Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rated: K+ / T
Genre: Sudah pasti romance
Warning: AU, OOC, EYD tidak diperhatikan, Typo bertebaran, love/hate relationship
Ini adalah fanfic pertama saya, jadi mohon dimaklumi kalau ada salah.
Happy reading!
.
.
.
-Are You Serious?-
.
.
.
Hari ini merupakan hari yang cerah, tetapi sayangnya tidak untuk Naruto, mengingat kejadian kemarin dimana ia di seret oleh Iruka-sensei gara-gara kalah taruhan sama Sasuke. Sangat memalukan.
Seperti biasa ia datang ke sekolah bersama dengan Sasuke dan seperti biasa juga ketika sampai di gerbang para gadis-gadis dari kelas setingkat dengan mereka hingga senpai yang ada di tahun terakhir memandangi Sasuke sambil tersenyum-senyum gak jelas.
Naruto melirik Sasuke, kemudian mengendus kesal.
"Aku terkadang heran, mengapa aku mau berteman dengan orang sepertimu." ujar Naruto tiba-tiba saat mereka mulai menaiki tangga menuju kelas.
Sasuke hanya melirik Naruto sekilas dan terus naik tanpa membalas perkataan sahabat sejak kecilnya itu.
"Kau benar, kita ini aslinya adalah rival! Lihat teme, aku tidak akan kalah dengan orang sepertimu. Sakura-chan pasti akan bertekuk lutut padaku!" seru Naruto dengan penuh semangat sambil mengepalkan tangan.
"Hn." balas Sasuke tak peduli sambil terus menaiki tangga.
Ketika hampir sampai di anak tangga terakhir Naruto hampir saja bertabrakan dengan seorang siswi.
"Kya.."
Karena terkejut gadis itu jadi tersandung dan hampir saja jatuh kalau kedua lengannya tidak di tahan oleh Naruto. Posisi mereka sempat bertahan selama beberapa detik untuk mencari keseimbangan.
"Wow, hati-hati nona." ujar Naruto.
Gadis tersebut mengangkat wajahnya, jarak wajah dia dengan Naruto hanya sekitar 15 centimeter dan berhadap-hadapan secara langsung.
"E-eh?"
"Kau baik-baik saja?" tanya Naruto khawatir.
Mata gadis itu melebar, sesaat bagaikan naluri gadis itu menoleh kepada laki-laki disamping Naruto. Melihat Sasuke, gadis itu terlihat semakin terkejut dan memalingkan wajah kemudian langsung melepas tangan Naruto, mencoba untuk berdiri sendiri.
Naruto melihat tingkah gadis didepannya dengan bingung.
"S-saya baik-baik saja. M-maaf. T-terima kasih." gadis itu membungkuk kepada Naruto, tanpa menatap mata Naruto, dia segera melangkah melewati dua orang didepannya untuk menuruni tangga.
Melihat kepergian gadis misterius itu Naruto menatap Sasuke dengan tatapan penuh tanya lalu mengangkat bahu. Kemudian mereka mulai melangkah kembali.
.
.
==XXX==
.
.
Hinata baru saja sampai ke kelas sampai tiba-tiba ia tersadar bahwa nanti ada pelajaran matematika dan dia lupa kalau buku matematikanya ketinggalan di loker sepatu. Dengan berat hati Hinata melangkahkan kaki untuk kembali ke lantai paling bawah.
Dia keluar kelas dan melangkah cepat sambil melihat jam tangan, ketika Hinata mau turun tangga ia terkejut karena hampir menabrak orang yang berpapasan dengannya. Entah ada apaan juga tiba-tiba kaki Hinata hilang keseimbangan.
"Kya.." seru Hinata sampai ia menutup mata, bersiap-siap untuk mencium lantai. Tetapi bukannya mencium lantai, Hinata malah merasa ada yang memegang kedua lengannya, menahan dia terjatuh.
"Wow, hati-hati nona." ujar seseorang yang menahan Hinata ini.
Hinata langsung membuka mata. 'S-suara ini..' pikirnya
Tanpa pikir panjang Hinata mengangkat wajah dan mendapati muka Naruto, sang pujaan hatinya berada tepat didepannya dengan jarak kurang lebih 15 centimeter.
"E-eh?" Hinata cengo.
"Kau baik-baik saja?" tanya Naruto khawatir.
Jantung Hinata langsung berdetak gak karuan, tanpa sadar matanya pun melebar. Oh, Kami-sama mimpi apa Hinata semalam? Tunggu, apa jangan-jangan yang sekarang ini mimpi?
Hinata merasa sangat gugup, tapi entah mengapa selain Naruto sepertinya ada orang lain yang mengawasi dia juga. Secara reflek Hinata melihat kesamping dan mendapati ada seseorang disana. 'Sasuke Uchiha?!' serunya dalam hati.
Ya, si Sasuke Uchiha, orang nomor 1 yang paling Hinata tidak sukai dan hindari cuma gara-gara alesan gak jelas.
'Harusnya aku tau dimana ada Naruto-kun pasti ada dia.' Hinata menggigit bibir, memalingkan wajah dan tanpa sadar menahan nafas. Ia kemudian langsung melepas tangan Naruto dan mencoba berdiri sendiri.
"S-saya baik-baik saja. M-maaf. T-terima kasih." Hinata membungkuk kepada Naruto, tanpa menatap mata dengan pria yang tadi menolongnya, Hinata segera melangkah melewati dua orang didepannya untuk menuruni tangga.
Sekilas Hinata bisa melihat wajah Naruto yang bingung, tapi dia abaikan.
.
.
==XXX==
.
.
Saat itu adalah jam istirahat, Sasuke dan Naruto menghabiskan waktu untuk makan siang di kantin, lalu Naruto mulai membuka sebuah topik pembicaraan. "Kau tau Sasuke? Cewek tadi pagi yang hampir menabrakku. Kurasa aku pernah melihatnya."
Sasuke melirik Naruto sesaat sebelum membalas, "Jadi, selama ini kau diam gara-gara kepikiran cewek itu?"
Naruto mengangguk sambil terus mengunyah makan siangnya.
"Dan tidakkah kau melihat? Dia aneh sekali, baru kali ini aku tau kalo ada cewek yang takut padamu, Sasuke. Biasanya kan kalo misalnya cewek melihat dirimu pasti langsung teriak-teriak gak jelas abis itu dengan muka anehnya berkata 'Sasukee-kuun~'" ujar Naruto sambil mengikuti gaya fans Sasuke yang sok imut.
Sasuke mulai rada jengkel, tapi kalo dipikir iya juga sih, dia baru kali ini melihat jenis cewek kayak gitu. Ah, masa bodolah sama cewek.
"Coba lihat kau bicara tentang apa barusan. Sok imut? Tidakkah kau sadar Sakura juga sering melakukan hal seperti itu?" kata Sasuke mencoba membalas perkataan Naruto.
Naruto berdecak, "Sakura-chan itu masalah beda Sasuke, dia melakukan itu bukan dengan gaya sok imut kayak cewek-cewek lain, tapi karena emang dia imut." bocah berambut kuning itu tidak mau menyerah.
"Dasar kau Teme, tidak pernah bersyukur banyak disukain cewek-cewek, hati-hati nanti kena karma di jutekkin sama orang yang kau suka, Teme." cibir Naruto.
Sasuke menatap heran ke Naruto. Apaan tuh barusan? Karma? Gak percaya Sasuke sama yang begituan.
Naruto tiba-tiba berdiri "Aku beli minuman dulu. Kau mau nitip tidak?"
Sasuke hanya menggeleng.
"Baiklah."
Sasuke melihat kepergian Naruto, sesaat ketika ia mau berpaling matanya menangkap sosok yang familiar dan menarik perhatiannya. Seorang gadis yang rambutnya dikuncir kuda bewarna indigo, berponi rata dan iris mata warna lavender. Ya, gadis yang hampir tabrakkan dan mengganggu pikiran Naruto hari ini.
Entah ada apa Sasuke hanya terdiam memperhatikan gadis yang sedang membeli sebuah roti itu.
'Karma, huh? Omong kosong.' pikir Sasuke dalam hati.
.
.
==XXX==
.
.
Waktu menunjukkan pukul 7 malam dan Hinata kini sedang tiduran di kasur sambil memandang langit-langit kamarnya. Jika ada orang melihat kelakuan Hinata malam ini pasti bakalan mikir kalo Hinata udah gak waras.
Bayangin aja, langit-langit kamarnya tuh di cat putih polos, tapi gadis itu senyum-senyum sendiri bahkan tak ayal dia menutup wajahnya yang memerah. Ia juga suka menggigit bibirnya kayak orang yang grogi.
Hinata kemudian merubah posisi tidurnya menjadi duduk. Kali ini tidak ada senyum, iris bewarna lavender itu menerawang seperti sedang membayangkan sesuatu. "Ck, seandainya tidak ada orang itu pasti semuanya akan terasa sempurna." gumam Hinata tidak jelas.
Ternyata Hinata ini sedang berpikir tentang kejadian tadi pagi yang menimpanya, dimana ia hampir tabrakkan dengan pangeran impiannya si Uzumaki Naruto itu.
"Ah, tapi buat apa pula aku peduli sama cowok itu?" Hinata mengernyitkan dahi. Kemudian senyum lebar itu muncul lagi, dia langsung mengambil boneka sapi yang lumayan besar dan memeluknya erat. "Kyaa, Naruto-kun." ujar Hinata sambil memendamkan wajah di bonekanya, kemudian ia langsung tiduran lagi.
Beginilah tipikal gadis remaja yang sedang jatuh cinta. Suka aneh sendiri.
"Hah.. aku malu.." gumamnya lagi, ia menyingkirkan bantal yang menutupi wajahnya yang kini benar-benar merah. "Apakah dia menyadari keberadaanku di sekolah?" matanya menatap langit-langit kamar seolah menuntut jawaban.
"Naruto pasti akan menganggapku aneh gara-gara bungkuk 90 derajat sama dia." Hinata menutup wajahnya lagi dengan bonekanya. "Ah.. gatau, aku gatauuu.." ujarnya frustasi sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Semoga Naruto tidak berpikir macam-macam tentangku." mata Hinata mulai menerawang kembali dan senyum lebar menghiasi wajahnya yang masih memerah.
.
.
==XXX==
.
.
Keesokan harinya saat istirahat, Hinata tiba-tiba dipanggil oleh guru dan ternyata ia diminta untuk segera pulang oleh orang tuanya. Seorang supir sudah menunggu Hinata.
Akhirnya mau tidak mau Hinata kembali ke rumah sesuai perintah. Hinata tidak tau apa yang terjadi, tetapi hatinya merasakan hal hal yang tidak nyaman. Semua orang terlihat seperti terburu-buru termasuk supirnya yang kini sedang mengemudi, anehnya ketika ditanya, supirnya tidak tau apa-apa selain harus menjeput Hinata dan membawanya pulang secepatnya.
Hinata tanpa sadar menahan nafas, kalau di film-film ini biasanya ada kejadian tidak menyenangkan dalam keluarga, seperti kecelakaan atau ada yang diculik, tentu saja Hinata tidak mau itu terjadi. Dia berharap untuk cepat-cepat sampai di rumah.
Sesampainya di kediaman Hyuuga, Hinata segera berlari masuk dan ia langsung menghela nafas lega karena melihat seluruh anggota keluarganya masih lengkap, mereka semua duduk di ruang keluarga. Hinata sangat bersyukur tidak terjadi apa-apa pada keluarganya, tetapi tak dapat dipungkiri kalo hati Hinata masih merasa sedikit tidak nyaman.
"Hinata." Ibu Hinata melihat ke arah putri sulungnya itu dengan senyum manis dan kepalanya secara tidak langsung memerintahkan Hinata untuk duduk.
Hinata segera berjalan ke ruang keluarga dan mengambil posisi duduk di samping Hanabi, adiknya.
"Hinata dan Hanabi." ucap ayahnya, membuka pembicaraan yang sepertinya agak serius ini.
"Ya, ayah?" balas Hinata dan Hanabi hampir bersamaan.
"Maaf untuk pertemuan yang mendadak ini, kalian pasti akan merasa bingung. Ayah disini hanya ingin menyampaikan beberapa hal. Entah itu kabar baik atau buruk, itu semua terserah kalian yang menentukan." kata Hiashi dengan tampang yang sangat serius.
"Maksud ayah?" tanya Hinabi.
"Ayah kalian ini." Ibu Hinata angkat bicara dan semua perhatian ke arahnya. "harus tinggal di luar negeri selama beberapa bulan. Mungkin hampir setahun."
"Oh, yang itu aku kan udah tau, okaa-san." Hanabi tiba-tiba nyamber.
"Iya sayang, tapi nee-chan kamu belum."
"J-jadi?" Hinata bingung bukan main.
"Jadi nee-chan," Hanabi mengambil alih perhatian kali ini. "kita bakalan ditinggal sama otou-san dan okaa-san ke luar negeri."
Hinata makin bingung. "K-kenapa aku dan Hanabi-chan tidak ikut?" gadis itu menatap kedua orang tuanya.
"Karena aku gak mau ikut, nee-chan." jawab Hanabi secara langsung.
"Eh?" Hinata langsung menatap adiknya dengan penuh tanya.
"Iya, karena aku gak mau ikut jadinya nee-chan harus jagain aku disini. Ya nee-chan? Please.." pinta Hanabi sambil memeluk lengan Hinata.
"K-kenapa Hanabi-chan tidak mau ikut?"
"Soalnya nanggung nee-chan, tahun ini kan ajaran baru, aku akan masuk SMA, lagian aku malas mencari teman baru disana. Kalau otou-san disana hanya untuk beberapa bulan mendingan lanjutin disini aja, daripada harus bolak-balik." Ego keluarga Hyuuga memang tinggi. Padahal alesan doang tuh. Aslinya mah gara-gara males LDR-an sama pacar.
"Nah, karena okaa-san tidak mau kalian kenapa-kenapa, jadi selama okaa-san dan otou-san disana, kalian akan tinggal dengan teman okaa-san sekaligus partner bisnis otou-san." jelas Ibunya Hinata.
"Ya, aku dan nee-chan tidak masalah. Iya kan, nee-chan?"
Hinata yang masih bingung cuma bisa ngangguk-ngangguk aja.
"Baiklah semuanya sudah setuju. Kalian jaga diri baik-baik ya." orangtua Hinata berdiri.
"E-eh? Otou-san dan okaa-san mau kemana?" tanya Hinata yang tiba-tiba panik.
"Lho, tentu saja berangkat Hinata-chan." balas ibu Hinata.
"K-kenapa mendadak seperti ini?" Hinata lalu berdiri.
"Semalam kami sudah memanggilmu, tapi kamu tidak menjawab, jadi kami pikir kamu sudah tidur. Akhirnya hanya Hanabi yang tau. Okaa-san juga baru tau kemarin kok. Memang ini sangat mendadak, sayang." jelas ibunya.
"K-kenapa tidak tadi pagi saat aku mau b-berangkat?"
"Semuanya terlalu repot, sayang. Karena ini sangat mendadak kami harus menyiapkan ini dan itu secepatnya. Jadinya lupa untuk memberi taumu." kata ibunya Hinata dengan tenang. "Kamu baik-baik ya dirumah. Tolong jaga adikmu." ibunya mencium dahi Hinata. "sampai jumpa."
Dan begitu saja. Mereka pergi.
Hinata menghela nafas. Dia menatap Hanabi.
"Apa?" kata Hanabi tanpa merasa bersalah telah melibatkan Hinata. Apakah Hanabi tidak tau kalau Hinata maunya ikut ke luar negeri? Huh, dasar adik gak pengertian.
"K-kapan kita pindah?" tanya Hinata.
Hanabi berpikir sejenak, "4 hari lagi sepertinya."
"K-kau tau ke rumah siapa kita nanti tinggal?"
"Iya, kediaman keluarga Uchiha."
Hinata mengernyitkan dahi. "A-apa?"
"Kita 4 hari lagi pindah ke kediaman Uchiha, nee-chan." jelas Hanabi yang kemudian bangkit dari sofa. "aku mau ke kamar dulu ya, beres-beres."
"Uchiha?" tanya ulang Hinata dengan agak kencang, berusaha meyakinkan.
"Iyaaa, nee-chan!" seru Hanabi dengan suara yang lebih kencang.
Hanabi menggumam ketika ia sudah mencapai depan pintu kamarnya. "Ada apaan sih? Kok kayaknya nee-chan reaksinya berlebihan gitu."
Hinata merasa shock bukan main. Bayangkan saja, dia bakalan tinggal sama seseorang yang masuk dalam daftar jenis manusia yang tidak disukainya dan perlu dihindari. Nomor 1 pula.
Oh, Kami-sama, apakah ini yang namanya karma? Tapi Sasuke emang nyebelin Kami-sama.
Walaupun isengnya bukan ke Hinata, tapi tetep aja. Yasudahlah, maafkan Hinata, Kami-sama.
Jujur Hinata masih belum bisa percaya. Ia kemudian langsung bergerak untuk mengambil handphone flip milknya.
Setelah menekan beberapa tombol ia langsung mendekatkan handphone itu ke telinga.
Terdengar nada sambung.
"Halo?"
"Okaa-san…" ujar Hinata.
"Ya? Ada apa Hinata-chan?" balas ibu Hinata di sebrang sana.
"O-okaa-san," entah mengapa Hinata secara reflek menelan ludah. "n-nama teman okaa-san yang akan menjaga aku dan Hanabi-chan, s-siapa?"
"Oh, itu. Okaa-san kan sudah bilang sama adikmu. Namanya…" Hinata menahan nafas mendengar ibunya bicara.
"Uchiha Mikoto." lanjut ibunya Hinata.
Glek.
'Uchiha…' pikir Hinata. 'tidak mungkin, bisa jadi hanya nama yang kebetulan sama.'
"Tidak usah cemas Hinata-chan, teman okaa-san itu baik sekali. Lagian kalo tidak salah ia juga mempunyai anak laki-laki seumurmu. Namanya siapa ya? Em.."
Pikiran Hinata mulai berkecamuk, ini bukan masalah cemas gara-gara teman ibunya, tapi anak dari teman ibunya itu. Hinata udah mulai gak kuat.
"S-Sasuke, okaa-san?" Pancing Hinata.
"Iya! Namanya Sasuke, kamu sudah kenal dengan Sasuke-kun?"
Hinata pasrah, "O-oh, t-tidak kenal, tadi c-cuma nebak-nebak, okaa-san."
"Wah, kok bisa pas sekali? Jangan-jangan kalian jodoh lagi."
"E-eh?" Hinata makin ngeri sama kata-kata yang terdengar dari bibir ibunya, hal ini harus cepet-cepet diberesin.
Gadis itu berpikir sejenak, sebelum meneruskan kata-katanya, "A-ano okaa-san, apakah tidak bisa pindah ke rumah teman okaa-san yang lain?"
"Lho? Memangnya kenapa?" ibunya yang berada di sebrang sana bingung mendengar permintaan Hinata.
Anak yang baik itu nggak akan ngerepotin orang tua dan Hinata pengen banget menjadi anak yang baik, jadinya…
"A-ah, t-tidak apa-apa okaa-san. L-lupakan saja. Em..okaa-san hati-hati ya." ujar gadis itu dengan pasrah, walaupun dalam hatinya gundah gulana.
"Oh, baiklah. Kamu baik-baik ya sama adik kamu. Okaa-san dan otou-san sayang kalian."
"T-terima kasih okaa-san."
"Sama-sama sayang. Sampai jumpa."
"I-iya, sampai jumpa juga, okaa-san."
Nada sambung terputus yang berarti bahwa pembicaraan pun selesai.
Hasilnya?
Seriusan nih Hyuuga Hinata bakal tinggal sama Uchiha Sasuke?
.
.
.
.
-TBC
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca fanfic ini.
Semoga menghibuur~
Apakah chapter ini masih kurang panjang?
