Hope you like this fiction :)
"Jadi bagaimana Kim Jongin? Apa tampannya sama seperti yang kita lihat di televisi?" Baekhyun bertanya saat Sehun baru keluar dari kelasnya. Mereka berjanji untuk pergi kerja bersama hari ini karena kebetulan kelas mereka hanya berbeda beberapa menit selesainya.
"Lebih tampan hyung!" Entah kenapa Sehun sangat bersemangat saat membicarakan Jongin.
Baekhyun tersenyum jahil, "Waah Sehunna mulai jatuh cinta sepertinya hm?" Baekhyun menggoda Sehun.
Sehun terlihat berpikir, "Hmm apa tidak terlalu cepat kalau mengatakan jatuh cinta hyung? Aku kan baru pertama kali bertemu dengannya, aku bahkan tidak mengenalnya sama sekali."
"Duh Sehunna ku sayang, kau tidak pernah dengar yang namanya cinta pada pandangan pertama ya?" Baekhyun terlihat kesusahan mengimbangi jalannya Sehun karena memang kakinya tidak sepanjang kaki Sehun.
Sehun menggeleng, "Aku tidak percaya sesuatu yang seperti itu. Yaah mungkin aku menyukai Kim Jongin, tapi kalau untuk jatuh cinta, sepertinya masih jauh sekali hyung."
"Memangnya kau tahu rasanya jatuh cinta itu bagaimana?" Sehun menggeleng polos.
Baekhyun jadi gemas sendiri melihatnya, "Mungkin nanti kau akan menyadarinya kalau lebih sering bertemu Kim Jongin. Jadi kemarin apa saja yang kalian bicarakan?"
"Itu pun kalau Kim Jongin memintaku datang di tahap selanjutnya." Sehun berkata ragu. "Kemarin dia menyuruhku untuk menceritakan tentang diriku, kesibukanku, dan alasan kenapa aku harus dipilih menjadi suaminya."
"Lalu kau jawab apa saat dia bertanya kenapa dia harus memilihmu?" Baekhyun penasaran sekali, jawaban polos macam apa yang Sehun keluarkan.
"Kalau itu aku jawab, karena aku bisa memasak, termasuk orang yang rapih, semua kegiatanku terjadwal dan aku bisa mencari uang sendiri." Sehun menjawab persis seperti apa yang dikatakannya pada Jongin kemarin.
Baekhyun menggaruk kepalanya bingung, "Sehunna, Kim Jongin itu mau mencari calon suami, bukan pembantu rumah tangga. Kenapa kau menjawab seperti itu?" Baekhyun menggeram kesal karena kepolosan Sehun.
"Lalu aku harus menjawab apa hyung? Aku kan hanya menjawab jujur." Jawab Sehun, sedikit merengek.
"Kau harus lebih agresif Sehunna. Harusnya kau bilang 'Karena aku lah orang yang kau cari'." Baekhyun berkata dengan semangat.
Sehun yang mendengar jawaban Baekhyun hanya memutar bola matanya malas dan berjalan meninggalkan Baekhyun.
"Yaa Sehunna! Jalannya pelan-pelan saja! Aisssh"
Sementara itu Jongin sedang mengadakan meeting penting dengan ayahnya.
"Jadi Yah, aku mengusulkan tiga nama untuk tahap selanjutnya. Lollypop, apple yoghurt dan em.." Jongin melihat kertas yang dibawanya sebentar, "cotton candy. Bagaimana menurut ayah?"
Ayah Jongin terlihat membolak-balikkan beberapa kertas sambil sesekali membaca keterangan yang tertulis disana dan membaca beberapa catatan tangan Jongin di kertas-kertas tersebut, "Kenapa kau menolak red velvet?" Ayahnya murni bertanya karena penasaran, diantara semua CV yang dibawa Jongin, red velvet ini lah yang posturnya paling mirip perempuan. Tipe Jongin sekali.
"Mannernya tidak bagus. Aku yakin Ayah tidak akan suka punya menantu seperti itu."
Ayahnya mengangguk mendengar yang Jongin katakan, Jongin benar-benar anak baik. Dia kan memilih calon suami untuknya, kalau dia egois dia pasti akan langsung memilih semua yang sesuai kriterianya tanpa mempertimbangkan pendapat dari ayahnya.
"Si cotton candy ini, apa tidak apa-apa? Maksud Ayah, dibandingkan dengan yang lain, latar belakangnya tidak begitu jelas." Ayah Jongin menyodorkan selembar kertas ke arah Jongin.
"Bukan tidak jelas Yah. Dia tidak mempunyai orang tua. Dia anak yang polos, kalau maksud Ayah dia akan menipuku seperti yang sudah-sudah, kurasa Ayah salah. Dia benar-benar adorable Yah."
Ayahnya mendengus, "Yang kemarin juga kau bilangnya begitu." Jongin hanya tertawa miris mendengar perkataan ayahnya.
"Jadi hanya tiga saja? Lollypop, apple yoghurt, dan cotton candy?" Ayahnya bertanya lagi.
"Iya Yah, lollypop, apple yoghurt, dan em.." Jongin diam sejenak. "cotton candy."
"Jadi kapan kira-kira mereka akan mengumumkan siapa yang masuk ke tahap berikutnya Sehunna?" Baekhyun bertanya saat mereka selesai menutup toko dan membersihkan toko.
"Tidak tahu hyung." Sehun menjawab cuek.
"Duh yang benar saja. Kau tidak bertanya?"
"Tidak." Sehun kembali ke meja kasir, "Hyung, kau lihat ponselku tidak? Terakhir kali ku simpan disini." Sehun menunjuk mesin kasir yang ada di depannya.
"Kau ini ceroboh sekali, aku menyimpannya di dalam lokermu. Kalau banyak pelanggan seperti tadi kan banyak yang bisa mengambil kesempatan untuk mencuri ponselmu."
Sehun hanya tertawa manis menanggapi pernyataan Baekhyun, "Tidak ada yang mau mencuri ponsel jelek hyung." Sehun berkata sambil menuju loker mereka, berniat mengambil ponselnya dan bersiap-siap pulang.
Sementara itu Baekhyun menggerutu karena Sehun yang sangat ceroboh, terlalu polos dan tidak mau mendengarkan perkataannya sambil tetap menyapu lantai toko.
"BAEK HYUNG!" Terdengar suara Sehun yang berlari menghampirinya.
Sapu yang dipegang Baekhyun sampai terjatuh karena dia terlalu kaget mendengar teriakan Sehun yang tidak merdu sama sekali.
"BAEK HYUNG!" Sekali lagi Sehun berteriak saat dia sudah sampai dihadapan Baekhyun yang baru selesai memungut sapunya tadi. "Hyung harus baca ini hyung, astaga hyung. Aku tidak bermimpi kan?"
Baekhyun yang tadinya ingin marah pun hanya menatap aneh ke arah Sehun. Sehun yang biasanya tenang kenapa sekarang jadi seperti dikejar setan begini? Pikirnya. Jadi Baekhyun dengan segera mengambil ponsel yang disodorkan Sehun.
Baekhyun membaca kata demi kata yang ada di layar ponsel Sehun lalu melihat wajah Sehun, membaca lagi pesannya perlahan-lahan dan kembali melihat wajah Sehun.
"Oh Jesus," Baekhyun mengecup dahi Sehun, "berkatilah anak baik dan berbakti ini," mengecup lagi dahi Sehun, "lindungilah dia selalu." Baekhyun terus mengecupi dahi Sehun seiring doa yang diucapkannya. Sementara Sehun terus tersenyum karena doa yang diucapkan Baekhyun dan juga karena pesan yang ada di ponselnya tadi.
Dear cotton candy,
Selamat untuk lolos ke tahap berikutnya!
Jumat sore ini aku akan menjemputmu. Kita akan melakukan wawancara lanjutan sambil makan malam.
Have a lovely day, cotton candy.
Kim Jongin
Untungnya jumat ini Sehun tidak ada jam kuliah karena dosennya sudah melakukannya double minggu lalu. Untungnya lagi Baekhyun masuk siang setiap jumat, jadi dia bisa membantu Sehun mendandani dirinya dulu sebelum berangkat kuliah.
Baekhyun sudah datang pagi-pagi sekali ke tempat tinggal Sehun. Sehun tinggal di sebuah rumah susun padat penduduk yang bisa dibilang kurang layak ditempati, atap yang kebanyakan bocor, dinding yang retak dan kekurangan lainnya. Tapi bagi Sehun ini lebih baik dari pada tinggal di jalanan.
Baekhyun membawa kemaja biru langit punya kakaknya yang sedang ke luar kota untuk menjenguk nenek mereka dan celana bahan yang terlihat seperti jeans warna hitam yang juga punya kakaknya yang dia harapkan cukup untuk Sehun, mengingat kaki Sehun yang sangat panjang. Untuk sepatu, Baekhyun meminjamkan Sehun sepatu pantofel punya teman sekelasnya, warna hitam yang benar-benar cocok dengan celana yang akan dipakai Sehun.
Baekhyun memastikan Sehun mandi dengan sabun aroma therapy murah yang dibelikannya. Dia tidak sanggup beli yang mahal, okay? Baekhyun membuatkan Sehun salad kentang untuk sarapannya dan juga susu rendah lemak. Sehun memang bukan model, tapi dia tidak boleh makan ramyun seperti biasanya dan muncul dihadapan Kim Jongin dengan perut sedikit buncit karena makan ramyun. Tidak! Baekhyun tidak akan membiarkan itu merusak keberuntungan Sehun yang sudah sangat baik ini.
Saat ini sudah pukul sepuluh, mereka baru menyelesaikan sarapannya dan Baekhyun sudah bersiap-siap untuk mendandani Sehun.
"Apa ini tidak terlalu pagi hyung? Dia bahkan baru akan menjemputku sore nanti." Sehun merengek.
Baekhyun menggeleng pelan, "Aku harus pergi tiga jam lagi dan kita bahkan belum tahu apa baju yang kubawakan cocok untukmu atau tidak. Kalau kau berdandan sekarang dan hasilnya tidak cukup baik aku akan berusaha mencari yang lain untuk membuatmu lebih baik Sehunna." Baekhyun mengelus rambut Sehun pelan, "Sekarang berhentilah merengek dan pakai kemeja, celana, dan sepatu yang kubawakan." Baekhyun menyerahkan semua yang dibawanya pada Sehun dan memelototkan matanya agar terlihat seseram mungkin, yang jadinya malah terlalu lucu untuk Sehun.
Sehun yang tahu Baekhyun sudah mulai kesal pun langsung mengambil semua yang diserahkan Baekhyun dan berlari ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Menghabiskan satu lagu yang dinyanyikan Baekhyun untuk Sehun keluar dari kamar mandi dengan mengenakan celana dan kemeja yang di berikan Baekhyun.
"Hyung!" Sehun memanggil Baekhyun yang masih asyik melanjutkan nyanyinya, "Bagaimana?"
Baekhyun memandang Sehun dari atas sampai bawah, memperhatikan dengan seksama, setelah melihat ada yang tidak sesuai, Baekhyun pun menghampiri Sehun. "Sepertinya akan lebih cocok kalau ini digulung." Baekhyun menggulung lengan kemeja yang sangat panjang untuk Sehun dengan perlahan dan hati-hati, tidak mau membuat kusut bagian kemeja yang lain. Baekhyun menggulung lengan kemeja itu sampai siku sehingga terlihat sedikit putihnya kulit Sehun.
"Celananya pas?" Baekhyun bertanya.
"Agak kekecilan sih hyung, tapi masih terasa cukup nyaman." Baekhyun mengangguk mendengar jawaban Sehun.
"Sekarang kau duduk dulu biar aku menata rambut dan wajahmu." Sehun hanya menurut dan duduk di kursi belajarnya.
Baekhyun sangat hati-hati dalam mendadani Sehun, dia menyisir rambut Sehun dengan sangat rapih dan mendadani Sehun dengan sedikit lip balm di bibirnya.
"Kau jangan terlalu sering menjilat bibirmu kalau gugup, nanti lip balmnya habis." Baekhyun berkata. "Sekarang, pakai sepatumu."
Sehun memakai sepatu yang diberikan Baekhyun dan mencoba berjalan, "Em hyung, sepatunya kebesaran."
"Kau punya kain bekas tidak?" Baekhyun bertanya.
"Sepertinya ada sedikit di lemari, sebentar ku ambilkan." Sehun memberikan sepatunya pada Baekhyun.
Sehun menyerahkan beberapa kain bekas yang dimilikinya dan Baekhyun mulai memasukkan kain bekas itu sedikit demi sedikit ke dalam sepatu tadi.
"Wawancara kali ini sambil makan kan? Ingat untuk tidak berbicara sebelum semua makanan yang ada dimulutmu tertelan sempurna, mengerti?" Baekhyun berkata masih sambil melakukan pekerjaannya.
"Mengerti hyung."
"Jika ditawarkan wine atau alkohol lainnya, sesap saja sedikit atau tempelkan saja bibirmu pada gelas seolah kau meminumnya, lalu minumlah air mineral. Pastikan kau tidak mabuk dan mengacaukan wawancaramu."
"Baik hyung."
"Kau sudah menghafal sendok mana yang digunakan untuk soup dan sendok mana yang digunakan untuk pudding kan? Sudah menghafalkan semua gambar peralatan makan yang kuberikan dan menghafalkan fungsinya kan?"
"Sudah hyung."
"Bagus, jangan sampai kau terlalu gugup dan tertukar antar sendok dan garpu, ingat garpu di tangan kiri, dan jangan meminta chopstick untuk memakan steak atau scallop."
"Iya hyung."
"Ini sudah selesai, sekarang kau coba sepatunya."
Sehun pun kembali mencoba sepatu yang diberikan Baekhyun dan mencoba berjalan, "Sangat pas hyung. Waah kau memang hebat."
"Coba sekarang berputar Sehunna, hyung ingin melihatmu dengan jelas."
Sehun pun berputar seperti yang dilakukan disney's princess, acara yang sering ditonton Baekhyun.
Baekhyun menatap hasil kerjanya puas, "Kau benar-benar terlihat seperti awan merah muda di tengah langit biru Sehunna, seperti permen kapas di tengah langit biru." Ujarnya.
Sehun hanya tersenyum manis dan menatap Baekhyun lekat. "Waah apa ini? Jangan bilang kau malah jatuh cinta padaku." Baekhyun berbicara asal.
Sehun menghampiri dan memeluk Baekhyun, "Terima kasih hyung, kau benar-benar yang terbaik. Aku tidak tahu apa jadinya hidupku jika tidak bertemu denganmu."
Baekhyun dengan cepat melepaskan pelukan mereka, "Nanti kemejamu kusut kalau terlalu lama memelukku." Dia menghela nafas, "Kau seharusnya tidak perlu sungkan begitu, kau sudah seperti adikku sendiri, hyungku bahkan lebih menyayangimu dibanding aku." Baekhyun mengerucutkan bibirnya lucu. "Dengar Sehun, terakhir, kau mengeluh karena hidupmu yang kau bilang membosankan, setelah urusan dengan Kim Jongin ini selesai dan kalau memang kau berhasil mendapatkan hatinya, tidak akan ada lagi hari membosankan. Saat itu benar-benar terjadi, kuharap kau tidak pernah melupakanku." Baekhyun berkata dengan mata yang sedikit berkaca.
"Oh ayolah hyungie, aku tidak mungkin melupakanmu. Hanya kau lah keluarga yang kupunya."
Baekhyun tersenyum mendengar perkataan Sehun, dia melihat jam yang melingkar di tangannya, "Oh aku harus berangkat sebentar lagi kalau tidak mau terlambat." Baekhyun mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan memberikannya pada Sehun. Parfume. "Pakailah ini sebelum kau berangkat nanti, pastikan saat bertemu Kim Jongin kau benar-benar sempurna."
Sehun mengangguk dan sekali lagi mengucapkan terima kasihnya pada Baekhyun.
"Oh ini yang paling penting," Baekhyun memejamkan matanya dan memegang kedua sisi wajah Sehun, "Jesus berkatilah anak ini, lindungilah dia selalu, dan berikanlah dia akhir yang indah seperti yang seharusnya." Baekhyun lalu mengecup dahi Sehun seperti yang biasa dia lakukan sehabis mendoakan Sehun.
"Aku pergi dulu, jangan lupa semua yang kukatakan tadi, kemarin dan hari sebelumnya." Dengan itu Baekhyun meninggalkan Sehun yang penuh rasa syukur karena telah diberikan teman seperti Baekhyun.
Sehun memutuskan untuk mengerjakan beberapa tugas kuliah sambil menunggu Jongin menjemputnya sampai terdengar pintu tempat tinggalnya diketuk. Sehun membuka pintunya dan melihat pria dengan jas dan kemeja hitam yang terlihat sangat mahal sekali. Pria yang sama dengan orang yang mengantarnya bertemu Jongin saat wawancara pertama kemarin.
"Selamat siang Tuan. Tuan Kim meminta saya menjemput anda lebih awal karena beliau tidak bisa menjemput anda secara langsung. Apakah anda sudah siap untuk pergi?" Nada bicaranya datar walaupun tidak bisa menyembunyikan kesan ramah di dalamnya.
"Well, aku harus mengambil dompet dan ponselku dulu." Sehun bingung sebenarnya harus menjawab apa. Dia kira Jongin sendiri yang akan menjemputnya.
"Saya akan menunggu disini Tuan." Masih dengan nada yang sama.
"Tolong panggil saya Sehun saja."
"Maaf Tuan, tapi anda dilarang menyebutkan nama asli anda saat mengikuti rangkaian audisi ini. Anda harus menggunakan ID yang sudah diberikan saat pertama anda menyerahkan CV anda."
"Saya mengerti." Sehun berkata kikuk, "Saya ambil dompet saya dulu." Dengan itu Sehun berjalan ke kamarnya untuk mengambil dompet dan ponselnya, memakai parfume yang tadi di tinggalkan Baekhyun, memakai kembali sepatunya dan melihat pantulannya di cermin untuk memastikan semuanya sempurna. Lalu kembali berjalan menemui orang yang menjemputnya.
Sebelumnya Sehun tidak pernah bermimpi untuk menaiki mobil mewah semacam ini. Sehun bahkan hanya tahu merknya. Kebanyakan teman-teman kuliahnya mengambil jurusan teknik karena ketertarikan mereka pada otomotif, jadi Sehun sering mendengarkan mereka berbicara tentang mobil keluaran terbaru yang harganya bahkan tidak pernah bisa Sehun bayangkan sebelumnya.
"Kita sudah sampai Tuan." Pintu di sebelah kiri Sehun dibuka.
"Saya akan mengantarkan anda ke ruangan Tuan Kim."
Sehun memasuki gedung yang diketahuinya sebagai perusahaan elektronik ternama di Korea. Sehun benar-benar berusaha keras untuk tidak membiarkan mulutnya tetap terbuka melihat tampilan perusahaan ini. Lantai marmer yang bukan main beningnya, dan hiasan lainnya yang Sehun tidak tahu bagaimana caranya bisa menjadi sangat indah jika disandingkan bersama.
Sehun memasuki lift yang dindingnya terbuat dari kaca dan berbentuk seperti tabung yang sangat besar. Dari dalam lift dia bisa melihat para pekerja yang sedang sibuk, entah apa yang mereka kerjakan. Sehun berpikir, kalau dia bekerja disini apa hidupnya bisa lebih menyenangkan.
"Maaf Tuan kita sudah sampai." Sehun kembali menghadap ke depan pintu lift dan tersenyum kecil.
Sehun kembali dibuat tercengang dengan pemandangan didepannya. Dekorasi di dominasi dengan warna hitam, merah, dan emas, ukiran naga membuatnya terkesan lebih klasik dibandingkan degan dekorasi yang Sehun liat dibawah tadi. Sehun terus mengikuti pria itu sebelum pria itu berhenti di depan sepasang pintu besar.
"Tuan bisa langsung masuk, Tuan Kim sudah menunggu di dalam." Pria itu membuka pintu besar di hadapan mereka. Menampilkan ruangan besar yang sepenuhnya dikelilingi kaca, seperti rumah kaca tapi tidak panas sama sekali untuk Sehun. Sehun sempat berpikir, mungkin ini rahasia Kim Jongin mempunyai kulit tan yang bagus padahal dia sibuk dengan pekerjaannya.
Lamunannya terhenti saat matanya melihat sosok Kim Jongin yang sedang duduk di sofa besar diruangannya. Setelah mengucapkan terima kasihnya pada pria tadi Sehun pun masuk ke ruangan itu. Jongin terlihat sedang serius sekali dengan pekerjaannya, jadi dia bingung harus duduk atau bagaimana.
"Ehem." Akhirnya dia putuskan untuk berdehem.
Jongin mendongak dan menatap kaget ke arah Sehun. Jongin segera berdiri dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Sehun, "Senang bertemu denganmu lagi, silahkan duduk." Jongin mempersilahkan Sehun duduk di tempat kosong disebelahnya. Hanya ada satu sofa di ruangan Jongin, hanya cukup ditempati oleh dua orang. Sofa berwarna putih gading yang sangat nyaman diduduki, menurut Sehun.
"Maaf jika membuatmu tidak nyaman. Aku takut tidak bisa menjemputmu sore ini, jadi aku meminta asistenku menjemputmu lebih awal. Apakah ini mengganggu jadwal kuliah atau bekerjamu?" Jongin masih bertanya dengan nada yang ramah, nada yang Sehun suka.
"Aku tidak ada kuliah hari ini dan ada temanku yang ingin bertukar shift jadi aku tidak perlu bekerja juga hari ini."
"Waah kebetulan sekali." Jongin kembali memegang pulpennya, "Aku minta maaf karena harus menemuimu sambil bekerja seperti ini, ayahku meminta aku menyelesaikan ini sebelum sore jadi aku tidak bisa meninggalkannya." Jongin mengatakannya dengan raut menyesal sungguhan yang tidak dibuat-buat.
"Ah tidak apa-apa." Sehun berkata dengan senyuman terbaik yang bisa diberikannya.
Jongin kembali menekuni berkas yang tadi dipegangnya. Sehun sempat melamun melihat langit yang terlihat sangat dekat dari sini, dia teringat ucapan Baekhyun yang menyebutnya awan merah muda diantara langit biru, dia cuma berharap dandanannya masih sebagus yang Baekhyun tinggalkan tadi.
Setelah hening yang cukup lama akhirnya Jongin memutuskan untuk memulai obrolan ringan, "Bagaimana kuliahmu? Apa menyenangkan menjadi anak teknik? Ku dengar tugas anak teknik sangat banyak."
"Kuliah masih sama, maksudku dengan tugas, kuis dadakan, jam praktikum yang lamanya tidak manusiawi, kegiatan organisasi , tidak ada yang khusus." Sehun menjawab dengan polosnya.
Jongin tertawa geli mendengar jawaban Sehun, dia berdehem untuk menetralkan suaranya setelah tertawa, "Boleh aku meminta pendapatmu?"
"Well, kalau menurutmu pandapatku bisa membantu, aku akan dengan senang hati memberikannya."
"Aku membuatmu menemaniku bekerja, apa pendapatmu mengenai itu?"
Sehun pikir tadinya Jongin akan menanyainya masalah hal lain yang lebih umum, "Aku merasa beruntung. Tidak semua orang bisa masuk kesini kan? Kau membuatku menemanimu bekerja setidaknya aku tahu kehadiranku tidak mengganggumu. Memberikanku pengalaman yang baru. Tadi aku sempat melihat pegawaiamu dibawah, well, mereka terlihat keren."
"Kau tidak keberatan? Maksudku, ini membosankan bukan? Hanya melihatku menyelesaikan pekerjaanku?"
Sehun menggelengkan kepalanya "Sudah kubilang ini memberi pengalaman baru bagiku, siapa tahu kau bisa membagi pengalaman tentang berbisnis kepadaku kan?"
Jongin tertawa lagi karena perkataan Sehun, "Pengalamanku tidak gratis cotton candy."
Sehun ikut tertawa karena lelucon dari Jongin, dia rasa ada yang aneh dengan jantungnya saat Jongin memanggilnya cotton candy tadi. Tidak biasanya berdetak secepat ini, pikirnya.
"Oh pekerjaanku sudah selesai, kita bisa pergi sekarang." Jongin berkata.
Sehun mengerutkan dahinya bingung, "Ini tidak dibereskan dulu?" Sehun menatap berkas-berkas yang berantakan di atas meja.
"Nanti biar sekretarisku yang membereskannya." Jongin menjawab santai dan berjalan ke arah kursi utamanya untuk mengambil jas.
Sementara itu Sehun membereskan berkas yang masih berantakan tadi, "Kalau bisa dikerjakan sendiri lebih baik tidak meminta tolong orang lain."
Jongin tersenyum melihat apa yang dilakukan Sehun, "Kau seperti ibuku saja, dia selalu mengatakan hal itu."
Sehun sudah selesai membereskan kertas-kertas tersebut, dan berjalan menghampiri Jongin yang sudah berada di depan pintu ruangannya, "Apakah itu berarti bagus?" Sehun bertanya.
"Sangat bagus." Jongin tersenyum, "Aku tidak sabar untuk memberimu pengalaman baru lagi." Jongin terlihat lebih antusias dari biasanya.
Jongin itu pembalap. Dia berlatih di akhir pekan atau melakukan race di akhir pekan. Dan jumat sore adalah salah satu jadwal latihannya. Jadi disinilah dia dan Sehun, sirkuit yang Jongin sewa khusus untuknya setiap jumat sore.
Bagi Sehun ini pertama kalinya dia masuk ke dalam sirkuit, biasanya dia hanya dapat menonton di televisi, itu pun kalau tidak sedang bekerja atau kuliah.
"Hai Kai!" Jongin memakai nama Kai di sirkuit. Baginya Kai itu sisi Jongin yang lain.
"Hai Park! Sudah siap untuk berlatih hari ini?" Jongin menjabat tangan orang yang dipanggilnya Park tadi.
"Well, tidak sebelum kau mengenalkanku pada sosok manis dibelakangmu itu." Park Chanyeol menunjuk Sehun yang berdiri dibelakang Jongin.
"Aku hampir lupa." Jongin menarik Sehun kesampingnya, "Cotton candy, ini Chanyeol dan Chanyeol untuk saat ini kau bisa memanggilnya cotton candy." Sehun dan Chanyeol berjabat tangan.
"Terdengar lembut dan manis ya Kai." Chanyeol memberikan seringaiannya yang menurut Sehun menakutkan sehingga tanpa sadar dia memeluk lengan Jongin.
"Yang kau bilang lembut dan manis itu milikku Park, berhati-hatilah."
Chanyeol berjalan menjauh dan berkata, "Hanya kalau kau bisa mengalahkanku Kim."
Melihat Jongin berlatih benar-benar menjadi pengalaman yang menyenangkan untuk Sehun. Sehun akan berteriak gembira saat Jongin dapat menyalip Chanyeol dan akan mendengus sebal kalau Chanyeol kembali menyalip Jongin. Tapi di atas semua itu Jongin benar-benar terlihat sangat keren saat di atas motor, berbeda sekali dengan Jongin yang ada di kantor. Tambah keren lagi saat dia bisa mengalahkan Chanyeol. Sehun tidak mau berharap lebih, tapi kalau meminta Jongin sebagai orang yang dilihatnya sebelum tidur dan saat terbangun di pagi hari apa terlalu berlebihan?
Sehun dan Jongin melewati makan malam dengan sangat menyenangkan. Bertukar cerita lucu, bercerita tentang diri mereka masing-masing, dan sesekali Sehun membuat Jongin terkekeh geli karena jawaban polosnya. Sehun benar-benar mendengarkan kata-kata Baekhyun dengan baik, tidak membuat kekacauan dengan mabuk atau salah mengambil sendok.
Mereka sudah selesai dengan makan malam yang menyenangkan. Sekarang Jongin akan mengantarkan Sehun kembali ke tempat tinggalnya. Seperti Cinderella yang sihirnya hilang pada pukul 12 malam, pikir Sehun.
"Aku sangat berterima kasih cotton candy, aku menikmati hari ini." Jongin berkata.
"Aku yang seharusnya berterima kasih. Kau memberiku banyak pengalaman baru."
"Aku akan dengan senang hati memberimu banyak pengalaman baru lainnya."
"Maaf Tuan kita sudah sampai." Pintu di samping kiri Sehun terbuka.
"Dan aku akan dengan senang hati menunggumu memberiku banyak pengalaman baru. Selamat malam Tuan Kim." Sehun keluar dari dalam mobil Jongin setelah sedikit menunduk pada pria yang tadi menjemputnya dan membukakan pintu mobil untuknya tadi. Aku harus secepatnya membicarakan ini dengan ayah, Jongin mengingatkan dirinya.
How?
I think this chapter long enough ya?
Really, your response makes me want to write more and more, thank you :)
