Disclaimer : All Sentences, storyline, plotline © Akira

Character : EXO

Warning : Boys Love, Boring Storyline, Suck Plotline, Typo.

.

.

.

Anata no SeKai ni

.

.

.

Gelak tawa mewarnai pagi yang tampak tak bercahaya. Bukan tawa bahagia yang mengusik ketenanagan di dalam Asrama tersebut, melainkan sebuah tawa mencemooh yang ditujukan pada seorang gadis yang tengah memegang lututnya yang berdarah.

"Hahaha… kau jatuh lagi Sehunna… apa yang ada di otakmu, hm?" Ejek salah satu dari kerumunan tersebut.

"Kau bahkan sama sekali tak bisa melewati ujian menjadi sugnyeo (dayang istana). Menyerah saja, dasar tidak berguna…" Sahut yang lain.

Gadis bernama Sehunna itu hanya diam ditempatnya berada, rasa sakit akan luka di lututnya, atau darah yang mulai merembes menodai Hanbok kuningnya sama sekali tak ia pedulikan. Namun, kepalanya menunduk dalam, menyembunyikan genangan air mata yang siap tumpah.

Ia tak ingin terlihat lemah, ia tak ingin mereka semakin bahagia melihatnya serapuh apa yang mereka harapkan. Ia harus terbiasa dengan hal ini, terbiasa dengan latihan keras seperti yang diharapkan Park Ga Eul omoni. Ibu angkatnya.

"Ya! Kalian ayo mulai belajar. Dan kau bocah, cepat kemari!" Salah satu Songsaengnim memanggilnya, walau susah ia berjalan tertatih menghadap wanita berparas cantik itu.

"Ne, seongsaengnim…" Ucapnya seraya memberi hormat.

"Sementara teman-temanmu yang lain melanjutkan pelajaran, kau… isi bak mandi hingga penuh, dan jangan berhenti sebelum semua permukaannya tertutup air, Arraseo?"

"A-arra…"

Sehun menatap bak mandi yang sudah biasa ia dan teman-temannya gunakan, tinggi dan lebar, pasti butuh waktu seharian penuh untuk mengisinya, ditambah lagi ia hanya dibekali sepasang ember kayu kecil untuk memenuhinya.

Menghela napas, Sehun mau tak mau mulai berjalan menuju kolam yang berada di tengah padang ilalang di ujung asrama. Mencoba mengukir senyum untuk menyemangati diri.

.

"Nah, sekarang kalian bungkukkan badan, luruskan punggung dan tundukkan pandangan. Ini merupakan cara seorang dayang istana memberikan salam." Titah sang songsaengnim pada murid-muridnya.

Puluhan gadis 10 tahunan melakukan apa yang telah mereka lihat dari sang guru, menirukannya berulang kali hingga dirasa sempurna.

Menjadi seorang dayang istana bukanlah hal yang mudah, mereka di didik keras dan penuh kedisiplinan. Bukan hanya sopan santun, intelejesi dan kemampuan fisik menjadi bagian yang tak terpisahkan.

Siapapun yang mampu menampilkan performa terbaik saat pemilihan dayang isatana, dialah yang akan lolos dan berhasil mendapat gelar sugnyeo.

Sehun memandang seksama apa yang diajarkan sang songsaengnim kepada teman sebayanya, sementara ia harus menahan dinginnya hujan yang membasahi sekujur tubuhnya. Dilihatnya bak mandi masih terisi setengah, dan rasa lelah telah menggerogoti tubuhnya.

"…masih belum, sedikit lagi…" Ucapnya pada diri sendiri. Kepalanya berdenyut nyeri, sementara pandangannya semakin memburam oleh derasnya air hujan.

.

Hari semakin gelap, kelas telah usai, gadis kecil seusianya telah berlarian menuju rumah masing-masing. Menghangatkan diri dari siraman air langit. Namun tidak baginya. Sosok berkulit putih susu itu terlihat semakin pucat, bibir mungilnya membiru dan tubuhnya menggigil.

Hanbok yang dikenakannya telah menempel erat membalut tubuh kecilnya, kakinya sudah tak sanggup berjalan lagi, ia terjerembab, air yang dibawahnya tumpah, berserakan di atas tanah lumpur yang mengotori tubuhnya.

"…masih belum selesai… sedikit lagi…" Ia berusaha bangkit namun tak berhasil. Ia menyerah, membiarkan tubuhnya terbasuh hujan, meloloskan air mata yang ditahannya sejak tadi siang.

.

"Sehunna…" Suara berat yang sangat dikenalnya, diiringi dengan dekapan hangat dari kedua tangan remaja seusianya yang memeluk erat pinggangnya. "Hentikan… kau bisa sakit…" Bisiknya ditelinga sang gadis.

"Aniya, aku tak mau songsaengnim marah, dia bisa melaporkanku pada omoni…" Balas Sehun lirih, ia mencoba berdiri dengan menopang pada sosok namja yang kini memeluknya erat.

"Andwe!" Cegah namja tersebut keras kepala, wajahnya menampakkan rasa prihatin pada sosok pucat dihadapannya, adik yang sangat disayanginya, bahkan dicintainya.

Bodoh memang jika diusianya yang masih 12 tahun ia sudah merasakan desiran halus di nadinya saat sang adik Park Sehun berada di dekatnya, namun ia bungkam. Takut jika rasa itu hanya bagian dari rasa sayangnya pada sang adik.

Tapi ia sadar, di sudut kecil hatinya ia—Park Chanyeol—berjanji pada dirinya sendiri untuk melindungi Sehun dengan taruhan apapun.

"Hyung… biarkan aku menyelesaikannya… sedikit lagi." Pintanya dengan tatapan memohon. Tidak ada jawaban dari Chanyeol. Ia mengambil ember kayu dari tangan Sehun, mulai mengisinya dengan air dan berjalan menggantikan tugas Sehun.

Wajah manisnya mengembangkan senyum kecil, bibirnya yang pucat dan matanya yang memerah masih mampu membentuk crescent moon indah. Ia tahu dengan jelas, hyungnya pasti akan menyelamatkannya. Hyungnya pasti akan datang untuk menolongnya.

"Gomawo" Ucapnya saat Chanyeol melewatinya yang masih terduduk di tanah, sebuah senyuman indah mengembang diwajah tampan kakaknya, gigi putihnya tampak berjajar rapi saat kedua belah bibir itu membentuk segaris senyum.

.

Chanyeol memalingkan mukanya yang memerah saat melihat Sehun berganti pakaian seperti yang ia kenakan. Namdongsaengnya—ah benar, sehun adalah adik laki-lakinya, namun karena sang ibu memaksanya menjadi dayang istana, terpaksa sang namja 10 tahun itu menyamar menjadi yeoja—kini tengah menyamankan tubuhnya di atas futon yang ada di kamar mereka.

"Sehunna, tidurlah…" Ucapnya seraya memeluk erat tubuh yang lebih kecil darinya itu, hujan diluar masih terdengar jelas, dingin menyusup hingga ke dalam tulang, namun ia menemukan kehangatan saat ia bersama Sehun.

"Hyung, kenapa aku harus menjadi dayang istana?" Tanyanya di antara dada sang kakak.

"Entahlah Sehunna, omoni yang menginginkannya." Jawab Chanyeol dengan helaan napas.

"Tapi, seharusnya aku mengikuti pelatihan prajurit sepertimu hyung, bukan menjadi seorang dayang. Terlebih… aku harus berdandan seperti seorang yeoja…"

"Hahaha… kau ini." Tawa Chanyeol mengusap kepala hazelnut sang adik. "Tenang saja, kau sangat manis bahkan lebih cantik dari teman sebayamu saat mengenakan hanbok berwarna-warni itu." Hiburnya.

"Tapi aku namja hyung… kalau mereka tahu… mereka akan menghu—"

"Sshh! Tidak akan. Mereka tak akan menghukum atau melukaimu. Dan percayalah, tak akan ada yang tahu kau namja Sehunna, melihatmu semua teman-temanku terpesona." Candanya.

"Kau curang hyung…" Guman Sehun tak terima, namun setelahnya yang terdengar hanya alunan napas halus yang menguar dari kedua bibir Sehun yang sedikit terbuka. Ia telah terlelap.

"Selamat tidur Sehunna…" Kecupan lembut mendarat di kening hangat sang namja yang kini terlelap dalam pelukannya. Dan tak berapa lama, Chanyeol mulai memejamkan mata, mengikuti sang adik ke alam mimpi.

.

.

.

Di sudut lain dinasti Wu, sosok namja tampan tengah mengayunkan pedangnya dengan lihai. Lengannya yang terbentuk indah berkat latihan rutin yang ia lakukan membuatnya terlihat mempesona di antara tetesan peluh. Namja dengan mata tajam dan wajah datar bernama Wu Yi Fan itu berhenti sejenak. Memandang hasil tebasan pedangnya. Dan senyum kecil terukir dibibirnya.

"Kris…" Panggil seseorang dengan hanfu berwarna biru mudanya pada sosok Yi Fan yang akrab disapa Kris itu.

"Apa yang kau lakukan disini Xiao Lu?" Jawab Kris tanpa menolehkan pandangannya pada sosok Xiao Lu.

"Aku mencarimu… Yang Mulia menyuruhku memanggilmu." Jawab Xiao Lu dengan senyuman di bibirnya. Matanya memandang hasil tebasan pedang milik Kris, saudara angkatnya.

Tidak berubah, pemuda 14 tahun yang lebih tinggi darinya itu memang hebat, bahkan diusianya yang masih belia Kris telah berhasil lulus ujian pedang dan bela diri dengan nilai sempurna.

"Kenapa kau memanggil mereka yang mulia? Ingat, kau juga bagian dari dinasti Wu." Kesal Kris melihat kelakuan Xiao Lu yang selalu berlaku formal pada keluarganya.

"Hahaha… ini hanya formalitas, Kris. Biasanya aku juga memanggil mereka Ayah dan Ibu." Jawabnya santai, sementara sang lawan bicara hanya menganggukkan kepala tanda setuju. "Kulihat kemampuan berpedangmu mendekati sempurna." Pujinya.

"Jangan menyindirku… kau bahkan bisa lebih baik dariku. Ck, kenapa kau harus berdandan seperti itu, membuatku semakin terlihat kesal saat kalah darimu." Kris mulai berjalan mendekat kea rah Xiao Lu, diambilnya sebuah gelas berisi air yang dibawakan saudaranya itu.

"Hahahaha… jadi kau merasa malu kalah dari seorang wanita?" Goda Xiao Lu saat melihat ekspresi kesal diwajah pemuda tinggi itu, sangat menyenangkan menggoda Kris yang notabene sangat menjunjung tinggi harga dirinya.

"Kau itu laki-laki Luhan! Haish… mereka benar-benar menyebalkan saat mengtakan bahwa aku kalah darimu…"

"Hm, dan ini ku lakukan untuk menyembunyikan identitasku. Sampai aku menemukan kejelasan tentang adikku… aku tak akan berhenti berjuang." Ucapnya dengan keyakinan dan harapan yang terpancar di kedua doe eyes nya.

Kris mengerti perasaan Luhan, kehilangan kedua orang tuanya dan nasib adiknya yang keberadaannya masih menjadi misteri itu membuatnya melakukan apapun untuk dapat menemukan kebenaran dan keadilan yang selama ini telah lenyap dari hidupnya.

Ia bahkan menyembunyikan identitasnya dan memilih menjadi putri angkat dinasti Wu, belajar dengan giat, berlatih tanpa mengenal kata lelah dan terus bersembunyi dibalik anggunnya hanfu yang dikenakannya. Tak ada yang mengetahui sosok Wu Xiao Lu, gadis yang anggun dan dipuja oleh pemuda seusianya adalah sosok pangeran Xi Luhan, pewaris tahta dinasti Xi yang dibantai 10 tahun silam.

"Hm, kuharap kita segera menemukannya. Setidaknya sebelum para bajingan itu mengetahui jika black pearl masih belum mati." Tutur Kris dengan kedua rahang terkatup keras menahan amarah. Ia ingat saat bagaimana kerajaan Luhan dibantai di depan mata pemuda itu. Karena hal itu pula lah ia berjanji akan mencari Xi Sehun sampai ketemu.

"Oleh karenanya aku tidak akan menyerah. Terima kasih kau bersedia membantuku." Ucap Luhan tulus. Ia benar-benar berterima kasih pada keluarga Kris yang telah menampungnya dan melindunginya selama ini. Dan ketika tiba saatnya, ia akan menciptakan keadilan dan kedamaian itu dengan tangannya.

"Kau dapat memegang janjiku."

Mereka berjalan meninggalkan arena latihan. Keduanya sama-sama berpikir keras tentang bagaimana cara menemukan sosok Sehun. Bahkan sampai saat ini seluruh mata-mata yang dikirim untuk mencarinya sama sekali tak membuahkan hasil.

Perasaan menyerah sempat menghantui keduanya, namun sekal lagi tekad bulat Luhan untuk melihat adiknya tidak terpatahkan oleh fakta apapun, selama ia tidak melihat dengan mata kepalanya ia masih mempercayai bahwa Sehun masih ada di belahan bumi lain. Tempat yang jauh darinya, dan menunggunya untuk datang.

.

.

.

TBC (?)

Ah iya… Kira hanya ingin bertanya… apa sebaiknya cerita ini tetap Kira lanjut atau Kira ganti dengan cerita lain (?) mengingat ide semakin jauh dari otak Kira.

kepada para reviwer… Terimakasih telah bersedia membaca FF geje ini…
maaf kali ini sangat aneh bahasanya karena Kira sudah lama tidak mengetik FF…

Dan pairnya KaiHun dan KrisHan…