つぼみ、二人差しつぼむ

(tsubomi, futari sashi tsubomu / bud, budding between the two)

Ditulis oleh 生川・明

Bagian II: 出会い (deai / rendezvous)

.

- pernyataan hak cipta -

Kantai Collection adalah sepenuhnya milik KADOKAWA GAMES dan DMM -dot- com

.

- peringatan -

AU

delusi

.

- ucapan terima kasih -

KBBI

Kobukuro - Tsubomi

Fulare Pad yang telah meng-cover lagu ini dalam untaian petik-petik gitar yang tak habis-habisnya mengulek dada


SETELAH dalam sehari aku menghancurkan ideal kehidupan yang diimpikan orang-orang—pacar yang maha perhatian, pekerjaan yang maha menyenangkan; kini giliran lelahku membawa akal sehatku untuk menyudahi kehidupanku di ibu kota. Akal sehat? Kupikir akalku sudah ikut menjadi lelah dan tak ada lagi yang sehat. Dalam perdebatan di dalam kepala aku mulai berkemas dan tanpa menunggu debat kusir tersebut memberi solusi, aku sudah berdiri di depan ruang administrasi yang sekaligus kamar pemilik apartemen tempatku tinggal. Mengatakan bahwa ada kepentingan mendadak yang mengharuskanku untuk pergi malam ini juga. Melicinkan segala urusan dengan iming-iming membiarkan uang sewa yang masih sampai akhir bulan nanti tak usah repot-repot dikembalikan. Dan saat aku benar-benar sadar, aku sudah di dalam kereta malam. Setidaknya dua hari telah berlalu dengan aku yang luntang-lantung menunggu ketersediaan kursi di kereta malam yang tengah kutumpangi saat ini.

Melaju pelan.

Pulang.

Andai kata memang pulang memang masihlah boleh bagi orang gagal macamku.


ENTAH sudah berapa jam sejak keberangkatanku. Yang kutahu hanya aku telah ribuan kilometer berjarak dari hiruk pikuk Tokyo, meluncur ke utara, tanpa tanya, tanpa tanda. Mestinya aku menelepon Amagi—kakakku—terlebih dahulu memang. Ia pasti akan mencaci adiknya yang rendah ini. Bagaimana tidak? Sejak tamat pendidikan menengah atas aku melarikan diri ke Tokyo tanpa pamit, tak pernah pulang bahkan di hari pernikahannya dan saat ia melahirkan anak pertamanya, lantas saat sudah lelah dengan kehidupan aku merengek pulang mengharap belas kasih. Jika ia mengusirku, aku tak akan heran.

Lamunanku terpaksa terhenti saat kereta memasuki pemberhentian akhirnya. Sapporo. Masa bodoh dengan takjub akan perubahan yang begitu pesat, setelah semua barangku turut turun, aku langsung menyambar telepon umum, menekan nomor yang kukenal sebagai nomor telepon rumah kami. Dulu. Sekarang sih rumah Amagi dan keluarganya.

.

Ah, lama sekali mengangkatnya.

.

"Halo?"

.

Nah, diangkat juga. Pas sekali Amagi pula.

"Hei, kak," sapaku berusaha terdengar polos.

Amagi pun tak langsung menjawabnya.

"Uhh... Ini adikmu—"

"Dasar anak sial! Menelepon juga kau akhirnya! Sudah berapa lama ini sejak Natal!?"

"Ayolah, ini baru awal musim panas—"

"Keparat! Masih berani berdalih kau!?"

"Kak—"

"Apa!? Mau apa kau sekarang!? Pasti sedang susah makanya mencari! Kebiasaan! Dasar bocah manja!"

Aku menepuk wajahku. Frustrasi. Berapa banyak anaknya sampai ia terdengar sedepresi ini?

"Hei! Jawab!"

"Aku baru tiba di Stasiun Sapporo. Aku berhenti bekerja. Aku sudah meninggalkan Tokyo. Dan ya, adik manjamu ini hendak mengemis belas kasih kakaknya karena sedang susah," terangku, membuat sinopsis atas semua kelelahanku.

Amagi kembali tak langsung menjawabnya. Sayup-sayup terdengar ia berbicara, mungkin dengan suaminya.

"Dengar, saat ini keluarga suamiku sedang menetap di rumah kami. Tidak ada tempat untukmu. Menetap sajalah di mana, nanti kauhubungi aku lagi."

Dan begitulah telepon ditutup. Apa dia bilang tadi, rumah KAMI? Jadi memang benar aku sudah tidak diikutsertakan. Tak heran. Boleh jadi suaminya sendiri tak menahu kalau ia memiliki seorang adik. Ah, terserahlah. Yang kupusingi itu perihal barang-barangku yang banyak ini. Mesti diapakan. Mesti dikemanakan. Hah...

.

"Permisi."

.

Apa lagi sekarang?

.

"Bukan maksudku lancang menguping pembicaraanmu, tapi jika kau mau, aku bisa mengantarmu dan barang-barangmu untuk menetap sementara waktu."


bersambung