Semanis Berry
(#2: Strawberry)
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.
Aomine Daiki/Momoi Satsuki. T. Romance.
(Satsuki sudah menyukai berry sejak dahulu, sejak dia kecil. Hei, siapa yang menyangka ternyata kisahnya bersama Daiki bisa seenak buah itu?)
"Memangnya mereka pikir aku tidak capek? Aku sudah riset ke lapangan sendirian! Aku sudah bagi tugas untuk mereka tapi mereka menyerahkan sisanya lagi padaku, itu sangat menyebalkan, Dai-chan!" Satsuki berjalan sambil mengomel, kakinya dihentakkan keras-keras pada lantai, sempat dia menggeram setelah kalimatnya selesai.
Daiki membersihkan telinganya dengan kelingking. "Oi, tidak bisakah sabar sedikit?"
"Sabar bagaimana lagi?" Satsuki melirik Daiki sebentar dengan sinis, "Aku jadi kurang tidur, aku harus membagi waktu untuk analisis data tim dan tugas ini, apa mereka tidak mengerti posisiku sebagai apa di sekolah ini?"
Omelan Satsuki di sepanjang koridor itu menjadi menu pembuka untuk makan siang Daiki. Dia mana mampu menyanggah—kalau dia mau jadi sasaran kemarahan Satsuki yang berikutnya, sih, bisa saja lakukan itu. Lagipula, dia tidak punya kalimat untuk dilontarkan. Tambahan, sepertinya dia juga tak akan dapat bagian dari bekal Satsuki, yang dia tahu isinya merupakan buah yang menyegarkan itu kalau dia berani menyulut api kemarahan Satsuki lagi.
"Tch," Satsuki mengepalkan kedua tangannya yang terayun cepat, seiring dengan langkahnya yang cukup merepotkan bagi Daiki kalau ingin mengimbanginya. "Kucoret nama mereka semua dari daftar kelompok, baru tahu rasa."
"Bodoh. Masa' anggota kelompoknya kausendiri? Kelompok apa namanya kalau begitu?"
"Habisnya mereka semuanya menyebalkan, Dai-chan!"
Daiki melirik pada salah satu tangan Satsuki yang masih mengepal dan terayun, sebuah kotak berlapis kain merah tergenggam di dalam lipatan jari-jari Satsuki. Dia tersenyum licik.
Daiki menarik kotak itu. Alasan utamanya; dia lapar. Tapi dia gagal, ternyata! Satsuki, dengan kekuatan refleks yang entah mengapa jadi meningkat tiba-tiba, menarik kembali kotak itu sebelum sempat direbut Daiki. Dipeluknya kotak itu sambil menatap sebal.
"Kau janji mau memberiku," Daiki mendengus. Dia sudah berpikir bahwa Satsuki mengkhianati janjinya sebelumnya yang mengatakan bahwa strawberry segar itu akan dibaginya bersama Daiki.
"Nih, huh," Satsuki langsung menyerahkannya tepat ke depan wajah Daiki—hampir saja kotak makan itu membentur wajah Daiki kalau dia tidak spontan memundurkan kepalanya.
Daiki mengambil kotak itu sambil menggeleng. Mood Satsuki hari ini benar-benar jelek dan dia tidak mengerti kenapa harus dia menjadi satu-satunya orang yang kenyang mendengarnya.
Oh, ini konsekuensi dari selalu berada di sisi Satsuki.
Selalu. Ya, Daiki bisa merasa tenang ketika merasakan makna istilah itu meresap di dalam otaknya. Terdengar cukup indah, kalau dirasa-rasa.
"Awas nanti kalau tidak ada satu pun dari mereka yang mau—"
Kali ini giliran Daiki menutup mulut Satsuki dengan sebuah strawberry.
"Kaucuma membuat perhatian semua orang di koridor jadi tertuju ke kita, bodoh."
"Hmf," Satsuki pun mengunyah buah itu cepat-cepat. "Masa bodoh. Aku sedang marah."
"Marah?" lagi-lagi Daiki mengambil satu buah strawberry dari kotak makan gadis itu dan menyuapkannya untuk Satsuki. "Kau jadi jelek kalau marah."
Satsuki menggembungkan pipinya ketika mengunyah buah kedua.
Daiki pun menyuap satu strawberry untuk dirinya sendiri, "Ngomong-ngomong, ini tanggal berapa? Seingatku ada tugas geografi yang harus dikumpulkan sebentar lagi."
"Tanggal ..." Satsuki tertegun. Langkahnya melambat. "Gawat."
Daiki melongo ketika Satsuki mengambil satu strawberry dengan cepat dari kotak di tangan Daiki, kemudian berbalik langkah.
"Oi, kemana kau?"
"Toilet!" teriak Satsuki sebagai jawaban, dia sudah mulai menjauh dari Daiki. Beberapa siswa yang berjalan menjadi penghalang jarak di antara mereka yang mulai melebar.
Kening Daiki mengerut. Tapi instingnya berkata, lebih baik dia ikuti Satsuki.
Satsuki keluar dari toilet tak lama setelah Daiki memutuskan untuk bersandar di tembok, menunggunya. Dia berjalan cepat melewati Daiki, masih dengan langkah kaki yang berderap, amukannya masih tersisa tampaknya.
Satu hal baru disadari Daiki.
Jaket hijau muda yang biasa dikenakan Satsuki sekarang berubah posisi. Jaket itu dilingkarkannya di pinggang, lengan jaket itu diikat di depan perutnya, dan bagian yang lebar dibiarkan menutup rok belakangnya.
Daiki tersenyum—oh, bukan, ia menyeringai.
"Mau kemana lagi?" tanyanya sambil menyusul langkah gadis tersebut. Kotak strawberry masih berada di tangannya, dia pegang erat.
"Ruang kesehatan," jawab Satsuki dingin.
Daiki tertawa sinis. Iseng, disentuhnya jaket Satsuki, pelan-pelan ditariknya, bermaksud menjahili anak itu dengan melepaskan jaketnya, sebab dia tahu apa yang sedang terjadi pada Satsuki.
"Lepaskan tangan kotormu, idiot!" Satsuki memukul tangan Daiki sekuat yang dia bisa. Matanya berkilat marah dan yang berikutnya, dia berjalan menjauh dari Daiki sambil mendengus, kepalanya seolah mengeluarkan asap, saking dongkolnya. Daiki melongo. Satsuki terlihat seperti ... monster.
"Hei, hei," Daiki mengimbangi langkah Satsuki. Satu strawberry disuapkannya pada mulut Satsuki, beruntung, gadis itu mau menerima meski dia masih cemberut. "Jangan terlalu bad mood begitu. Jelek, tahu. Mana Satsuki yang biasa?"
"Cobalah kaurasakan takdir menjadi perempuan begini, Dai-chan," Satsuki menanggapi dengan sarkastis. "Setiap bulan sudah wajib satu kali kau merasa tidak enak di luar dan di dalam."
"Aku tidak mau," Daiki menjawab datar, satu strawberry dijemputnya lagi dengan dua jari. "Itu bukan tugasku," didekatkannya strawberry itu ke mulut Satsuki, "Karena tugasku adalah menenangkanmu dan mood jelekmu itu," dia berbisik, dekat sekali dengan telinga Satsuki sambil memasukkan buah tersebut ke antara bibir Satsuki yang setengah terbuka.
Hap, strawberry itu diterima. Satsuki masih terlihat cemberut, namun ada rona merah yang membanjiri pipinya.
Dan Daiki tertawa.
A/N: makasih review dan fave-nya di fic Istana, ya! X3 mmm hayo, siapa yang bisa nebak buah berry jenis apalagi yang muncul di chapter depan? 8D
