"Kak Hali datang ke rumah Yaya, enggak?"
Mata biru Taufan memeriksa isi lemari kakaknya yang terbuka. Mengabsen setiap baju yang tergantung. Sementara Halilintar hanya duduk di meja belajarnya. Mengunyah kacang seraya menonton film action di laptop. Ia menyahut pertanyaan Taufan, tanpa menoleh.
"Enggak. Ada apa emangnya?"
"Eh, emang kak Hali enggak diundang?" Taufan bertanya kaget sambil melihat gantungan baju di lemari. Hm, dia harus pakai baju seperti apa? Untuk datang ke rumah pujaan hati, tentu ia harus tampil sekece mungkin. Tidak boleh tidak keren. Bisa jatuh harganya dirinya nanti di depan Kaizo kalau ia kalah dalam style.
"Oh, ulang tahun Totoitoy?," sahut Halilintar. "Aku nggak bisa dateng. Tugasku banyak. Jadi kayaknya nanti aku bakal titip kado aja."
"Emang kak Hali udah beli kado? Cepat amat."
"Ya belumlah. Kau yang beliin sana. 'Kan sekalian," kata Halilintar enteng.
"Nggak mau. Beli sendiri sana," ketus Taufan. Ia kembali melihat-lihat baju, mencoba memutuskan hendak memakai yang mana. Matanya berbinar menemukan setelan abu-abu di gantungan lemari Halilintar. Baju ditarik, Taufan langsung berbalik menoleh pada Halilintar. "Eh, aku pinjam kemeja kak Hali yang ini, ya!"
Halilintar melirik sebentar, kemudian menggeleng tanpa berpikir. "Nggak. Pakai bajumu sendiri. Jangan ambil punyaku."
"Yah. Aku nggak punya bagus nih, masa main ke rumah mertua bajunya lusuh begini?" tatap Taufan dengan memelas.
"Mertua? Sejak kapan?"
"Sejak dulu," Kata Taufan percaya diri. "Kan nanti Yaya nikahnya sama aku."
"Ya ya ya." Halilintar memutar mata, malah mengurusi imajinasi Taufan.
"Ayo dong, Kak Hali, pinjemin aku baju ya? Please?" Taufan masih berusaha. "Nanti aku beliin kado deh— ah iya! Aku suruh Ying mampir ke sini deh biar Kak Hali senang."
"Nggak usah. Nggak butuh," ketus Halilintar. "Udah ah. Aku mau tidur bentar. Nanti mau ngerjain tugas sampe malem." Halilintar mematikan laptop dan menutupnya kemudian naik ke kasur untuk tidur.
'Ehehe... Aku pinjem bajunya ya, kak Hali.' Taufan mengambil kembali diam-diam kemeja yang dipegangnya tadi dan bergegas membawanya ke kamarnya tepat di sebelah kamar Halilintar.
.
.
.
"Relationshi(t)(p)"
A BoBoiBoy Fanfiction by Fanlady and Fureene Anderson
Disclaimer : BoBoiBoy © Monsta. Tidak ada keuntungan material apapun yang diambil dari fanfiksi ini.
Warning(s) : Highscool!AU, No Superpower, Typo, dll
TauYa / TauYi / HaliYi/ KaiYa / /HaliTauGem/ TauFanGop/
.
Fanfiksi ini adalah hasil kegabutan Fanlady dan Fureene Anderson. Dipersembahkan untuk kamu yang sedang mencari bacaan, hiburan, asupan, drama remaja dan yang sedang mengalami konflik tentang hubungan. Baik keluarga, persahabatan, platonik maupun romansa yang dipenuhi bunga. Semoga kita selalu berada dalam hubungan yang baik.
.
Selamat membaca ...
"Well, Taufan kamu emang pada dasarnya ganteng, pakai apapun juga pasti ganteng."
Taufan selesai mengancing kemeja hasil pinjamannya. Mematut dirinya di cermin bolak-balik. Memasang senyum terbaik, dan melemparkan tatapan genit pada bayangannya sendiri.
"Kaizo emang pacar Yaya sekarang, tapi siapapun juga bakal setuju kalau aku yang lebih ganteng dari Kaizo, iya nggak?"
Bayangan dirinya yang diajak bicara merespon. "Tentu saja. Seluruh bumi juga tau kau yang tertampan di planet ini, Taufan!"
"Pastilah!"
Taufan tertawa. Menatap bangga pada bayangan di cermin yang menurutnya sudah sangat tampan. Dan siapapun yang melihat Taufan sekarang, pasti setuju jika pemuda itu lebih cocok terlihat di rumah sakit jiwa daripada berkeliaran di rumah.
"Taufan! Cepat turun! Ada Yaya datang nyariin!"
"Ya ampun, sampai dicariin segala." Taufan menahan tangis haru. "Aku yakin deh sekarang, Yaya pacaran sama Kaizo pasti karena terpaksa! Dia jelas sukanya sama aku, kok."
"Taufan, woi! Turun buruan! Ngapain sih lama banget dandan?" teriakan Halilintar kembali bergaung seisi rumah.
"Iya, iya! Ini aku mau turun!" Taufan balas berseru. Ia mematut diri sekali lagi di cermin, lalu bergegas keluar dari kamarnya.
"Mana, mana, Yaya?" Senyum Taufan langsung membeku begitu melihat hanya ada Fang dan Gopal di teras rumahnya. Matanya mencari sekeliling, berusaha menemukan sosok Yaya. Ia bertanya pada Halilintar. "Yaya mana?"
"Yah, ngarep ya?" Gopal terpingkal keras seraya memegangi perutnya.
"Yaya di rumahnya, lah," Fang ikut terkekeh. "Kasian, deh. Ngarep banget dicariin sama Yaya?"
"Sialan kalian," Taufan menggerutu jengkel. Ia mengutuk teman-temannya yang sekarang justru tertawa nista. "Jahat banget sih PHP-in temen sendiri."
"Ya kamunya aja kebanyakan ngarep," ledek Gopal. "Udah. Move on aja, deh. Yaya udah ada yang punya, tuh."
"Nggak bakal. Sampai aku bisa bawa Yaya naik ke pelaminan, aku nggak bakal nyerah pokoknya!"
"Udah sana pergi. Kalian berisik banget, tau nggak." Halilintar mendorong punggung Taufan keluar dan membanting pintu menutup di depan wajahnya.
"Dih, biasa aja dong." Gerutu Taufan begitu pintu rumahnya benar-benar tertutup. "Oke, yaudahlah. Mending sekarang kalian temenin aku cari kado buat adeknya Yaya, Yuk?"
"Kado?" Sebelah alis Gopal naik.
"Yaiyalah, masa ke rumah Yaya nggak bawa kado. Bisa tensin aku nanti di depan Kaizo."
"Oh, iya. Tadi Bang Kaizo perginya bawa kado gede banget," Fang berujar setelah mengingat-ingat. "Emang kau bisa ngalahin dia? Duit aja nggak punya."
"Enak aja. Aku punya uang, kok!" bantah Taufan.
"Minjem Hali pasti, kan?" tebak Gopal.
"Tau aja. Ehehehe." Taufan cengengesan. "Lagian Hali juga nitip beli kado. Sekalian aja kan dipinjam uangnya. Yah, hitung-hitung ongkos jalan."
Baru saja beberapa langkah, mereka keluar gerbang. Ying terlihat berjalan ke arah mereka. Ia memakai dress biru selutut dengan kardigan merah maroon yang terlihat begitu padu dengan rambutnya yang tergerai.
"Kalian mau kemana?" tanya Ying begitu mereka berpapasan.
"Ini, si cecunguk ini mau cari kado dulu," terang Fang.
Ying mengangguk-angguk. Mata birunya yang ditambal lensa kontak dengan warna senada, sekilas tertuju pada rumah Taufan yang tertutup.
"Btw, kamu mau ke ulang tahun apa mau kondangan?" Sindir Taufan, memerhatikan penampilan Ying dari atas ke bawah. "Pakai make-up segala. Percuma, Kak Hali enggak dateng."
"Apa, sih? Emang siapa yang mau ketemu Hali!" Dan langsung saja celetukkan Taufan membuat Ying dongkol setengah mati. "Udah aku mau masuk. Kalian pergi aja jauh-jauh sana!"
Ying melangkah menuju rumah Yaya. Membuka pagar dengan perasaan kesal yang tiba-tiba.
Taufan terkekeh. "Kak Hali lagi ngerjain tugas sendirian, tuh! Temenin gih sana!" serunya pada Ying yang hampir tiba di pintu rumah Yaya.
"Ogah!" Ying balas berseru jengkel dan langsung melangkah masuk ke dalam.
"Jadi beli kado nggak, nih? Acaranya udah mau mulai kayaknya," kata Fang setelah mencoba mengintip sedikit ke dalam rumah Yaya.
"Jadilah. Ayo buruan makanya."
.
.
.
Acara ulang tahun itu tidak seramai acara ulang tahun anak-anak pada umumnya. Mereka hanya duduk di kebun belakang, beralas karpet mengelilingi masakan ibu Yaya yang menurut Taufan adalah masakan kedua terenak setelah masakan mamanya.
Taufan sudah ketar-ketir di sekolah. Sekarang tambah ketar-ketir melihat Kaizo begitu akrab mengobrol dengan ibu Yaya. Taufan sampai melahap sate ayam dengan kuat, matanya tak henti mengawasi Kaizo dan juga Yaya. Asal Kaizo tahu, Taufan sudah lebih lama mengenal dan akrab dengan ibu Yaya. Hanya karena Kaizo sekarang berpacaran dengan Yaya, jangan harap ia bisa mengambil hati Bibi Wawa semudah itu.
"Kak Ijo! Makasih ya Lego set-nya! Totoitoy suka banget!"
Seorang anak berumur sembilan tahun berlari menghambur Kaizo, menginterupsi obrolan Kaizo dan ibu Yaya. Ibu Yaya terlihat mengomel sedikit, namun Kaizo hanya balas memeluk anak itu sebelum berjongkok menyamakan posisinya.
"Kamu udah buka kadonya?" tanya Kaizo.
"Udah." Totoitoy, adik Yaya tersenyum lebar. "Terus Kak Yaya suruh Toto bilang makasih ke Kak Ijo."
"Sama-sama," Kaizo tersenyum dan mengusap rambut Totoitoy yang telah disisir rapi. Totoitoy memeluk Kaizo sekali lagi kemudian berbalik pergi dengan senyum yang tidak dilepaskan adik Yaya itu dari wajahnya.
Taufan membayangkan dalam benak menusuk senyum menyebalkan itu dengan tusuk satenya. Sayang ia tak bisa melakukannya secara nyata.
"Makannya biasa aja, woi," tegur Fang yang duduk di samping Taufan. "Hampir semuanya diembat. Kami mau makan apa?"
"Makan aja itu! Kan masih banyak." Taufan kembali melahap satenya. Tidak peduli pada Gopal yang memasang wajah yang seakan ingin menelannya. Tidak tahu apa sekarang Taufan sedang kalut.
Langkah kaki kecil menghampiri Taufan. Totoitoy berdiri, menunduk pada Taufan dengan senyum gemasnya.
"Kak Upan, makasih ya." Ucap Totoitoy. "Walau kak Upan ngasih topi yang udah Toto punya, tapi Toto tetap harus terima kasih. Sampain juga makasih Toto buat Kak Hali, ya?"
Kaki – kaki kecil berlari lagi. Taufan ditinggalkan dengan mulut terngaga, sementara Fang dan Gopal yang melihat, justru terpingkal keras sekali.
"Kau kalah telak sama Kaizo, Fan," Gopal tergelak sambil menggebuk-gebuk lantai. "Kasian, deh. Udah jelas Totoitoy bakal milih Kaizo buat jadi abang iparnya."
"Nggak, nggak! Aku belom kalah, kok! Aku udah kenal Totoitoy dari bayi! Dulu juga sering bantuin pakein popok dia. Jadi dia pasti lebih sayang sama aku!" Taufan berujar yakin.
"Masa'? Liat, tuh." Fang menunjuk dengan dagu ke arah Totoitoy yang sedang duduk di samping Kaizo dan berceloteh dengan penuh semangat sambil tertawa-tawa.
"Enggak. Itu cuma sementara." Taufan menggeleng optimis. "Lagian itu cuma trik Kaizo aja buat menangin hati Totoitoy. Dia tau Totoitoy anak kecil biasa yang hype sama Lego. Makannya Kaizo pakai Lego buat menangin pertempuran. Sayang aja aku enggak punya duit."
"Nah, sekarang kau tau kan? Yang namanya bersaing itu perlu modal." Tukas Fang. "Kalau modal kamu cuma sebatas kagum dari jauh mah bakal kalah, Fan."
"Fang, kamu pernah dengar enggak? Yang namanya laki-laki itu harus berpikir matang sebelum bertindak."
"Salah! Pria itu .. fearless. Nggak usah basa-basi, yang penting bergerak."
"Iya," Gopal mengangguk setuju. "Kamu kebanyakan omong doang. Geraknya males."
"Aku nggak males! Cuma lagi nunggu kesempatan yang bagus aja!" Taufan membela diri.
"Yah sayangnya kesempatanmu udah berlalu. Ikhlasin aja deh, ya." Fang menepuk pundak Taufan dan menarik piring sate yang hampir sepenuhnya telah dihabiskan Taufan.
"Aku enggak bakal ikhlasin!" Taufan menyuap sate terakhirnya. "Kalau menyerah bukan Taufan dong!"
"Tapi liat realitanya juga dong," Fang menjawab. "Yaya udah punya Kaizo. Kamu enggak berhak ngapa-ngapain lagi. Kalau niat kamu bikin mereka putus, artinya cinta kamu ke Yaya itu palsu."
"Lho, palsu kenapa? Justru cintaku itu tulus banget! Aku mau menyelamatkan Yaya dari jeratan paksa Kaizo. Aku yakin banget abangmu maksa Yaya buat jadi pacarnya,"
"Serah, deh, Fan. Halu-halu deh sana. Capek ngomong sama kamu, tau nggak?" Fang mencibir.
"Kalian dari tadi ngapain sih?" Ying mendadak muncul di belakang mereka sambil berkacak pinggang. "Bikin ribut di acara orang. Pulang sana."
"Udah deh, ini obrolan para laki-laki," Taufan menjawab dengan cibiran sebal. "Cewek baperan dilarang gabung."
"Hah? Cewek baperan?" Mata Ying menyipit, berseru jengkel. "Maksud kamu ..."
"Ya kamulah, siapa lagi?"
"Aku nggak baperan!" sanggah Ying. "Kamu tuh yang baperan! Gebetan jadian sama orang lain aja ribut banget kayak udah mau kiamat."
"Ya iyalah harus ribut. Emang kamu sendiri nggak bakal ribut kalau kak Hali jadian sama cewek lain?"
Ying tercengang, namun buru-buru menjawab pertanyaan Taufan senormal yang ia bisa. "Ya, ngapain ribut?" tanyanya, memandang ke segala arah. "Aku kan bukan siapa-siapa Hali. Mau dia jadian sama siapa juga kan bukan urusanku."
Taufan tertawa melihat reaksi Ying. "Haha, sedih ya? Ciee sedih."
"Aku enggak sedih!"
"Eh, ini kenapa malah kalian yang ribut?" tegur Gopal yang sudah menyuap kue ulang tahun.
"Oi! Kau habis nyolong kue dari mana? Bagi sini!" Taufan menarik piring kue Gopal, yang dipertahankannya erat-erat.
"Ambil sendiri sana di meja depan! Jangan serobot punyaku!"
"Kau ini nggak dikasih makan di rumah apa gimana, sih? Dari tadi semua makanan kau habisin sendiri. Hali nggak beliin makan?" tanya Fang, menggeleng melihat tingkah Taufan.
"Ini bukan masalah aku dikasih makan atau enggak!" Taufan masih berusaha merebut piring Gopal. "Ini karena aku patah hati, orang patah hati butuh asupan makanan lebih banyak!"
"Siapa yang patah hati?" Yaya mendadak datang bagai jelangkung tak diundang, membuat mereka berempat terkejut seketika. Tangan Taufan membeku seketika. Gopal langsung menarik piring kuenya begitu ada kesempatan.
"Taufan patah hati? Sama siapa?" Yaya bertanya dengan wajah lugunya, mata cokelatnya memperhatikan tangan Taufan yang hendak merebut kue dari Gopal. "Oh, kalau mau kue itu di depan masih banyak. Mau diambilin? Daripada rebutan sama Gopal."
"E-eh, nggak usah, Yaya. Aku bisa ambil sendiri, kok." Taufan langsung mengeluarkan senyum tampannya. "Tapi kalau mau ditemenin gapapa, sih. Ehehe."
"Ya udah. Ayo aku temenin ambil kuenya," kata Yaya. Taufan buru-buru bangkit hingga tak sengaja menyenggol piring Gopal, yang untungnya sigap ditahan dan tidak sampai jatuh.
"Jadi, Taufan patah hati sama siapa?" tanya Yaya saat mereka berjalan beriringan ke meja kue. "Kok enggak pernah cerita?"
'Masa' aku harus cerita kalau aku patah hatinya sama kamu, Ya?'
"Enggak apa-apa sih. Enggak penting juga." Taufan tersenyum. "Nanti aja aku cerita kalau ada saatnya."
"Kalau kamu mau cerita, hari ini juga bisa kok. Abis acara ini." Yaya mengambil pisau kue dan memotong tiramisu untuk Taufan. "Kan udah lama juga kamu enggak mampir ke sini."
Senyum Taufan mengembang seketika. "Eh, serius Ya?"
"Yaya."
Sontak Yaya justru menoleh ke sumber suara, tidak menanggapi pertanyaan Taufan. Kaizo, Ying, Fang dan Gopal tengah berjalan menghampiri mereka. Taufan mendecih.
Ganggu aja.
"Eh Kak Kaizo, kenapa?" Tanya Yaya setelah selesai memotong kue untuk Taufan.
"Aku mau pulang duluan," jawab Kaizo, tersenyum tampan. "Makasih untuk hari ini, ya?"
Lalu tanpa merasa canggung, Kaizo meraih kepala Yaya dan mengusapnya. Setelah itu Yaya melambai, melepas kepergian Kaizo, Fang dan Gopal dengan senyum lembut seperti lelehan krim strawberry pada kue milik Taufan.
Taufan benar-benar mengutuk Kaizo. Seenaknya saja dia mengusap kepala Yaya begitu. Taufan saja yang dari lahir kenal dengan Yaya tidak pernah berbuat sebegitunya.
Bagus.
Tapi Taufan tersenyum dalam hati begitu mereka semua pergi. Dan sekarang pengganggunya tinggal ...
"Kamu ngapain masih di sini, Ying?"
Taufan menoleh pada Ying, gadis itu ikut melambai pada teman-temannya yang memilih keluar lebih dulu dari rumah Yaya.
"Aku mau mainlah. Aku bakal di rumah Yaya sampai malam."
"Ck. Ngapain? Aku duluan yang main." Taufan menjulurkan lidahnya. "Aku kasih tau ya Ying, Kak Hali di rumah sendirian. Mama sama Papa lagi ke luar kota. Kenapa kamu enggak kerumah aja anterin dia makanan?"
"Enggak, ah!" tolak Ying. "Kamu aja. Kan kamu yang tinggal serumah sama dia. Aku mau main di rumah Yaya."
"Ayolah Ying, aku mau cerita dulu sama Yaya." Taufan mengedipkan sebelah mata seakan mengajak kompromi. "Selagi aku belum pulang, tolong temenin kak Hali makan ya. Aku takut dia keterusan nggak makan kalau terus ngerjain tugas."
"Emang tadi siang dia nggak makan?" tanya Ying, yang mulai terlihat khawatir.
"Nggak. Tadi dia tidur siang. Biar bisa bergadang nanti malam katanya."
"Hali kebiasaan, deh. Seneng banget sih ngelewatin makan siang. Nanti sakit baru tau rasa!" omel Ying.
"Iya, iya, kak Hali emang gitu. Udah, kamu ke rumah sana bawain makanan. Paksa dia makan. Suapin kalau perlu. Oke?" Taufan menyeringai jahil.
Dalam hati Taufan tertawa. Ternyata memancing emosi cewek baperan itu lebih mudah daripada memancing ikan. Bagus. Dengan begini, sebentar lagi ia akan bisa berduaan dengan Yaya tanpa diganggu siapapun.
"Tapi, nanti kalau aku kesana..." Ying mulai terlihat ragu. Tapi Taufan buru-buru memblokir keraguan Ying.
"Udah. Ying ke rumah aja. Enggak apa-apa. Kak Hali juga pasti seneng kalau kamu dateng." Lalu menoleh pada Yaya. "Ya, kamu bantuin aku ngambilin makanan buat Kak, Hali mau kan?"
"Oh, mau dong. Udah disiapin sama ibu di dalam, kok. Bentar aku ambilin, ya."
Yaya bergegas masuk ke dalam, meninggalkan Taufan dan Ying menunggu berdua di luar. Mereka berdua menunggu sampai Yaya benar-benar menghilang ke dalam rumah. Sebelum Ying mendongak danmenatap Taufan dengan penuh selidik.
" Kamu mau ngapain sama Yaya?"
"Ada, deh." Taufan tersenyum misterius. "Kamu urusin kak Hali aja sana. Awas jangan sampe khilaf lho mentang-mentang cuma berduaan di rumah. Haha."
"Kamu yang harusnya yang jangan sampe khilaf," balas Ying dengan mata menyipit. "Kamu harus inget Yaya itu udah punya orang, Taufan."
"Kamu enggak usah ingetin hal itu berkali-kali," cibir Taufan jengkel. "Lagian kenapa kita enggak kerja sama aja?"
"Kerja sama apa coba?"
"Kamu kasih aku kesempatan buat berdua sama Yaya. Aku enggak akan gangguin waktu kamu sama Kak Hali, gimana?"
Belum sempat Ying menjawab, Yaya sudah kembali dengan paperbag yang Ying yakin berisi box penuh makanan.
"Ini buat Kak Hali" Yaya tersenyum. Mengulurkan paperbag pada Ying yang kemudian diterima dengan perasaan yang masih ragu.
"Nah Ying, tolong ya. Jagain Kak Hali." Taufan terkekeh. "Gih, sana!"
Taufan mendorong bahu Ying, tapi Ying menahan diri dan berbalik pada Yaya setelah mendelik pada Taufan.
"Ya, aku udah cantik belum?!" seru Ying yang hampir mendekati pagar.
Taufan berdecak tak sabar. "Udah, udah cantik banget. Kak Hali pasti bakal terpesona deh. Sekarang kamu pergi ya! Baik-baik sama Kak Hali, ya. Hahaha."
Kemudian Taufan menutup pagar tepat di wajah Ying. Lalu berjalan ke tempat Yaya seraya tersenyum penuh kemenangan.
"Nggak apa-apa Ying disuruh ke rumahmu sendiri?" tanya Yaya, mengawasi Ying menyeberangi halaman rumah Taufan hingga sampai di depan pintu depannya.
"Nggak apa-apa. Kamu nggak liat dia seneng banget bisa ketemu kak Hali? Mereka cuma bakal berduaan aja di rumah. Jadi pasti sama-sama seneng," kekeh Taufan.
"Justru aku khawatir kalau mereka hanya berdua. Ying dan kakakmu kan sering banget berantem. Gimana kalau nanti mereka berdua kenapa-napa?"
"Yaya, Yaya." Taufan menggeleng-gelengkan kepalanya dramatis. "Kak Hali dan Ying itu bertengkar kalau ada orang lain di antara mereka. Kalau cuma berdua, mereka enggak akan bertengkar. Yah, kamu taulah gimana kalau orang-orang gengsi saling punya rasa."
Yaya menatap Taufan sangsi. Masih khawatir.
Taufan buru-buru memasang senyum menenangkan. "Yah, pokoknya mereka baik-baik aja. Kenapa kita nggak masuk aja? Katanya mau cerita-cerita, kan?"
"Hm, oke deh." Yaya mengangguk dan berjalan mendahului Taufan masuk ke rumahnya. Di halaman masih cukup ramai, tapi di dalam hampir tidak ada orang. Hanya orangtua Yaya yang sesekali bolak-balik membawa piring makanan baru untuk mengganti yang sudah habis di luar.
"Kita duduk di sofa ruang depan aja, ya?" saran Yaya.
"Oke." Taufan mengangguk.
Keduanya berjalan beriringan dari dapur menuju ruang depan, dengan Taufan yang masih tak bisa mencegah dirinya tersenyum-senyum bahagia karena mendapat kesempatan untuk berduaan dengan Yaya.
.
.
.
"Jadi, kenapa tadi Taufan bilang patah hati?"
Cangkir berisi teh diletakkan di atas meja. Yaya segera mendudukkan diri di sebelah Taufan yang kebutulan sudah lebih dulu berada di atas sofa.
Mendapati Yaya yang menatapnya penuh kecurigaan, Taufan hanya bisa nyengir seraya menggaruk lehernya.
"Oh itu ..." Taufan terkekeh garing. "Itu ... Aku sebenarnya ..."
"Hm?"
Yaya menunggu dengan sabar, tapi Taufan kebingungan harus bicara apa. Masa' iya Taufan bilang blak-blakan kalau dia patah hati sama Yaya?
"Eh, anu... Itu..." Taufan berpikir keras mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi sulit ini. "Ah, iya! Kamu kok nggak pernah cerita jadian sama kak Kaizo, sih? Sejak kapan?"
Bersyukur, Taufan memiliki bakat mengalihkan topik sejak ia masih dalam kandungan.
"Well, itu." Yaya tertawa. "Sebenernya ini enggak terlalu spesial sih. Aku sama Kak Kaizo juga awalnya temenan biasa. Terus tiba-tiba kita dekat, kak Kaizo nembak aku."
Taufan mengernyit. Sebenarnya melihat senyum Yaya adalah vitamin bagi Taufan setiap hari. Tapi tidak untuk sekarang. Daripada vitamin, senyum Yaya lebih terlihat sebagai racun yang perlahan akan membunuh dirinya dengan kemanisannya itu.
Sebegitu bahagianya kah Yaya pacaran dengan Kaizo? Sampai menyebut nama Kaizo saja, wajah Yaya harus memerah dengan senyum yang malu-malu minta dipeluk?
"Sejak kapan, Ya?"
Tetapi yang namanya sahabat, sebagai seseorang yang mencintai Yaya sejak lama, sebisa mungkin Taufan berusaha menelan racun itu. Meski ia sendiri tahu, ia akan membunuh dirinya perlahan-lahan.
"Apanya yang sejak kapan?"
Taufan sebenarnya tidak menyukai pembicaraan ini. Tapi ia sendiri juga tidak tega mematahkan kebahagian Yaya kalau putus obrolan tiba-tiba. Taufan masih ingin lihat Yaya yang tersenyum lepas.
"Sejak kapan kamu suka Kak Kaizo?"
"Um ... Enggak tau juga, deh..." Yaya mencoba mengingat-ingat. "Aku juga nggak yakin. Tau-tau aja udah suka gitu. Ehe."
Taufan berharap Yaya tersenyum semanis itu karena dirinya. Sayang, yang ada di benak gadis itu saat ini pasti si jabrik tukang tikung itu.
'Awas aja kau, Kaizo. Aku pasti akan balas dendam!'
"Terus, pas Kak Kaizo nembak kamu itu gimana? Kamu enggak dipaksa macem-macem kan?"
Yaya tertawa. "Dipaksa? Ya enggaklah, Fan. Emangnya apa sampai dipaksa segala? Ini aku jadi serasa diinterogasi deh."
"Aku serius, Ya," ucap Taufan tanpa raut bercanda. "Kak Kaizo enggak macem-macemin kamu, kan?"
"Nggak, kok. Emang kenapa dia harus maksa?" Yaya memandang Taufan heran. "Aku sebenarnya nggak nyangka kak Kaizo bakal nembak, sih. Jadi lumayan kaget waktu itu. Tapi ya karena aku juga suka jadi ya aku terima aja."
"Terus ibu kamu nggak marah kamu pacaran?" Taufan masih coba mencari celah untuk membujuk Yaya memutuskan Kaizo.
"Nggak, kok. Asal nggak ganggu belajarku nggak apa-apa. Lagian ibu kayaknya lumayan suka sama kak Kaizo."
Saat ini batin Taufan tengah menangis. Dilihat dari manapun, Yaya memang sudah dibuat takluk dengan makhluk berdarah dingin itu. Ingin rasanya Taufan bilang, 'Ya, putusin aja Kaizo dan pacaran denganku.' tapi yang namanya keinginan tetaplah keinginan. Taufan tidak berani mengatakannya.
"Terus kenapa kamu enggak cerita apa-apa selama ini?" Taufan bertanya. "Ying tahu, kok aku enggak?"
"Kamu 'kan nggak pernah nanya."
Sesimpel itu, dan jantung Taufan langsung dibuat jleb. Memang sih, selama ini ia tak pernah banyak bertanya dengan kehidupan pribadi Yaya. Taufan sering melihat Yaya dekat dengan laki-laki lain, tapi ia berpikir mereka hanya teman. Menurut Taufan, satu-satunya lelaki yang bisa dibilang dekat dengan Yaya hanya dirinya.
"Oh itu." Taufan nyengir. "Ya, iya sih. Tapi Ying juga pasti enggak nanya kan?"
"Ying enggak nanya juga sih." Yaya berpikir sebentar. "Tapi dia kan cerita. Masa' Ying bisa cerita panjang lebar kehidupan pribadinya, terus aku enggak cerita?"
"Terus kenapa sama aku nggak cerita?"
"Kamu 'kan juga nggak pernah cerita apa-apa sama aku. Aku bahkan nggak tau kamu suka sama siapa."
Seperti ada palu yang memukul belakang kepala, Taufan langsung membeku.
"Yaa... Itu kan rahasia," sahut Taufan sekenanya.
"Ya berarti bukan salahku dong kalau aku enggak cerita ke kamu."
Taufan hanya bisa nyengir walau dalam hatinya, ia sedang mengutuk diri sendiri.
'Ya Tuhan kenapa Yaya sama sekali tidak peka?'
"Gini, deh. Gimana kalau sekarang kita saling jujur aja?" tawar Yaya. "Kamu cerita ke aku siapa cewek yang kamu suka, nanti aku juga bakal ceritanya semuanya tentang aku sama Kaizo. Gimana?"
"Err..." Taufan menggaruk pipi, bingung harus menanggapi apa.
"Kamu nggak mau cerita ke aku siapa yang kamu suka? Kenapa? Malu?" tanya Yaya. "Nggak perlu malu, lah. Kita kan udah kayak saudara. Aku udah nganggap kamu kayak saudaraku sendiri."
Jleb. Jleb. Jleb.
Saudara katanya. Kenapa kosakata yang disampaikan dengan nada manis itu bisa terdengar begitu menyakitkan.
"Sa-saudara?"
"Iyalah saudara." Ulang Yaya tanpa rasa bersalah. "Kita dari dulu udah sering main bareng dan tukeran mainan. Kamu sama saudara-saudaramu udah kayak saudaraku sendiri juga, Taufan."
"Aha... Ahaha... Iya, ya. Saudara, ya..."
Batin Taufan menjerit pilu, tapi ia coba memaksakan senyum tegar. Taufan kuat, kok. Taufan tabah.
"Iya. Jadi ayo, dong, cerita sama aku sini. Aku nggak bakal ketawain, kok. Bener deh."
"Aduh ... Aa ... Gimana ya?"
"Taufan," Yaya memanggil Taufan penuh penekanan. "Emangnya kamu enggak percaya sama aku? Atau Ying tau?"
"Eh enggak. Enggak!" Sebisa mungkin Taufan berusaha untuk tidak membuat Yaya curiga. "Gini ... Eum ... Cewek yang aku sukai itu ... Ah, aku lagi enggak suka sama siapa-siapa."
"Masa'? Bohong, ah. Tadi kau bilang lagi patah hati." Yaya berujar cemberut.
"Aku tadi cuma bercanda. Buat godain Ying doang, kok. Bener deh."
"Godain Ying?" Mata Yaya menyipit. "Jangan-jangan selama ini kamu suka Ying ya?"
"Ngaco. Yang ada aku bakal dibunuh Kak Hali kalau sampai kejadian."
"Ya terus siapa, dong? Aku nggak percaya kamu nggak suka siapa-siapa." Yaya lalu mendadak terdiam dan memandang Taufan dengan mata menyipit. "Tunggu... Jangan bilang kamu... belok?"
"Hah? Belok apa?" Taufan memandang bingung, gagal paham. Ia mengangkat cangkir tehnya dan menyesapnya sedikit.
"Kamu bilang nggak suka cewek. Berarti kamu suka cowok? Jangan-jangan... Fang?"
Dan ia langsung tersedak teh seketika.
"Astaga, Yaya!" Taufan mengelap mulutnya dengan lengan bajunya. "Kalaupun aku belok, Aku enggak akan suka Fang. Najis tau enggak suka sama cowok kepedean kayak dia!"
"Terus siapa? Gopal?"
Taufan menghela napas. "Yaya, aku tuh masih normal. Aku beneran enggak suka siapa-siapa."
Lalu sebuah ide tiba-tiba muncul. "Tadi itu ... Aku bilang patah hati karena ... Karena aku liat Jennie—kamu tau, kan? Member Blackpink, member girlband Korea itu, lho. Aku denger dia udah dating sama cowok lain. Aku 'kan suka sama dia, jadinya langsung patah hati, deh."
"Oh, ya?" Yaya menaikkan alis. "Kamu ternyata suka juga yang kayak gitu? Kok aku nggak tau?"
"Ya 'kan kamu nggak pernah nanya. Ehe."
"Hm. Beneran cuma karena itu? Nggak bohong?"
"Nggak. Beneran cuma karena Jennie kok." Taufan masih tertawa agak garing. Dia memang tidak sepenuhnya bohong. Ia memang sudah mengidolakan Jennie sejak girlbandnya menjadi brand ambassador toko online di negara sebelah.
Yaya masih memandang Taufan penuh selidik.
"Err, kenapa kita nggak liat Kak Hali sama Ying aja?" saran Taufan. Ditatap penuh curiga begitu lama-lama tidak nyaman juga. "Udah malem, aku khawatir mereka khilaf. Hehehe."
"Oh, iya." Yaya seolah tersadar dengan waktu yang telah beranjak senja. "Kamu duluan, deh. Aku bantu-bantu di belakang dulu."
"Oh, oke." Taufan mengangguk dan bangkit dari sofa. "Nanti nyusul, ya?"
Yaya mengangguk dan tersenyum kecil. "Iya, tenang aja."
.
.
.
Ying menghela napas. Melirik Halilintar yang sejak tadi tidak mau beranjak dari laptopnya. "Sebegitu banyaknya ya tugas kamu? Aku bete nih dicuekin," gerutunya sebal.
"Ya, kan aku nggak nyuruh kamu di sini," sahut Halilintar tanpa menoleh.
"Kalau bukan karena Taufan yang minta, aku juga enggak bakal di sini, Hal. Yaudahlah, aku ke toilet dulu."
Ying beranjak setelah membanting bantal sofa dengan kasar. Ia lalu berjalan ke toilet dengan perasaan dongkol. Harusnya dia tau Halilintar memang seperti itu. Kenapa ia justru membiarkan dirinya berlama-lama di rumah Taufan?
Kaki Ying melangkah masuk ke toilet untuk buang air kecil. Namun begitu ia keluar, dirinya dihadang oleh seekor makhluk kecil bedebah yang menjijikkan.
Kecoa.
Binatang yang paling ingin Ying kutuk kehadirannya di dunia ini. Bingatang menggelikan, yang hanya dengan menatap tentakelnya saja, Ying sudah mampu dibuat merinding.
"A—" Ying langsung menutup mulutnya sendiri. Halilintar jangan sampai dengar kalau dia takut kecoa. Bisa-bisa ia di-bully lagi nanti.
'Duh, kecoa jangan terbang, please.'
Kecoa itu terdiam di depan Ying seolah tak terpengaruh apapun. Padahal jantung Ying sudah berpacu gelisah setengah mati.
Dengan mata yang mengawasi gerak-gerik kecoa, Ying berusaha mengambil langkah jauh. Namun begitu dirinya berhasil mencapai pintu keluar, kaki Ying tanpa sengaja menginjak air. Dan ia terpeleset, terduduk dengan gaun yang sepenuhnya menyentuh lantai toilet.
Ying menjerit.
Halilintar nyaris melompat dari sofa karena terkejut mendengar jeritan Ying. Bergegas ia melangkahkan kaki ke arah toilet untuk memeriksa. Jeritan Ying masih belum berhenti dan justru makin melengking saat ia mendobrak masuk ke dalam dan mendapati gadis itu terduduk di lantai.
"Apa? Apa? Ada apa?" tanya Halilintar panik.
Dilihatnya Ying tengah menatap padanya dengan mata yang berkaca-kaca. "Sakit, Hal," Ying merengek.
Halilintar berjongkok, menyamakan posisi dengan Ying. "Kamu kepeleset?"
"Nggak. Aku tidur," sungut Ying. "Yaiyalah, aku kepeleset. Sakit nih!"
Halilintar tertawa. "Lagian kamu ada-ada aja sih. Kenapa bisa kepeleset coba?"
"Kamar mandi kamu jorok banget. Masa' ada kecoanya, 'kan bikin parno!"
"Oh, gara-gara kecoa?" Halilintar tertawa.
"Ih, malah ketawa. Kamu niat nolongin aku enggak sih?"
Ying benar-benar sudah hampir menangis. Tangan dan punggungnya sakit, belum lagi sekarang bajunya juga basah. Bagaimana dia bisa pulang dengan pakaian begini?
"Iya, iya. Sini aku bantuin." Halilintar mengulurkan tangan dan menarik Ying bangun.
Sedikit tertatih, Ying berjalan kembali ke ruang depan dengan dipapah Halilintar. Dan di sana sudah ada orang yang menunggu mereka.
"Whoa, kalian habis ngapain?" Taufan bertanya heran, mengamati keduanya dengan mata disipitkan curiga.
Halilintar dan Ying saling berpandangan sebelum akhirnya Halilintar menjawab Taufan dengan nada datar.
"Dia kepeleset. Aku cuma bantuin dia jalan." Halilintar melepaskan papahan, membuat Ying nyaris jatuh kalau tidak sigap ditangkap Yaya. "Kamu enggak apa-apa, kan? Cengeng."
Ying mendelik tajam. Dalam hati bingung karena perlakuan Halilintar begitu berbeda. Yaya langsung menuntun Ying ke sofa.
"Kamu enggak apa-apa? Ada yang luka?"
Ying meringis saat Yaya menyentuh kakinya. "Sakit, Ya."
Halilintar berdecak. Ia memperhatikan pakaian Ying yang lepek, kemudian bergegas berbalik badan.
"Kak Hali mau kemana?" Tegur Taufan begitu Halilintar mulai melangkah menjauh dari mereka.
Halilintar berbalik, menatap Ying sebentar. "Ambil bajulah. Nggak liat baju dia basah?"
"Tapi kan, lemari mama pasti dikunci." Kening Taufan mengerut heran.
"Bajukulah." Halilintar menjawab tanpa sadar. "Dia bisa pakai kaus sama jaketku. Enggak mungkinlah dia pulang basah-basahan."
Mata Ying membelalak dan wajahnya sontak saja memerah. "Ke-kenapa bajumu?"
"Ya mau baju siapa lagi? Kau mau pakai baju Taufan?" Halilintar balik bertanya.
"Ying bisa pinjam bajuku," celetuk Yaya.
Mata Halilintar melebar, seolah baru menyadari Yaya ada di sana, dan juga sadar apa yang baru saja hendak dilakukannya.
"Yaya, Yaya." Taufan menggeleng seraya menahan tawa. "Biar aja kak Hali mau ngasih bajunya ke Ying. Kamu nggak usah minjamin nggak apa-apa, kok."
Halilintar menghembuskan napas. Dalam keadaan apapun, dia tidak boleh terlihat salah tingkah. Salahnya memang, yang terlalu berlebihan cemas pada Ying.
"Oh ya." Halilintar berdehem. "Yaya benar. Kamu bisa pakai baju Yaya. Nggak usah naik ojek online pulang, biar aku yang antar sekalian nyari cemilan buat begadang nanti."
"Lho, kok nggak jadi minjemin baju sih, kak Hali? Kasian Ying kecewa, tuh," goda Taufan.
"Aku nggak kecewa!" sangkal Ying.
"Oh, iya? Masa'?" Taufan tertawa geli.
"Udahlah. Yaya, cepat bawa Ying ke rumahmu buat ganti baju. Nanti yang ada sofa kami ikutan basah kalau dia duduk terus di situ," kata Halilintar.
"Ya udah kali. Ini aku juga mau pergi!" sungut Ying kesal. "Lagian juga kan aku enggak bikin sofa kamu basah banget."
"Kalau kamu kelamaan di situ, sofa aku bakal basahlah." Halilintar menatap tajam. "Susah ngeringinnya."
"Dasar nggak berperasaan. Bukannya ngertiin, ini malah disuruh cepet-cepet pergi."
"Oh, jadi kamu berharap disuruh tinggal?"
"Siapa juga yang berharap!"
"Hush, udahlah kalian berdua." Yaya menengahi. Sementara Taufan cuma bisa nyengir melihat kakak dan sahabatnya itu bertengkar tidak penting. "Ying, ayo kerumahku. Habis itu aku antar kesini lagi supaya diantar pulang Kak Hali."
"Aku nggak butuh." Ying menatap tajam Halilintar. "Aku pulang naik ojek online aja."
Yaya hanya bisa tersenyum maklum, kemudian langsung membawa Ying pergi.
"Kak Hali kenapa harus repot-repot gitu sih?" Taufan bertanya setelah Yaya memapah Ying keluar dari rumah mereka.
"Repot-repot apa?" Tapi pandangan Halilintar justru tidak lepas dari pintu.
"Repot-repot buat enggak keliatan perhatian padahal cemas banget," tukas Taufan tanpa beban. "Kenapa enggak jadian aja coba? Padahal peluang kalian itu besar banget loh. Jangan sampe kelamaan nembak." Kemudian tatapan Taufan meredup. "Nanti kayak nasibku lho..."
"Emangnya kau kenapa?"
"Aku habis ditikung orang," sungut Taufan. "Yaya udah jadian sama orang lain."
"Oh, iya juga, ya. Tapi itu sih bukan ditikung. Memang Yayanya aja yang nggak bakal mau sama kamu," celetuk Hali datar.
"Kak Hali jahat banget, sih. Aku doain nanti beneran bernasib kayak aku, lho. Jangan nangis kalau Ying beneran disambar orang, ya!"
"Emang kenapa kalau Ying disambar orang?" tanya Halilintar. "Toh dia mau siapa juga bukan urusanku."
"Yakin, bukan urusan Kak Hali?"
Halilintar mengangkat bahu. "Yakinlah."
"Jangan bohong. Kak Hali juga diem-diem kepikiran tentang siapa aja yang dekat sama Ying, kan?"
"Enggak juga."
Taufan bertanya sekali lagi. Dengan seringai jahil. "Tapi, Kak Hali yakin enggak peduli sama siapa Ying jadian nanti?"
"Ngomong sekali lagi, mulutmu bakal kusumpal sepatu," ancam Halilintar.
Taufan mengangkat bahu, dan kembali bertanya jahil. "Tapi kalau aku deketin Ying, boleh enggak? Well, aku emang sahabatan sama Ying selama ini. Dan kupikir selain Yaya, Ying juga bisa ngertiin aku. Boleh enggak aku deketin Ying lebih dari sahabat?"
Mata Halilintar membeliak. Kemudian mengangkat bahu, pura-pura cuek.
"Ya deketin aja kalau emang bisa. Ying juga udah tau kau orangnya kayak apa. Jadi nggak bakal terpengaruh."
"Oh ya? Yakin, nih? Jangan nyesal kalau nanti Ying beneran mau sama aku, ya."
"Banyak omong," tukas Halilintar seraya memiting leher Taufan dengan jurus karatenya.
"Aduh! Apaan sih Kak Hali!" Taufan meronta, Tapi Halilintar memitingnya terlalu kuat. "Aku cuma bercanda, enggak usah pake ―Hoek! jurus gitu dong— uhuk, uhuk!
"Kalian ngapain?"
Yaya dan Ying kembali muncul di pintu, memandang bingung kedua saudara yang tengah bertengkar itu.
"Yaya, tolongin! Aku mau dibunuh sama kak Hali!" jerit Taufan.
"Emang kalian habis ngapain?" Ying bertanya lagi, seolah pertanyaan Yaya tidak cukup.
Halilintar melepaskan Taufan, membuat sang adik kini bernapas lega.
"Hah untung kalian datang. Kalau enggak, aku beneran bisa mati," tukasnya seraya mengusap leher yang masih sakit.
Halilintar menatap Ying dari atas ke bawah. "Kamu mau pulang? Katanya mau naik ojek online?"
"Iya, ini juga mau pulang," sahut Ying sewot. "Aku udah pesan ojeknya, tapi kata Yaya aku harus pamit dulu sama kalian."
"Yah, kok naik ojek, sih? Kak Hali udah niat banget mau nganterin, jangan ditolak," kata Taufan. Ia langsung menghindar saat Halilintar hendak mencekiknya lagi.
Lalu terdengar bunyi klakson motor dari depan rumah.
"Eh, ojekku udah dateng," kata Ying ceria. "Udah ya, aku pulang. Makasih ya, Ya? Besok aku balikin bajunya kalau udah dicuci."
Yaya tersenyum. "Santai, Ying."
"Dah, Hali. Dah, Taufan!"
Ying berlari menuju pintu keluar. Mereka bertiga saling terdiam sampai suara motor terdengar menjauh dari rumah. Halilintar berjalan menuju kamar, dan tak lama kemudian kembali ke ruang depan dengan memakai jaket dan membawa kunci motor.
"Kak Hali mau kemana?" tanya Taufan dengan kening berkerut.
"Mau beli camilan," sahut Halilintar, langsung pergi keluar meninggalkan Taufan dan Yaya berduaan dalam rumah dengan pintu terbanting dari luar.
Yaya bingung. "Perasaan tadi ibuku nyisihin makanan banyak deh buat kakakmu. Kok dia beli camilan lagi?"
Taufan balas dengan tawa. "Yaya, Yaya ... Kamu kayak nggak tau aja. Kak Hali itu lagi ngikutin Ying. Hahaha. Dia kayaknya mau mastiin Ying beneran sampe rumah atau enggak. Kak Hali kan selalu langsung pergi setiap kali Ying pulang naik ojek online."
"Oh, iya? Aku liat kayaknya Kak Hali perhatian banget sama Ying, deh. Padahal mereka sering berantem. Kenapa, ya?"
"Nggak kenapa-kenapa, kok." Taufan terkekeh melihat ekspresi bingung Yaya. "Kak Hali emang gitu. Biarin aja."
" Ya udah, deh. Kalau gitu aku juga pulang, ya. Udah malem."
"Iya." Taufan tersenyum. "Mau dianter enggak?"
"Enggaklah." Yaya tertawa. "Selamat malam, Taufan."
"Malam, Yaya."
Dan Taufan ditinggalkan sendirian dalam rumah yang sepi. Taufan menghela napas. Coba seandainya dia yang jadian dengan Yaya. Yaya pasti enggak akan buru-buru pulang.
Taufan menutup pintu depan dan beranjak naik ke kamarnya. Jam di dinding baru menunjukkan jam sembilan kurang sedikit, belum saatnya tidur. Jadi apa yang harus Taufan lakukan sekarang?
.
.
.
to be continued
A/N : Hei, hei, chapter 2 updated! Nggak nyangka jadinya bakal sepanjang ini. hehe. Sebelumnya, Fanlady dan Fureene mau mengucapkan banyak-banyak terimakasih untuk siapapun kamu yang sempat membaca dan menyempatkan diri buat meninggalkan jejak di fanfiksi receh penuh kealayan ini. /sungkem.
Dan berita baiknya, kami akan update ini seminggu sekali. Harinya tentatif, tergantung kapan kita punya jaringan buat upload! Tapi yang penting seminggu sekali! Ehe.
Terus juga fanfiksi ini bakal bercerita soal hubungan. Kehidupan sekolah, belajar kelompok atau apapun itu bukan fokus utama. Jadi ya cuma masalah hubungan. Baik hubungan pertemanan, percintaan, platonik, keluarga, yah masalah klasik ala-ala remaja menuju pendewasaan gitu, deh.
Oh iya-oh iya, karakter di sini bakal jadi banyak. Enggak seputar soal Taufan, Ying, Yaya, Hali aja. Tapi akan ada pemeran pendukung yang sekiranya berkontribusi buat jalannya cerita juga sih, hehehe.
Berikut kita kasih bocoran soal karakter di ceritanya ya :
Taufan, Ying, Suzy : Kelas 1-2
Yaya, Gempa : Kelas 1-4
Gopal, Fang : Kelas 1-3
Halilintar, Amy : Kelas 2-1 (Mereka anggota osis btw)
Stainley, Amaar : Kelas 2-3
Kaizo, Sai, Shielda : Kelas 3-4 (Siswa yang mulai sibuk cari universitas)
Buat trio elemtal di series Boboiboy, yang kembar cuma Gempa-Taufan aja. Halilintar kakak mereka yang umurnya lebih tua setahun. Jadi, dia emang yang 'harusnya' lebih dewasa dari Taufan maupun Gempa. Tapi, kita liat aja nanti, ya?
Udah ya, segitu dulu. Pokoknya, kita berharap tulisan ini bisa menghibur kalian. See you di A/N selanjutnya! /bow
