.
.
.
-:- Sampo Mint-:-
"Kai. Huening Kai Kamal."
"Bahiyyih?"
Karena jarang sekali marga Huening di Korea ini dan Huening lainnya di sekolah tentu saja—
"Iya. Adik kecilku."
"Sunbae?"
"Kai saja, tanpa Oppa—"
BRAK!
Ia menjatuhkan diri dengan menelungkup pada ranjang. Ingin menguburkan dirinya lebih dalam dan tidak pernah terlihat lagi. Lima menit bertahan dengan posisi itu, akhirnya Kai memiringkan kepala dengan ujung bibir turun serta dahi mengerut. Bahkan kalau kau sadar, ada sedikit semburat merah di pipinya.
Betapa memalukan kalimat terakhir dalam percakapannya dengan Wonyoung tadi. OPPA? Kepercayaan diri macam apa itu? Memang kapan gadis itu akan nambahkan sulfik tersebut di belakang namanya?
Apa besok-besok Kai harus mengomeli Bahiyyih karena selalu memanggil ia Kai Oppa di depan temannya? Karena dia agak risih saat teman-teman adiknya itu memanggil dia juga Oppa, tapi bukan berarti dia tidak suka dipanggil oppa, hanya saja...seseorang itu harus sangat dekat dengannya.
"Akh!" Kai menggeram sambil menggaruk kepalanya. Dia telah menggunakan waktu yang berharga untuk istirahat dengan bermonolog!
"Kau kenapa?"
Kai otomatis duduk tegak dengan masih menggaruk rambutnya, "Hah? Kenapa? Aku tidak apa-apa." Raut wajahnya tanpa cela, bahkan sekarang dibumbui seringai yang biasa.
Orang yang baru datang itu meletakan kantong kresek putih di atas meja kamar hotel mereka lalu mengambil sesuatu di dalamnya. Itu adalah sekaleng coke yang terlihat segar dicuaca yang mulai terik di luar. Salah satu teman sekamar Kai itu duduk di ranjang lain dengan santai.
"Gimana perjalanannya?"
"Sepertinya agak terlambat—"
Wajah temannya itu agak menyerngit, "Aish! Bukan, tapi gimana rasanya perjalanan dengan adik kelas! Aku sih tidak peduli denganmu. Adik kelas ada yang cantik? Kenapa sih gedung sekolah kelas dua belas harus pisah sendi—"
Brak!
Setelah melempar bantal pada orang itu, Kai melompat dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
"Eh, Sialan!"
"Mau mandi dulu. Kepalaku panas." Kai masuk ke kamar mandi dan menutup pintu di belakangnya, tapi baru sebentar pintunya setengah terbuka lagi dengan ia tongolkan kepalanya saja, "Dongtae, kau ada sampo? Rasa mint?"
"Ada diplastiklah. Ambil sendiri!"
"Aku udah bugil," dia mengatakan itu tanpa dosa.
"AmbIL SENDIRI, SIALAN!"
.
.
.
-:- Kuning -:-
Menggas terus motor ATV sewaan di sepanjang garis pantai, Kai menikmati teriknya siang di hari pertama kembali ke Hawaii. Benar-benar panas yang menyenangkan, tapi tidak sedikit teman-temannya bersembunyi di bawah parasol-parasol pinggir pantai atau bahkan tidak terlihat.
Kai mengerti, ini agak panas.
Tapi ada salah satu teman sekelas lari kearah dengan tangan di atas dahi untuk menghalau panas. Seorang dengan wajah tak kalah tampan dari Kai langsung naik ke kursi penumpang di belakangnya.
"Kai, numpang!"
Kai menoleh dengan tampilan judes, "A-Aah! Turun-turun! Aku tau kau pasti datang membawa masalah!"
Orang itu memukul punggung Kai dengan niat, "Pelit kau padaku! Kau tau aku punya foto masa kecilmu, 'kan? Mau kusebar di SNS dan membuat fansmu geger?"
"Yak! JUNG HARAM!" Kai menoleh kembali kebelakang atas ancaman tersebut. Orang berwajah tampan ini menyisir rambut pendeknya kebelakang dengan jemari tanpa kepedulian. Ia yakin kalau para gadis melihat orang itu saat ini, jeritan lima oktaf akan terdengar memekakan telinga.
"Ini semua juga salah adikmu. Kenapa dia sangat terobsesi padaku?"
"Kenapa itu terdengar seperti adikku adalah fangirlmu?"
Haram memukul punggung Kai lagi, "Udah jalan, Pak Supir."
Kai menghela napas, siap menyalakan mesin motornya kembali, tapi sebelum itu melepas jaket kuningnya terikat di pinggang lalu diberikan pada Haram tanpa menoleh. "Kau pakai rok. Duduk yang benar."
Tanpa kata, Haram menerima jaket itu yang lalu diletakan di atas pangkuan untuk menutupi rok yang panjangnya tidak lebih dari lutut. Ya, dia memang seorang gadis dengan wajah tampan bahkan terkesan tomboy, tapi pipinya merona saat itu. Apa sangat panas di sana?
Motor Kai mulai berjalan melewati pasir pantai dengan kecepatan agak lambat.
"Mau kemana terik-terik begini?"
"Ha? Oh, kabur." Jawab Haram dengan santai.
"Benar, 'kan? Kau selalu meninggalkan masalah."
"Sudah kubilang, ini gara-gara adikmu. Akhir-akhir ini dia terobsesi padaku. Selalu memberiku hal-hal aneh."
"Aneh? Seperti?"
Kai tidak langsung mendapat jawaban dari Haram, jadi ia menunggu sampai matanya menemukan sosok gadis memakai topi floppy berwarna coklat khaki, berjalan sendirian ke arah dua pohon kelapa yang terkenal karena melengkung membentuk hati. Biasanya tempat itu ramai dengan orang-orang yang ingin berfoto, tapi Jang Wonyoung dengan celingak-celinguk mengangkat ponselnya di depan wajah sambil berpose diam-diam.
"Adikmu memberiku banyak dress. Bukankah dia gila?"
Wonyoung juga memakai dress yang panjangnya sebetis berwarna kuning cerah, dengan kaki jenjang itu. Wonyoung terlihat sangat cocok, bahkan saat berjongkok lalu berpose dengan dua jari membentuk V. Ketika sadar ada orang lewat di depannya, gadis itu dengan cepat menurunkan ponsel kemudian memutar tubuhnya kebelakang.
Dia pemalu?
Kai mengerem motor dengan mendadak ketika Wonyoung berbalik lagi dan tatapan mereka tidak sengaja bertemu. Dua detik itu terasa sangat lama sampai ia tersadarkan dengan keluhan Haram.
"Aduh! Kau kenapa berhenti mendadak sih?!"
Kai menoleh dan meminta maaf, "Kau tidak apa-apa?"
"Jidatku bisa benjol sebesar gunung kalau kau mengendari seperti ini."
Dia hanya menghela napas mendengar ke-lebai-an sahabat sekaligus tetangganya itu. Kai kembali menatap kedepan saat mengingat Wonyoung masih di sana, tapi ternyata gadis itu sudah berjalan pergi.
.
.
.
-:- Kaki -:-
Datang dengan jalan perlahan tanpa suara, Wonyoung duduk di dekat pohon sambil mengeluarkan buku catatan berwarna aqua yang di ikat dengan tali berbentuk akar menjalar dengan hiasan daun. Buku ini lucu dan ia dapatkan dua bulan lalu saat pindah ke sekolah yang sekarang.
Di sini ramai karena wali kelasnya, Pak Jeon meminta seluruh murid kelas 10-2 untuk berkumpul dekat kolam renang. Dengan acak mereka duduk di manapun, tapi Wonyoung memilih duduk di bawah pohon karena terasa lebih sejuk, bahkan ada dua orang teman sekelasnya yang duduk di sampingnya.
Pak Jeon berdehem, "Perhatian untuk semuanya. Aku harus memberi tahu sesuatu tentang kelompok."
Anak-anak mengeluh. Ini adalah liburan, kenapa harus ada kelompok, sih? Serius?
"Sekolah tidak bisa membiarkan kalian berbuat seenaknya walau kalian liburan di sini. Mengertilah kami, ok?"
Seorang anak menyahut, "Tapi kelompoknya kami yang bikin ya, Pak?"
Pak Jeon mengangkat jari telunjuk dan digoyangkan kekanan dan kekiri di depan wajah, "Kalau seperti itu pasti ada orang yang tersisa. Tidak boleh ada yang tertinggal dan terpisah."
Ini sebuah kerugian bagi orang-orang yang memiliki musuh dalam kelas, contohnya tatapan permusuhan Bahiyyih pada Wonyoung saat mereka disatukan dalam kelompok yang sama. Wonyoung sendiri memandang ketempat lain di mana banyak kakak kelas sedang berkumpul di seberang kolam renang.
Ada seorang kakak kelas yang melihat ke arah sini, tapi membuang muka setelah Wonyoung memergokinya. Siapa? Wonyoung tidak tau karena kakak kelas pria yang memakai kaos oranye itu membalikan badan.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Wonyoung tanpa diduga dengan tanggap memberikan perhatiannya lagi pada ketua kelompok mereka, "Banana boat?"
"Ide bagus," bahkan di aminkan cepat pula yang langsung mendapat tatapan ganas dari Bahiyyih.
"Nana, kau tidak bisa seperti itu!" Bahiyyih mendekati si Ketua Kelompok, Nana, lalu berbisik, "Kau lupa dia bicara apa padamu waktu itu? Si Cewek Gila."
Wonyoung pura-pura saja tidak dengar.
"Tapi aku pikir idenya bagus. Bagaimana menurut kalian?"
Tiga orang yang lain mengangguk, Bahiyyih memutar mata, Wonyoung menahan senyum.
"Ayo!"
Mereka jalan melewati pesisir pantai untuk mencapai tempat penyewaan Banana boat. Bertemu orang lokal yang ramah menyapa. Wonyoung berjalan sendirian, agak tertinggal, tapi tidak masalah karena jadi bisa menikmati beberapa hal yang terlewat seperti kumpulan bunga unik. Ia menunduk untuk melihatnya. Bunga ini memiliki bentuk kelopak setengah saja, katanya ada makna yang terkandung di dalamnya.
"Wonyoung!"
Wonyoung menoleh pada teman-teman sekelasnya yang sudah agak jauh di depan. Ia segera berdiri tegak, tapi dirinya merasa seseorang menatap dari arah kanannya, ketika di tengok, sosok itu bersembunyi dengan cepat di belakang pohon kelapa. Meski sekilas, dia bisa melihat warna baju orang itu. Membuang prasangka, segera Wonyoung mengejar ketertinggalan.
.
Mungkin itu pertama kalinya Wonyoung tersenyum lebar saat menaiki Banana boat. Meski basah dan terjatuh kedalam laut, ia tertawa bersama yang lain. Lalu sebuah banana boat lain terguling tidak jauh dari tempat mereka hingga wajah mereka terciprat.
"YAK!"
Bahiyyih protes keras pada kumpulan kakak kelas, makin jadi ketika lihat ada kakaknya di sana.
"OPPA! BAWA JAUH-JAUH BANANA BOAT-MU!"
Kai membuat wajah mengejek pada Bahiyyih sebelum matanya bertemu Wonyoung. Pria itu memutar badan dan menggerakan tangan di air untuk mendekati banana boatnya.
"Wonyoung, Bahiyyih ayo naik lagi! Kita harus kembali ke tepi." Nana mengingatkan mereka.
Setelah menikmati adrenalin berpacu meluncur di atas air, mereka selesai dan turun di dermaga, kakak kelas yang tadi juga telah mengakhiri aktivitas Banana boat. Teman-teman sekelompok Wonyoung termaksud Bahiyyih sudah berjalan di depan meninggalkan dermaga, tapi Nana baru melepas pelampung dan mengembalikannya. Saat itu ia merasa harus menunggu Nana walau berdiri agak jauh dan ketika si Ketua Kelompok sudah selesai, seorang pria yang familiar menangkap tangan Nana.
"Tunggu," ucap pria berkaos oranye.
"Jaehoo-sunbae?"
Apa pria ini yang beberapa kali Wonyoung pergoki menatap kearah mereka bahkan mengikuti?
"Nana, kenapa kau terus menghindariku? Kau tidak suka denganku? Kau membenciku?"
Dari sudut pandang Wonyoung, Nana itu salah satu gadis tercantik di kelas bersama Bahiyyih, bahkan beberapa teman sekelas yang pria naksir padanya, dia juga baik hati. Sekarang dikejar-kejar oleh kakak kelas, itu bukan hal baru.
Nana mengusap lengan atasnya tanpa berani menatap sang kakak kelas, "Bu-bukan seperti itu, Sunbae—"
"Kau tidak menjawab panggilan dan membalas pesanku. Kau berBOHONG, 'KAN?!"
Jaehoo-sunbae tiba-tiba mencengkram kedua bahu Nana hingga pemiliknya memekik. Beberapa kakak kelas yang agak jauh dari mereka menoleh termaksud Kai.
Wonyoung diserang sakit kepala secara mendadak, lalu sebuah kilasan penglihatan muncul. Kilasan yang pernah muncul dalam mimpinya yang tepat seperti penglihatan nyatanya saat ini. Nana dan sang kakak kelas, dermaga, speedboat yang terparkir di samping dermaga kayu ini tepat di sisi Nana.
Dengan gegabah Wonyoung berjalan cepat mendekati Nana dan ketika sudah di belakang Nana, gadis itu terdorong ke samping karena sang kakak kelas yang memaksa tidak sengaja mendorong. Wonyoung segera menangkap Nana agar terhindar dari petaka buruk seperti dalam mimpinya, karena sikap heroik tanpa pikir panjang tersebut, Wonyoung yang berusaha menahan Nana agar tidak terbentur kepala speedboat tidak bisa menahan beban lebih lama—tangannya yang menahan di kepala speedboat menekuk hingga tergelincir, sebelah kakinya masuk ke antara cela antara speedboat dan dermaga, terjepit dalam air. Keadaan ombak yang lumayan besar membuat speedboat menghantam sisi dermaga. Ia merasa lututnya seperti dipalu beberapa kali karena hantaman badan speedboat.
"WONYOUNG!" Nana segera bangun.
"A-aku tidak—"
Belum selesai Jaehoo mengeluarkan alasannya, seseorang dari belakang Jaehoo berlari dan mendorongnya kesamping agar tidak menghalangi jalan. Itu Kai yang dengan sigap berjongkok dan memegangi Wonyoung.
Nana yang menangis langsung dibentak Kai, "Jangan menangis! Tahan speedboat-nya agar menjauh dari sisi dermaga!"
Dengan terisak Nana melakukan itu, Wonyoung sendiri terus memejamkan mata lantaran rasa sakit luar biasa ketika Kai angkat dan menggendongnya di depan.
Wonyoung tidak tau dan peduli lagi dengan sekitarnya, dia juga sempat pingsan. Saat sadar, Nana ada di sampingnya dengan ekspresi cerah tercampur air mata ketika melihatnya. Ia pun terkejut karena Nana langsung memeluknya.
"Maafkan aku. Karena aku-aku...," Nana benar-benar tidak bisa menahan isakannya.
Wonyoung yang sudah lama tidak merasa pelukan orang lain selain ibunya merasa aneh. Bukan aneh yang macam-macam, tapi inikah rasa pelukan dari seorang teman? Ia jadi ingin meletakan tangannya di bahu Nana dan mengatakan "Tidak apa-apa" yang ternyata semua hal itu dilakukan olehnya.
Isakan Nana makin keras, "Ternyata ka-kau itu orang baik, Wonyoung. Kau tidak aneh atau gila..."
Wonyoung tidak tau harus senang atau sedih, tapi saat berpelukan itu, matanya menangkap seseorang bersandar di depan jendela ruang rawatnya. Entah sejak kapan, namun orang itu tak lama pergi. Ia bisa melihat siapa itu, orang yang waktu itu membantunya mendapatkan koper.
Nana melepaskan pelukan dan menyeka air matanya sendiri, "Maaf ya aku cengeng banget."
"Aku juga cengeng, kok."
"Tapi kau tidak menangis tadi sampai digendong kesini, lho. Terus pingsan."
"Lama?"
"Sejam mungkin, aku lupa." Jawab Nana sambil berpikir, lalu teringat hal penting, "Oh, kakimu? Apa sakit? Katanya sih tidak ada yang patah tapi lebamnya lumayan."
Wonyoung mencoba menyentuh kaki kanannya dan benar, sangat linu.
"Ini sudah sore, aku antar ya ke hotel!"
"Aduh tidak usah—" tapi ucapannya terpotong oleh Nana yang bersemangat.
"Tunggu sebentar! Aku akan cari kursi roda," gadis itu langsung pergi dari sisi Wonyoung.
Lima belas menit Nana belum juga kembali. Wonyoung coba turun dari ranjang dan ternyata dia bisa berdiri walau saat berjalan agak pincang dan linu sekali rasanya. Ia juga keluar dari ruang rawat sekalian mencari Nana.
Ketika berjalan sendirian di lorong dengan kaki tergips, Wonyoung merasa lelah jadi dia ingin menuju kursi tunggu yang tidak jauh. Karena terburu-buru ingin cepat duduk, kaki linu mendadak hingga ia hampir jatuh, namun kedua lengan atasnya dipegangi.
Wonyoung segera berterima kasih tapi saat menoleh untuk melihat siapa penolongnya, ternyata kakak Bahiyyih. Orang itu membantu Wonyoung untuk duduk tanpa kata. Ia ingat percakapan terakhir mereka agak canggung.
"Kau|Kau—" Dan lagi-lagi mereka bicara dengan bersamaan. Wonyoung akan menunggu orang yang tidak mau dipanggil Oppa itu bicara dulu saja.
"Kau kenapa berjalan sendirian dengan kaki seperti itu? Di mana teman—"
Lalu tiba-tiba Nana datang, "Ah! Wonyoung, maaf lama. Aku bertanya pada perawat dan ternyata kursi rodanya ada digudang, jadi—eh Kai-sunbae, anu...," mimiknya berubah, bahkan menunduk saat menyadari kehadiran kakak kelas mereka itu.
Wonyoung hanya memperhatikan bagaimana kikuk dan tegangnya Nana berhadapan dengan Kai. Ada apa?
"Jaga temanmu." Setelah Kai mengatakan itu, ia langsung berbalik pergi tanpa melihat anggukan cepat Nana.
Ketika Kai sudah jauhan, Nana mengangkat kepalanya lagi sambil bernapas lega, "Aduh, kenapa sih kakaknya Bahiyyih itu harus menakutkan seperti itu? Padahal di TV dia sangat lucu dan menggemaskan."
Wonyoung hanya mendengarkan selagi Nana membantunya duduk di kursi roda.
"Apa kau punya salah padanya?" Wonyoung niatnya ingin menggoda Nana, tapi gadis yang mendorong kursi rodanya ini mengiyakan dengan nada sedih.
"Ketika kau terjepit aku hanya menangis, dia pun datang lalu membentakku untuk berhenti menangis dan membantunya menyelamatkanmu. Aku malu dan merasa bersalah padamu, Wonyoung."
Wonyoung mengatakan tidak apa-apa, namun hatinya berkata lain karena ia dilanda penasaran. Terlebih dia belum mengucapkan apa-apa pada Kai.
Hutang terima kasih lagi.
"Tapi kenapa ya...aku merasa dia sangat marah sekali saat itu. Bahkan panggilan Bahiyyih pun tidak digubris ketika menggendongmu."
.
.
.
-:- Kecut -:-
Setelah lelah di abaikan sang kakak yang seperti orang lain ketika menggendong Wonyoung yang pingsan, Bahiyyih berhenti mengikuti, ada sejumput rasa kesal, tapi ya sudahlah, ini demi rasa kemanusiaan.
Namun salah seorang temannya nyeletuk, "Kai-sunbae sangat perhatian dengan Wonyoung ya..."
"Kai-oppa memang baik, kok."
"Tapi menurutku lebih dari itu."
"Tidak mungkin," Bahiyyih tetap yakin dengan perkiraan awalnya.
Sejam kemudian. Ketika Nana masih di rumah sakit, Bahiyyih dan yang lain hendak menjenguk Wonyoung, namun dari kejauhan mereka lihat Kai berdiri di depan kamar Wonyoung tanpa melakukan apapun.
Saat itu Bahiyyih ingin menjerit 'PENGHIANAT' tapi hanya terealisasi dalam hati.
"Bucin sekali." Celetuk lagi temannya menambah bensi dalam api Bahiyyih.
"Ah, apa sih. Oppa-ku memang perhatian sama siapapun, kok." Tingkat denial Bahiyyih sudah pada batas tersenyum palsu. Benar-benar tidak percaya kakaknya sendiri menghianati keyakinan Bahiyyih tentang sang kakak yang menganut Korea Tanpa Pacaran.
"Ya sudah. Kita pergi yuk! Jangan ganggu!"
Bahkan Bahiyyih menanggapi dengan 'Hehe' yang mana palsu sekali untuk dikatakan tawa. Jengkel dan dengki hati ini menembus batas dan melampauinya.
.
Tapi kakaknya yang sekarang ini begitu menyedihkan. Setelah pulang dari rumah sakit duduk termenung di kursi dekat mesin minuman kaleng yang mana di sana minim pencahayaan. Dramatis sekali. Bahkan tidak menyadari Bahiyyih menghampiri untuk membeli beberapa minuman.
Saat bunyi kelontangan di bawah mesin, Bahiyyih mengambil dua minuman rasa buah; satu kuning dan satunya merah muda. Ia mendekati sang kakak untuk meletakan yang warna kuning di pangkuan Kai.
"Jangan sedih terus! Wajahmu jadi aneh, Oppa."
Kai mengangkat wajahnya untuk melihat Bahiyyih. Dia langsung tersenyum khas dengan hanya satu susut bibir yang terangkat, "Siapa yang sedih? Kembali kekamar sana. Sudah malam nanti anak kecil diculik."
Bahiyyih tidak marah lagi, jadi pamit dan berbalik. Belum melangkah menjauh, ia dengar kakaknya mengatakan terima kasih, namun Bahiyyih hanya melangkah pergi.
Baru lima langkah, terdengar semburan dan makian di belakangnya.
"Bahiyyih kau, kAU BENAR-BENAR—LEMON NON SUGAR!"
Memeluk satu-satunya minuman stroberi, Bahiyyih berlari dan bersorak dalam hati—inilah, inilah pembalasan dendam yang setimpal untuk kepercayaan yang terhianati! HAHA-HAHA!
.
.
.
To be continued...
A/N: Aku ngga tau ada yang cocok apa ngga sama visual Jung Haram, tapi aku kepikir Kashima Yuu yang di Gekkan Shoujo Nozaki-kun.
