Enjoy!
.
.
Satu hal yang tidak mungkin terjadi di dunia adalah berhentinya waktu. Maka dari itu sebagaimana mestinya, waktu terus berjalan hingga tak terasa genap empat tahun sudah Namjoon dan Seokjin bersama-sama menjalin hubungan yang janjinya diucapkan di hadapan Tuhan. Sebagai tangan penghancur, sebenarnya Namjoon tidak memiliki sepersen pun kekhawatiran dalam dirinya. Toh, dia hanya perlu mengeluarkan cek untuk membayar semua kekacauan yang terjadi dan dia tidak perlu pusing soal uang karena dia kaya.
Yah, sebenarnya dia memiliki 0,5% ketakutan dalam dirinya.
0,25%-nya tentu saja menyangkut istrinya. Bagaimana jika suatu saat dia menyakiti Seokjin dengan tangannya? Bagaimana jika Seokjin pergi dari sisinya karena tidak tahan dengannya? Bagaimana jika pria lain merebut Seokjin-nya. Garis bawahi, tandai, tebalkan, atau lakukan apapun untuk memperjelas bahwa Seokjin itu hanya miliknya.
Dan.. 0,25% lainnya menyangkut..
Anak.
Namjoon lebih seperti khawatir tentang itu.
Dia tidak membenci ide tentang memiliki anak, terlebih lagi Seokjin benar-benar berusaha keras untuk mendapatkan seorang anak laki-laki impiannya yaitu memiliki 75% wajah Namjoon. Bahkan orang tua dan mertuanya terus mendesaknya untuk dengan segera memberikan cucu. Sekali lagi, Namjoon tidak membenci ide itu, dia juga butuh keturunan untuk melanjutkan bisnis keluarganya. Hanya saja.. dia khawatir dengan nasib dirinya dan anak itu.
Bagaimana jika.. anak itu membencinya? Yah, memang patut Namjoon akui dirinya itu memang sempurna di luar dan orang-orang yang mengenalnya sekilas berkata begitu.. ekhm, tanpa tahu bagian dalam Namjoon yang luar biasa berantakan. Tapi anak itu, anaknya dan Seokjin, seorang manusia yang akan tinggal dengannya 24- ok, mungkin tidak akan sampai 24 jam setiap hari karena anaknya akan butuh pendidikan yang bagus dan dia harus bekerja.. tapi anaknya itu akan menghabiskan waktu dengannya seumur hidup mereka. Anak itu juga secara otomatis menjadi orang ketiga setelah dirinya sendiri dan Seokjin yang tahu bahwa dia bertangan penghancur.
Yah, tidak selalu memang.. hanya sering.
Tapi bagaimana jika anaknya nanti tidak suka dengan sifat Namjoon, lalu membenci Namjoon, dan pergi dari rumah? Tidak.. jika anaknya melakukan itu, Seokjin akan khawatir.. jika Seokjin khawatir, maka istrinya itu tidak akan mau menyentuh sendok, sisir, atau bahkan shower. Lalu istrinya akan semakin kurus, tidak terawat, dan berakhir di rumah sakit karena kurang gizi dan dehidrasi. Akan baik jika hanya berakhir sampai di sana.. tapi jika terus berlanjut hingga sesuatu yang benar-benar parah seperti.. kematian? Astaga.. jika itu terjadi, tolong siapa pun berikan Namjoon pisau agar dia bisa menyayat nadinya.
"Ekhm, Namjoon hyung.. kau baik-baik saja?"
Astaga.. pemikiran itu benar-benar mengganggu Namjoon. Dia bahkan sampai tidak sadar sedang berada di kantor dengan setumpuk dokumen yang haus tanda tangan. "Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir, hyung." Namjoon menepis halus tangan Jimin yang hampir menyentuh lengannya.
"Kau yakin?"
"Ya.., tapi aku ingin pulang, bilang pada ayah aku merasa sedikit sakit."
"Ketiga kalinya kau 'libur' di bulan ini hyung, pertama karena Seokjin noona tidak enak badan, lalu karena hangover, dan kali ini karena 'sakit'. Tapi tidak apa, aku bisa menangani semua pekerjaanmu, hyung." Jimin tersenyum.
Namjoon tidak bodoh untuk menyadari bahwa Jimin sedang entahlah.. menyindir mungkin. Oh, dengan tambahan merajuk yang terselubung karena pekerjaan Namjoon benar-benar banyak hari ini. Tapi siapa yang peduli dengan pria lajang itu? Namjoon hanya ingin dokumennya selamat dari kebodohannya yang disebabkan oleh pemikiran luar biasanya tentang anak.
.
.
.
Ingat, bahwa kepulangan Namjoon hanya disampaikan pada Jimin dan ayahnya-secara tidak langsung-, tidak dengan Seokjin. Jadi ketika Namjoon membuka pintu rumah, tatapan heran Seokjin tentu langsung menyapanya. Apa Namjoon kebingungan? Ya, pada awalnya, tapi otaknya langsung bereaksi dan Namjoon pun menjawab dengan senyum tipis, wajah sakit yang dibuat, dan tangan yang memegang perutnya bahwa dia merasa sedikit sakit.
Apa yang terjadi setelah itu? Seokjin menyodorkan satu sendok obat sakit perut, satu tablet obat sakit kepala, dan satu tablet obat demam. Mungkin Namjoon sudah akan berpura-pura meminum semua itu, lalu membuangnya jika saja Seokjin tidak terus menaruh tatapannya pada Namjoon. Istrinya itu benar-benar menatapnya seolah dia adalah satu-satunya benda yang bisa ditatap. Um, gambaran itu tidak terlalu buruk, bahkan terdengar sangat manis.
Tapi, Namjoon adalah pria dengan otak jenius yang tentu saja tahu bagaimana agar dia bisa berbohong tanpa diketahui dan berakhir dengan omelan dari sang istri. Namjoon hanya perlu menaruh dua tablet obat di bawah lidahnya dan menampung obat cair dalam mulutnya selama Seokjin masih di kamar, memerhatikannya. Bagaimana ketika Seokjin membawakan segelas air pada Namjoon? Tentu Namjoon menolaknya dengan tangan yang melambai juga wajah sakit. Berhasil? Tentu saja, bahkan dia juga mendapat bonus ciuman di bibir dari Seokjin.
Tapi setelah itu Namjoon langsung pergi ke kamar mandi, memuntahkan apa yang ada di mulutnya, dan berkumur dengan empat gelas air karena sungguh.. obat yang Seokjin benar-benar pahit.
Um, tambahan..
Flush handle toiletnya.. rusak. Yah, sepertinya Namjoon terlalu banyak mengeluarkan tenaga ketika menekan flush handle toiletnya. Tidak apa, dia akan memanggil tukang reparasi untuk memperbaiki itu.
"Sayang kau sedang ti-, kau tidak apa-apa?"
Namjoon menunjukkan wajah sakitnya, "Ugh, sedikit lebih parah dari sebelumnya." Erangnya.
"Benarkah? Sepertinya kau perlu makan. Ayo, aku sudah memasak bubur untukmu."
Astaga..
Namjoon benci bubur.
.
.
.
Ok.. Namjoon memang benci bubur, mengingat betapa anehnya bentuk nasi lembek itu.. ugh, itu mengingatkan Namjoon tentang lumpur, menjijikan. Tapi sebesar apapun kebenciannya pada bubur, bubur buatan Seokjin sama sekali tidak buruk, setidaknya sebelum hari ini. Maaf, tapi hari ini masakan Seokjin mulai dari bubur bahkan hingga manisan apel-yang seharusnya manis-terasa seperti lima sendok garam.
"Kau tidak makan, sayang?"
"Tidak, aku sudah makan tadi. Makanlah semuanya, jangan sisakan bahkan satu sendok pun."
Namjoon menelan ludahnya. Makan semua hidangan.. yang rasanya seperti lima sendok garam masing-masing hidangan? Seokjin hari ini membuat enam hidangan! Namjoon bisa benar-benar sakit setelah ini.
"Maaf sayang, tapi tidak.. aku tidak bisa."
"Kenapa? Kau tidak menyukai masakanku lagi? Apa kau berselingkuh dan lebih menyukai masakan selingkuhanmu itu?!"
"Astaga sayang.., tidak! Hanya saja aku bisa benar-benar sakit-"
"Kena kau."
Setelahnya Namjoon menutup mulutnya dan membeku. Tuhan.. ada apa dengan mulutnya? Bukankah mulutnya dikendalikan oleh otak jeniusnya? Lalu ada apa dengan otak jeniusnya? Namjoon bahkan tidak meminum salah satu dari obat yang Seokjin berikan, yah.. karena dia bisa saja sakit karena itu.
"Kekuatan cinta itu lebih kuat dari pada otak jenius-mu Kim Namjoon. Sekarang, katakan padaku alasan di balik semua ini." Karena Seokjin sudah memanggil namanya, maka satu-satunya pilihan yang tersedia adalah menceritakan semuanya. Mulai dari dua tahun yang lalu, ketika Namjoon tiba-tiba mendapatkan pemikiran seperti itu saat seorang koleganya bercerita tentang keponakannya yang membenci ayahnya sendiri karena ayahnya pemabuk. Tentu saja Namjoon langsung ketakutan, bahkan bulu kuduknya merinding entah kenapa.
Tapi tidak dengan Seokjin, karena istrinya itu terkekeh geli setelah penjelasan Namjoon berakhir. Namjoon hanya bisa diam dengan otak yang bertanya-tanya, 'Ada apa dengan istrinya?'
"Ya Tuhan.. kau lucu sekali."
Setelah itu Namjoon mendengarkan pencerahan dari Seokjin. Bahwa anak mereka tidak akan pernah membenci ayahnya sendiri karena Namjoon adalah ayah yang sempurna sebesar apapun kekacauan yang akan terjadi. Bahwa anak mereka malah akan merasa bangga memiliki ayah jenius, tampan, kaya, ekhm.. seksi, yang di kelilingi oleh banyak hal luar biasa. Bahwa Seokjin berjanji, jika anak mereka tidak menyukai sifat penghancur Namjoon, maka Seokjin akan membuat anak mereka jatuh cinta dengan sifat itu. Tapi Seokjin tidak memberikan pencerahan tentang bagaimana jika anak mereka pergi dari rumah. Namjoon mengerti, karena Seokjin sudah menerangkan secara tidak langsung, bahwa anak mereka tidak akan pernah melakukan hal buruk itu.
"Ekhm, berbicara tentang anak.. kurasa kau pantas mengetahuinya sekarang. Aku hamil, sudah dua bulan sebenarnya.. tapi kau terlalu sibuk sampai aku bingung bagaimana caranya memberitahumu."
Pada detik pertama Namjoon masih tidak mengerti.., begitu pula dengan detik kedua. Tapi pada detik ketiga otaknya mulai mencerna ucapan Seokjin.. dan akhirnya memahami semuanya pada detik keempat. Senang? Lebih dari itu. Namjoon merasa luar biasa. Beruntung dia mendapat berita bahagia ini setelah mendapat pencerahan, tidak bisa Namjoon bayangkan betapa suramnya masa kehamilan Seokjin karena kemurungannya.
"Astaga.., terima kasih sayang."
"Dan kau pasti lupa tapi.. Happy Anniversary."
"Ya Tuhan.. aku benar-benar lupa!"
Seokjin hanya terkekeh. Itu wajar menurutnya, mengingat bahwa Namjoon bahkan lupa tentang debu yang pria itu sendiri sapu. Jadi dengan diiringi senyum manis Seokjin berkata, "Tidak apa, aku sedang tidak ingin hadiah apapun darimu."
"Tapi kau sudah memberikanku hadiah."
"Lebih baik kita diskusikan nama anak kita, sayang."
"Tapi kau harus menjamin bahwa anak itu tidak akan terluka karena diriku."
Apa yang terjadi setelahnya? Seokjin menghabiskan hampir lima jam hanya untuk meyakinkan Namjoon bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mulai dari menunjukkan video tentang ayah ceroboh-tidak ada video ayah tangan penghancur-, buku edukasi merawat anak untuk ayah, sampai melakukan praktek kegiatan ayah dan anak. Yah, merepotkan sebenarnya, tapi selama suaminya merasa akan menjadi ayah yang baik, kenapa tidak?
END
.
.
End ya.. ngga ada lagi lanjutannya hihi. Mungkin ada, kalau ada ide. Makasih yang udah mau baca! Yang review juga! :) Kalau ada yang kurang sarannya sangat diperbolehkan. Have a nice day! :) Peace.
