denial.

n. a refusal to accept or believe something.


percy jackson and the olympians © rick riordan

i am not, in any way, making any profit from the story.


.

"Wajahmu jelek kalau merengut begitu, tahu."

Suara yang begitu mirip dengan miliknya berkumandang. Pollux bertanya-tanya dalam hati apakah ia tak sengaja menggumam keras-keras hingga suaranya menggema, atau dirinya sedang bermimpi, membayangkan kalimat itu muncul entah darimana. Biner gelap menangkap sosok di sisi kiri tubuh, seorang yang parasnya bagai pinang dibelah dua dengan miliknya. Perlahan tanpa suara, jari merayapi lengan, mencubit keras-keras hingga menimbulkan merah dan panas di kulit yang pucat.

Sakit. Bukan mimpi.

Dia bukan bayangan. Ini bukan mimpi.

"Bego," ia menyahut setelah lepas dari ketertegunan sejenak. Ujung-ujung bibir ditarik membentuk senyum—yang lebih nampak seperti seringai. Otot-otot wajahnya berkedut kaku, seolah lupa bagaimana caranya untuk tersenyum dengan tulus seperti dahulu kala. "Muka kita identik. Kalau aku jelek, kamu juga sama jeleknya."

Castor mendengus, tanda protes.

Pollux tertawa. Suaranya sumbang, terdengar hambar dan tidak menyenangkan, tapi dia tertawa. Betulan tertawa, bukan hanya kekehan terpaksa. Dia tertawa, lega. Castor tidak benar-benar pergi, seperti yang ia yakini semenjak semula. Mereka satu kesatuan, sebuah paket yang tak terpisahkan, saling berbagi jiwa—tak ada yang bisa menghancurkan ikatan di antara mereka.

Tangan putra Dionysus itu terangkat, terulur untuk menyentuh saudaranya, ingin merengkuh setengah dirinya erat-erat. Mendekapnya dalam pelukan yang membuat napas sesak. Jantungnya berdegup keras-keras dalam rongga dada. Segala rasa membuncah dalam hati. Dia rindu dengan keberadaan Castor. Kehilangan. Tak ingin lagi melepaskannya. Tak sanggup lagi merasa sepi seorang diri. Rindurindurindu.

(Tapi jemarinya hanya menyentuh udara.)

Senyumnya membeku, dan berangsur lenyap.

.