Chapter 16B

.

.

.

Masa kehamilan bulan pertama:

ngidam~

Jaejoong menguap lebar dan segera saja ia sudah tersadar sepenuhnya. Terdengar suara berisik dari luar kamar. Sepertinya Yunho sedang berusaha untuk membuat sarapan lagi, setelah kemarin ia mencoba untuk membuat sarapan juga, namun hasilnya hanyalah telur mata sapi yang bewarna coklat kehitaman. Ujung-ujungnya, Jaejoong hanya meminum susu hamil yang disiapkan Yunho untuk mengisi perut dipagi hari, agar tidak terlalu mual. Dan Yunho sendiri memakan satu telur lainnya yang baik, Jaejoong sengaja mengalah karena Yunho tidak mungkin tidak sarapan.

Jaejoong bukannya sengaja bermalas-malasan hanya karena sedang hamil. Tapi Yunho yang memaksa Jaejoong untuk tidak boleh kelelahan dan harus banyak-banyak istirahat.

Akhirnya Jaejoong menyibak selimut dan turun dari ranjang. Guna melihat keadaan dapur, dan berdoa semoga saja suaminya itu tidak menghancurkan dapur tempatnya mengadu kasih dengan masakan selama ini.

Ah, ia teringat kalau belum menelepon anak-anaknya pagi ini. Saat ia mengambil ponsel, ada sebuah pesan baru dan ia pun langsung membacanya.

Pesan dari Seunghyun.

'anak-anak baru saja aku antarkan ke sekolah. Aku sudah memberitau mereka kalau kau sedang hamil, dan mereka sangat antusias. Mereka akan mengerti kalau kau akan jarang menelepon mereka setelah ini. Lain kali aku akan mengantar mereka ke tempatmu, kau tidak perlu kemari selama hamil.'

Jaejoong mendecih, Seunghyun mengambil tindakan terlebih dulu dan memberitau kedua anaknya sebelum dirinya ataupun Yunho yang memberitau. Tapi sesaat kemudian ia tersenyum. Kalau Seunghyun memberitau anak-anak tentang kehamilannya, berarti dia tidak menutupi apapun yang terjadi pada dirinya kepada Joon dan Hanna, dan Jaejoong merasa cukup akan hal itu. Yunho selalu benar, tidak perlu terlalu membenci Seunghyun. Lagipula saat ini ia tidak membenci Seunghyun. Sudah sangat lama. Yunho saja yang selalu beranggapan kalau ia masih menyimpan dendam dan marah pada mantan suaminya itu.

Jaejoong sudah sampai di ruang makan yang bersatu dengan dapur. Ia masih mengenakan piyama tidurnya, tapi sebelum berjalan ke dapur Jaejoong sudah gosok gigi dan cuci muka.

Yunho yang sudah rapi dengan kemejanya berbalik saat menyadari kehadiran Jaejoong.

"kau sudah bangun? Aku hanya menyiapkan roti biasa dan selai stroberi juga coklat. Aku sudah membuatkan susu untukmu. Dan ini, teh untukku sendiri. Ayo kita sarapan."

Yunho terdengar sangat riang dan menggeser kursi untuk memulai acara sarapan mereka. Jaejoong menuruti perkataan Yunho dan menunggu Yunho yang sedang mengoleskan selai stroberi di selembar roti untuk dirinya.

Awalnya Jaejoong hendak protes, ia bukan bayi yang segala sesuatunya harus dibantu, tapi akhirnya ia memilih diam, dan memilih untuk tidak merusak suasana hati Yunho yang sedang baik.

"hanya roti? Lalu suara gaduh apa yang kau timbulkan tadi Jung? Sangat berisik, seolah kau akan menghancurkan dapurku. Tapi ternyata hanya roti saja."

Jaejoong mengambil roti yang disodorkan Yunho, dan segera melahapnya.

"bukan masalah besar. Tadi sedikit memberantakan rak piring. Maaf. Tapi sudah kurapikan lagi, tenang saja."

"aku masih bisa melakukan segalanya seperti dulu. Jangan berlebihan Yunho, kau tidak perlu melayani segalanya untukku. Aku bukan gadis 20 tahun lagi yang masih belum tau bagaimana rasanya hamil seperti apa."

Yunho menelan rotinya sebelum menjawab, ia menatap Jaejoong dengan sangat serius, "justru karena kau bukan gadis 20 tahun lagi Jung Jaejoong."

Jaejoong menelan kunyahan rotinya yang terakhir dengan susah payah saat melihat ekspresi serius dari Yunho.

"kau sudah 36 tahun. Ini memang kehamilan keduamu, tapi kau sudah tidak muda lagi. Diumurmu yang sekarang, adalah umur rentan bagi seorang wanita hamil. Bila kelelahan sedikit, kau akan pendarahan. Kau mau menjadi seperti itu?"

Jaejoong menyesap susunya dan tidak menjawab perkataan Yunho. Kenapa ia baru memikirkan semua hal itu. Seorang wanita hamil di umur 36 tahun? Benar. Itu usia yang rentan.

"jadi jangan banyak protes, dan terima saja apa yang aku lakukan. Ini semua juga untuk kebaikan kita berdua."

Setelah Yunho melemparkan sebuah senyuman, barulah Jaejooong menghembuskan nafas lega dan merasa tenang. Ia sangat takut bila Yunho sudah berekspresi serius apalagi marah. Kalau bisa, ia sangat tidak mau melihat Yunho marah.

.

.

.

Jaejoong berjalan mondar-mandir di ruang tengah. Ia sangat bosan. Tadinya ia ingin keluar untuk belanja keperluan rumah dan memasak seperti biasa. Tapi saat ia meminta izin apakah boleh keluar dan melaksanakan keinginannya itu, dengan tegas Yunho melarang.

Kalau sudah seperti itu, Jaejoong bisa apa lagi? Restu suami sangat penting bagi apapun yang akan dilakukan oleh seorang istri.

Jadilah sekarang ia mati kebosanan di dalam apartemen yang sangat sepi. Suara televisi pun belum cukup untuk meramaikan suasana. Menjemput anak-anak dan bermain bersama mereka? Itu juga tidak mungkin. Yunho melarang Jaejoong keluar rumah untuk bulan-bulan awal kehamilan ini karena sangat rentan.

Apapun alasannya, dan sehati-hati apapun Jaejoong berjanji saat berada di luar sana, Yunho tetap tidak mengizinkan. Karena tidak ada yang tau, hal tidak terduga apa yang akan terjadi bila seseorang sudah di luar rumah. Begitulah pemikiran Yunho.

Sedangkan saat Jaejoong di dalam rumah pun, masih disuruh hati-hati oleh Yunho, terutama saat di kamar mandi. Untungnya tempat tinggal mereka tidak ada tangga. Jika Yunho sudah memerintahkan, Jaejoong hanya bisa menuruti. Pun semua itu juga demi kebaikan dirinya sendiri.

Ia pun sadar dengan tubuhnya yang sudah menua, seperti kata Yunho tadi pagi, yang bukan usia muda lagi untuk mengandung. Jadi ia juga harus menjaga kandungannya sebaik mungkin. Jika terjadi sesuatu pada bayinya yang ketiga ini, kemungkinan besar ia akan susah hamil lagi bukan? Karena Jaejoong memang sangat ingin mempunyai anak lagi bersama Yunho, disaat dirinya dan Yunho sudah resmi menjadi suami dan istri.

Saat ini Jaejoong sedang menopangkan dagunya sambil menatap layar televisi, yang menampilkan acara gossip tengah hari yang memang sudah biasa diputar untuk para ibu-ibu rumah tangga yang sedang beristirahat saat selesai mengerjakan pekerjaan rumah.

Tidak ada satupun berita yang menarik perhatian Jaejoong. Ia tidak tertarik dengan kehidupan pribadi para selebritis muda itu. Kehidupan pribadinya dengan Yunho dan anak-anaknya jauh lebih penting untung diurusi.

Namun salah satu iklan komersial yang muncul kali ini berhasil menarik perhatian Jaejoong. Iklan yang mempromosikan produk susu stroberi yang baru dikeluarkan oleh perusahaan ternama. Jaejoong sangat tertarik!

Bukan dengan susu stroberinya, tapi melihat itu ia malah jadi menginginkan jus stroberi. Sudah lama sekali ia tidak meminum jus stroberi. Ah, sekarang ia malah jadi sangat menginginkannya. Apa yang harus dilakukannya? Tidak ada stok stroberi di rumah dan Yunho melarangnya keluar rumah.

Jaejoong mendesah sebal dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia semakin bosan.

Tadinya Jaejoong ingin melupakan keinginan untuk minum jus stroberi, tapi saat hari semakin sore, keinginannya untuk meminum jus buah bewarna merah itu semakin menjadi. Apakah ini salah satu keinginan yang diminta oleh bayinya?

Jaejoong berusaha tenang, karena ia sudah mengirim Yunho pesan agar membeli stroberi dan bahan sarapan untuk besok pagi. Jadi ia hanya tinggal menunggu Yunho pulang bekerja saja.

Sudah jam lima sore. Sebentar lagi ayahmu pulang, sabarlah sebentar lagi nak~ bisik Jaejoong pelan sambil mengusap perutnya yang masih datar.

Ting tong!

Jaejoong buru-buru berdiri dari tempatnya dan bersiap menyambut Yunho pulang. Namun pemandangan yang dilihatnya begitu Yunho masuk adalah wajah datar dari sang suami.

"ada apa denganmu?" tanyanya dengan nada tidak suka. Ia merasa terganggu melihat Yunho yang seperti itu. Biasanya ia tidak begini, kenapa Jaejoong jadi semakin sensitif semenjak hamil.

"mana stroberi yang aku pesan?" tanya Jaejoong lagi saat Yunho hanya pulang membawa tas kerjanya, tanpa kantong yang lainnya.

"kau juga tidak membeli bahan makanan untuk sarapan besok. Maksudmu apa bertingkah seperti ini? Jawab aku. Setidaknya kalau kau merasa aku terlalu manja dan banyak minta dengan memesan buah stroberi, kau tetap harus membeli bahan sarapan Yunho. Aku tidak masalah jika tidak sarapan, tapi bagaimana denganmu?"

Jaejoong terus mengoceh sambil mengikuti kemana Yunho pergi. Ketika Yunho berjalan ke lemari dapur dan mengecek sesuatu, Jaejoong terus mengikutinya di belakang.

"maaf, tidak sempat." Ekspresi Yunho masih datar, dan ia pun menjawabnya dengan sangat singkat, tidak biasanya. Dan itu semakin membuat Jaejoong jengkel setengah mati.

"tidak sempat? Oke! Kau tidak sempat untuk membeli sarapanmu sendiri dan mari kita lupakan saja tentang dirimu. Lalu bagaimana dengan aku? Aku sangat menginginkan jus itu Yunho! Dan jangan mengira ini permintaan aku yang aneh, karena bawaan bayi memang seperti ini!"

Padahal Yunho tidak mengatakan apapun, tapi Jaejoong terus saja bicara. Yunho kembali lagi berjalan dan kali ini ia menuju kamar, ia sama sekali tidak menjawab dan memperdulikan semua perkataan Jaejoong. Yang diinginkannya saat ini hanyalah tidur. Sialan.

"Jung Yunho!" Jaejoong menjerit kesal saat melihat Yunho hanya mengabaikannya dan kini, lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu malah menuju ranjang dan berbaring disana.

"kalau begitu, aku keluar sekarang membeli semuanya."

"jangan."

Jaejoong berbalik saat mendengar larangan Yunho. Pelan, jelas, tapi masih bisa ditangkap oleh pendengarannya. Yunho sudah bergelung nyaman dengan selimut tebal di atas ranjang sana, ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, tanpa mandi, bahkan tanpa mengganti pakaian dan cuci muka terlebih dulu.

"hanya supermarket di depan."

"jangan, kau tidak boleh keluar."

"lagipula aku hanya ingin membeli stroberi untukku, tidak membeli sarapan untukmu!"

Brak!

Jaejoong langsung berbalik dan menutup pintu kamar dengan keras. Sementara Yunho masih terus bergelung di sebalik selimut tanpa banyak bergerak.

"jangan pergi keluar Jaejoong."

Kepala Yunho jadi ikutan sakit luar biasa mendengar istrinya yang marah-marah. Ia bisa maklum bila emosi Jaejoong meledak-ledak seperti itu, tapi sungguh.. Bukan keinginannya untuk menjadi seperti ini.

Jaejoong sedang duduk di ruang tengah dan matanya sedang memandang layar televisi yang menyala. Hari sudah semakin gelap, sebentar lagi larut. Tapi Yunho belum juga keluar dari kamar dan tidur. Ya, tidur! Itulah yang membuat Jaejoong menekukkan wajahnya sedaritadi. Dirinya sudah menahan hasrat untuk minum jus stroberi sejak tadi siang, tapi ketika pulang kerja Yunho tidak membelikan apa yang diinginkannya dan malah tidur dengan nyaman di dalam sana!

Sementara dirinya sendiri juga dilarang untuk keluar rumah, jadi apa yang harus dilakukan?!

Jaejoong mengacak rambutnya yang sudah semakin panjang itu. Ia berusaha mati-matian untuk menahan emosinya.

Namun gagal.

Jaejoong berdiri lagi dari tempat duduknya, membiarkan televisi tetap menyala, dan berniat menghampiri Yunho di dalam kamar. Ia marah, sangat. Setidaknya Yunho harus membersihkan diri dulu sebelum tidur, apa yang kini sedang dilakukan suaminya itu? Tidak biasanya, dan itu membuat emosinya semakin tersulut.

Jaejoong membuka pintu kamar dengan keras, sekeras saat tadi ia menutupnya.

"Yunho, kau—"

"Arghh!"

Ucapan Jaejoong terpotong saat mendengar jeritan Yunho. Tiba-tiba jantung Jaejoong melompat dan perasaannya langsung tidak enak saat itu juga. Ia melihat Yunho yang berguling-guling kesana-sini di atas ranjang. Jaejoong langsung berlari menghampiri Yunho dan melihat keadannya. Ia cepat-cepat menyingkap selimut, di dalam sana tubuh Yunho sudah mandi keringat dan wajahnya sangat pucat.

"ada apa dengaanmu? Apakah.. Apakah Maag mu kambuh?"

Yunho berusaha mengangguk sambil tetap memejamkan matanya dengan rapat untuk menahan rasa sakit yang menghujam perutnya. Rasanya sangat luar biasa sekali, seperti ada ribuan jarum yang menyerang organ perutnya.

"obatmu? Kau tidak meminum obatmu?"

"tadi sudah kuperiksa, tapi habis."

"lalu bagaimana?!" barulah Jaejoong panik disaat Yunho menahan sakit setengah mati seperti ini, tapi obat, satu-satunya penghilang rasa sakit itu tidak ada.

"perlukah aku menelepon 119?"

"jangan, jangan merepotkan dirimu Jaejoong."

"aku sama sekali tidak kerepotan! Aku bisa hati-hati, sekarang ini kau yang sedang kesakitan Yunho!" Jaejoong menjerit dan meneteskan air mata saat Yunho berkata seperti itu. Tubunya bergetar hebat, tangannya mulai dingin dan ia sama sekali tidak tau harus berbuat apa. Ia merasa sangat bersalah, disaat daritadi dirinya menyalahkan Yunho, dan marah-marah tidak beralasan, saat sakit seperti inipun Yunho masih memikirkan keselamatan dirinya.

Air mata Jaejoong jatuh semakin deras saat melihat Yunho yang semakin menjadi-jadi.

"lalu apa yang harus aku lakukan?!" Jaejoong terlihat frustasi dan terus menjerit karena panik.

Ting tong!

"siapa pula yang datang disaat-saat seperti ini?!"

Sebelum istrinya itu semakin mengomel tidak jelas lagi, Yunho memegang lengan Jaejoong dan memberitaunya, "Yoochun. Yoochun yang datang, aku tadi meneleponnya untuk membelikan obat dan semua yang kau pesan tadi. Pergilah ke depan."

.

.

.

Yunho sudah mulai tenang dan rasa sakitnya sudah mereda sekitar beberapa menit yang lalu begitu ia meminum obat. Penyakit maag Yunho masih standar, dan belum terlalu parah. Bila kambuh, sakitnya memang luar biasa, tapi akan langsung reda begitu minum obat. Penyakitnya belum sampai ke tahap yang sampai pingsan hingga harus dilarikan ke rumah sakit.

"kau tidak makan tadi siang?" tanya Jaejoong sambil mengusap keringat yang memenuhi wajah Yunho menggunakan handuk kering.

"tidak."

"kenapa?"

"waktu makanku terpakai untuk buat laporan rapat tadi pagi. Padahal sore tadi aku sudah makan, tapi tetap saja sakit."

"tentu saja. Asam lambungmu sedang naik, tapi malah kau isi dengan makanan."

Selama tinggal dengan Yunho, Jaejoong ingat beberapa kali Yunho memang selalu kambuh. Setiap hari sudah diingatkan untuk tidak lupa makan, tapi pasti tetap akan kejadian juga seperti apa yang terjadi malam ini.

Yunho masih berbaring di atas ranjangnya, ia tengah berusaha mengatur nafasnya yang belum tertatur.

Jaejoong mengusap dahi Yunho kemudian menggenggam erat tangan sang suami, "maafkan aku." ucapnya dengan sangat tulus dan raut wajah menyesal. Ia menatap Yunho dalam-dalam, dan terlihat dari matanya betapa berharapnya ia agar Yunho mau memaafkan.

Namun Yunho malah tersenyum menanggapinya, "tidak perlu meminta maaf. Aku mengerti."

"tapi aku sudah tidak ingin minum jus buah sialan itu Yunho." ia teringat, saat mengambil barang pesanan Yunho yang diantarkan oleh Yoochun, ada bungkusan buah stroberi juga di antaranya. Ternyata Yunho tetap memesankan benda itu karena sedaritadi ia merengek memintanya.

"aku sudah tidak selera lagi." ucap Jaejoong.

"maaf, karena aku terlambat membawakannya kau jadi tidak ingin menyantapnya lagi."

"tidak! Aku yang salah. Aku tidak tau kalau ternyata kau sedang sakit, tapi malah merengek tidak jelas dan menyusahkanmu. Maafkan sikap kekanakanku Yunho."

"tidak apa-apa. Aku mengerti."

Rasanya Jaejoong ingin menangis meraung-raung saat ini. Merasa bersalah dan sangat konyol karena sudah marah-marah pada Yunho tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Yunho sangat pengertian sekali? Ia jadi semakin mencintai suaminya itu.

.

.

.

Masa kehamilan bulan ke lima:

Yunho~~ Ayo bercinta!

Perut Jaejoong sudah besar dan semakin bulat. Celana-celana rampingnya sudah tidak bisa dipakai lagi, apalagi rok pendek yang sering dipakainya bila berada di dalam rumah. Jadi pakaian-pakaian yang bisa dikenakannya sekarang adalah baju terusan ibu hamil yang tentunya tanpa celana.

Tapi berpenampilan seperti itu Jaejoong malah terlihat semakin cantik. Yunho saja mengatakan, ia semakin menyukai Jaejoong saat dia sedang hamil seperti sekarang. Walaupun penampilannya semakin aneh, semakin gendut, dan tidak beraturan.

Malam itu, seperti biasanya Yunho tidur terlebih dulu sebelum Jaejoong. Sudah seminggu terakhir ini Jaejoong mengajak Yunho bercinta, tapi Yunho menolak dengan alasan takut membahayakan calon bayi mereka, atau takut Jaejoong kelelahan seperti terakhir kali mereka melakukannya.

Benar. Terakhir kali mereka melakukannya memang sekitar lima bulan yang lalu, saat pertama kali mereka tau kalau Jaejoong hamil dan saat itu Jaejoong juga pingsan karena kelelahan. Yunho tidak mau hal itu terulang lagi.

Jaejoong mengusap perut besarnya sambil duduk di sandaran ranjang. Ia memandangi punggung Yunho yang tengah tidur membelakangi dirinya.

"ayolah Yunho~ kau tidak kasihan melihat aku menderita seperti ini?!"

Tapi Yunho tetap tidak bergerak dan mengabaikan rengekan Jaejoong.

Sementara Jaejoong mulai merasa panas karena lagi-lagi malam ini ia harus menahan hasrat bercintanya. Ia membuang nafas dengan keras dan menggulung rambut panjangnya ke atas, sambil berusaha menahan kekesalannya yang memuncak. Lagi-lagi Yunho menolak.

"apa gunanya aku punya suami kalau tidak bisa bercinta saat aku sedang ingin?!" Jaejoong mencari perkataan lain lagi sampai Yunho menjawab dan kalau bisa mau melakukannya. SEKARANG JUGA.

"kau sedang hamil Jaejoong. Bagaimana kalau membahayakan anak kita? Aku takut seperti kejadian terakhir kali."

"tidak akan Yunho, kalau kita melakukannya selembut mungkin dan tidak brutal seperti dulu! Lagipula, kau ingat bukan terakhir kita melakukannya lima bulan lalu! Sebagai pria dewasa yang matang kau tahan selama lima bulan ini menganggur?!"

Sebenarnya Yunho bukannya tidak ingin atau bahkan tahan menganggur seperti yang dikatakan Jaejoong. Malah ia sangat ingin! Bahkan mungkin melebihi Jaejoong sendiri. Ia bukannya tidak kesakitan disaat hasratnya datang tapi tidak bisa melakukannya. Ia berusaha menahannya demi keselamatan istrinya.

"Yunho, kita bisa melakukannya dengan pelan. Teman-temanku yang sesama ibu hamil juga tetap melakukan hubungan suami istri. Tapi tidak terjadi apapun pada mereka karena mereka melakukannya dengan benar dan tidak berlebihan."

Yunho membuka matanya. Benarkah? Pikirnya. Aku bisa melakukannya saat ini? kemudian Yunho kembali memejamkan matanya berusaha untuk tidur. Astaga. Ia hampir saja terpengaruh. Kalaupun mereka akan melakukannya, jangan malam ini. Ia belum siap dan belum belajar apa-apa saja hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Kejadian terakhir kali benar-benar semacam sudah menjadi trauma bagi Yunho.

"tidak, Jaejoong."

"kau menyebalkan! Kenapa harus aku yang meminta sampai seperti ini sementara kau selalu saja menolaknya!"

Akhirnya Jaejoong menjatuhkan tubuhnya di ranjang dengan kasar dan ikut memejamkan mata, bersiap untuk melalui malam yang panjang ini, lagi-lagi dengan tidur saja. Sama seperti yang dilakukan Yunho, ia tidur membelakangi suami keras kepalanya itu.

"mulai besok aku tidak mau bicara denganmu sebelum kita bercinta!"

.

.

.

Ternyata benar perkataan Jaejoong kemarin malam tentang 'mulai besok aku tidak mau bicara denganmu sebelum kita bercinta'.

Sudah dua jam yang lalu Yunho pulang bekerja. Dan Jaejoong sama sekali tidak mau menegurnya. Yang dilakukan wanita itu hanyalah tidur di kamar, dan bersembunyi di sebalik selimut.

Sama seperti tadi pagi, Jaejoong sama sekali tidak mau menegur Yunho. Ia hanya membuat susu untuk dirinya sendiri, sementara ia mengabaikan apakah ada makanan untuk Yunho atau tidak. Dan setelahnya, ia hanya menyibukkan diri untuk menelepon anak-anak lebih lama dari biasanya.

Sebenarnya Yunho juga tidak terlalu mempermasalahkan, toh bagus Jaejoong tidak banyak melakukan kegiatan, ia juga bisa menyiapkan sarapan sendiri.

Tapi, sangat tidak nyaman saat Jaejoong mengabaikannya dan tidak mau bicara apapun. Selama ini, bila tidak bercinta, masih ada kecupan ringan dan berat yang selalu mereka lakukan dipagi hari sebelum Yunho berangkat bekerja, atau dimalam hari sebelum keduanya tidur. Dan ketika semua itu dihentikan, bagaimana mungkin Yunho tidak menggila?

Setelah selesai mandi dan berpakaian, Yunho berusaha memanggil istrinya dan melihat apakah ada respon darinya atau tidak.

"Jaejoong?"

Hening.

Tidak ada jawaban.

Ia pun hanya bisa menghela nafas panjang.

"baiklah. Ayo kita lakukan malam ini! kau puas?!"

Yunho hampir terjengkang ke balakang saat Jaejoong langsung bangkit dari tidurnya dan menyibak selimut. Ia tengah memandangi wajah Yunho yang berdiri di depannya dengan menggebu-gebu.

"benarkah? Ayo!"

Jaejoong langsung berdiri di atas ranjang dan meraih Yunho yang masih berdiri di lantai, tandanya kini posisi Jaejoong lebih tinggi daripada Yunho. Awalnya ia berniat ingin segera melahap bibir Yunho namun,

"ya tuhan Jaejoong. Tenanglah, jangan terlalu bersemangat. Kau sendiri yang mengatakan semuanya akan baik-baik saja kalau kita bisa melakukannya selembut mungkin!"

.

.

.

Masa kehamilan bulan ke sembilan:

Nama anak ketiga kita, Jung Ilhoon^^

Kondisi perut Jaejoong sudah semakin membesar dari sebelumnya. Besar perutnya sudah pada ukuran maksimal. Bahkan untuk berjalan saja Jaejoong semakin kesulitan, dan kakinya terasa sakit saat berdiri terlalu lama atau berjalan terlalu jauh. Usia 36 tahun memang benar-benar sudah tergolong tua, karena saat dirinya hamil Joon dan Hanna yang dua orang sekaligus saja rasanya tidak semelelahkan ini.

Yunho sudah berangkat bekerja beberapa jam yang lalu. Jaejoong hanya bisa duduk di sofa ruang tengah tanpa melakukan apapun. Bila dulu ia selalu protes saat Yunho melarangnya mengerjakan pekerjaan rumah, saat ini ia baru merasakan, hanya untuk berdiri dan berjalan saja sudah sangat menguras habis tenaganya.

Tak lama kemudian terdengar suara bel berbunyi. Jaejoong segera berdiri dari duduknya dan melihat siapa yang datang.

"Yoochun?" ucapnya begitu melihat siapa yang bertamu. "ada apa?"

"aku kemari diutus oleh Yunho." jawab Yoochun sambil melangkah masuk tanpa dipersilahkan terlebih dulu oleh Jaejoong.

"dia menyuruhmu? Untuk apa?" sejak menikah, baik Yoochun maupun Changmin memang sering mendatangi mereka, jadi Jaejoong pun sudah biasa dengan kehadiran Yoochun.

"aku disuruh untuk mengambil berkas pekerjaannya yang ketinggalan. Dimana benda itu mungkin berada?"

"oh, di kamar. Di meja kerjanya."

Jaejoong berjalan mendahului Yoochun, dan mengajak teman suaminya itu untuk mengikutinya. Ia berjalan dengan sangat pelan sambil mengusap perut buncitnya dan memegangi pinggang belakangnya, khas ibu-ibu yang sedang hamil tua.

"bagaimana kandunganmu? Kapan kata dokter akan melahirkan?"

"Mm, sekitar dua atau tiga hari ini."

"wow, berarti sebentar lagi. Ah, harusnya Yunho tidak bekerja disaat-saat seperti ini. Bagaimana kalau kau mendadak melahirkan?"

"tidak apa-apa, aku bisa meneleponnya dan ia akan langsung pulang."

"tapi tetap saja bahaya Jaejoong."

Jaejoong hanya menanggapinya dengan tersenyum, "ngomong-ngomong, kenapa akhir-akhir ini kau selalu menjadi pesuruh suamiku?"

"astaga. Ternyata kau juga menyadarinya. Aku sendiri pun juga berpikir, kenapa aku mau saja ketika diperintahkan ini itu oleh Yunho. Setelahnya aku kembali merenung, mungkin karena aku punya waktu luang makanya aku mau melakukannya. Yah, daripada tidak ada kerjaan bukan? Café ku sedang sedikit pelanggan."

Mereka berdua pun tertawa, Jaejoong terkikik geli mendengar ucapan Yoochun.

Baru saja mereka sampai di kamar, dan Yoochun tengah mencari-cari map biru yang tadi dikatakan Yunho, Jaejoong memegangi perutnya dan terduduk di ranjang.

"Ya tuhan, ada apa dengan perutku."

Yoochun langsung menoleh dan menghampiri Jaejoong, "kau tidak apa-apa? Kenapa perutmu?"

"Akh." Jaejoong berusaha menahan rasa sakitnya dan mencengkram tangan Yoochun yang memegangi lengannya, "rasanya sakit sekali Yoochun. Seperti ada dorongan kuat dari dalam sana! Ah!"

Yoochun semakin panik saat Jaejoong melampiaskan rasa sakitnya dengan mencengkram tangannya dengan kuat. Sekarang, Jaejoong sudah berpegangan pada pundaknya dan berusaha agar tetap duduk dengan benar.

"bagaimana ini? Aku harus menelepon Yunho."

"lalu kau menunggu dia tiba disini baru kalian mengantarkanku ke rumah sakit?!" bentak Jaejoong pada Yoochun membuat lelaki itu tersentak kaget sampai menjatuhkan ponselnya ke lantai.

"lalu bagaimana lagi?!" Yoochun terlihat frustasi dan kebingungan dengan keadaan seperti sekarang. Ini kali pertamanya ia menghadapi orang yang akan melahirkan, sendirian pula. "atau kita menelepon 119 saja?"

"sama saja!"

"jadi kau mau bagaimana lagi Jaejoong! Kau ingin aku yang membantumu melahirkan disini?! Yang ada anakmu tidak akan jadi lahir ke dunia!"

"kau saja yang antarkan aku ke rumah sakit sekarang juga bodoh!"

Oh oh, barulah Yoochun paham. Awalnya ia bingung bagaimana caranya memapah Jaejoong, sedangkan wanita itu saja sudah tidak kuat berdiri dan hanya bisa menumpukan seluruh badannya di ranjang.

"kau bisa berdiri?"

Namun Jaejoong tidak menjawab dan hanya menjerit kesakitan sambil menarik-narik sprei tempat tidur.

Yoochun tau akhirnya akan seperti apa.

Ia harus menggendong Jaejoong untuk keluar dari sini. Ia tidak punya waktu untuk memanggil bantuan dari siapapun. Intinya itu yang berusaha Jaejoong ucapkan sedaritadi. Istri temannya ini tidak sanggup bila disuruh menunggu lebih lama lagi.

Yoochun pun mulai menyelipkan satu tangannya di bawah lutut Jaejoong, dan tangan yang satunya ia gunakan untuk menahan tubuh bagian atasnya. Ia menghitung dalam hati, dan mulai menggendong Jaejoong.

Ya tuhan berat sekali.

Tapi Yoochun tetap menggendong tanpa protes. Walaupun ia sedikit meringis saat tubuh Jaejoong sudah berhasil diangkatnya, sangat berat, dan ia hampir saja melepaskan pegangannya pada tubuh Jaejoong saking tidak kuatnya.

'Yunho maafkan aku. Ini darurat, aku bukannya bermaksud sengaja menyentuh istrimu'

Yoochun pun semakin mengeratkan pegangannya agar pegangannya tidak terlepas.

"kau beruntung aku sedang ada disini, bayangkan bila tidak ada aku."

"diamlah! Perutku rasanya sakit sekali dan seperti akan meledak!" Jaejoong menggerak-gerakkan kakinya membuat Yoochun semakin kesulitan berjalan. Sudahlah berat badannya berlebih, ditambah beban yang ada di perutnya, tetapi wanita ini malah bergerak-gerak gelisah dan tidak mau diam. Yoochun mengumpat dalam hati.

Oh Tuhan..

.

.

.

"bagaimana dengan Jaejoong? Dimana dia?"

Yunho yang baru datang langsung menyerbu Yoochun yang sedang duduk di ruang tunggu depan ruangan persalinan.

"astaga. Kenapa dengan wajahmu?" tanya Yunho saat melihat wajah Yoochun yang tidak bertenaga, berkeringat, kelelahan, seolah dialah yang sedang melahirkan. Mata lelaki itu sayu, titik-titik keringat timbul di dahinya yang lebar dan wajahnya juga memucat.

Yunho ternganga, dan benar-benar berpikir kalau Yoochun telah menggantikan posisi Jaejoong untuk melahirkan.

"aku kelelahan Yunho, karena menggendong istrimu dari apartemen mu ke tempat parkir, lalu dari parkiran rumah sakit ke UGD, karena.."

Yoochun terengah-engah dan menghentikan kalimatnya. Ia terlihat kelelahan seolah penjelasan singkatnya pada Yunho barusan menguras habis sisa-sisa tenaga yang masih dimilikinya. Setelah berhasil mengatur nafasnya, ia kembali menatap Yunho berniat untuk melanjutkan, namun tidak jadi karena sebuah suara menginterupsi mereka.

"suami Nyonya Jaejoong?"

"saya disini." Perhatian Yunho langsung teralihkan begitu saja dan ia menghampiri perawat wanita itu.

"silahkan masuk tuan, anda bisa masuk melihat istri anda. Bayi kalian sudah lahir dengan selamat. Nyonya Jaejoong melahirkan bayi laki-laki yang sehat."

Yunho langsung mengikuti perawat itu masuk tanpa memperdulikan Yoochun lagi, orang yang sebenarnya sudah sangat berjasa atas proses melahirkan Jaejoong kali ini.

.

.

.

Ketika Yunho memasuki ruang persalinan tempat dimana Jaejoong baru saja melahirkan anak ketiga mereka, ia melihat sang istri masih terbaring di ranjang dengan kondisi yang sangat lemah pasca melahirkan.

Jaejoong tengah menggendong anaknya yang terbungkus kain bewarna biru muda. Yunho berjalan mendekat kearah keduanya dengan mata yang berbinar-binar. Jaejoong yang menyadari kehadiran Yunho langsung tersenyum cerah.

Yunho menyentuhkan jarinya dengan sangat lembut ke pipi gembul anaknya. Ia tertawa tanpa suara saat sang anak menggeliat kecil merespon sentuhan Yunho. kepalanya menyundul ke arah dada Jaejoong dan bergerak-gerak seperti meminta sesuatu.

"dia ingin menyusu?" tanya Yunho pada istrinya.

"benar."

Pandangan Yunho tak lepas dari wajah anak lelakinya yang baru lahir. Senyuman terus terukir di wajah Yunho. Rupa anaknya sangat tampan, persis seperti dirinya. Pipi anaknya juga gembul, menambah kesan menggemaskan untuk ukuran seorang bayi.

Perasaan Yunho sangat meledak-ledak kali ini, ia senang sekali. Jaejoong melahirkan seorang anak lagi untuknya. Tidak pernah ia merasa seperti ini sebelumnya. Tidak pernah.

Jaejoong sudah mengeluarkan sebelah payudaranya untuk memberikan air susu pada sang buah hati. Dengan sigap mulutnya yang kecil itu langsung melahap puting susu ibunya. Jaejoong merasa puas saat anaknya langsung merespon dengan cepat.

Pandangan Jaejoong teralih pada Yunho dan bertanya, "siapa nama anak kita? Aku ingin kali ini kau yang memberi nama anak kita yang sangat tampan ini"

Yunho tersenyum dan mengusap puncak kepala Jaejoong dengan sayang, "Jung Ilhoon. Nama anak ketiga kita Jung Ilhoon."

.

.

.

TBC

Maaf bila chapter 16 ini terkesan buru-buru, kecepatan atau masih kurang greget seperti chapter 15 kemarin, makanya sengaja aku split jadi A dan B biar ada jeda pembacaannya X'D

Semoga masih tetap menghibur.

Terimakasih semuanya yang masih mau menunggu cerita yang tidak seberapa ini.

Chapter ini cukup panjang, semoga cukup untuk permohonan maafku karena sebulan lebih baru update x')

Sampai jumpa chapter depan, chapter terakhir^^