Taeyong masih ingat jelas dengan tahun pertamanya di Hogwarts. Ia masih ingat bagaimana ia berdiri dengan gugup, sendirian, di tengah-tengah keramaian orang banyak yang tengah menyampaikan salam perpisahan kepada keluarga masing-masing di peron stasiun. Ayahnya memang hanya mengantarkan sampai pintu gerbang stasiun, diburu-buru oleh waktu dan tugas-tugasnya sebagai seorang dosen di universitas ternama. Ibunya sendiri sama sekali tidak bisa mengantarkan, sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang dokter. Taeyong sesungguhnya tidak masalah. Ia sudah terbiasa melakukan segalanya sendiri sejak kecil.
Taeyong ingat bahwa ia langsung memilih untuk menempati sebuah kompartemen kosong di ujung gerbong kereta tempatnya berada. Ia sudah mengira bahwa ia akan menikmati sisa perjalanannya sendirian, sampai tiba-tiba pintu kompartemen terbuka, menampilkan dua sosok lelaki yang Taeyong kira berusia sebaya dengannya.
Itulah awal mula perkenalan Taeyong dengan Hansol dan Johnny.
Of Charms and Potions
Various NCT Pairings
Romance, Fantasy, Friendship
NCT © SM Entertainment
"Ah, aku menyerah!"
Perhatian Hansol yang sebelumnya tercurah sepenuhnya pada esai Sejarah Sihir yang sedang ia kerjakan, teralihkan begitu mendengar erangan frustasi yang keluar dari sosok pria bersurai cokelat karamel yang duduk tepat di hadapannya. Hansol hanya menatap sosok pria tersebut, yang merupakan sahabatnya sejak kecil, dengan tatapan jengah.
"Hansol, bagaimana kalau kau saja yang mengerjakan esai Herbologiku?" Sahabat Hansol yang bernama Johnny itu menatap Hansol penuh harap, ia bahkan mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Hansol dan menggenggamnya erat. "Aku benar-benar tidak tahan lagi. Aku sudah mengerjakan esai ini sejak kemarin malam, tapi anehnya tulisanku tidak pernah mencapai batas ketentuan minimum yang diminta oleh Profesor Sprout. Dan esai ini harus dikumpulkan beberapa jam lagi, Hansol! Astaga, aku bisa gila."
"Kau hanya memiliki tingkat konsentrasi dan kemauan untuk mengerjakan tugas yang payah, John," Hansol berkata dengan nada bosan, menarik tangannya agar lepas dari genggaman erat Johnny. "Kau seharusnya mengerjakan esai itu sejak hari dimana Profesor Sprout menugaskannya padamu, jadi kau tidak akan kepayahan seperti sekarang."
"Kau kan tahu sendiri kalau aku sibuk," Johnny memulai aksinya mencari-cari alasan. "Banyak sekali tugas yang harus kukerjakan, mulai dari esai Herbologi ini sampai esai Transfigurasi tentang Inanimatus Conjurus Spell. Belum lagi praktek-praktek Ramuan. Dan latihan Quidditch—"
"Latihan Quidditch bahkan belum dimulai."
"—yang akan dimulai sebentar lagi," Johnny menambahkan, cengiran terdapat di wajahnya.
"Aku tahu kau itu benar-benar menyukai Quidditch," Hansol menghela napas, meletakkan pena bulunya, menghentikan kegiatan mengerjakan esainya sesaat untuk menatap Johnny dengan kedua bola matanya yang besar. "Tapi kau harus mengatur prioritasmu, Youngho. Kau sudah menjadi murid tahun kelima sekarang, ada O.W.L menanti di bulan Juni nanti. Cobalah serius sedikit."
"Aku sudah serius," Johnny merengut. "Tapi tahun ini adalah tahun terakhir William menjabat sebagai kapten Quidditch, dan dia benar-benar berambisi untuk mengantarkan Gryffindor memenangkan piala kejuaraan antar asrama. Ia bahkan tidak mempedulikan N.E.W.T-nya sama sekali."
"Hanya karena Ackerman tidak mempedulikan N.E.W.T-nya, bukan berarti kau bisa memperlakukan ujian O.W.L-mu dengan cara yang sama," Hansol berkata, menyentil dahi Johnny dengan jari-jarinya, membuat pria keturunan Korea-Amerika itu mengaduh. "Cepat kerjakan esai Herbologimu, aku temani. Aku punya waktu 30 menit sebelum harus masuk ke kelas Jimat dan Guna-Guna."
"Tidak mungkin aku menyelesaikan esai ini dalam waktu 30 menit!"
Hansol hanya mengedikkan bahunya, meraih sebuah pena bulu yang sedaritadi diabaikan oleh Johnny, dan meletakannya secara paksa di dalam genggaman sahabatnya itu. Ia lalu kembali memfokuskan dirinya untuk mengerjakan tugas miliknya sendiri, tidak mempedulikan tatapan memelas yang dilayangkan oleh Johnny padanya.
Johnny masih diam saja selama beberapa detik berikutnya, sebelum ia akhirnya menghela napas, mengaku kalah, menuruti perintah Hansol untuk melanjutkan kembali esai Herbologinya.
Terjadi keheningan di antara sepasang sahabat itu, keduanya sama-sama larut dalam tugas masing-masing. Beberapa menit berselang, dan Hansol memutuskan untuk beristirahat sejenak, mengistirahatkan tangannya yang sudah mulai pegal menulis. Ia mendongakkan kepala, pandangannya jatuh pada sosok Johnny yang masih berkutat dengan esainya.
Sebuah senyum tipis terulas di wajah Hansol, sebuah senyuman yang jarang ia perlihatkan kepada khalayak banyak, kecuali Taeyong dan Johnny—terutama Johnny—karena kedua orang tersebut merupakan teman terdekatnya, dan Hansol merasa paling nyaman ketika bersama dengan keduanya. Hansol memang bukan tipe orang yang murah senyum dan tawa, ia lebih sering memasang wajah tanpa ekspresi—Johnny selalu menyebutnya sebagai wajah tidak tahu apa-apanya Hansol.
Hansol benar-benar menghargai kehadiran Johnny di hidupnya. Meskipun sahabatnya itu memiliki sifat yang benar-benar bertolak belakang dengan dirinya, Hansol benar-benar menyukai keberadaan Johnny di sisinya. Sifat Johnny yang menyenangkan dan lucu, selalu menjadi penyeimbang yang pas untuk sifat Hansol yang lebih serius dan cenderung kaku.
"Aku tahu aku tampan, tapi tidak usah dipandangi terus-menerus seperti itu, bisa? Aku jadi malu."
Lamunan Hansol buyar, hanya untuk mendapati Johnny yang nyatanya telah sadar bahwa Hansol memandanginya sedaritadi. Hansol lagi-lagi memutar bola matanya, mencibir karena mendengar ucapan terlalu percaya diri yang dikeluarkan oleh Johnny.
"Diam dan kerjakan saja esaimu, Youngho."
Hansol kembali mengerjakan tugasnya setelah mengatakan satu kalimat tersebut, dan Johnny dibuat tertawa pelan karenanya. Dengan kepala Hansol yang sepenuhnya tertunduk dan tatapan yang terfokus pada lembaran perkamen yang berada di hadapannya, kini giliran Johnny untuk mengamati sosok sahabatnya itu.
Johnny menatap sosok Hansol lamat-lamat, mulai dari helai poni pirang keemasannya yang menjuntai panjang, jatuh menutupi dahi, bibir merah ranumnya yang kini tengah terkatup rapat, kebiasaan Hansol ketika sedang serius, serta sepasang netra cokelat mudanya yang besar, sepasang mata favorit Johnny. Johnny selalu mengatakan bahwa mata Hansol memberikan sinar polos dan naif, selalu membuatnya tanpa sadar mencari-carinya di tengah-tengah kerumunan para penonton Quidditch ketika dirinya bertanding, semua karena menatap mata Hansol selalu berhasil membuat Johnny tenang, membuat perasaan gugupnya berkurang dengan drastis.
Sama seperti Hansol, Johnny juga begitu menyayangi sahabatnya sejak kecil itu. Ia ingat betapa kesalnya ia ketika orangtuanya memutuskan untuk pindah dari Chicago ke London ketika dirinya berusia tujuh tahun, padahal ia sedang benar-benar sangat senang menghabiskan waktu dengan teman-temannya di tanah kelahirannya itu. Namun kemudian ia bertemu dengan Hansol di London, dan ia tak pernah lagi merutuki orangtuanya karena telah mengambil keputusan sepihak untuk pindah ke ibukota Britania Raya tersebut.
Bagi Johnny, Hansol adalah salah satu hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupnya. Sahabatnya itu selalu menemaninya dalam momen apa pun di hidupnya, dan Johnny yakin, Johnny tahu, bahwa Hansol tak akan pernah meninggalkannya dalam kondisi apa pun.
"Youngho, esaimu."
Johnny menunjukkan cengirannya lagi ketika mendengar teguran dari Hansol, yang tampaknya sadar betul dengan pandangan Johnny yang sedaritadi jatuh padanya, meskipun matanya tak meninggalkan esainya sama sekali.
Johnny kembali menggerakkan pena bulunya di atas lembaran perkamen, dengan sebuah senyum terkulum di bibirnya.
"Woah, Sicheng. Kenapa tiba-tiba warna rambutmu gelap begini, huh? Terjadi sesuatu dengan dirimu?"
"Kurang tidur," Sicheng menjawab dengan gerutuan pelan, matanya terpejam erat, kepala tertelungkup di atas meja. "Jangan ganggu aku, Jackson. Pergi sana."
"Kau harusnya memastikan bahwa kau sudah membuka matamu sepenuhnya sebelum datang ke kelas, kau tahu?"
"Diam," Sicheng menghembuskan napas kasar, menahan diri untuk tidak menyumpal mulut teman satu mejanya ini dengan sebuah mantra. Kalau tahu begini jadinya, ia tidak akan memilih untuk berbagi meja dengan Jackson sejak awal. Ia sedang butuh ketenangan, sedangkan Jackson sendiri terkenal dengan reputasinya sebagai Slytherin paling berisik di seantero Hogwarts.
Ia hanya ingin tidur, demi Merlin.
Wajah Sicheng saat ini memang tersembunyi dengan sedemikian rupa karena ia menelungkupkan wajahnya di atas meja, tapi kalau ia mengangkat wajahnya, maka akan langsung terlihat kantung mata hitam hasil dari kurangnya tidur yang dialami oleh Sicheng sejak ia memulai tahun kelimanya di Hogwarts.
Dan karena kurang tidurnya itu, yang mengakibatkan Sicheng terus merasa kelelahan sepanjang waktu, ia mengalami sedikit kesulitan dalam mengendalikan kemampuannya sebagai seorang Metamorphmagus, yang mengakibatkan rambut warna-warninya menghilang, meninggalkan rambut berwarna hitam kusam yang menampilkan kesan suram.
"Aku bisa mencuri ramuan tidur dari Madam Pomfrey kalau kau mau," Jackson menawarkan, terdengar kelewatan bersemangat karena usulannya sendiri. "Kau akan langsung tertidur pulas, tanpa mimpi. Benar-benar ramuan yang hebat, dia itu."
Sicheng hanya menggelengkan kepala terhadap usulan Jackson, sebelum akhirnya ia mengangkat wajahnya, menyenderkan tubuh di kursi yang ia tempati. "Kenapa Profesor Binns belum datang juga? Ia sudah terlambat selama—coba lihat jam milikmu, Jacks—dua menit."
Ketika Sicheng mengangkat kepalanya, Jackson langsung menatap ngeri pada kantung mata yang berada di wajah pria kelahiran China itu. "Kau sepertinya benar-benar butuh tidur, mate. Apa sih yang membuatmu susah tidur? Pelajaran? O.W.L?"
Sicheng menghela napas, sekali lagi menggelengkan kepala. "Masa bodoh dengan O.W.L."
"Lalu kenapa?"
Sicheng hanya mengedikkan bahunya, memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan Jackson.
Mana mungkin kalau aku mengatakan yang sejujurnya, kan? Bahwa aku tidak bisa tertidur karena terganggu dengan wajah orang itu yang selalu hadir setiap kali aku menutup mataku.
Rona merah langsung muncul di pipi Sicheng begitu ia memikirkan alasan sebenarnya dibalik kurangnya tidur yang ia alami selama beberapa hari terakhir. Ia berulangkali menepuk-nepuk pipinya karena sadar dengan rona merah yang mulai muncul di sana, membuat Jackson yang masih setia duduk di sampingnya menatap Sicheng heran, namun memutuskan untuk tidak bertanya apa pun.
Sicheng tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, sungguh. Selama 15 tahun ia hidup, ia tidak pernah merasakan perasaan-perasaan aneh yang seringkali ditulis oleh para Muggle di novel-novel romansa yang dimiliki oleh ibunya. Ia selama ini terlalu fokus pada pelajaran-pelajarannya dan statusnya sebagai wakil ketua dari klub pemain Gobstone di Hogwarts, sampai-sampai tidak memiliki waktu untuk memusingkan hal lain.
Tapi lalu kejadian di awal tahun kelima terjadi, ketika ia tanpa sengaja berbagi kompartemen dengan seorang siswa Ravenclaw yang bernama Qian Kun.
Qian Kun.
Astaga, bahkan hanya dengan memikirkan namanya saja mampu membuat Sicheng merasakan perasaan-perasaan aneh itu di perutnya.
Sebelum berbagi kompartemen dengan siswa Ravenclaw yang memiliki etnisitas yang sama dengannya itu, Sicheng hanya tahu tentang keberadaan Kun secara sepintas-lalu. Ia hanya tahu bahwa Kun adalah seorang siswa Ravenclaw, yang memiliki darah China, sama seperti dirinya. Meskipun begitu, Sicheng tidak pernah benar-benar berusaha untuk mendekatkan diri dengan Kun, dan begitu pula sebaliknya. Interaksi mereka hanya-lah sebatas sapaan basa-basi dan senyuman singkat ketika berpapasan di koridor.
Sicheng benar-benar merasa berterimakasih pada teman-teman menyebalkannya, yang telah mengusirnya dari dalam kompartemen dan membuatnya terpaksa berbagi tempat dengan seorang Qian Kun, yang kala itu menempati sebuah kompartemen sendirian.
Kejadian yang membuatnya melihat pesona Kun yang tak pernah ia sadari sebelumnya.
Sayangnya, karena Sicheng masih benar-benar awam dalam urusan asmara, ia sama sekali tidak bisa menemukan cara yang pas untuk mendekatkan diri dengan murid Ravenclaw satu itu. Ia memang kini sering mengajak Kun bicara ketika mereka tanpa sengaja berpapasan, tapi pembicaraan itu tidak pernah berlangsung lebih dari lima menit, semua karena Kun yang selalu tampak terburu-buru, dan Sicheng tidak punya hati untuk menahan Kun dan membuatnya terlambat tiba di tempat tujuannya.
Sicheng benar-benar ingin mendekatkan diri dengan Kun. Ia ingin bisa seperti Doyoung, teman satu asrama Kun, yang dapat dengan mudahnya melingkarkan lengannya di sekeliling pundak Kun, yang mampu berbicara dengannya lebih lama dari sekedar lima menit.
Sangking inginnya ia, Sicheng sampai bertanya kepada Jaehyun tentang cara untuk mendekatkan diri dengan orang-orang. Pilihannya jatuh pada Jaehyun, karena ia melihat bahwa temannya yang satu itu mudah sekali dekat dengan orang baru, dan memiliki banyak teman.
Namun lama kelamaan, Sicheng sadar bahwa pilihannya salah. Jaehyun memang ramah, tapi kebanyakan orang lebih dulu mendekatkan diri kepada Jaehyun, dan bukan sebaliknya. Jaehyun hanya tinggal diam, dan orang-orang akan datang sendiri untuk menawarkan sebuah pertemanan kepadanya.
Apa aku harus bertanya pada Yuta?
Itu adalah hal terakhir yang melintas dalam otak Sicheng, sebelum Profesor Binns berjalan memasuki kelas, dan memulai pelajarannya.
Ketika Sicheng berjalan keluar dari kelas Sejarah Sihir beberapa jam kemudian, ia langsung memutuskan bahwa ide terakhirnya adalah sebuah ide yang buruk. Semua karena pemandangan yang menyapanya ketika ia berada di luar kelas Sejarah Sihir.
Nakamoto Yuta benar-benar bukan seseorang yang tepat untuk ditanyai tentang cara mendekatkan diri dengan pujaan hati.
"Nakamoto, kembalikan bukuku!"
Sicheng menghela napas.
Yuta dan kehidupan cintanya yang menyedihkan.
"Oh, malam ini kau patroli lagi, Tae?"
Taeyong, yang saat itu tengah berdiri di depan tempat tidurnya dan tengah dalam proses mengenakan jubahnya, mengangguk begitu mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh salah satu teman sekamarnya, Xavier. Ia lalu meraih tongkatnya yang sebelumnya ia taruh di nakas di sebelah tempat tidurnya, dan menaruhnya di saku jubahnya.
Taeyong memang menempati kamar tidurnya dengan empat orang lainnya, selain dengan Xavier, ia juga berbagi kamar tidur dengan Hansol, dan tiga murid Hufflepuff lainnya yang bernama Alfie, Giles, dan Leo.
"Kau patroli dengan siapa malam ini?" Kini giliran Alfie yang bertanya. Teman sekamar Taeyong yang berambut merah dan memiliki wajah berbintik-bintik itu tampak sudah siap untuk tidur dengan piyamanya, serta posisinya yang sudah berbaring di atas tempat tidur. "Atau kau patroli sendirian?"
"Tidak, tidak sendirian," Taeyong menjawab, dalam hati merasa sedikit iri dengan Alfie yang sudah bisa tidur tanpa diganggu oleh tugas sebagai Prefek. "Aku belum melihat siapa nama partnerku malam ini. Nanti juga tahu."
Tidak butuh waktu lama sampai Taeyong pamit kepada teman-teman sekamarnya untuk memulai patroli malamnya, berjalan keluar dari ruang rekreasi yang sudah kosong, melangkahkan kaki menuju tempat pertemuannya dengan partner patrolinya malam itu, tanpa lupa merapalkan mantra Lumos, karena suasana kastil yang memang sudah gelap kalau sudah melewati jam sepuluh malam.
Terakhir kali ia berpatroli malam, Taeyong dipasangkan dengan Prefek perempuan dari Ravenclaw, yang bernama Maisie. Maisie merupakan seorang teman yang menyenangkan, sehingga Taeyong sesungguhnya diam-diam berharap dapat dipasangkan dengan Prefek Ravenclaw yang satu itu lagi.
Namun ketika ia sampai di tempat pertemuan yang telah ditentukan, bukan Maisie-lah yang menunggunya di sana. Tapi—
"Jaehyun?"
—Jung Jaehyun, Prefek Slytherin.
Sial.
"Halo, Taeyong," Jaehyun tersenyum pada sosok Taeyong yang melangkah mendekat. "Sudah siap untuk berpatroli malam ini?"
Taeyong membalas senyuman Jaehyun dengan sebuah senyuman canggung, belum apa-apa sudah mulai merasa tidak nyaman. "Err, koridor lantai satu dan dua, kan?"
"Yep," Jaehyun menganggukan kepala. Ia menunggu sampai Taeyong sudah berada sejajar dengannya, lalu kedua Prefek berbeda asrama tersebut mulai berjalan bersisian, memulai tugas patroli malam mereka.
Keduanya berjalan dalam keheningan, dengan Jaehyun yang tampaknya tak terganggu sama sekali dengan keheningan tersebut, dan Taeyong yang berulangkali merutuki dirinya dalam hati, tak tahan dengan perasaan canggung dan tak nyaman yang ia rasakan karena keheningan di antara dirinya dan partner patroli malamnya ini.
Taeyong mengakui bahwa ia memang memiliki kemampuan bersosialisasi yang benar-benar payah, nol besar, kalau kata Hansol. Namun karena ini Jaehyun, Jaehyun yang selalu membuatnya merasa tak nyaman dengan keberadaannya, Taeyong merasa berkali-kali lipat lebih kepayahan.
"Jadi, Taeyong," Taeyong langsung menghembuskan napas lega begitu mendengar Jaehyun membuka mulutnya, memecahkan keheningan canggung—setidaknya bagi Taeyong—yang mengelilingi mereka sejak tadi. Taeyong menolehkan kepalanya untuk menatap Jaehyun, hanya untuk menemukan bahwa Prefek Slytherin itu juga tengah menatapnya. "Aku sadar bahwa kita belum pernah benar-benar berkenalan sebelumnya. Bahkan kalau boleh dibilang, ini kali pertama kita menghabiskan waktu sepenuhnya hanya berdua saja, kan?"
Taeyong hanya menganggukan kepalanya, kini pandangannya kembali diedarkan ke kanan dan ke kiri, mengawasi kalau-kalau masih ada murid yang berkeliaran di kastil padahal sudah melewati jam malam.
"Kau memiliki darah Korea Selatan, kan? Sama sepertiku," Jaehyun kembali berucap. "Apa kau pernah ke Korea? Maksudku, aku sendiri belum pernah menginjakkan kaki di sana. Aku lahir dan dibesarkan di Edinburgh."
"Err, aku dilahirkan di Korea Selatan, di Seoul," Taeyong berdehem pelan sebelum menjawab, mencoba untuk terdengar tenang dan terkendali. "Aku hanya tinggal di sana sampai umurku dua tahun, sebelum kami pindah ke Oxford."
"Oh? Kau tinggal di Oxford? Selama ini aku kira kau tinggal di London."
"Eh, tidak. Ayahku merupakan dosen di Universitas Oxford, makanya kami tinggal di sana."
"Dosen?"
Sial, aku lupa kalau Jaehyun itu berdarah murni. Mana tau dia macam pekerjaan di dunia Muggle seperti dosen.
"Uh, semacam Profesor pengajar kalau di dunia sihir."
"Ah, benar. Orangtuamu Muggle, ya."
Entah mengapa, ada sesuatu dalam nada Jaehyun yang membuat Taeyong sedikit berjengit tak suka. Jaehyun memang mengatakan kalimat terakhirnya dengan sikap biasa-biasa saja, tapi Taeyong dapat merasakan sebuah nada meremehkan di dalamnya.
Mungkin hanya perasaannya saja. Mungkin.
Tapi tetap saja hal itu membuat perasaan tak nyaman Taeyong terhadap Jaehyun bertambah, membuatnya ingin segera menyudahi kebersamaan mereka malam ini.
Kebanyakan orang mungkin akan senang sekali karena dapat menghabiskan waktu berduaan dengan Jaehyun, lalu memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin untuk mendekatkan diri dengan pewaris tunggal keluarga Jung ini. Semua orang memang ingin dekat dengan Jaehyun. Tentu saja, siapa yang tidak mau? Tampan, berkarisma, pewaris tunggal dari sebuah keluarga kaya raya nan terhormat, pintar, ramah kepada siapa saja, Jaehyun itu sempurna. Baik gadis maupun pria mengejar-ngejarnya, sebagian ingin menjadi temannya, sebagian ingin menjadi kekasihnya.
Namun Taeyong adalah sebuah pengecualian.
Karena satu-satunya hal yang ingin ia lakukan saat ini adalah menyelesaikan patroli malamnya, agar ia bisa pergi menjauh dari sosok Jaehyun.
Tidak terjadi percakapan apa pun lagi di antara Taeyong dan Jaehyun selama beberapa menit, masing-masing fokus dengan tugas mereka sebagai seorang Prefek, sampai Jaehyun akhirnya membuka mulutnya lagi, ketika keduanya sedang melangkahkan kaki untuk menaiki tangga yang akan membawa mereka ke koridor lantai dua.
"Bagaimana dengan persiapan O.W.L-mu, Taeyong?"
Taeyong tanpa sadar menghela napas lelah begitu mendengar nama ujian tersebut meluncur keluar dari bibir Jaehyun, salah satu ujian terpenting yang akan ia hadapi dalam hidupnya.
"Ya, tentu saja sudah. Aku sudah mulai belajar sejak beberapa bulan terakhir di tahun keempat," Taeyong menjawab, menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya yang bebas. "Tapi entahlah, aku belum merasa siap sama sekali. Masih ada banyak hal yang harus kupelajari."
"Kalau Lee Taeyong yang brilian dan hampir menjadi seorang Ravenclaw saja berkata begitu, apa kabar dengan ujian O.W.L-ku nanti, ya?"
"Eh? Kau—"
"Tahu darimana? Kau sepertinya tak sadar, tapi cerita tentang Topi Seleksi yang kebingungan karena kau memiliki kualitas dari empat asrama itu benar-benar populer, kau tahu."
Johnny sialan.
"Aku tidak brilian," Pada akhirnya Taeyong hanya dapat menggumamkan pelan ketiga kata balasan itu, menolak untuk menatap Jaehyun yang kini tengah memandang Taeyong dengan sinar geli di dalam matanya. "Bagaimana denganmu, Jaehyun? Bagaimana dengan persiapan O.W.L-mu?" Bagus, Taeyong. Alihkan saja pembicaraan.
"Hm, bagaimana, ya?" Taeyong dikejutkan dengan sebuah lengan yang tiba-tiba melingkar di sekeliling pundaknya, lengan milik Jaehyun yang kini berdiri begitu dekat dengan dirinya. Hal tersebut langsung membuat tubuh Taeyong menegang, merasa tak nyaman dengan skinship yang begitu tiba-tiba ini.
Taeyong bukannya tak menyukai skinship, ia suka, namun ia hanya senang melakukannya dengan teman-teman terdekatnya saja, bukan orang asing seperti Jaehyun.
"Mungkin kau tak tahu, tapi aku benar-benar ingin menjadi seorang Auror. Karenanya, aku harus bekerja keras dalam semua pelajaran inti, dan mendapatkan nilai yang tak kurang dari Exceeds Expectations di semua pelajaran tersebut. Benar-benar menyusahkan. Aku tak masalah dengan Transfigurasi dan Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, tapi aku benci Herbologi."
"Tunggu, kau ingin menjadi Auror?" Taeyong tak bisa menyembunyikan keterjutannya begitu mendengar profesi yang diidam-idamkan oleh Jaehyun. Ia tak pernah membayangkan sosok yang tengah berjalan di sampingnya ini sebagai seorang Auror, ia selalu mengira bahwa Jaehyun hanya akan melanjutkan usaha keluarganya—yang Taeyong tak tahu apa—dan hidup tenang dengan jumlah kekayaan yang tak akan habis meski digunakan selama tujuh turunan.
Jaehyun tertawa pelan. "Ya, mengejutkan bukan? Semua orang yang pertama kali mendengar bahwa aku ingin menjadi Auror selalu menampilkan reaksi yang sama. Sejak kecil, Auror selalu menjadi pekerjaan yang tampak keren untukku, dan ketika aku beranjak besar, aku sadar bahwa aku ingin menjadi seorang Auror, bahwa pekerjaan itu telah berkembang menjadi sebuah cita-cita bagiku, bukannya sebatas pekerjaan yang kukagumi lagi."
"Bagaimana denganmu, Tae? Sudah terpikirkan ingin menjadi apa?"
Taeyong mengedikkan bahunya. "Aku selalu ingin bekerja di Kementrian Sihir, tapi aku juga ingin menjadi Obliviator, bahkan Healer di St. Mungo. Well, entahlah. lagipula aku masih belum tahu apakah aku akan melanjutkan kehidupan di dunia sihir atau di dunia Muggle begitu lulus dari Hogwarts."
Taeyong mungkin tak bisa melihatnya karena pencahayaan yang temaram, namun Jaehyun langsung menatapnya heran, dengan alisnya yang terangkat, begitu Taeyong selesai mengucapkan kalimatnya. "Dunia Muggle? Setelah semua hal hebat yang kau alami di dunia sihir, kau masih mempertimbangkan kemungkinan untuk melanjutkan hidup di dunia Muggle?"
Nada itu lagi. Nada meremehkan itu lagi. Taeyong dapat merasakannya dengan jelas kali ini. Kali ini bahkan Taeyong merasakan sebuah nada jijik di sana, seolah-olah Jaehyun menganggap bahwa para Muggle menjijikan.
Mud-blood.
"Ya, memangnya kenapa? Ada masalah?" Taeyong menemukan dirinya membalas pertanyaan Jaehyun dengan nada tegas dan tajam, yang keluar secara refleks dari kedua belah bibirnya.
"Jangan salah paham, Taeyong," Jaehyun sepertinya menyadari perubahan dalam nada suara Taeyong, dan karenanya ia buru-buru mengontrol ekspresi dan nada suaranya sendiri. "Aku tidak bermaksud untuk merendahkan dunia Muggle atau apa, aku tahu itu duniamu. Hanya saja—"
Alasan.
Taeyong menghentikan langkahnya tiba-tiba, membuat Jaehyun turut melakukan hal yang sama. Hufflepuff bersurai abu-abu gelap itu menundukan kepala, menolak untuk memandang sosok Jaehyun di sampingnya. "Maafkan aku, Jaehyun, tapi tampaknya aku hanya bisa berpatroli sampai sini, aku lelah."
Tanpa menunggu balasan dari sang Prefek Slytherin, Taeyong membalikkan tubuhnya, mulai berjalan ke arah tangga yang akan membawanya ke ruang rekreasi Hufflepuff.
"Taeyong?" Taeyong mendengar panggilan itu dengan jelas, sangat jelas malahan. Namun Taeyong tak repot-repot untuk menoleh, atau memberikan tanda apa pun bahwa ia mendengar. Ia sepenuhnya mengabaikan Jaehyun.
Kini Taeyong tahu kenapa ia merasa tak nyaman dengan keberadaan Jaehyun.
Semua karena dalam kenyataannya, di balik topeng ramah yang Jaehyun kenakan setiap hari, ia sesungguhnya sama saja dengan kebanyakan Slytherin lainnya.
Ia sama saja dengan Nakamoto Yuta.
Bahkan mungkin lebih parah.
TBC.
Ini termasuk fast update bukan ya? Hehe. Sebenernya chapter duanya udah jadi sehari setelah chapter pertama dipublish, tapi karena merasa kurang yakin, jadinya dirombak lagi. Versi jadinya ini entah udah berapa kali dirombak dari naskah awal, dan entah kenapa masih aja ngerasa belum puas, kayak ada sesuatu yang kurang, tapi mentok udah ngga ada ide lagi :') Jadi maaf aja kalo chapter dua ini rada ngebosenin atau gimana, karena idenya bener-bener mentok. Entah kenapa setiap kali mau nulis chapter dua dari cerita apa pun, ide saya selalu mentok dan ujung-ujungnya ngga puas, tapi mau gimana lagi.
Kalo ada yang ngga familiar sama istilah-istilah yang dipake di fanfic ini, bisa tanya di kolom review dan saya bakal jelasin di chapter berikutnya. Makasih omong-omong, buat yang udah review di chapter kemarin :)
Oh ya, fanfic ini memang bakal fokus sama Jaeyong sebagai pairing utama. Yang lain cuma bakal jadi slight pairing. Jadi di setiap chapter pasti akan ada scene Taeyong atau Jaehyun atau Jaeyong, tapi yang lain belum tentu ada. Tenang aja, semua bakal kebagian porsinya masing-masing, kok.
Thankyou for reading!
