"Eomma.." Baekhyun berguman lirih, menatap refleksi dirinya pada cermin besar salah satu kamar kediaman Jungsu, ia terlihat mengagumkan dengan setelan kemeja putih pilihan Jungsu dua jam yang lalu.
Malam ini tepat acara pertunangan akan dilaksanakan, Baekhyun merasa konyol, bertunangan dengan seseorang yang belum ia kenal sebelumnya? Ini seperti sebuah lelucon.
"Banyak hal berubah setelah kepergian eomma, aku tidak yakin mampu melewati semuanya. Ini bukan perkara mudah, ini masalah hati." bohong jika Baekhyun tidak merasa terbebani, namun sebagai pihak yang telah mengambil keputusan tentu ia harus bertanggung jawab.
Park Chanyeol.
Putra tunggal Park Jungsu. Pemuda itu tampan dan juga tinggi, Baekhyun mengetahuinya karena Jungsu sempat memperlihatkan foto Chanyeol. Chanyeol sedikit keras kepala juga cenderung kasar namun sebenarnya ia pemuda yang cukup baik, setidaknya itu yang Jungsu katakan, tak menjawab rasa penasaran Baekhyun atas dasar apa pertunangan ini dilaksanakan, mengingat Jungsu berharap penuh akan kelancaran acara malam ini.
"Aku tidak mengenal dia, aku juga belum pernah bertemu dengannya. Aku tidak pernah membayangkan akan menjalani kehidupan rumit seperti ini. Seandainya saja eomma masih berada disini, menemaniku.." lirihnya, seolah wanita yang telah mengantarkannya kedunia ini berada disana. Sekilas Baekhyun memang terlihat sangat tampan, nampak memiliki sesuatu yang mampu menarik perhatian dalam sekali pandang, namun jika melihat lebih dekat kita tau sebenarnya ia amat menyedihkan.
"Eomma bogoshipeo.. Saranghae.."
.
.
.
.
Hard to Say 'l Love You'
.
Chapter 2
.
ChanBaek
.
Boy Love, Yaoi, OOC, Typo(s)
.
Don't Like Don't Read
No Bash No Flame
.
.
Happy Reading
.
.
Jungsu mengerjap, memandang Baekhyun yang masih enggan berdiri, lelaki paruh baya itu menggeleng pelan. "Berdirilah." pintanya datar.
"Tidak, sebelum kau menuruti permintaanku, tuan." Baekhyun tetap bersikeras.
"Kau tahu apa yang sedang kau lakukan saat ini, Baekhyun-ah?" Bibi Xi memaksa Baekhyun untuk berdiri, sementara Hangeng mencegahnya.
Jungsu mencengkram pundak Baekhyun, memaksanya berdiri. "Apa kau yakin dengan ucapanmu?" tekannya.
Tatapan Jungsu seolah penuh ancaman, Baekhyun tersentak, menyadari ketika ia telah berkata 'Ya' maka detik itu juga dirinya resmi mengorbankan diri. Rasa ragu sempat naik kepermukaan namun dengan cepat tertelan setelah teringat kondisi Luhan saat ini. Demi Baekhyun, Luhan sering kali berkorban, pemuda itu sangat baik menganggap Baekhyun layaknya saudara laki-laki yang berharga. Baekhyun tidak boleh egois, membiarkan Luhan berada dalam situasi ini sama halnya dengan membunuh diri sendiri secara perlahan.
"Ya, aku yakin."
.
"Siapa namamu?"
"Byun Baekhyun, tuan."ㅡmereka dalam perjalanan yang tidak Baekhyun ketahui, masih tak menyangka Jungsu menyetujui permintaannya, namun lebih dari itu Baekhyun bersyukur telah berhasil menarik keluar Luhan dari masalah ini.
"Dimana kau tinggal?" tanya Jungsu, tanpa mengurangi konsentrasi mengemudinya.
"Karena suatu hal, untuk sementara aku tinggal diapartemen Luhan hyung."
"Kau menumpang?"
Baekhyun ingin sekali menertawakan dirinya, menumpang?ㅡterdengar sedikit menyedihkan, tapi itu kenyataan. "Ya."
"Lalu dimana orang tuamu tinggal?"
Deg.
"A-appa dan eommaㅡ" Baekhyun berusaha berpikir dengan tenang, namun kedua bola mata yang bergulir panik itu mengacaukannya. Ia memejamkan mata sesaat kemudian menghela nafas. "...mereka sudah meninggal karena kecelakaan dua tahun yang lalu. Awalnya aku tinggal dipinggiran kota, karena mendapat beasiswa disalah satu kampus di kota ini aku memutuskan untuk pindah kemari."
"Aku turut berduka atas kepergian kedua orang tuamu." Jungsu bersimpati.
Baekhyun tersenyum menanggapi. "Aku sudah mulai terbiasa menerima keadaanku saat ini."
"Ah, kau punya kekasih?"ㅡseperti teringat sesuatu Jungsu reflek bertanya.
'Kris.' batinnya, Baekhyun menggeleng kaku, tidak rela membohongi kenyataan hubungannya bersama Kris.
Raut wajah Jungsu seketika berubah cerah. "Bagus." gumannya puas. "Seandainya kau sudah memiliki kekasih maka maafkan aku jika hari ini harus menjadi hari terakhir hubungan kalian berdua."
'Kris, mianhae..'
"Mulai saat ini jangan memanggilku tuan."
Baekhyun menoleh cepat, memperhatikan wajah cerah Jungsu, seolah sebagian beban hidupnya telah terangkat. "Lalu?"
"Panggil aku aboji, Jungsu aboji. Karena kau sudah kuanggap sebagai putraku sendiri."
"A-apa?"
"Mengapa kau terlihat terkejut seperti itu?" Jungsu tertawa ringan. "Tidak ada yang salah, Baekhyun-ah. Karena sebentar lagi kau akan bertunangan dengan putraku, Park Chanyeol."
"N-ne, tuㅡah, maksudku aboji." gagap Baekhyun.
"Terima kasih."
"Untuk?"
"Kesediaanmu.." Baekhyun mengernyit tak paham. "ㅡmempertahankan sesuatu milikku yang paling berharga di dunia ini."
.
.
.
.
"Kau sudah memiliki anak dari Cho Kyuhyun, kupikir kau akan mengalah." dari nada bicaranya, Jungsu nampak menahan emosi.
"Tidak. Aku menginginkan putraku, lagipula Seohyun masih terlalu kecil, aku membutuhkan seseorang untuk memimpin perusahaanku sekarang." balas wanita bernama Kim Taeyeon ituㅡmantan istri Jungsu. Taeyeon telah menikah dengan Cho Kyuhyun, memiliki seorang anak perempuan bernama Cho Seohyun yang berumur lima tahun.
"Kau yang meninggalkannya." sindir Jungsu. "ㅡbahkan Kyuhyun tidak menginginkan kehadirannya, sekarang dengan mudahnya kau ingin membawanya pergi? Cih! Tidak akan kubiarkan."
Mendapat tatapan sinis Jungsu, Kyuhyun mengelak. "Kau menuduhku tanpa bukti." ucapnya.
"Kau mengancam Chanyeol saat itu, kau pikir aku tidakㅡ"
BRAKK!
"CUKUP!" sentak Taeyeon. "Jaga bicaramu! Jangan sekali-kali kau berani berbicara jelek tentang suamiku. Kyuhyun jelas jauh lebih baik darimu, Jungsu-ya."
"Yeobo, tenanglah.." pinta Kyuhyun.
Baekhyun disana terdiam menyaksikan pertengkaran sepasang mantan suami istri itu, sementara Seohyun menangis keras, terkejut mendengar teriakan Taeyeon.
Seorang pelayan wanita berjalan tergesa kearah mereka. "Tuan Park dan nyonya Kim, tuan muda Park Chanyeol sudah datang."
Jungsu dan Taeyeon seketika diam, sedikit merapikan penampilan mereka, mencoba bersikap biasa seolah pertengkaran barusan tidak pernah terjadi. Dari arah pintu seorang pemuda berpawakan tinggi masuk kedalam, seorang pelayan wanita menyambutnya, mengantar menuju meja Jungsu. Dengan balutan kemeja putih, senada dengan yang Baekhyun kenakan, karisma pemuda yang tengah tersenyum itu terpancar jelas.
Chanyeol sudah mencium gelagat aneh Jungsu setelah dua minggu yang lalu ia ditugaskan ke Jepang, mengurus cabang perusahaan disana. Rencananya Chanyeol akan berada disana selama satu bulan namun baru dua minggu berlalu Jungsu memintanya kembali, ada sesuatu yang harus mereka bicarakan, ini aneh.
Chanyeol baru tiba di restoran sesuai dengan alamat yang Jungsu berikan, ia tak menyangka Taeyeon dan Kyuhyun juga hadir dalam acara makan malam, sebenarnya cukup menyebalkan namun Chanyeol berusaha bersikap sopan seperti yang Jungsu ajarkan.
"Selamat malam appa, eomma dan Kyuhyun ahjussi." sapanya ramah.
Taeyeon berdiri, menyambut Chanyeol dengan pelukan hangat. "Sayang, bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja? Kau makan dengan teratur saat di Jepang kemarin?"
"Aku baik, eomma." jawabnya, perhatian Chanyeol teralih. "Seohyun-ah, dia menangis?"
"Dia hanya haus. Yeobo, berikan Seohyun air, dia kehausan." pinta Taeyeon.
Taeyeon berbohong, sebelum datang Chanyeol yakin mereka sempat bertengkar, aura tegangnya masih dapat ia rasakan.
"Duduklah." pinta Jungsu.
"Sebenarnya ada acara apa ini? Kelihatannya penting." tanya Chanyeol yang mengambil posisi duduk disamping Baekhyun.
Chanyeol menatap Baekhyun sekilas, terkesan dengan wajah cantik dan imut pemuda itu, membuatnya teringat pada seseorang yang tengah ia rindukan karena hampir dua minggu tak bertemu. Melihat sekilas, mereka tampak sama, sama-sama bertubuh mungil.
"Aku belum pernah melihatmu sebelumnya."ㅡmeneliti Baekhyun, kemudian beralih pada Jungsu. "Siapa dia?"
Baekhyun tersentak. "Annyeong haseyo, Byun Baekhyun imnida." mengulurkan tangannya sedikit ragu.
Chanyeol segera membalas. "Park Chanyeol imnida."ㅡia tersenyum, Baekhyun tidak yakin apakah Chanyeol masih bisa tersenyum setelah ini.
Chanyeol terkagum merasakan lembut kulit tangan Baekhyun juga jari-jarinya yang lentik seperti milik seorang gadis. Apa mungkin Baekhyun benar-benar seorang gadis? Lihatlah, ia bahkan memakai eyeliner pada kedua mata kecilnya. Seorang pemuda bereyeliner? Chanyeol akui itu sama sekali tidak terlihat aneh, malah terkesan mengagumkan.
"Kau menyukainya?" pertanyaan Jungsu membuat dahi Chanyeol berkerut, tak ingin ambil pusing ia mengangguk. Menyukai? Tentu saja, Chanyeol akan merasa senang memiliki kesempatan berteman dengan Baekhyun.
"Baekhyun akan menjadi tunanganmu." jelas Jungsu.
"Apa? Tunangan?"ㅡChanyeol bertanya seolah ia telah salah dengar.
"Ya, untuk satu jam kedepan, aku sudah menyewa sebuah gedung, mengundang beberapa relasi bisnisku yang akan menjadi tamu penting untuk menghadiri pertunangan kalian." Jungsu menjelaskan, tanpa peduli reaksi Chanyeol yang mulai panik.
"KAU BECANDA?" sentaknya tak sopan. "Kalian mengerjaiku? Ini sama sekali tidak lucu." Chanyeol tahu ini serius, Jungsu tak akan melakukan hal bodoh hanya untuk mengerjainya.
"Aku serius." jawab Jungsu singkat.
Tidak. Tidak. Tidak. Ini tidak bisa dibiarkan! Chanyeol tidak akan bertunangan dengan Baekhyun atau siapapun malam ini. Dia sudah memiliki kekasih. Catat!
"Aku tidak mau."
"Aku tidak meminta kesediaanmu." timpal Jungsu menyebalkan.
Chanyeol mendengus geli. Ini gila! "Aku baru melihatnya beberapa menit yang lalu dan untuk satu jam kedepan kau meminta kami bertunangan, lelucon konyol macam apa ini?"
"Jadi.." Jungsu memberi jeda, menatap Chanyeol dengan pandangan sebal. "ㅡdimana letak masalahmu?"
Chanyeol mendelik marah, bicara dengan Jungsu membuat emosinya meluap, mengapa lelaki tua ini gemar sekali memutuskan segala sesuatu seenaknya. Chanyeol bertanya dalam hati, apa masih ada hal lain yang akan membuatnya meledak setelah ini?
"Agar saling mengenal lebih jauh, setelah pertunangan ini, bawa Baekhyun tinggal bersamamu."
"APA?!"ㅡdan ternyata memang ada. Tangan Chanyeol terkepal erat dibawah meja, rahang terkatup rapat dengan gigi bergelatuk menahan mulutnya mengeluarkan segala makian.
"Beginikah caramu memperlakukan anak kita selama ini?" Taeyeon menatap Chanyeol prihatin.
"Tidak perlu ikut campur." balas Jungsu dingin.
Taeyeon tersenyum remeh. "Aku ibunya. Apa kau mencoba melupakan fakta itu?"ㅡmerasa Jungsu tak akan lagi menyela, Taeyeon beralih pada Chanyeol. "Kau tidak menyukai Baekhyun, sayang? Tidak apa-apa, kau tidak perlu memaksakan diri."
"Berhenti berulah, Taeyeon-ah." sentak Jungsu, sirat akan ancaman.
"Chanyeol sudah dewasa, biarkan ia menentukan pilihan sendiri. Kau memperlakukannya dengan buruk disini, aku tidak bisa melihat putraku menderita. Lebih baik Chanyeol tinggal bersamaku di cina." Taeyeon berucap sesuai skenario yang ia buat.
"Tahu apa kau tentang penderitaan putramu?" sindir Jungsu. "Dasar munafik.." lirihnya.
"Apa maksudmu?"
"Sejak awal kau tidak menginginkan kehadirannya." Jungsu sedikit khawatir akan reaksi Chanyeol, putranya itu pasti teringat lagi. Jungsu tak memiliki pilihan, peluang Taeyeon amat besar disini.
Tinggal di cina bersama Taeyeon, kedengarannya menarik. Ibu? Chanyeol tumbuh tanpa sosok itu, saat itu ia hanya sosok kecil yang belum mengerti arti perpisahan, ia menginginkan kehadiran ibunya dan selalu berakhir dengan ancaman untuk menjauh, Kyuhyun sang pelaku. Rasanya sampai saat ini Chanyeol masih memiliki dendam pribadi pada lelaki itu. Ah, sudahlah.. kenangan pahit di masa lalu tidak seharusnya untuk di ingat.
"Sudah kuputuskan.." suara Chanyeol membuat mereka kembali fokus. "ㅡaku tidak akan bertunangan dengan Baekhyun, aku juga tidak akan tinggal di cina bersama eomma." Chanyeol merasa seseorang tengah menatapnya, ia menoleh, menangkap basah Baekhyun disana. "Kau diam saja. Apa kau begitu ingin bertunangan denganku?"
Baekhyun membuang muka. "Aku tidak memiliki hak untuk menolak." jawabnya lirih.
Chanyeol kembali tersulut. "Aku sudah memiliki kekasih yang sangat kucintai jika kau ingin tahu! Dan aku tidak mungkin berpikir untuk menghianaㅡ" Chanyeol seketika bungkam, sadar telah melakukan kesalahan.
"Apa yang kau maksud itu Do Kyungsoo?" suara Jungsu dingin menusuk, membuat Chanyeol merinding, ia terpaksa mengangguk, tak memiliki alasan untuk menyangkal.
BRUAKK~
"Berulang kali kukatakan padamu untuk putus dengannya. Dia pemuda jalang, kau termakan rayuannya!"
Taeyeon terkejut mendengar bentakan Jungsu, tak menyangka Jungsu akan semurka ini sementara Baekhyun terbelalak dengan mulut terbuka. Untung saja sebelum ini Kyuhyun sempat membawa Seohyun pergi, karena mungkin gadis kecil itu akan kembali menangis ketakutan.
"Aku sangat mencintainya." ucap Chanyeol lirih, memilih mengalah demi Kyungsoo, jika ia melawan maka sosok Kyungsoo akan semakin buruk dimata Jungsu.
"Tahu apa kau soal cinta? Bahkan kedua matamu sudah buta oleh cinta pemuda jalang itu dan parahnya kau tak menyadarinya." meskipun tidak lagi membentak suara Jungsu terdengar sinis.
Pemuda jalang? Chanyeol merasa risih mendengarnya, itu terkesan sangat rendahan. "Appa tidak berhak menyebut Kyungsoo sebagai pemuda jalang." tekan Chanyeol.
"Kenapa? Sebutan itu cocok sekali untuknya, untuk pemuda dengan banyak kekasih seperti dia."
Tidak bisa dibiarkan, ucapan Jungsu sudah sangat keterlaluan. "CUKUPㅡ" Chanyeol berdiri tanpa sadar. "Appa menfitnanya! Membencinya tanpa sebab yang jelas, apa salah Kyungsoo? Katakan padaku!"
Jungsu ikut berdiri danㅡ PLAK!
"Jungsu-ya!" pekik Taeyeon.
"Aboji, hentikan." Baekhyun menahan tangan Jungsu yang hampir melayangkan tamparan kedua.
Chanyeol merasa sakit, hatinya teremas nyeri menerima kenyataan Jungsu baru saja menamparnya. "Aku bahkan tidak berani menuduh seseorang jika tidak ada sebab yang pasti." suara Jungsu terdengar melembut. "Kuberi kau pilihan, bertunangan dengan Baekhyun atau tetap mempertahankan hubunganmu dengan Kyungsoo dan lupakan kenyataan bahwa aku pernah menjadi ayahmu." ucapnya tegas.
"Jungsu-ya! Apa yang kau katakan? Kau melukai perasaannya!" bentak Taeyeon yang sudah berada disamping Chanyeol, berusaha memeluk tubuh tingginya.
Melupakan kenyataan bahwa Jungsu pernah menjadi ayahnya? Chanyeol bahkan sudah lama tidak merasakan kasih sayang ibunya, dan sekarang haruskan ia kehilangan kasih sayang Jungsu juga? Mengapa Jungsu tega sekali mengatakan itu?
"Bicaralah, sayang.." pinta Taeyeon, memeluk Chanyeol dengan tubuh kecilnya.
Mulut Chanyeol kembali terkatup, tidak tahu harus berkata apa. Situasi membingungkan ini membuatnya mengacak rambut dengan wajah frustasi tanpa sadar. "Jangan kau pikir aku hanya menggertakmu, aku sedang tidak ingin bermain-main, Park Chanyeol." ucap Jungsu serius.
Chanyeol tertunduk, menghela nafas panjang sebelum mengucapkan kalimat yang mungkin akan membuatnya menyesal seumur hidup. Menatap lurus kedepan, pandangan pemuda itu kosongㅡ "Aku akan bertunangan dengan Baekhyun."
.
.
.
.
"Ah, Tuan Wu.. Suatu kehormatan anda bisa memenuhi undanganku." Jungsu tersenyum cerah mengiringi langkah tamunya.
Acara telah berlangsung hampir satu jam, Baekhyun berharap ini akan segera berakhir, sedari tadi ia hanya berdiri kaku, tersenyum palsu pada setiap tamu yang Jungsu kenalkan membuat bibir dan pipinya sakit. Pandangan Baekhyun beredar, tidak bisa menemukan sosok Jungsu maupun Chanyeol dimanapun, ia berguman acuh menghampiri meja minuman untuk mendapat segelas air.
"Baekhyun-ah, kemari sebentar." Baekhyun mendengus, ia baru ingin santai sejenak, tidak bisakan Jungsu memberinya waktu? Mengumpat pelan, pemuda itu tetap mempertahankan posisi membelakangi tanpa niat segera berbaur. Baekhyun belum siap tersenyum palsu lagi, pikirannya tengah kacau akan keadaan Luhan yang belum ia ketahui juga bagaimana menjelaskan keadaan ini pada Kris nantinya. Merasa tidak bisa mengacuhkan Jungsu lebih lama lagi, Baekhyun segera berbalik, namun sedetik kemudianㅡPRANK!
Tanpa sadar gelas yang ia pegang terjatuh dan pecah. 'Kris..' bibir Baekhyun berucap tanpa suara.
"Ya! Kau baik-baik saja?" Jungsu menghampiri Baekhyun dengan raut khawatir. "Apa tanganmu terluka?"
Untuk sesaat Baekhyun tak dapat mendengar apa yang Jungsu katakan, kedua matanya hanya fokus pada sosok Kris. Kebetulan macam apa ini? Kris berada disini, menghadiri pesta pertunangan kekasihnya dengan orang lain. Tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan Kris saat ini, Baekhyun tidak dapat membaca apapun dari tatapan itu. "ㅡbiar kulihat tanganmu!" suara Jungsu kembali terdengar, setelah beberapa saat terasa menghilang ditelan rasa keterkejutan.
Baekhyun menggeleng cepat. "Aku tidak apa-apa, aboji. Tanganku hanya sedikit licin." jawabnya asal.
Jungsu mendesah lega. "Lain kali berhati-hatilah. Aku tidak ingin melihatmu terluka." peringatnya, yang dibalas anggukan Baekhyun.
"Apa pemuda ini tunangan Park Chanyeol?" tanya Kris datar.
Baekhyun tersentak sementara Jungsu tersenyum cerah. "Ya. Dia Byun Baekhyun."
Kris mengulurkan tangan. "Kris Wu. senang bertemu denganmu, Baekhyun-ssi."ㅡbahkan mereka nampak seperti orang asing, Baekhyun membalas dengan ragu.
"Aku tidak percaya dia mendahuluiku." Kris tertawa ringan, mimik wajahnya pura-pura kesal. Bagaimana bisa ia tetap setenang ini sementara Baekhyun sudah ingin menjerit keras. "Chanyeol beruntung mendapatkannya, dia pemuda yang manis." komentar Kris yang disambut tawa Jungsu.
"Ah, kurasa aku harus pergi lebih awal. Untuk proyek terbaru yang sudah kita rencanakan, aku akan datang kembali minggu depan untuk membahasnya lebih lanjut." ucap Kris sebelum undur diri.
Bahkan setelah statusnya resmi menjadi tunangan Chanyeol, Baekhyun masih tidak rela hubungan mereka berakhir, ia merasa menjadi kekasih yang buruk. 'Kumohon, biarkan saja seperti ini sampai waktu yang akan menjawab semuanya. Aku mencintaimu..'
.
.
.
.
END OR TBC?
Tergantung minat para readers. Makasih banyak buat readerdeul yang udah bersedia ninggalin review..
Big Thank's to :
| anita lee 921025 | 08052016 closed | SyJessi22 | Baekrisyeol | Novey | uchanbaek | ChanBaek HunBaek HardShipper |
.
.
.
.
