Inside The Ramen
.
.
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Inside The Ramen © dheeviefornaruto19
AU, OoC, typos?
.
.
Happy reading!
.
.
Two: My error plans
Walaupun jam belum menunjukkan pukul tujuh pagi, dan juga kedai mereka sebenarnya belum buka pada jam sepagi itu, anehnya Hinata telah berdiri dengan tangan terlipat di depan kedainya.
Ada apa gerangan?
"Nah, itu dia," gumamnya perlahan.
Dari kejauhan terlihat seorang pemuda berambut kuning yang langsung mempercepat langkahnya begitu melihat Hinata di depan kedai. Hari itu ia memakai pakaian serba orange yang membuatnya terlihat begitu mencolok.
Naruto mendekati Hinata dengan canggung setibanya di kedai.
"O-ohayo," sapanya.
Hinata menatap pemuda itu dari atas sampai ke bawah dengan pandangan meremehkan. "Selera bajumu sungguh mengejutkan," katanya sebagai kalimat pembuka pagi hari pada Naruto, yang tentunya bernada sarkastik. Jujur saja, ia masih kesal dengan pemuda yang selalu dibela ibunya itu.
Kemarin Hinata memang tidak membicarakan lebih lanjut mengenai keputusan ibunya yang menerima Naruto untuk bekerja di kedai mereka. Tapi Hinata tidak mau diam saja. Ia sudah berencana membuat Naruto tidak betah bekerja di kedai mereka dan mengangkat kaki segera agar kehidupan tentram keluarganya kembali lagi. Jika rencana ini gagal, ia masih punya rencana B: pemuda itu harus membayar makanan yang telah dimakannya, dua kali lipat!
Dan Hinata sedang menjalankan rencana A-nya, yakni bersikap jutek pada Naruto agar cowok itu tidak betah. Senyum tipis terukir di wajah gadis itu, ia nampak yakin bahwa rencananya akan berhasil.
Naruto terlihat tidak nyaman dengan ucapan Hinata tadi. Tapi ia tidak berani membalas dan hanya terdiam memandangi sapu lidi yang disandarkan ke tembok kedai.
"Kau terlambat di hari pertamamu bekerja. Kau tahu jam berapa biasanya aku dan Kaa-san bekerja? Kami sudah memulainya dari setengah jam yang lalu!"
Naruto tertunduk. "Maaf, tapi Ba-san tidak memberitahu."
Hinata berdecak. "Kenapa kau tidak bertanya kemarin?"
Naruto menggaruk tengkuknya, raut wajahnya terlihat jelas ingin menyudahi percakapan itu. "A-aku masuk dulu kalau be—"
"Masuk ke mana?" potong Hinata cepat. "Sapu halaman dulu! Pelanggan tidak mau makan kalau halaman kotor begini!" tunjuk Hinata ke halaman kedai yang dipenuhi dedaunan kering.
Naruto buru-buru meraih sapu lidi dan mulai menyapu dengan gerakan cepat. Hinata masih tetap mengawasinya dengan senyuman kemenangan. Ia yakin cowok itu tidak akan bertahan lebih lama lagi. Naruto akan menyerah dan akhirnya rencananya—entah itu rencana A atau B—akan sukses.
"Kami harus hati-hati denganmu," ucap Hinata di tengah kesibukan Naruto menyapu halaman. Ia tidak bisa menatap wajah pemuda itu karena Naruto membelakanginya.
Di sisi lain, Naruto melirik sebentar pada Hinata dan meneruskan kembali pekerjaannya.
"Kami tidak tahu apapun mengenai dirimu. Jadi aku akan mewakili ibuku untuk menanyai hal itu," sambung Hinata, berjalan selangkah lebih dekat dengan Naruto. "Kulihat kau datang dari jalan gersang menuju kota Tokyo. Apa kau tinggal di kota?"
Naruto terlihat begitu terkejut, sebab ia sampai menjatuhkan sapunya ke tanah. Hal itu membuat Hinata mengernyitkan dahi karena heran.
"A-aku tinggal cukup jauh dari sini," jawab Naruto sambil mengambil kembali sapu lidinya.
Hinata mulai curiga. "Apa pekerjaanmu sebelumnya?" tanyanya lagi sambil memerhatikan punggung Naruto, sebab pemuda itu kembali membelakanginya.
Naruto terlihat ragu untuk menjawab. "Aku pernah kerja di... minimarket. Jadi kasir."
"Setelah itu? Apa kau beralih menjadi pencuri?"
Naruto terkesiap. Ia pun membalikkan badan dan menatap Hinata dengan tatapan yang tidak disukai Hinata sebab ia memandangnya dengan raut wajah tersinggung. Hinata membalas dengan menaikkan salah satu sudut bibirnya.
"Kau tersinggung dengan ucapanku? Jadi kau merasa kau bukan pencuri? Kalau iya, cepat bayar ramen yang telah kau makan, dua kali lipat!" seru Hinata cepat dengan tatapan mengintimidasi.
Naruto menatap Hinata sebentar, kemudian tertunduk. "Apa kau begitu membenciku?" tanyanya dengan suara datar, dan kecewa.
Hinata menatap Naruto dengan alis terangkat. "Untuk ap—"
"Kalian berdua sedang apa di sini?"
Suara itu memotong ucapan Hinata, membuat Hinata kesal saat mendapati ibunya keluar dari kedai dengan wajah berseri. Sebaliknya, Naruto merasa sangat lega karena ia tidak perlu mendengar ucapan menyakitkan Hinata lebih banyak lagi.
Untunglah ibu Hinata tidak menyadari suasana buruk di antara keduanya. Ia memandang kedua remaja itu bergantian dengan wajah gembira.
"Kita mendapat pesanan banyak! Hari ini kita akan mempersiapkan lima belas ramen untuk dibawa ke kota!"
Hinata tidak bisa menyembunyikan kekagetannya. "Yang benar, Kaa-san? Dari kota?"
Ibunya mengangguk sumringah.
Naruto ikut menimpali. "Wow, itu bagus!" Dan setelah itu, ia mendapat tatapan menusuk dari Hinata sebagai balasannya.
"Hari ini kita akan sangat sibuk!" ucap ibu Hinata gembira. "Kalian cepat ke dapur dan persiapkan segala sesuatu yang kita butuhkan!"
Hinata tersenyum senang dan segera masuk ke dalam kedai tanpa menunggu Naruto. Naruto akhirnya menyusul ke dalam bersama ibu Hinata.
.
.
Setelah setahun lamanya membuka usaha rumah makan yang dibarengi kerja keras Hinata dan ibunya, akhirnya mereka tiba pada titik yang spektakuler. Untuk pertama kalinya, ramen mereka dapat dikenal luas hingga ke kota Tokyo. Dan ada orang baik hati yang memesan lima belas ramen untuk diantarkan hari ini ke kota. Sungguh kabar yang baik!
Pesanan itu akhirnya selesai, dan tibalah saatnya bagi mereka untuk mengantarkannya ke kota. Dan Hinata tidak bisa untuk tidak terkejut saat mendengar ibunya mengatakan kalau ia akan pergi ke kota bersama Naruto!
Hinata sudah menolak berkali-kali, tapi ibunya tetap bersikukuh. Naruto kelihatannya tidak senang juga tidak kesal, dan sikapnya yang masa bodoh itu membuat Hinata kesal. Akhirnya ia dan Naruto yang akan mengantarkan ramen-ramen itu ke kota.
Seperti biasa, Hinata akan jalan kaki ke kota. Tapi kali ini ia sedikit kerepotan, sebab di tangannya ada bungkusan besar berisi ramen yang berat sekali. Hinata membawa tujuh ramen sedangkan Naruto membawa delapan ramen.
Belum jauh mereka berjalan, salah seorang pelanggan tetap kedai mereka, Kurenai, memanggil Hinata dari pekarangan rumahnya.
"Ba-san! Sudah lama kau tidak mampir ke kedai kami," kata Hinata senang. "Ada apa?"
Kurenai, yang ternyata sedang menyirami bunga, tersenyum ketika melihat bungkusan-bungkusan ramen yang dibawa oleh Naruto dan Hinata. "Beberapa waktu lalu, aku memberitahu temanku mengenai kelezatan ramen buatan ibumu dan ia bilang ia tertarik untuk memesan. Ternyata pada akhirnya ia memang melakukannya."
Hinata kaget. "Yang benar?"
Kurenai mengangguk, membuat Hinata gembira.
"Astaga! Kami sungguh berterima kasih kalau begitu. Datanglah ke kedai kami untuk makan gratis, Ba-san."
"Ah, kapan-kapan saja ya! Aku masih agak sibuk belakangan ini," jawab Kurenai cepat. "Ngomong-ngomong, apa ini pekerja baru yang diceritakan ibumu kemarin?"
Hinata melirik pada Naruto. Pemuda itu terlihat malu dan langsung menundukkan badan pada Kurenai.
"Hajimemashite, namaku Uzumaki Naruto."
Kurenai tersenyum pada Naruto. Lalu ia menoleh pada Hinata. "Kalian pasti berat membawa bungkusan-bungkusan itu. Pakai saja sepeda milik keponakanku, keranjangnya cukup besar kok. Pasti muat untuk semua ramen kalian."
Hinata buru-buru menolak. "Tidak usah, Ba-san! Kami akan jalan kaki saja," ucap Hinata, yang langsung membungkukkan badan dan pamit pada Kurenai.
Naruto yang telah ditinggal dulu, menatap punggung gadis itu dari jauh. Dilihatnya Hinata nampak kerepotan dengan ramen-ramen yang dibawanya itu.
"Kurenai-san... boleh aku meminjam sepedamu?"
.
.
Hinata telah berjalan cukup jauh meskipun ia merasa tangannya begitu sakit akibat bungkusan tujuh ramen yang dibawanya itu. Sesekali ia berhenti untuk menyeka keringatnya atau duduk sebentar untuk mengistirahatkan kakinya.
Ia tahu kalau ia telah meninggalkan Naruto, dan nyatanya ia memang tidak peduli.
Tapi ketika ia mendengar bunyi bel di belakang tubuhnya, Hinata langsung membalikkan badan dan berhenti berjalan. Ia begitu kaget ketika mendapati Naruto berjalan di belakangnya sambil menuntun sepeda mini milik keponakan Kurenai yang tadi ditolaknya. Di keranjang depan sepeda itu ada bungkusan ramen yang dibawa Naruto.
"Hei! Kembalikan sepeda itu!" seru Hinata.
Naruto tidak mengacuhkan ucapan Hinata dan menuntun sepeda itu agar sejajar dengan Hinata. Ditatapnya gadis itu dengan cengirannya. "Aku meminjamnya agar kau bisa menaruh ramen itu di keranjang sepedanya."
Hinata mendengus. "Tidak usah. Aku akan berjalan sambil membawanya, sendiri."
Gadis itu tetap keras kepala dan meneruskan langkahnya yang terhenti tadi. Naruto hanya mengangkat bahu dan kemudian ia menaiki sepeda itu, mengayuh pedalnya perlahan.
Hinata benar-benar kesal pada cowok itu. Sekarang Naruto sudah berada di depannya karena cowok itu menaiki sepeda. Sedangkan ia ditinggal dengan tubuh berbanjir peluh dan napas tersengal.
Kemudian Naruto berhenti mengayuh dan menatap Hinata yang berusaha melangkah dengan kedua tangannya yang penuh. Dasar gadis keras kepala, batin Naruto ketika melihat perjuangan sia-sia gadis itu. Kalau ia terus begitu, kapan mereka sampai ke kota?
Naruto menurunkan kaki sepeda dan berjalan menuju Hinata dengan langkah cepat. Tanpa Hinata duga, tiba-tiba saja tangan Naruto menahan pergelangannya dan kemudian bungkusan ramen di tangannya telah beralih tempat, berada dalam genggaman Naruto.
"Sudah, jangan keras kepala. Kau bisa menaiki sepeda dan aku akan berjalan kaki," kata Naruto. Suaranya dalam dan tegas.
Hinata menatap pemuda itu, sedikit tersentuh.
Naruto segera menaruh bungkusan itu ke dalam keranjang sepeda dan berjalan meninggalkan Hinata dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku jaket.
Tapi Naruto tetap saja merasa khawatir dengan gadis itu. Ia kembali membalikkan badan dan melihat Hinata berjalan di belakangnya sambil menuntun sepeda itu. Naruto menjadi bingung melihatnya.
"Kenapa tidak dinaiki?"
Hinata membuang mukanya, memandang hamparan sawah hijau yang luas di sebelah kanan mereka.
"Aku... tidak bisa naik sepeda."
Naruto kaget. Entah kenapa ia merasa geli dengan pernyataan itu.
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?"
Pemuda itu berjalan mendekati Hinata dan mengambil alih sepeda itu. Ia mengernyit heran melihat Hinata yang masih belum naik dan hanya diam seperti patung.
"Naiklah."
Hinata menggigit bibir bawahnya. Ia ingin menolak tapi tidak bisa. Sebab lidahnya menjadi kelu seketika.
Perlahan, Hinata duduk di tempat duduk bagian belakang sepeda itu. Kelakuannya membuat Naruto tersenyum.
"Ayo, kita pergi," ucap Naruto yang segera mengayuh sepeda itu.
.
.
Jalan utama Tokyo begitu ramai ketika sepeda mereka memasukinya. Hinata mengambil kertas alamat yang diberikan ibunya sebelum mereka pergi dan membacanya.
"Jalan Kyoten nomor 430. Kau tahu di mana itu?" tanya Hinata sedikit berteriak karena suasananya cukup ramai.
Naruto, yang sedang memboncenginya dengan keringat yang terus mengalir, menjawab dengan suara sama kerasnya, "Aku tahu! Itu perumahan di blok Kyuujin."
Setelah tiba di rumah yang dimaksud, Hinata dan Naruto segera memberikan pesanan ramen orang itu. Ternyata orang kenalan Kurenai itu sangat ramah pada mereka dan orang itu juga berjanji kalau kelak akan datang ke kedai mereka. Lima belas ramen yang dipesannya saat itu adalah untuk keluarga adik iparnya yang akan datang sore nanti.
Setelah pekerjaan mengantar ramen selesai, Hinata memilih untuk berjalan-jalan di sekitar tempat itu, seperti yang biasa ia lakukan jika datang ke kota. Naruto mengikuti gadis itu dari belakang, tentunya sambil menuntun sepeda. Walau tadi mereka sempat dekat, kini suasananya kembali kaku dan tidak bersahabat. Dan hal itu didominasi oleh sikap Hinata.
Perumahan itu memiliki taman luas yang ditumbuhi berbagai pohon cantik di setiap sudutnya. Ada jalanan setapak terbuat dari susunan bata merah yang dapat digunakan pengunjung untuk jalan-jalan mengitari taman itu. Di tengah-tengah taman itu ada sebuah air mancur raksasa yang katanya akan terlihat sangat cantik jika lampunya dinyalakan pada malam hari.
Sialnya, Hinata tidak melihat ada gundukan bata yang tidak sempurna pada jalan setapak itu, sehingga akhirnya ia tersandung dan jatuh ke tanah.
Naruto kaget dan langsung meletakkan sepedanya, berlari menuju Hinata yang kelihatannya hanya kaget saja dan tidak mengalami apa-apa. Ia pun mengurungkan niat untuk menolong gadis itu.
"Hei..."
Naruto sudah dua langkah meninggalkan Hinata dan ia terhenti karena suara itu. Suara Hinata. Dengan enggan, ia menolehkan kepalanya.
"Kakiku terkilir, bodoh."
Naruto pun panik dan segera mendekati gadis itu. "Apa kau merasa sakit?"
Hinata mengangguk pelan. Naruto pun meraih lengan gadis itu dan berkata, "Ayo, kita duduk di situ," katanya sambil menunjuk ke bangku taman yang terletak tidak jauh dari mereka.
Hinata kembali mengangguk.
Dengan pelan, Naruto mengalungkan sebelah lengan Hinata melewati kepalanya. Keduanya canggung luar biasa karena hal itu. Tapi mereka diam saja.
Naruto memapah Hinata dan setibanya di bangku itu, ia segera berjongkok di hadapan Hinata dengan niat ingin melihat kondisi kaki gadis itu. Tapi lagi-lagi ia diliputi keraguan, mengingat reaksi gadis itu selalu dingin kepadanya.
"Hmmm... apa aku perlu memeriksa kakimu?" tanya Naruto akhirnya.
Hinata tahu kalau Naruto tidak akan bisa diam walau Hinata mendiaminya sepanjang hari. Sebenarnya ia mulai berpikir ulang mengenai rencana A dan B miliknya. Hinata bukan tipe pendendam. Dari awal ia hanya kesal dengan pemuda itu karena ibunya membelanya terus, tapi selain itu... Hinata yakin ia tidak punya alasan untuk membenci pemuda itu lebih banyak.
Kedai mereka telah kecolongan beberapa kali oleh orang yang jauh lebih parah dibandingkan Naruto. Ada yang memesan dua atau tiga ramen berukuran besar sekaligus, ada orang yang berpenampilan sangar luar biasa sehingga akhirnya mereka diancam untuk memberikan semangkuk ramen, ada yang pernah membawa pisau lipat karena selain memakan ramen ia juga merampok uang Hinata dan ibunya.
Tapi Naruto tidak ada dalam kriteria itu. Ia tidak memesan ramen berukuran besar yang dilahapnya tiga mangkuk sekaligus. Ia tidak berpenampilan mengerikan dan sepertinya bukan tipe penjahat karena sepanjang hari ini Hinata telah bersama dengannya dan Naruto tidak melakukan apapun yang dapat mencederainya. Tentu saja pengecualian untuk kakinya yang terkilir sekarang.
Saat Naruto menanyainya, Hinata mulai merasa gelisah. Ia gelisah lantaran akan terus melanjutkan rencananya yang mulai terasa konyol atau berhenti saja agar suasana yang selalu tercipta dingin di antara mereka dapat menguap secepatnya. Sebab lama kelamaan Hinata membenci situasi seperti ini.
"Uzumaki-san..."
Naruto mendongak pada Hinata ketika gadis itu memanggilnya. Dilihatnya gadis itu masih menghindari tatapannya, tapi nampaknya ia sudah mulai terbuka pada Naruto. Sikap itu membuat Naruto sedikit... gembira?
Naruto benar-benar kaget ketika iris kelabu itu memandang balik mata safirnya. Tatapannya tidak menusuk, tajam, ataupun marah, karena yang ada di dalam kedua bola mata itu adalah ketulusan yang dapat dirasakan Naruto.
"Aku rasa aku harus menghentikan semua ini," ucap gadis itu kemudian. "Aku minta maaf telah bersikap buruk padamu... dan aku akan berusaha menerima keberadaanmu di kedai kami."
Senyum Naruto mengembang.
"Baiklah... Aku juga minta maaf sempat mengabaikanmu beberapa kali tadi," balas Naruto kemudian.
Hinata mengangguk kaku karena tiba-tiba ia merasa aneh menatap Naruto dari jarak sedekat ini. Apalagi ketika melihat pemuda itu tersenyum kepadanya.
"Dan panggil saja aku Naruto. Kedengarannya aneh mendengarmu memanggilku 'Uzumaki-san'."
Hinata kembali mengangguk.
"Kalau begitu, aku akan memeriksa kakimu. Bagaimana?" tanya Naruto sekali lagi.
Hinata memajukan kakinya yang terkilir, sedikit meringis karena begitu sakit. Ia membiarkan pemuda itu mengangkat sedikit bagian bawah celana panjangnya, menampakkan area sekitar pergelangan kaki kanannya yang sudah mulai membengkak. Naruto begitu panik melihatnya.
"Kalau tadi kita tidak bicara panjang lebar, pasti belum separah ini!" keluh Naruto.
Hinata mendelik mendengarnya. "Jadi kau menyalahkanku karena bicara duluan, begitu?"
"E-eh, bukan kok!" jawab Naruto cepat. "Kita cuma butuh air es untuk menghentikan peradangannya..."
"Sudahlah, aku tidak peduli. Kakiku tidak begitu sakit kok," potong Hinata.
Naruto menjadi kaget. "Ne?"
"Daripada kau jongkok terus di depanku, kenapa kau tidak duduk saja di sini?" tanya Hinata sambil menepuk tempat duduk kosong di sebelahnya. Dan anehnya, Naruto menjadi malu, entah kenapa.
Tapi akhirnya dia duduk juga di sebelah Hinata. Dan tanpa mereka sadari, keduanya saling melirik satu sama lain.
.
.
Tbc
.
.
A/N: Hai, minna-san! Terima kasih ya atas feedbacks kalian yang baik. Bagaimana updatenya? Tidak terlalu buruk kan? Nah, tolong di-review, fave, alert, atau semuanya saja ya, hehehehe.
Sign,
Devi Yulia
