HARRY POTTER PUNYA J.K ROWLING.

Maunya sih punya saya

Tapi apa boleh buat

Saya minjem aja


Chapter 2

" Miss Granger, apakah bisa aku mendapatkan cuti tahunanku minggu depan?" Tanya Elise, asisten merangkap sekretarisku. Aku menghela napas. Antara rela dan tidak mengijinkan Elise untuk cuti, tapi pekerjaan kami sedang banyak-banyaknya. Dan tidak ada yang sehandal Elise. Kuakui, Aku menyukai cara kerja Elise yang efisien.

"Well, Elise. Tidak bisakah kau menunda cutimu hingga bulan depan? Kau tahu kan, kantor kita sedang sibuk-sibuknya, dan Aku tidak yakin dengan orang baru. Walaupun hanya untuk 2 minggu" Jawabku panjang lebar. Aku merasa bersalah. Elise belum meminta cuti dari tahun kemarin.

"Emmm, Miss, bukannya aku melarikan diri dari pekerjaanku. Tapi, ini darurat Miss" Jawab Elise. Alisku bertaut. Elise menunduk, sepertinya lantai ruanganku lebih menarik. Ku hela napasku berat. Aku tidak menutup kuping atas apa yang terjadi di kantor ini. Tapi aku berusaha profesional.

"Come on Elise. Jangan seperti ini. Aku tahu apa yang terjadi." Kataku sambil menatapnya tajam. Elise sedikit bergeming, menatapku kembali. Dan aku sadar, dia menahan tangisnya. Aku beranjak dari tempat dudukku, kemudian memeluknya. Hal yang sangat jarang kulakukan untuk orang lain. Memberi mereka pelukan hangat. Elise terisak. Bagaimanapun dia adalah wanita yang tegar.

"Elise, aku akan mengijinkanmu untuk cuti. Tapi hanya satu minggu. Tidak bisa lebih untuk bulan ini. Dan selesaikan semua masalahmu dengannya. Hanya itu yang bisa aku berikan untuk membantumu." Kulepas pelukanku dan menatapnya. Wajahnya sedikit terkejut.

"Yeah Elise, aku tahu permasalahanmu. Tapi, aku berpikir jika aku tidak perlu untuk ikut campur. Bukan aku tidak peduli, hanya saja aku tidak mau ikut campur urusan pribadimu."Jawabku panjang lebar.

"Thanks Miss!. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. I Love You Miss!" Jawab Elise lepas. Aku hanya tersenyum dan menunduk. Dia pun pamit undur diri. Tahukan jika dindingpun memiliki telinga. Ya, itulah yang terjadi disini. Aku banyak mendengar gosip-gosip miring seputar asistenku dan tentunya diriku. Tapi aku tidak ambil pusing. Karena mereka hanya menggosipkan aku yang terlalu dingin, tidak berperasaan dan sebagainya. Tahu apa mereka soal hidupku. Aku hanya membuat jarak antara kehidupan pribadiku dan urusan pekerjaan. Kurasa itu yang disebut profesional. Dan aku harus mendapatkan asisten untuk menggantikan Elise selama satu minggu kedepan. Segera kuhubungi bagian HRD untuk menanyakan, apakah ada staff yang bisa kupinjam untuk seminggu ke depan.

Sudah tiga hari aku ditinggalkan Elise dan ditemani Frank Dawson. Entah dari bagian mana dia sebelumnya, aku tidak begitu peduli. Yang terpenting dia cekatan dan cakap untuk menggantikan tugas sementara Elise. Dan sejauh ini, pekerjaannya baik. Tok..tok..pintuku diketuk.

"Masuk" Teriakku menjawab ketukan di pintuku, sambil tidak kualihkan mataku dari berkas laporan di tanganku. Kepala Frank menyembul dibaliknya,

"Miss, Aku harap Kau tidak lupa akan ada meeting buat semua kepala departemen nanti jam 11 siang. Aku sudah menyiapkan berkas yang Kau perlukan Miss" Kata Frank sambil tetap berada di balik pintu itu. Aku mengernyit sekejap, aku hampir melupakan meeting sialan itu.

"Ok, Frank. Thank's karena sudah mengingatkanku. Dan apalagi jadwalku hari ini?" Jawabku sambil mendengarkan saat dia mulai membacakan jadwalku hari ini. Dan ya, aku akan kembali pulang malam hari ini.

Aku melangkahkan kakiku ke ruang meeting yang berada pada lantai tujuh. Ini meeting pra meeting tahunan para pemegang saham. Dan seperti biasa, kami akan selalu sibuk pada bulan-bulan ini. Seluruh kepala divisi akan melaporkan hasil kerja, kendala dan segala hal yang berhubungan dengan divisi tersebut. Tidak terasa sudah hampir empat jam kami meeting, yang diselingi dengan coffè break.

"Attention Please! Aku tahu jika kalian ingin segera pergi dari ruangan ini." Mr. McLaggen mengangkat tangannya, menginterupsi semua yang hendak melangkahkan kaki keluar dari sini. "Aku lupa memperkenalkan seseorang pada kalian semua. Come in Mr. Malfoy" Lanjut Mr. McLaggen. Kepalaku menoleh seketika, nama yang tidak asing buatku. Tapi apakah mungkin? Dan orang tersebut memasuki ruangan. Aku terkejut. Shit! Aku tidak tahu sudah berapa kali aku mengumpat hari ini. Dan Mr. McLaggen memperkenalkannya sebagai CEO yang baru. Karena perusahaan ini telah dialihkan 60% sahamnya pada Big M Inc. Harusnya aku mencari tahu siapa pengusaha di balik Big M saat aku mengerjakan surat peralihannya. Tapi aku tidak berpikiran jauh kesana. Kenapa aku harus bertemu dan bekerja dengan manusia pirang berhati separuh iblis ini. Dan diantara banyaknya manusia di dunia ini, kenapa dia yang menjadi CEO kami. Dan selama aku membuat draft pengalihan saham tersebut, tidak pernah aku mendapati nama Malfoy tercantum. Aku rasa hidupku yang damai, terlepas dari beberapa masalah pribadiku, akan kacau. Dan saat aku hendak kembali keruanganku, aku dihadangnya.

"Well, aku tidak tahu jika aku bisa bertemu denganmu disini, Granger" Sapa kepala pirang di depanku. Great! Aku tidak bisa melarikan diri. Entah kenapa aku merasa kalau aku harus melarikan diri. Dia menyeringai sambil menyodorkan tangannya. Aku tidak ingin dibilang tidak sopan pada atasan baruku ini, sehingga aku menerima jabatan tangannya.

"Yeah Mr. Malfoy. Senang bertemu Anda di sini, dan selamat datang di Patronus Enterprisse" jawabku sambil menjabat tangannya. Dan lagi, aku akan sering melihat seringai menyebalkan miliknya di sini, mengingat aku kepala bagian legal dan kontrak. Kurasa, aku harus membiasakan diri melihat seringaian menyebalkan itu.

"Aku tidak tahu Granger jika kau bekerja di sini. Well, senang bisa bertemu denganmu kembali" Jawab Malfoy Junior kepadaku. Aku hanya mengangguk sekaligus melepaskan tanganku dari jabatan tangannya. Aku segera melangkah pergi, begitu beberapa kepala divisi yang lain juga berkenalan dengan dirinya.

Seperti biasanya, jika akhir pekan kami, aku dan Harry akan mengunjungi The Burrow. Tempat tinggal Keluarga Weasley. Namun, setelah pemutusan pertunanganku, aku sedikit malas untuk pergi ke sana. Bukan, bukan karena sakit hati. Tapi aku, well, kami menjalin hubungan dengan waktu yang lama. Tentu ada banyak kenangan yang kami alami saat kami berkumpul di Burrow. Dan aku sedang tidak ingin mengingat apapun. Aku memutuskan untuk diam di rumah saja. Menghabiskan waktu dengan beristirahat, mengingat aku banyak lembur akhir-akhir ini. Tidak hanya otakku yang lelah, perasaanku juga sedang tidak baik. Entah kenapa aku menjadi melankolis akhir-akhir ini. Bip..bip.. ponsel pintarku berkedip. Ada pesan dari seseorang.

From: Unknown

To : Me

Hi, Granger,

Aku membutuhkan bantuanmu.

Bisakah kita bertemu di Coffè Shop di Diagon Alley?

Thank's

DM

Nomor yang tidak kuketahui. Tapi inisial dibelakangnya membuatku sadar siapa yang mengirim pesan ini. Dan aku tidak heran dia mendapatkan nomor pribadiku. Hanya para kepala divisi dan setingkat manager yang tahu nomor pribadiku. Dan dia adalah CEO.

From: Me

To : Unknown

Hello, Sir,

Baiklah Sir, pukul berapa aku harus ke sana?

HG

Ku pencet send pada ponselku. Tidak lama kemudian ponselku berkedip kembali. Balasan dari Malfoy. Aku tidak tahu apa yang harusnya aku tulis. Aku sebenarnya malas untuk pergi, tapi dia adalah atasanku saat ini. Dan bodohnya aku, kenapa tidak kutolak saja. Ini merepotkan. Segera ku ganti pakaianku dengan yang lebih layak. Jeans dan blouse simpel berwarna hitam. Lalu segera mencegat taxi yang lewat di depan apartemenku, kemudian memberitahukan tujuanku kepada sopir taxi tersebut.

From: Unknown

To: Me

15 menit lagi Granger. Aku tahu apartementmu tidak jauh dari situ.

DM

Untung jalanan tidak begitu padat, sehingga aku tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di coffè shop itu. Segera aku masuk, dan menemukan kepala pirangnya sedang duduk di meja yang paling ujung.

"Aku pikir kau tidak akan datang Granger. Aku cukup terkejut kau mau menyempatkan untuk datang" Kata pembukaan yang menyebalkan dari si kepala pirang. Aku mendengus.

"Well, sebenarnya aku tadi tidak yakin untuk datang." Jawabku sekenanya. Malfoy hanya menautkan alisnya menatapku.

"Lalu?" Tanya Malfoy menuntut jawaban dariku. Aku melipat tangan menantangnya.

"Aku hanya penasaran, kenapa seorang Malfoy butuh bantuanku. Itu hal yang mustahil bukan?" Jawabku retoris. Aku ingin menang telak kali ini. Kemudian seringaiannya melebar.

"Benarkah demikian Granger? Aku rasa kau bukan orang yang ingin tahu perihal orang lain. Bukan begitu?". Pertanyaan Malfoy mengandung banyak jebakan. Aku tidak ingin terjebak dan kalah darinya.

"So, apakah aku kemari hanya untuk menjadi teman pertengkaranmu Sir?" Aku tidak menjawabnya. Aku tidak akan memuaskan egonya untuk memojokkan diriku. Seringaian di bibirnya lenyap, digantikan senyum lebar. Senyum yang amat langka, mengingat dia hanya bisa berteriak dan menyeringai. Tapi hanya sekejap, kemudian dia berdeham, dan menyuruhku untuk duduk di sebelahnya. Aku pun duduk di sebelahnya, dan memperhatikan layar laptopnya.

"Aku benar-benar tidak tahu jika kau bekerja di sana Granger. Dan aku rasa kau orang yang tepat untuk membantuku"Malfoy memulai percakapan.

"Aku mendengarkan Malfoy" Jawabku. Sepertinya ini akan panjang.

Tidak terasa, kami sudah menghabiskan 5 jam di coffè shop ini. Dan aku heran, selama waktu itu kami tidak bertengkar. Kami telah mengenal sejak di Junior High School. Ya, aku, Ron dan Harry berada pada tingkat yang sama dengan Draco Malfoy. Anak keluarga bangsawan yang memiliki banyak perusahaan dan anak cabang. Setahuku Malfoy Inc. adalah perusahaan induk dibawah pimpinan Lucius Malfoy. Dan mereka tidak hanya bergerak disektor properti, tapi masih ada hotel, mall dan banyak lagi. Tapi aku tidak pernah mencari tahu detailnya. Draco Malfoy, seperti kebanyakan anak-anak orang kaya pada umumnya, gemar berpesta, memakai barang-barang branded. Yang membedakannya dari kebanyakan adalah dia terlalu pintar untuk ukuran anak yang senang hura-hura. Tapi dia tidak sepintar diriku. Aku tidak menyombongkan diriku. Dia selalu berada dibawahku untuk urusan akademis. Aku tidak menyukai Malfoy yang menurutku angkuh. Kami selalu melempar makian jika bertemu. Aku tidak tahu apa yang membuatnya membenciku. Dia pernah adu tonjok dengan Ron di lapangan basket, dan terkena skorsing dari asrama selama 3 hari. Dia pernah saling pukul dengan Harry pada saat pelajaran fisika hingga mereka kena detensi, menjadi panitia acara amal di sekolah. Itu semua karena dia menggangguku. Ron dan Harry selalu membelaku, bahkan terkena hukuman untuk membelaku. Dan jika dalam 5 jam ini kami masih bisa berkata dengan baik itu merupakan suatu rekor. Aku harus mentraktir Elise minum sepulang kerja lusa.

"Granger, hei.." Aku tersentak. Tangan Malfoy berada tepat di wajahku. Dan dia tertawa. "Aku memang tampan, tapi tidak kusangka kau akan menatapku tanpa berkedip Granger". Dan dia kembali terbahak. Menyebalkan.

"Sialan kau Malfoy! Aku tidak pernah tertarik padamu. Jangan terlalu percaya diri. Kau tidak setampan yang kau bayangkan. Kau menyebalkan" Jawabku ketus. Malfoy tetap tidak menghentikan tawanya. Kali ini aku benar-benar jengkel. Aku menyesal karena tadi kupikir dia berubah. Dia tetap ferret menyebalkan.

"Umm Granger, aku tidak percaya ucapanmu. Apakah kau tahu berapa banyak wanita yang antri hanya untuk tidur denganku?" Ucapnya pelan di telingaku. Shit!. Aku tidak ingin tahu hal ini. Tidak mau tahu dan tidak peduli.

"Well Malfoy, aku tidak tahu begitu banyak wanita yang bodoh hanya untuk tidur denganmu. Dan yang jelas aku bukanlah salah seorang dari mereka" Jawabku ketus.

"Kau tidak akan percaya jika aku memberikan daftarnya padamu Granger. Dan aku jadi meragukan orientasimu Granger. Apakah kau menyukai wanita juga sepertiku huh?" Tanya Malfoy kemudian sambil menautkan alisnya. Aku barutahu jika sekarang dia lebih menyebalkan daripada semasa sekolah.

"Berhenti mengurusi hidupku Malfoy. Karena aku tidak tertarik padamu bukan berarti aku menyukai wanita juga." Jawabku kemudian, lalu melanjutkan "Jika sudah tidak ada yang bisa kubantu, aku ingin pulang Sir." Malfoy menyeringai. Jika dulu dia meledak-ledak saat berhadapan denganku, sekarang dia lebih tenang. Dia memang berubah. Menjadi lebih menyebalkan. Dan dengan sikapnya yang tenang, malah membuatku tidak nyaman.

"Hahahaha, kau memang lucu Granger. Aku tidak terkejut si Redhead Weasley itu memutuskanmu"Katanya lagi. Aku menatapnya tak percaya. What the? Tidak ada yang tahu hal ini. Jadi darimana dia tahu?

"Aku tidak menyangka kau memperhatikanku dengan baik Mr. Malfoy. Dan berhenti mengurusi hidupku. Aku pamit." Jawabku kemudian sambil melangkah keluar. Dia tidak menahanku, hanya menatapku dan mengangkat bahuku. Aku tidak tahu apakah akan bertahan bekerja dengannya atau tidak. Aku menghela napas. Apa yang kutakutkan seakan menjadi kenyataan.

Tbc.


Hai, maafkan aku baru bisa update. Lagi banyak kerjaan buat siapin closing akhir bulan. Bener-bener gak nyangka ada yang mau baca proyek pertama aku di sini. Beneran aku terharu.

Thank's buat Senpai Gyuya0206, AndienMay, Nabilan, undhott, Novie92 dan Azaniawlksn aku udah balesin di PM. Iya yang kemaren memang typo parah, di fileku udah bener awalnya Prolog bukannya Epilog. Pas udah di publish baru keliatan. Terus karena males, aku biarin aja lah. Kalo udah sempet benerin, aku benerin.

Sekali lagi thank's yang udah baca dan review, boleh kritik dan kasih masukan.