan hal-hal yang ingin wanita itu ketahui, tapi dia juga sadar jika karenanya Hinata begitu.
Dia ingat saat di awal-awal hubungan mereka sebelum malam itu terjadi. Hinata sering bertanya banyak hal dan selalu dia jawab, tapi saat Hinata menanyakan satu hal pribadi, dia diam dan langsung merubah ekspresinya menjadi datar. Sejak itu dia merasa Hinata tidak seaktif sebelumnya dan itu berlanjut sampai sekarang.
Apalagi sejak hubungan tak jelas mereka mulai terjadi. Naruto juga sadar jika dia tidak seharusnya memperlakukan Hinata seperti itu. Dalam hati dia berjanji akan merubah kebiasaannya saat pulang. Setidaknya dia akan berada di jangkauan pandangan Hinata ketika wanita itu bangun di pagi hari.
"Naruto-kun, kenapa kau diam lagi?"
Dia tersenyum lagi saat suara Hinata mulai merengek. Ah, dia ingin sekali memeluk wanitanya. Ugh, seketika hatinya sedikit nyeri karena lagi-lagi dia berpikir apa Hinata memang wanitanya? Tapi bukankah memang begitu, karena tidak ada wanita lain bagi Naruto selain Hinata. "Tidak apa. Sudah dulu, aku ingin tidur." Setelah mendengar gumaman pelan Hinata, Naruto memutuskan panggilan.
"Hinata.." lirihnya memanggil nama itu. Tanpa sadar jika Kushina mengintip dan mendengar percakapan itu dari balik pintu.
Hah, Naruto menghela nafas dan memejamkan matanya, mencoba mengingat kenangan lama.
Flashback
Saat itu jam menunjukkan waktu istirahat bagi seluruh penghuni KHS. Tapi Naruto yang sudah jelas tidak masuk dari pelajaran pertama terlihat berbaring santai di bawah pohon belakang sekolah. Semilir angin menerbangkan helaian rambut pirangnya.
Kresek… suara kecil yang muncul dari balik pohon lain membuatnya tersenyum. Bukannya ia tidak tahu kalau ada seorang gadis yang sering mengintainya dari jauh. Dia sadar tapi tidak ingin melakukan apa-apa. Entah kenapa, dia merasa senang saat ada orang yang memperhatikannya dari balik bayang-bayang.
"Hallo.." dia membuka mata saat suara lembut yang berbisik terdengar, dia menoleh dan melihat gadis tadi berjalan menjauh dengan sebuah ponsel di telinganya.
Ah, pengagumnya sedang menerima telpon.
Merasa penasaran. Dia mengikuti stalkernya itu secara diam-diam. Membuatnya tanpa sadar telah melakukan hal yang sama dengan sang penguntit. Sebut saja begitu.
Dia berdiri di balik tembok dan mulai memasang telinga. Tersenyum saat suara sang gadis masuk ke telinganya.
"Iya Ayah, aku akan langsung pulang nanti."
"…"
"Ayah, aku sudah besar, jangan bilang begitu."
"…"
"Uh-um. Ayah pasti bisa melakukannya. Suara hari nanti aku akan menggenggam tangan Ayah saat kita berjalan di altar pernikahanku. Jadi Ayah tidak boleh bilang begitu. Impian Ayah yang ingin mengantarku di altar pernikahan akan terjadi nanti."
"…"
"Kan sudah aku bilang nanti. Aku juga masih ingin lulus sekolah, kuliah, dan bekerja sebelum menikah. Iya…"
Dan percakapan itu terlihat semakin panjang, tapi Naruto hanya tersenyum dan tetap berdiri. Dia juga pernah memiliki impian yang sama dengan Ayah gadis itu saat dia berusia 10 tahun.
Saat dia mengikuti kedua orang tuanya dalam acara pernikahan. Dia bukannya kagum dengan pengantin pria yang keren, dia justru kagum dengan Ayah sang pengantin yang terlihat gagah dan tegar melepas sang putri.
Dia menoleh ke Ayahnya dan bertanya apa Ayahnya akan mengantarnya begitu saat dia menikah, lalu Ayah dan Ibunya tertawa, mereka menjawab itu hanya di lakukan Ayah yang memiliki seorang putri.
Dari itu, impian pertamanya ingin memiliki seorang anak perempuan agar bisa mengantar sang anak di altar saat pernikahan anaknya.
Dan sekarang, dia mendengar ada seseorang dengan impian yang sama. Mungkin dia saja yang terlalu naïf. Tentu saja mengantar putri ke altar adalah impian setiap Ayah. Dia memang bodoh, tapi dia tidak membuang impian itu. dia masih menginginkannya.
Naruto menoleh sekilas kepada gadis yang masih menelpon disana. "Impianmu dan Ayahmu, aku ingin melihatnya terjadi di depan mataku." Ucapnya pelan seraya tersenyum lembut. Dan selanjutnya dia pergi untuk menyudahi acara mengupingnya.
Flashback off..
Safir Naruto terbuka dan tatapannya menerawang. Setelah dia menikah, dia akan tinggal di Russia. Jika pengantinnya Hinata, apa mungkin wanita itu mau meninggalkan Ayahnya di Jepang? Belum lagi mengenai kondisi dan impian Hiashi. Kalau dia belum sadar, bagaimana dia bisa mengantar Hinata di altar?
Menggelengkan kepalanya pelan, Naruto mencoba mengusir pikiran itu. Sebelum memikirkan semua itu, seharusnya dia lebih dulu memikirkan perasaan Hinata dan hubungan mereka. Tidak mungkin dia tiba-tiba mengajak wanita itu menikah tanpa ungkapan apapun tentang perasaannya.
.
###
.
Minato mengangkat sebelah alisnya saat melihat tiket yang ada di tangannya. "Jepang?" dia mengalihkan tatapannya pada sang istri yang sedang tersenyum ganjil padanya. "Maksudmu liburan?"
"Semacam itulah?"
"Untuk apa? Kita bisa pergi bersama Naruto nanti, sekalian mengantarnya pulang ke sana."
"Ya ampun," Kushina menepuk dahinya, "Minato, sayang. Kita ke sana untuk menjemput calon menantu kita yang mungkin sudah ada. Tidak boleh memberitahu Naruto adalah peraturan pertama."
"Aku tidak tahu jika yang membuat peraturan sekarang bukan aku lagi, hm?" Minato tersenyum jahil menatap istrinya dengan sorot menggoda. Ya ampun, aku harus sabar, batin Kushina.
"Kalau kau menuturi peraturanku sampai kita punya menantu, maka aku akan menuruti peraturanmu."
"Deal," Kushina terdiam saat Minato menyetujui hal itu dengan cepat, dia yakin hal itu tidak akan baik untuknya nanti. Tapi yang terpenting, Minato membantunya sekarang. "Jadi, kapan kita pergi, istriku?"
Kushina bergidik mundur karena suara Minato yang berbisik. Oke, dia harus mengalihkan suasana sebelum dia di serang. "Hm, tiga hari lagi. Sehari setelah Naruto kembali ke sana."
"Kalian mau pergi ke mana?" Kedua suami istri itu cukup kaget saat Naruto datang dan langsung bertanya. Hm, semoga putra mereka tidak mendengar apapun. "Kalian mau pergi?"
"Begitulah," jawab Kushina sekenanya sambil menyembunyikan tiket agar tak terlihat. "Kenapa, kau mau ikut kami? Bisa saja kepergian kami kali ini akan membuat rumah ini ada seorang bayi."
Tring,, sumpit Naruto terjatuh dan dia menatap tak percaya kedua orang tuanya. "Hei, kalian tidak berniat memberiku adik di usiaku yang sekarang kan? Ayolah, rasanya aneh kalau harus memiliki adik dengan jarak umur sampai 26 tahun."
Bletak.. garpu mendarat pada tempat yang tepat. Kushina sang pelaku hanya mendengus pelan tanpa menjawab. Walau dia ingin sekali menjawab kalau bayi yang dia maksud bukan anak kedua keluarga Uzumaki tapi cucu dari keluarga Uzumaki alias anak Naruto.
Tapi kalau dia mengatakan hal itu, pasti Naruto akan langsung protes di awal. Huh, anaknya memang tidak peka tentang apa yang dia inginkan.
"Sudahlah, makan dulu baru bertengkar lagi," err… sepertinya Minato bukan penengah yang baik. "Naruto, apa kau masih lama di sini?"
"Hm, aku beren –"
Drrtt ddrrrtt… getaran ponsel itu menghentikan ucapan Naruto. Pria 26 tahun itu mengernyit dan segera menjawab panggilan di ponselnya. "Hallo?"
"…"
"Apa?" Naruto sontak berdiri dengan rahang mengeras, "Bagaimana bisa, aku menyuruhmu untuk menjaganya, bodoh."
Klik.. dia menutup telpon itu segera dan langsung berlari ke kamarnya. Membuat Kushina dan Minato bahkan tak sempat bertanya.
Lima menit kemudian Naruto turun dari lantai atas dengan tergesa. Namun langkahnya terhenti di ruang keluarga karena halangan sang Ibu. "Kau mau ke mana? Apa ada yang terjadi?"
"Ibu aku harus kembali ke Jepang sekarang, ada urusan penting yang harus aku tangani."
"Bukankah kau baru dua hari disini? jadwalmu pulang itu dua hari lagi. Ibu bahkan masih rindu padamu."
Naruto menghembus nafas kasar akan perlakuan sang Ibu. "Ayolah, Bu. Ini sangat penting."
"Apa masalahnya?"
"Itu…" Naruto terdiam karena tidak bisa melanjutkan kata-katanya, selanjutnya dia menunduk dan mengepalkan tangannya menahan kepanikan, "Ada masalah penting di kantor yang harus aku urus segera." Lanjutnya dengan suara pelan.
Tapi Kushina mendengus karena jelas dia tahu kalau sang putra tengah berbohong. Tapi saat Naruto memohon lagi, dia hanya diam dan tidak menghalangi putranya yang melanjutkan perjalanan.
Tak lama Minato datang menghampirinya. "Aku melihatnya pergi dengan meminta antar supir ke Bandara." Pria itu memeluk erat sang istri dari belakang.
"Ya, dan kita juga harus bersiap. Kita pergi hari ini juga."
Minato menghela nafas dan membalik tubuh Kushina agar mereka berhadapan, "Kau bilang tiga hari lagi?"
"Kau tidak lihat ekspresinya? Aku yakin pasti dia pulang karena ada yang terjadi dengan calon menantuku."
"Bagaimana kau bisa yakin tentang calon menantu itu?"
"Aku semalam mendengar percakapannya yang sedang menelpon seseorang, dari nama yang dia sebut, aku yakin itu adalah seorang perempuan. Ya ampun, kau tidak lihat ekspresinya, anata. Aku baru sekali itu melihat sorot matanya yang terlihat begitu tulus dan bahagia, walau juga terdapat keraguan dan beban di sana."
Minato mengelus surai sang istri saat Kushina menunduk mengingat kegiatannya semalam. Bagaimana dia melihat ekspresi Naruto yang senang saat menelpon, tapi kadang berubah sendu. Dia tahu jika anaknya sedang jatuh cinta. Dia yakin itu.
Dia juga yakin kalau ada sesuatu yang tidak bisa di ceritakan putranya hingga belum menikahi gadis itu. Nah, untuk hal itulah dia mau pergi ke Jepang dan menyelidiki masalah itu sendiri.
"Kushina?"
"Sorot matanya terlihat menyesal dan kecewa pada diri sendiri. Aku tahu kalau ada sesuatu tentang perempuan itu yang membuatnya sedih. Dari itu kita harus membantunya, Minato."
Minato mengangguk dan menangkup wajah sang istri. "Iya, kita akan membantunya. Tapi kita harus menunggu setidaknya sampai penerbangan selanjutnya, bukan?" Kushina menghela nafas lelah karena menyadari perkataan Minato yang benar.
Tidak mungkin mereka satu pesawat dengan Naruto. "Jadi, sebelum kita pergi…" Minato mendekat dan mengecup lembut bibir Kushina. Lembut, perlahan, dalam. Tapi kelamaan semakin dalam dan mulai panas. Lumatan-lumatan yang dia lakukan menghanyutkan Kushina pada keinginan yang sama.
.
###
.
Tap tap tap… langkah itu berlari dengan cepat tanpa menghiraukan setiap tatapan yang menuju kearahnya, dia juga masa bodo dengan umpatan orang-orang yang dia tabrak. Sesuatu yang lebih penting dari itu harus segera ia temui.
Naruto baru sampai di Bandara Jepang saat dia langsung berlari mencari taxi. Tak ada sedikitpun pikiran untuk beristirahat walau sejenak. Kabar yang dia dengar dari bawahannya membuatnya sangat kesal dan mengumpat dirinya sendiri berkali-kali.
"Naruto-sama,, ehm,, Hinata-sama mengalami kecalakaan dan sekarang sudah di bawa ke rumah sakit."
Itulah sebaris kalimat yang membuatnya tanpa pikir panjang langsung melaju ke Bandara, membeli tiket dan pulang dengan rasa khawatir tingkat tinggi. Hinata. Wanitanya kecelakaan saat dia tidak ada di sisi wanita itu. kalau sudah begini, bagaimana mungkin dia akan berpikir untuk bisa jauh dari wanita itu lagi?
Brak.. pintu salah satu ruangan VIP di rumah sakit itu ia buka dengan kasar. Dia mengatur nafasnya sejenak saat melihat dokter pribadinya sedang memeriksa keadaan Hinata yang terlihat bagaikan orang tidur.
"Keadaannya… bagaimana keadaannya?"
Sang dokter tersenyum melihat penampilan Naruto yang acak-acakan. Sudah dia hafal kelakuan Naruto yang selalu over panik jika itu menyangkut Hinata. Bahkan jika Hinata sakit sedikit saja, ponselnya tidak akan berhenti berbunyi sebelum dia sampai di apartemen Naruto.
"Keadaannya sudah baik-baik saja. Dia hanya mengalami sedikit luka di kaki dan sedikit demam. Daya tahan tubuhnya lemah. Mungkin dia kelelahan dan agak stress.. tapi kandungannya baik-baik saja."
DEG
Naruto membeku, matanya melebar, dan seketika dia sulit bernafas. Apa yang di katakan dokter pribadinya itu? Kandungan? Kandungan siapa?
"Maksudmu apa,, Shizune-san?"
Shizune mengangguk pelan, "Hinata-san sedang hamil, usianya sudah masuk satu bulan tapi karena kandungannya kuat jadi baik-baik saja saat Hinata-san mengalami kecelakaan. Sebenarnya yang aku dengar, dia hanya terserempet mobil sedikit."
Penjelasan Shizune tidak lagi di dengar oleh Naruto, nyawanya serasa melayang mengetahui kalau Hinata hamil. Hinata hamil anaknya. Tidak mungkin yang lain, pasti anaknya, darah dagingnya.
"Tapi Naruto, tumben kau lumayan lama sampainya. Biasanya tidak lebih dari sejam kau sudah datang."
"Karena aku baru saja dari Russia." Jawaban itu bagaikan angin.
Shizune ber-oh dan mengangguk lagi sebelum akhirnya dia berpamitan pergi. Meninggalkan Naruto yang menatap Hinata dengan pandangan kosong. Hanya mereka berdua dalam kesunyian.
.
###
.
Pagi kembali menyembunyikan malam. Udara kembali terasa begitu segar karena hujan yang kembali mengguyur waktu malam. Terlihat dari balik jendela sebuah ruangan di rumah sakit. seorang wanita terbaring dengan mata terpejam, wajah tenangnya menunjukkan jika mungkin dia sedang mengalami mimpi indah di alam bawah sadarnya.
Berbeda dengan ekspresi seorang pria yang tertidur di sampingnya. Duduk dikursi dengan kepala yang di tumpukan ke ranjang. Tangan pria itu memegang erat tangan sang wanita seolah takut lepas. Safir birunya terpejam. Dia tertidur tapi raut wajahnya seperti menunjukkan kalau dia sedang mimpi buruk.
Tapi tidak lama, karena sedikit gerakan dari sang wanita langsung menariknya menjauh dari mimpi buruk itu. Dengan segera matanya terbuka lebar sembari menunggu dengan sabar amethyis sang wanita untuk terbuka.
Dan saat amethyis wanita itu terbuka, tatapan mereka langsung bertemu. Mengumpulkan setiap kesadaran dari keterpanaan masing-masing. "Hinata?"
Ajaibnya, nama itu terucap lebih dulu dari mulut sang pria. Biasanya, setiap kali kedua orang itu terbangun, maka sang wanitalah yang mengucap nama sang pria, entah dalam arti memanggil atau terkejut. "Hinata, kau sudah sadar?"
"Na-naruto-kun.." suara itu begitu lirih walau tentu masih akan terdengar karena sunyinya kamar itu.
"Iya ini aku. Tenanglah, aku ada di sini." Sang pria langsung tersenyum dan mengecup hangat kening sang wanita, membawa kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh sang wanita. "Apa kau baik-baik saja? Maksudku, apa ada yang terasa sakit?"
"Kakiku sedikit nyeri,, tapi tidak apa."
Naruto mengangguk dan menggenggam erat tangan Hinata. "Kemarin kau kecelakaan dan itu membuat kakimu terluka. Walau kata Shizune-san sudah baik-baik saja, kau tetap harus istirahat, hm?"
Hinata mengangguk, bagaimanapun, wanita itu tidak pernah membantah perkataan pria itu setelah dia memutuskan untuk menjalin hubungan abstrak mereka. "Naruto-kun, kenapa di sini?"
"Aku pulang kemarin karena urusan di sana sudah selesai, dan aku mendengar kau masuk rumah sakit. Makanya aku di sini sekarang." nadanya datar dan tenang, seolah tidak berniat menunjukkan seberapa panik pria itu kemarin.
Hinata mengangguk lemah, entah kenapa dia malas membahas hal-hal lain sekarang, kepalanya terasa sedikit pusing jadi lebih baik jika dia diam. "Kau kenapa? Apa kepalamu pusing?"
Hinata tersenyum tipis saat menyadari kalau Naruto selalu bisa menebak apa yang dia rasakan. Tapi dia bingung kenapa Naruto tidak bisa mengetahui perasaaanya yang terdalam, keinginan terbesarnya, dan mimpi mustahilnya. Dia menggeleng sambil tersenyum, memberi jawaban menenangkan untuk sang pria.
"Kau jangan terlalu lelah lagi sekarang, kau juga tidak boleh banyak pikiran." Tangan kanan Naruto berpindah keatas perut datar sang wanita sambil tersenyum ia berkata, "Karena kalian butuh istirahat."
Hinata terdiam, menatap tidak mengerti kearah Naruto. Dia menggerakkan kepalanya untuk melihat perutnya yang di elus pelan oleh Naruto. Dia kembali menatap Naruto dengan pandangan bertanya. "Kalian?"
Naruto mengangguk, "Kalian. Kau dan dia." Lagi, Naruto mengusap pelan perut Hinata.
"Aaappaa?" terbata Hinata bertanya setelah mencerna maksud dari Naruto. Membuat pria itu tersenyum tipis karena reaksi Hinata tidak jauh darinya kemarin. Sesaat setelah Shizune meninggalkannya, dia terduduk dan hanya bisa terdiam sambil memandangi Hinata selama berjam-jam.
"Maksudmu?"
"Kau hamil, Hinata. Disini.." Naruto melirik sekilas perut sang wanita, "..disini ada anakku."
Hinata terdiam antara percaya tak percaya. "Tak mungkin," sangkalnya lirih, "Aku selalu meminum pil itu setiap pagi bahkan sudah seperti kebiasaan. Tidak mungkin jika... kenapa bisa?"
"Karena dua bulan lalu, aku sudah mengganti semua pil itu dengan pil vitamin biasa."
Mata amethyst Hinata melebar dan dia menutup mulutnya tak percaya. Kenapa? Kenapa Naruto melakukan itu? Bukankah tanpa kehadiran bayi akan lebih baik untuk hubungan mereka yang tidak jelas? Hinata tidak ingin membuat bayi itu tersiksa jika harus hidup dalam kehidupan tak jelas Ayah Ibunya.
"Kau… tapi… tak mungkin… kenapa?"
Naruto menghela nafas dan mengalihkan tatapannya. Sikap yang Hinata hafal yang selalu pria itu lakukan ketika tidak ingin membahas suatu masalah. Dan Hinata tidak di ijinkan untuk memaksa lebih jauh. Sakit, jika biasanya Hinata menerima hal itu. Tapi kali ini terasa sakit. Dia hanya ingin tahu kenapa Naruto melakukan itu, tapi pria itu tidak ingin mengatakan apapun.
"Naruto-kun.." nada itu mendesak, tapi di acuhkan oleh Naruto. Pria itu justru meraih makanan yang di antar perawat pagi ini.
"Kau harus makan, Hinata."
Naruto melihat posisi Hinata yang masih berbaring. Tanpa mengindahkan tatapan Hinata, dia membantu sang wanita untuk terduduk dan mulai menyuapi sang wanita. Hinata hanya menoleh kearah lain untuk menolak suapan itu. Bagaimana mungkin ia bisa makan di saat dia masih dalam keadaan… terkejut? Bukan,, bingung tentang apa yang terjadi.
Melihat respon Hinata, Naruto menghela nafas. "Hinata, kau harus makan agar cepat sembuh." Dia membujuk tapi sang Hyuuga tetap mengabaikannya. "Hinata, ingatlah kau sedang hamil. Kau harus makan agar bayiku baik-baik saja."
Huh, sekarang wanita itu mengerti. Dia tersenyum miris saat kata-kata Naruto benar-benar menyakitinya. 'Bayiku', huh? Apa itu bukan bayi Hinata? "Ya," ucapnya pelan, "Ini bayimu, Naruto-kun." Lanjutnya dengan menekan nada bicaranya.
Naruto tersentak dan menyadari kesalahannya. Oh shit! Lagi-lagi dia bertindak bodoh dan berbicara tanpa di saring. Bodoh adalah kata paling tepat untuknya.
Naruto menaruh piring itu kembali dan berdiri. Dia harus menenangkan diri sebelum melakukan hal bodoh lainnya.
Hinata mengigit bibirnya saat Naruto justru meninggalkannya. Setetes air matanya jatuh, tapi dengan cepat di hapusnya. Dia tidak boleh menangis dan tidak boleh strees. Ya, dia tidak boleh strees karena itu akan mempengaruhi bayi… bayi Naruto..
Tes tes.. air mata itu justru turun semakin deras. Dia, Hyuuga Hinata, wanita yang selalu berada di sisi Naruto dalam bayang-bayang menangis tanpa suara.
.
.
TBC
.
.
.
Wah ternyata ada yang suka dan review. Senangnya, padahal nggak terlalu banyak berharap karena aku masih newbie. Terima kasih ya untuk kalian semua yang udah baca, review, faf, dan follow. Aku seneng deh, beneran.
Special thanks to :
Anggredta Wulan, Hime Hime Lavender, AnRe, Vi2NHL, hima, Ero-Reader, Ginanjar, ana, loversnrt, Noor236.
Fic ini nggakkan terlalu panjang kok. Cuma beberapa chapter aja. Sankyuuu minna-san.. bye..
