Snowdrop

(Chapter 1)

Diamond no Ace belongs to Terajima Yuuji

Snowdrop belongs to shinjishinyuki

A.N: Fanfiksi ini akan mengambil beberapa scene dari film Somewhere Only We Know, karena dari situlah Yuki mendapat inspirasi untuk menulis ini. Dan untuk si ngerepotin satu itu *ditendang acchan*, Sawamura Kei disini mirip… Nanti di chapter depan baru dijelasin. Kalau nggak chaper depan, ya depan depannya lagi.

Oke, Happy Readiiiing~!

.

.

.

.

.

Salju masih turun di Tokyo. Miyuki menghela nafas, mengeluarkan uap putih dari bibirnya. Dia berjalan menuju taman di salah satu sudut kota, lalu duduk di bangku di sisi taman. Miyuki menengadahkan kepalanya. Menatap langit yang menjatuhkan salju. Sekelebat memori terlintas dikepala. Termasuk saat seorang anak bernama Sawamura Kei yang memberinya sebuket bunga.

Sawamura.

"Eijun…" Gumamnya pelan.

"Ittei! Kenapa kau mencubit hidungku Kazuya?!"

Miyuki tersenyum mengingat itu. Ia memejamkan mata. Senyumannya perlahan memudar. Ia diam duduk disana.

"Kazuya-san!"

Miyuki membuka mata. Kei. Anak itu tersenyum riang. Lalu tanpa permisi segera duduk disebelahnya. "Ohayou Kazuya-san!"

Sekali lagi, Miyuki tersenyum lalu membalas sapaan Kei, lupakan fakta bahwa anak itu langsung memanggil nama depannya. "Ohayou."

Tangan Kei terulur, menyodorkan sebuket bunga kearah Miyuki. Bunganya beda dari yang kemarin. Berwarna kuning dengan kelopak yang cukup banyak. Miyuki menerima buket itu lalu menatapnya. "Jadi, ini bunga apa dan apa maknanya?"

"Zinnia Yellow. Artinya,"

.

.

.

.

Zinnia Yellow: Kenangan setiap hari

.

.

.

"Hng?" Miyuki mengangkat sebelah alis.

Kei menatap Miyuki. "Karena, selalu ada kenangan indah di tiap harinya. Makanya, aku memberikan bunga ini untuk Kazuya-san."

Pria berkacamata itu mengangguk. "Arigatou." Lalu tersenyum sembari meletakkan buket itu di pangkuannya. "Tapi aku penasaran, kenapa kau memberikan bunga padaku?"

Anak itu menunduk lalu memainkan jarinya gugup. "Ka-karena semenjak sebulan yang lalu, aku selalu melihat Kazuya-san disini. Setiap hari. Duduk diam hingga matahari terbenam lalu pulang. Jadi, aku putuskan untuk coba menemani Kazuya-san." Kei tersenyum kecil.

"Sawamura,"

"Kei saja."

"Oke, Kei, aku hargai keputusanmu itu. Tapi aku baik-baik saja, sungguh. Aku senang berada disini. Duduk sendiri hingga mentari terbenam. Menenangkan diri. Selain itu, apa orangtuamu tidak mencarimu? Belum lagi kemungkinan jika rumahmu jauh dari sini. Mereka pasti khawatir dimana kau berada." Miyuki tersenyum tipis.

Senyuman itu dibalas oleh Kei. "Jangan khawatir, jika pulang aku harus kesana." Kei menunjuk sebuah gedung putih yang berjarak beberapa ratus meter dari tempat mereka. "Selain itu, Papa tidak akan mengkhawatirkanku, karena Papa masih tidur sampai sekarang."

Kali ini Miyuki dibuat bingung oleh anak itu. "Papamu? Masih tidur?"

Kei mengangguk. "Hum! Aku ingin menemani Papa disana, tapi aku takut melihatnya yang dikelilingi selang dan ada bunyi yang berlanjut! Bunyinya seperti tit, tit, tit, aku takut mendengarnya! Jadi Chris Ojiisan mengizinkanku untuk pergi bermain keluar sementara dia menjaga Papa! Jadi, boleh aku temani Kazuya-san disini?"

Miyuki memutuskan menjawab ya. Sekalipun dia sendiri dipenuhi rasa penasaran. Karena dari cerita Kei, dia tahu bahwa 'Papa' yang disebut Kei itu sedang koma, dan apa-apaan tadi? 'Chris Ojiisan'? Kemarin Mochi, hari ini Chris?

"E-eh?! Jadi aku boleh menemani Kazuya-san disini?!"

"Iya, iya. Kau boleh datang kesini. Aku akan selalu datang kesini dan aku mau menemanimu." Miyuki segera mengusak rambut anak itu. Membuat Kei segera terdiam dan menatap Miyuki. "E-EH?!" Miyuki segera panik saat air mata mulai menghiasi pipi Kei. "Ke-Kei, ada apa, apa aku meyakitimu atau apa?! Tu-tunggu dulu, e-eh?!" Miyuki semakin panik saat beberapa pengunjung taman mulai menatap dirinya dengan tatapan aneh dan curiga.

Kei terisak pelan, lalu mengusap pipinya dengan kedua tangan. Dengan ragu, Miyuki segera mengusap punggung anak itu, yang membuat tangisan Kei semakin parah. Membuat tatapan orang-orang semakin curiga padanya. Miyuki panik. Panik karena Kei tiba-tiba menangis, dan panik karena takut dikira pedofil.

The heck—

MIYUKI TAHU DIA SUDAH MEMUTUSKAN BERHENTI DI KEGIATAN BASEBALLNYA, TAPI BUKAN BERARTI DIA BERALIH PROFESI DARI CATCHER JADI PEDOFIL WOI!

"Ke-Kei, doushita no?" Miyuki bertanya panik, takut jika salah satu pengunjung mulai meraih ponselnya dan menghubungi polisi.

Sepertinya Miyuki beruntung.

Meskipun dia juga kaget.

Kei masih menangis, tapi kedua lengannya memeluk tubuh Miyuki erat. Ia menenggelamkan wajahnya di tubuh Miyuki. Tetap terisak.

Miyuki tersenyum tipis. Lalu tangannya refleks memeluk Kei balik.

Karena entah mengapa,

Pelukan ini…

Terasa begitu dirindukan.

.

.

.

.

Senja mulai membekuk. Pias jingga bercampur ungu menghias langit. Salju berhenti. Kei meneguk coklat panas yang dibelikan Miyuki. Lehernya terbalut syal hitam Miyuki. Disampingnya, Miyuki duduk sambil menggenggam segelas macchiato.

"Saa." Miyuki berdiri. "Ayo, kuantar."

Kei mengangguk. Ia segera berdiri. Lalu mengulurkan tangannya yang bebas pada Miyuki. Miyuki tersenyum, lalu segera meraih tangan Kei, menggenggamnya. Ia menyelip buket bunga itu di lengannya. Mengantar Kei ke rumah sakit yang disebut Kei sebagai gedung putih itu. Miyuki segera membungkukkan badan, menyamakan tinggi dengan Kei, saat mereka sampai di parkiran.

"Jaa ne. Besok kita bertemu lagi."

Kei mengangguk. Miyuki mengusak rambut Kei lalu berdiri. Ingin mengucapkan selamat tinggal sebelum sebuah suara menginterupsi mereka.

"Kei!"

Mereka menoleh. Melihat seorang pria berambut hitam mendekati mereka. Kei tersenyum. "Tetsu Jiisan!"

Sedangkan Miyuki hanya mampu mematung. "Tetsu…-san?"

Tetsuya mengangkat kepalanya, lalu menatap Miyuki kaget. "Ah, Miyuki. Lama tak bertemu."

Miyuki segera membungkukkan badan, lalu menatap Kei yang kini sudah berada di gendongan Tetsuya. "Anoo, Tetsu-san mengenal Kei?"

Tetsuya mengangguk. "Sejak dia lahir aku telah mengenalnya. Kita duluan, Miyuki." Tetsuya bebalik. Lalu segera pergi. Samar-samar Miyuki masih bisa mendengar ucapan Tetsuya. "Saa, Kei, hari ini giliranku menjagamu. Ayo pulang."

Lalu Kei menolehkan kepalanya di balik bahu Miyuki, lalu melambaikan tangannya pada Miyuki yang hanya bisa melambaikan kecil tangannya sebelum berbalik pergi.

Dengan sekelebat pertanyaan di benaknya.

.

.

.

.

A.N: Oke, author kehabisan kata-kata. Langsung aja, Review plish?