"LOST CONTRACT"
Kuroshitsuji or Black Butler (c) Yana Toboso
.
NO bashing!
.
"Bukankah sudah menjadi tugasmu untuk melindungiku? Kalau aku mati, sama artinya dengan kau melanggar kontrak dan estetika butler."
.
Spring in London 1889 – 15.00 GMT
DOR!
"BOOOCHAAN!" Aku terlambat berubah wujud.
.
Sosokku yang asli hilang kendali. Pintu bodoh yang membuatku terlambat menolong majikan yang harusnya kulindungi, lenyap sudah menjadi abu. Kini aku tidaklah berupa sosok butler lagi, api yang menyala-nyala dari jubah hitamku, membakar habis apa yang kulewati hanya menyisakan debu tak berguna yang kemudian hilang ditiup angin.
Seperti mendapat mainan baru, 'baka people' itu seperti calon roh yang malu-malu untuk menampakkan wujudnya. Malam ini akan ada pesta makan malam lezat bagi iblis! Kuku-kuku hitamku yang panjang menegakkan dagu calon roh pemalu itu. Lidah sewarna delimaku menjilat taring berkilau diterpa api yang berkobar di sekelilingku.
"Sebastian, jangan main-main. Habisi dia, buat jasad itu jadi abu!" Perintah pemilikku yang tergeletak tak jauh dari kami.
BWOOOOSH... Jasad 'baka' itu langsung menjadi abu dalam hitungan seperdetik.
"AKKKHHH..." rintih Boochan mencoba membalikkan tubuhnya menjadi terlentang.
"Anda tidak apa-apa, Boo?" Aku sudah kembali ke wujud butler.
"You fool! Kau bilang ini tak apa-apa?! Untung saja dia hanya menembak kakiku." Makinya dengan suara tertahan, ia memegang paha bagian kiri dengan telapak kirinya, darah mengalir melewati sela-sela jemarinya.
Aku melepaskan cengkraman tangan Boochan pada pahanya sendiri, lalu membersihkan telapak porselin yang berlumuran darah. "Apakah ini sakit?" tanyaku sembari menggulung celana coklatnya sebatas paha.
PLAK! Ia memukul kepalaku keras. "Ya, sakit BODOH!"
"Fufufu~" Aku tertawa diatas penderitaan Tuanku sendiri. "Lukanya terlalu dalam, aku harus mengeluarkan pelurunya dulu sebelum terjadi infeksi." Aku melepas belt-nya.
"Hey, hey, hey... mau apa kau iblis mesum?!" Ia mencegah tanganku berbuat lebih.
"Kurasa ini bukan tempat yang aman untuk membedah lukamu, Boo... Jadi, aku harus menghentikan pendarahannya dulu." Jelasku.
"Apa katamu saja."
Merasa mendapatkan kebebasan bertindak, aku melingkarkan belt coklat milik Boochan di selangkangan kirinya, lalu mengencangkan dengan kuat. Boochan sedikit merintih.
Aku melepas tailcoat yang kukenakan dan membalutkan pada tubuh Boochan. "Ayo pergi, kita cari tempat aman." Perlahan aku menggendong tubuh ringkih dalam balutan tailcoat hitam.
-Lost Contract-
Aku berlari menyusuri lorong-lorong panjang dalam manor ini. Boochan ku gendong di punggung, deru nafasnya terasa jelas di perpotongan leherku. Tangan kirinya membawa gulungan laporan yang dipenuhi bercak merah. Aku berhenti di ballroom, sudah banyak sekali Jerman yang menduduki ruangan besar itu, aku berhenti berlari.
"Kenapa?" Boochan mengangkat kepalanya, matanya sayu.
"Kita cari jalan lain." Aku membalikkan arah haluan.
"Tapi lorong bawah tanah ada di bawah tangga ballroom." Boochan menegakkan daguku, manik mata kami bertemu. Lama kami saling pandang.
"Saya harus mengeluarkan peluru di kaki Anda." Aku buang muka dari tatapannya, ia kembali menyelipkan kepalanya di ceruk leherku. "Kita ke dapur." Kataku lanjut berlari.
.
Diluar dugaan! Para pelayan telah menghancurkan dapur menjadi tempat yang sangat tidak aman, Jerman juga telah mendudukinya, dan dari sana para Jerman itu mendapatkan supply makanan. Dasar pelayan tak berguna, memberi peluang untuk penjahat!
Semua ruangan sudah di ekploitasi Jerman, aku heran, seberapa banyak pleton yang mereka turunkan hanya untuk menangkap seorang BOCAH. Sejak tadi aku hanya berputar-putar dalam manor ini mencari jalan yang belum tertutup, tapi tak kutemukan satupun.
"Kenapa kau tak panggil para pelayan untuk membersihkan jalan." Desah Boochan hampir tak terdengar.
Aku menyentuh pipinya, DINGIN! Aku panik, segera saja aku aku menurunkannya dari gendonganku, ku baringkan tubuh yang kian melemah itu ke lantai beralaskan tailcoat hitam yang membalutnya sejak tadi. Suhu tubuhnya menurun drastis, wajahnya berubah sepucat kapur, celananya tak lagi coklat tapi merah darah. Sebelum pendarahannya berlanjut aku harus segera menutup lukanya, tidak peduli jika pada akhirnya Jerman itu menemukan kami disini.
"Pak Tanaka, Bard, Finni, dan MeyRin cepat datanglah..." bisikku pelan.
Jemariku dengan cekatan merobek celana Boochan hingga ke bagian lukanya. Darah yang keluar semakin banyak, apakah itu karena aku salah mengendongnya? Bodoh! Harusnya posisi kaki lebih diatas badan! Aku berlutut di sisi kiri majikanku yang nyaris kehabisan darah itu, satu-satunya jalan adalah membawanya ke rumah sakit untuk mendapat supply darah, tapi dalam kondisi seperti ini bagaimana bisa?
"Sekarang saya akan mengeluarkan peluru di kaki Anda, gigit tangan saya jika Anda merasa kesakitan." Bisikku halus di telinganya.
Aku melepas kedua sarung tanganku, memperlihatkan lambang kontrak antara aku dan Boochan dengan jelas. Kaki kananku menahan gerak berlebihan dari bocah itu ketika dua pertiga ruas jari telunjuk kananku mulai menerobos lukanya, mengobok-oboknya untuk mencari timah panas yang bersarang.
"NGGGHHHH..." Boochan melenguh panjang, tubuhnya mengegang, kakinya memberontak, giginya yang belum seluruhnya tanggal menoyak lengan kiriku hingga mengucurkan darah.
"Dapat!" aku menarik timah itu perlahan hingga keluar. "Ah!" seruku lega setelah berhasil mengeluarkan peluru Kaliber 38—peluru yang memiliki diameter 0,38 inchi—dari lukanya, Boochan ikut menghela nafas, air mata kesakitannya mengucur dari balik kelopak matanya yang indah. Sungguh aku tidak tega melihat penderitaan bocah ini.
Aku menyobek lengan kemeja putihku sebatas siku . Aku menggulungnya lalu menekankan kain putih itu ke luka Boochan yang menganga. Perlahan darah merembes, kain itu tidak lagi putih. Desahan Boochan sudah tak terdengar, hanya gerakan bibirnya saja yang mengisyaratkan bahwa ia kesakitan.
"Who is there?!" teriak seseorang dalam Bahasa Jerman mengagetkatku.
"Cih!" Boochan berdecih, bola matanya yang tak lagi jernih menatapku lama. "Habisi!" perintahnya singkat.
Aku berdiri, melangkah beberapa kali ke hadapan salah seorang Jerman beriris hijau. "You can arrest me, but don't kill him." Sahutku lantang dalam Bahasa Jerman di depan lebih dari 20 tentara Jerman yang mengepung kami.
"HAHA! You fool... He's our target." Salah seorang dari mereka maju, dari pangkat yang tertera, mungkin dia pemimpinnya, badge namanya tertulis Lt. Arnfried—'Arn' yang berarti 'Elang' dan 'Fried' 'Perdamaian'—sungguh, sifatnya tak seperti apa yang diharapkan orang tuanya.
"Put your hands in the air!" perintahnya masih dalam Bahasa Jerman.
Tanpa rasa bersalah, ku angkat ke dua lengan tinggi-tinggi. "Ayolah semuanya datang..." bisikku.
"What do you say?" tanyanya sambil menyipitkan mata, tampang meng-introgasi.
"..."
"What do you say?!" gertaknya tegas.
"..." aku masih tak mau jawab.
"APA YANG KAU KATAKAN?!" kali ini dia membentakku dalam Bahasa Inggris. "JAWAB!" ia menodongkan Luger ke pelipisku.—pistol Luger kebanggaan Jerman di awal abad ke-19(saya bingung harus masukkan senjata apa, yang kutemukan hanya pistol itu. Disini tahun 1889, tapi pistol itu terbit(?) tahun 1908, gapapalah, ceritanya ada ruang waktu yang membawa pistol itu :P)
DOR! Sebuah tembakan pembuka untuk pesta sore ini.
DOR DOR DOR DOR! Tembakan beruntun tanpa henti membuyarkan pasukan Jerman yang kocar-kacir seperti barisan semut kebanjiran. Sensasi darah bermuncratan bak kembang api yang terlontar di jamuan makan malam para iblis peliharaan Phantomhive.
-Lost Contract-
"Maaf kami terlambat, Sebastian... ada sedikit halangan ketika kami menuju kesini." MeyRin berbungkuk-bungkuk dihadapanku.
"Maafkan kami Sebas..." Tiga pelayan bodoh itu bersujud-sujud dihadapanku dengan banjir air mata penuh penyesalan ber-backsound suara tawa Pak Tanaka yang khas, "HO HO HO..."
"Berlebihan!" Gerutuku. "Aku harus segera membawa Boochan ke kota, lewat jalur bawah tanah. Kalian bersihkan ballroom! Pak Tanaka disini saja bersama kami." Perintahku.
"Ayeaye Capten!" Seru ketiga pelayan bodoh itu dan langsung melesat pergi begitu mendapat perintah dari 'sang ketua'.
.
"Ballroom?" Celetuk Finni yang berlari paling akhir.
"Iya, ballroom! Ruang besar tempat petemuan dan acara dansa. Ayolah, jangan bodoh Finni..." Ejek Baldroy pada bocah lelaki bertopi jerami itu.
"Bukankah tadi kita lewat sana? Dan, dan menghabisi semuanya! Itu yang membuat kita terlambat, 'kan." Jelas bocah bernama lengkap Finnian kembali mengingat-ingat.
"Lalu?" Tanya MeyRin. Ketiganya masih terus berlari, derap langkah mereka menggema di lorong panjang itu.
CKIIIIT... Serempak sol sepatu mereka bertiga bergesekan dengan lanati lorong.
"Artinya kita sudah membersihkan ballroom!" Seru ketiga pelayan itu baru menyadari kebodohannya.
"Cepat kembali dan beri tahu Sebas!" Mereka langsung lari berbalik arah.
.
"Pak Tanaka punya sapu tangan?" Aku mengencangkan kembali belt yang mengikat selangkangan Boochan. Ia sudah tak sadarkan diri setelah perintah terakhirnya.
Kakek tua mantan butler itu berjongkok, ia mengeluarkan selembar saputangan dari saku celana bergarisnya. "Keadaannya kritis, kau harus bertindak cepat anak muda." Suara bergetar kakek Tanaka membuatku mengatupkan mulut.
Aku menggulung saputangan itu, menjadikan seperti perban, lalu mengikatkannya ke luka Boochan. "Sepenuhnya salahku." Sesalku mencoba mengingat kembali kronologi penyebab Boochan sudah kehilangan kesadaran sepenuhnya seperti ini.
"Seorang butler harus bisa mengatasi kejadian tak terduga. Yang sudah-sudah dibiarkan saja." Nasihat kakek Tanaka.
"Sebaaas... kami baru ingat kalau ballroom sudah kami bersihkan dari 'kotoran'." Teriak Finni pemilik suara paling nyaring diantara yang lain.
"Kalau begitu lekas pergi sebelum keadaannya semakin kacau." Pak Tanaka menepuk bahuku.
Aku segera menggendong Boochan ala bridal dan lekas pergi dari lorong itu.
-Lost Contract-
Spring ini London 1889 —16.00 GMT
Aku berlari paling depan, para pelayan—yang juga iblis—lari di belakangku untuk mem-back up. Pak Tanaka lari paling akhir, aku merasa kasihan dengan tubuh tua-nya.
"There!" derap langkah boots menjelaskan siapa yang akan kami temui di depan.
"Lari duluan!" perintahku.
Ketiga pelayan, kecuali Pak Tanaka, mengeluarkan senjata mereka masing-masing. MeyRin mengeluarkan handgun dari stocking di balik rok maid-nya, Bard yang sejak tadi membawa-bawa pelontar api di punggungnya mengaktifkan alat yang sering menghancurkan dapur itu, sementara Finni, ia selalu bertarung dengan tangan kosong.
Pertarungan tak terelakkan.
"Lewat sini!" Teriak Pak Tanaka yang lari lebih dulu di tengah-tengah pertarungan, aku mengikutinya.
"AWAS!" Aku melayangkan tendangan berputar di udara, masih dengan Boochan dalam gendonganku, untuk menghabisi 'baka' yang ingin menembak 'orang tua'. Sejujurnya itu bukanlah perilaku terpuji.
"Terima kasih, anak muda." Pak Tanaka tersenyum padaku, ia mengisyaratkan agar aku segera berlari ke ballroom.
3 orang Jerman mengikuti kami sampai ke ballroom, di bawah tangga ada lorong rahasia yang menghubungkan manor ini dengan kota. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui pintu itu dan dapat membukanya.
"Kau pergi saja duluan, nak. Kami akan bereskan lalu menyusul." Pak Tanaka bergelut dengan 3 orang Jerman bersenjata dengan tangan kosong, hanya bermodalkan jurus Bartitsu yang dipelajarinya ketika muda dulu.
"Temui kami di townhouse." Aku berteriak dalam Bahasa Cina agar Jerman itu tidak mengetahui apa yang kukatakan.
-Lost Contract-
Rainy in London 1889 —20.00 GMT
Lorong rumah sakit itu terasa sepi, hanya aku seorang diri menunggu di pintu masuk ruang bedah. Suara hujan terdengar sangat jelas menghantam atap rumah sakit terbesar di London. Boochan sudah masuk ke ruangan itu sejak 2 jam yang lalu, tapi dokter yang memeriksanya tak kunjung keluar.
Tok... tok... tok... langkah sepatu pantofel dari seorang pria berkacamata bertatapan dingin, ia membawa tongkat deathscythe yang lebihtinggi darinya, dengan pencapit bergerigi di salah satu ujungnya. Tangan yang berbalut sarung tangan hitam menakikkan kacamatanya yang sedikit merosot. Ia membuka buku yang kemana-mana selalu dibawanya.
"Kasihan sekali kau Sebastian, pada akhirnya kau menghianati majikanmu sendiri. Ck!" Ia membuka buku dalam dekapannya.
"..." Aku hanya diam tidak menanggapi celotehan Shinigami—dewa kematian—bernama lengkap William T. Spears itu.
"Ciel Phantomhive. Lahir 14 Desember 1875. 31 Maret 1889 meninggal akibat kehabisan darah. Tidak ada catatan khusus."
Dan, di malam hujan badai itu stampel bertuliskan com-plete dilayangkan...
-Lost Contract-
"Perjanjianku denganmu adalah...
menjadi kekuatanku sampai aku berhasil meraih tujuanku dan melindungiku dari kematian.
Hanya kau ksatriaku yang tak boleh mengkhianatiku."
"Jika itu kehendak anda,
saya akan menemani anda kemanapun,
meskipun anda terjatuh dari kursi raja,
makhkota berkilau di kepala anda berkarat,
dan mayat-mayat yang tak terhitung jumlahnya terus menumpuk.
Diatas tumpukan mayat itu,
saya akan berada di samping majikan kecil yang tengah berbaring,
hingga saya mendengar panggilan terakhir."
...Black Butler Jilid 3, Chapter 13...
-To Be Continued-
A/N : Give me review please :)
Ada yang tahu nama fandom 'La Storia Della Arcana Famiglia'? Yang tau jangan pelit-pelit kasih info ya...
Gomen jika dari chap kemarin masih bertebaran typo :|
Thanks to :
FrankiezCrazy—thanks my sis :D
eguchi narumi—makasih dukungannya :D
AraAra Siluman Katak—Salam tokek XD /hajar bleh!/
RaFa Llight S.N—thanks pujiannya :D
.
Regards,
FAZA Phantomhive
