MURASAKIIRO NO CHO (Chap.1)

Pairing: Sasu/Hina always.

Rating: M

Tags: Romance/ Angst/ Incest/ AU

Warning : Dark Story/ Slight Nejihina

Neji 26 tahun
Hinata 16 tahun
Sasuke 24 tahun

Disclaimer: All characters in this story belongs to Masashi Kishimoto

Happy reading..

###########################

Musim gugur telah merambah dataran Akita.
Pohon Mapel yang tumbuh berjajar dipinggir barat kolam Koi milik keluarga Hyuuga pun mulai berubah warna.
Merah kekuningan, bagai warna senja.

Sang fajar mungkin belum sepenuhnya hadir menyapa, namun semburat sinarnya telah memantul di tetesan embun yang menyelimuti kelopak - kelopak rumpun Sumire, membirukan pemandangan di timur taman.

Kediaman Hyuuga selalu memulai aktifitasnya bahkan sejak matahari belum terbit.

Suara langkah kaki para pelayan yang sibuk memasak hidangan pagi dan mengantarkannya ke ruang utama, mendominasi gema dilorong - lorong kediaman semi modern dari Klan berlambang yin dan yang itu.

Sementara di bagian belakang, para samurai yang mengabdi tengah bergantian mengguyurkan air dingin keseluruh tubuhnya.
Menggosok - gosok punggung mereka dengan kain keras hingga memerah.
Sebuah ritual pagi untuk memulai hari dengan penuh semangat.

.
.

"Pagi - pagi kau sudah ramai mencicit, Ume.."

Suara merdu dari seorang gadis berambut indigo itu terdengar perlahan dari balik Shoji berlapis kertas ungu.
Tangan seputih susunya bergerak perlahan, mengambil remah roti dan membiarkan seekor parkit kecil memakannya dengan riang.

Hinata kembali terkekeh saat Ume kecilnya itu lalu melompat keatas kepalanya dan mematuk perlahan, sekedar mengungkapkan rasa sayang.

Selesai memberi makan peliharaannya, gadis 16 tahun bermarga Hyuuga itu mempersiapkan dirinya.
Sebuah kimono Iromunji berwarna ungu pastel dengan motif bunga ia pilih alih - alih menggunakan Komon, untuk acara makan paginya.
Rambutnya ia biarkan tergerai, sementara sebilah pisau pendek telah terselip di Obi.

Sekilas, ini memang menimbulkan tanya, mengapa jika hanya untuk menghadiri makan pagi bersama keluarga yang biasa, ia harus berlaku seperti itu?
Jawabannya adalah karena tempat itu bukanlah tempat yang bisa ia sebut sebagai berkumpulnya para 'Keluarga'.

Bagi Hinata, kediaman Hyuuga ini adalah medan pertempuran, dan sarapan pagi adalah tabuhan genderang perang yang pertama.

.
.

Meninggalkan kamarnya, Hinata berjalan perlahan menuju ruang utama.
Beberapa pelayan yang berpapasan tanpa sengaja dengannya segera beringsut minggir dan membungkukkan tubuhnya.

"Ohayou.. Kaname chan.. Yomogi san.."

Senyuman manis tidak lupa ia sunggingkan demi membalas setiap sapaan pelayan yang ia temui.
Walau tidak semua pelayan itu menyapa dengan sama tulusnya, namun bagi Hinata itu tidaklah menjadi masalah.

Hinata selama 16 tahun, ia hidup dengan berbagai tempaan.
Jika ibunya mengajarkan sebuah kelembutan dan ayahnya mengajarkan ketegasan, maka sang Kakak selalu menanamkan satu hal dalam ingatan Hinata,

'Hyuuga pantang terlihat lemah'.

.
.

Suara Shoji yang bergeser membuat berpasang - pasang mata memandang kearahnya.
Mereka adalah para tetua dan beberapa anggota inti keluarga Hyuuga.
Tanpa keraguan Hinata berojigi, menujukkan tata krama kepada yang lebih tua dengan memberikan salam.

Dengan dagu yang sedikit terangkat, Hinata kembali berjalan lurus menuju kearah depan.
Sebuah tempat khusus yang telah disediakan untuk Hinata disamping sang kakak.

Kakinya melangkah perlahan dan anggun.
Menunjukkan kearistokratannya, adalah cara yang diajarkan oleh sang ayah dan kakak untuk memproteksi kelemahan hatinya.

"Cih! Dasar sundal tidak tahu malu.."

Hyuuga Hachiko, salah satu dari sepupu Hinata tiba - tiba mengumpat.
Membuat gadis itu seketika berhenti melangkah.

"Hachiko.. jaga ucapanmu.." Ayah Hachiko yang duduk disampingnya mengerutkan kening, menegur anaknya.

Sekesal apapun, mengumpat disaat makan bersama seluruh Souke Hyuuga, jelas - jelas melanggar tata krama.

"Biar saja Ayah!" Hachiko menyunggingkan senyum sinis, "Sesekali kita perlu mengingatkan siapa dirinya.. dia hanya keturunan budak yang beruntung!"

Hinata membalikkan tubuhnya dan tersenyum, "Kau benar Hachiko san.." Katanya kemudian.

"Apalah daya jika ibuku hanyalah seorang pelayan rendah dirumah ini. Namun tidakkah ini aneh?" Hinata menelengkan kepalanya, pura - pura tidak mengerti, "bagaimana seorang keturunan pelayan seperti aku bisa duduk di depan bersama Neji nii, sementara Hachiko san yang berdarah murni justru duduk di belakang?"

Hinata menyipitkan mata dan menatap rendah gadis di hadapannya, "Ooh.. mungkin kau lupa Hachiko san.. aku yang seperti ini justru memiliki darah Hyuuga Hiashi.."

"SUNDAL KEPARAT!" Hachiko berdiri dan menundingkan telunjuknya kewajah Hinata, "KAU SAMA LACURNYA SEPERTI IBUMU! TERTAWALAH SELAGI KAU BISA! INGAT SAJA! KAU LAH YANG PERTAMA AKAN AKU USIR SETELAH AKU MENIKAHI NEJI!"

BRAK!

Semua mata kini tertuju kearah depan.
Hyuuga Neji dengan tangan terkepal menatap murka hingga urat - urat disekitar matanya tampak begitu jelas.

Hidangan miliknya telah tumpah ruah tidak berbentuk karena sempat melayang menerima amukan pria berambut panjang itu.

Sebuah cawan nasi di tangan kanannya pun bernasib tidak kalah mengenaskan.
Remuk! Dengan noda darah mengalir dibeberapa serpihannya.

"Tidak bisakah.. setiap pagi.. aku makan dengan tenang?"

Menekan kata demi kata, matanya peraknya menyalang, menatap setiap wajah di ruangan itu.

"Tidak bisakah.. setiap hari.. aku hidup di sekitar kalian.. TANPA HARUS MENDENGAR PENGHINAAN TERHADAP ADIKKU!"

Neji melempar serpihan cawan ditangannya hingga menimbulkan suara dentingan keramik yang kembali pecah.

Setelah sedikit berjongkok, Neji lalu bangkit dan berjalan meninggalkan ruangan.
Namun kemudian langkahnya terhenti saat disamping Hinata.

"Bawa makanan ke ruang belakang.. kita makan disana.." ucapnya tanpa sedikitpun menoleh, "dan paman Harumitsu.. aku mohon maaf bila hal ini menyakiti paman sekeluarga.. namun sepertinya pertunanganku dengan Hachiko harus ditangguhkan.."

Neji kembali melangkahkan kakinya diikuti oleh Hinata dibelakang.
Meninggalkan ruang utama yang kini diisi dengan lolongan pilu seorang gadis yang telah terhempas dari masa depan seorang Hyuuga Neji.

.

MURASAKIIRO NO CHO

.
.

Ruang belakang keluarga Hyuuga adalah tempat favorit Neji.
Sebuah ruang kecil dengan desain tradisional, menghadap kearah kolam dengan latar panorama gunung Kumagatake.

Tempat ini adalah tempat yang dipenuhi oleh kenangan Neji dengan sang Ibunda tercinta.
Semenjak kecil, Neji selalu menghabiskan waktu bersamanya ditempat ini.
Menemani sang ibu bermain samisen, atau sekedar duduk diam menikmati pemandangan.

Semua ia lakukan demi menjaga hati ibunya supaya tidak mendingin karena perlakuan jahat setiap perempuan Hyuuga yang ingin menggantikan kedudukannya.

Ya.. telah memiliki seorang istri sah pun, bukan berarti pertarungan perebutan kedudukan first lady Hyuuga berhenti.

Intrik politik yang begitu kotor dan melelahkan tetap berlangsung demi memperebutkan posisi pertama didalam klan tertua di jepang itu.
Karena kabarnya, ketua klan Hyuuga dan penerusnya merupakan penasehat pribadi kekaisaran Jepang.

Semua tekanan itu terjadi selama bertahun - tahun, hingga kemudian membuat ibu Neji wafat karena memendam sakit hati yang teramat sangat.

Dan kematian first lady Hyuuga itupun bahkan membawa malapetaka yang lain.

Dalam kedukaan yang dalam, Hyuuga Hiashi yang mabuk memperkosa Sae, pelayan sekaligus tunangan Uchiha Obito, adik dari sahabatnya, Uchiha Fugaku.

Sae, sang pelayan muda, gadis itu sesungguhnya hanya berada di tempat dan waktu yang salah.

.
.

"Nii san.. makanlah sebelum dingin.."

Hinata menatap Neji khawatir.
Apa mungkin luka di tangannya sakit?

"Hmm.."

Suara lembut Hinata membuyarkan lamunan Neji.
Dengan segera Neji mulai menyuapkan makanannya dan mengunyah perlahan, "kau juga makanlah.."

Neji mengambil potongan ikan Sanma dan hendak menyuapkannya pada Hinata.

"Ne.. Neji nii.. makan sendiri saja.." Tolaknya halus.

Pipi gembil Hinata merona merah dengan menggemaskan.

Neji meraih dagu Hinata untuk memaksakan diri menyuapi satu - satunya saudari yang ia miliki.
Senyumnya merekah saat melihat gadis itu kemudian menurut dan membuka mulutnya.

Dalam diam ia mengamati setiap gerak gerik Hinata.

Bagaimana bibirnya mengatup dan bergerak karena mengunyah.
Bagaimana jemari lentiknya menggeser helaian rambutnya kebelakang telinga, dan memperlihatkan tengkuknya yang putih menggoda.

"Hinata.."

Hinata menoleh saat mendengar namanya dipanggil.

"Kemarilah.. mendekat kesini.."

Hinata menatap dengan ragu - ragu sebelum kemudian beringsut mendekat.

Neji melingkarkan lengannya dengan posesif, mengungkung gadis.. ah bukan.. wanitanya dalam dekapan yang hangat.

"Apa kau merindukanku, Hime?" Bisiknya seduktif ditelinga Hinata hingga gadis itu mengkerut jengah, "aku telah pergi selama seminggu ke Tokyo.. dan aku merindukanmu."

"Nii.. Nii san.. aku mohon.. bagaimana kalau ada yang melihat? Aku.."

BRAK!

"Itaii..!"

Hinata mengelus belakang kepalanya yang terantuk lantai Tatami.
Sekejab kemudian ia mulai menyadari sesuatu, kondisinya sangat jauh dari kata - kata baik.

"Neji nii..!" Protes Hinata, tubuhnya bergerak gelisah mencoba kabur dari kungkungan kakaknya.

"Kita tidak boleh begini.. kumohon.. aku.. uumph!"

Suara Hinata menghilang bersamaan dengan ciuman Neji yang menuntut.

"Tidak! Neji nii.." Wajah Hinata begitu pucat saat menyadari tangan kakaknya mulai menyibak belahan kimononya.

"Aku pernah melakukan dosa besar, Hinata.." Desis Neji diantara deru nafasnya, "menambah satu dosa lagi kurasa bukan masalah.."

Liquid bening menyembul dipelupuk mata Hinata saat melihat tatapan Neji yang telah berselaput kabut nafsu.
Demi Tuhan! Ia tidak bisa lagi mengenali kakaknya.

.
.

Dinginnya angin yang berhembus dari gunung Kumagatake, menghantarkan senandung cinta dua anak manusia.
Warna cerah deretan Mapel dan indahnya rumpun Sumire, tampaknya tidak akan mampu menutupi kesedihan yang menguar dari sudut lain kediaman Hyuuga.

Sepasang Onyx hitam milik seorang Samurai muda, terdiam menatap lurus kearah pantulan riak air kolam.

Berusaha mematikan indra pendengarnya, hatinya kini bagai terkoyak dan berdarah - darah.

Apa yang harus ia lakukan?

Bila mendapati sang tunangan tergolek tidak berdaya dibawah naungan sang calon kakak ipar?

Apa yang harus ia lakukan?

Bila orang yang paling ingin ia bunuh saat ini, adalah majikan sekaligus sahabat yang telah bersumpah darah dengannya?

Pemuda itu hanya mampu mengerang tertahan untuk sedikit meredakan ledakan amarahnya.
Tangannya menggenggam erat pedang hingga telapak tangannya memutih.

Apakah tragedi itu akan terulang kembali?

#bersambung...

.
.

Catatan kaki:
1. Murashakiiro no cho: kupu2 ungu ( sebutan orang - orang hyuuga pada hinata. Kupu - kupu bisa ditafsirkan sebagai perlambang anak perempuan cantik, namun juga bisa ditafsirkan sebagai perempuan cantik yang penuh aib)
2. Iromunji: kimono semi formal dengan satu lambang keluarga di dada.
3. Komon: kimono harian
4. Sundal : perempuan ( dalam artian kasar)
5. Lacur: diasumsikan sebagai tingkah perempuan yang mengundang lelaki untuk kesenangan (dalam artian buruk)
6. Seting cerita ini adalah zaman Showa sekitar tahun 1934.

Halo.. terima kasih telah membaca fik ini.. terima kasih juga untuk dukungannya selama ini.
Maaf karena tidak bisa membalas satu persatu ripyu dari teman2 semua, karena jujur! Ini kali pertama aku menggunakan FFN. Aku masih bingung.. hehehehe.. Dan sebagai balasan untuk kalian, aku berusaha membuat fik ini sebaik mungkin dan meminimalkan typo serta memperbaikinya sesuai dengan masukan dari kalian. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih.. dukung terus ya!

Love! Hitora..