"Tapi kau adalah orang yang harus kulindungi. Akan ku lindungi kau dengan sepenuh jiwaku."

Manik mata sang tentara menatap tajam pemuda manis bernama Yoo Seonho. Kilatan cahaya mentari yang masuk dari celah-celah jendela membuat wajah sang tentara asal Cina lebih bersinar. Jarak keduanya terlalu dekat, hembusan nafas Guanlin menerpa halus wajah Seonho. Dapat dirasakan harum mint dengan sedikit menthol dari nafas sang bodyguard baru.

Seonho menolehkan kepala ke samping, berusaha memutuskan tatapan mata yang sudah terpaut beberapa menit lamanya. Guanlin mulai menjauhkan wajahnya. Berdiri dengan elegan di hadapan semua orang.

"Selama aku menjadi bodyguardmu, aku akan membuat peraturan yang tidak boleh dibantah." ucap Guanlin dengan suara bariton nya.

Seonho menoleh, "Maksudmu?"

"Kau, tidak boleh pergi dari rumah terlalu lama. Kau juga dilarang menggunakan akun sosial media, kau juga harus selalu diawasi setiap detik—"

Guanlin mulai berbicara panjang. Seonho terdiam mendengar ucapan bodyguard barunya. Bukankah semenit lalu orang ini adalah orang pendiam? Kenapa sekarang menjadi cerewet? Oh, demi Tuhan bahkan dia lebih cerewet dari ibunya sendiri.

"—dan satu hal lagi, kau tidak boleh berpergian tanpa diriku. Kau harus selalu berada di sisiku. Tidak peduli apapun itu." ucap Guanlin. Kedua tangannya di lipat didepan dada. Wajahnya yang dingin kembali ditunjukkan.

"Apa?! Tunggu, aku punya privasi sendiri! Kau tidak bisa mengatur segala aktifitasku semaumu! Dan, asal kau tahu saja. Kau lebih cerewet dibandingkan ibuku!" Seonho kesal. Ia tidak terima kehidupannya mulai diatur-atur oleh orang asing. Bahkan Jaehwan saja tidak pernah mengatur segala kehidupan Seonho.

Guanlin kembali memajukan dirinya mendekat pada Seonho. Pemuda manis itu segera memundurkan langkahnya, menatap takut pria berpakaian militer Cina. "M-mau apa kau?!"

"Ikuti aturanku, atau nyawamu terancam." Guanlin menatap tajam mata Seonho sekilas. Lalu berjalan menjauhi pria berwajah manis dengan tampang bingung. Langkah kakinya menuju koper hitam di dekat meja, lalu mengambilnya.

"Hei, kamarku di sebelah mana?" tanya Guanlin sedikit menoleh.

"A-ah, kamar anda di sebelah sini tuan. Mari, saya hantar." ucap Daehwi sedikit tergagap. Lalu melangkahkan kakinya menuju kamar yang sudah disiapkan untuk Guanlin.

Seonho hanya menatap sebal bodyguard barunya. Seumur-umur di lindungi oleh para bodyguard yang lain, tapi baru kali ini ada yang sangat over protektif padanya. Bahkan sampai mengatur-ngatur kehidupan pribadinya.

"ARRGHHHHHH AKU BENCI PENGAWAL BARU ITU!!!!"

.

.

.

.

THE BODYGUARD FROM CINA

Main cast:

Lai Guanlin, Yoo Seonho, and other.

Disclaimer:

This is parody of 'The Bodyguard from Beijing'

Semua karakter bukan punya saya. Hanya meminjam beberapa untuk kelancaran fanfik ini.

WARN! YAOI, OOC, TYPO, PARODY

I hope you enjoy this story~

.

.

.

.

"Ini untukmu. Dan ini untukmu, ini untukmu juga—" Haknyeon sibuk memberikan gaji pada para pengawal. Setelah insiden di dalam ruangan, Guanlin memutuskan untuk memberhentikan seluruh pengawal yang ada. Memberikan mereka gaji dengan uang yang ia dapat dari tuan Kim Jaehwan untuk hari pertama.

Para pengawal merasa senang, lalu pergi dari kediaman Yoo Seonho. Haknyeon mendekati Guanlin yang sedang membersihkan pistol di dekat taman. "Hei, tuan Lai. Kenapa kau memecat seluruh pengawal? Kalau tuan Kim tahu, kita pasti akan dimarahi."

"Semakin sedikit yang berada di sini, semakin aman untuk tuan Seonho." jawab Guanlin tanpa mengalihkan pandangannya. Tangannya tetap sibuk membersihkan pistol berwarna hitam dengan sapu tangan berwarna putih.

"Kau luar biasa tuan Lai. Baru sehari menjadi pengawal, kau sudah dibayar ratusan juta oleh tuan Kim. Dan kau di tugaskan menjadi bodyguard selama satu bulan! Hah, aku tak bisa membayangkan berapa milyar yang kau dapat selama sebulan ini." ucap Haknyeon.

Guanlin memasukkan pistolnya pada saku kiri celana hitam yang ia pakai. Sedikit merapihkan kemeja putih dengan dasi hitam yang menambah pesona seorang Lai Guanlin. Mata belatinya menatap jendela kamar Yoo Seonho.

"Tuan Seonho memang sering menyendiri di dalam kamar semenjak dirinya selalu di teror." ucap Haknyeon yang seakan tahu maksud dari tatapan tajam Guanlin.

Pemuda Cina itu berjalan menjauh dari taman, Haknyeon tetap mengikuti langkah sang tentara Cina. "Hei, kau mau kemana?! Aku akan ikut denganmu." ucap Haknyeon.

Guanlin berhenti sejenak, lalu menoleh ke belakang. "Aku ingin ke toilet." ucap Guanlin datar.

Haknyeon terdiam. "Oh, yasudah kau ke toilet saja sana."

Tentara muda itu kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam kediaman Seonho. Dari jendela kamar, Seonho hanya menatap sinis sang bodyguard baru. "Cih, dia menyebalkan sekali!"

.

.

.

.

"Anak-anak, ayo kita mulai menyanyi. Tapi, harus yang benar ya." Seonho sedang mengajari anak-anak TK bernyanyi di dalam kelas. Wajahnya yang manis terlihat sangat bahagia melihat kegembiraan murid didikannya.

Tangan lentik Seonho mengalun. Mengikuti irama yang ia ciptakan untuk menyanyi. Murid-murid tertawa gembira bersama Seonho. Hah, anak kecil memang menyenangkan bagi Seonho.

Dari luar kelas, sosok dingin berbadan tegap menatap intens Seonho yang sedang bernyayi. Mata tajamnya yang tertutup kacamata hitam menatap lekat pemuda manis di dalam kelas. Badannya bersender pada dinding, kedua tangan dilipat didepan dada. Kemeja putih yang dibalut jas hitam dengan dasi berwarna senada membuat para guru dan orangtua murid yang menunggu salah fokus.

Jam tangan berwarna emas melingkar di tangan kirinya. Bibir sang bodyguard tetap melengkung kebawah. Rahangnya yang terlihat keras membuat aura ketampanan bertambah berkali-kali lipat. Woojin dan Haknyeon yang berada di sebelah hanya meneguk ludah. Walau sama-sama berstatus bodyguard tuan Yoo, tapi penampilan mereka sangat berbeda. Haknyeon dan Woojin hanya menggunakan kaos oblong dengan dipadu celana jeans dan sepatu kets.

Jam menunjukkan pukul 11.00 siang. Para murid berhamburan keluar kelas, lalu berjalan mendekati orangtua masing-masing. Sebagian murid ada yang tetap di dalam kelas. Mengintip Guanlin diam-diam. Seonho merapihkan barang-barang, lalu keluar kelas dan menghampiri tiga bodyguard yang sedaritadi menjaganya.

"Ayo kita pulang." ucap Seonho dengan senyum manisnya. Woojin hampir meleleh melihat senyuman itu.

Tuan muda berjalan lebih dulu. Woojin dan Haknyeon berada di belakang Seonho, dan Guanlin berdiri tegap di belakang Woojin dan Haknyeon. Sepatu hitam mengkilap milik tentara Cina berdentang keras di lantai keramik dalam sekolah. Dirinya kembali menjadi pusat perhatian.

"Woojin," bisik Haknyeon.

"Apa?" tanya Woojin.

"Apa diriku semakin hari semakin tampan? Ah, bahkan semua orang menatapku dengan pandangan kagum." dengan percaya diri, Haknyeon merapihkan rambutnya dengan sisir kecil yang senantiasa bertengger di dalam saku celana.

Woojin menatap malas teman seperjuangannya, "Mereka bukan melihatmu bodoh. Mereka menatap tuan Lai Guanlin."

Tangan Haknyeon berhenti menyisir, pandangannya menoleh pada sosok bertubuh tegap di belakangnya. Wajahnya bersinar bak para model-model. Kacamata hitam yang senantiasa melindungi mata tajamnya menambah kadar ketampanan pria yang berasal dari Cina itu.

Pemuda Joo melihat guru yang ia suka, Lee Euiwoong sedang menatap kearahnya dengan pandangan terpesona—lebih tepatnya menatap Guanlin. Wajah Haknyeon memerah seketika.

"Aaaa~ guru Ung menatapku, Woojin! Hah, wajahnya sangat manis." Haknyeon meremas lengan kanan Woojin. Wajahnya semakin memerah.

Pemuda Park hanya menghela nafas kasar. Ia tahu sebenarnya guru Ung menatap Guanlin, hanya saja ia tidak ingin membuat teman seperjuangannya patah hati.

Seonho hanya tersenyum ramah pada orang-orang yang ia lewati. Ia tahu, semua orang terfokus pada salah satu pengawal pribadinya. Sosok yang menurut Seonho amatlah menyebalkan. Pemuda manis itu menghela nafas panjang. Berharap segera masuk kedalam mobil dan tidur di rumah. Hari ini sungguh melelahkan.

"Silahkan masuk, tuan." ucap Woojin sopan, membukakan pintu untuk Seonho.

Seonho tersenyum lalu masuk. Duduk di sebelah kursi pengemudi. Ya, sebenarnya Seonho selalu duduk di kursi belakang. Tapi, si bodyguard baru bersikeras agar Seonho duduk disebelahnya yang menyetir. Alhasil, Woojin dan Haknyeon lah yang duduk di belakang. Seonho sempat merasa jika Guanlin lebih cocok menjadi seorang baby sitter dibandingkan bodyguard. Hei, Seonho itu pria dewasa berumur 24 tahun! Ia bukanlah seorang bayi yang harus di awasi 24 jam!

Di dalam mobil, Seonho hanya memasang wajah cemberut. Ingin marah-marah pada bodyguard barunya tapi percuma. Dia harus meminta Jaehwan untuk memecat Guanlin nanti.

Berbeda dengan Seonho yang sedang mendumel tak jelas dalam hati, Mata Guanlin justru fokus pada kendaraan beroda dua di belakang mobil. Dari kaca spion, ia melihat orang itu memakai jaket kulit hitam dan helm yang melindungi kepala. Walau tak terlihat, Guanlin dapat melihat jelas jika orang itu menyimpan sebuah pistol di kantung celana. Oh, mata Guanlin benar-benar seperti mata elang.

Guanlin tetap tenang. Matanya tetap memperhatikan sosok mencurigakan dari arah belakang. Tangan kanannya sudah mengambil ancang-ancang untuk menembaki orang tersebut.

Motor hitam melesat dengan cepat. Melewati mobil yang dikendarai Guanlin. Ah, ternyata orang itu hanya ingin lewat. Guanlin kembali memasukkan pistol nya di saku celana dan kembali fokus untuk menyetir.

.

.

.

.

"Apa?! Kenapa begitu tuan? Ah begini, walaupun aku memang sering di teror. Aku masih sanggup mengajar di sekolah." Seonho sedang bingung. Dirinya yang baru pulang sehabis mengajar tiba-tiba di telepon pihak sekolah untuk mengambil cuti beberapa minggu setelah pengadilan dirinya menuntut Minhyun selesai.

"Tuan Lai Guanlin sudah mengambil cuti untuk anda, Tuan Seonho. Dan, anda akan cuti selama beberapa minggu sampai pengadilan sudah memutuskan hukuman apa yang pantas untuk Minhyun nanti. Selamat menikmati hari cuti anda."

Telepon terputus. Seonho menatap nanar telepon yang berada di genggamannya. Mulutnya sedikit terbuka.

"AARGHHH BODYGUARD SIALAN!" Seonho membanting telepon. Kakinya melangkah keluar dari kamar. Rambutnya sedikit acak-acakan. Daehwi yang sedang memasak di dapur segera menghampiri tuan muda. Takut-takut ia mulai mengamuk.

"Tuan, ada apa?" tanya Daehwi panik. Berusaha mengimbangi langkah Seonho.

Seonho menghentikan langkahnya, lalu menatap Daehwi. "Dimana si bodyguard baru itu?"

"Tuan Lai? Ah, dia kalau tidak salah berada di dekat kolam." ucap Daehwi.

Pemuda Yoo langsung melesat pergi meninggalkan Daehwi. Kakinya berjalan menelusuri rumput-rumput hijau. Berjalan menuju kolam renang.

"Lai Guanlin." panggil Seonho dingin. Menatap manik hitam bodyguard baru yang membuatnya kesal setengah mati.

Guanlin menatap Seonho datar, "Ya?"

Seonho berjalan dengan cepat. Mendekati pemuda yang tengah asik membersihkan sebuah pistol. Tangan mungilnya menarik dasi sang bodyguard. Mendekatkan wajahnya pada Guanlin. Sang bodyguard hanya diam di tempat. Menatap datar wajah pemuda manis dihadapannya.

"Kau, kenapa kau mengambil cuti kerjaku?!" Seonho berteriak. Meluapkan segala kekesalan yang selama ini ia pendam pada sang bodyguard. Guanlin hanya diam, tak membuka suara sama sekali.

"Aku tahu kau seorang bodyguard. Aku tahu pekerjaanmu itu menjagaku. TAPI TIDAK USAH IKUT CAMPUR URUSAN PRIBADIKU!!" Seonho semakin berteriak. Daehwi yang baru muncul bersembunyi dibalik dinding. Guanlin tetap diam.

Pemuda Yoo menghembuskan nafas. Tangannya tetap menarik dasi Guanlin. Pemuda kelahiran Cina memegang tangan Seonho erat. Berusaha menyingkarkan tangan tuan muda dari dasinya. "Aku harus memasang beberapa CCTV disini."

Guanlin meninggalkan Seonho sendirian. Pemuda Yoo diam dengan wajah keledainya. Ia tak mengerti jalan pikiran bodyguard yang satu itu. Benar-benar diluar nalar. Seonho hanya bisa berteriak. Menjambaki rambut dengan kedua tangan. Daehwi segera menghampiri tuan muda, berusaha menenangkan sang majikan agar tetap tenang.

.

.

.

.

Jam menunjukkan pukul 18.30. Guanlin masih sibuk dengan segala CCTV di seluruh ruangan. Tangannya dengan lincah memasang CCTV kecil di ruang tengah, dapur, taman, kolam renang, beberapa kamar pembantu, ruang keluarga, halaman rumah, dan juga terakhir di kamar tuan muda.

Guanlin naik ke lantai dua, dimana kamar Yoo Seonho berada. Dengan tangga di kanan kiri serta CCTV di tangan kanannya, Guanlin berbicara didepan kamar sang majikan. "Tolong buka pintunya."

"Tidak, tidak akan pernah ku buka untukmu!" teriak Seonho dari dalam kamar.

CCTV di letakkan di tangan kirinya, di sela-sela tangga. Tangan kanannya sibuk merogoh saku celana hitam. Mengambil sebuah kunci cadangan lalu memasukkannya pada gagang pintu kamar.

Pintu kamar terbuka. Seonho terkejut bukan main, sedangkan Guanlin hanya menatap datar isi kamar Seonho.

"Hei, bagaimana bisa kau masuk ke kamarku?!" Seonho sedikit kesal ketika Guanlin tetap mengabaikannya. Mata tajamnya hanya tertuju pada sudut dinding Seonho.

"Itu tempat yang pas untuk memasang CCTV." ucap Guanlin lalu berjalan menuju sudut ruangan. Seonho yang masih ngoceh pun di hiraukan. Tangga didirikan di dekat dinding, lalu Guanlin naik ke tangga tersebut sambil membawa CCTV di tangan kanannya.

Di pasangkan CCTV berwarna hitam di sudut dinding. Seonho masih mengoceh tak jelas di bawah. Guanlin tetap fokus dengan CCTV.

"Hei, kau gila memasang CCTV di dalam kamarku?! Oh, jangan bilang jika kau berniat untuk mengintipiku dari sini!" Seonho mengusap rambutnya kasar. Berharap pria Cina yang sedang diatas tangga berhenti memasang CCTV.

Guanlin turun dari tangga, lalu berbicara pada Seonho. "Ah, sebaiknya di kamar mandi juga ku pasang."

Mata bulat Seonho melotot. "TIDAK! KAU BENAR-BENAR! DASAR PRIA MESUM!" Seonho memukul lengan kiri Guanlin. Tapi pemuda Cina tak peduli, bukan tidak peduli. Tapi pukulan Seonho tidak terasa di lengannya.

Tangan kanan Guanlin mencengkram tangan Seonho, lalu memberikan sebuah kalung berwarna perak dengan batu berwarna merah di tengahnya. Tolong jangan salah sangka dulu, karena itu bukanlah kalung biasa.

"Jika ada apa-apa, panggil aku dengan menekan batu merah di tengah kalung ini." ucap Guanlin. Dirinya segera mengambil tangga yang ia pakai tadi lalu pergi dari kamar Seonho.

Seonho hanya terdiam. Menatap kalung bermata merah di tangannya.

"TERSERAH KAU SAJA!"

.

.

.

.

"Tuan Lai, apa kau tak kasihan pada tuan muda?" tanya Haknyeon sambil meminum secangkir kopi hitam.

"Jangan panggil aku tuan. Aku bukan tuan mu." ucap Guanlin sambil memakan kacang.

"Baiklah, Guanlin. Sepertinya kau harus memberi sedikit privasi untuk tuan Seonho." ucap Haknyeon. Kedua kakinya di masukkan kedalam kolam.

Guanlin menyesap sedikit teh hangatnya, lalu memandang kolam dengan tatapan serius. "Jika maksudmu aku harus memberikannya kebebasan. Maaf, aku tidak bisa."

"Tapi, kasihan tuan Yoo. Dia terlihat begitu tertekan." sambung Woojin. Tangan kanannya mengambil beberapa kacang dan memasukkannya kedalam mulut.

"Akan lebih kasihan lagi jika Yoo Seonho tertembak mati jika dibiarkan keluyuran tidak jelas." jawab Guanlin datar.

Haknyeon dan Woojin hanya diam. Bingung harus menjawab apa. Jika dipikir-pikir, ini juga demi keselamatan Yoo Seonho. Hanya saja Guanlin terlalu over protektif terhadap tuannya.

"Paman Haknyeon! Lihat! Skor ku lebih tinggi dibandingkanmu!" Bae Jinyoung, bocah berumur 10 tahun yang berstatus adik sepupu Seonho berteriak sambil menunjukkan handphone canggihnya. Memperlihatkan skor game yang tinggi kepada Haknyeon.

"Sial, tidak bisa dibiarkan. Berikan handphonemu, aku akan mengalahkanmu dalam game ini!" Haknyeon segera mengejar Jinyoung yang sudah lari terlebih dahulu.

Dan tinggal lah Park Woojin dan Lai Guanlin di tepi kolam.

"Ya, kuharap kau memberikan sedikit privasi untuk tuan Seonho." Woojin menangkup ujung rokok di bibirnya, menyalakan api lalu menghembuskan beberapa asap. "Kau mau?" tanya Woojin menawarkan rokok pada Guanlin.

Guanlin menoleh pada Woojin, "Tidak."

"Setiap ada masalah, aku pasti selalu merokok." ucap Woojin. Putung rokok kembali dihisap kuat lalu keluarlah sekumpulan asap dari mulut pemuda Park.

"Apa kau memiliki masalah?" tanya Guanlin.

"Ya, sebenarnya. Ibuku sakit, dan aku tidak punya cukup uang untuk biaya operasinya." ucap Woojin tanpa menatap Guanlin.

Pemuda asal Cina hanya diam. Tetap menatap sekumpulan asap yang mulai menyebar di depan mata. "Ibumu sakit apa?"

"Paru-paru. Ibuku adalah seorang perokok akut. Sialnya rokok itu membuat ibuku sakit parah sekarang." ucap Woojin sedikit tertawa. Matanya menatap sendu langit malam.

Guanlin meneguk habis teh hangat, lalu bangun dari duduknya. Kepalanya sedikit menoleh pada Woojin. "Kuharap penyakit ibumu tak menular padamu, Park Woojin."

Woojin menoleh pada Guanlin.

"Berhentilah merokok, itu akan membuatmu lebih baik." ucap Guanlin lalu masuk kedalam rumah. Membuat Park Woojin merenung di depan kolam.

Woojin sedikit tersenyum, lalu mematikan ujung rokok yang menyala. "Ya, sepertinya aku harus berhenti merokok."

.

.

.

.

TBC

A/n:

Aloha! Saya kembali dengan melanjutkan ff ini wkwk. Ya, sebelumnya terima kasih kepada kalian yang sudah membaca, memberi vote, dan memfollow fanfik ini :) /sujud/ Dan, karena saya ini tipe-tipe orang yang suka membalas review, jadi dengan senang hati saya akan membalas review kalian :)

Erumin Smith: Ya, saya bikin Guanlin di sini benar-benar maskulin. Biar aura tentara dan bodyguardnya benar-benar terasa xD Hoho, saya juga awalnya hanya memutar ulang film TBFB. Dan, karena mungkin lagi kobam sama pair Guanho, saya berpikir untuk me-remake film ini dan menjadikan ff Guanho xD. Terima kasih sudah membaca:)

cyc98: Hehe terima kasih sudah menunggu xD Dan, terima kasih sudah membaca:)

LuciferGirl97: Ahaha Guanlin memang selalu keren xD Terima kasih sudah membaca:)

noname: Guanlin memang selalu bikin fangirl meleleh ;_; Terima kasih sudah membaca:)

Guesschu: Haha sebenarnya saya cuma mencari pair yang antimainstream xD Hoho kalo Guanlin jadi pho mereka apa engga kita lihat saja nanti xD /plak/ Wkwkwk Haknyeon kebanyakan makan micin :'v /ditabok/ Terima kasih sudah membaca:)

Min Milly: Hoho berarti kita sama, saya adalah fans berat film ini xD Sempet kepikir sih saya mau bikin ff GuanHo dengan genre yang agak berat :3. Terima kasih sudah membaca:)

Daana-Yo: Hehe, saya hanya ingin membuat genre yang berbeda saja—walau sebenarnya banyak ff dengan genre seperti ini—Dan, saya melihat wajah Minhyun terlalu cocok untuk menjadi pembunuh x'D /sungkem ke minhyun/ Hehe, saya hanya mencari pair yang antimainstream saja untuk selingan:) Hoho Guanlin memang mempesona x"D Haha, tolong jangan ditiru sikap Haknyeon xD pak Jaehwan tetep keep calm kok x"D Terima kasih sudah membaca:)

Karen Ackerman: Hoho Guanlin model bodyguard x"D /plak/ Hoho terima kasih, saya hanya berusaha membuat para readers nyaman saat membaca fanfik ini, dan syukurlah kalau kamu suka:D Guanlin tukang baperin anak orang, bahkan saya sendiri kena pesona seorang Lai Guanlin x"D /plak/ Untuk hubungan Guanlin dan Seonho kedepannya, kita lihat saja nanti :D Terima kasih sudah membaca:)

kudryavka-nyan: Tadinya saya ingin membuat dia berumur 15 tahun, tapi setelah di pikir-pikir mungkin lebih cocok berumur diatas 20 tahun. Hehe, saya juga berpikir wajah Minhyun seperti yandere x"D /ditabok/ Haha, untuk sementara di fanfik ini si anak ayam dan Minhyun saya bikin tidak akur x"D Terima kasih sudah membaca:)

thughao4lyf: Haha Guanlin memang sangat gentleman xD Terima kasih sudah membaca:)

JINVAGA: Hehe Guanlin juga makin sayang kamu xD /eh/ Terima kasih sudah membaca:)

xingmyun: Hehe terima kasih:) Dan, terima kasih sudah membaca:)

A Drama Agony: Hoho okay:) Terima kasih sudah membaca:)

Kulin: Wohooo~ saya juga suka banget sama couple ini xD Hehe, saya hanya ingin membuat genre berbeda saja:) Hoho, maafkan kalau kurang panjang. Karena terkadang mood saya suka ngilang kalo bikin fanfik :""(( /dilempar/ Terima kasih sudah membaca:)

SayaTest: Hoho untuk fanfik yang lain, ditunggu saja ya x"D Terima kasih sudah membaca:)

kkamo: Hoho, sebenarnya di filmnya cara pembunuhannya lebih sadis—menurut saya—untuk sekarang saya beri rating M untuk adegan pembunuhan:) Hehe, saya hanya mencari pair yang antimainstream saja xD Terima kasih sudah membaca:)

nadiyaulya02: Haha, tapi Guanlin maunya melindungi Seonho:(( /dilempar kompor/ Terima kasih sudah membaca:)

BEUbin: Hehe terima kasih sudah membaca:)

byankai: Hehe, saya hanya senang membaca tulisan baku:')) /sok pinter/ Terima kasih sudah membaca:)

Re-Panda68: Seonho udah meleleh duluan xD wkwk Guanlin memang sekseh xD Terima kasih sudah membaca:)

Privateyira: Hoho syukurlah kalau kamu suka xD Terima kasih sudah membaca:)

hahasu: Silahkan teriak, asal jangan ditelinga saya :v /dilempar/ Terima kasih sudah membaca:)

Jika fanfik ini kurang memuaskan, kurang ngefeel, atau kurang panjang tolong di maafkan. Karena mood menulis saya terkadang naik-turun :'v /di hajar massa/ Tapi saya usahakan akan update fast—jika ada waktu luang:). Terima kasih sudah membaca:)

-levieren225